Latest Entries »

TEORI TENTANG SIKLUS EKONOMI


  1. A.      Siklus Ekonomi atau Bisnis

Siklus ekonomi adalah fluktuasi ekonomi yang melanda produksi nasional, pendapatan, kesempatan kerja, yang biasanya berlangsung selama 2 sampai 10 th, yang ditandai dengan adanya kontraksi dan ekspansi di seluruh sektor ekonomi.

Menurut Kusnendi (dalam Modul Makroekonomi), siklus bisnis ekonomi adalah fluktuasi pertumbuhasn ekonomi disekitar trendnya yang meliiputi masa depresi,recovery,boom, dan resesi.

Menurut Yanuar,SE,MM (dalam modul pengantar ekonomi makro), Siklus ekonomi adalah pasang surutnya kegiatan ekonomi di sekitar trend setelah dilakukan penyesuaian musiman

Siklus ekonomi adalah putaran kegiatanperekonomian, kadang kegiatan ekonomi lesu- banyak pengangguran, kadang kegiatan ekonomi bergairah-pengangguran kecil-produktivitas naik. (Magistra Media Maya Community Samarinda Option,pdf)

Siklus bisnis adalah suatu deretan masa resesi dan masa kemakmuran yang berulang-ulang dengan teratur dan yang meluas ke mana-mana.  Siklus siklus bisnis ini harus dibedakan dari variasi musiman (berkurangnya penjualan baju hangat pada musim panas) dan kecenderungan (trend) sekular (terutama yang berhubungan dengan populasi seperti ledakan kelahiran bayi). Tahapan-tahaan dari siklus bisnis ini adalah tahapan kulminasi, kontraksi, resesi, nadir, perbaikan, dan ekspansi. (John Petroff. Translation 2005 Roy Sukamto)

Slump / Resesi / Lembah

Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang meluas ke mana-mana. Penurunan semacam ini biasanya menyebabkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Suatu resesi yang serius biasanya disebut depresi.

  • Pengangguran Tinggi
  • Tingkat permintaan beli rendah atau daya beli yang rendah bila dibandingkan dengan daya produksi yang terpasang / tersedia untuk menghasilkan barang konsumsi. Yang berakibat pada rendahnya laba perusahaan
  • Perusahaan bisa merugi
  • Keyakinan akan masa depan makin kecil / menipis. Bisa ditandai dengan anjloknya Index harga saham gabungan
  • Perusahaan tidak bersedia mengambil resiko investasi baru.
  • Jika lembah ini cukup dalam = RESESI

Pemulihan / Recovery

  • Mesin – mesin tua mulai diganti
  • Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
  • Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
  • Penjualan dan laba meningkat
  • Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimisme
  • Karena permintyaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi twerpasang yang banyak maka perusahaan denganm udah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur

Puncak / Peak

  • Penggunaan kapasitas terpasang pada kondisi tertinggi
  • Mulai merasakan kurangnya tenaga kerja, terutama tenaga kerja ahli / terampil
  • Kekurangan bagan baku
  • Output hanya dapat ditingkatkan dengan menambah investasi baru yang memerlukan waktu
  • Kenaikan permintaan diikuti dengan kenaikan harga, DEMAND > SUPPLY
  • Biaya cenderung meningkat (COST Meningkat) namun Price (harga jual ==>> Sales) juga meningkat
  • Kegiatan usaha umumnya masih sangat menguntungkan
  • Hingga mencapai BOOM, ditandai dengan IHSG Super BULLISH.

Resesi / Slump ==>> Jatuhnya GNP Riel

  • Permintaan menurun
  • Pendapatan rumah tangga menurun
  • Laba usaha turun
  • Investasi yang tadinya menguntungkan dengan kurangnya permintaan akan barang menjadi tidak menguntungkan / tidak menarik / makin beresiko

Suatu siklus dalam kegiatan ekonomi mencerminkan fluktuasi (gerak menaik dan menurun) secara bergelombang pada kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Fluktuasi serupa itu terjadi secara berulang dalam suatu jangka waktu tertentu. Secara umum dapat dikatakan bahwa siklus kegiatan ekonomi terulang secara periodic, akan tetapi tidak mutlak perlu bersifat regular; artinya, jangka waktu itu dalam masing-masing siklus tidak harus selalu sama lamanya.

Pola siklus ekonomi mencakup tahap ekspansi yang pada suatu saat berbalik menuju tahap kemunduran yang kelak disusul oleh pemulihan ke arah ekspansi lagi. Tahap ekspansi ditandai oleh kegiatan ekonomi yang semakin meningkat dan meluas secara bersam-sama di berbagai ragam kehidupan. Tahap ekspansi disusul oleh tahap kemunduran umum yang bersifat resesi. jika kemunduran itu berlangsung terus menerus selama masa waktu yang lebih panjang, maka resesi menjurus pada tahap depresi dimana dialami proses kontraksi (kegiatan ekonomi berkurang menjadi tersendat-sendat dan terbelakang).

Siklus ekonomi menyangkut segala segi ekonomi dalam kehidupan masyarakat yang akhirnya tercermin pada produk nasional dan pendapatan nasional.

Pengertian tentang teori siklus ekonomi sangat relevan dalam rangka pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang menyangkut kebijaksanaan Negara untuk melakukan perubahan structural dalam tata susunan ekonomi masyarakat  tak dapat tiada meliputi usaha jangka panjang yang memakan masa waktu beberapa generasi serta selalu dihadapkan dengan berbagai rupa hambatan dan rintangan.

Oleh sebab itu, sudah masuk akal bilamana kita menempatkan kembali pelajaran yang menyangkut siklus kegiatan ekonomi sebagai jalur pemikiran yang saling berkaitan dengan pemikiran yang saling berkaitan dengan pemikiran dalam teori ekonomi umum, bahkan sebagai bagian integral daripadanya.

  1. Asal mula pemikiran perihal siklus ekonomi

Pada pertengahan abad 19 oleh John Stuart Mill, principle of political economy (1848) telah diungkapkan tentang adanya krisis-krisis komersial (commercial crisis) yang muncul secara periodic. Dalam tahun yang sama, oleh Marx dan Engels dalam Communist Manifesto juga dinyatakan tentang krisis komersial yang dialami secara ulang dan periodic sebagai salah satu cirri pokok system kapitalis.

Kemudian seorang ilmuwan Perancis, Clement Juglar, dibeberkan secara lebih empiris-sistematis sifat dan corak krisis komersial yang berulang secara periodic. Juglar pula yang pertama kali menggunakan istilah siklus (cycle) dengan menonjolkan perkiraan-perkiraan tentang lamanya masa waktu menaik menurun-nya kegiatan ekonomi di antara dua krisis. Dengan kata lain ditunjukkannya pada panjang pendeknya gelombang dalam sesuatu siklus kegiatan ekonomi : dari titik terendah sampai titik terendah berikutnya.

Pada akhir abad 19 atau awal abad 20, dunia ilmu ekonomi diperkaya oleh buah pikiran ekonom Rusia, Tugan-Baranowski. Tugan-Baranowski telah dapat menyajikan suatu kerangka analisis dan dasar teori yang kelak menjadi landasan bagi pemikiran modern dalam ilmu siklus ekonomi. Tugan-Baranowski pula lah yang mengawali perkembangan teori-teori siklus ekonomi yang selama ini dikembangkan dan dipaparkan sejumlah tokoh pemikir lainnya,yang ternyata dalam kajian-kajiannya sudah terdapat telaahan dan kajian penting mengenai teori investasi dan peranannya dalam kegiatan usaha dan pembentukan pendapatan serta adapula yang menekankan pada arti dan fungsi konsumsi. Akan tetapi hal itu masih belum jelas terungkapkan secara terpadu mengenai kaitan anatara factor-faktor yang berpengaruh itu. Lagipula perkembangan teori di bidang ilmu siklus ekonomi selam itu berlangsung dalam suatu jalur pemikiran tersendiri, seakan-akan terpisah dari teori ekonomi umum. Namun hal tersebut menjadi berkaitan dan memiliki keterpaduan dalam kerangka analisis dan system pemikiran yang dikembangkan oleh Keynes yang kemudian disusun secara lebih kohesif-sistematis oleh Hansen.

Dari kerangka analisis Keynes mengenai fluktuasi dalam gerak kegiatan usaha sering ditandai oleh goncangan-goncangan yang membawa dampak luas terhadap ekonomi masyarakat secara menyeluruh,terutama melalui goncangan pada pendapatan dan kesempatan kerja. Keynes juga memperhatikan perkembangan pemikiran yang telah dirintis oleh pakar ekonomi di Eropa Kontinental, sehingga pemikiran-pemikiran mereka diandalkan dalam karya Keynes.

Kerangka analisis dan pola pendekatan dalam system pemikiran Keynes merupakan perkembangan lanjutan secara logis dari perkembangn pemikiran yang sebelumnya berlangsung di Eropa continental. Namun yang mengherankan ialah bahwa setelah Keynes-Hansen, pemikiran teoritis tentang permaslah fluktuasi dalam gerak kegiatan ekonomi seolah-olah diabaikan. Sikap tersebut di akalngan ahli seakan-akan gejolak fluktuasi ekonomi sudah dapat ditanggulangi secara memadai oleh kebijksanaan fiscal yang kontra-siklis atau oleh langkah tindakan di bidang moneter.

Perkembangan selama dasawarsa-dasawarsa ’70 dan ’80 membuktikan bahwa anggapan-anggapan serupa itu tidak dibenarkan oleh kenyataan empiris. Baru beberapa tahun terakhir ini timbul lagi perhatian dan minat untuk mempelajari dan memahami secara lebih mendalam hal-hal yang menyangkut gerak gelombang kegiatan ekonomi. terutama pada serangkaian factor dinamika yang mengambilperanan strategis dalam perkembangan dalam jangka menengah dan jangka panjang.

  1. Jenis Siklus Ekonomi

Dari karya Joseph Schumpeter, terdapat empat jenis siklus ekonomi.

1.   Siklus jangka pendek, menyangkut gerak gelombang kegiatan ekonomi selam 3-4 tahun (rata-rata berkisar pada 40 bulan) dari tingkat terendah sampai tingkat terendah berikutnya. siklus ini dikenal dengan siklus Kitchen (Joseph Kitchen), yang membeberkan adanay siklus ekonomi dengan menunjuk pada cirri pokoknya. Faktor dinamika yang sangat mempengaruhi perkembangan dalam siklus jangka pendek berkenaan dengan investasi dalam persediaan stok barang-barang.

2.   Siklus jangka menengah, meliputi masa waktu 7-11 tahun (rata-rata berkisar pada 9 tahun) dan disebut Siklus Juglar. Pola dan arah perkembangannya dipengaruhi terutama oleh investasi dalam barang modal atau perlatan modal fisik yang bersifat tetap.

3.    Siklus jangka menengah/panjang meliputi masa waktu 15-22 tahun (rata-rata kurang dari 20 tahun) dan disebut Siklus Kuznets. Kuznets menunjuk pada berlangsungnya siklus ini yang berada di antar masa waktu Siklus Juglar dan Gelombang Kondratieff (jangka panjang). dalam siklus ini kegiatan sector konstruksi dianggap mengambil peranan penting; bukan hanya sebagai cermin kegiatan usaha konstruksi, melainkan pada gilirannya dilakukan berbagai investasi yang bersangkutan dengan sector prasarana, bangunan,perumahan.

4.    Gerak kecenderungan jangka panjang menyangkut gelombang ekonomi selama masa waktu 40-60 tahun (rata-rata 54 tahun) dan disebut denga gelombang Kondratieff (Nicolai Kondratieff), berdasarkan penelitiannya ada empat factor kekuatan mendasar yang mempengaruhi pola dan arah gerak kecenderungan dalam ekonomi jangka panjang yaitu : (1) inovasi dan teknologi, (2) peperangan dan revolusi, (3) produksi emas, (4) SDA, khusus sector pertanian.

faktor-faktor kekuatan strategis dalam tiga siklus di atas sedikit banyak bersifat endogen, artinya factor tersebut terkandung dalam proses kegiatan ekonomi sendiri yang berlangsung dalam tata susunan ekonomi. sedangkan dalam gelombang jangka panjang, perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi serangkaian factor dinamika yang bersifat eksogen.

 

  1. 1.        Siklus Kitchen Dalam Perkembangan Jangka Pendek

Oleh Joseph Kitchen, dalam Cycles and Trend s in Economic Factors, Review of economic Statistics no.5 (1923) dibentangkan tentang gerak kegiatan ekonomi yang meningkat dan menurun dalam jangka pendek. Satu sama lain terlihat pada produksi dan kesmpatan kerja, dan juga pada perkembangan harga komoditi primer. Fluktuasi yang dimaksud berlangsung tidak begitu lama dan berkaitan dengan bertambahnya atau berkurangnya investasi dalam stock barang-barang yang diperlukan dalam satuan-satuan usaha. oleh sebab itu, siklus Kitchen juga dipandang sebagai inventory cycle (inventaris barang).

Faktor-faktor utama yang mendorong fluktuasi dalam kegiatan ekonomi jangka pendek bersifat endogen. Dalam tahap ekspansi di kala kegiatan ekonomi meningkat dan meluas, oleh dunia usaha dilakukan penambahan investasi ke dalam persediaan stok. Pada titik puncak perkembangan jangka pendek, kegiatan ekspansi mengalami beberap kendala,seakan-akan mengalami kejenuhan. kendala-kendala yang dimaksud ada sangkut pautnya dengan tercapainya suatu keadaan dimana kapasitas produksi yang terpasang dalam masyarakat sudah digunakan sepenuhnya dengan kesempatan kerja penuh. Adapun dalam proses ekspansi ekonomi mengalami kesulitan-kesulita dalam lalu lintas pembayaran luar negeri. Dengan batasan-batsan tersebut proses ekonomi menjadi terseret. perkembangannya menurun dan menuju pada tahap resesi. Dalam keadaan ini, dialami surplus dalam persediaan stok barang-barang sebagai akibat investasi di tahap selanjutnya.

Dalam praktek biasanya terjadikelambatan pada pihak dunia usaha maupun pihak kebijaksanaan pemerintah dalam respons dan reaksinya terhadap perekmbangan keadaan yang sudah berubah. dengan kata lain, sering dialami ketinggalan waktu ataupun time-lag dalam reaksi dan respons terhadap perubahan-perubahan ekonomi. unsure time-lag sangat penting artinya,di kala hendak dilakukan langkah tindakan kontra-siklus,timingnya sudah tidak tepat dan (jauh) terlambat sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Permasalhan inikurang diperhatikan dalam pola pendekatan dalam system analisis pemikiran Keynes dan golongan Neo Keynes. Hal ini pun oleh Galbraith dianggap sebagai asimeuri politik (political asymery).

Dengan begitu, secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan ekonomi di Negara-negara industry memang secara berkala mengalami goyangan dalam jangka pendek. Kebanyakn Negara berkembang mempunyai corak ekonomi terbuka yang dewasa ini sangat tergantung dari produksi dan ekspor komoditi primer. Negara tersebut senantiasa mengalami dampak dari factor eksternal yang bersumber dari naik turunnya kegiatan ekonomi di Negara-negara industry. Hal itu menimbulkan fluktuasi pada permintaan akan komoditi primer dari Negara-negara berkembang.

Hal itu tentu membatasi ruang gerak kebijaksanaan pemerintah di bidang neraca pembayaran luar negeri. Dengan kata lain, goncangan siklis-konjungtural menyulitkan konsistensi dan kontinuitas akan kebijaksanaan structural dalam rangka pembangunan ekonomi. Hal yang sama berlaku mengenai ramifikasi (akibat pengaruh ang bercabang-cabang di berbagai ragam kegiatan ekonomi) dari siklus jangka menengah.

 

  1. 2.        Siklus Juglar dalam Perkembangan Jangka Menengah

Clement Juglar, penulis Des Crises commerciales et de leur retour périodique en France, en Angleterra et aux Etats – Unis (1861, edisi revisi 1889) harus dipandang sebagai seorang pionir dalam ilmu siklus ekonomi. Sebab, ialah yang untuk pertama kali memaparkan secara sistematis hasil pengamatannya dan kajiannya mengenai sebab krisis dan depresi yang secara berulang terjadi dalam siklus kegiatan ekonomi.

Clement Juglar sebenarnya adalah seorang dokter kesehatan yang tidak mendapat pendidikan formal sebagai ekonom profesional. Meskipun begitu dalam penilaian Schumpeter, Juglar adalah seorang genius yang dari segi penguasaan metode ilmiah dan berdasarkan karyanya dibidang ekonomi harus dianggap sebagai seorang pakar ekonomi besar sepanjang masa.

Judul karya Juglar sudah jelas mencerminkan pengamatannya tentang peristiwa krisis yang muncul secara berulang (retour) dan berkala (périodique) dalam fluktuasi siklus kegiatan usaha. Studinya menyangkut perkembangan ekonomi di tiga buah negara : Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Ketiga negara itu merupakan negara-negara industri yang terkemuka dalam bagian kedua abad XIX.

Analisis Juglar didukung oleh banyak data statistik yang secara luas meliput berbagai segi ekonomi : harga komoditi, tingkat bunga, kredit perbankan, perkembangan penduduk, tingkat perkawinan, dll. Pendekatannya terhadap permasalahan yang dipelajari menunjukkan pandangan terpadu antara fenomena ekonomi, perspektif sejarah dan statistik-empiris. Dengan demikian, Juglar dapat memberi gambaran tentang hubungan/ korelasi (jalan perkembangan yang seiring-searah) diantara data-data mengenai berbagai bidang kegiatan yang dimaksud di atas. Satu sama lain memberi pengertian yang lebih jelas mengenai proses dan mekanisme silih-bergantinya secara susul-menyusul tahap ekspansi-kemakmuran dan tahap resesi-depresi. Dalam kerangka pemikiran Juglar siklus ekonomi meliputi tiga tahap : (1) tahap ekspansi dalam kegiatan ekonomi yang menuju pada kemakmuran (prosperity); (2) tahap krisis; (3) tahap likuidasi. Krisis tidak dapat dihindarkan dalam berlangsungnya siklus ekonomi, tetapi dapat diperkirakan sebelumnya. Ternyata bahwa perkiraan-perkiraan Juglar mengenai perkembagan yang dimaksud juga akurat.

Oleh Juglar sendiri tidak dikemukakan suatu kurun waktu yang pasti yang memisahkan satu krisis dari saat terjadinya krisis yang berikut; ia hanya menunjuk pada masa jangka menengah yang meliputi minimal 7 tahun dan maksimal 11 tahun, sedangkan dalam perkembangan sejarah masa rata-rata berkisar pada 9 tahun.

Penelitian Juglar pada awalnya ditujukan kepada perkembangan harga barang selama berlangsungnya siklus yang mencakup beberapa tahap yang susul-menyusul. Sejalan dengan itu dipantau peranan tingkat bunga dan pengaruh kredit perbankan dalam perkembangan yang menuju ke arah krisis. Tahap ekspansi yang ditandai oleh kecenderungan kenaikan harga selalu menjurus kepada keadaan krisis. Pada saat ini, perkembangan berbalik dan kegiatan usaha menurun sampai mencapai tingkat rendah dan tertekan. Timbulnya suatu krisis tergantung dari konstelasi umum keadaan ekonomi masyarakat. Walaupun terjadi peperangan misalnya, atau musibah alam, atau penyalahgunaan kredit perbankan dan/ atau terlalu banyak uang dicetak, segala sesuatu bisa mempercepat kejadian krisis. Akan tetapi peristiwa krisis itu sendiri baru timbul dikala situasi ekonomi sudah mencapai suatu tahap tertentu ketika krisis tidak dapat dihindarkan lagi. Krisis itu didahului oleh kegiatan ekonomi yang semakin meningkat dan kemudian ditandai oleh rupa-rupa gejala; ciri-ciri ekspansi menjadi sedemikian rupa sehingga dapat diperkirakan perkembangan ekonomi sudah mendekati tahap krisis.

Menurut Juglar krisis dan depresi merupakan akibat dari distorsi-distorsi yang terjadi dalam tahap ekspansi sebelumnya. Dengan kata lain, sebab-musabab krisis dan depresi sudah terkandung dalam perimbangan-perimbangan keadaan yang berkembang selama tahap ekspansi.

Krisis dan depresi adalah reaksi dari sistem ekonomi terhadap kegiatan ekspansi dalam tahap sebelumnya; ataupun suatu proses adaptasi (penyesuaian) dan restrukturasi dengan perubahan kondisi yang merupakan akibat dari perkembangan ekspansi itu sendiri. Salah satu sebab diantaranya ialah perkembangan harga yang semakin meningkat sehingga pada suatu saat dianggap terlalu tinggi oleh para calon pembeli. Harga umum barang-barang jatuh dan mulailah krisis, yang kemudian menjadi depresi. Dalam tahap itu, terjadi likuidasi yang meluas dalam dunia usaha.

Juglar menunjuk pada perkembangan harga sebagai fenomena. Nampak kurangnya dikaji dan dijelaskan tentang sebab yang lebih mendalam yang berkaitan dengan jatuhnya tingkat harga umum itu, selain pengamatannya bahwa kegiatan ekspansi yang disertai oleh kenaikan harga sudah mencapai tingkat yang terlalu tinggi.

Sementara itu karya Juglar telah meratakan jalan bagi pengembangan analisis modern mengenai siklus kegiatan ekonomi. Menurut Schumpeter gagasan Clement Juglar dan pengaruhnya harus dinilai berdasarkan tiga macam pertimbangan.

Pertama, Juglar menggunakan bahan empiris dalam metode serial waktu (time series) mengenai perkembangan harga komoditi, tingkat bunga, dan neraca-neraca bank sentral. Pekerjaannya dilakukan secara sistematis yang ditujukan pada sasaran-sasaran yang jelas dengan pengkajian mendalam terhadap fenomena permasalahan yang diidentifikasikan. Hal itu merupakan metode pendekatan fundamental dalam analisis modern mengenai tahap-tahap dalam gerak kegiatan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, wajar bilamana Clement Juglar dianggap sebagai pelopor dalam teori siklus ekonomi (di jaman itu dikenal sebagai teori konjungtur).

Kedua, Juglar selain menemukan siklus ekonomi yang berjangka 7-11 tahun (rata-rata 9 tahun) juga mengembangkan semacam morfologi (pengertian atas gambaran tentang struktur dan bentuk luar) dari siklus yang dimaksud, yaitu identifikasi tentang urutan pentahapan (sequence) ekspansi, krisis, dan likuidasi. Morfologi modern mengenai gerak gelombang kegiatan ekonomi masyarakat bersumber pada karya Juglar. Begitu pula mengenai munculnya fenomena secara berulang dan periodik (retour périodique).

Ketiga, kesimpulan pokok dalam analisis Juglar ialah bahwa sebab utama terjadinya krisis dan depresi sudah terletak pada perimbangan-perimbangan keadaan dalam tahap ekspansi yang sebelumnya. Krisis dan depresi merupakan reaksi dan proses adaptasi terhadap berbagai ketimpangan yang terciptakan oleh perkembangan ekspansi yang mendahuluinya. Tentu kesimpulan tersebut mengandung pertanyaan : apa yang menjadi sebab pokok yang membangkitkan suatu keadaan ke arah ekspansi dan faktor-faktor yang manakah yang mendorong kegiatan ekspansi ke arah tingkat puncaknya.

Dalam hal ini analisis Juglar ternyata kurang memuaskan.

Baru pada awal abad XX segi permasalahan tersebut diteliti dan dikaji secara lebih mendalam yaitu oleh Tugan-Baranowski dan berikutnya oleh Arthur Spiethof.

Berdasarkan landasan pemikiran yang telah diletakkan oleh Clement Juglar dan dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan dalam analisisnya, oleh Tugan-Baranowski dan Spiethof ditonjolkan faktor investasi sebagai peran utama dalam gerak siklus kegiatan ekonomi. Memang harus dicatat bahwa dalam gagasan Juglar sendiri peran investasi kurang disoroti secara spesifik dan terinci.

Dalam periode pasca Perang Dunia II pemikiran-pemikiran Juglar, Tugan-Baranowski, Spiethof dll seakan-akan terlupakan oleh para ekonom profesional. Baru sejak awal dasawarsa ’80 ada lagi perhatian khusus terhadap bidang permasalahan ini. Hal itu terungkapkan dalam karya Miyohei Shinohara, seorang tokoh ekonomi dari Jepang yang menunjuk kepada arti dan relevansi hasil pemikiran Juglar (dan Kondratieff) bagi perkembangan ekonomi dunia dewasa ini dan dasawarsa-dasawarsa mendatang.

Dalam penafsiran Shinohara atas kerangka landasan pemikiran Juglar, dijabarkan secara eksplisit bahwa gerak siklus ekonomi jangka menengah yang dibeberkan oleh Juglar bersangkut-paut dengan investasi dalam peralatan modal fisik yang bersifat tetap (berbeda dengan investasi dalam stok barang seperti terdapat dalam Siklus Kitchen). Penafsiran Shinohara atas gagasan Juglar ini menurut hemat saya mempunyai dasar yang kuat.

Menurut Shinohara teori Juglar dan teori Kondratieff mengandung makna yang besar bagi pengertian kita tentang perkembangan ekonomi dunia setelah Perang Dunia II dalam abad XX ini, khususnya sebagaimana yang selama ini berlangsung di kawasan Asia-Pasifik.

Munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi yang menonjol, diikuti oleh perkembangan dinamis sejumlah negara industri baru di Asia Timur dan berlangsungnya proses pembangunan di negara-negara Asia Tenggara, semuanya sulit dipahami tanpa memperhatikan serangkaian pikiran yang semula dirintis oleh Juglar dan Kondratieff. Untuk perkembangan jangka menengah, hal itu khusus berkaitan dengan investasi dalam peralatan modal tetap yang terlaksana di Jepang, maupun di Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura dan kemudian diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut ditandai oleh berlangsungnya siklus-siklus Juglar dengan adanya beberapa puncak tingkat investasi di awal dasawarsa ’60 dan awal dasawarsa ’70. Sedangkan dalam perkembangan jangka panjang selama dasawarsa ’50 dan ’60 sampai terjadinya krisis minyak pada pertengahan dasawarsa ’70, boleh dikatakan tidak dialami depresi yang berkepanjangan, meskipun beberapa kali memang terjadi resesi. Akan tetapi, resesi-resesi yang dimaksud bersifat agak lunak dan hanya berlangsung selama waktu yang relatif pendek.

 

  1. 3.        Siklus Kuznets dalam Perkembangan Jangka Menengah/ Panjang

Pandangan Simon Kuznets pada umumnya dihubungkan dengan karya besarnya mengenai perhitungan nasional dan penjabarannya tentang unsur-unsur komponen dalam pendapatan nasional. Hal itu telah disajikan di bagian lain dalam tinjauan kita mengenai perkembangan teori umum.

Di sini hanya ditelaah pemikiran Kuznets yang khusus menyangkut siklus kegiatan ekonomi, Economic Change (1953).

Kuznets menunjuk pada dinamika yang bersangkutpaut dengan kegiatan di sektor konstruksi yang meliput prasarana, bangunan komersial dan industri, perumahan, dsb. Kegiatan konstruksi di berbagai bidang ekonomi merupakan faktor yang sangat penting karena pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah, oleh dunia usaha, dan pengeluaran pembangunan dalam masyarakat pada umunya. Pengeluaran yang secara langsung dan tidak langsung berkenaan dengan kegiatan konstruksi itu juga mengalami fluktuasi.

Siklus Kuznets menjangkau masa waktu antara 15-22 tahun, lebih lama dari Siklus Juglar dan lebih pendek dari Gelombang Kondratieff. Pengamatan empiris-statistik dalam abad XX mengungkapkan jangka waktu rata-rata siklus ini berkisar pada 16-17 tahun : terdiri atas 11 tahun kegiatan ekspansi dan disusul oleh 5-6 tahun proses kontraksi. Satu sama lain berkenaan dengan pengaruh sektor konstruksi, yaitu meningkatnya dan menurunnya kegiatan di sektor tersebut.

Pengeluaran konstruksi melibatkan kegiatan di serangkaian ragam industri lainnya, seperti diantaranya kayu, semen, besi dan baja, perabotan, barang pecah-belah, dan lain-lain sebagainya untuk keperluan gedung komersial dalam rumah tangga keluarga. Dampak multiplier (pengaruh berganda) terhadap pendapatan dan kesempatan kerja memang meluas dan sangat berarti dalam ekonomi masyarakat.

Arti dan peranan konstruksi dalam pertumbuhan ekonomi harus dilihat dalam kaitannya dengan serangkaian variabel ekonomi maupun variabel demografi : tumbuhnya generasi demi generasi, perkembangan jumlah rumah tangga keluarga, gerak arus imigrasi, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, harga bahan bangunan, tingkat bunga, dsb. Semuanya itu secara bersamaan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi maupun fluktuasinya dalam gerak kegiatan ekonomi.

Siklus Kuznets juga dianggap sebagai ciri penting dalam proses pertumbuhan dan sehubungan dengan itu, pola pemikiran dalam sistem Kuznets merupakan sumbangan yang berarti bagi perkembangan teori pertumbuhan. Bisa saja terjadi bahwa dalam rangka siklus Kuznets gerak kegiatan ekonomi sedang menanjak dalam suatu tahap ekspansi, akan tetapi dilihat dalam perkembangan jangka panjang (dalam rangka gelombang Kondratieff) sudah berada dalam tahap kecenderungan yang sedang menurun

Gelombang Kondratieff disebut di muka sebagai salah satu diantara empat jenis siklus ekonomi. Gagasan Kondratieff kelak akan dibahas lebih lanjut dan secara lebih luas dalam bagian tersendiri. Kerangka analisis dan pendekatan dalam sistem pemikiran Kondratieff ditujukan kepada permasalahan dalam perkembangan jangka panjang. Pola dan arah perkembangan tersebut dipengaruhi oleh serangkaian faktor dinamika yang bersifat eksogen.

Sebelumnya terlebih dahulu akan disimak pokok-pokok pemikiran siklus ekonomi sebagaimana yang dikembangkan oleh sejumlah pakar ekonomi dalam bagian pertama abad XX : mulai dengan Tugan-Baranowski di awal abad ini sampai dengan pemikiran Keynes-Hansen pada pertengahan abad. Pemikiran-pemikiran yang dimaksud pada umumnya berkisar pada gerak kegiatan ekonomi jangka pendek dan menengah dengan menekankan pada peranan faktor dinamika yang lebih bersifat endogen.

Dalam tinjauan ini, diadakan pembedaan antara beberapa kelompok teori siklus ekonomi. Tolok ukur bagi masing-masing kelompok berkenaan dengan fakor dinamika yang dianggap sebagai variabel strategis yang menyebabkan fluktuasi dalam perkembangan ekonomi : arti dan peranan investasi, arti dan peranan konsumsi, arti dan peranan fakor moneter.

  1. 4.        Peranan Investasi dalam Siklus Ekonomi : Mikhailov Tugan-Baranowski (1865-1919); Arthur Spiethof (1873-?)

Dalam pandangan kelompok ini menaik-menurunnya kegiatan ekonomi bersangkutpaut dengan perubahan-perubahan pada volume dan tingkat investasi, khususnya investasi riil (barang modal fisik yang bersifat tetap).

Dalam hubungan ini harus dibedakan antara investasi riil dan investasi finansial. Investasi riil berkenaan dengan pembuatan peralatan barang modal yang baru. Hal itu berarti secara riil terjadi tambahan netto pada barang modal (nett capital formation) dari berbagai jenis dan ragam barang di berbagai bidang, apakah itu dalam bentuk mesin, gedung komersial, perumahan, dsb.

Di pihak lain, investasi finansial terjadi dalam hal pembelian/ pengalihan milik mengenai surat-surat berharga seperti saham atau obligasi, surat perbendaharaan negara, surat berharga komersial dalam dunia usaha, dsb.

Dibidang investasi riil lazim diadakan pembedaan antara : (i) investasi dalam barang modal tetap yang meliputi a.l. peralatan pabrik, peralatan modal, konstruksi bangunan; (ii) investasi dalam inventaris : stok persediaan barang berupa bahan baku, bahan penolong/ setengah jadi, suku cadang, produk akhir.

Mikhailov Tugan-Baranowski dengan bukunya Studien zur Theorie und Geschichte der Handelskrisen in England (1901), terjemahannya dalam bahasa Perancis, Les Crises indrustrielles en Angleterre (1913), dapat dianggap sebagai pakar ekonomi paling terkemuka diantara pemikir-pemikir ekonomi berbangsa Rusia yang sangat menonjol dalam abad XX sampai zaman pasca revolusi Bolsyevik tahun 1917. Sebagaimana hanlnya dengan pakar-pakar ekonomi Rusia lainnya, pola pendekatan Tugan-Baranowski  terhadap masalah-masalah ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh pandangan Karl Marx. Selain kemahirannya dalam teori ekonomi, Tugan-Baranowski juga sangat mendalami ilmu sejarah dan selalu melakukan perpaduan antara pemikiran ekonomi dengan perkembangan sejarah. Dalam pada itu, ia juga mengenal dan terus-menerus mengikuti perkembangan teori ekonomi di pusat-pusat pemikiran di Wina, Austria, dan di Cambridge, Inggris. Tugan-Baranowski bukan merupakan pemikir Marxis yang dogmatis, bahkan dalam banyak hal penting ia mengadakan pengkajian kritis terhadap ajaran Marx.

Tugan-Baranowski melengkapi dan menyempurnakan seperangkat pikiran yang landasannya telah diletakkan oleh Clement Juglar. Suatu siklus dalam kegiatan ekonomi, menurut Tugan Baranowski, boleh panjang atau pendek tergantung dari kondisi dan konstelasi ekonomi yang secara nyata berlangsung pada tahap-tahap tertentu dalam sejarah. Ia juga membenarkan hasil kajian Juglar tentang adanya krisis-krisis yang terjadi secara berulang dalam perkembangan jarak waktu 7-11 tahun.

Inti pokok dalam teori siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Tugan Baranowski berkisar pada saran pendapatnya tentang investasi sebagai faktor pendorong utama dalam kegiatan ekonomi. Fluktuasi (perubahan-perubahan yang menaik-menurun) pada investasi menyebabkan fluktuasi dalam kegiatan ekonomi mesyarakat secara menyeluruh. Ciri perkembangan ekonomi inilah yang kurang dijelaskan dalam sistem pemikiran Juglar.

Kenyataan empiris menunjukkan bahwa fluktuasi besar dalam kegiatan ekonomi adalah fluktuasi yang ada sangkutpautnya dengan perubahan-perubahan dalam produksi barang modal. Hal ini mengandung ramifikasi luas bagi kegiatan di sektor-sektor lainnya, termasuk industri untuk barang konsumsi. Dalam hubungan ini, diungkapkan tentang adanya interdependensi antara berbagai ragam kegiatan ekonomi dan cabang industri dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Produksi barang modal menimbulkan permintaan akan barang-barang lain. Dalam tahap ekspansi akumulasi pembuatan barang modal meningkatkan permintaan umum akan hasil produksi industri lain. Dalam proses tersebut, pendapatan masyarakat bertambah secara berlipat sebagai akibat tambahan netto pada investasi riil.

Dengan kata lain, disini sudah mulai terlihat paham tentang multiplier sebagaimana akan dikembangkan puluhan tahun kemudian oleh Keynes dan para pengikutnya. Dalam kerangka pemikiran Tugan-Baranowski masalah ini belum ditanggulangi secara lengkap tuntas karena tidak ditemukan atau dikembangkannya paham mengenai hasrat marginal berkonsumsi.

Ekspansi kegiatan ekonomi dibiayai dari tiga sumber : (1) tabungan dan cadangan yang tersedia yang belum digunakan; (2) tabungan berjalan dari peningkatan pendapatan; (3) kredit perbankan yang menjadi semakin longgar.

Produksi barang modal riil mulai berkurang dan akan berakhir pada tahap dimana sumber dana pembiayaan semakin menciut, khususnya dari kredit perbankan.

Krisis dibidang industri terjadi setelah adanya krisis finansial. Namun menurut pendapat Tugan-Baranowski, kesulitan moneter bukan menjadi sebab utamanya, melainkan merupakan fenomena sekunder sebagai akibat dari ebab yang lebih mendasar. Hal terakhir ini berkenaan dengan ketidakseimbangan dan disproporsionalitas antara akumulasi sumber daya produktif dan kemampuan untuk berkonsumsi.

Krisis yang disusul oleh resesi dan pada gilirannya menjurus ke depresi berarti kegiatan ekonomi semakin berkurang dan menurun sampai tingkat yang rendah dan tertekan. Hal itu menyebabkan adanya ketidakseimbangan dan ketimpangan dalam alokasi dan penggunaan sumber daya produksi secara proporsional diantara berbagai sektor ekonomi dan berbagai ragam industri. Dengan kata lain, terjadi distorsi dalam alokasi atau pola penggunaan sumber daya produksi. Ada beberapa jumlah cabang ekonomi dimana dialami produksi yang berlebihan, ada cabang-cabang lain dimana dirasakan kekurangan produksi. Dalam keadaan demikian, keseimbangan antara penawaran agregatif dan permintaan agregatif juga menjadi goncang. Hal itu menyebabkan apa yang oleh Tugan-Baranowski dimaksud sebagai “kelebihan produksi diatas kemampuan berkonsumsi”. Tetapi pengertian tersebut harus dianggap dalam arti relatif, karena menunjuk pada ketimpangan dalam penggunaan sumber daya produktif diantara sektor-sektor ekonomi. Dari segi lain, hal ini juga dapat dilihat sebagai ketimpangan antara tabungan dan investasi.

Semua itu mengakibatkan timbulnya kesulitan dibidang uang dan kredit. Faktor lain yang mempertajam disparitas dan distorsi dalam proses produksi dan konsumsi ialah terjadinya banyak spekulasi dikala kegiatan ekspansi semakin meningkat.

Kelak suatu keseimbangan yang baru hanya bisa tercapai dengan tersisihnya sebagian peralatan modal di sektor-sektor yang mengalami ekspansi secara berlebihan (menjadi usang atau berkarat sehingga kehilangan arti ekonomis dan teknis).

Keadaan stagnasi umum menyusul tahap ekspansi. Siklus ekonomi beralih dari tahap kemakmuran menjadi resesi dan menuju tahap depresi. Dalam tahap depresi itu, kemudian akan terjadi lagi akumulasi sumber dana pembiayaan. Tersedianya dana modal tersebu akan mendorong penggunaannya dalam investasi barang modal. Hal ini memulihkan keadaan ekonomi dan membangkitkan kegiatan usaha ke arah tahap ekspansi yang kemudian menuju ke titik puncaknya. Terjadilah krisis lagi dan keadaan berbalik menjadi resesi menuju depresi. Dengan begitu siklus kegiatan ekonomi berjalan menurut suatu gelombang yang baru.

Fakor strategis dalam penentuan siklus ekonomi terletak pada pihak investasi, dan bukan pada pihak konsumsi. Fluktuasi pada volume dan tingkat investasi mempengaruhi dan mengendalikan siklus kegiatan ekonomi, sedangkan konsumsi menaik dan menurun sebagai respons dan reaksi terhadap gerak kegiatan tersebut.

Menurut Tugan Baranowski terjadi banyak fluktuasi pada tingkat investasi. Sebaliknya tabungan dari pendapatan relatif konstan dan tidak mengalami banyak perubahan.

Dalam tahap ekspansi, investasi melebihi tabungan berjalan (current savings), yaitu tabungan yang disisihkan dari pendapatan yang sedang diterima dalam jangka waktu tertentu. Permintaan untuk investasi yang melampaui tabungan berjalan menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan tersebut diisi atau dilengkapi dengan dilepaskannya cadangan dan/ atau tabungan dari zaman sebelumnya atau karena diperoleh kelonggaran dalam kredit perbankan.

Sebaliknya pada tahap depresi, investasi menjadi berkurang dan jatuh dibawah tabungan berjalan. Sisa kelebihan tabungan ini dimasukkan ke dalam persediaan cadangan dana atau digunakan untuk pembayaran kembali utang-utang kepada bank.

Oleh Tugan-Baranowski belum dijelaskan secara memuaskan tentang faktor apa dan pertimbangan yang mana yang sebenarnya menyebabkan awal mulanya peningkatan investasi yang mendorong kegiatan ekonomi ke tahap ekspansi. Sebaliknya, apa sebabnya volume dan tingkat investasi itu pada suatu waktu akan menurun ?

Dalam teori Tugan-Baranowski investasi meningkat karena didorong terutama oleh pihak yang memiliki atau menguasai dana yang sedang bertambah. Pihak terakhir itu mencari peluang untuk saluran investasi (investment outlet) dan berhasrat memberi pinjaman.

Akan tetapi dalam kerangka pemikirian ini kurang diperhatikan bahwa selain dorongan dari pihak pemilik dana modal, mungkin sekali juga ada semacam pull, sikap hasrat dari pihak pengusaha untuk menarik dan mengerahkan dana modal. Satu sama lain karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat, atau meluasnya pasaran karena penduduk bertambah dengan pendapatannya meningkat, ataupun (mungkin yang paling penting) karena perkembangan teknologi yang baru.

Penjelasan Tugan-Baranowski mengenai kendala terhadap berlangsungnya investasi ialah karena pada suatu tahap sumber dana pembiayaan menjadi semakin langka dan dilakukan pembatasan atau pengurangan kredit oleh pihak perbankan. Hal tersebut menyebabkan investasi menurun. Akan tetapi tidak disebut oleh Tugan-Baranowski tentang kemungkinan semakin langkanya kesempatan untuk menyalurkan dana ke dalam investasi karena oleh pihak pengusaha dianggap sudah kurang menarik. Atau dengan menggunakan istilah “modern” (Keynes) karena menurunnya efisiensi marginal dari investasi modal.

Segi permasalahan yang diungkapkan di atas mengenai sebab utama baik menaik-menurunnya (hasrat) investasi dirasakan sebagai kekurangan pokok dalam analisis Tugan-Baranowski.

Arthur Spiethof, dengan bukunya Krisen dalam Handwörterbuch der Staatswissenschaften (1925) seorang pakar ekonomi bangsa Jerman melengkapi dan memantapkan kerangka dasar pemikiran yang sebelumnya diletakkan oleh Tugan-Baranowski. Hal itu menyangkut satu bagian yang penting yang justru belum terampung secara memuaskan oleh Tugan-Baranowski, yakni segi permintaan (akan dana modal) untuk investasi dalam pembuatan barang modal tetap. Dalam gagasan Tugan-Baranowski gerak menaik-menurunnya kegiatan ekonomi berkaitan dengan tersedianya atau terbatasnya dana pembiayaan; jadi, dari pihak pasok dana modal.

Sebaliknya Spiethof menitikberatkan pada peran investasi yang bersumber dari pihak permintaan akan dana investasi untuk digunakan dalam produksi barang modal tetap. Spiethof sendiri memang beranggapan bahwa pemikirannya dan pemikiran Tugan-Baranowski saling melengkapi. Tugan-Baranowski menekankan faktor dorongan (push) yang datang dari pihak pemilik atau pengelola dana untuk mencari peluang saluran investasi. Sedangkan Spiethof lebih mementingkan adanya daya tarik (pull) dari pihak para usahawan yang terwujud pada permintaannya akan dana modal untuk investasi produksi barang modal.

Tahap ekspansi dan tahap depresi dalam siklus ekonomi bersangkutpaut dengan meningkatnya dan berkurangnya produksi barang modal tetap. Bisa saja perkembangan tersebut disertai oleh banyaknya atau langkanya sumber dana pembiayaan. Namun, hal itu adalah sekunder. Tahap ekspansi berawal dari perkembangan teknologi (penemuan-penemuan baru) dan/ ataupun oleh pembukaan kawasan-kawasan teritorial baru, baik dalam benuanya sendiri atau di belahan-belahan lainnya di dunia.

Satu sama lain menciptakan peluang bagi produksi barang modal sehingga menimbulkan permintaan akan dana modal untuk digunakan sebagai investasi dalam produksi barang modal yang bersangkutan. Kegiatan ekspansi kemudian semakin meluas dan menuju ke tingkat yang tinggi. Pada tingkat inilah peluang-peluang untuk investasi baru menjadi semakin terbatas; tambahan pada barang modal kurang ada gunanya dan secara ekonomis menjadi kurang menarik.

Dengan istilah “modern” (Keynes-Hansen) pada tahap itu hal efisiensi marginal dari (investasi) modal sudah menurun. Memang kemungkinan besar bahwa di sisi lain pada saat tersebut sumber dana pembiayaan juga semakin berkurang. Namun faktor yang lebih menentukan ialah pertimbangan dan minat yang semakin menurun pada pihak usahawan untuk menggunakan dana modal karena peluang investasi sudah menjadi terbatas dan investasi baru kurang menarik dalam imbalan jasanya.

Dalam tahap depresi berlangsung akumulasi dalam sumber dana pembiayaan yang semakin bertambah. Akhirnya dikala kegiatan ekonomi sudah berada pada tingkat yang rendah, maka akan ada dorongan dari pihak pemilik/ pengelola dana untuk menyalurkan dana itu dengan mencari berbagai peluang investasi. Dengan tersedianya banyak dana modal, tingkat bunga juga menurun. Namun, hal itu belum menjamin bahwa investasi riil dengan sendirinya akan meningkat secara berarti. Untuk itu harus ada perangsang khusus bagi pengusaha/ calon investor untuk melakukan investasi secara besar-besaran dalam produksi barang modal. Perangsang yang dimaksud lazimnya timbul dengan penemuan-penemuan baru dalam perkembangan teknologi dan/ atau dengan perluasan pasar, baik di wilayahnya sendiri maupun dengan membuka/ menguasai/ merebut kawasan-kawasan geografis baru dalam benua-benua lain.

Perkembangan dalam tahap akhir ekspansi dikala kegiatan ekonomi sudah mendekati titik baliknya menjurus ke resesi dan depresi, sering dipertajam oleh gerak-gerik spekulasi yang berlebihan yang disertai oleh goncangan harga. Sementara itu, dibawah permukaan gejala spekulasi dan goncangan harga, sebab-musabab mendasar bagi menaik-menurunnya kegiatan ekonomi berkisar pada dua faktor yang telah disebut tadi : (1) permintaan akan (investasi) barang modal riil menjadi inelastis, disertai oleh (2) persediaan dana modal menjadi langka.

Dalam kerangka pemikiran Tugan-Baranowski nampaknya akumulasi dana dianggap berlangsung secara tetap/ konstan. Akumulasi dana tersebut semakin didorong ke berbagai saluran investasi dalam produksi riil barang modal.

Di pihak lain, permintaan untuk investasi tidak berjalan secara reguler atau konstan. Dikala ekspansi semakin meningkat, permintaan untuk investasi melampaui persediaan dana yang relatif menjadi langka. Ketimpangan tersebut menjadi kendala terhadap berlangsungnya investasi sehingga perkembangan akan berbalik menjadi resesi dan depresi.

Dalam pandangan Spiethof, justru dipersoalkan apa sebabnya permintaan untuk investasi tidak berjalan secara mulus, sehingga penyaluran dana juga tidak lancar. Penjelasan Spiethof ialah karena permintaan tersebut dipengaruhi oleh dua faktor yang memang dalam sifatnya tidak pernah berjalan secara reguler, yaitu perkembangan teknologi dan pembukaan kawasan geografis-teritorial yang baru. Karena kedua faktor tersebut tidak reguler, terjadilah fluktuasi (perubahan menaik-menurun) pada perminaan akan investasi. Fluktuasi pada investasi itu menyebabkan gerak kegiatan ekonomi secara bergelombang : investasi merupakan faktor dinamika dalam siklus ekonomi.

 

  1. 5.        Investasi, Tekhnologi, Inovasi; Peranan Entepreneur : Joseph  A. Schumpeter ( 1883 – 1950)

Joseph Schumpeter, dengan bukunya Theorie der Wirischafilichen Eniwicklung ( 1912), terjemahan dalam bahasa Inggris Theory of economic Development( 1934 ); Business cycles, 2 Vols ( 1939); History of Economic Analysis (1954), kelahiran bangsa Austria, mula-mula pakar di pusat ilmu ekonomi di Wina yang terkenal pada akhir abad XIX dan selama beberapa dasawarsa abad XX ini (dikenal sebagai mazhab Austria). Kemudian dalam dasawarsa ’30 sebelum peter, bersama banyak ilmuwan terkemuka di berbagai bidang ilmu pengetahuan, meninggalkan eropa sehubungan dengan perkembangan politik menjelang  Perang Dunia II. Schumpeter  pindah ke Harvard University, Amerika Serikat, di mana oa menjadi salah seorang pengajar dan pemikir ekonomi utama yang sangat menonjol sampai wafatnya di tahun 1950

Schumpeter adalah seorang ilmuwan besar dengan cakrawala pandangan luas yang tidak terbatas pada bidang ekonomi, melainkan mencakup ilmu – ilmu filsafah, sejarah, sosiologi, sastra, statistic. Satu sama lain sangat menonjol dalam pendekatannya terhadap masalah – masalah ekonomi. Pandangaanya didasari oleh pemikiran filsafah yang mendalam dan ditandai oleh paduan antara pangkal – pangkal haluan ekonomi-sosiologi-sejarah-statistik. Karya-karya ilmiah Schumpeter di bidang ekonomi meliputi teori pembangunan, teori siklus ekonomi, tinjauan sejarah pemikiran ekonomi, studi perbandingan berbagai system ekonomi, dsb. Sebagai pakar ekonomi arti dan bobot Schumpeter adalah setingkat dan sejajar dengan John Maynard Keynes.

Tinjauan kita disini dipusatkan dan dibatasi pada serangkaian pemikiran Schumpeter yang menyangkut siklus ekonomi.Gagasan Juglar dan kerangka landasan analisis Spiethof dikembangkan lebih lanjut oleh Schumpeter, dan disempurnakan serta dilengkapi oleh sebuah konsep baru dalam kajiannya tentang hakikat dan sifat gerak gelombang dalam proses ekonomi. Konsep baru yang dimaksud mencakup inovasi ( Innovation;dalam bahasa asli Schumpeter sedianya digunakan istilah neue Kombinationen) dan peranan entrepreneur yang menjadi factor penggerak inovasi.

Fenomena gelombang menaik dan menurun dalam perkembangan ekonomi ada sangkut pautnya dengan pasang-surutnya arus inovasi. Paham inovasi itu harus dibedakan dari hal penemuan tekhnik baru ( yang disebut sebagai invention). Pengertian kata innovation adalah lebih luas. Menurut definisi  Schumpeter inovasi  mengungkapkan perkembangan fungsi produksi ( production function) yang baru sana sekali, dalam arti tersusunya suatu kombinasi baru ( neue kombinationen) dalam penggunaan factor – factor produksi—baik secara kuantitatif maupun kualitatif – dalam proses produksi. Pengertian inovasi tidak hanya mencakup tekhnik produksi yang baru, melainkan juga jenis  komodity baru ataupun bahan material yang baru dalam produksi, organisasi usaha yang baru, pembukaan pasaran yang baru. Boleh dikatakan, seakan- akan inovasi mencerminkan suatu “loncatan” dari fungsi produksi yang lama ke fungsi produksi yuang baru. Kurva tingkat biaya marjinal tidak berlaku lagi ( menjadi using), dengan adanya kurva yang baru yang berkaitan dengan terselenggaranya suatu inovasi. Dengan kata lain, inovasi berarti suatu pergeseran (shift) pada produktivitas marginal.

Bahwasannya dalam keadaan tertentu secara potensial ada kemungkinan ataupun peluang untuk inovasi bukanlah berarti bahwa proses dan usaha inovasi dengan sendirinya akan terwujud dalm kegiatan praktis-operasional. Disinilah munculnya arti dan peranan entrepreneur ( wirausaha) dalam gerak kegiatan  ekonomi yang ditandai oleh adanya arus inovasi baru dalam perkembangan nya. Penemuan – penemuan baru dalam bidang teknologi pada dirinya belum menyebabkan tumbuhnya ekspansi dengan kegiatan ekonomi yang miningkat dan meluas. Inovasi hanya terjadi dengan peranan dan perilaku sekelompok oknum usahawan yang mempunyai cirri kepeloporan yang khas dalam pengelolaan usahanya, sehingga mereka itu tergolong kedalam kelompok wirausaha. Kelompok yang dimaksud sangat terbatas dalam jumlahnya, dalam keadaan apapun dan di zaman apapun .

Tabiat dan sifat seseorang wirausaha ialah kemampuan nya, kecerdasaannya dan keberaniannya yang di topang oleh ketetapan hatinya dan keteguhan jiwanya untuk melancarkan usaha yang serba baru dengan melihat kepada kemungkinan – kemungkinan potensial di masa depan dan berhasil menjelmakannya menjadi kenyataan efektif.

Hanya segelintir oknum manusia yang jumlahnya sedikit  sekali di antara kalangan pengusaha yang memiliki cirri – cirri khas serupa itu. Selain itu, Para wirausaha juga harus berhasil untuk mengerahkan dana modal secara besar-besaran guna menunjang rencana usahanya . Hal ini bukan sesuatu yang mudah, karena biasanya pihak banker, finansir, dan calon investor bersikap skeptic dan ragu – ragu terhadap setiap sesuatu yang bercorak baru, yang sebelumnya belum cukup dikenal.

Harus diperhatikan bahwa dalam alam pikiran Schumpeter pengertian wirausaha itu berlainan sekali dan harus di bedakan dari pengertian ‘pengusaha’. Keunggulan seorang usaha terletak pada sikap jelinya atas kemungkinan potensial yang terbayang dalam perkembangan masa depan, kemudian mampu merintis dan mengatur inovasi ( menempuh pola baru dalam penggunaan sumber dana dan daya produksi dalam suatu kombinasi optimal yang baru pula). Sehingga, segal sesuatu itu menjadi  realitas dalam perkembangan ekonomi masyarakat. Pengaturan dan penyelenggaraan inovasi dengan sendirinya mengandung banyak resiko dan ketidakpastian. Di sinilah menonjol segi yang amat penting pada peranan dan tanggung jawab seorang wirausaha.Sebab, dalam hubungan ini harus dibedakan pula secara tajam antara resiko ( risk) dan ketidak pastian .resiko adalah sesuatu yang biasa dihadapi dan dialami dalam dunia usaha dan pengusahaan.tetapi resiko dapat ditampung melalui asuransi dan hal itu juga sudah lazim dilakukan dalam kelembagaan asuransi. Sehingga dengan begitu risiko dapat diperhitungkan sebagai salah satu komponen biaya usaha.lain halnya dengan segi ketidakpastian, tidak dapat ditampung dalam asuransi, karena biasanya lembaga – lembaga asuransi itu tidak bersedia menampung hal-hal yang mirip dengan perkembanmgan yang tidak pasti.

Factor ketidakpastian itulah yang seluruhnya harus dipikul oleh wirausaha. Wirausaha menjadi penanggung jawab akhir .kalau ketidak pastian itu ternyata dapat ditanggulangi dan teratasi dan inovasi yang deselenggarakan wirausaha berhasil, maka hasil usahanya sangat besar. Sebaliknya jika usahanya mengecewakan, maka segala akibatnya ( sampai keruntuhan sekalipun) adalah tanggung jawab wirausaha.

Pada mulanya yang muncul bergerak hanya  terbatas pada seorang atau sekelompok kecil wirausaha yang menyelenggarakan inovasi usaha dan juga dapat meyakinkan pihak banker/finansir/calon investornya untuk memberikan dukungan dengan penyediaan sumber dana pembiayaan yang cukup besar.kelak begitu kelihatan bahwa usaha kelompok wirausaha itu menunjukkan kemajuan dengan hasil usaha yang nyata, biasanya jejak langkah wirausaha itu serentak diikuti oleh sejumlah banyak pengusaha yang secara berbondong – bonding berminat untuk berkecimpungan dalam bidang usaha yang serupa.

Pengusaha gelombang kedua biasanya tidak mengalami banyak kesulitan untuk mendapat bantuan dana berupa pinjaman bank dan/atau kesediaan calon investor untuk ikut serta dalam modal saham usaha. Sebab, pada tahap itu tampaknya pihak pemilik/pengelola dana sudah lebih tenteram dan merasa lebih aman untuk menyalurkan dananya ke bidang usaha yang bersangkutan.

Fenomena  tersebut, yaitu gerak prakarsi yang diperkasai oleh wirausaha atau sekelompok wirausaha dan berikut disusul oleh sejumlah banyak pengusaha secara berbondong-bondong, satu sama lain secara bersama  menjadi  tahap ekspansi dalam siklus ekonomi.

Kejadian-kejadian inovasi tidak berlangsung menurut suatu pola yang kontinu dan regular. Justru terdapat diskontuinitas dalam munculnya inovasi disertai oleh gerak kegiatan ekomnomi yang meningkat dan meluas sebaliknya perkembangan yang bersangkutan sewaktu-waktu bias menjadi tersendat-sendat.

Gerak  kegiatan usaha sewcara missal itu berlangsung secara kumulatif. Iklim usaha dan suasana umum ekonomi masyarakat menjadi semakin optimis dan mendorong laju ekspansi secara berlebihan sehingga perkembangan ekonomi mencapai titik baliknya dan berubah menjadi resesi dan depresi.

Terdapat prbedaan pandangan antara Schumpeter  disatu pihak dan Spiethof – Tugan Baranomski dipihak lain mengenai sumber awalnya tahap ekspansi maupun mengenai sebab dan sifayt berakhirnya ekspansi.

Dalam hubungan ini, Schumpeter mendukung pendapat Juglar yang mengatakan bahwa sebab utama timbulnya resesi dan depresi adalah perimbangan-perimbangan keadaan yang sebelumnya sudah terkandung di dalam ekspansi dan prosperity.

Dalam penfsiran Schumpeter, hal itu berarti tidak lain dari tahap depresi yang merupakan suatu reaksi dari suatu tat susunan ekonomi terhadap kegiatan ekspansi yang dalam perkembangannya ditandai oleh berbagai rupa ketimbangan. Dengan kata lain, suatu proses adaptasi terhadap ketimbangan-ketimbangan keadaan (beserta ketimpangannya)yang tercipta seelumnya dalam tahap ekspansi.

Suatu inovasi yang disertai gerak  kegiatan usaha secara missal  bagaimana pun juga dirasakan sebagai semacam kejutan dan gangguan  terhadap keadaan yang sedang berlangsung. Serangkaian kejutan san gangguan tidak jarang menggoyangkan  kerangka susunan ekonomi yang berlaku dan memaksa adanya proses adaptasi(perubahan yang bersifat penyesuaian). Depresilah yang dalam siklus ekonomi menjadi tahap berlangsungnya adaptasi yang  dimaksud.

Sejarah ekonomi modern sejak zaman kapitalisme industry senantiasa  ditandai oleh goncangan-goncanagan yang mengganggu struktur ekonomi yang berjalan. Terlaksannya inovasi dalam perkembangan ekonomi tidak segera mewujudkan keadaan ekuilibrium yang daru. Proses penyesuaian memerlukan waktu. Dalam perkembangan ekspansi banyak hal yang baru yanga diterapkan dan harus diserap kedalam system ekonomimasyarakat. Tetapi dalam proses serupa itu juga terjadi banyak likuiditas usaha.

Resesi menjurus ke depresi dikala kekuatan-kekuatan mengarah ke ekuilibrium(baru)tidaka sekuat serangkaian factor gangguan terhadap kostelasi (kerangka perimbangan-perimbangan keadaan)ekonomi yang berlangsung.

Masa depresi dapat ditafsirkan sebagai tahap sebagaimana sedang berjalan akomodasi terhadap situasi ekonomi industry yang baru. Situasi baru itu pada hakikatnya merupakan akibat dan konsekuensi dari inovasi-inovasi yang sebelumnya terselenggarakan dalam tahap ekspansi, sedangkan inovasi-inovasi itu sering dirasakan sebagai kejadian-kejadian yang timbul secara tiba-tiba. Dalam proses adaptasi dan akomodasi yang dimaksud diatas, tidak dapat dihindarkan reorganisasi dalam struktur produksi dan pendapatan maupun dalam, pembentukan harga. Satu sama lain harus disesuaikan pula dengan perubahan-perubahan yang menyangkut pola tingkat permintaan.

Pola perkembangan keasaan serupa itulah yang merupakan inti pokok sesuatu periode depresi. Dalam proses yang bersangkutan dialami banyak goncangan, kerugian, rintangan, bahkan kesengsaraan.

Kelangsungan depresi akan mencapai suatu tahanp dimana kegiatan ekonomi berada pada tingkat yang sangat rendah dan dalam keasaan yang tertekan.pada tahap itu juga terjadi akumulasi kekuatan-kekuatan produktif beserta akumulasi dan modal yang tersedia tetapi tidak digunakan. Keadaan tersebut pada gilirannya menguntungkan untuk mealakukan inovasi berdasrkan komninasi baru yang lebih optimal dalam penggunaan sumberdaya produktif dan dana modal.

Pandangan schumpeter mengenai gerak gelombang kegiatan  ekonomi yang intisarinya di ungkap di atas pada asasnya merupakan suatu teori siklus ekonomi yang didasarkan atas serangkaian dinamika yang bersifat endogen. Sebab dalam kerangka pemikirannya factor-faktor kekuatan yang menyebabkan naik turunnya kegiatan ekonomi secara bergelombang seakan-akan inherent (melekat)  di dalam tat susuna ekonomi. Artinya tata susunan  didalam dirinya sudah mengandung factor-faktor dinamikanya.

Dinamika yang dimaksud berkaitan dengan kekuatan yang terletak pada inovasi dan peran wirausaha. Dalam perkembangan ekonomi, suatu waktu muncul kelompok-kelompok wirausaha yang mengerahkan inovasi dan yang selanjutnya membawaperubahan dalam kontelasi ekonomi. Dengan kata lain, dalam kerangka garis pemikiran ini peran wirausaha dan inovasi dianggap sebagai factor dinamika yang sudah terkandung dan melekat didalam tat susunan ekonomi masyarakat.

Menurut hemat penulis, disni terdapat suatu kelemahan dalam gagsan Schumpeter.  Betapun kerangka  susunan pemikiran Schumpeter menakjubkan dalam kekuata menalarnya dan luas sudut pandangnya, gerak gelombang dalam perkembangan ekonomi bukan hasil atau akibat semata-mata dari peran wirausah san inovasi(disertai investasi sebesar-besarnya) yang seolah olah melekat pada suatu  organisme ekonomi. Satu sama lain harus dilihat dalam rangka perubahan structural yang lebih luas, tidak hanya dalam hal teknologis ekonomis, melainkan dalam seluruh masyarakat sekitar secara multidimensional. Factor-faktor yang bersumber dari luar tat susunan ekonomi sering dominan dampaknya terhadap pola dan arah perkembangan ekonomi, khusunya bila dilihat sebagai gerak kecenderungan jangka panjang(gelombang kondratif).

Sejarah prekonomian dunia baik yang menyangkut perekonomian Negara-negara yang dewasa ini maupun perekonomian Negara-negara yang kini sedang membangun, menandakan betapa perkembangan dibidang ekonomi  selalu mendapat stimulans atau dorongan ataupun juga gangguan dari serangkaian factor yang bersifat eksogen. Kekuatan-kekuatan eksogen itu sangat mempengaruhi, kadang-kadang menentukan, konstelasi ekonomi dalam kelangsungannya. Dalam proses tersebut terjadi suatu interaksi antara dinamika eksogen dan dinamka endogen . perbedaan interaksi  yang dimaksud tadi antara factor dinamika eksogen dan factor dinamika endogen dalam perbedaan ekonomi tidak atau kurang menonjol  dalam pandangan Schumpeter.

  1. 6.        Peranan Perilaku Konsumen Dalam Siklus Ekonomi – Albert Aftalion (1874- ?)

Albert Alfation, dengan bukunya  les crises periodiques de surproduction, 2 vols. (1913) adalah seorang pakar ekonomi bangsa Perancis. Ia melakukan sejumlah studi empiris mengenai perkembangan harga, upah, tingkat bunga, laba, biaya produksi dan produktivitas. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitiannya, dalam siklus ekonomi yang menyangkut produksi barang konsumsi, bahan baku dan barang modal.

Dalam perkemnangan pemikiran dalam siklus ekonomi, aftalion sangat sipengaruhi oleh Tugan – Baranowski dan Spiethof. Alfation mendukung pendapat Tugan – Baranowski dan Spiethof yang mengatakan bahwa naik turunnya kegiatan ekonomi dalam masyarakat ditandai oleh fluktuasi pada produksi barang modal tetap. Akan tetapi aftalion berbeda pendapat mengenai sebab yang mendasari fluktuasi yang dimaksud. Ia tidaka setuju dengan anggapan bahwa fluktuasi  pada investasi barang modal ditentukan oleh tersediannya volume dana modal yang penempatannya hendak disalurkan kedalam investasi riil. Sebagaimana hal itu diungkap sebagai tema pokok dalam analisis Tugan – Baranowski dan sebagai segi pelengkap dalam gagasan Spiethof.

Pokok pendirian Aftalion adalah bahwa fluktuasi investasi ditentukan oleh dinamika yang bersumber pada perubahan permintaan konsumen.Keputusan untuk mengadakan investasi didasarkan atas ekspektasi  para pengusaha. Ekspektasi tersebut berkaitan dengan permintaan yang datang dari pihak konsmen. Nilai harga barang modal diperoleh atau tersimpul dari nilai harga barang konsumsi yang dihasilkan oleh barang modal yang bersangkutan . dalam suatu pergaulan hidup, tujuan semua produksi pada asasnya adalah konsumsi. Perubahan akan permintaan pada barang modal hanya dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan factor-faktor pada kebutuhan konsumen dan permintaan yang timbul dari kebutuhan konsumen itu.

Berakhirnya tahap kegiatan ekspansi bukanlan disebabkan oleh dana modal pembiayaan yang semakin langka. Tahap ekspansi akan berakhir menurut Aftalion, oleh karena itu jumlah konsumsi sudah demikian banyak sehingga permintaan konsumen sudah menjadi jenuh. Berkurangnya permintaan akan barang konsumsi pada gilirannya akan mengurangi hasrat dalam dunia usaha untuk membuat peralatan modal yang baru. Jadi, berkurangnya permintaan akan produk akhir akan mengurangi dan akhirnya menghentikan produksi barang modal tetap.

Semakin bertambahnya barang modal tetap, faedah yang diperoleh dari barang modal tersebut semakin cenderung menurun. Hal itu disebabkan oleh dua hal yaitu :

1. Saat jumlah barang modal bertambah, semakin berkurang juga kemungkinan untuk menggantikan factor-faktor produksi lainnya oleh peralatan modal.

2. Karena produksi barang konsumsi semakin bertambah, baik dalam jumlahnya maupun dalam jenisnya, maka nilai barang-barang konsumsi menjadi menurun dibandingkan dengan biayaproduksi dalam pembuatan barang modal.

Faedah marginal barang-barang konsumsi menurun disebabkan oleh semakin besarnya penawarannya. Harga barang konsumsi menurun dan dengan begitu menurun pula nilai peralatan modal yang menghasilkan barang konsumsi, dibandingkan dengan biaya barang modal yang bersangkutan. Faedah maginal barang konsumsi jatuh karenapersediaannya dan penawarannya terlalu berlebihan, dibandingkan dengan tingkat permintaan  yang ada dalam keadaan tertentu dan pada suatu tahap tertentu.

Dalam teori aftalion, diungkapkan adanya semacam gerak berirama dalam ekspektasi pada pihak para pengusaha yang terlibat dalam proses produksi. Kadang mereka terbawa oleh keadaan atau suasana terlalu optimis, kadang kala juga dihinggapi oleh persepsi dan perasaan terlalu pesimis.

Perubahan – perubahan pada ekspetasi  itu berkaitan dengan tekhnik produksi dalam masyarakat modern. Tekhnik produksi yang dimaksud didasarkan atas penggunaan peralatan barang modal tetap.Produksi dan konstruksi barang modal tu memakan waktu, dari bulanan sampai tahunan. Gerak berirama dalam ekspektasi tadi dari optimis menjadi pesimis dan sebaliknya, ada sangkut pautnya dengan factor jangka waktu dalam proses produksi.

Selain itu, sekali peralatan barang produksi itu terpasang, maka usia dan masa kerja barang modal tersebut juga bisa bertahan selama masa waktu yang agak panjang

Kerangka pemikiran aftalion mengandung tiga cirri pokok yang berkaitan dengan sifat dan tekhnik produksi dalam industry  zaman modern :

1)        Jangka waktu yang diperlukan dalam perancangan, pembuatan, dan konstruksi barang modal tetap. Hal ini menyulitkan penyesuaian penawaran barang modal dengan permintaan akhir ( final demand) yang berubah dalam jumlahnya maupun dalam sifat coraknya.

2)        Sekali peralatan barang modal sudah terpasang, barng modal itu bisa bertahan lama, dalam arti tekhnis kapasitas kerjanya. Factor ini juga bisa memperpanjang depresi.Akhirnya peralatan modal menjadi using sehingga kapasitas produksi dalam masyarakat menurun

3)        Fluktuasi yang mungkin relative kecil pada permintaan akan barang konsumsi akan menyebabkan adanya fluktuasi yang lebih besar dan lebih luas pada permintaan akan brang modal.

Kini kita lihat bahwa dalam kerangka analisis Aftalion sudah terungkapkan apa yang kita kenal dalam teori modern sebagai asas acceleration. Asas tersebut berkaitan dengan “ Permintaan secara tidak langsung” , yaitu, permintaan akan barang modal secara tidak langsung diperoleh dari permintaan akan barang konsumsi,principle of derived demand.

Pendapat mengenai fluktuasi pada investasi yang bersumber dari fluktuasi pada permintaan konsumen merupakan sumbangan pikiran Aftalion yang orginal dalam perkembangan teori siklus ekonomi. Dalam -hubungan ini pula pendapat aftalion berbeda sekali dengan pandangan Tugan-Baranowski dan Spiethof. Kedua pakar yang disebut terakhir ini menunjuk pada peran utama investasi sebagai sumber awal fluktuasi dalam siklus ekonomi.

Dalam analisis Aftalion disebutkan sebagai factor yang mempengaruhi perubahan dalam kebutuhan masyarakat (konsumen) dan perubahan permintaan efektif di pasar ialah yang dinyatakan berikut ini.

1)        Pertambahan penduduk menambah kebutuhan dan keinginan untuk memperoleh barang konsumsi dalam jumlah yang lebih banyak dan beraneka ragam. Permintaan yang meningkat dan meluas akan barang konsumsi berkenaan dengan pertambahan penduduk menciptakan permintaan yang lebih besar akan barang modal.

2)        Bertambahnya kebutuhan masyarakat konsumen ada kaitannya juga dengan penemuan – penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan kemajuan dalam teknik produksi. Hal itu meningkatkan produktivitas dan daya beli dalam masyarakat. Selera golongan konsumen di satu pihak dan produksi  untuk memenuhi selera tersebut  di pihak lain mencakup sejumlah barang dalam berbagai jenis dan ragam yang meluas . sehubungan dengan itu, permintaan dan produksi barang modal melibatkan perancangan, kegiatan rekayasa, dan pembanguna pabrik-pabrik beserta perangkat peralatannya yang semuanya bisa menjadi sangat kompleks. Dalam kegiatan itu, adanya permintaan pasar akan produksi – produk jenis baru dan beraneka rupa menciptakan permintaan yang besar sekali terhadap  barang modal.

3)        Segi penting sekitar permintaan konsumen ialah bukan hanya meningkatnya permintaan, melainkan juga pergeseran di dalam pola dan komposisi permintaan itu. Dengan pergeseran yang dimaksud ialah adanya perubahan pada sifat dan corak permintaan terhadap barang-barang konsumsi walaupun volume dan tingkat permintaan itu mungkin tidak berubah dalam masyarakat  secara menyeluruh. Pergeseran serupa itu secara tidak langsung tetapi nyata juga mempengaruhi permintaan terhadap barang modal. Dampak suatu pergeseran dalam permintaan sama penting artinya dibandingkan dengan naiknya tingkat permintaan.

Dalam masyarakat industry modern, proses dan tekhnik produksi melibatkan penggunaan peralatan barang modal dalam skala besar dan kompleks. Perubahan pada permintaan konsumen menyebabkan terjadinya perubahan yang lebih besar lagi dalam produksi barang modal. Satu sama lain mengandung ramifikasi ( akibat pengaruh secara bercabang – cabang ) yang meluas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat pada umumnya. Adanya kemampuan produksi untuk menambah jumlah dan jenis barang konsumsi secara esar-besaran juga mengandung akibat menurunnya  tingkat intensitas marginal pada kebutuhan, yang selanjutnya mempengaruhi  permintaan di pasar yang cenderung menurun,pada tahap itu terjadi fluktuasi dalam kegiatan ekonomi. Dalam keadaan tertentu, akan terjadi kelebihan relative mengenai barang konsumsi, sedangkan dalam perkembangannya berikutnya justru dialami kelangkaan.

Teori aftalion di dasarkan pada kecenderungan semakin menurunnya faedah marginal perihal barang konsumsi pada umumnya. Aftaliom menunjuk pada pengalaman empiris betapa sulinya untuk memelihara keadaan ekuilibrium dalam kontelasi ekonomi . perkembangan ekonomi senantiasa ditandai oleh oscillation ( goyangan keatas dan kebawah )yang mengitari keadaan ekuilibrium. Osilasi itu merupakan fenomena yang berkaitan dengan proses, tekhik dan sifat produksi dalam masyarakat modern. Khususnya hal itu menyangkut lamanya waktu yang diperlukan untuk pembuatan barang modal ( perancangan, rekayasa, konstruksi) dan panjangnya usia kerja perlatan modal setelah terpasang.bila terjadi goyangn osilasi di sekita equilibrium, maka akan terjadi  keadaan silih berganti antara kemakmuran dan tahap depresi, yang saling susul menyusul

Selain adanya osilasi  dalam perkembangan ekonomi, tekhnik, dan sifat produksi modern, juga mempengaruhi amplitude, jarak antara puncak gelombang dan garis titik rata-rata dari goyangan – goyangan. Faktor amplitudo  tersebut  menentukan panjang pendeknya masa prosperity dan depresi.

Fluktuasi permintaan tercermin pada harga dan laba, yang menimbulkan dorongan ataupun yang menjadi pengekang terhadap produksi. Ekspektasi mengenai permintaan dan produksi lazim didasarkan atas tingkat harga yang berlaku saat ini dan atas persepsi dan perkiraan tentang perkembangan masa akan dating. Akan tetapi permintaan dan harga yang berlaku sekarang merupakan indicator  yang sering kurang memadai, karena lamanya waktu pembuatan dan tahap kerja barang modal dal proses produksi. Perkiraan tentang perkembangan di masa dating mengandung banyak ketidak pastian, sedangkan penyesuaian dengan perubahan keadaan tidak dapat  dilaksanakan dalam waktu singkat.

Dari uraian diatas ternyata menyatakan bahwa asas permintaan secara tidak langsung (principle of derived demand) dan peranan acceleration sudah dikenal dalam karya Aftalion pada awal abad XX. Perubahan dan permintaan akan barang konsumsi menimbulkan perubahan yang lebih besar dan lebih meluas pada permintaan akan barang modal. Permintaan akan barang modal tidak hanya tergantung dari tingkat permintaan akan barang  konsumsi, melainkan juga dari cepat atau lambatnya bertambahnya permintaan. Dengan kata lain permintaan akan barang modal juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhan pada permintaan  akan barang konsumsi.

Mungkin permintaan akan barang konsumsi masih saja bertambah, namun kalau laju pertambahan itu sudah menurun, maka permintaan akan tambahan netto pada barang modal mengalami penurunan secara absolute. Di kala permintaanakan barng konsumsi tidak bertambah lagi ( mengalami stagnasi), maka pada tahap ini tidak lagi dibutuhkan tambahan baru pada peralatan modal yang terpasang. Dalam keadaan itu, bagi industru pembuatan barang modal, tidak ada pekerjaan lagi, selain perawatan ataw pergantian peralatan modal yang sudah terpasang, sampai peralatan itu sudah menjadi usang / rusak.

Sementara itu, selama ekspansi berlangsung, kegiatan industry barang modal yang meningkat dan meluas pada dirinya juga menambah volume dan menaikkan tingkat konsumsi.

Dalam proses pembuatan barang modal, diberikan pekerjaan kepada tenaga kerja dalam jumlah yang lebih banyak. Hal itu meningkatkan permintaan akan barang konsumsi. Persediaan barang konsumsi dan peredarannya dalam masayrakat akan mengalami kelangkaan, kecuali jika produksinya dapat dinaikkan dengan segera. Untuk sementara, selalu ada masa peralihan ketika permintaan tidak terpenuhi dan harga barang naik.perkembangan ini semakin dirasakan pada tahap kapasitas produksiyang  terpasang sudah digunakan secara penuh. Dalam keadaan depresi, berlaku perkembangan yang sebaliknya, kapasitas peralatan modal yang terpasang tidak sepenuhnya digunakan, sehingga pengangguran terjadi pada industry barang modal. Hal ini mengurangi permintaan dan pembelian barang konsumsi, sehingga dirasakan adanya kelebihan relative mengenai barang konsumsi di pasar yang menyebabkan harga menurun. Pada gilirannya perkembangan ini membawa dampak yang lebih besar dan lebih luas lagi terhadap kegiatan industry modal.

Dalam kerangka anlisis dan landasan pemikiran Aftalion seperti dibentangkan diatas, maka pada tingkat pertama dan terakhir sebab fluktuasi dalam siklus ekonomi berasal dari perubahan pada permintaan terhadap barang konsumsi.

  1. 7.        Pemantauan Empiris – Statistik – Deskriptif : Wesley C. Mitchell (1874-1948)

Wesley Mitchell, dengan bukunya Businesess Cycles : The Problem and Its Setting (1972) adalah seorang pakar ekonomi bangsa Amerika. Dia adalah pendiri National Bureau of Economics Research, USA, sebuah lembaga penelitian ekonomi yang sampai sekarang masih dipandang di antara yang paling terkemuka di dunia. Mitchell mewakili kelompok aliran dalam ilmu ekonomi yang mengutamakan observasi empiris-statistik mengenai perkembangan ekonomi. Ciri ini mewarnai seluruh karya ilmiah Mitchell. Perkembangan ekonomi dilihat sebagai gerak kegiatan yang senantiasa mengalami fluktuasi. Dalam pada itu, osilasi (gerak goyangan ke atas dan ke bawah) dianggap bersifat lunak (moderate), sedangkan amplitudenya (luas ayunan, jarak antara puncak gelombang dan garis titik rata-rata) tidak diberi arti besar. Menurut Mitchell, tahap-tahap kegiatan dalam siklus ekonomi digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang terkandung di dalam tata susunan ekonomi sendiri. Tahap-tahap kegiatan ekonomi yang dimaksud berlangsung dalam suatu sequence, artinya mengkuti pola urutan tahapan secara susul-menyusul (sequential).

Mitchell berpendirian bahwa pembahasan masalah-masalah yang menyangkut siklus ekonomi harus bersifat analisis deskriptif. Tinjauan analisis ditunjukkan pada perubahan-perubahan kumulatif dalam dunia usaha yang menciptakan suatu konstelasi keadaan, yang berbeda dari perimbangan-perimbangan dalam tahap sebelumnya. Tema pokok dalam kerangkan pemikiran Mitchell ialah bahwa tiap tahap dalam siklus dalam siklus ekonomi muncul secara endogen dari kekuatan-kekuatan dalam tahap sebelumnya. Dengan kata lain, siklus ekonomi merupakan gerak kegiatan yang bergerak yang bersumber pada kekuatan-kekuatan yang telah terkandung di dalam tubuh ekonomi sendiri (self-generating movement). Hal itu tidak tergantung dari faktor-faktor eksogen dari luar sistem ekonomi. Misalnya, peranan teknologi dalam pandangan Mitchell tidak pernah dianggap sebagai faktor yang penting.

Dalam gagasan Mitchell, pertimbangan pokok dalam kegiatan ekonomi ialah usaha untuk memperoleh laba.

Prospek tentang laba itu berkaitan dengan sejumlah faktor sebagai berikut: (1) harga yang menentukan penerimaan usaha; (2) harga yang menentukan pengeluaran untuk biaya usaha; (3) volume penjualan; (4) mata uang digunakan sebagai alat pembayaran; (5) tersedianya kredit perbankan.

Perhatian para peneliti hendaknya ditujukan kepada lima faktor di atas dengan memantau interaksi di antara fluktuasi pada kelima faktor itu. Selanjutnya secara bagaimana faktor-faktor tersebut masing-masing dan bersamaan mempengaruhi prospek untuk mendapat laba di masa depan.

Dalam keadaan depresi, setelah beberapa waktu itu, akan tercipta beberapa kondisi yang menguntungkan bagi pemulihan ekonomi, di antaranya disebut : (1) tingkat biaya yang menurun, baik biaya langsung maupun tidak langsung; (2) persediaan stok (investasi) barang berkurang; (3) tingkat bunga menjadi rendah; (4) likuiditas dunia perbankan bertambah sehingga ada kelonggaran untuk memberi pinjaman; (5) di kalangan lain pun terkumpul akumulasi dana modal yang mencari saluran penempatan dana untuk investasi riil. Kombinasi dari lima faktor itu menciptakan iklim yang membuka kemungkinan untuk membangkitkan kegiatan usaha.

Walaupun begitu, keadaan demikian baru menyediakan peluang. Tidak diungkapkan secara jelas oleh Mitchell tentang faktor apa saja dan cara apa yang mendorong adanya pemanfaatan aktif dari kesempatan dan peluang itu. Misalnya, kemajuan teknologi dan inovasi merupakan faktor pendukung yang kuat bagi peningkatan pembentukan modal. Akan tetapi, hal itu tidak diberi tempat yang penting dalam kerangka pemikiran Mitchell mengenai jalannya siklus ekonomi. Tadi telah kita kemukakan bahwa dalam pandangan Mitchell, faktor-faktor dinamika yang berperan dalam siklus ekonomi bersifat endogen, terkandung dalam perimbangan-perimbangan keadaan di dalam tata susunan ekonomi sendiri. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa perkembangan teknologi timbul dengan sendirinya dari tahapan siklus ekonomi, artinya seolah-olah secara otomatis muncul dari kondisi yang ada dalam tahap depresi sebelumnya.

Perubahan teknologi untuk sebagian besar bersangkut paut dengan serangkaian faktor kekuatan yang bersifat eksogen.

Pendapat Mitchell yang mengatakan bahwa seolah-olah perubahan-perubahan kumulatif yang terjadi dalam urutan tahapan siklus ekonomi semuanya bersumber dari variabel yang bersifat endogen, tidak mempunyai dasar yang cukup kuat dan sukar sekali untuk diterima begitu saja.

Selanjutnya dalam pemikiran Mitchell, tahap eksistensi akan berakhir dengan sendirinya. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya biaya, sedangkan peningkatan biaya berkaitan dengan sifat ekspansi itu sendiri. Dalam proses semakin meningkatnya kegiatan ekspansi, akan terjadi akumulasi berbagai faktor yang masing-masing dan secara bersamaan cenderung menaikkan tingkat biaya, diantaranya: meningkatnya bunga, sewa rumah, sewa gedung komersial, depresi atau biaya pergantian (replacement) dari peralatan modal yang terpasang, bahan baku, upah buruh, dan lain-lain sebagainya.

Pengeluaran-pengeluaran biaya itu menjadi semakin besar, sedangkan di pihak lain dana untuk investasi berkurang. Penyediaan dana modal untuk dunia usaha tidak mencukupi lagi dibandingkan dengan permintaan. Lagi pula dana dana tersebut tidak dapat disediakan dengan tingkat bunga dari waktu sebelumnya. Pada tahap kegiatan yang dimaksud, persyaratan unutk pinjaman jangka panjang menjadi terlalu berat sehingga hasrat untuk investasi juga menurun.

Mitchell menekankan perhatiannya pada segi peningkatan biaya. Perkembangan tersebut tidak dapat disertai atau diikuti secara sepadan oleh peningkatan harga barang konsumsi dan produksi, karena peningkatan harga barang mengandung batasnya sendiri.

Dalam hubungan ini disebutkan serangkaian kendala terhadap peningkatan harga, di antaranya: (1) harga berbagai jenis barang modal mempunyai sifat kaku; (2) di kala biaya produksi dan konstruksi sangat meningkat dan begitu pula bunga untuk pinjaman jangka panjang, hal itu satu sama lain tidak mungkin dilimpahkan dengan begitu saja kepada para pemakai; (3) di beberapa sektor dan subsektor ekonomi terjadi kelebihan kapasitas produksi disebabkan oleh salah perkiraan semula.

Sekali keadaan ekonomi berbalik dan perkembangan mulai menurun, maka terasalah akibat proses kumulatif berbagai rupa perubahan dan keganjilan yang dimaksud oleh Mitchell di atas. Keadaan mengalami krisis diikuti oleh resesi yang (bisa) menjurus ke depresi.

Apa yang dibeberkan oleh Mitchell merupakan suatu uraian (deskriptif) mengenai berlangsungnya siklus dalam kegiatan ekonomi. Akan tetapi tidak ada penjelasan mengenai sebab-sebab dinamika yang menggerakan kegiatan tersebut, selain biaya yang semakin meningkat yang akhirnya menetukan laba-rugi usaha. Tidak dijelaskan pula tentang faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi pada investasi riil.

Walaupun oleh Mitchell disimak hampir secara menyeluruh serangkaian teori dari sejumlah pakar lainnya  mengenai siklus ekonomi, segala sesuatu itu juga disajikan dalam karyanya yang disebut di atas, Wesley Mitchell sendiri dengan sadar dan sengaja tidak menyusun dan menyajikan sebuah teori umum mengenai siklus ekonomi. Sebab, ia berpendapat bahwa setiap siklus ekonomi mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Hal yang penting bagi Mitchell ialah agar dikumpulkan secara cermat data-data empiris-statistik yang berkenaan dengan masing-masing siklus ekonomi dalam perkembangannya.

Tujuan dan perhatian Mitchell ialah untuk mengadakan deskripsi mengenai urutan tahapan dalam serentetan kejadian ekonomi (sequence of economic events). Gambaran yang diperoleh dengan begitu memang menunjukkan adanya pola yang tertentu dalam perkembangan satu siklus ke siklus lainnya. Akan tetapi satu sama lain berjalan dalam kerangka keadaan dimana segi institusional lebih kurang tetap sama. Dalam uraian serupa itu, akan tersedia suatu pandangan mengenai kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi pola dan arah siklus dalam kegiatan ekonomi. Namun, hal itu tidak memuat penjelasan atau kajian tentang sebab-sebab yang mendasari perana kekuatan-kekuatan yang menentukan perkembangan ekonomi.

Wesley Mitchell dalam pendekatannya terhadap permasalahan siklus ekonomi dapat dianggap sebagai penerus dari karya ilmiah yang dirintis oleh Clement Juglar dalam abad XIX.

Mitchell memang mengaku sebagai pengagum Juglar yang dianggapnya telah menciptakan sebuah karya besar dalam hal pengumpulan fakta (great book of facts). *)

Sumbangan besar karya Mitchell ialah bahwa serangkaian tinjauan atas masalah-masalah ekonomi dilengkapi dengan data-data empiris-statistik yang amat banyak dan sangat luas. Oleh Mitchell dirintis kelengkapan tinjauan ekonomi dengan dukungan ilmu statistik dan ilmu matematika. Hampir sepuluh tahun kemudian oleh seorang pakar ekonomi lainnya, Simon Kuznets yang juga berasal dari National Bureau of Economic Research, dilakukan paduan integratif antara teori ekonomi-ilmu statistik-ilmu matematika. Pengumpulan data-data empiris-statistik oleh Kuznets didasarkan atas dan disusun ke dalam suatu kerangka analisis ekonomi sehingga dapat disajikan sebuah teori siklus ekonomi yang khusus menyangkut pembentukan modal dan pendapatan.

D. Faktor Moneter dalam Siklus Ekonomi

Friedrich von Hayek (1899-…); R. C. Hawtrey (1879-1975)

Catatan pengamatan umum

Selalu terdapat perbedaan pandangan di antara para ahli ekonomi mengenai sifat hubungan antara perkembangan harga dan siklus kegiatan ekonomi.

Sementara kalangan berpendapat bahwa perkembangan harga menjadi sebab utama yang mempengaruhi jalannya siklus ekonomi. Sebaliknya, banyak kalangan lain berpendirian bahwa perkembangan harga merupakan akibat dari peranan-peranan kekuatan yang lebih mendasar dalam kegiatan ekonomi riil (dalam kegiatan produksi, transportasi, perdagangan). Faktor-faktor fundamental dalam ekonomi riil itulah yang mengandung dampak terhadap siklus ekonomi sehingga pola perkembangan ekonomi ditandai oleh menaiknya atau menurunnya harga barang dan jasa.

Di kala kekuatan-kekuatan  mendasar itu menyebabkan semakin meningkatnya ekspansi kegiatan ekonomi, maka akan terjadi kenaikan harga. Sebaliknya, jika kekuatan-kekuatan yang mendorong kegiatan ekonomi menjadi lemah, maka perkembangan menjurus ke stagnansi yang ditandai oleh tingkat harga yang rendah dan tertekan. Dalam pandangan ini harga dianggap sebagai akibat dari serangkaian kekuatan yang mendasari fenomena ekonomi pada permukaan. Perkembangan harga dalam jangka menengah dan jangka panjang harus dilihat sebagai pertanda (indikator) dari dampak kekuatan yang lebih mendalam, yang menimbulkan adanya tahap ekpansi ataupun tahap depresi dengan keadaan stagnansi.

Kecenderungan dalam perkembangan harga merupakan semacam termometer-statistik untuk memantau lama-tidaknya tahap ekspansi ataupun panjang-pendeknya tahap resesi dan depresi.

Di pihak lain, golongan ahli ekonomi yang menganut pandangan yang berlainan, justru mengutamakan peranan jumlah uang dan harga sebagai faktor utama yang mempengaruhi pola perkembangan ekonomi.

Sebab-sebab bagi kegiatan ekspansi ataupun keadaan stagnansi langsung berkaitan dengan gerak perkembangan harga; sedangkan perkembangan harga bersangkutpaut dengan perubahan-perubahan pada jumlah uang dalam peredaran. Perkembangan moneter menjadi sebab utama bagi kecenderungan dalam perkembangan harga. Pada gilirannya perkembangan harga mempengaruhi siklus kegiatan ekonomi.

Perkembangan harga yang cenderung menaik mengandung dampak awal yang menguntungkan kegiatan ekonomi sehingga mendorong ke arah ekspansi jangka menengah atau panjang. Sebaliknya kecenderungan harga yang menurun akan menekan kegiatan usaha sehingga perkembangan menjurus kepada stagnansi dalam kegiatan ekonomi pada umumnya.

  1. 1.        Friedrich von Hayek, Monetary Theory and The Trade Cycle (1933); Prices and Production (1935)

Dia adalah seorang pemikir ekonomi yang tenar dalam tahun 1974 meraih Hadiah Nobel di bidang ilmu pengetahuan ekonomi. Hayek dianggap sebagai wakil utama dari kelanjutan mazhab Austria dalam abad XX ini. Sejak tahun 30-an dan selama enam dasawarsa, peranan Hayek sangat menonjol sebagai pemikir dan pengarang yang amat produktif dalam dunia ilmu ekonomi. Hayek merupakan tokoh pendahulu (bersama Irving Fisher sebelumnya) dari aliran golongan monetaris (Milton Friedman) dan pendukung teori ekspektasi rasional (Lucas) yang berpengaruh di dasawarsa ’70 dan dasawarsa ’80. Hayek mula-mula belajar ekonomi di Universitas Wina dan berguru pada Friedrich von Wieser. Kemudian secara berturur-turut Hayek menjadi guru besar di Universitas Wina, dalam tahun 1930 pindah ke Inggris menjadi guru besar di London School of Economics, dan di tahun 1950 menjadi guru besar d Universitas Chicago, Amerika Serikat. Sejak tahun 1962 ia kembali ke Eropa dan menjadi guru besar di Universitas Frieburg, Jerman Barat dan di Universitas Salzburg, Austria.

Ciri pokok dalam pemikiran Hayek ialah keterkaitannya antara teori tentang uang dan teori tentang siklus ekonomi. Sedangkan teorinya tentang siklus ekonomi merupakan suatu integrasi antara teori moneter dan teori tentang modal.

Fenomena dalam ekonomi riil (yang berbeda dari fenomena moneter) menurut Hayek tidak dapat menjelaskan secara memadai beralngsungnya siklus ekonomi, di kala uang dan harga sudah menjadi bagian integral dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Karena adanya suatu proses transformasi moneter, maka akan dialami danpak gangguan secara berlipat ganda dari suatu perubahan teknik terhadap ekonomi kapitalis.

Intisari dalam kerangka analisisnya dapat diungkapkan secara singkat sebagai berikut. *)

Investasi dalam barang modal tetap mendapat stimulans dengan adanya injeksi sejumlah tambahan uang yang bersumber dari persediaan uang yang sebelumnya belum digunakan ataupun dari ekspansi kredit perbankan. Jumlah uang yang “baru” itu (tambahan dari kedua sumber yang dimaksud) mengalir dalam peredaran sebagai modal uang (money capital). Timbul peningkatan ekspansi dengan adanya pembentukan modal tetap (melalui modal uang tadi). Akan tetapi volume pembentukan modal tetap itu sebenarnya berlebihan. Sebab, volume tersebut terlaksana melalui suatu proses yang oleh Hayek dianggap sebagai proses tabungan paksaan (forced saving). “Paksaan” dalam pengertian Hayek ini karena tabungan seakan-akan terciptakan melalui ekspansi moneter. Tahap ekspansi dalam kegaiatan ekonomi ditandai oleh volume pembentukan modal tetap, tetapi volume itu sebenarnya melebihi suatu tingkat yang bisa dipertahankan secara berkelanjutan (sustainable). Menurut Hayek, pembentukan modal tetap yang tingkatnya dipertahankan secara berkelanjutan ialah tingkat yang ditentukan oleh volume tabungan yang bersifat sukarela (voluntary savings). Artinya, tabungan yang tidak bersumber dari penciptaan uang baru melalui ekspansi moneter. Jika pembentukan modal tetap bersumber dari tabungan paksaan (dalam arti yang dimaksud di atas) maka akan terjadi kegaiatan ekspansi yang semakin meningkat dan juga berlebihan.

Tak dapat tiada pada suatu saat perkembangan itu akan disusul oleh tahap depresi dalam siklus ekonomi sebab volume pembentukan modal tidak dapat dilanjutkan secara terus-menerus, karena hanya berasal dari ekspansi kredit perbankan. Batas-batas terhadap cadangan bank pada dirinya menjadi kendala terhadap kelanjutan ekspansi perkreditan. Jika oleh badan penguasa moneter tidak dilakukan pembatasan dalam sistem moneter, kelanjutan ekspansi moneter menimbulkan inflasi yang tidak terkendali. Oleh sebab itu, ekspansi kredit harus dibatasi dan pada suatu ketika harus dihentikan. Pada saat itulah tidak dapat dihindarkan akan berlakunya awal tahap resesi dan depresi. Pada akhir tahap ekspansi akan terjadi kelebihan dalam stok barang modal tetap. Sebab, proses pembentukannya banyak didorong (mendapat stimulans) oleh tingkat bunga yang relatif murah bagi dana uang (money capital). Dalam proses tersebut, investasi modal membawa imbalan jasa yang semakin berkurang sehingga akhirnya berada di bawah tingkat bunga yang normal bagi tabungan sukarela.

Sepintas lalu kelihatannya ada titik persamaan antara garis pemikiran Hayek dengan garis pemikiran Tugan-Baranowski dan Arthur Spiethof. Akan tetapi perbedaannya (yang sangat mendasar) ialah bahwa Tugan Baranowski dan Spiethof mengutamakan peranan faktor-faktor dalam dunia ekonomi riil, seperti teknologi dan lain-lain sebagainya. Faktor-faktor dalam ekonomi riil itulah yang membawa perkiraan atau menimbulkan harapan mengenai imbalan jasa yang lumayan bagi investasi modal, dan oleh sebab itu terlaksanalah pembentukan modal tetap. Dalam rangka pemikiran ini, faktor moneter dianggap sebagai konsekuensi dari hasrat untuk melakukan investasi dalam dunia riil.

Hayek mempunyai pendirian yang berlainan sekali. Peningkatan investasi dan ekspansi ekonomi disebabkan oleh faktor moneter di mana tingkat bunga bagi modal uang mengambil peranan pokok bukan karena faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat bunga normal dalam ekonomi riil. Dalam pada itu kegiatan ekspansi tidak akan berhenti karena peluang untuk investasi menjadi berkurang; melainkan ekspansi akan berhenti oleh karena volume tabungan sukarela tidak mencukupi untuk mempertahankan kelanjutan tingkat investasi yang sudah dicapai, di kala kredit perbankan akan mengalami batasannya.

Dalam pandangan Hayek, ekspansi moneter dalam tiap tahap ekspansi akan menyebabkan tingkat investasi yang tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Perkembangan moneter pada dirinya membawa ekspansi maupun depresi dalam siklus ekonomi. Satu-satunya jalan pemecahan untuk menghindarkan ekspansi maupun depresi, menurut Hayek, ialah mengusahakan agar peranan yang bisa bersifat netral dalam proses kegiatan ekonomi. Di sini muncul saran pendapat Hayek tentang uang netral (neutral money). *)

Uang netral yang dimaksud dalam kerangka pemikiran Hayek merupakan ciri pokok dalam suatu sistem moneter, di mana uang berperan untuk memudahkan semacam koordinasi ataupun keserasian dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Peranan uang tidak boleh menjdi sumber gangguan terhadap keserasian dalam kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara ulasan Hayek dengan teori kuantitas tentang uang yang konvensional, sebagaimana diungkapkan mula-mula oleh Irving Fisher (MV = PT) dan Milton Friedman pada zaman sekarang. Dalam teori konvensional yang dimaksud, pusat perhatian dalam teori moneter menyangkut hubungan antara jumlah uang dan tingkat harga umum. Pendapat ini tidak disangkal oleh Hayek, akan tetapi dianggapnya masih belum lengkap. Menurut teori kuantitas yang konvensional itu, peranan uang adalah netral selama nilai uang tidak berubah diukur dengan tingkat harga umum. Sehubungan dengan itu, meningkatnya kegiatan ekonomi memerlukan pertambahan secara proporsional dalam jumlah uang yang beredar. Sebaliknya menurut pendapat Hayek, untuk menjaga agar uang berperan secara netral, maka harus dicegah adanya dampak dari injeksi tambahan uang, Di kala jumlah uang ditambah, maka uang baru yang bersangkutan merupakan injeksi tertentu, Hal ini menimbulkan distorsi di antara harga berbagai rupa barang dan jasa. Distrosi tersebut pada gilirannya menyebabkan sistem harga mengandung pertanda-pertanda yang salah mengenai selera perilaku konsumen (consumers preferences) dan mengenai tersedianya sumber daya produksi (resourse availability).

Menurut pendapat Hayek, kebijaksanaan moneter harus menghindarkan timbulnya dampak injeksi, dengan kata lain, jumlah uang harus konstan kendatipun ada pertumbuhan ekonomi secara riil. Sedangkan dalam teori kuantitas konvensional tentang uang harus dihindarkan terjadinya deflasi dalam tingkat harga; dengan kata lain, harus ada tingkat pertambahan dalam jumlah uang yang sepadan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi riil.

Dari uraian pokok di atas mengenai pandangan Hayek, nyata sekali bahwa ia menguatamakan secara berlebihan dan dengan berat sebelah peranan moneter sebagai sebab utama bagi goncangan naik-turunnya kegiatan ekonomi. Seolah-oleh diremehkan tentang adanya kekuatan-kekuatan dalam ekonomi riil yang menyebabkan terselenggaranya pembentukan modal tetap. Pertama-tama tidak dapat dibuktikan secara empiris bahwa ekspansi moneter dengan sendirinya mendorong pembentukan modal tetap yang (akan) melampaui tingkat yang dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Peningkatan investasi yang bersumber pada perubahan teknologi, misalnya menambah pendapatan dan laba perusahaan. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu lazimnya juga menambah tabungan perusahaan (dan tabungan tersebut bersifat sukarela). Dalam perkembangan demikian tingkat pertambahan pada pembentukan modal tetap. Bilamana tingkat ekspansi moneter adalah sama dengan tingkat pertambahan pada produksi riil, maka pasok jumlah uang bertambah dengan tingkat yang sama, dibandingkan dengan tingkat kenaikan pendapatan riil. Dalam keadaan demikian, tidak akan timbul tekanan inflasi harga.

Selain itu, dalam ulasan Hayek juga termuat pendapat yang kebenarannya disangsikan. Yaitu, seakan-akan dengan meningkatnya daya beli golongan konsumen, tingkat investasi akan menurun.

Dalam hubungan ini, ternyata Hayek mengandalkan peranan asas accelerator. Oleh Hayek dikemukakan bahwa investasi tidak langsung (induced investment) yang terlaksana sebagai akibat permintaan secara tidak langsung (principle ofe derived demand) tergantung dari: a) meningkatnya permintaan akhir (final demand) akan barang dan jasa dan b) koefisien modal (Hayek menggunakan istilah capital co-efficient), artinya :  jumlah modal yang diperlukan untuk menghasilkan produk akhir. *)

Di kala kegiatan ekspansi semakin meningkat, maka koefisiensi modal akan menurun, Dalam hal demikian, volume investasi bisa menjadi berkurang dalam jumlahnya kendatipun tingkat pertambahan pada permintaan akhir masih terus  menaik. Dengan kata lain, menurunnya koefisien modal lebih berpengaruh dalam dampaknya, dibandingkan dengan menaiknya tingkat pertambahan pada permintaan akhir. Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Akan tetapi kini harus dipersoalkan: apa sebab-sebabnya koefisien modal menurun bilaman kegiatan ekspansi semakin meningkat.

Menurut Hayek, menurunnya koefisien modal disebabkan justru oleh meningkatnya permintaan konsumen. Nampaknya meningkatnya permintaan konsumen inilah yang dalam pandangan Hayek dianggap sebagai sebab yang akhirnya akan menghentikan tahap ekspansi. Sebab, konsumsi menjadi berlebihan dibandingkan dengan tabungan (sukarela) yang terlalu sedikit.

Dalam alam pikiran demikian, maka semua langkah tindakan untuk lebih meningkatkan konsumsi akan menjurus ke keadaan depresi, tak dapat tiada.

Kelemahan dalam analisis Hayek ialah sama sekali tidak ada bukti empiris-statistik mengenai pola geraknya faktor koefisiensi modal dalam siklus ekonomi. Memang bisa saja terjadi perubahan pada koefisien modal, misalnya sebagai hasil perkembangan teknologi. Akan tetapi perubahan koefisiensi modal itu bisa dalam arti menurun maupun meningkat. Tidak apriori harus selalu menurun. Ini hanya suatu hipotesis dalam kerangka analisis Hayek yang selama ini tidak dapat dibuktikan secara empiris dalam perkembangan kenyataan.

Berkurangnya investasi yang lazimnya membawa keadaan depresi dapat dijelaskan secara lebih memuaskan oleh kecenderungan menurunnya efisiensi marginal dari modal. Hal ini telah diungkapkan dalam bagian mengenai teori umum, dan akan diutarakan lagi nanti di ulasan sintesis dalam teori siklus ekonomi.

Akan tetapi lini harus dipersoalkan apa sebab-sebabnya koefisiensi model menurun bilamana kegiatan ekspansi semakon meningkat?

Menurut Hayek, menurunnya koefisiensi model disebabkan justru oleh meningkatnya permintaan konsumen. Nampaknya meningkatnya permintaan konsumen itulah yang dalam pendangan Hayek dianggap sebagai sebab yang akhirnya akan menghentikan tahap ejspansi. Sebab, konsumsi konsumsi menjadi berlebihan dibandingkan dengan tabungan )sukarela) yang terlalu sedikit!

Dalam alam pikiran demikian, maka semua langkah tindakan untuk lebih meningkatkan konsumsi akan menjurus ke keadaan depsresi, tak bisa tidak.

Kelemahan dalam analisis Hayek ialah sama sekali tidak ada buku analisis-statistik mengenai geraknya factor koefisiensi model dalam siklus ekonomi. Memang bisa saja terjadi perubahan pada koefisiensi modal, misalnya sebagai hasil perkembangan teknologi. Akan tetapi perkembangan koefisiensi modal itu bisa dalam arti menurun maupun dalam arti meningkat. Tidak apriori harus selalu menurun! Itu hanya suatu hipotesis dalam kerangka analisis Hayek yang selama ini tidak dapat dibuktikan secara empiris dalam perkembangan kenyataan.

Berkembangnya investasi yang lazimnya membawa keadaan depresi dapat dijelaskan secara lebih memuaskan oleh kecenderungan menurunnya efisiensi marginal dari modal. Hal itu telah diungkapkan dalam bagian mengenai teori umum, dan akan diutarakan lagi nanti di ulasan sintesis dalam teori siklus ekonomi.

  1. 2.        R.G. Hawtrey, Currency and Credit (1919); Reading in Business Cycke Theory (1944)

Hawtrey adalah seorang ahli moneter yang terkenal pada masa antera Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pandangannya mengenai masalah-masalah moneter dan siklus ekonomi dianggap dekat dengan alam pikiran Cambridge School di Inggris, walaupun Hawtry bukan seorang alumni Universittas Cambridge. Kariernya selama 40 tahun sebagai pejabat tinggi di Derpartemen Keuangan Inggris (Threasusy) dan ia baru berkecimpung dalam dunia akademik setelah berstatus purnawirawan setelah berusia 65 tahun dan menjadi Guru Besar dalam matakuliah Ekonomi Internasional.

Pemikiran Hawtrey sebagai seorang ahli moneter berkisar antara teori kuantitas tentang uang dan hubungan dengan teori tentang Siklus Ekonomi. Teori kuantitas dianggapnya sebagai penting, bahkan sebagai syarat dalam setiap pendekatan terhadap masalah-masalah ekonomi moneter. Akan tetapi menurut Hawtrey teori kuantitas itu pada dirinya sendiri belun mencukupi karena harus dikaitkan derngan pendapatan uang dan pengeluaran uang dalam masyarakat.

Dalam kerangka analisis Hawtrey, , kini sudah terlihat suatu pola pendekatan yang berkisar pada hubungan antara pendapata dan pengeluaran (income expenditure approach) serta penggunaan konsep makro agregatif  sebab pendapatan dan pengeluarandiartikan sebagai jumlah seluruhnya dalam ekonomi masyarakat.

Pokok pemikiran Hawtrey adalah, pendapatan yang menentukan pengeluaran uang, pengeluaran tersebut menentukan permintaan dan permintaan menentukan harga. Perhatikan pula, bahwa disini Hawtrey menunjuk pada pengertian tentang permintaan efektif.

Teori tentang siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Hawtrey didasarkan atas peranan uang. Gerak perkambangan harga dan stok barang disebabkan dan didorong oleh fluktuasi dalam jumlah uang dan kredit.

Gerak gelombang kegiatan ekonomi  yang menaik dan menurun bersumber smata-mata dari factor moneter. Persediaan stok barang-barang adalah sangat peka terhadap tingkat bunga (interest elastic), oleh karena simpanan stok yang bersangkutan dibiayai oleh pinjaman. Investasi dalam modal tetap juga peka terhadap bunga, berdasarkan analisis mengenai efisiensi marginal dari modal. Dalam hal terakhir ini, saranan pendaapt Hawtrey didasarkan atas pemikiran Alfred Marshall mengenai produktivitas marginal dan modal.

Segi moneter yang penting dalam pandangan Hawtrey berkenaan dengan siklus kegiatan ekonomi ialah mengenai peranan persediaan(cadangan) uang tunai. Persediaan uang tunai tersebut mencakup uang kartal, uang giral, dan deposito.

Masyarakat ramai biasanya mempunyai sejumlah persediaan tunai. Hal ini berlaku bagi perorangan, rumah tangga keluarga, maupun satuan usaha. Permintaan akan uang dalam bentuk seruapa itu berdasarkan akan kebutuhan untuk transaksi  atau sebagai cadangan untuk hal-hal yang tidak terduga (precautionary demand) dan sebagian lagi sebagai akumulasi berbagai rupa tabungan.

Nisbah (tingkat perimbangan) antara persediaan tunai itu terhadap pendapatan mempunyai sifat yang rata-rata agak konstan. Jika persediaan tunai dinyatakan sebagai M, pendapatan sebagai Y, dan tingkat perimbangan yang bersnagkutan sebagai k, maka terdapat persamaan M = kY. Tentu adakalanya terdapat variasi-variasipada tingkat k. namun menurut Hawtrey, vaeiasi-variasi itu berjalan pada batas-batas tertentu. Maka pertimbangan antara persediaan tunai dengan pendapatan dapat dinggap konstan.

Dikala para pengusaha meminjam dari bank untuk membiayai pembelian sarana-sdarana yang diperlukan dalam proses produksi ataupun untuk menambah persediaan stok barangnya, maka dalah hal demikian akan tercipta uang baru. Ekspansi kredit yang bersangkutan berawal dari respon dunia usaha terhadap tingkat bunga. Pengusaha berusaha senantiasa cenderung menggunakan uang dengan harga murah (tingkat bunga rendah) guna memepercepat atau menambah pembelian-pembeliannya. Uang baru yang bersangkutan mengalir  dalam masyarakat dan khalayak kini menguasai persediaan tunai yang agak berlebihan. Persediaan tunai yang ditahan menjadi lebih besar oleh karena untuk sementara pendapatan melebihi pengeluaran. Pada gilirannya setelah beberapa waktu, pengeluaran juga aan bertambah. Sebagian dari persediaan tunai mengalir kembali kepada dunia usaha. Akan tetapi sebagain lainnya masih ditahan oleh khalayak sebab mereka  hendak mempertahankan nisbah (tingkat perimbangan) yang dalam analisis Hawtrey dianggap konstan antara  persediaan tunai terhadap pndapatan yang sudah bertambah dalam proses dimaksud diatas.

Dalam dunia usaha persediaan stok menjadi berkurang karena pengeluaran yang dilakukan oleh para konsumen. Pengeluaran menurun sampai dibawah tingkat yang biasanya dipertahankan dalam pengelolaan usaha yang bersangkutan.

Pada saat itu ada kecenderungan untuk menggunakan tambahan tunai (yang tadi mengalir kembali dari pihak konsumen) guna melakukan pembelian untuk melengkapi persediaan stok barangnya. Karena volume penjualannya juga telah bertambah, kini lazimnya diadakan stok barang pada tingkat yanglebih tinggi dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Hal itu berarti akan diadakan tambahan pinjaman dari bank sehingga volume kredit perbankan menjadi lebih besar lagi.

Menurut Hawtrey dalam tata susunan ekonomi dimana uang menjalankan peranan penting dan dengan praktek lembaga-lembaga keuangan yang berjalan, ada kecenderungan kearah timbulnyafluktuasi. Selama jumlah kredit diatur berdasarkan nisbah cadangan (reserve ratics), selalu akan terjadi siklus ekonomi secara berulang yang ditandai oleh naik turunnya kegiatan usaha.

Selalu memakan waktu, sebelum arus uang (baru) dalam peredaran mengalir kembali. Factor waktu ini menyebabkan terjadinya kelambatan mengenai dampak dari ekspansi kredit maupun kontraksi kredit. Jika bank sentral menunggu secara pasif sampai saatnya cadangan perbankan dipengaruhi oleh dampak momentum sesuatuekspansi kredit atau suatukontraksi kredit dan tidak mengambil tindakan sebelum itu, maka tidak dapat dihindarkan adanya ekspansi kegiatan ekonomi yang semakin meningkat yang kelak disusul oleh keadaan depresi dan pengangguran.

Ekspansi kredit dan kontraksi kredit yang susul menyusul sevara periodic merupakan akibat kelambatan reaksi dari pihak pemegang persediaan uang tianai terhadap gerak gerik kredit perbankan.  Ekspansi kredit tidak segera disertai oleh  pertambahan penerimaan bagai para karyawan dunia usaha. Disaat penerimaan itu bertambah, sebagian besar dari tambahan akan dikeluarkan dan tidak ditahan sebagai persediaan uang tunai. Uang yang dikeluarkan pada suatu hari, dan melalui took-toko kemmbali ke dunia perbankan beberapa hari kemudian, semua itu tidak mempengaruhi cadangan perbankan.

Dengan penerimaan yang bertambah terus, persediaan juga meningkat secara bertahap. Kecenderungan ini akan terus berlaku sampai persediaan tunai mencapai tingkat perimbangan yang sepadan dengan pertambahan penerimaan.

Akan tetapi proses yang dimaksud itu memakan waktu yang cukup lama. Bertambahnya persediaan uang tunai tidak terlaksana secepat bertambahnya penerimaan. Persediaan uang tunai pertambahannya selalu ketinggalan dibandingkan dengan pertambahan penerimaan. Kredit perbankan mula-mula meningkat, kelak penerimaan bertambah dan pertambahan npada persediaan tinai baru menyusul kemudian. Kecenderungan tersebut akan menguras cadangan perbankan sampai pada suatu saat  keadaan berbalik dan uang semakin mengalir ke bank.

Hal itu membawa akumulasi cadangan perbankan yangmulai berlebihan. Keadaan tersebut pada gilirannya membuka kesempatan untuk ekspansi kredit lagi.

Factor waktu itu karena sebagian uang dalam peredaran untuk beberapa lama senantiasa ditahan sebagai persediaan tunai di kalangan khalayak. Menyebabkan terjadinya osilasi naik turunnya kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Akumulasi cadangan perbankan yang berlebihan mendorong para bankir untuk menurunkan tingkat bunganya. Hak ini memberikan perangsang bagi para pengusaha untuk mengadakan atau menambah ppinjaman ke bank. Harga barang cenderung naik dan kemudian upah meningkat. Akan tetapi beberapa akan berlalu sebelum satu sama lain menjelma menjadi uang yang beredar sehari-hari dalam pergaulan.

Pada bankir biasanya tidak menyadari bahwa telah terjadi suatu ekspansi perkreditan yang berlebihan, sdampai uang yang terus mengalir keluar dari bank-bank sudah sangat mengurangi nisbah cadangan perbankan sendiri. Pada tahap itu jumlah kredit yang masuk dalam peredaran sudah jauh melampauitingkat yang dianggap lazim dan wajar dalam dunia perbankan. Pada saat itulah bank-bank meningkatkan tingkat bunga diskontonya. Hal ini menyebabkan para pengusaha mengurangi persediaan stoknya dan pada gilirannya mengurangi pesanan ordernya kepada pihak produsen pemasoknya. Harga barang akan menurun, akan tetapi tingkat upah biasanya masih bertahan dalam beberapa waktu. Begitu pula persediaan uang tunai pada saat itu masih bertahan di kalangan masyarakat umum. Dikala persediaan uang tunai mengalir kembali dalam jumlah uang besar kedalam dunia perbankan, sebenarnya sebelum itu adalah terjadi suatu kontraksi dalam perkreditan bank.

Dalam keadaan demikian, dengan masuknya lagi banyak uang kedalam bank, nisbah cadangan perbankan meningkat lagi. Dengan kata lain kini dialami liquiditas yang berlebihan dalam dunia perbankan. Tingkat diskonto bank akan diturunkan lagi sebagai perangsang bagi para  pengusaha untuk mengmbah stoknya dan meningkatkan volume transaksi usahanya. Dengan begitu akan mulai lagi tahap ekspansi dalkam kegiatan ekonomi.

Suatu kedaan equilibrium hanya akan terpelihara jika tidak terjadi kelambatan waktu yang dimaksud diatas sebab factor kelambatan waktu itulah yang menyebabkan gerak gerik yang silih berganti antara kelebihan dan kekurangan pada cadangan perbankan. Satu sama lain berkaitan dengan praktek-praktekkebijaksanaan moneter/perbankan untuk mendasarkan suatu cadangan perbankan pada nisbah (rasio/tingkat perimbangan) antara cadangan perbankan dan jumlah uang dalam peredaran (tingkat cadangan dinyatakan sebagai persentae dari jumlah kredit yang masuk peredaran uang). Kenyataan tersebut oleh Hawtrey diaanggap sebagai sebab utama bagi terjadinya gerak gelombang dalam siklus ekonomi.

Hawtrey kini mengemukakan pendapatnya agar bank sentral sebagai badan pengatur moneter jangan mengutamakan cadangan perbankan dalam nislahnya dengan jumlah uang yang beredar melainkan harus berpangkal pada arus  (flow) dalam daya beli masyarakat. Sebab yang mengambil peranan penting ialah arus uang itu yang secara efektif menjadi arus daya beli, dan bukan jumlah uang (sebagai stok) yang beredar pada suatu ketika. Sebab persedfiaan uang tunai yang tidak dikeluarkan itu (cash balance atau dalam istilahHawtrey unspent margin) mencakup uang kartal yang beredar beserta kredit yang dipinjam dari bank.

Dalam keadaan dimana tidak pengawasan atau pengaturan terhadap dunia perbankan, maka tingkat bunga diskonto ditentukan secara otomatis oleh nisbah cadangan perbankan sendiri. Keadaan serupa itulah yang menyebabkan bank-bank sering terlambat untuk mencegah terjadinya inflasi ataupun deflasi. Oleh karena itu, hebdsaknya tingkat diskonto dinaikan ataupun diturunkan dengan lebih cepat oleh bank sentral. Dengan jalan tersebut, dapat diadakan stabilisasi pada arus daya beli dan pada tingkat harga umum. Dalam pandangan Hawtrey, pengendaklian tingkat bunga seperti yang dimaksud sudah cukup efektif untuk menggulangi guncangan harga yang naik turun dalam siklus ekonomi.

Pokok permasalahan berekisar antara cepat lambatnya respons dan reaksi oleh pihak para pegdagang.  Sebab hal ini merupakan factor strategis dalam proses kegiatan usaha. Masalah mengatur stabilisasi harga menyangkut mengatur pinjaman dari bank kepada dunia usaha.

Volume pinjaman tersebut dapat diatur melalui tingkat diskonto. Pengendalian tingkat diskonto harus dilakukan ileh bank sentral lepas dari nisbah cadangan perbankan terhadap volume kredit yang dipiinjamkannya. Harus pula didasarkan pemantauan bank sentral terhadap arus daya beli dalam pergaulan (menyangkut kalangan usaha maupun rumah tangga keluarga).

Tingkat diskonto dalam kebijaksanaan moneter/perbankan menurut pandangan Hawtrey sangat mempengaruhi perilaku para pengusaha/pedagang dang kegiatan dalam dunia perdagangan. Fluktuasi dalam pembelian oleh para pengusaha merupakan titik pusat dalam fluktuasi kegiatan dunia usaha umumnya. Dikala para pengusaha/pedagang mengurangi persediaan stok  barangnya dan mengurangi pesanan pembeliannya. Hal itu akan mengurangi produksi dan menyebabkan bertambahnya pengangguran. Kemudian penerimaan juga menurun lagi sehingga pengeluaran untuk pembelian menjadi semakin berkurang. Kecenderungan dalam proses tersebut juga berlaku untuk arah jurusan yang sebaliknya. Gerak perkembangan yang naik turun berawal dari pihak kalangan pedagang dan kemudian meluas pada golongan-golongan lain dalam masyarakat.

Kelemahan pokok dalam kerangka analisisdan garis pemikitan Hawtrey lagi-lagi melekat pada haluan pendangan yang secara berat sebelah terpusat/terbatas pada peranan uang dan perbankan, seakan-akan meremehkan pertimbangan-pertimbangan yang mendorong kegiatan usaha dalam kegiatan ekonomi riil. Dalam kenyataan pengelolaan usaha, maka fluktuasi pada persediaan stok barang lebih dipengaruhi oleh pemikiran pengusaha mengenai prospek tentang penjualan barang dan perkembangan harga. Bilamana prospek perkitaannya tentang penjualan itu cerah, maka pengendalian yang semata-mata menyangkut tingkat bunga diskonto kiranyatidak mengandung dmpak besar terhadap tingkat investasi dan volume dalam persediaan stok.

  1. D.      Pendekatan Ekonometrik Terhadap Siklus Ekonomi

Jan Timbergen (1930); Ragnar Frisch (1895-1973)

Ekonometri sebagai cabang penting dari ilmu ekonomi berpokok pada perpaduan antara teori ekonomi, ilmu matematika, dan ilmu statistik. Ketiga disiplin ilmu tersebut masing-masing merupakan jalur jalur peralatan analisa yang diperlukan dalam pendekatan terhadap masalah ekonomi. Akan tetapi, pengalaman juga menunjukan bahwa masing-masing disiplin ilmu itu secara tersendiri kurang memadai untuk memperoleh pengertian mengenai hubungan kuantitatif diantara serangkaian dinamika di dalam kehidupan ekonomi modern.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sifat dan maksud ekonometrikaialah untuk memberi substansi secara empiris-kuantitatif mengenai hubungan diantara fenomena ekonomis.

Teori ekonomi sebagai cabang ilmu pada hakikatnya merupakan suatu sisi dari ilmu logika. Akan tetapi relevansi (arti operasional) suatu teori selalu terbatas, jika teori itu tidak dikaji  dan diuji dengan pengukuran kuantitatif yang didasarkan atas data statistik empiris.

Sebaliknya pengukuran kuantitatif harus dilakukan dalam suatu kerangka teori sebagai kerangka acuan suatu system pemikiran analisa yang diperlukan untuk kajian dan tafsiran tentang pengamatan statistik. Pengukuran kuantitatif tanpa teori seperti yang dimaksud tidak pernahmenghasilkan suatu gambaran ataupun penjelasan mengenai pola dan cara interaksi diantara kekuatan-kekuatan ekonomi dalam hubungannya satu dengan yang lainnya.

Teori ekonomi dapat mengungkapkan sejumlah saranan pendapat atau informasi secara kualitatif mengenai permasalahan ekonomi. Peran ekonometri ialah untuk memberi isi dan substansi secara kuantitatif tentang pengerian ekonomi yang bersifat kualitatif. Pendekatan kuantitatif ini dilakukan dengan menyatakan teori ekonomi dalam rumusan matematik. Atau dengan kata lain suatu penyusunan model matematik dari teori ekonomi.

Hal ini dapat diuji dan diverifikasi dengan metode staatistik. Melalui pendekatan ekonometrik dapat dipantau dengan ukuran kuantitatif pengaruh hubungan tbalik antara satu variable terhadeap variable yang lainnya. Maksudnya adalah agar tersedia suatu gambaran terinci yang lebih pasti secara kuantitatif. Gambaran serupa itu dapat dijadikan landasan bagi alternatif-alternatif kebijaksanaan dengan konsekuensinya dan ramifikasinya (akibat pengaruhnya di berbagai ragam kegiatan) dari masing-masing alternatif.

Ekonometri sebagai cabang ilmu ekonomi berawal dari dasawarsa 30 sebelum Perang Dunia II. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya sejak itu sampai sekarang bidang ekonometri sebagai perbendaharaan ilmu ekonomi berkembang sangat pesat dan sudah sangat meluas di berbagai bidang kegiatan ekonomi masyarajat. Hal itu ditopang oleh perkembangan ilmu komputer yang memungkinkan proses komputerisasi berbagai jenis data dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Pebekaahan, pengkajian, dan penanggulangan dalam masalah-maslah ekonomi kini sudah lazim dilakukan melaluimodel-model makro-ekonometrik yang disusun untuk berbagai bidang dan tujuan kegiatan. Hal itu dapat terlihat pada kegiatan badan-badan internasional (Bank Dunia, IMF, OECD, dll), pada badan-badan pemerintahan di tingkat nasional  maupun dalam dunia swasta.

Sejak dasawarsa 70 model makro-ekonometrik banyak digunakan sebagai dasar dan pangkal tolak bagi penyusunan berbagai rupa scenario untuk perkiraan bahkan ramalan mengenai perkembanga masa depan.

Dalam proses perkembangan ekonometri itu dialami beberapa kelemahan dan kekurangan mengenai hasil yang diperolehjika telaahan dan kajiannya didasarkan semata-mata atas pendekatan ekonometrik. Sebab penyusunan modelnya mungkin kurang tepat dan/atau penggunaannya kurang cermat. Dalam pada itu harus disadari bahwa model matematik beserta pendekatan ekonometrik secara inheren mengandung kendalanyadan batasanya sendiri. Hendaknya diperhatikan bahwa mengenai sejulah variable dinamika yang dirumuskan dalam suatu model pilihannya (seleksi penyaringanya diantara berbagai rupa variabelyang jumlahnya banyak) maupun penilaiannya tentang bobot relevansi variable dinamika itu sendiri, satu sama lain dipengaruhi oleh dan tergantung dari persepsi kualitatif mengenai permasalahan yang hendak dipelajari dan ditanggungi.

Oleh sebab itu pendekatan ekonometrik dan penggunaan model (makro) ekonometrik sangat berharga sebagai jalur pendukung dan perbendaharaan ilmu ekonomi. Namun semuanya itu selalu harus dilihat dan ditempatkan dalam haluan pandangan yang lebih luas. Artinya dalam suatu kerangka teori dengan pola pendekatan dimana acuanya secara eksplisit mengandung persepsi kualitatif tentang kekuatan-kekuatan yang berkaitan denganpermsalahan yang dihadapi.

Setelah ulasan singkat diatas, tinjauan kita disini dibatasi pada beberapa cirri pokok yang menyangkut pemikiran-pemikiran dasar dalam pendekatan ekonometrik, khususnya dalam kaitan dengan siklus kegiatan ekonomi.

Sebagaimana telah disebut di bagian depan tulisan ini dan masih akan diutarakan di bagaian selanjutnya, pemikiran tentang siklus ekonomi dapat digolongkan dalam kateori teori yang bersifat endogen dan kategori teori yang bersifar eksogen. Kalau dalam teori eksogen perhatian ditujukan pada dampak pengaruhserangkaian factor dinakmika yang berasal dari luar system ekonomi sendiri, maka teori siklus ekonomi yang didasarkan atas pendekatan ekonometrik termasuk kelompok teori yang semata-mata bersifat endogen. Artinya yang diutamakan ialah peranan kekuatan-kekuatan dinamika yang sudah terkandung di dalam konstelasi ekonomi masyarakat sendiri. Salah satu cara untuk mengevaluasi model ekonometrik ialah melihat kapada unsure-unsur dinamika yang merupakan sebab utama  yang menimbulkan secara berulang gerak gelombang ekspansi dan kontraksi struktur ekonomi.

Titik berat yang diberikan kepada kekuatan-kekuatan endogen sebenarnya berawal dari pemikiran Albert Aftalion. Hal ini berkenaan dengan factor waktu ( jetinggalaan waktu/time tag) dan peran accelerator. Hal terakhir ini kemudian dalam kerangka pemikiran Beo Keynes dikaitkan denga ubungantimbal balik dengan asa multiplier (Hansen-Samuelson).

Kombinasi multiplier dan axeleration itu dalam interaksinya saru terhadap lainya telah menjadi cirri pokok dalam kerangka analisis yang mengandalkan pendekatan ekonometrik terhadap siklus ekonomi. Pendekatan ekonometrik menekankan pada gerak kegiatan yang berlangsung didalam tata susunan ekonomi dan yang secara sistematis timbul dari sifat internalnya sendiri. Kerangka susunan ekonomi itu dapat duiungkapkan sebagai suatu system yang mengandung hubungan-hunungan diantara  berbagai rupa variable ekonomi. Analisis ekonometrik menunjukan adanya hubungan konstan yang dapat menimbulkan fluktuasi dalam proses ekonomi dikala suatu keadaan equilibrium menjadi terganggu oleh suatufaktor dorongan yang bersifatsemaca kejutan. Pendekatan ekonometrik berusaha untuk mendapat pengertian secara konkrit-kuantitatif tentang mengapa dan bagaimana gerak gelombang dalam kegiatan ekonomi merupakan akibat dari respons atau reaksi oleh system ekonomi sendiri terhadap factor dorongan atau kejutan yang muncul secara kebetulan dan bersifat sekali jalan (once over).

Ilmu ekonometrik dalam hubungannya dengan siklus ekonomi mulai dirintis dalam dasawarsa 30 oleh dua pakar ekonomi termasyur dan sejak saat itu menjaditerkenal dalam dunia ilmu ekonomi yaitu Jan Timbergen dan Ragnar Frisch. Keduanya masing-masing secara terpisah tetapi hasil karyanya saling melengkapi, merupakan pemikir pioneer yang telah meletakan landasan dasar bagi perkembanganekonometrika selanjutnya sebagaimana dikenal di zaman kita ini. Sampai sekarangpun pemikiran-pemikiran yang dewasa ini dipaparkan oleh banyak ahli ekonometrika terkemuka masih menyandarkan secara sadar atau tidak sadar , unsure-unsur pikiran dasar yang telah ditemukan dalam pola pemikiran timbergen dan Frisch. Bukan kebetulan dan tepat sekali bahwa kedua pakar ekonomi tersebut secara bersamaan meraih hadiah nobel di bidang ilmu ekonomi untuk pertama kali diberikan pada tahun 1969. hal itu sebagai pengakuan dan penghargaan atas sumbangan jasanya dalam ilmu ekonomi khususnya terhadap perkembangan di bidang ekonomnetrika.

Jan timbergen adalah pakar ekonomi  dari Belanda. Perhatian timbergen ditujukan pada tiga permaslahan: pengembanan teori sebagai dasar kebijaksanaan, masalah-maalah Negara berkembang dan masalah distribusi pendapatan. Dalam pola pendekatannya selalu menonjol  kecenderungan untuk mengkaji pemikiran teoritis dalam relevansinya dengan masalah yang terjadi. Karya timbergen di bidang ekonomimdan ekonometrika sering dianggap inovatif terutama mengenai peran dinamika ekonomi. Hal itu telah meletakan landasan dasar bagi ssemua penelitian empiris-kualitatif yang kemudian menyusul tentang suklus ekonomi.

Dalam karya Timbergen telah dipantau dan ditelitiserangkaian variable poko dalam proses kegiatan ekonomi, seperti laba,pah,konsumsi, bahan baku serta peralatan modal. Dalam kajian itu, sejumlah teori  dikaji berdasarkan fakta empiris yang ditemukan dalam penelitian. Dapat dikatakan bahwa pendekatan  ekonometrik dalam penelitian siklus ekonomi  berawal dari analisis timbergen yang disebut cobweb theorm. Gagasan ini mengungkapkan dengan cara apa factor  time lag pada penyesuain dalam proses produksi mempengaruhi cara penyesuaian antar pasokan dan permintaan. Sehubungan dengan iu, digambarkan ketidakstabilan yang berlangsung  di pasaran untuk berbagai jenis barang. Misalnya, untuk memelihara dan mengembangbiakan ternak sapi itu memakan waktu. Bagi seseorang peternak sapi itu memakan waktu. Bagi seorang peternak sapi, hasilnya dinilai berdasarkan perkiraan dengan harga pasar yang berlaku pada saat ini. Misalkan sekarang terjadi penyakit mulut-kaki yang menghinnggapi peternakan sapi. Lihat pada grafik 1 dan 2.

Pada grafik 1 jumlah yang tersedia untuk dijual menurun sampai  Q1. Harganya menaik sampai Pi. Tingginya harga tersebut dan usaha untuk menanggulangi penyakit yang dimaksud tadi memberi rangsangan bagi para peternak sapi untuk menambah pembiakan jumlah ternak untuk dijualditahun kudua yang  berikut dan tingkat harga menurun sampai P2. Hal ini menyebabkan jumlah yang dijual berkurang menjadi Q3 ditahun yang ke3, harga naik lagi menjadi P3 dan seterusnya. Dalam contoh kecil ini jarak ayunan menadi semakin kecil dan pada gilirannya akan tercapai lagi titik temu keseimbangan antara harga dan jumlah. Akan tetapi dalam perkembangan yang dibentangkan secara sederhana tadi belum ikut dipertimbangkan segi elastisitas perihal supply and demand. Jika permintaan kurang elastic, dibandingkann elastic pasok, artinya permintaan tidak begitu respondsip terhadap perubahan harga sehingga lereng condong pada kurvanya yang lebih tinggi, maka cobweb semakin  menyimpang sehingga terjadi ayunan yang semakin besar pada pasok dan harga.

Kenyataan empiris menandakan bahwa permasalahan sekitar barang-barang bertahan lama merupakan salah satu pokok dalam berlangsungnya siklus ekonomi. Oleh sebab itu, analisis yang disajikan oleh timbergen berdasarkan cobweb-theorm dianggap mendasar bagi penelitian mengenai siklus ekonomi. Karena selalu masih ada stok barang yang masih lama, maka keputusan untuk menambah produksi barang yang bersangkutan dipengaruhi oleh perbedaan antara stok yang masih tersedia dan stok yang dikehendaki di masa depan. Apabila stok yang dikehendaki itu berubah, hal tersebut merupakan ganguan dari luar  (dari luar system variabel).

Dari berbagai penelitian yang dilakukan Timbergen  telah ditonjolkan beberapa kesimpulan yang mengandung arti bagi evaluasi tentang sifat dan corak siklus-siklus ekonomi. Diantaranya menegenai segi moneter dan peranan bunga. Menurut timbergen peranan tingkat suku bunga nisbi tidak begitu penting. Jumlah bunga jangka pendek adalah relative sedikit dengan komponen  dalam seluruh biaya produksi, sedangkan variasi pada jumlah bunga jangka panjang juga tidak berarti. Selain itu, bertambahnya pasokan jumlah uang ataupun cepatnya laju peredaran uang dianggap sekunder bagi bertambahnya volume penjualan.

Ragnar Frisch,

Ragnar Frisch adalah pakar ekonomi asal norwegia, ragnar bias disebut sebagai pencipta kata ekonometrika bersama dengan Jean Timbergen. Mereka berhasil menytukan teori ekonomi , matematika dan statistic.

Berdasarkan pendekata ekonometrik sebagai metodologi utama, pemikiran ekonomi ragnar Frisch ditujukan pada tiga pokok permasalahan:analisis permintaan,teori produksi dan teori ekonomi makro. Pemikiran ragnar Frisch yag berkatan dengan siklus ekonomi dibeberkan dalam sebuah karya pada tangal 1933. Sejak itu pemikiran Frisch menjadi terkenal. Dalam analisisnyadisusun suatu sisteatika dinamika sisitem ekonomi secara menyeluruh dimana diadakan erbedaan antara impulses (factor pendorong gerak) dan propagationas (factor penyebaran) yang berlangsung secara bergelombang. Ada 2 hal yang mendasar dalam pembahasan siklus ekonomi menurut Frisch :

1.   menyangkut suatu analisis mengenai kejutan dari  luar (outside shock) dan dampak kejutan serupa itu yang cenderung melangsungkan dan mempertajam goyangan dalam sisitem ekonomi yang biasanya stabil.

2.  menyangkut teori murni tentang factor-faktor yang mnentukan tingkat kecepatan produksi.  Factor-faktor itu engan sendirinya juga menentukan tingkat-tingkat penjadwalan dalam pembayaran kepada pemasok sarana produksi.

Berkenaan engan factor masa yang diperlukan dalam proses produksi modern , maka terdapat suatu kelambatan waktu secara rata-rata (average time lag)antara titik awal produksi dengan saat-saat dilakukan pembayaran. Kenyataan adanya average time lag yang diaksud merupakan cirri pokok pada semua produksi kapitalis modern dan menambil posisi sentral daam banyak model ekonometrik mengenai siklus ekonomi. Bersamaan dengan asas acceleration, hal itu menjadi unsure dinamika yang utama dala model makro ekonometrik yang dikembangkan Frisch mengenai siklus ekonomi. Dalam pemikiran ini terkandung factor timelag yang sudah terkandung dalam kerangka pemikiran Aftalion, perbedan antara Frisch dan Aftalion ialah bahwa  Timbergen tidak memberi

F.   Sintesis dalam Teori Siklus Ekonomi : John Maynard Keynes (1883-1946); Alvin H. Hansen

Dalam pandangan Keynes dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), perkembangan depresi dan deflasi (tingkat harga umum yang tertekan dan daya beli riil yang rendah) serta ekspansi dan inflasi pada hakekatnya merupakan permasalahan yang berkisar pada permintaan agregatif. Perubahan pada permintaan agregatif mempengaruhi fluktuasi pada produksi dan kesempatan kerja.

Pendekatan Keynes terhadap masalah ekonomi dan kebijakannya adalah dengan pengendalian permintaan agregatif : melalui kebijakan fiskan dengan menciptakan deficit dalam keadaan depresi dan melakukan surplus dalam perkembangan ekspansi. Keynes juga menekankan pentingnya kebijakan moneter yang berhubungan dengan kebijakan fiscal yang harus melakukan respon terhadap segi permasalahan lainnya, khususnya yang menyangkut tingkat bunga.

Pokok pemikiran Keynes mengenai siklus ekonomi ialah bahwa boom (tahap ekspansi) dan slump (tahap resesi dan depresi) yang saling susul ada kaitannya dengan fluktuasi pada efisiensi marginal dari modal dibandingkan dengan tingkat bunga.

Siklus dalam kegiatan ekonomi terjadi karena adanya perubahan dalam efisiensi marginal dari modal. Hal itu dipertajam dengan hasrat likuiditas (liquidity preference) dan hasrat berkonsumsi (propensity to consume). Perubahan hasrat likuiditas dan konsumsi ini mempengaruhi osilasi dan amplitude dalam perkembangan siklus ekonomi.

Kemudian kerangka analisis pemikiran Keynes dikembangkan oleh Alvin Hansen, Fiscal Policy and Business Cycles (1941); business cycles dan National Income  (1951). Dalam pandangan Hansen adalah sangat penting untuk membedakan antara dua perubahan yang menyangkut gerak menurunnya efisiensi marginal dari modal.

Pertama, tingkat efisiensi marginal dari modal bisa menurun pada pola garis kurva. Kedua, efisiensi marginal dari modal juga bisa berubah karena terjadi pergeseran (shift) dari garis kurva itu sendiri. Huasil dari kombinasi yaitu menurunnya efisiensi marginal dari modal pada suatu kurva dan bergesernya kurva dari efisiensi marginal itu, mungkin justru meningkatkan efisiensi marginal dari modal.

Demikianlah secara pokok kelengkapan penafsiran Hansen terhadap pemikiran semua yang darumuskan oleh Keynes.

Keynes juga menunjukkan beberapa sebab berbeda yang mendorong gerak efisiensi marginal dari modal:

(1)   Ada kalanya gerak efisiensi marginal tersebut didasarkan atas perkiraan/penilaian yang realistis mengenai kebutuhan akan investasi modal dalam proses pertumbuhan

(2)   Namun, sering terjadi pula rencana gerak (schedule) efisiensi marginal dari modal terdorong oleh perkiraan-perkiraan yang sangat spekulatif mengenai imbalan jasa yang (diharapkan) akan diperoleh di masa depan.

Tetapi ketika timbul kesangsian dan keraguan sekitar benar-salahnya perkiraan yang dimaksud, maka suasana dunia usaha berbalik dari optimis-spekulatif menjadi sangat pesimis. Dengan keadaan demikian, perkembangan keadaan berubah dengan tiba-tiba dan dampak perubahannya sangat tajam dan luas. Oleh sebab itu, penjelasan tentang terjadinya suatu krisis bukanlah terletak pada terlalu meningkatnya investasi, melainkan pada keruntuhan secar tiba-tiba efisiensi marginal dari modal.

Dalam perkembangan tahap ekspansi, ada dua hal yang harus diperhatikan : (1) Pertambahan pada barang modal sudah tersedia disertai oleh biaya produksi yang meningkat; (2) Pertambahan barang modal dan meningkatnya biaya produksi masing-masing dan secara bersamaan cenderung untuk mengurangi efisiensi marginal dari modal.

Pada tahap akhir ekspansi, sering berlangsung suasana ekspektasi yang sangat optimis mengenai imbalan jasa yang dapat diperoleh di masa depan. Perkiraan tentang imbalan jasa melampaui perkiraan tentang peningkatan biaya dan mungkin juga tentang peningkatan bunga. Jika kelak perkiraan itu salah, maka akan timbul kesangsian dan keraguan sekitar prospek imbalan jasa dari investasi. Satu sama lainnya membawa akibat berantai yang meluas.

Dari uraian di atas, jelas bahwa Keynes member arti yang besar pada factor optimisme yang mendorong kegiatan ekspansi secara berlebihan dan membawa kesalahan perkiraan. Sementara itu Keynes kurang menonjolkan peranan perubahan teknologi dan pertambahan penduduk yang keduanya dan masing-masing mempengaruhi kecenderungan dalam gerak efisiensi marginal dari modal.

Faktor yang menurut Keynes sangat mempengaruhi lama atau pendeknya tahap depresi adalah masa waktu yang diperlukan untuk menampung dan menerap surplus persediaan stok yang selama resesi dan depresi telah bertambah secara kumulatif. Biaya yang tersangkut dengan penyimpanannya merupakan sesuatu yang sangat penting, sehingga bukan tidak mungkin bahwa dalam keadaan itu investasi menjadi negative. Lagi pula dalam tahap menurunnya kegiatan ekonomi (down swing), dana modal kerja untuk barang-barang yang sedang dalam proses produksi menjadi berkurang. Menurunnya investasi dalam barang modal mengandung dampak kumulatif terhadap (dis)investasi dalam persediaan stok dan pada modal kerja.

Dalam pandangan Hansen, dalam suatu keadaan tertentu dengan teknik produksi tertentu dan jumlah penduduk tertentu dimana tingkat investasi dianggap tepat karena adanya kesempatan kerja secara penuh (full employment), maka dalam perimbangan-perimbangan keadaan serupa itu, tidak dapat diperanggungjawabkan adanya tambahan investasi. Jika hal ini terjadi, maka bertambahnya barang modal tetap pada tingkat itu sewaktu-waktu bisa menimbulkan goncangan dalam gerak kegiatan ekonomi.

Kekurangan dalam kemampuan berkonsumsi (underconsumption) merupakan tema pokok dalam pemikiran ekonomi Robert Malthus, Principles of Political Economy (1878). Pendapat Malthus tidalk disangkal oleh Keynes yang menerimanya sebagai pengamatan kenyataan. Sementara itu, Keynes berpendirian bahwa underconsumption bukan menjadi satu-satunya factor konstan-otonom yang mengekang kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi dapat ditingkatkan melalui peningkatan investasi dalam produksi yang akan membawa kenaikan konsumsi. Oleh sebab itu, Keynes berpendapat bahwa masalah kekurangan dalam kemampuan berkonsumsi tidak dapat dianggap sebagai sebab sesuatu yang konstan. Sebab, keadaan tersebut dapat ditanggulangi dengan meningkatkan investasi bersama usaha lain untuk menaikkan konsumsi.

Inti dalam kerangka pemikiran Keynes-Hansen ialah kestabilan pada pendapatan (permintaan efektif) dan kesempatan kerja. Hal itu pula yang menjadi sasaran pokok dalam kebijakan pengendalian siklus ekonomi. Dalam sistem Keynes-Hansen, masalah siklus ekonomi dikembalikan sebagai bagian dari teori ekonomi umum. Memang teori tentang siklus ekonomi harus berakar dalam suatu kerangka  landasan analisis-teoretis yang mencakup pembentukan pendapatan dan kesempatan kerja serta masalah alokasi sumber daya dan dana yang sekaligus dapat menjelaskan penyebab naik atau turunnya tingkat kegiatan ekonomi masyarakat.

Kerangka analisis modern mengenai siklus kegiatan ekonomi bersangkutan dengan analisis mengenai fluktuasi pada pendapatan dan kesempatan kerja. Kerangka analisis seperti yang dimaksud itu mengandung tiga sendi pokok pemikiran, yakni:

(1) rencana gerak ataupun garis kurva (schedule) mengenai efisiensi marginal dari investasi, dilihat dalam perimbangannya dengan tingkat bunga;

(2) peranan multiplier (efek ganda) dari investasi (investment multiplier) yang berdasarkan fungsi konsumsi dalam hubungannya dengan pembentukan pendapatan;

(3) pengaruh dari perubahan pendapatan terhadap tingkat investasi, yaitu asas acceleration.

Ketiga faktor tersebut dalam kaitannya satu dengan yang lain merupakan alur perkembangan bagi proses ekspansi ataupun kontraksi dalam resesi dan depresi. Teori modern mengenai fluktuasi kegiatan ekonomi juga menjelaskan penyebab mengapa tahap ekspansi ataupun tahap depresi tidak dapat berlangsung secara terus-menerus tanpa kendala. Sebelum segi permasalahan ini ditelaah lebih lanjut, terlebih dahulu lihatlah pada beberapa ciri pokok dalam wujud paduan sintesis pada teori modern mengenai siklus ekonomi.

Pertama-tama diadakan integrasi antara imbalan jasa yang diperoleh dari investasi, tingkat biaya, dan tingkat bunga. Keduanya mengenai analisis multipilier : kenyataan bahwa fluktuasi pada investasi (yang ditentukan oleh garis kurva mengenai efisiensi marginal dari modal dibandingkan dengan tingkat bunga) menimbulkan fluktuasi pada pendapatan (menambahnya atau menguranginya) dan dengan demikian fluktuasi pada konsumsi.

Bahwasanya investasi mengandung dampak (secara berganda) terhadap pendapatan, hal itu juga sudah terungkap dalam karya-karya Spiethop, Schumpeter, Aftalion, dll. Namun, ungkapan mereka itu mengenai efek berganda baru bersifat hasil pengamatan empiris-deskriftif. Hubungan fungsionalnya dan dasar analisis-teoretisnya baru disajikan dengan jelas oleh Keynes yang mengembangkan suatu teori tentang investment multiplier berdasarkan konsep fungsi konsumsi. Baru dalam kaitannya dengan fungsi konsumsi ini terbuka kemungkinan untuk mengidentifikasi asas-asasnya dalam hubungan antara fluktuasi investasi dan fluktuasi pendapatan.

Teori tentang fluktuasi pendapatan sebagaimana sebelumnya dibeberkan oleh Spiethof dan Schumpeter, sedangkan Alfalion hanya menjelaskan sebagian dari fenomena ekonomi yang bersangkutan. Hal itu baru menjadi kerangka analisis yang bulat dan kohesif (dalam wujud kepaduan) setelah dilengkapi dengan adanya konsep consumption function dalam analisis multiplier, yang bersumber pada kerangka pemikiran Keynes. Pemikiran dalam wujud kepaduan tersebut merupakan sumbangan Keynes yang amat besar, tidak saja terhadap teori umum tentang proses pembentukan modal, melainkan sekaligus juga terhadap teori tentang siklus kegiatan ekonomi.

Peran asas acceleration melengkapi kerangka landasan pemikiran di atas. Masalahnya ialah, tidak hanya investasi otonom yang menjadi faktor di dalam menentukan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja. Juga perubahan pada pendapatan itu sendiri secara tidak langsung menimbulkan hasrat untuk melakukan investasi (principle of derived demand). Asas acceleration tersebut untuk pertama kalinya dirumuskan oleh Albert Alfalion (lihat di muka). Kemudian dalam perkembangan teori modern sesudah Keynes, terutama sebagai sumbangan Hansen-Samuelson, terjadi integrasi pula antara asas acceleration yang dikembangkan oleh Alfalion dan investment multiplier berdasarkan fungsi konsumsi yang berasal dari pemikiran Keynes.

Asas multiplier dan asas acceleration merupakan dua segi kembar yang saling memperkuat dalam pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Kombinasi kedua asas itu menyediakan alat analisis yang ampuh untuk memantau dan mengkaji gerak perkembangan sistem ekonomi yang secara besar-besaran menggunakan peralatan modal tetap. Dengan adanya investasi tersebut, faktor multiplier menjelaskan pada kita bagaimana akan berkembang pola dan arah pendapatan. Begitu pula dalam perkembangan pendapatan itu, asas acceleration mengungkapkan tentang perkembangan selanjutnya tentang investasi.

Kombinasi multiplier dan acceleration itu menyediakan suatu teori dinamika dalam perkembangan ekonomi. Keduanya menjadi ciri pokok dalam kerangka analisis yang kemudian dikembangkan dan dikenal sebagai pendekatan ekonometrik terhadap siklus ekonomi. Selain itu, kedua faktor tersebut juga menjelaskan kepada kita proses interaksi antara faktor eksogen (a.l. investasi otonom) dengan perimbangan-perimbangan keadaan endogen yang mengandung peran multiplier dan acceleration.

Teori modern tentang siklus ekonomi, yang dalam garis besarnya dapat menjelaskan mengapa dan apa sebabnya tahap ekspansi maupun maupun tahap resesi.

Dalam teori-teori yang terdahulu selalu ditonjolkan satu faktor kendala yang menghambat dan menghentikan gerak perkembangan secara kumulatif. Faktor kendala itu dikaitkan dengan terbatasnya dana pembiayaan.

Dalam gagasan Tugan-Baranowski dan Spiethof, keduanya begitu menekankan peranan investasi, juga dikemukakan bahwa ekspansi ekonomi cepat atau lambat akan mengalami batasnya karena sumber dana pembiayaan menjadi langka dan pinjaman tidak dapat disediakan lagi melalui kelonggaran kredit perbankan.

Kendala yang bersumber pada semakin langkanya dana pembiayaan juga merupakan tema pokok dalam pemikiran golongan monetaris, seperti terlihat dalam gagasan Friedrich Von Hayek, Monetary Theory abd The Trade Cycle (1933); Price and Production (1935).

Menurut Hayek, setelah beberapa saat berlalu, ekspansi dalam kegiatan ekonomi tidak lagi dibiayai lagi dengan tabungan “murni”, melainkan seakan-akan dengan tabungan “paksaan” melalui ekspansi kredit. Akan tetapi ekspansi kredit mengandung batasnya sendiri karena cadangan perbankan juga terbatas. Dalam keadaan demikian, tingkat bunga untuk pinjaman melampaui tingkat imbalan jasa untuk investasi baru. Hal itu akan menghentikan ekspansi moneter dan ekspansi kegiatan ekonomi. Arus uang dalam peredaran dan berkurangnya cadangan dalam dunia perbankan menjadi faktor penghambat yang akhirnya menghentikan kelangsungan dalam kegiatan ekspansi.

Berbeda dengan pandangan di atas, dalam teori modern terdapat tiga rupa kendala yang terkandung di dalam proses kegiatan ekonomi sendiri, yaitu yang disebut sebagai self-limiting factors :

(1) Menurunnya efisiensi marginal dari modal; untuk sebagian karena rencana geraknya menurun pada garis kurva yang sama dengan semakin bertambahnya investasi, untuk sebagian juga karena ada pergeseran dari skedul efisiensi marginal itu sendiri;

(2) Asas acceleration : investasi tidak langsung menjadi semakin berkurang karena pada tahap full employment (kesempatan kerja yang dimanfaatkan secara penuh), maka laju pertumbuhan produksi juga semakin menurun;

(3) Sifat dan lereng kecondongan (slope) pada fungsi konsumsi: pada tahap itu terjadi kesenjangan antara tabungan dan pendapatan, serta kesenjangan tersebut harus terus diisi oleh tambahan investasi jika hendak dicegah kemunduran dalam kegiatan ekonomi secara menyeluruh.

Kombinasi ketiga faktor kendala yang dimaksud di atas dapat menjelaskan fenomena berakhirnya tahap kegiatan ekspansi. Pada tingkat puncak, akan dialami titik balik (upper turning point) kearah menurunnya kegiatan ekonomi.

Garis lereng condong (slope) dari fungsi konsumsi cenderung mengandung batas maksimal bagi ekspansi. Pada tahap dimana kegiatan ekonomi mendekati full employment akan terjadi ketimpangan antara konsumsi dan investasi, serta ketimpangan itu menjadi semakin besar. Dalam ekspansi yang berkepanjangan, kesenjangan tersebut secara absolute menjadi lebih besar, tetapi secara proporsional relative konstan karena masih ada investasi tambahan untuk mengisi kesenjangan yang bersangkutan. Akan tetapi, keadaan serupa itu semakin sulit untuk dipertahankan.

Pertama, karena laju pertumbuhan produksi semakin menurun pada tahap dimana segenap sumber daya dan dana telah digunakan secara penuh. Pada saat itu mulailah berlaku asas acceleration dalam arti : investasi secara tidak langsung menjadi berkurang. Tingkat investasi tidak langsung kini mempunyai landasan yang kurang kokoh. Sebab, kelangsungan investasi serupa itu tergantung dari kelangsungan tingkat kenaikan yang kontinu pada permintaan akhir (final demand).

Dalam tahap berikutnya, investasi otonom juga berkurang apabila ekspansi berlangsung panjang. Kesempatan untuk investasi baru yang pada mulanya diciptakan oleh kemajuan teknologi dan serangkaian dinamika lainnya cenderung mencapai suatu keadaan dimana segala peluang sudah dimanfaatkan. Kemajuan yang bersandarkan pada kemajuan teknologi dan inovasi tidak berjalan dengan mulus, melainkan terjadi secara tiba-tiba pada waktu-waktu tertentu. Dalam kejadian-kejadian itu, maka ketinggalan (backlog) dalam investasi (otonom dan investasi tidak langsung) untuk sementara dapat mengisi kesenjangan (gap) antara konsumsi dan pendapatan. Akan tetapi ketika backlog itu sudah terpenuhi dan pada saat itu laju pertumbuhan sudah menurun, maka baik investasi otonom maupun investasi tidak langsung juga cenderung semakin berkurang. Dengan sendirinya kegiatan ekspansi menjadi tersendat-sendat dan akhirnya akan berhenti. Investasi sudah mencapai suatu tingkat yang sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan oleh pertumbuhan dan kemajuan teknis. Investasi baru secara netto menurun dan pendapatan berkurang dengan berlipat ganda.

Serangkaian faktor yang diungkapkan di atas juga menyebabkan mengapa sebaliknya keadaan depresi tidak berlangsung secara terus-menerus dengan tidak ada akhirnya. Keadaan depresi juga menghadapi tingkat akhirnya. Ketika depresi berlangsung lama, maka landaian atau slope fungsi konsumsi adalah demikian rupa sehingga konsumsi akan menurun dengan laju yang lebih lamban (tingkat menurunnya lebih sedikit), dibandingkan dengan tingkat berkurangnya pendapatan. Kekuatan-kekuatan kontraksi menjadi semakin lemah. Asas acceleration dan permintaan tidak langsung mulai berpengaruh dan dampaknya akan semakin melunakkan kekuatan-kekuatan kontraksi. Akhirnya akan berperan kemajuan teknologi dan inovasi, satu sama lain membuka kesempatan lagi bagi investasi baru.

Serangkaian factor kendala terhadap kelangsungan ekspansi maupun terhadap kelangsungan kontraksi dalam depresi juga menjelaskan tentang penyebab adanya osilasi dalam perkembangan ekonomi sehingga kegiatan ekonomi menunjukkan suatu pola gerak yang menaik dan menurun. Perkembangan dalam tata susunan ekonomi yang bersangkutan tidak bergerak secara kumulatif tanpa ada akhirnya. Selalu ada faktor-faktor (yang bersifat endogen) yang membatasi proses-proses kumulatif tersebut, baik terhadap kegiatan ekspansi maupun terhadap kontraksi dalam depresi. Segala sesuatu berkisar pada peranan :

(1) rencana gerak (skedul) efisiensi marginal dari modal;

(2) asas acceleration;

(3) landaian atau lereng condong (slope) pada fungsi konsumsi.

Fungsi konsumsi bersamaan dengan fungsi investasi, baik itu investasi otonom dan investasi tidak langsung (skedul efisiensi marginal dari modal bersama asas acceleration) dapat menjelaskan proses perkembangan yang melalui tahap ekspansi, tahap depresi yang mengandung kontraksi, tahap pemulihan ekonomi. Perkembangan tersebut menunjukkan pola gerak secara bergelombang dengan adanya tingkat puncak (tertinggi) dimana kegiatan berbalik (upper turning point) dan tingkat terendah; setelah itu kegiatan ekonomi pulih kembali (lower turning point).

Dengan demikian siklus ekonomi dengan pola kegiatan yang menaik dan menurun merupakan ciri yang inheren (melekat) dalam proses perkembangan ekonomi modern. Berdasarkan sintesis pemikiran tentang siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Keynes dan Hansen (beserta Samuelson) sebagaimana secara pokok dijelaskan di atas., maka oleh golongan Keynes dan Neo-Keynes dipaparkan suatu pertimbangan dasar dalam kebijakan Negara, yaitu agar melalui kebijakan fiskal yang kontra-siklis dapat diredakan dampak negative yang terkandung dalam fluktuasi ekonomi. Sasarannya ialah mencegah laju ekspansi yang terlalu cepat dan sebalikknya melunakkan akibat keganasan dalam depresi sehingga kestabilan ekonomi dapat terpelihara dalam keasaan kesempatan kerja secara penuh.

 

G. Ulasan ringkas Teori Siklus Ekonomi. Interaksi antara Kekuatan-kekuatan Endogen dan Eksogen

Ada baiknya kita memperhatikan sifat serangkaian faktor dinamika yang mengambil peranan strategis dalam mendorong kegiatan ekonomi yang berjalan menurut pola gerak gelombang yang menaik dan menurun.

Seperti setelah dibahas sebelumnya, dapat dibedakan antara faktor dinamika yang bersifat endogen dan yang bersifat eksogen. Hal yang penting adalah segi interaksinya (hubungan pengaruhnya secara timbal-balik) diantara kedua kelompok jenis dinamika tersebut.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kekuatan-kekuatan endogen timbul secara internal dari kegiatan ekonomi yang berjalan dalam struktur ekonomi yang sedang berlaku. Naik-turunnya investasi, produksi dan pendapatan sering disebabkan oleh serangkaina kekuatan dan pertimbangan yang terdapat di dalam proses kegiatan ekonomi sendiri. Namun, tidak jarang perubahan dalam perkembangan ekonomi (dalam arti adanya ekspansi dan depresi) disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar kegiatan ekonomi, yaitu dinamika eksogen. Kekuatan-kekuatan eksternal tersebut bersangkutan dengan perubahan-perubahan dalam keadaan diluar ekonomi dan bisa terjadi sewaktu-waktu secara kebetulan, atau bisa timbul secara periodik (karena bencana alam atau penemuan-penemuan baru). Dampak dinamika eksogen itu besar dan luas terhadap perkembangan di bidang ekonomi masyarakat.

Dalam tingkat pertama, kekuatan-kekuatan eksogen cenderung mengubah parameter-peremeter dan data-data yang sebelumnya dianggap sebagai faktor konstan dalam proses ekonomi. Perubahan pada parameter ataupun faktor konstan itu menimbulkan fluktuasi dalam kegiatan ekonomi sebagai respon atau reaksi dari tubuh ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Dalam kenyataannya, respons dan reaksi yang dimaksud tidak dengan segera membawa penyesuaian dengan perubahan-perubahan yang bersifat eksternal. Selalu terjadi ketinggalan waktu (time-lag) sebelum terselenggarakannya penyesuaian yang diperlukan. Dengan kata lain, baru setelah beberapa waktu berlalu akan berperan serangkaian kekuatan endogen yang menimbulkan ataupun memperkuat gerak menaiknya atau menurunnya kegiatan ekonomi. Walaupun ada time-lag, pandangan kita mengenai kekuatan-kekuatan yang mendasari siklus ekonomi harus ikut memperhitungkan dorongan atau gangguan eksternal, tidak mungkin tidak.

Setelah kita menyimak pemikiran-pemikiran pokok dalam sejumlah teori siklus ekonomi yang dijelaskan sebelumnya, maka menarik perhatian seakan-akan justru diutamakan peranan dinamika yang dalam kerangka analisi dikembangkan oleh Keynes-Hansen (dan Samuelson). Hal itu memang dapat dipahami, sejauh menyangkut perkembangan jangka pendek seperti dalam Siklus Kitchin.

Juga dalam Siklus Juglar yang mencakup kurun waktu jangka menengah, proses ekspansi dan depresi untuk sebagian besar dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan endogen yang berlangsung secara kumulatif. Namun, tidak dapat disangkal bahwa juga dalam jangka menengah itu sudah dialami kejadian-kajadian yang bersumber pada dinamika eksogen : khususnya menyangkut titik-titik baliknya (turning points) dalam perkembangan, apakah itu pada tingkat puncaknya (upper turning point) ataupun pada tingkat terendahnya (lower turning point).

Oleh sebab itu, penulis sendiri melihat gerak gelombang dalam siklus ekonomi sebagai akibat campur atau lebih tepat sebagai cermin interaksi antara dinamika endogen dan dinamika eksogen satu sama lain menjadi semakin nyata dalam gelombang jangka panjang (Kondratieff).

Titik berat yang diberikan kepada kekuatan-kekuatan endogen sebenarnya berawal dari Albert Alfalion. Dalam gagasannya, diungkapkan respons dan reaksi dunia usaha yang selalu terlambat di dalam menyesuaikan kapasitas modal tetap yang sudah terpasang terhadap perubahan-perubahan pada permintaan.

Selalu dialami secara bergantian kelebihan dan kelangkaan dalam kapasitas produksi terpasang, sebab harus dilalui jangka waktu tertentu antara keputusan untuk menambah peralatan modal dan selesainya pembuatan modal itu. Lagi pula sekali tambahan modal tetap terpasang, maka usia kerjanya juga bisa relative panjang.

Faktor waktu tersebut dalam sistem produksi modern menjadi penyebab keterlambatan dan ketidaksempurnaan dalam penyesuaian kapasitas produksi beserta hasil produksinya terhadap perubahan pada permintaan.

Dalam pemikiran selanjutnya mengenai siklus ekonomi, serangkaian variabel endogen itu sebagaimana dikembangkan oleh Alfalion menjadi inti dalam teori-teori siklus ekonomi yang berdasarkan pendekatan ekonometrika.

Model-model ekonometrika mengungkapkan rupa-rupa kegiatan yang akan berjalan dalam tata susunan ekonomi sebagai respons dan atau reaksi terhadap suatu faktor dorongan atau suatu kejutan awal.

Kerangka landasan pemikiran Schumpeter beserta pola pendekatannya terhadap permasalahan siklus ekonomi sebenarnya juga termasuk kelompok teori siklus ekonomi yang masih bersifat endogen.

Dalam pandangan Schumpeter peran wirausaha merupakan faktor pendorong utama dalam menggerakkan kegiatan ekonomi yang menaik dan menurun secara bergelombang. Perilaku wirausaha dengan inovasinya mengandung ramifikasi, seakan-akan sistem ekonomi meninggalkan suatu keadaan equilibrium. Semakin jauh kegiatan ekspansi berada dari keadaan equilibrium, semakin terasa adanya kekuatan-kekuatan tandingan yang terkandung dalam sistem ekonomi dan yang akan menarik kembali kegiatan ekspansi pada suatu equilibrium. Sebaliknya, dikala dalam suatu resesi serangkaian kekuatan menjurus pada keadaan depresi, akhirnya akan muncul kekuatan-kekuatan tandingan (dari dalam tata susunan ekonomi sendiri) yang memulihkan kegiatan ekonomi dan mendorongnya kearah equilibrium lagi.

Keadaan equilibrium itu, pasca ekspansi maupun pasca depresi, mungkin sekali terletak pada tingkat harga dan biaya yang berlainan, dibandingkan dengan equilibrium yang lama.

Proses perkembangan tadi oleh Schumpeter dianggap sebagai ciri inheren (melekat) dalam perekonomian ekonomi modern yang dinamis. Dalam tata susunan ekonomi modern, kekuatan-kekuatan dinamika berkisar pada peran wairausaha yang melaksanakan inovasi dengan mengandalkan hasil kemajuan teknologi. Proses tersebut menimbulkan siklus demi siklus yang ditandai oleh goyangnya dan kadang kala oleh goncangan.

Kita melihat bahwa dalam kerangka pemikiran Schumpeter, setidaknya secara tersirat, faktor-faktor wirausaha-inovasi-teknologi dianggap sebagai serangkaian dinamika endogen dalam ekonomi masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun untuk jangka panjang.

Dalam hubungan ini, harus ditunjukkan keterbatasan dan kelemahan yang terkandung dalam gagasannya. Dalam hal permasalahan siklus ekonomi, kerangka landasan dan garis pemikiran Schumpeter terlalu ditandai oleh cirri dimensi tunggal (one-dimensional). Oleh sebab itu, analisisnya masih  bersifat parsial. Schumpeter memberikan bobot yang terlalu besar dengan penekanan yang berat sebelah pada perkembangan teknologi dan penerapannya melalui inovasi yang diselenggarakan oleh wirausaha. Seolah-olah hal itu merupakan faktor kekuatan otonom secara tersendiri dan sekaligus juga sebagai dinamika yang inheren (semata-mata endogen) dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Memang diakui bahwa fluktuasi ekonomi bersangkutan dengan perubahan yang terjadi dalam proses ekonomi yang berjalan seperti organisme. Akan tetapi tidak dapat disangkal pula bahwa proses ekonomi sering mendapat dorongan atau mengalami gangguan dari faktor-faktor eksternal, di luar kegiatan ekonomi masyarakat. Faktor-faktor eksternal itu merupakan dinamika eksogen yang sangat mempengaruhi pola, arah, dan sifat kegiatan ekonomi dalam perkembang selanjutnya (meskipun dengan adanya time lag).

Siklus ekonomi bukanlah produk semata-mata atau utama dari teknologi-inovasi-perilaku wirausaha. Peran wirausaha dan penyelengaraan inovasi berdasarkan kemajuan teknologi, satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa membentuk kekuatan sendiri atau mandiri. Sebab, munculnya sekelompok wirausaha yang berhasil melakukan inovasi dengan mengandalkan kemajuan teknologi, harus dilihat kaitannya dalam perkembangan dan perubahan dengan bidang lain yang beranekaragam dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Dengan menekankan pada peranan wirausaha, inovasi, teknologi sebagai dinamika endogen, Schumpeter mengabaikan pengaruh kekuatan dinamika eksogen yang sangat mendasar, seperti : perkembangan penduduk, terjadinya peperangan, perubahan alam, dan penemuan baru di luar ekonomi. Semua itu membawa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Dinamika eksogen ini mendesak adanya adaptasi dalam sistem ekonomi. Dalam proses adaptasi tersebut terjadi serangkaian osilasi atau goyangan (goncangan) secara bergelombang. Oleh sebab itu, kekuatan dinamika eksogen mempunyai dampak yang sangat penting dalam proses ekonomi dan harus dilihat interaksinya dengan dinamika endogen. Semuanya akan semakin menonjol apabila dilihat dalam perkembangan kegiatan ekonomi jangka panjang.

Sintesis dalam kerangka analisis Keynes-Hansen menyediakan suatu teori yang terpadu mengenai berbagai permasalahan siklus ekonomi. Sintesis dalam teori tersebut memberikan pengertian bulat tentang fenomena gerak gelombang yang mengalami goyangan osilasi dalam kegiatan ekonomi. Sekaligus menunjukkan sebab terjadinya dasar perubahan yang bersangkutan dengan goyangan osilasi itu. Walaupun demikian, pola pendekatan Keynes-Hansen seakan-akan terpusat pada faktor-faktor dinamika endogen. Sedikit sekali perhatiannya terhadap peranan dinamika eksogen dan dampaknya yang terjadi dalam perkembangan ekonomi.

Kemungkinan besar bahwa pokok perhatian Keynes (termasuk pemikir ekonomi Neo-Keynes, Pasca-Keynes, Monetaris, Ekspektasi Rasional) terlalu ditujukan pada penanggulangan permasalahan dalam perkembangan ekonomi jangka pendek (in the long run we are all dead) yang berlangsung di negara-negara industry. Kebijakan untuk menanggulangi permasalahan itu berkisar pada pengelolaan permintaan agregatif (management of aggregate demand). Hal itu dilakukan melalui kebijakan fiskal yang kontra-siklis. Dalam tinjauan tentang teori umum di bagian pertama, telah disampaikan bahwa kekurangan dalam pemikiran Keynes dan Neo-Keynes bukan terletak pada konsistensi dalam logika internalnya, tetapi berkisar pada penyelenggaraan kebijakannya di tengah realitas perkembangan ekonomi masyarakat. Penyebab utamanya yaitu kurang diperhitungkannya parameter-parameter masyarakat politik (kekuatan eksogen) yang besar pengaruhnya dalam proses perekonomian. Hal itu menghambat kebijakan negara untuk tepat waktu dalam melakukan langkah-langkah tindakan kontra-siklis. Dengan begitu, terjadi time lag dalam respons dan reaksi oleh kebijakan negara, di samping adanya time lag yang serupa dalam dunia usaha. Penentuan waktu (timing) yang kurang tepat menghilangkan makna dan relevansi kebijaksaan kontra-siklis sehingga dampaknya menambah kesulitan yang sudah dialami.

Keterbatasan yang diungkapkan di atas menyangkut perimbangan-perimbangan keadaan yang terjadi di masyarakat negara-negara industry. Keterbatasan itu hakikatnya berkisar pada kecenderungan untuk mengabaikan pengaruh dinamika eksogen dalam interaksinya dengan peran dinamika endogen.

Pemikiran Keynes dan Neo-Keynes (golongan Monetaris dan Ekspektasi Rasional) tetertuju pada sasaran jangka pendek yang berkisar pada kestabilan ekonomi yang berdasarkan penggunaan kapasitas produksi terpasang secara penuh, kesempatan kerja secara penuh dan menghindarkan inflasi untuk menjaga kestabilan harga. Pokok keprihatinannya karena kapasitan produksi yang sudah terpasang tidak dimanfaatkan secara penuh dan bekerja jauh dibawah kemamapuannya sehingga menimbulkan pengangguran yang luas diantara angkatan kerja. Jadi, pangkal tolaknya ialah kenyataan mengenai sudah cukup tersedianya peralatan modal industry modern dalam lingkungan masyarakat dinama prasarana dan perangkat administrative-institusional juga sesuai dengan perekonomian industry modern.

Berbeda dengan kebanyakan masyarakat negara berkembang. Perbedaan mendasarnya justru terletak pada kurang memadainya kapasitas produksi yang terpasang, dibandingkan dengan tuntutan perekonomian modern. Baik menyangkut peralatan modal tetap dalam dunia usaha, maupun modal tetap masyarakat berupa prasarana fisik (jalan, jembatan, perairan, pembangkit listrik, pelabuhan dan lain-lain) dan prasarana administrative (ketataprajaan negara beserta aparatur pemerintahannya) aataupun prasarana institusioanl yang menyangkut segi kelembagaan ekonomi-sosial dalam pergaulan hidup (lembaga keuangan bank dan non bank, perkreditan rakyat dan lembaga perekonomian rakyat pada umumnya). Dengan kata lain, perimbangan structural berbeda secara fundamental dan sudah menyangkut struktur ekonomi yaitu kerangka susunan dan landasan bagi kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang bersangkutan.

Jelas bahwa dengan keadaan ekonomi masyarakat seperti itu, teori siklus ekonomi yang mengutamakan peran dinamika endogen tidak akan berdaya untuk memberikan pengertian yang memadai tentang pola gerak perkembangan ekonomi. Hal ini berlaku juga dalam pengelolaan kebijaksanaan yang diperlukan dalam keadaan structural yang berlainan.

Kebijakan strategis ekonomis untuk negara berkembang yaitu pada perubahan structural dalam rangka pembangunan ekonomi. Kebijakan tersebut menyangkut sasaran yang lebih luas tidak hanya pengendalian permintaan agregatif. Kebijakan itu menekankan pada peningkatan kemampuan dari segi supply barang dan jasa. Hal ini dapat ditanggulangi dengan peningkatan investasi dalam modal tetap (prasarana masyarakat maupun modal dunia usaha). Dalam hal ini, investasi yang dimaksud juga mempunyai cirri yang berbeda dengan negara industry.

Pembangunan ekonomi yang berarti perubahan mendasar dalam struktur ekonomi memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam perkembangan jangka panjang itu semakin terlihat peranan kekuatan dinamika yang bersifat eksogen. Gerak kecenderungan jangka panjang juga berlangsung menurut pola bergelombang. Dalam hubungan ini, gelombang-gelombang yang dimaksud mencakup jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan silkus ekonomi jangka pendek atau menengah.

Pada gerak jangka panjang, pengaruh dinamika eksogen sering dominan dalam interaksinya dengan kekuatan dinamika endogen dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung.

H.   Apakah Siklus Bisnis dapat Dihindari?

  • Dengan berjalannya waktu, siklus bisnis semakin berkurang kualitasnya.
  • Faktor-Faktor Penentu Stabilitas

–        Semakin sempurnanya aliran modal

–        Kebijakan pemerintah semakin terbuka dan dapat diprediksi

–        Pemahaman pemerintah yang semakin baik terhadap kondisi perekonomian dapat mencegah perekonomian menuju resesi

  • Pada dekade 1990, ekonom AS berfikir bahwa siklus bisnis sudah mati. Di AS siklus bisnis sudah tidak terjadi, tetapi SB muncul di negara lain.
  • Okun mengatakan bahwa memang karena penyebab resesi sudah dikenali, sehingga resesi dapat ditekan terjadinya, tetapi kita tidak akan mampu menghadang terjadinya resesi.

DAFTAR PUSTAKA

 

  

Sumitro Djojohaadikkusumo, perkembangan pemikiran ekonomi,buku I dasar teori dalam ekonomi umum. Yayasan obor Indonesia,Jakarta 1991.

Kusnendi, Makroekonomi dalam perspektif filsafat keilmuan. UPI 2002

Paul A. Samuelson, William D. Nordhaus. 2001. Ilmu Makro Ekonomi, Edisi Ketujuhbelas. Jakarta: PT Media Global Edukasi

Deliarnov,Perkembangan Pemikiran Ekonomi (edisis revisi). 2003. Jakarta: raja grafindo perkasa

http://m3coption.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=43

file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/aby/Desktop/New%20Folder%20(2)/STE/siklus-ekonomi.html (2008)

file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/aby/Desktop/New%20Folder%20(2)/STE/mac6.html

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

 

Secara singkat, pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Dalam pengertian itu terdapat tiga aspek yang perlu digarisbawahi, yaitu proses, output per kapita, dan jangka panjang. Pertumbuhan sebagai proses, berarti bahwa pertumbuhan ekonomi bukan gambaran perekonomian ada suatu saat. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan output per kapita, berarti harus memperhatikan dua hal, yaitu output total (GDP) dan jumlah penduduk, karena output per kapita adalah output total dibagi dengan jumlah penduduk. Aspek jangka panjang, mengandung arti bahwa kenaikan output per kapita harus dilihat dalam kurun waktu yang cukup lama (10, 20, atau 50 tahun, bahkan bisa lebih lama lagi) (Sahibul Munir: 2008).

Pertumbuhan ekonomi yang pesat merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad belakangan ini. Dalam periode tersebut dunia telah mengalami perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sampai abad ke 18 kebanyakan masyarakat di berbagai negara masih hidup pada tahap subsitensi dan mata pencarian utamanya adalah dari melakukan kegiatan di sektor pertanian, perikanan, dan berburu.

Masalah pertumbuhan sudah menarik minat para ahli ekonomi sejak masa Adam Smith sampai dengan banyak para ahli ekonomi dewasa ini yang pada waktu-waktu yang lalu perhatian para ahli-ahli ekonomi itu terutama hanya tertuju pada masalah pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, dewasa ini perhatian sebagian dari mereka telah pula diarahkan pada masalah pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang yang kemudian menjadi cabang ilmu ekonomi tersendiri, yaitu ilmu ekonomi pembangunan.

Pertumbuhan ekonomi dalam suatu periode tertentu dapat dinyatakan secara matematik sebagai dy/dt (y=output nasional total, t=waktu, periode tertentu yang digunakan), jadi bertambahnya output total selama periode tertentu untuk memenuhi keperluan hidup yang juga semakin berkembang. Dalam jangka pendek output total akan dipengaruhi hanya oleh input yang bersifat mudah berubah, input variabel (Sahibul Munir: 2008). Dinyatakan dalam rumus matematik hubungan output dan input membentuk  sebagai fungsi produksi.

Y= f (TK, K, T)

TK  =  tenaga kerja yang merupakan input variabel

K    =  barang modal yang merupakan input tetap

T  = teknologi yang digunakan, yang dianggap atau tidak berubah dalam jangka pendek ( Sahibul Munir : 2008).

Pertumbuhan ekonomi tentu saja menyangkut periode waktu, karena itu hanya dapat terjadi dalam jangka panjang. Artinya bagaimana output total dapat ditingkatkan dalam jangka panjang dengan pengertian bahwa semua input adalah input variabel. Kendala yang membatasi hanyalah ketersediaan input itu yang akan mempengaruhi kapasitas produksi negara/masyarakat itu. Dalam ekonomi yang tumbuh tentu saja batas kapasitas produksi juga akan berubah. Peningkatan batas kapasitas produksi dapat terjadi karena bermacam-macam faktor. Dari ketiga variabel yang mempengaruhi besarnya total output di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan output total dapat terjadi karena pengaruh perubahan salah satu atau kombinasi perubahan ketiga faktor tersebut, yaitu :

a) Tenaga Kerja

-    peningkatan jumlah tenaga kerja yang pada umumnya berasal dari peningkatan jumlah penduduk.

-    peningkatan produktivitas tenaga kerja yang disebabkan oleh meningkatnya kualitas tenaga kerja itu, baik fisik (perbaikan gizi, kesehatan, lingkungan, dan lain sebagainya) maupun mental (pendidikan, agama, sikap dan sebagainya).

b) Modal (termasuk sumberdaya alam maupun tanah)

-    penambahan yang berasal dari keputusan produksi dalam negeri yang lebih mengutamakan produksi barang modal daripada barang konsumsi.

-    penambahan yang berasal dari luar negeri.

c) Teknologi

-    perubahan sistem dan proses produksi dengan menggunakan teknologi yang lebih canggih (Sahibul Munir : 2008).

TEORI-TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

 

1. Werner Sombart (1863-1947) (Aliran Historis)

Menurut Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:

a) Masa perekonomian tertutup

Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri:

• Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri

• Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen

• Belum ada pertukaran barang dan jasa

b) Masa kerajinan dan pertukangan

Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

• Meningkatnya kebutuhan manusia

• Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian

• Timbulnya pertukaran barang dan jasa

• Pertukaran belum didasari profit motive

c) Masa kapitalis

Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa sebagai berikut:

• Tingkat prakapitalis

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Kehidupan masyarakat masih statis

(2). Bersifat kekeluargaan

(3). Bertumpu pada sektor pertanian

(4). Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri

(5). Hidup secara berkelompok

• Tingkat kapitalis

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Kehidupan masyarakat sudah dinamis

(2). Bersifat individual

(3). Adanya pembagian pekerjaan

(4). Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan

• Tingkat kapitalisme raya

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Usahanya semata-mata mencari keuntungan

(2). Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi

(3). Produksi dilakukan secara masal dengan alat modern

(4). Perdagangan mengarah kepada ke persaingan monopoli

(5). Dalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu majikan dan buruh

• Tingkat kapitalisme akhir

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu :

(1). Munculnya aliran sosialisme

(2). Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi

(3). Mengutamakan kepentingan bersama

(Herlan Firmansyah: 2009)

2. Friederich List (1789-1846) (Aliran Historis)

Friederich List seorang ekonom Jerman membagi tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang dialami suatu Negara berdasarkan teknik produksi dan cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Lebih lanjut, List mengatakan bahwa kita bisa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari data sejarah (Deliarnov, 2003:129).

Menurut Friederich List, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:

a. Masa berburu dan pengembaraan

Pada tahap ini manusia dalam memenuhi kebuhan hidupnya sangat tergantung pada pemberian alam yang hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.jika makanan dan binatang disekitarnya telah habis, mereka akan pindah ke tempat lain yang baru.

b. Masa beternak dan bertani

Pada masa ini masyarakat sudah menetap. Kebutuhan akan makanan dan daging sudah dilaksanakan melalui beternak dan bertani

c. Masa bertani dan kerajinan

pada masa ini masyarakat selain bertani juga membuat kerajinan-kerajinan terutama yang berhubungan dengan kerajinan, seperti pandai besi dan kerajinan lainnya.

d. Masa kerajinan, industri, perdagangan

pada masa ini masyarakat memandang bahwa kerajinan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan mengisi waktu luang melainkan juga untuk di jual sehinnga muncullah industry besar. Pada masa inilah muncul kota-kota sebagai pusat pusat industry, perdagangan pun meningkat bukan hanya di dalam negeri tetapi juga dengan luar negeri.

(Nurjaka, 2002 :331)

3. Karl Bucher (1847-1930)

Menurut Karl Bucher, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibedakan menjadi empat

tingkatan sebagai berikut:

a. Masa rumah tangga tertutup

pada tahap ini kebutuhan masyarakat masih sangat sederhana dan tertutup. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil buatan kelompoknya sendiri. Pada masa ini pertukaran belum terjadi.

b. Rumah tangga kota

Pada masa ini mereka mulai merasakan bahwa kebutuhannya terpenuhi dengan produksinya. Namun harus diperoleh dari masyarakat lain. Oleh karena itu, pada masa ini dikenal istilah pertukaran.

c. Rumah tangga bangsa

Kebutuhan akan hasil produksi orang lain semakin disadarinya pertukaran yang pada awalnya dilakukan antara kelompok kecil lama kelamaaan dilaksanakan dengan ruang lingkup yang lebih luas, satu Negara. Oleh karena itu pada masa ini disebut rumah tangga bangsa.

d. Rumah tangga dunia

kebutuhan akan produksi bangsa lain ditambah dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi, maka pertukaran antara bangsa (Negara) sudah tidak bisa dielakkan, maka kegiatan ekspor impor akan terjadi (Nurjaka, 2002 :332).

4. Walt Whiteman Rostow (1916-1979)

W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya yang bejudul The Stages of Economic Growth bahwa pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:

• Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

Rostow mengartikan tahap masyarakat tradisional sebagai masyarakat yang strukturnya berkembang di dalam funsi produksi yang terbatas, yang didasarkan kepada teknologi, ilmu pengetahuan dan dan sikap masyarkat yang seperti di sebelum masa Newton, yang dimasksudkan oleh Rostow dengan masyarakat sebelum masa Newton adalah suatu masyarakat yang masih menggunakan cara-cara memproduksi yang relative primitf dan cara hidup masyarakat yang yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh cara pemikiran yang bukan rasionil, tetapi oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun. Menurut Rostow dalam suatu masyarakat tradisionil tingkat produksi perkapita dan tingkat produktivitas pekerja masih sangat terbatas, oleh sebab itu sebagian besar dari sumber-sumber daya masyarakat digunakan dalam sektor pertanian (Sadono Soekirno, 1985:103).  Jadi,menurut Rostow masyarakat tradisional memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

1.    Merupakan masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas.

2.    Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern

3.    Terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai

• Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the preconditions for take off)

Corak dari tahap prasyarat untuk lepas landas dibedakan oleh Rostow menjadi dua jenis. Yang pertama adalah tahap prasyarat untuk lepas landas yang dicapai oleh Negara-negara  Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika;yang dilakukan dengan merombak masyarakat tradisionil yang sudah lama ada. Bentuk yang kedua adalah yang dicapai oleh Negara-negara yang dinamakan oleh Rostow Born free yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru yang dapat mencapai tahap prasyarat untuk lepas landas tanpa harus merombak sistem masyarakat yang tradisionil karena masyarakat Negara-negara itu terdiri dari imigran yang telah mempunyai sifat-sifat yang diperlukan oleh sesuatu masyarakat untuk mencapai tahap prasyarat untuk lepas landas (Sadono Soekirno, 1985:103).

Tahap pra lepas landas itu memiliki cirri sebagai berikut:

1.    Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi.

2.    Sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang pertanian maupun di bidang industri.

• Periode Lepas Landas (The take off)

Dalam tahap lepas landas pertumbuhan meupakan peristiwa yang selalu berlaku. Permulaan dari lepas landas adalah berupa berlakunya perubahan yang sangat drastic dalam masyarakat, seperi revolusi politik, terciptanya kemajuan pesat dalam inovasi atau berupa terbukanya pasaran-pasaran baru.jadi faktor penyebab dimulainya masa lepas landas berbeda-beda.Yang penting sebagai akibat dari perubaha-perubahan ini secara teratur akan tercipta pembaharuan-pembaharuan (innovation)dan peningkatan penanaman modal. Dan penanaman modal yang makin bertambah tinggi tingkatnya ini mengakibatkan tingkat pertambahan pendapatan nasional menjadi bertambah laju dan akan melebihi tingkat pertambahan penduduk. Dengan demikian tingkat pendapatan perkapita makin lama akan menjadi makin bertambah besar (Sadono Soekirno, 1985:103). Ciri-ciri masyarakat periode lepas landas:

1.    Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari produk nasional netto (Net National Product atau NNP)

2.    Adanya atau segera terciptanya suatu ranka dasar politik, social dan institusional yang akan menciptakan menjadi kenyataan (i) segala gelonjak-gelonjak untuk membuat perluasan di sektor modern, dan (ii) potensi ekonomi ekstern (external economic)yang ditimbulkan oleh kegiatan lepas landas sehingga menyebabkan pertumbuhan akan terus menerus berlaku.

3.    Kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di perluas

4.    Tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat

5.   Investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan nasional.

6.    Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi dengan cepat.

• Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity)

Adalah suatu masa dimana suatu masyarakat secara efektif menggunakan teknologi modern pada sebagian besar faktor –faktor produksi dan kekayaan alam (Suryana:64).

Ciri penting pada tahap ini adalah:

  1. Teknologi menyebar pada sektor perekonomia
  2. Adanya perluasan produksi

Selanjutnya Rostow menyinggung cirri yang bersifat non ekonomi dan hamper memasuki tahap berikutnya, yaitu:

  1. Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan, sektor industri tambah penting peranannya, sedangkan sektor pertanian bertambah menurun
  2. Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan. Peranan manajer perusahaan professional menjadi bertambah penting.
  3. Masyarakat menjadi bertambah bosan dengan kewajiban yang diciptakan oleh individu.

Menurut Herlan Firmansyah,2009 ciri-ciri tahap ini adalah:

1.    Merupakan perkembangan terus menerus dimana perekonoian tumbuh secara teratur serta lapangan usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern.

2.    Investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan investasi ini berlangsung secara cepat.

3.    Output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk

4.    Barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri.

5.    Tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pada masa take off dengan penerapan teknologi modern

• Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption)

Tahap terakhir dari teori pertumbuhan Rostow adalah tahap konsumsi tinggi, yaitu masa dimana perhatian masyarakat telah lebih menekankan kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat, dan bukan lagi ke dalam masalah produksi.dalam tahap ini terdapat tiga macam tujuan masyarakat yang saling bersainan untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang tersedia dan sokongan politik, yaitu:

  1. Memperbesarkan kekuasaan dan pengaruh Negara tersebut ke luar negeri dan kecenderungan ini dapat berakhir kepada penaklukan atas Negara-negara lain.
  2. Menciptakan suatu welfare state yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada penduduknya dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem perpajakan yang lebih progresif. Dalam sistem perpajakan yang seperti ini, makin tinggi pendapatan, makin besar pula tingkat pajak ata pendapatan itu.
  3. Mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat di atas konsumsi keperluan utama yang sederhana atas makanan, pakaian dan perumahan menjadi meliputi pula barang-barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah (Sadono Soekirno, 1985:103).

Sedangkan cirri-ciri dari tahap ini adalah:

1.    Sektor-sektor industri merupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa.

2.    Pendapatn riil per kapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan.

3.    Kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi.

4.         Pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi (Herlan Firmansyah: 2009).

 

5. Adam Smith (Klasik)

Teori pertumbuhan ekonomi sudah ada sejak buku Adam Smith muncul pada awal timbulnya disiplin ilmu ekonomi. Sejak saat muncul buku itu, “The Wealth of Nations”, bermacam-macam teori pertumbuhan ekonomi muncul untuk kemudian tenggelam atau disempurnakan oleh generasi-generasi ekonomi berikutnya, sehingga sampai saat ini dikenal berbagai teori pertumbuhan ekonomi yang berlain-lainan dengan aspek khususnya masing-masing (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan Klasik bersumber terutama pada gagasan Adam Smith dan David Ricardo. Buku monumental Adam Smith yang menandai lahirnya cabang ilmu yang baru, yaitu ilmu ekonomi, terbit pada tahun 1776 dan berjudul “An Iquiry Into the Nature and Causes of the Waelth of Nations”. Walaupun buku itu berisi bermacam-macam aspek ilmu ekonomi, tetapi tema pokoknya adalah menunjukkan bagaimana kemakmuran suatu bangsa/masyarakat dapat dicapai. Artinya buku itu menitikberatkan pada pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi.

Smith adalah pendekar kebebasan individu yang bersumber pada doktrin Hukum Alam. Kepercayaannya pada mekanisme harga, yang disebutnya sebagai tangan gaib, untuk mengatur seluruh kegiatan ekonomi mencerminkan keinginannya agar pemerintah lepas tangan dari seluruh kegiatan ekonomi, kecuali dalam bidang-bidang yang dipandangnya sangat esensial saja. Dengan lepasnya campur tangan pemerintah pertukaran barang dan jasa dalam masyarakat akan menghasilkan terjadinya pembagian kerja dan spesialisasi. Melalui pembagian kerja dan spesialisasi produktivitas para pekerja akan meningkat, sehingga gagasan inilah yang menjadi titik awal pandangan Smith tentang  teori pertumbuhan ekonominya (Sahibul Munir : 2008).

Pembagian kerja dan spesialisasi berkembang karena adanya perdagangan atau luasnya pasar. Walaupun perdagangan adalah unsur esensial adalah ekonomi, tetapi Smith menekankan bahwa kemakmuran ekonomi hanya dapat dicapai melalui peningkatan output masyarakatnya. Peningkatan output dimungkinkan oleh tersedianya sumberdaya atau faktor-faktor produksi, yaitu sumber daya alam, sumberdaya manusia dan stok modal yang ada. Bagi Smith sumberdaya alam yang tersedia merupakan batas kapasitas produksi maksimal yang dapat dicapai masyarakat itu. Karena itu dalam pertumbuhan ekonomi adalah pemanfaatan sumberdaya alam seoptimal mungkin dan bersama dengan sumberdaya manusia mencapai kondisi idiil, yaitu kondisi kesempatan kerja penuh. Melalui ketersediaan sumberdaya itu masyarakat harus berusaha terus-menerus meningkatkan outputnya demi tercapainya kemakmuran. Untuk mencapai tujuan itu Smith menekankan pentingnya peranan stok modal yang tersedia dan penambahan stok itu secara terus menerus. Pembagian kerja dan spesialisasi hanya mungkin dilakukan apabila akumulasi stok modal terjadi. Semakin banyak stok modal dimiliki oleh masyarakat semakin baik pembagian kerja dapat dilakukan dan dengan demikian meningkat pula produktivitas para pekerja, sehingga output akan meningkat lebih cepat pula.

Stok modal terus meningkat karena para investor mengharapkan diperolehnya laba yang cukup tinggi. Tetapi laba ini cenderung akan menurun bersamaan dengan semakin majunya ekonomi masyarakat itu. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya persaingan yang akan mendorong meningkatnya upah dan dengan demikian menurunkan laba. Bersamaan dengan semakin luasnya pasar peningkatan akumulasi stok modal akan terus menerus mendorong ekonomi tumbuh sampai seluruh sumberdaya yang tersedia sudah dimanfaatkan sepenuhnya. Dalam kondisi itu persaingan untuk memperoleh lapangan kerja akan cenderung menyebabkan turunnya upah sampai ke tingkat upah subsistensi, yaitu aras upah yang hanya cukup untuk mempertahankan hidup supaya tidak mati kelaparan. Laba akan turun dan sekali turun laba terus menerus turun, demikian pula dengan investasi. Akhirnya pada aras upah subsistem pertumbuhan ekonomi terhenti dan posisi stasioner tercapai. Dalam kondisi itu akumulasi modal juga terhenti, penduduk juga terhenti, penduduk juga mencapai keadaan stasioner, laba merupakan laba maksimum, upah adalah upah subsistem dan ekonomi menjadi stagnan, sehingga output tidak lagi meningkat (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith masih sangat sederhana walaupun ia mampun menunjukkan faktor-faktor yang dipandangnya menduduki peranan penting, tetapi kelemahan teorinya juga banyak. Kelemahan teori Adam Smith terlihat antara lain pada diabaikannya peranan pengusaha yang jelas sangat vital dalam menentukan investasi dan dengan demikian dalam akumulasi modal. Kelemahan lain terlihat pada asumsinya tentang posisi stationer. Pertumbuhan ekonomi dilihatnya sebagai gerakan yang mulus baik ke atas maupun ke bawah sampai kondisi stationer tercapai. Dalam gerakan itu tak terdapat gelombang-gelombang yang seperti anda lihat selalu dihadapi oleh setiap ekonomi nasional. Karena itu gambaran pertumbuhan ekonomi Smith adalah tidak realistik. (Sahibul Munir : 2008)

 6. David Ricardo (Klasik)

Pandangan Ricardo mengenai pertumbuhan ekonomi terlihat pada bukunya “The Principles of Political Economy and Taxation” yang terbit pada tahun 1917. Ricardo sendiri sebenarnya tidak menekankan pertumbuhan ekonomi pada bukunya itu. Ia lebih banyak mendiskusikan teori distribusi, karena itu analisis pertumbuhan ekonominya harus dicari dari uraiannya mengenai teori distribusi (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan ekonomi Ricardo lebih merupakan penyempurnaan teori pertumbuhan Smith dari pada teori yang berdiri sendiri. Walaupun demikian Ricardo mempertajam model Smith dengan asumsi-asumsi yang lebih jelas dan tegas. Asumsi-asumsi model Ricardo adalah sebagai berikut :

1. semua tanah yang tersedia dan jumlahnya tetap digunakan dalam menghasilkan output (jagung), karena itu sektor pertanian adalah sektor dominan;

2. pada tanah itu berlaku hukum hasil balik yang semakin menurun (law of dimishing returns);

3. input lain, yaitu modal dan tenaga kerja tersedia sedang teknologi dianggap diketahui dan dari waktu ke waktu terjadi kemajuan;

4. permintaan tenaga kerja tergantung pada akumulasi modal sedang akumulasi modal timbul karena adanya laba;

5. ada persaingan sempurna.

Dari asumsi itu terlihat bahwa model Ricardo didasarkan pada interaksi tiga kelompok peserta kegiatan ekonomi, yaitu pemilik tanah, pemilik tanah, dan pekerja. Merekalah yang menerima seluruh hasil tanah yang dioperasikan. Jadi output total didistribusikan kepada tiga kelompok itu masing-masing sebagai sewa tanah, laba dan upah. Dari tiga kelompok itu pemilik tanah berhak memperoleh bagian (sewa) yang pertama dari output total yang dihasilkan. Sisanya baru dibagi pada pemilik modal (laba) dan pekerja (upah), jadi sesuai dengan peranan sektor pertanian yang dominan. Betapa besar yang akan diterima oleh pemilik modal dan para pekerja  tergantung pada kondisi pasar. Jikalau harga barang-barang yang pada akhirnya membentuk upah subsistem naik, upah itu juga ikut naik. Peningkatan upah diatas aras tertentu (subsistem) yang oleh Ricardo disebut sebagai tingkat upah alami (nature wage), akan mendorong meningkatnya jumlah penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong naik permintaan pangan maupun komoditi-komoditi lain yang pada umumnya merupakan produk-produk sektor pertanian. Akibatnya tanah-tanah yang kurang suburpun terpaksa ikut ditanami dan tambahan tenaga kerjapun diperlukan lebih banyak karena produktivitas tanah yang rendah (Sahibul Munir : 2008).

Permintaan tenaga kerja meningkat bersamaan dengan meningkatnya upah, sehingga laba akan menurun, apalagi sewa tanah juga ikut meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan menurunnya akumulasi modal. Jadi anda dapat melihat disini bahwa akumulasi modal berasal dari laba, laba bergantung pada upah, upah ditentukan oleh harga komoditi, dan harga komoditi mengikuti tingkat kesuburan tanah marginal yang diusahakan itu. Apabila ada perbaikan dalam pengusahaan pertanian produktivitas tanah meningkat. Perbaikan itu terjadi melalui penggunaan teknologi yang lebih maju. Dengan meningkatnya produktivitas tanah harga produk pertanian turun, sehingga aras upah alami juga turun. Akibatnya laba meningkat dan akumulasi modal naik. Meningkatnya upah akan mendorong naiknya jumlah penduduk dan permintaan akan hasil produksi pertanian. Jumlah maupun harga produk-produk itu akan meningkat dan keadaan ini akan mendorong turunnya laba. Jadi jika upah meningkat laba akan turun dan vice-versa. Bila laba turun, kapasita menabung masyarakat akan turun, sehingga akumulasi modal juga cenderung turun. Turunya laba para petani juga akan mempengaruhi laba industri-industri yang lain, artinya laba disektor pertanian turun, laba disektor industri pengolahan juga akan turun (Sahibul Munir : 2008).

Ricardo berpendapat bahwa turunnya tingkat laba dalam suatu ekonomi nasional merupakan suatu kecenderungan yang bersifat alami. Pertumbuhan ekonomi yang bagaimanapun pada akhirnya akan berhenti karena proses bekerjanya mekanisme  ekonomi selalu akan mendorong ke arah meningkatnya sewa dan menurunya laba. Proses meningkatnya sewa dan menurunya laba akan berjalan terus, sehingga tanah yang dioperasikan makin lama akan makin jelak karena yang lebih subur sudah digunakan. Output tidak lagi dapat bertambah jikalau hasil balik dari tanah marginal terakhir besarnya sama dengan ongkos produksinya, artinya laba = nol.

Keadaan ini disebut oleh Ricardo sebagai keadaan stasioner. Dalam posisi ini akumulasi modal berhenti, pertumbuhan penduduk tidak terjadi, tingkat upah merupakan upah natural, sewa tanah sangat tinggi, laba murni tidak ada dan dengan demikian terjadilah stagnasi ekonomi.

Berlakunya hukum hasil balik yang semakin menurun sehingga terjadi keadaan stationer dapat dihambat oleh  penggunaan teknologi yang lebih maju. Tetapi dalam perlombaan antara berlangsungnya hukum itu dan penemuan teknologi baru, menurut Ricardo selalu dimenangkan oleh berlangsungnya hukum hasil balik yang semakin menurun.

Teori pertumbuhan Ricardo walaupun jelas lebih tajam dari teori Smith tetapi kesimpulannya tetap tidak berbeda jauh dari teori Smith. Posisi stasioner adalah posisi yang pada akhirnya pasti akan terjadi walaupun pada saat hidupnya Smith dan Ricardo kondisi ekonomi masih jauh dari mencapai posisi itu. Tetapi pendapat mereka itu sampai sekarang belum terjadi. Artinya posisi stationer yang mereka gambarkan ternyata tidak sesuai dengan realitas. Hal ini terjadi karena ternyata perkembangan teknologi (mesin, listrik, elektronika, dan komunikasi) mampu mendorong meningkatnya produktivitas jauh dari apa yang dapat mereka bayangkan. Ketergantungan manusia pada sumberdaya alam semakin berkurang karena teknologi mampu menciptakan atau merehabilitasi sumber daya alam (reboisasi, reklamasi, pengunaan sumberdaya alam yang berasal dari laut dan ruang angkasa) sedangkan pertambahan penduduk juga tidak berkembang seperti apa yang digambarkan oleh Malthus. Walaupun demikian teori Ricardo penint diperhatikan oleh negara-negara yang sedang berkembang. Masalah perlobaan antara berlangsungnya hukum hasil balik yang semakin menurun dan pertambahan penduduk dengan kemampuan menggunakan teknologi yang lebih maju tetap merupakan masalah yang mendesak. Ricardo telah menunjukkan bahwa akumulasi modal melalui pengembangan  sektor pertanian  adalah penting (bandingkan dengan Repelita kita) sebab pertumbuhan ekonomi hanya dapat terjadi dengan lancar apabila akumulasi modal, jadi investasi, juga dapat terus menerus ditingkatkan (Sahibul Munir : 2008).

7. Schumpeter

            Perhatian terhadap teori pertumbuhan ekonomi seara lebih serius mulai  muncul pada tahun 30-an ketika terjadinya depresi. Pendekatan pemikir-pemikir terdahulu terhadap teori pertumbuhan, terlalu fragmatis dan nasionalistik. Yang diinginkan hanya pertumbuhan ekonomi Negara sendiri. selain itu tidak ada kepedulian terhadap pertumbuhan ekonomi Negara-negara lain dan juga pertumbuhan ekonomi Negara lain dan dunia secara keseluruhan (Deliarnov, 2003: 184).

Pakar pertama yang lebih serius mengembangkan teori pertumbuhan adalah Schumpeter dalam usia kurang dari 30 tahun. Joseph Schumpeter hidup di zaman modern (1883-1950). Dari segi teori Schumpeter bisa digolongkan dalam kelompok teori pertumbuhan Klasik. Namun dari segi kesimpulannya khususnya mengenai prospek perbaikan hidup masyarakat banyak dalam perekonomian kapitalis. Berbeda dengan ekonom-ekonom Klasik sebelumnya, ia optimis bahwa dalam jangka panjang tingkat hidup orang banyak bisa ditingkatkan terus sesuai dengan kemajuan teknologi yang bisa dicapai masyarakat tersebut. Sejalan juga dengan para ekonomi modern, Schumpeter tidak terlalu menekankan pada aspek pertumbuhan penduduk maupun aspek keterbatasan sumber daya alam dalam pertumbuhan ekonomi. Bagi Scumpeter, masalah penduduk tidak dianggap sebai aspek sentral dari proses pertumbuhan ekonomi ((Musleh Jawas : 2008).

Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi akan berkembang pesat dalam lingkungan masyarakat yang menghargai dan merangsang orang untuk menggali penemuan-penemuan baru.yang paling cocok untuk itu ialah lingkungan masyarakat yang menganut laissez faire, bukan dalam masyarakat sosialis atau komunis yang cenderung mematikan kreativitas orang. Dalam masyarakat yang menganut mekanisme pasar, insentif bagi peneuan beru lebih tinggi dari insentif yang akan diterima oleh masyarakat sosialis (Deliarnov, 2003:184)

Gambaran umum dari proses kemajuan ekonomi menurut Schumpeter adalah membedakan antara pengertian pertumbuhan ekonomi dan pengertian perkembangan ekonomi. Keduanya adalah sumber dari peningkatan output masyarakat, tetapi masing-masing mempunyai sifat yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi di artikan sebagi peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan cara-cara atau teknologi produksi itu sendiri. Pertumbuhan

ekonomi adalah satu sumber kenaikan output, sedangkan perkembangan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh para wiraswasta. Inovasi berarti perbaikan teknologi dalam arti luas mencakup penemuan produk baru, pembukaan pasar baru dan sebaginya. Tetapi yang penting adalah bahwa inovasi menyangkut perbaikan kwalitatif dari sistem ekonomi itu sendiri, yang bersumber dari kreativitas para wiraswastanya oleh investasi (akumulasi kapital) oleh para imitator tersebut. Proses imitasi ini mempunyai Perkembangan ekonomi berawal pada suatu lingkungan sosial, politik dan teknologi yang menunjang kreativitas para wiraswasta (Musleh Jawas : 2008).

Dengan adanya lingkungan yang menunjang kreativitas, maka akan timbul beberapa wiraswasta yang menjadi pioner dalam mencoba menerapkan ide-ide baru dalam kehidupan ekonomi (cara berproduksi baru, produk baru, bahan mentah dan sebagainya). Mungkin tidak semua pioner usaha akan berhasil tetapi mereka yang berhasil dikatakan telah melakukan inovasi (Musleh Jawas : 2008).

Inovasi mempunyai tiga pengaruh. Yang pertama adalah diperkenalkannya teknologi baru, yang kedua adalah inovasi menimbulkan keuntungan lebih (keuntungan monopolistis) yang merupakan sumber dana penting bagi akumulasi kapital. Yang ketiga adalah inovasi pada tahap-tahap selanjutnya akan diikuti oleh timbulnya proses imitasi yaitu adanya pengusaha baru yang meniru teknologi baru tersebut. Proses imitasi ini akan diikuti pengaruh berupa :

a.   Menurunnya keuntungan monopolistis yang dinikmati oleh para inovator.

b. Penyebaran teknologi baru didalam masyarakat (teknologi tersebut tidak lagi menjadi monopoli para inovatornya).

Semua proses ini meningkatkan output masyarakat dan secara total merupakan proses perkembangan ekonomi. Keuntungan yang diperoleh dari adanya inovasi akan turun dan hilang akibat disaingi oleh para penirunya. Jadi inovasi dan keuntungan yang diperoleh darinya merupakan motor penggerak dinamika dalam masyarakat kapitalis atau perekonomian pasar (Musleh Jawas : 2008).

8. Pendekatan Kaldor (Neo Klasik)

Nicholas Kaldor (1908-1986)

Pandangan Kaldor tentang Pertumbuhan dalam Jangka Panjang

Dalam perkembangan pemikiran Kaldor mengenai masalah pertumbuhan, perhatiannya semakin ditujukan pada masalah-masalah konkret yang berjalan pada masa yang panjang, sekitar lima puluh tahun atau lebih. Dalam hubungan ini, Kaldor semakin meninggalkan pola pendekatan yang mengandalkan metodologi berdasarkan model-model ekonomi makro. (Soemitro, :49)

Pandangan Kaldor tentang proses pertumbuhan jangka panjang diarahkan pada pertumbuhan sektoral yang mencakup sektor produksi komoditi primer dan sector sekunder (industri dan konstruksi). Sedangkan kegiatan di sektor tersier (jasa-jasa) oleh Kaldor dianggap sebagai fungsi dari perkembangan industri. Pengalaman Kaldor juga dilengkapi dengan telaahan dan kajian mengenai pertumbuhan ekonomi dari sudut haluan spasial/regional.

Kaldor mengadakan perbedaan yang tajam antara pertumbuhan di sektor produksi primer dan pertumbuhan di sektor industri. Sesuai dengan pemikiran Alfred Marshall dan Karl Marx, Kaldor mengamati bahwa ciri pokok dalam industri manufaktur ialah produksi nya yang berlangsung dengan increasing return: penerimaan imbalan per satuan produksi meningkat secara nisbi terhadap biaya per satuan produksi. Negara-negara industri sudah mempunyai landasan prasarana beserta perangkat kelembagaannya yang cukup memadai. Dalam masyarakat Negara-negara itu, asas increasing return berlaku baik di bidang makro (masyarakat secara menyeluruh) maupun di bidang mikro (dalam lingkungan usaha). (Soemitro, :50)

Increasing returns dan kemajuan teknologi adalah keterkaitan satu dengan yang lainnya. Konstruksi dan pengendalian operasional mengenai satuan-satuan modern, pembinaan keterampilan yang bersifat khas, segala sesuatu itu memerlukan penelitian ilmiah disertai oleh pengembangan dan penerapan hasil penelitian tersebut. Dengan begitu, increasing returns tidak saja merupakan funsi dari skala produksi , melainkan juga dari produksi kumulatif dalam perkembangan waktu.

Hal yang sama menurut Kaldor berlaku mengenai akumulasi modal fisik. Peningkatan produktifitas secara kontinu memerlukan investasi yang berkenaan dengan mekanisasi teknik produksi. Hal itu berarti bertambahnya modal per tenaga kerja. Petumbuhan industri dalam jangka panjang ditandai oleh meningkatnya hasil produksi per tenaga kerja (labour productivity) maupun meningkatnya modal per tenaga kerja (capital labour ratio). Akan tetapi, perubahan pada capital output ratio (nisbah terhadap hasil produksi) tidak begitu menonjol. Dalam hubungan ini, oleh Kaldor di tekankan lagi: investasi pada dirinya bukan menjadi sebab bagi pertumbuhan produksi, melainkan sebaliknya pertumbuhanlah yang memungkinkan pengerahan investasi (Soemitro, : 50)

Berbeda sekali sifat produksi di sektor komoditi primer: pertanian (dalam arti luas) dan pertambangan. Di sektor primer produksi berlangsung dengan decreasing returns: penerimaan imbalan per satuan produksi menurun secara nisbi terhadap biaya per satuan produksi. Tahap mulai berlakunya decreasing returns bias ditangguhkan dengan pemanfaatan dan penerapan teknologi. Namun Kaldor berpendapat bahwa kemajuan teknologi di bidang produksi primer lebih bersifat eksogen. Artinya tidak begitu responsif terhadap kebutuhan yang timbul dari sektor primer sendiri, kalau dibandingkan dengan sektor industri. Dalam pengamatan Kaldor ada batas maksimal yang agak kaku (inflexible) terhadap laju pertumbuhan di bidang produksi primer.

Dalam suatu sistem ekonomi tertutup (closed economy) dalam jangka panjang batas maksimal terhadap laju pertumbuhan sektor primer juga menjadi kendala utama bagi laju pertumbuhan industri. Dengan begitu, batas maksimal terhadap laju pertumbuhan sektor primer juga menjadi kendala bagi pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Sebab, pertumbuhan produksi dan pendapatan di sektor primer merupakan sumber utama dari permintaan efektif terhadap hasil produksi sektor industri. Kaldor menekankan bahwa dalam suatu closed economy pertumbuhan permintaan dari pihak sektor primer dalam jangka panjang menjadi faktor penentu bagi laju pertumbuhan produksi industri. Di pihak lain, perkembangan industri saling berkaitan dengan pertimbangan mengenai besar-kecilnya skala produksi. Oleh sebab itu, senantiasa ada kecenderungan kuat dari pihak industri untuk mencari permintaan sumber-sumber lain, yaitu dari luar perbatasan ekonomi tertutup itu. Dengan proses industrialisasi, akan ada dorongan kuat untuk transformasi ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka. Dengan kata lain, hal itu mendorong ke arah pengembangan perdagangan luar negeri dalam lalu lintas ekonomi internasional. Perhatian Kaldor juga ditujukan kepada pola pertumbuhan industri ditinjau dari sudut lokasi spasial/regional. Pola produksi sektor primer oleh Kaldor dianggap terkait dengan sumber alam. (Soemitro, : 51)

Perihal pola pertumbuhan industri, Kaldor menunjuk pada timbulnya perbedaan pada pola dan laju pertumbuhan yang terjadi diantara berbagai kawasan dalam batas wilayah satu Negara maupun secara regional dan internasional di antara berbagai belahan dunia. Perbedaan yang dimaksud tidak semakin berkurang, melainkan cenderung semakin besar sehingga menimbulkan ketimpangan kumulatif pada pertumbuhan ekonomi di antara berbagai pusat kegiatan, baik hal tiu sebagai fenomena antar daerah dalam wilayah Negara kebangsaan maupun sebagai ketimpangan yang bersifat regional maupun internasional. Hal itu menurut Kaldor bersangkut paut dengan apa yang disebut dengan cumulative causation: sebab-musabab yang cenderung mengandung dampak kumulatif. Kecenderungan ini mengandung ramifikasi luas bagi pola pertumbuhan ekonomi di antara kawasan-kawasan  kegiatan dalam satu Negara maupun di antara kelompok-kelompok Negara.

Sumber utama bagi cumulative causation yang dimaksud berkaitan dengan berlakunya increasing returns dalam produksi industri.tiap lokasi atau kawasan yang menjadi pusat kegiatan industri yang penting dapat mencapai produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaannya di pusat-pusat industri lain yang kurang berarti. Meningkatnya produktivitas tenaga kerja berarti biaya tenaga kerja menjadi berkurang per satuan produk. Hal ini memperkuat daya saing perusahaan-perusahaan dari kawasan industri yang maju, skala produksi mereka dapat diperluas sehingga produktivitas kerja lebih meningkat lagi; hal itu biasanya disertai oleh perbaikan pada mutu hasil produksi.

Hal itu satu sama lain semakin memperbaiki keunggulan komparatif kawasan yang maju, dibandingkan dengan kawasan-kawasan yang lainnya. Kaitan antara pertumbuhan produksi dan peningkatan produktivitas kerja itu menyebabkan bahwa ketimpangan pada laju pertumbuhan industri antardaerah atau antarkawasan akan berlangsung secara kumulatif. Hal itu masih dipertajam dengan pengembangan ekspor hasil industri dari pusat-pusat kegiatan yang sudah maju. Pesatnya pertumbuhan industri dan meningkatnya produktivitas kerja disertai pengembangan ekspor hasil produksinya, satu sama lain merupakan semacam lingkaran kegiatan yang bermanfaat (virtuous cycle) bagi daerah atau kawasan maju. Sebaliknya hal itu berarti lingkaran setan (vicious cycle) bagi daerah atau kawasan yang ketinggalan. Dampak ketimpangan tersebut dapat diredakan jika dalam proses perkembangan industri dapat dicapai suatu keadaan dimana kawasan yang maju merupakan pasar yang berarti bagi hasil produksi yang berasal dari kawasan-kawasan yang lainnya.

Perkembangan pemikiran Kaldor sebagaimana disimak diatas secara pokok sebenarnya sudah melintasi perbatasan antara bidang ekonomi pertumbuhan dan bidang ekonomi pembangunan. Pembahasannya mengenai pertumbuhan (antar) sektoral dan pertumbuhan spasial (antar) kawasan sudah menyangkut beberapa masalah penting dalam masalah pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang. Memang beberapa ciri pokok dalam pendekatan Kaldor bersama dengan hasil karya Simon Kuznets sangat memeprngaruhi pola pendekatan dan metodologi yang dewasa ini sering digunakan dalam pengamatan dan kajian tentang permasalahan-permasalahan yang menyangkut pembangunan ekonomi.

9. Joan Robinson

Ny. Joan Robinson di dalam bukunya The Accumulation of Capital membangun model pertumbuhan ekonomi yang sederhana berdasarkan “aturan main kapasitas”. Model ini “tidak begitu banyak berkaitan dengan pergerseran ekuilibrium dalam perekonomian kapitalis, tetapi di tambah dengan pengkajian sifat-sifat pertumbuhan ekuilibrium.” Model Ny. Joan Robinson didasarkan pada asumsi berikut :

  1.         a.            Perekonomian liberal yang tertutup.
  2.         b.            Dalam perekonomian itu hanya ada buruh dan modal sebagai faktor produksi.
  3.         c.            Untuk memproduksi suatu output tertentu, modal dan buruh dipergunakan dengan proporsi tetap.
  4.        d.            Kemajuan teknik yang netral
  5.         e.            Tidak ada kelangkaan buruh dan pengusaha dapat mempekerjaan buruh sebanyak yang mereka sukai.
  6.          f.            Hanya ada dua kelas pekerja dan pengusaha yang menjadi penerima pendapatan nasional
  7.         g.            Para pekerja sama sekali tidak menabung dan membelanjakan seluruh upahnya untuk konsumsi.
  8.         h.            Para pengusaha sama sekali tidak mengkonsumsi tetapi menabung dan menanamkan keseluruhan pendapatan                           mereka (yang didapat dari laba) untuk pembentukan modal.” Jika mereka tidak memperoleh laba para                pengusaha itu tak dapat menumpuk modal, dan kalau tidak menumpuk modal mereka tidak memperoleh laba “.
  9.           i.            Tidak ada perubahan dalam tingkat harga.

Pendapatan nasional netto di dalam model Robinson adalah jumlah rekening upah total plus keuntungan total, yang dapat dinyatakan sebagai :

Y = w N + p K

Dimana Y adalah pendapatan nasional netto, w tingkat upah nyata, N jumlah buruh yang dipekerjakan, p tingkat keuntungan dan k jumlah modal (M.L Jhinghan, 1993 : 318-319).

Untuk menggambarakan pertumbuhan yang mantap, mulus, dengan pekerjaan penuh Joan Robinson menyebutnya sebagai “zaman keemasan”. Apabila kemajuan teknik bersifat netral dan berlanjut mantap tanpa perubahan apapun dalam pola waktu produksi, mekanisme persaingan bekerja dengan bebas penduduk berkembang pada laju mantap dan akumulasi berjalan cukup cepat untuk memasok kapasitas produksi semua buruh yang tersedia, maka laju keuntungan cenderung konstan dan tingkat upah nyata naik bersamaan dengan output per orang. Tidak ada kontradiksi internal di dalam sistem ini. Output total tahunan dan stok modal kemudian tumbuh bersama-sama dalam laju yang secara proporsional tetap yang melipatgandakan laju kenaikan tenaga buruh dan laju kenaikan output per orang. Keadaan ini dapat dilukiskan sebagai zaman keemasan. (M.L Jhinghan, 1993 : 320)

Joan Robinson didalam karangannya Essays in the Theory of Economic Growth menulis gagasan masa keemasan tersebut lebih lanjut.Dia membeda-bedakan penentu pertumbuhan ekuilibrium tersebut dan menggolongkannya ke dalam tujuh kelas : (i) kondisi teknikal (ii) kebijakan investasi, (iii)kondisi penghematan (iv) kondisi persaingan(v) kesepakatan upah (vi) kondisi keuangan (finansial), (vii) stok barang modal dan besarnya harapan yang didasarkan pada pengalaman masa lalu. Ketujuh faktor penentu ini satu sama lain bersifat independent.

Laju pertumbuhan yang dicita-citakan adalah laju akumulasi dimana perusahaan puas dengan situasi yang diketemukan sendiri. laju pertumbuhan ini ditentukan oleh tingkat upah yang disebabkan oleh laju akumulasi tersebut, dan laju akumulasi dirangsang oleh laju keuntungan (M.L Jhinghan, 1993 : 324)..

Pada waktu laju pertumbuhan yang dicita-citakan sama dengan laju pertumbuhan yang bisa terjadi pada keadaan yang mendekati pekerjaan penuh, perekonomian berada dalam masa keemasan. Upah nyata meningkat bersama meningkatnya output per kepala sebagai akibat kemajuan teknikal. Tetapi tingkat keuntungan pada modal tetap konstan. Dan teknik produksi yang ocok untuk tingkat keuntungan tersebut diketemukan. Inilah abad keemasan yang di peragakan oleh Ny. Joan Robinson.

Pada masa emas dan platina sesuai dengan ungkapan Prof  Joan Robinson, “ Didalam masa emas, kondisi awalnya cocok untuk pertumbuhan mantap. Dalam masa emas asli dan masa emas timpang laju pertumbuhan yang terealisasi secara nyata hanya dibatasi oleh laju pertumbuhan yang mungkin terjadi. Dalam masa emas yang dikendalikan, laju pertumbuhan yang bisa terjadi tertahan oleh laju yang terealisir. Dalam masa emas palsu laju yang bisa terjadi itu dibatasi oleh hal lain yaitu oleh upah nyata yang cukup minimum. Baik di dalam masa emas timpang maupun di masa emas palsu stok modal yang ada di setiap saat kurang cukup untuk memberikan pekerjaan kepada semua buruh. Di dalam masa emas timpang stok peralatan tidak berkembang lebih cepat lantaran tiadanya ‘semangat kehewanan’ (animal spirits). Dalam masa palsu stok peralatan tidak berkembang lebih cepat karena terhalang oleh rintangan inflasi. Dalam masa platina kondisi awalnya tidak memungkinkan bagi pertumbuhan mantap dan laju akumulasi melaju atau mengendor sebagaimana biasa (M.L Jhinghan, 1993 : 329).

Bagi Negara terbelakang, model Robinson mempunyai manfaat yaitu dalam teori Robinson mengkaji masalah penduduk dan dampaknya pada laju akumulasi modal. Ada “masa keemasan” yang dapat dicapai setiap Negara melalui pembangunan ekonomi berencana. Perekonomian Negara terbelakang menghadapi masalah laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat daripada laju pertumbuhan modal. Ini menunjukkan adanya kecenderungan pengangguran secara progresif dalam perekonomian tersebut (M.L Jhinghan, 1993 : 330).

Rasio pertumbuhan potensial adalah paling penting dalam teori pertumbuhan ekonomi Joan Robinson. Masa keemasan tergantung pada rasio pertumbuhan. Tugas perencanaan menjadi lebih mudah jika rasio pertumbuhan potensial suatu perekonomian itu dihitung untuk periode perencanaan atas dasar laju pertumbuhan tenaga kerja dan laju pertumbuhan output per kepala (M.L Jhinghan, 1993 : 331).      Maka tidaklah mungkin untuk mempergunakan konsep ”masa keemasan” di dalam memecahkan masalah perencanaan pembangunan, karena kesinambungan yang tanpa perubahan seperti diminta untuk masa keemasan tidak pernah ada dalam perekonomian terbelakang (M.L Jhinghan, 1993:332).

10.Meade (Neo Klasik)

Profesor J. E. Meade dari Universitas Cambridge membangun suatu model pertumbuhan ekonomi Neo Klasik yang dirancang untuk menjelaskan bagaimana bentuk paling sederhana dari sistem ekonomi klasik akan berperilaku selama proses pertumbuhan ekuilibrium (M.L Jhinghan, 1993 : 333).

Asumsi Profesor J. E. Meade:

  1. Ada suatu perekonomian tertutup dengan sistem pasar bebas yang di dalamnya terdapat persaingan sempurna.
  2. “Returns to scale” konstan
  3. Di dalam perekonomian tersebut diproduksi dua jenis barang yaitu barang konsumsi dan barang modal.
  4. Mesin merupakan satu-satunya bentuk modal.
  5. Semua mesin diasumsikan serupa.
  6. Harga barang konsumsi dalam uang diasumsikan konstan
  7. Tanah dan buruh dipergunakan secara penuh.
  8. Rasio buruh terhadap mesin dapat diubah, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
  9. Barang modal dan barang konsumsi sama sekali dapat dipertukarkan di dalam produksi
  10. Ada penyusutan karena aus, yaitu setiap tahun sekian persen dari mesin-mesin dihapuskan dan memerlukan penggantian.

Di dalam perekonomian seperti yang digambarkan dalam asumsi di atas, output bersih diproduksi tergantung pada empat faktor :

  1.           i.            Stok modal nettoyang tersedia dalam bentuk mesin;
  2.         ii.            Jumlah tenaga buruh yang tersedia;
  3.       iii.            Tanah dan sumber alam yang tersedia;dan
  4.       iv.            Keadaan pengetahuan teknik yang terus membaik sepanjang waktu.

Hubungan ini dinyatakan dalam bentuk fungsi produksi :

Y = F (K, L, N, t)

Dimana

Y adalah output netto atau pendapatan nasional netto, K stok modal (mesin) yang ada,

L,tenaga kerja, N tanah dan sumer alam, dan t adalah waktu yang menandakan kemajuan teknik (M.L Jhinghan, 1993 : 334).

Kelebihan model Meade dalam menunjukkan pengaruh pertumbuhan penduduk, akumulasi modal dan kemajuan teknik pada laju pertumbuhan pendapatan nasional dan pendapatan nasional per kepala sepanjang waktu. Keadaan “pertumbuhan mantap” memang sama dengan abad emas nya Ny.Robinson, namun model Meade dijelaskan dengan cara yang lebih realistic dengan mengkaji perilaku variable yang ia asumsikan sebagai konstan (M.L Jhinghan, 1993 : 342).

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI NEO KEYNESIAN

11. Roy F. Harrod (1900-1978) dan Evsey D. Domar (1914-…)

Teori pertumbuhan yang dikembangkan sejak perang dunia II bersumber pada kerangka analisis Keynes. Hal ini dirintis oleh Roy F. Harrod, seorang pakar ekonomi Inggris yang terkenal selama dasawarsa-dasawarsa lima puluhan dan enam puluhan. Kelangsungan pemikiran Keynes ditandai oleh unsur-unsur dinamika dalam sistem analisis tentang proses ekonomi dalam perkembangannya.

Pola pendekatan Harrod terhadap proses pertumbuhan jelas menunjukkan cirri-ciri pokok pada kerangka analisis Keynes, baik dalam konseptualisaasinya maupun dalam perincian modelnya. Perhatian Keynes berkisar pada tingkat pendapatan yang stabil, berdasarkan kesempatan kerja secara penuh, termasuk penggunaan kapasitas produksi yang terpasang. Kini oleh Harrod dipersoalkan : Dalam kondisi yang bagaimana dapat dicapai kestabilan pada pendapatan dan kesempatan kerja secara penuh dan dapat dipertahankan   seterusnya dalam dinamika perkembangan ekonomi(perekonomian dalam perkembangan yang dinamis). Dengan kata lain, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan persyaratan apa terdapat suatu proses pertumbuhan yang berlangsung dalam ekuilibrium yang stabil (equilibrium of a steady advance). Perhatian Harrod dipusatkan pada persyaratan yang harus dipenuhi untuk memelihara ekuilibrium antara tabungan-invetasi-pendapatan dalam dinamika pendapatan pertumbuhan ekonomi. Analisis Harrod dalam bentuk formalnya disusun dalam suatu kerangka agregatif. Dalam teori dinamikanya, dipaparkan asas fundamental yang menyangkut faktor dinamika (fundamental dynamic principle).

Harrod menyatakan bahwa dalam proses pertumbuhan melekat suatu faktor ketidakstabilan yang menjadi gangguan terhadap kondisi ekulibrium. Hal itu lazim disebut instability theorem sebagai ciri pokok gagasan Harrod. Konsekuensi dari instability theorem ini adalah bahwa diperlukan langkah-langkah kebijaksanaan tertentu untuk menganggulangi ketidakstabilan guna menjaga pertumbuhan yang berdasarkan ekuilibrium yang stabil.

Dalam banyak ulasan perihal teori pertumbuhan telah menjadi lazim untuk menganggap teori  Harrod dan gagasan yang dibeberkan oleh Evsey Domar sebagai suatu kelomok analisis;bahkan ada kecenderungan untuk mengadakan perpaduan diantara dua model yang bersangkutan sebagai model Harrod-Domar . Memang pola pendekatan yang ditempuh oleh kedua pakar tersebut mengandung cirri-ciri yang sama. Begitu pula keduanya sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang serupa.Waalaupun begitu, pangkal tolak bagi pendekatan dan pengembangan pemikiran masing-masing maupun mata pembahasannya sebenarnya berbeda satu dari yang lainnya.

 Teori Harrod

Roy F. Harrod,

Pokok perhatian Harrod berkisar pada pertumbuhan ekonomi yang dapat berlangsung secara terus-menerus dalam pola keadaan ekuilibrium yang stabil. Dalam konstelasi ekonomi yang mana dapat dicapai dan dipertahankan ekuilibrium serupa itu dalam proses pertumbuhan? Persyaratan apayang harus dipenuhi ataupun diciptakan agar konstelasi ekonomi yang dimaksud itu dapat berkembang?Dalam hubungan ini oleh Harrod dipaparkan dua konsep perihal laju pertumbuhan yang menjadi kunci dalam gagasannya, yaitu 1).Laju pertumbuhan produksi dan pendapatan pada tingkat yang dianggap memadai pada sudut  pandangan ara pengusaha/calon investor. Hal ini disebut oleh Harrod sebagai The warranted rate of growth. Pada laju yang dianggap memadai itu,para pengusaha akan meneruskan usahanya dengan melakukan investasi secara kontinu. Selain itu, oleh Harrod juga ditunjukkan adanya 2)The natural rate growth,yang sifatnya brbeda dari warranted rate yang dimaksuk diatas  tadi.Dengan natural rate(of growth) dimaksud laju pertumbuhan produksi dan pendapatan sebagaimana itu ditentukan oleh kondisi dasar (fundamental conditions) yang menyangkut (a) bertambahnya angkaan kerja karena penduduk bertambah, dan (b) meningkatnya produktivitas kerja karena teknologi . Kondisi dasar itu yang berkisar pada pertambahan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas kerja,sekaligus menjadi batas maksimal bagilaju pertumbuhan produksi (dan pendapatan riel).

Saran pendapat Harrod yaitu pertumbuhan yang kontinu dalam ekulibrium (dengan kestabilan pendapatan dan kesempatan kerja penuh)hanya bisa dicapai jika dipenuhi kedua syarat yang dimaksud diatas, yaitu berlangsungnya aju pertumbuhan yang warranted maupun laju pertumbuhan yang natural. Dengan kata lain, dalam suatu konstelasi ekonomi dimana warranted rate of growth adalah identik dengan natural rate of growth. Akan tetapi,faktor-faktor yang menentukan warranted growth rate berlainan dan terlepas (independent) dari faktor-faktor yang menentukan natural growth rate. Oleh sebab itu, jarangsekali terjadi dan mungkin hanya secara kebetulan bahwa warranted gowth rate (laju pertumbuhan yang dianggap memadai darisudut investor) adalah sama dengan natural growth rate (laju pertumbuhan yang ditentuka oleh kondisi dasar berkenaan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas).kenyataan tersebut menjadi pertimbangan dasar bagi Harrod untuk mengungkapkan kesimpulan pokok yang bersifat instability theorem.proses pertumbuhan mengandung di dalam dirinya secara inheren unsure ketidakstabilan yang sewaktu-waktu dapat mengganggu keadaan ekulibrium. Tidak ada alasan untuk menganggap atau mengharapkan bahwa secara otomatis akan timbul kekuatan-kekuatan yang dapat membawa penyimpangan-penyimpangan kembali ke dalam jalur ekulibrium. Impliksi dan konsekuensi dari instability theorem ialah keharusan adanya langkah-langkah kebijaksanaan tertentu untuk menanggulangi gangguan-gangguan terhadap kestabila dalam ekulibrium pertumbuhan.

Gagasan Harod yang berpokok pada instability theorem menjadi pertimbangan dasar bagi kesimpulannya berupa saran pendapat: jika dikehendaki adanya ekulibrium dalam proses pertumbuhan,maka diperlukan intervensi kebijaksanaan untuk menanggulangi gangguan ketidakstabilan dan penyimpangan yang merupakan cirri pokok pada pertumbuhan itu sendiri.

Teori Domar

Evsey D. Domar

Gagasan Domar mengenai pertumbuhan ekonomi diterbitkan (1946) tujuh tahun setelah teori HArrod disajikan sebagai makalah dalam majalah Economic Journal (1939). Namun,teori Domar dikembangkannya terlepas sama sekali (independent) dari karya Harrod. Walaupun Domar sampai pada kesimpulan yang sama berdasarkan model yang kerangka susunannya mirip pada model Harrod, pangkal tolak bagi pendekatannya berbeda. Dewasa ini memang seakan–akan sudah lazim untuk mengelompokkan gagasan Domar dan gagasan Harrod sebagai satu model (model Harrod –Domar). Dengan menyimak teori Domar secara tersendiri akan menjadi lebih jelas tentang adanya persamaan (dalam substansi permasalahan maupun perbedaan (dalam polapendekatan)diantara dua mdel pertumbuhan yang bersangkutan. Kedua model bersumber pada kerangka analisis yang telah dirintis sebelumnya oleh Keynes. Pemikiran Keynes ini dikembangkan lebih lanjut dengan memasukkan kedalam kerangka susunannya serangkaiain faktor kunci (dinamika) yang mempengaruhi perkembangan ekonomi dalam perjalanan waktu. Khusunya, hal itu dilihat dari sudut kestabilan pendapatan dengan kesempatan kerja penuh dalam proses pertumbuhan.

Gagasan Domar berpangkal tolak pada berlakunya asas investment multiplier. Laju pertumbuhan pada permintaan efektif langsung dihadapkan kepada pertumbuhan pada kapasitas produksi. Dalam model diungkapkan bahwa pertumbuhan pada permintaan adalah sama dengan pertambahan investasi (I) dikalikanoleh multiplier (I/s). Sedangkan pertumbuhan pada kapasitas produksi adalah sama dengan investasi(I) dibagi oleh capital-output rasio(k). Alhasilpertumbuhan pada permintaan adalah sama dengan pertumbhan pada kapasitas produksi:∆I/I=s/k

Laju pertumbuhan yang tercermin pada persamaan diatas oleh Domar dianggap sebagai laju pertumbuhan yang kritis (critical rate of growth) yang analog dengan warranted rate of growth dalam model Harrod. Di dalam hal investasi melebihi laju pertumbuhannya yang dimaksud diatas tadi, maka penyimpangan tersebut menyebabkan bahwa ∆I/I (yang sama dengan pertumbuhan permintaan)akan lebih meningkat secara nisbi bila dibandingkan dengan s/k (pertumbuhan pada kapasitas produksi): I/I>s/k. Keadaan demikian akan membawa investasi dalam jumlah yang semakin besar.

Sama dan selaras dengan garis pemikiran dengan gagasan Harrod, jika karena sebab apapun laju pertumbuhan investasi menyimpang dari laju kritis s/k,laju pertumbuhan pada kapasitas produksi, maka penyimpangan itu cenderung untuk berlangsung terus dalam jurusan yang sama.Implikasi saran pendapat ini ialah diperlukannya intervensi kebijaksanaan jikalau kecenderungan penyimpangan hendak dikembalikan pada jalur ekuilibrium.

Pola pendekatan yang ditempuh oleh Harrod dan Domardianggap terlalu sederhana dan simplistic alam hal penggunaan serangkaian pangkalan dalil maupun dalam penyusunan model. Pada hakikatnya kritik serupa itu kurang beralasan. Sebab sejak dari mulanya Harrod maupun Domar ditekankan,apa yang hendak dikaji ialah hubungan perimbangan antara variable-variabel yang merupakan dinamika dalam perkembangan ekonomi. Hal itu satu sama lain hendak disajikan dalam kerangka susunan dan bentuk yang paling sederhana. Oleh sebab itu, serangkaian pangkal dalil yang menmenjadi pangkal tolak bagi kajian dan pengembangan pemikiran Harrod dan Domar harus dianggap sebagai pendekatan pertama, yaitu semata-mata untuk menjaga konsistensi internal pada logika dalam kerangka model masing-masing. Kita dapat mengamati bahwa kemudian oleh berbagai pihak lain disusun model-model yang amat kompleks, akan tetapi yang didasarkan atas sejumlah postulat yang justru tidak realistis.

Capital-output ratio sebagai besaran yang konstan dianggap sebagai saran pendapat yang kurang tepat untuk model yang hendak menelaah proses pertumbuhan dalam jangkapanjang. Capital-output rasio yang konstan mengandung implikasi tidak adanya kemungkinan sama sekali untuk substitusi antara modal dan tenaga kerja.

Saran pendapat dalam hal ini merupakan dalil yang memang kaku dan tidak realistis sebagai dasar penilaian tentang perubahan-perubahan pada perkembangan keadaan dalam perjalanan waktu.sehubungan dengan itu dalam pengembangan model-model pertumbuhan selanjutnya disajikan kerangka analisis yang mengandung fleksibilitas perihal peranan capital-output rasio.

Dalam mata pandangan sejumlah ahli ekonomi yang terkenal , diantaranya Milton Friedman, James Mead dan Robert Sollow. Faktor ketidastabilan dan instability theorem dalam model Harrod terlalu dibesar-besarkan. Menurut hemat penulis ini, justru instability theorem itu masuk akal dan mempunyai dasar empiris yang kuat dan realistis. Pangkal tolaknya adalah hasil analisis Keynes tentang penyimpangan investasi ex-post dari investasi ex-ante. Pendapat ini memang sesuai dengan dan dibenarkan oleh reslitas dalamkegiatan ekonomi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa investasi dalam masyarakat modern pada umumnya dilakukan oleh pihak lain dari golongan yang menabung. Investasi didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang dianut oleh pihak penabung. Poko pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Harrod dan ditempatkan sebagai faktor yang memegangperanan strategis dalam teorinya mengenai dinamika ekonomi. Menurut penulis ini sumbangan pikiran yang paling berharga dalam karya Harrod justru yang berkaitan dengan instability theorem. Harrod menekankan pada peranan strategis dari perkiraan/ekspektasi pada pihak entrepreneur investor tentang laju pertumbuhan pendapatan di masa datang, yang mempengaruhi investasi mereka di masa kini. Kenyataan menandakan bahwa perkiraan dan ekspektasi yang dimaksud itu sering meleset dan kurang tepat, apa pun yang kelak di kemudian hari dikumandangkan oleh aliran Ekspektasi “rasional”. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa gagasan Harrod mengandung arti dan relevansi bukan hanya sebagai teori pertumbuhan, melainkan juga sebagai teori siklus ekonomi.

Dengan tidak menutup mata atas kelemahan dan kekurangan yang melekat pada analisis Harrod dan Domar, kini oleh umum diakui bahwa kedua pemikir tersebut telah member sumbangan yang sangat berarti terhadap perkembangan teori ekonomi. Mereka berhasil untuk menonjolkan lagi arti dan relevansi proses pertumbuhan sebagaimana hal itu tercermin pada peningkatan produksi dan pendapatan. Lagipula pertumbuhan ekonomi diteropong dalam konsep ekuilibrium. Sehubungan dengan itu dikembalikan arti dan peranan tabungan sebagai sumber akumulasi modal dan investasi sebagai salah satu determinan penting bagi pendapatan nasional melalui asas multiplier. Selanjutnya pertumbuhan pendapatan dan lajunya mempengaruhi tingkat investasi melalui asas akselerasi sehingga segala sesuatu dapat diamati sebagai proses interaksi dinamika ekonomi dalam perkembangan waktu (Soemitro  Djojohadikusumo, 1994 : 43).

12. Solow – Swan

Pendekatan Neo-Klasik

Dalam model yang dikembangkan oleh Sollow terdapat adanya kemungkinan perubahan pada tingkat bunga maupun pada tingkat upah. Proses pertumbuhan dilihat sebagai suatu proses yang berlangsung dengan pertimbangan-pertimbangan yang variable diantara faktor-faktor produksi. Harga-harga faktor produksi adalah fleksibel sehingga ada kemungkinan substitusi diantara faktor-faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi. Dalam keadaan dimana jumlah tenaga kerja melebihi pasok modal, harga tenaga kerja (tingkat upah) akan menurun secara nisbi terhadap harga modal (tingkat bunga). Sebaliknya jika pertambahan modal melampaui jumlah tenaga kerja maka tingkat upah akan meningkat. Dengan adanya perubahan pada harga faktor-faktor produksi dan melalui substitusi satu jenis faktor produksi oleh jenis faktor produksi lainnya, hal itu satu sama lain dapat membatasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dari ekuilibrium pertumbuhan. Oleh sebab itu tidak benar bila dikatakan bahwa seakan-akan di dalam proses pertumbuhan secara inheren terkandung unsure ketidakstabilan sebagaimana ditonjolkan dalam instability theorem Harrod. Itulah yang secara sederhana menjadi intipati gagasan Sollow (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 44-45).

Robert Solow dan Trevor Swan secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang sekarang sering disebut dengan nama model pertumbuhan Neo Klasik. Model Solow dan Swan memusatkan perhatianya pada pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi dan output saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi..

Kerangka umum dari model Solow-Swan mirip dengan model Harrod-Domar, tetapi model Solow-Swan lebih luwes karena,

a.  Menghindari masalah ketidakstabilan yang merupakan ciri warranted rata of growth dalam model Harrood-Domar.

b.  Bisa lebih luwes digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah distribusi pendapatan.

Keluwesan ini terutama disebabkan oleh karena Solow dan Swan menggunakan bentuk fungsi produksi yang lebih mudah dimanipulasikan secara aljabar. Ada empat anggapan yang melandasi model Neo Klasik (Musleh Jawas : 2008) :

a.    Tenaga kerja (penduduk), tumbuh dengan laju tertentu.

b.    Adanya fungsi produksi yang berlaku bagi setiap periode.

c.    Adanya kecenderungan untuk menabung propersity to save oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi tertentu dari output.

d.    Semua tabungan masyarakat di investasikan.

Untuk keseimbangan jangka panjang Solow mengatakan bahwa posisi long run equilibrium akan tercapai apabila kapital per kapita, mencapai suatu tingkat yang stabil, artinya tidak lagi berubah nilainya. Apabila kapital konstan, maka long run equilibrium tercapai. Hai ini merupakan ciri posisi keseimbangan yang pertama (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang kedua adalah mengenai laju pertumbuhan output, kapital dan tenaga kerja. Pada posisi long run equilibrium laju pertumbuhan

output bisa disimpulkan dari ciri bahwa output per kapita adalah konstan dan penduduk tumbuh sesuai dengan asumsi. Difinisi output per kapita adalah output total tumbuh dengan laju jumlah penduduk per tahun (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang ketiga adalah mengenai stabilitas dari posisi keseimbangan tersebut. Posisi keseimbangan model Solow-Swan bersifat stabil, dalam arti bahwa apabila kebetulan perekonomian tidak pada posisi keseimbangan, maka akan ada kekuatan-kekuatan yang cenderung membawa kembali perekonomian tersebut pada posisi keseimbangan jangka panjang (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang keempat menyangkut tingkat konsumsi dan tingkat tabungan (investasi). Tingkat tabungan (investasi) per kapita pada posisi keseimbangan adalah konstan. Apa yang tidak ditabung dikonsumsikan, sehingga konsumsi per kapita juga konstan pada posisi equilibrium (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang kelima berkaitan dengan imbalan yang diterima oleh masing-masing faktor produksi atau aspek distribusi pendapatan. Karena hanya ada dua macam faktor produksi (kapital dan tenaga kerja), maka output total akan habis terbagi antara para pemilik kapital dan pemilik faktor produksi tenaga kerja (Musleh Jawas : 2008).

13. Pendekatan Kuznets

Simon Kuznets (1901-1985)

Simon Kuznets lahir di Rusia dan pada awal rezim Uni Soviet ia menjadi kepala biro statistik di Ukraina.

Profesor Kuznet, orang yang menerima hadiah nobel dalam “ilmu ekonomi”tahun 1871 mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai “kemampuan jangka panjang untuk menyediakan berbagai jenis barang ekonomi yang terus meningkat kepada masyarakat. Kemampuan ini tumbuh atas dasar kemajuan teknologi institusional dan ideologis yang diperlukannya”.(Kuznet, 1871). Kuznets menyebutkan tiga komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi (Suryana:64) yaitu :

  1. Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari menibgkatnya secara terus menerus persediaan barang. Peningkatan output yang terus-menerus dan terpelihara merupakan investasi pertumbuhan ekonomi. Kemampuan untuk menyediakan berbagai macam barang adalah tanda kematangan ekonomi
  2. Teknologi maju merupakan faktor dalam menyediakan aneka macam barang kepada penduduk. Kemajuan ekonomi memberikan dasar pra-kondisi untuk pertumbuhan ekonomi selanjutnya. Meang sesuatu yang diperlukan, tetapi kondisinya belum cukup untuk merealisir pertumbuhan potensial yang terdapat dalam teknologi baru.
  3. Penggunaan teknologi pengunaan teknologi secara luasdan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan ideology sehinga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahua dapat dimanfaatkan secara tepat. Pembaharuan teknologi haruslah dibarengi dengan pembaharuan sosial.

Dalam analisisnya yang lengkap, professor Kuznet mengemukakan enam cirri pertumbuhan ekonomi modern yang dimanifestasikan dalam proses pertumbuhan oleh semua Negara yang sekarang telah maju (Suryana:64-65). Keenam karakteristik itu adalah:

  • Dua variable ekonomi yang bersamaan(aggregate) meliputi:
  1. Tingginya tingkat produk perkapita dan laju pertumbuhan penduduk
  2. Tingginya peningkatan produktivitas terutama produktivitas tenaga kerja.
  • Dua structural variable transformasi:
  1. Tingginya tingkat transformasistruktur ekonomi
  2. Tingginya struktur social dan ideology
  • Dua variable penyebaran internasional, meliputi:
  1. Kecenderungan Negara-negara yang ekonominya sudah maju untuk pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mendapatkan pasaran dan bahan baku
  2. Arus barang, modal , dan orang anatar bangsa yang meningkat.

Pandangan Kuznets mengenai kegiatan ekonomi masyarakat berpangkal pada kerangka perhitungan nasional dengan penjabarannya tentang unsur-unsur komponen dalampendapatan nasional. Kuznets berhasil memberi substansi secara empiris-kuantitatif terhadap pengertian-pengertian pokok dalam kerangka analisis Keynes seperti mengenai hubungan antara konsumsi-tabungan-investasi-pendapatan dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Satu sama lain dikaji menurut tahap-tahap perkembangan yang susul-menyusul, hal yang dikenal sebagai time series analysis. Dengan begitu, pemikiran teoritis dibidang ekonomi dijelmakan dari ilmu deduktif menjadi ilmu kuantitatif. Hal ini menjadi landasan bagi penelitian Kuznets mengenai masalah pertumbuhan ekonomi. Penelitiannya dibidang ini berkisar pada perkembangan histories mengenai produksi nasional dan pendapatan nasional. Pemantauannya melibatkan time series yang bersifat ekonomis maupun time series yang bersifat demografis (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 53 ).

Karya ilmiah Kuznets mengenai masalah pertumbuhan menyangkut perkembangan ekonomi dalam jangka panjang dan didasarkan atas studi komparatif (studi perbandingan) tentang pengalaman histories-empiris yang mencakup sejumlah Negara industri. Pemikirannya dalam rangka ekonomi pertumbuhan merupakan kelangsungan dari hasil karya sebelumnya mengenai perhitungan nasional.kerangka acuan dan pola pendekatannya dalam studi komparatif yang dimaksud berpokok pada konsep pendapatan nasional beserta unsur-unsur komponennya. Perhatiannya ditujukan kepada perubahan-perubahan pada struktur (kerangka susunan) dan komposisi pendapatan nasional dalam perkembangan waktu.

Pola pendekatan Kuznets terhadap masalah-masalah ekonomi dapat dipahami dengan latar belakang pengalamannya di Ukraina dan perkembangannya kemudian sebagai pemikir ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh Wesley Mitchel. Dari mulanya Kuznets mengemukakan kuantifikasi berdasarkan fakta empiris untuk menguji pemikiran teoritis. Hal itu ditopang oleh pengetahuannya yang mendalam di bidang sejarah perekonomian (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 54).

Kuznets menunjukkan sikap was was terhadap penggunaan model makro ekonometris dalam bentuk struktur formal. Dalam banyak hal, Kuznets sebenarnya merasa dekat dengan alampikiran Historismus (Gustav von Schmoller,dkk) dan institusionalisme (Thorstein Veblen). Dalam pandangannya teori ekonomi mengandung cirri relativitas histories, artinya banyak pemikiran teoritis di bidang ekonomi tidak dapat dianggap terlepas dari faktor waktu (perjalanann sejarah) dan keadaan ruang di sekitar fenomena ekonomi. Kuznets juga merasa bahwa focus banyak perhatian para ahli ekonomi terlalu sempit dalam wawasannya maupun dalam pola pendekatannya. Hal itu ditujukan kepada para tokoh ekonomi aliran monetaris dan ekspektasi rasional di Amerika Serikat dengan segala rupa peramalannya berdasarkan model-model makro ekonometris yang amat canggih. Mereka ini dalam dasawarsa tujuh puluhan dan delapan puluhan sedang berjaya (ataupun merasa dirinya berjaya). Akan tetapi pencakupan penelitiannya maupun metodologinya dianggap oleh Kuznets terlapau terbatas dalam rangka hubungan realitas ekonomi masyarakat.

Yang disebutkan diatas ini satu sama lain tidak selamanya berarti bahwa Kuznets menolak teori di bidang ekonomi. Bahkan sebaliknya Kuznets menekankan bahwa penggunaan metode kuantitatif tidak dapat ditempuh terlepas dari teori dan harus selalu diarahkan dan dikendalikan oleh teori dan harus diarahkan dan dikendalikan oleh teori. Memang dua ciri yang menonjol dalam pandangan Kuznets ialah pentingnya arti fakta dan data empirs serta pengetahuan ekonomi berdasarkan pengujian kuantitatif. Namun penafsiran dan penjelasan  tentang fakta-fakta dan pendekatan kuantitatif nya harus berlandaskan teori ekonomi, tidak dapat tidak. Dari segi ini kita melihat adanya perbedaan yang mendasar antara pangkal haluan Kuznets dengan alam pemikiran mazhab historimus dan institusionalisme. Dalam pada itu, Simon Kuznets selalu berusaha untuk ikut memperhatikan dan memanfaatkan pemikiran-pemikiran dari bidang-bidang lain, terutama ilmu sosiologi, ilmu  sejarah dan ilmu politik. Banyak karya ilmiah Kuznets mengenai masalah-masalah ekonomi, khususnya mengenai pertumbuhan ekonomi, telah dilaksanakan secara interdisipliner dengan mengikutsertakan ahli-ahli sosiologi, sejarah dan ilmu politik.

Selain sumbangan Kuznets mengenai konsep pengertian tentang perhitungan nasional dan komposisi pendapatan nasional, ia sangat berjasa di bidang penelitian perbandingan yang berkisar pada pertumbuhan ekonomi. penelitian itu mencakup penelitian terhadap sejumlah Negara dalam perjalanan sejarahnya ke arah modernisasi. Oleh Kuznets diadakan identifikasi, pemantauan, dan pengkajian mengenai fenomena pertumbuhan ekonomi, mulai dengan pertumbuhan Negara-negara di Eropa Barat sejak akhir abad XVII. Perkembangan ekonomi sejak itu dan selama abad XIX sampai saat ini oleh Kuznets dianggap sebagai era pertumbuhan ekonomi. Proses tersebut berawal di Eropa Barat yang kemudian secara bertahap membawa dampak yang meluas ke Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, sampai Jepang sejak awal abad XX ini (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55).

Pertumbuhan ekonomi yang dimaksud ditandai oleh tiga ciri pokok:

(1)   laju pertumbuhan pendapatan perkapita dalam arti nyata (riel);

(2)   persebaran (distribusi) angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya; dan

(3)   pola persebaran penduduk.

Selama satu abad lebih pertumbuhan ekonomi di Negara-negara yang dimaksud menunjukkan laju pertumbuhan pendapatan perkapita berkisar pada 15 persen rata-rata untuk tiap dasawarsa. Peningkatan pada pendapatan per kapita serupa itu belum pernah terjadi di abad-abad sebelumnya.

Sebelum era pertumbuhan kegiatan ekonomi para penduduk terpusat di sektor primer yang bersifat ekstraktif: pertanian, perikanan dan disana sini pertambangan (emas dan perak). Proses pertumbuhan ekonomi sejak itu ditandai oleh diversifikasi kegiatan sektoral dengan tumbuhnya berbagai jenis industri.

Dewasa ini di Negara-negara maju hanya sekitar 5 persen dari angkatan kerja yang berkecimpung secara produktif di sektor primer (pertanian,perikanan, kehutanan, dan pertambangan), sedangkan 35 persen bekerja di sektor sekunder (industri manufaktur dan konstruksi). Sisanya sekitar 60 persen mendapat sumber nafkahnya di sektor tersier (jasa-jasa). Sebagian besar (25-30 persen) angkatan kerja disektor tersier terlibat dalam transportasi dan distribusi barang dan sisanya bekerja di bidang pemerintahan, perbankan, asuransi, dan sebagainya. Sejalan dengan jumlah angkatan kerja yang berpindah dari sektor produksi primer ke sektor-sektor lainnya, juga terjadi transformasi pada lokasi pemukiman penduduk. Sebagai akibat gerak arus penduduk dari pedesaan menuju ke pusat-pusat kegiatan modern (rural-urban migration) juga timbul konsentrasi spasial (aglomerasi penduduk) di lingkungan kota dan sekitarnya. Fenomena urbanisasi ini merupakan suatu ciri penting yang melekat pada proses pertumbuhan (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55-56).

Meningkatnya laju pendapatan per kapita, diversifikasi sektor kegiatan ekonomi dan realokasi sumber daya dan dana dalam proses diversifikasi itu, aglomerasi penduduk di lingkungan kota dan sekitarnya, segala sesuatunya berkaitan dengan revolusi teknologi. Sejak awal era pertumbuhan, perkembangannya ditandai oleh banyaknya penemuan-penemuan baru serta inovasi-inovasi yang diterapkan dalan kegiatan ekonomi. Tenaga manusia dan hewan sebagai unsure ketenagaan dalam proses ekonomi diganti oleh tenaga uap dan listrik dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Kemudian hal itu disusul oleh peranan minyak bumi dan gas alam. Bahan mineral semakin berarti sebagai bahan baku dalam produksi berbagai jenis barang. Mekanisasi membawa perluasan skala produksi dan perubahan pada organisasi usaha. Semuanya itu disertai oleh pengembangan teknik yang baru di bidang transportasi dan komunikasi (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55).

Dalam pandangan Kuznets era pertumbuhan tidak hanya ditandai oleh peran industri manufaktur dan konstruksi. Hal yang tidak kurang penting artinya ialah modernisasi teknologis di bidang pertanian dan bidang produksi primer pada umumnya. Selain itu, kini semakin menonjol arti dan peranan pemasaran dan teknologi komunikasi. Perkembangan tersebut menyebabkan bahwa pola kegiatan ekonomi modern melintasi batas-batas antarnegara. Sebagai konsekuensi logis dari proses pertumbuhan yang dimaksud, perekonomian dunia dewasa ini berada dalam tahap interdependensi dan globalisasi yang masih terus berlangsung.

14.  Arthur Lewis

 Salah satu perumusan yang terkenal dari teori Klasik dalam konteks permasalahan pembangunan ekonomi negara-negara berkembang diungkapkan oleh ekonom zaman modern Arthur Lewis. Model pertumbuhan dengan suplay tenaga kerja yang tak terbatas merupakan model pertumbuhan Arthur Lewis. (Musleh Jawas : 2008) Pokok permasalahan yang dikaji oleh Lewis adalah bagaimana proses pertumbuhan terjadi dalam perekonomian dua sektor :

a. Sektor tradisional, dengan produktivitas rendah dan sumber tenaga kerja yang melimpah

b. Sektor modern, dengan produktivitas tinggi dan sebagai sumber akumulasi kapital

Proses pertumbuhan ekonomi terjadi apabila tenaga kerja bisa dipertemukan dengan kapital. Lewis memberikan teori mengenai proses pertemuan kedua faktor produksi ini dan proses pertumbuhan ekonomi yang ditimbulkan.

Pada saat sektor modern mempunyai sejumlah stok barang kapital tertentu. Sektor ini menggunakan tenaga kerja yang akan diberi upah sesuai dengan marginal produknya. Dengan stok kapital tertentu tersebut, maka bisa digambarkan marginal product bagi tenaga kerja yang dipekerjakan pada sektor ini (Musleh Jawas : 2008).

Ciri-ciri utama dari sektor tradisional yaitu produktivitas yang rendah dan tenaga kerja yang berlimpah. Ini berarti bahwa tingkat upah di sektor ini berada pada tingkat subsistensi (ini sejalan dengan teori-teori Klasik Smith, Malthus dan Ricardo), dan pada tingkat upah ini suplai tenaga kerja yang bersedia untuk bekerja berlimpah (artinya, apabila ada seorang pengusaha yang bersedia mempekerjakan buruh dengan tingkat upah subsistensi ini, maka bisa memperoleh jumlah buruh berapapun yang diperlukan) (Musleh Jawas : 2008).

15.  Fel’dman

G.A. Fel’dman adalah seorang ahli ekonomi Rusia yang menulis artikel “On the Theory of National Income Growth” yang diterbitkan di dalam The Planned Economy, jurnal Komisi Perencanaan Negara Soviet (GOSPLAN) pada 1928. Artikelnya merupakan suatu model teoritis yang berkenaan dengan perencanaan jangka panjang (M.L Jhinghan, 1993 : 385).

Fel’dman mendasarkan modelnya tentang pembagian keseluruhan output suatu perekonomian (W) menjadi kategori 1 dan kategori 2 pada teori marxis. Kategori 1 berkaitan dengan barang modal, baik dalam arti barang produksi maupun barang konsumsi, sedangkan kategori 2 berkaitan dengan semua barang konsumsi termasuk bahan mentah. Pembagian perekonomian menjadi dua kategori itu adalah tuntas , dalam arti tidak ada modal yang dapat di transfer dari yang satu ke yang lainnya. Jadi laju investasi ditentukan secara ketat oleh koefisien modal dan stok modal dalam kategori 1. Begitu juga output barang konsumsi ditentukan oleh stok modal dan koefisien modal di dalam kategori 2.akan tetapi pembagian investasi total (yaitu pembagian output dari kategori 1) antara kedua kategori itu sangat fleksibel. Bahkan bagian investasi total yang dialokasikan kepada kategori 1 merupakan variable kunci bagi model ini (M.L Jhinghan, 1993 : 386).

Menurut Fel’dman, unsur-unsur yang menentukan pendapatan nasional (atau output) dan laju pertumbuhan dari perekonomian adalah laju netto tahunan output keseluruhan perekonomian atau pendapatan nasional, laju tahanan investasi netto dan laju tahanan output barang-barang konsumen (M.L Jhinghan, 1993 : 387).

Model Fel’dman itu tidak menentukan berapa besaran koefisien modalnya karena di dalam model ini tidak diperlukan adanya pengkaitan antara besaan tersebut dengan variable-variabel lainnya seperti keinginan dari asset, panjangnya periode konstruksi, penawaran buruh dari faktor-faktor lain seperti besaran, susunan dan laju pertumbuhan investasi dan struktur industri.

Lagi pula, pembedaan secara tegas antara industri barang modal dan barang konsumsi tidak mudah dilakukan apabila sebagian besar industri yang ada bersifat industri barang penolong (intermediate). Logam, batu bara, transportasi, kimia, minyak, tenaga dan sebagainya. Contoh beberapa industri penolong yang barang jasanya dipergunakan di kedua kategori Fel’dman. Fel’dman barangkali dapat mengaku bahwa di Rusia pada waktu itu secara praktis logam hanya dipergunakan di dalam kategori satu saja. Pernyataan Fel’dman tersebut tidak menunjang pembagian suatu industri (seperti batubara atau transportasi) menjadi dua kategori, karena proporsi dalam masing-masing kategori akan selalu berubah-ubah sesuai dengan sifat kategori itu sendiri. setiap pembagian perekonomian berdasarkan jenis-jenis industri atau pembagian output antara konsumsi dan investasi tentu akan sulit dan bersifat subjektif (arbitrer), tetapi jelas bahwa metode Fel’dman itu menciptakan kesulitan tersendiri sehingga tidak relevan untuk digunakan pada masa kini (M.L Jhinghan, 1993 : 390).

16. Model Pertumbuhan Ekonomi Mahalanobis

Pada 1953 Mahalanobis mengembangkan model dua sektor dimana keselururuhan output netto perekonomian dianggap diproduksi hanya oleh dua sektor: sektor barang modal dan sektor barang konsumsi. Kemudian pada 1955 ia mengembangkan model empat sector (M.L Jhinghan, 1993 : 391).

  1. Model dua sektor

Mahalanobis membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu proporsi investasi netto yang dipergunakan didalam sektor barang modal dan proporsi investasi netto yang dipergunakan dalam sektor barang konsumen.

  1. Model empat sektor

Model Mahalanobis bukanlah suatu model pertumbuhan dalam arti sebenarnya. Lebih baik disebut sebagai suatu model alokasi. Karena keanggotaannya di dalam Badan Perencanaan, Mahalanobis tahu bahwa dana maksimum yang tersedia bagi investasi netto selama Pelita II diperkirakan sebesar Rs 5600 dan tujuannya ialah untuk menyediakan kesempatan kerja tambahan kepada 10-12 juta penduduk. Terhadap jumlah ini ia menambahkan kenaikan pendapatan nasional sebesar 5% per tahun selama periode pelita tersebut. Ia selanjutnya memperkirakan sepertiga dari investasi total itu ditanam di bidang industri barang industri, dan dua pertiganya untuk investasi pada ketiga sektor perekonomian sisanya. Ia menuangkan kesemua data ini kedalam satu sistem persamaan dan mendapatkan kesimpulan yang akhirnya menjadi dasar Pelita II India.

Model Mahalanobis menganggap ekonomi empat sektor terdiri dari:

  1.                   a.          sektor barang investasi (k)
  2.                   b.          sektor pabrik yang memproduksi barang konsumsi (C1)
  3.                   c.          sektor rumah tangga atau usaha kecil yang memproduksi barang konsumsi (termasuk produk pertanian) (C2) dan
  4.                  d.          sektor penghasil jasa (kesehatan, pendidikan, dan sebagainya) (C3)

(M.L Jhinghan, 1993 : 395-396).

Dalam model Mahalanobis pada jangka waktu tertentu dalam usaha mencapai suatu laju pertumbuhan ekonomi tertentu jumlah keseluruhan yang dapat diinvestasikan dibagi-bagi sedemikian rupa sehingga pembagian itu dapat menuju kearah laju pertumbuhan yang diinginkan. Tetapi karena laju pertumbuhan yang dicita-citakan itu harus cukup tinggi maka laju itu dapat dicapai dengan memperluas sektor k dan dengan ini menghasilkan jumlah barang investasi yang lebih besar. Tetapi investasi dalam sektor k dirancang untuk mendorong kenaikan daya beli dan menciptakan permintaan barang konsumsi yang agak memerlukan sedikit saja modal tetapi banyak buruh (M.L Jhinghan, 1993 : 399-400).

Model Mahalanobis bersifat membantu (instrumental) dalam menempatkan perekonomian pada lintasan yang benar di dalam perencanaan pembangunan India pada Repelita kedua dan melicinkan jalan bagi rencana lebih berani berikutnya (M.L Jhinghan, 1993 : 402).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Deliarnov. 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo       Persada

M.L Jhinghan. 1993. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan . Jakarta : Raja Grafindo Persada

Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan. Bandung:Salemba Empat

Soemitro  Djojohadikusumo. 1994. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Sadono Sukirno. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan. Jakarta: FE-UI

Nurjaka & Asep Oman. 2002. Intisari ekonomi SMU.Bandung: CV.Pustaka Setia.

http://erlan-abuhanifa.blogspot.com/2009/04/bahan-kuliah-pertumbuhan-ekonomi.html

http://www.pdf-search-engine.com/teori-pertumbuhan-ekonomi-pdf.html

http://athidanalyst.blogspot.com/2008/12/teori-pertumbuhan-pembangunan-ekonomi.html

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=pertumbuhan+ekonomi+modul+14+Ir.+Sahibul+Munir%2C+SE.MEc&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq=pertumbuhan+ekonomi+modul+14+Ir.+Sahibul+Munir%2C+SE.MEc&fp=7de3bde004b2b038

http://www.google.co.id/#hl=id&q=pengaruh+penanaman+modal+asing+dan+ekspor+terhadap+pertumbuhan+ekonomi+di+negara-negara+muslim+Musleh+Jawas&meta=&fp=7de3bde004b2b038

BIOGRAFI DAVID RICARDO


 David Ricardo adalah ekonomnya ekonom par excellence

(Paul A. Samuelson (1962 : 8)

David Ricardo, tokoh yang piawai tetapi keras kepala, membawa kendaraan ilmu ekonomi kejalur yang keliru sebuah jalan yang bagaimanapun juga, diarahkan kearah yang membingungkan oleh pengagumnya yang pandai tetapi juga keras kepala, John Stuart Mill.

(William Stanley Jevons 1965 : 11)

Ekonom inggris terkemuka David Ricardo (1772-1823) terkenal karena banyak hal. Dia adalah ekonom yang paling kaya. Dia sahabat terdekat Malthus. Dia memuji perdagangan bebas, hard money, hukum keuntungan komparatif, dan prinsip ilmu ekonomi klasik lainnya. Kebijakan laissez faire-nya sesuai dengan kebijakan Adam Smith.

  1. 1.      PENGARUH BAIKNYA…

Ricardo memiliki momen tersendiri dalam sejarah, dan momen ini sangat penting. Dukungannya terhadap uang yang sehat membuat pemerintah Inggris mengesahkan Peel Act pada 1844, yang menetapkan standar moneter anti-inflasi yang ketat, dan kecamannya terhadap restriksi perdagangan jelas membantu pencabutan Corn Law, kebijakan tarif yang terkenal buruk di Inggris disektor bahan-bahan pertanian pada 1846.

Setelah terjadi dua perubahan kebijakan ini, Inggris dengan cepat menjadi “workshop dunia”, mengimpor sebagian besar makanan dan mengekspor pakaian dan barang-barang manufaktur, dan karena itu mendorong revolusi industry. Jadi, kita bisa melihat bahwa Ricardo memang pantas untuk dipuji. Kebijakannya sejalan dengan prinsip-prinsip adam smith dan prinsip kemakmuran yang didorong oleh pasar.

Lebih jauh, Ricardo oleh banyak orang dianggap menjadikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang kokoh dengan melibatkan ketepatan matematis. Sang ekonom keuangan ini mempunyai bakat luar biasa dalam penalaran, pengembangan model analitik sederhana yang hanya melibatkan beberapa variable yang menghasilkan kesimpulan yang kuat. Pendekatan model ini diadopsi oleh banyak ekonom terkemuka, termasuk John Maynard Keynes, Paul Samuelson dan Milton Friedman diabad 20 dan membuat ekonometrik menjadi popular.

  1. 2.      … DAN PENGARUH BURUKNYA

Namun Ricardo memiliki sisi gelap. Model analitiknya seperti pedang bermata dua. Model itu memberi kita teori kuantitas uang dan hukum keuntungan komparatif, tetapi model itu juga memberi kita teori nilai kerja, hukum besi upah minimum, dan sesuatu yang oleh ekonom disebut “kejahatan ricardian” yang didefinisikan sebagai pengunaan model yang berkelebihan atau penggunaan asumsi yang salah atau menyesatkan untuk “membuktikan” hasil yang diinginkan (seperti teori nilai kerjanya). Beberapa idenya yang buruk diambil langsung oleh Karl Marx dan kaum sosialis dari buka Ricardo yang berjudul Principles. Marx memuji Ricardo sebagai mentor intelektualnya. Aliran sosialis “neo-ricardian” berkembang dibawah pengaruh Piero Sraffa, penulis biografi resmi Ricardo.

Pada dasarnya Ricardo yang menghormati Smith telah membawa ilmu ekonomi kejalan yang sangat berbeda, terlepas dari rekomendasi kebijakannya. Dia menciptakan cara berfikir ekonomi yang baru, yang jauh dari”pertumbuhan”harmoni model Adam Smith dan mengarah kepada model “distribusi” antagonistic dimana pekerja, pemilik tanah, dan kapitalis berseteru dalam memperebutkan kue ekonomi. Marx dan sosialis mengeksploitsi sistem Ricardo ini sepenuhnya. Model Adam Smith berfokus pada bagaimana cara membuat ekonomi tumbuh, sedangkan model Ricardo menekankan bagaimana ekonomi dibagi-bagi diantara berbagai kelompok atau kelas. Ricardo menekankan konflik kelas, bukan “harmoni kepentingan yang alamiah”ala Smith.

  1. 3.      KEJAHATAN RICARDIAN

TERAKHIR, ada yang namanya “kejahatan ricardian”. Para ekonom mudah tergoda oleh kejahatan itu. Mill, Walras, Pareto, Fisher, Samuelson, Mises, dan, ya, bahkan Keynes, mengalaminya. Mahasiswa dewasa ini”terpikat”olehnya (Colander dan Brenner 1992 :2).

Apa kejahatan itu ? Samuelson menyebutnya “metodologi abstrak” (Samuelson 1962 : 8). Ronald coase menyebutnya “ekonomi papan tulis”(Coase 1992 : 714 ). Secara sederhana, kejahatan ini adalah pemisahan kronis antara teori dan sejarah. Ilmu ekonomi dilepaskan dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Metodologi ini murni penalaran deduktif dan sangat matematis tanpa mengacu kepada sejarah, sosiologi, filsafat, atau kerangka pikir lainnya. Kejahatan Ricardian adalah pemikiran abstrak dan pembentukan model dengan menggunakan asumsi yang tidak realistis atau bahkan keliru. Misalnya lihat Foundation Of Economic Analysis (1947) karya Samuelson atau Production Of Commodities By Means Of Commodities (1960) karya penganut Neo-Ricardian Piero Sraffa. Buku Samuelson Isinya hanya persamaan diferensial dan asumsi-asumsi yang jauh dari kenyataan. Karya Sraffa jarang sekali merujuk pada dunia nyata.

“asal-usul dari kesalahpahaman terhadap dasar teori ekonomi berasal dari david Ricardo”, tulis Elton Mayo, seorang professor bisnis di Harvard (1945 : 38 ). Mayo mengaitkan teorisasi Ricardo yang tidak realistis dengan latar belakang sebagai pialang saham, sebuah aktifitas yang jauh dari realitas ekonomi produksi (1945:39).

  1. 4.      RICARDO MENERAPKAN TEKNIKNYA TERLALU JAUH

TEORISASI absrtak mulai disusun secara sungguh-sungguh oleh David Ricardo. Wealth Of Nation-Nya Adam Smith penuh dengan proposisi teoritis namun teorinya diikuti dengan banyak ilustrasi historis. Tidak demikian halnya dengan Ricardo. Seorang sejarawan menulis, “pikirannya yang cerdas menjadikannya seorang ahli teori yang brilian, namun dia tak pernah menunjukkan minat signifikan terhadap masa lalu”(Snooks 1993 : 23 ).

Jenis teorisasi abstrak semacam inilah yang membuat J-B Say menyebut ilmu para ekonom sebagai “para pengkhayal sia-sia”.bahkan Paul Samuelson (dia sendiri adalah pemikir abstrak) pernah mengakui, “kadang-kadang tampak bahwa mahasiswa yang paling pandai sekalipun tahu segalanya kecuali akal sehat” (Samuelson 1960:1652). Studi yang dilakukan arjo klamer dan David Colander menunjukkan kekecewaan terhadap modeling yang sangat abstrak yang banyak dipakai dalam program Ph.D ekonomi. Setelah meneliti program sarjana dienam sekolah Lvy League, Klamer dan Colander menyimpulkan, “riset ekonomi menjadi terpisah dengan dunia nyata”(1990 :x v). Formalisme semakin merajalela dibidang ini.

Model heuristic dapat berguna dalam menciptakan estimasi dan hasil yang baik, tetapi modeling juga bisa mendistorsi relitas dan menghasilkan kesimpulan yang berbahaya. Ricardo membawa teorisasinya ke titik ekstrim dimana dia menggunakan semua asumsi yang terbatas dan meragukan untuk mendapatkan kesimpulan yang dicarinya – dalam kasus ini, penegasannya bahwa harga ditentukan oleh biaya tenaga kerja.

  1. 5.      RICARDO LAHIR DARI KELUARGA YAHUDI

DAVID RICARDO adalah anak ketiga dari setidaknya 17 atau 23 bersaudara (Sraffa 1995 :24). Nama ayahnya sangat berbau yahudi, Abraham Israel Ricardo. Abraham Ricardo adalah penganut yahudi sephardic dari keturunan Spanyol-Portugal yang menetap di belanda setelah diusir oleh Spanyol pada akhir abad ke-15. Ayahnya adalah pialang yang sukses dan berusaha membangun sebuah dinasti keluarga. Dia pindah ke London pada 1760. David lahir di London 12 tahun kemudian, yakni pada tahun 1772, dari keluarga Yahudi kaya. Pendidikannya disiapkan untuk membuat dirinya mengikuti jejak ayahnya dalam dunia perdagangan dan keuangan Pada usia 14 tahun, setelah belajar disekolah yahudi Amsterdam, david dipekerjakan oleh ayahnya di London stock exchange. Ia diakui sebgai negosiator yang sangat ahli dan mahir dalam operasi-operasi sulit dan rahasia seperti arbitrage atau jual beli mata uang.

Disimak dari sejarah hidupnya, Ricardo tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi yang cukup. Namun, pekerjaanya dalam bidang pasar modal sudah digelutinya sejak berusia 14 tahun membuatnya paham tentang dunia ekonomi. James Mill, bapak John Stuart Mill adalah yang berjasa mendorong Ricardo untuk menulis tentang masalah-masalah ekonomi. Permintaan tersebut dikabulkan. Lagi pula, keberuntungan berbisnis dalam pasar modal memungkinkannya untuk pensiun pada umur empat puluh dua tahun dan memulai kariernya sebagi ekonom.

Dengan latar belakang pekerjaan di pasar modal, tidak mengherankan buku-buku yang pertama seperti The High of Bullion (1810) dan A Proof of the Deppreciation of the Bank Notes (1811) banyak membanhas tentang keuangan dan perbankan. Tahun 1815 ia menerbitkan essay on the influence of the Low Price of the Profit of Stock, yang pada 1817 judulnya diubah menjadi The Principle of Political Economy and Taxation. Buku ini ternyata mendominasi teori-teori ekonomi klasik tidak kurang setengah abad lainnya.

Ricardo sependapat dengan Smith bahwa labor memegang peranan penting dalam perekonomian. Ide yang berasal dari Smith ini kemudian dikembangkan menjadi teori harga-harga relative (theory of relative prices) berdasarkan biaya produksi, yaitu baiay labor menjadi unsure utama, disamping biaya-biaya capital. Kapital mendapat perhatian yang cukup besar dalam analisis Ricardo sebab capital tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas labor. Tetapi juga berperan dalam mempercepat proses produksi sehingga hasil produksi dapat dengan cepat dinikmati atau dikonsumsi. Perbedaan antar Smith dan Ricardo hanya dalam penekanan: Smith lebih menekankan masalah kemakmuran bangsa dan pertumbuhan, sedangkan Ricardo lebih memperhatikan masalah pemerataan pendapatan antara berbagai golongan dalam masyarakat.(Deliarnov 2007: 51-52)

  1. 6.      RICARDO MENIKAH DAN LANGSUNG KEHILANGAN WARISAN

AKAN tetapi, segalanya berubah pada 1793 ketika pada usia 21 tahun David menikahi seorang pengikut Quaker dan beralih ke agama Kristen. ( dia kelak menjadi Unitarian, dan sebagian besar saudaranya akhirnya mengikuti jejak David dan meninggalkan komunitas yahudi). Ibunya sangat terpukul sehingga dia memaksa Abraham untuk mengusir David dari rumah dan mencabut hak warisnya. Tetapi, sang ayah akhirnya berdamai dengannya. Bagaimanapun juga,David terpaksa pergi dengan berbekal ratus pound. Karena tidak punya uang sama sekali, dan karena harus menghidupi keluarganya, Ricardo terpaksa meminjam uang dan memulai menjalankan perusahaan perantara perdangagan miliknya sendiri. Walaupun tahun-tahun pertama cukup sulit, tetapi ia segera berhasil dan mandiri pada usia 26 tahun. Hal ini membuat ia mempunyai banyak waktu luang untuk meneruskan kesenangannya dalam bidang intelektual dan ilmu pengetahuan, diantaranya membangun sebuah laboratorium, mulai mengumpulkan mineral dan bergabung dengan masyarakat Geologi inggris. Dengan mengandalkan pengalamannya saat bekerja pada ayahnya dan koneksinya di stock exchange mcoffe house di jalan threadneedle, Ricardo berhasil mengumpulkan banyak kekayaan melalui kegiatan perdagangan saham dan kontraktor peminjaman pemerintah.

Ricardo mendapatkan salinan dari The Wealth Of Nations pada tahun 1779 saat berlibur dengan istrinya. Menurut sebuah kisah, setelah membaca karya Smith ia memutuskan meluangkan waktunya untuk mempelajari ilmu ekonomi. Ricardo juga bergabung dengan sebuah kelompok ahli ilmu ekonomi. Kelompok ini termasuk diantaranya adalah james mill (Ayah John Stuart Mill), Bentham dan Malthus.

Meskipun tubuhnya proporsional, namun tubuhnya kecil dan kurus. Suaranya sangat keras, dan berguna baginya saat berpidato di house of common. Menjelang akhir hayatnya dia mengeluh karena kehilangan pendengaran di salah satu telinganya dan giginya tanggal.

  1. 7.      PENSIUN, POLITIK, DAN KEMATIAN

PADA 1814, di usianya yang ke-42, ricardo menjadi tuan tanah desa, membeli tanah perkebunan yang sangat luas yang bernama Gatcomb Park di Glouscestershire (sekarang dimiliki oleh putri ann). Ricardo yang menyukai matematika, kimia, geologi, dan mineralogy sering mengadakan pertemuan intelektual di Gatcomb. Kelak dia aktif di Geological Society Of London. Minatnya terhadap ilmu ekonomi dimulai sejak 1799, ketika dia tinggal di Bath saat dia mulai membaca Wealth Of Nation (1776) Adam Smith.

Setelah dia mendapat keuntungan pada pertengahan 1810-an, dia kehilangan minat pada bursa saham dan mulai menulis secara teratur tentang persoalan-persoalan ekonomi. Pada 1817 dia mempublikasikan magnum opusnya, On The Principle Of Political Economy Band Taxation, dan pada 1819 dia membeli kursi di parlemen.

Pada 1823, diusianya yang ke-51, dia meninggal mendadak karena infeksi telinga. Dia meninggalkan seorang istri dan tujuh anak. Tanahnya dibagi secara tidak merata kepada tiga putranya, dan dia mewariskan sejumlah kekayaan kepada kawannya, Malthus dan kepada James Mill, ayah dari John Stuart Mill.

Pada tahun 1819 Ricardo membeli kursi di Majelis Rendah Inggris. Kursi ini mewakili wilayah orang irlandia di Portalington, sebuah daerah yang tidak pernah dikunjungi oleh Ricardo. Sebenarnya pada saat itu orang kaya yang membeli kursi di Parlemen bukan merupakan hal yang aneh, seperti yang bisa diduga, Ricardo segera menjadi ahli yang diakui dalam parlemen didalam persoalan keuangan, dan ia sering berbicara isu-isu ekonomi penting seperti mata uang dan perbankan, tariff, system pajak dan depresi pertanian. (Steven Presman 2002: 52)

  1. 8.      SUMBANGAN POSITIF RICARDO

            RICARDO : SANG MONETARIS (Teori Uang)

PERTAMA, sebagai mentor awal dari aliran mata uang, Ricardo mendukung kebijakan monetar  anti-inflasi yang ketat. Latar belakang teori uang adalah pada periode 1809-10, Inggris mengalami inflasi besar karena biaya perang dan bank of England mencabut standar emas. Ricardo menciptakan kontroversi dengan menulis studi ekonomi pertamanya, the High Price Of Bullion (1811), dimana dia mengatakan bahwa inflasi negerinya diakibatkan karena Bank Of England menerbitkan bank note berlebihan. Ricardo percaya pada teori kuantitas uang yang ketat, yang juga dianut oleh David Hume, yang menyatakan bahwa tingkat harga umum terkait erat dengan perubahan jumlah uang beredar dan kredit.

Untuk memulihkan situasi keuangan Di inggris, Ricardo menganjurkan pembukaan pembayaran oleh Bank Of England. Solusinya dinyatakan sebagai berikut :”pemecahan yang saya tawarkan untuk menanggulangi persoalan dalam keuangan kita adalah bank harus pelan-pelan menurunkan jumlah uang yang beredar sampai sebanding dengan logam (mulia) yang direpresentasikannya, atau dengan kata lain, sampai harga emas dan perak turun sampai senilai uangnya”(Ricardo 1876 :287 ). Ricardo mengakui kemungkinan munculnya “konsekuensi paling buruk perdagangan dan komersial Negara” sebagai akibat dari tindakan deflasioner ini, tetapi dia mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memulihkan keuangan agar mencapai nilai yang tepat dan wajar.”menurut Ricardo, hal ini tidak akan banyak menganggu jika kebijakan tersebut dilaksanakan secara bertahap ringkasnya, Ricardo memilih standar nilai tukar emas, yang bertujuan agar harga emas sama nilainya dengan uang kertas (banknote). Bank sentral tidak boleh memiliki kekuasaan bebas menetukan sendiri kebijakannya :”pihak yang mengeluarkan uang kertas harus mengatur pengeluarannya itu berdasarkan harga emas, dan bukan berdasarkan kuantitas uang kertas yang beredar”(1876:403).

Setelah Ricardo meninggal, sekelompok banker (pihak yang diuntungkan oleh teori uang) berpengaruh yang dikenal sebagai Currency School berjuang untuk mempertahankan nilai Pound Inggris. Mereka mendukung pembukaan standar mata uang, dengan emas dan perak sebagai standar. Mereka menentang manajemen diskresioner (discretionary) atas mata uang oleh bank sentral dan menganjurkan prinsip yang menyatakan bahwa semua pengeluaran uang dimasa depan harus ditambah atau dikurangi berdasarkan cadangan emas. Pada 1844, dibawah pengaruh David Ricardo, parlemen mengesahkan Peel’s Bank Charter Act (keabsahan teori) untuk memperkuat prinsip mata uang ini. Sayangnya, Peel Act gagal menjaga sistem keuangan yang sehat di inggris, sebab undang-undang ini tidak mengatur substitusi uang, khususnya rekening yang tersimpan dalam sistem perbankan. Teori uang Ricardo saat ini tidak sudah tidak relevan seperti yang sudah disebutkan tadi Peel’s Bank Charter Act mengalami kegagalan dan sekarang pada kenyataannya standar uang yang banyak digunakan oleh Negara-negara yang ada di dunia ini adalah standar uang dolar Amerika Serikat.

  1. 9.      HUKUM PENDAPATAN YANG MENURUN (Hukum pertumbuhan Ekonomi)

Di tangan david Ricardo (1772-1823) teori pertumbuhan klasik mengalami pengembangan  lebih lanjut. Pengembangan ini berupa penjabaran model pertumbuhan menjadi suatu model yang lebih tajam, baik dalam konsep-konsep yang dipakai maupun dalam hal mekanisme  proses pertumbuhan itu sendiri. Namun perlu ditekankan disini bahwa garis besar dari proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan umum  yang ditarik oleh ricardo tidak terlalu berbeda dengan teori adam smith. Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan  tersebut penduduk dan laju pertumbuhan output. Kesimpulan umumnya juga masih tetap bahwa dalam perpacuan tersebut penduduklah yang akhirnya menang, dan dalam jangka panjan perekonomian akan mencapai posisi stationer . seperti juga dengan adam smith, Ricardo mengangap bahwa jumlah factor produksi tanah (yaitu, sumber-sumber alam) tidak bisa bertambah, sehingga akhirnya bertindak factor sebagai mfaktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu masyarakat.

Perbedaan terutama terletak pada penggunaan alat analisa mengenai distribusi pendapatan (berdasarkan teori Ricardo mengenai sewa tanah yang terkenal itu) dalam penjabaran mekanisme pertumbuhan dan pengungkapan peranan yang lebih jelas dari  sector pertanian diantara sector-sektor lain dalam proses pertumbuhan.

PROSES PERTUMBUHAN

Proses pertumbuhan yang dibayangkan oleh Ricardo ditandai oleh cirri-ciri sebagai berikut :

  1. Tanah terbatas jumlahnya.
  2. Tenaga kerja (penduduk ) yang meningkat (atau menurun) sesuai dengan apakah tingkat upah diatas atau dibawah tingkat upah minimal [yang oleh Ricardo disebut tingkat upah alamiah (natural wage)].
  3. Akumulasi capital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik capital berada diatas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.
  4. Dari waktu ke waktu terjadi kemajuan teknologi.
  5. Sector pertanian dominan.

Dengan terbatasnya tanah, maka pertumbuhan penduduk ( tenaga kerja ) akan menghasilkan produk marginal (marginal product) yang semakin menurun. Ini tidak lain adalah hokum produk marginal yang makin menurun atau lebih terkenal dengan nama the law of diminishing return.  Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima tingkat upah diatas tingkat upah “alamiah”, maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah, dan ini akan menurunkan lagi produk marginal tenaga kerja, dan selanjutnya menekan kebawah tingkat upah. Proses ini akan berhenti apabila tingkat upah pada tingkat upah alamiah. Apabila, misalnya, timgkat upah ternyata turun dibawah tingkat upah alamiah, maka jumlah penduduk (tenaga kerja) menurun. Dan tingkat upah akan naik kembali pada tingkat upah alamiah. Pada posisi ini jumlah enduduk konstan. Jadi dari segi factor produksi tanah dan factor produksi tenaga kerja, ada stu kekuatan dinamis yang selalu menarik perekonomian kearah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the law of diminishing return.

Ricardo mengatakan bahwa akumulasi dan kemajuan teknologi cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Artinya  bisa mempelambat bekerjanya the law of diminishing  return sehingga memperlambat pula penurunan tingkat hidup kearah tingkat hidup minimal. Tetapi antara akumulasi capital; dan teknologi itu sendiri terdapat perbedaan peranan. Ricardo mengatakan  bahwa akumulasi capital memang bisa memperlambat penurunan  produktivitas tenaga kerja. Apabila sipekerja diberi perlengkapan alat-alat yang lebih banyak , produktivitas meningkat. Tetapi ini ada batasnya . menrut dia, akumulasi capital hanya akan dilakukan orang apabila capital menerima imbalan (keuntungan) yang cukup. Tetapi factor produksi capital inipun, apabila diterapkan pada pekerja yang menggarap sebidang tanah (sumber alam ) tertentu, akan mengalami pula penurunan produktivitas  marginalnya. Dengan lain perkataan, akumulasi capital itu sendiri akan terkena oleh bekerjanya the law of diminishing return. Akibatnya penduduk marginal dari capital terus menurun dengan adanya proses akumulasi capital tersebut. Ini selanjutnya berakibat menurunnya imbalan (keuntungan) yang diterima oleh para penanam modal. Proses akumulasi capital ini akan berhenti apabila tingkat keuntungan diperoleh penanam modal turun sampai pada tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk mendorong mereka melakukan investasi. Dan apabika akumulasi capital berhenti , maka produktivitas tenaga kerja (dus, tingkat upah) juga tidak akan bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi (diatas tingkat upah alamiah ). Kita lihat disini bahwa pada akhirnya the law of diminishing return menang, meskipun ada akumulasi capital.

Satu-satunya harapan untuk “menarik keatas” perekonomian kita adalah adanya kemungkinan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas capital. Jadi dengan adanya kemajuan teknologi, bekerjanya the law of diminishing return bisa diperlambat, dan kemerosotan tingkat upah dan tingkat keuntungan kearah tingkat minimumnya diperlambat.

Inilah inti dari proses pertumbuhan ekonomi (kapitalis) menurut Ricardo. Proses ini tidak lain adalah proses tarik-menarik antara kedua kekuatan dinamis, yaitu antara :

  1. The law of diminishing return, dan
  2. Kemajuan teknologi

Ricardo emnyimpulkan bahwa akhirnya the law of diminishing return lah yang akan menang. Akhirnya keterbatasan factor produksitanah (yang bisa ditafsirkan sebagai keterbatasan “sumber-sumber alam”) akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu Negara hanya bisa tumbuh sampai batas yang dimungkinkan oleh sumber-sumber alamnya.

Apabila potensi-potensi sumber ala mini telah dieksploitasi secar penuh maka perekonomian berhenti tumbuh. Masyarakt mencapai posisi stationernya, dengan cirri-ciri bahw :

  1. Tingkat output (GDP) konstan (berhenti berkembang )
  2. Jumlah penduduk konstan (berhenti bertambah)
  3. (1) dan (2) bersama-sama berarti pendapatan perkapita  yang konstan
  4. Tingkat upah pada tingkat upah “alamiah” (minimal)
  5. Tingkat keuntungan pada tingkat yang minimal
  6. Akumulasi capital berhenti (stok capital konstan)
  7. Tingkat sewa tanah yang maksimal

The law of diminishing return berbunyi : “ apabila salah satu input tetap, sedang input-input lain ditambah penggunaanya (variable) maka tambahan out put yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variable tersebut mula-mula menarik, akan tetapi kemudian seterusnya menurun, apabila input variable tersebut terus ditambah”) (Boediono 1999:20-21)

Tambahan output yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variable tersebut  tidak lain adalah produk marginal (marginal product) dari input variable tersebut. Oleh sebab itu the law of diminishing marginal product. Dalam perekonomian Ricardo, input yang tetap adalah tanah, dan input variabelnya adalah tenaga kerja dan capital. Produk marginal dari tenaga kerja dan capital. Produk marginal dari tenaga kerja dan dari capital akan menurun dengan semakin banyaknya kedua input variable ini digunakan (pada sebidang tanah yang tetap). Apabila pada suatu periode, tingkat upah masih diatas tingkat upah alamiah, tetapi tingkat keuntungan sudah pada tingkat keuntungan minimal, maka yang terjadi adalah :

  1. Pertumbuhan penduduk terus berlangsung, tetapi
  2. Akumulasi capital berhenti.

Apabila kemajuan teknologi cukup cepat, maka akibat dari the law of diminishing return bisa dihambat atau bahkan dinetralisir. Jadi menurut pandangan Ricardo, proses pertumbuhan merupakan perpacuan antara the law of diminishing return yang “menarik kebawah “ perekonomian tersebut.

Menurut Ricardo, pada akhirnya perpacuan tersebut akan dimenangkan oleh the law of diminishing return, meskipun selama proses perpacuan tersebut berbagai hal yang menarik bisa terjadi kadang kala kemajuan teknologi Nampak lebih unggul, kadang kala sebaliknya. The law of diminishing return adalah pengejawantahan dari fakta terbatasnya “tanah” (sumber-sumber alam) yang tersedia, sedangkan kemajuan teknologi adalah anak dari kreativitas manusia. Jadi, perpacuan tersebut adalah antara keterbatasan sumber alam dan kreativitas manusia. Ricardo, dan ekonom klasik lainnya, tidaklah menganggap enteng kreatifitas manusia. Semasa hidup mereka, berbagai kemajuan teknologi mereka telah saksikan.tetapi pada waktu itu sector pertanian masih merupakan sector yang paling dominan dinegara-negara mereka. Jadi meskipun mereka melihat berbagai kemajuan teknologi yang pesat disektor industry, pengangkutan dan sebagainya., mereka tidak bisa membayangkan bmanusia bisa melepaskan diri dari keghiatan ekonominya dari factor produksi tanah yang terbatas jumlahnya itu. Bahkan Ricardo sendiri Nampaknya belum bisa seratus persen melepaskan diri dari pengaruh kaum fisiokrat, sehingga ia berpendapat bahwa apa yang terjadi dan akan terjadi disektor-sektor lain tergantung pada apa yang terjadi di sector pertanian. Dan yang terjadi disektor pertanian Nampak tetap di dominasi oleh the law of diminishing return. Penurunan produktivitas marginal disektor pertanian berarti makin mahalnya biaya produksi setiap tambahan bahan makanan yang dihasilkan. Makin mahalnya harga bahan makanan ini akhirnya akan bertindak sebagai rem bagi pertumbuhan disektor-sektor lain. Dalam artian inilah Ricardo mengatakan bahwa apa yang terjadi disektor lain tergantung pada apa yang terjadi disektor pertanian.

KEDUA, Ricardo (bersama Malthus) mengembangkan hukum pendapatan yang menurun atau berkurang. Ricardo mengembangkan hukum ini pada 1815 dalam bukunya yang berjudul Essay On The Influence Of Law Price Of Corn On The Profits Of Stock. Pendekatan yang dipakai nya merupakan benih bagi teorisasi abstrak yang dipakai dalam Principles yang terbit pada 1817. Tesis utama Ricardo adalah kelangkaan tanah akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam mengembangkan “model jagung”ini, Ricardo menggunakan sejumlah asumsi sederhana. Pertama, dia mengasumsikan satu pertanian besar memproduksi jagung (corn). (di inggris, istilah “corn” berarti pula gandum dan hasil pertanian lainnya). Kedua, dia mengasumsikan upah tetap riil yang konstan (setelah inflasi) berada pada level subsiten, berdasarkan “{hokum besi upah” yang dianut oleh Malthus dan Ricardo. Ketiga, dia mengasumsikan capital tetap, satu sekop per pekerja untuk memproduksi hasil jagung.

Oleh karena itu, dalam model jagung Ricardo ini, semua input (tanah, tenaga kerja, dan capital atau modal )dikaitkan dengan harga jagung. Saat tenaga kerja bertambah, diperlukan pula tambahan tanah untuk mendapatkan tambahan hasil-sebab tanah yang sudah dipakai berkurang kesuburannya atau produktivitasnya. Bahkan jika ditambahkan lagi tenaga kerja dan modal untuk kuantitas tanah yang sama, akan tetap sama atau tidak bertambah. Akibatnya adalah output bersih akan menurun, dan pertumbuhan ekonomi merosot.

Dalam karya utamanya, On The Principles Of Political Economy And Taxation (1817), Ricardo mengganti “model jagung” satu sector yang sederhana ini dengan model tiga sector, tetapi argument dan hasilnya sama : menurunnya pendapatan per acre.

Untuk menunda atau membalikkan hasil yang buruk ini, Ricardo mengecam corn law, yakni restriksi dan tariff yang dikenakan pada produk pertanian di Inggris. Dengan mengimpor lebih banyak jagung [atau hasilpertanian lainnya] dan menurunkan harga, para petani dapat menurunkan upah, menikmati keuntungan yang lebih banyak, memicu lebih banyak investasi, dank arena itu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Konsekuensinya, Ricardo menjadi pendukung perdagangan bebas dan penentang Corn Law.


  1. 10.  RICARDO MENGURAIKAN HUKUM YANG AKAN MEREVOLUSIONERKAN PERDAGANGAN DUNIA (Teori Keuntungan Komparatif)

KETIGA, Ricardo mengemukakan salah satu hukum terbesar dalam ilmu ekonomi, keuntungan komparatif , yang menjadi pukulan telak bagi proteksionisme.

Seperti telah dikemukakan diatas, Ricardo mendukung perdagangan bebas semasa perdebatan corn law pada 1813-1815, tetapi kontribusinya yang terpenting untuk perdagangan bebas muncul beberapa tahun kemudian ketika dia mengembangkan hukum keuntungan komparatif di babVII dari Principles (1817).

Hukum ini menyatakan bahwa “Perdagangan Bebas Akan Menguntungkan Kedua Belah Pihak, Dan Yang Paling Mengejutkan Adalah Perdagangan Bebas Akan Membuat Satu Negara Melakukan Spesialisasi Meskipun Suatu Negara Memiliki Keuntungan Absolute Dalam Produk Tertentu”.

Teori Ricardo lain yang paling terkenal dan sering dianggap sebagai andalan utama system perdagangan bebas adalah teori keuntungan berbanding (comparative advantage). Berdasarkan teori ini, menurut Ricardo, setiap kelompok masyarakat atau Negara sebaiknya menghkhususkan diri menghasilkan produk-produk yang dihasilkan lebih efisien. Selanjutnya, kelebihan produksi atas kebutuhan dapat diperdagangkan. Hasilnya dapat digunakan untuk membeli barang-barang lain yang tidak dibutuhkan lebih banyak. Ini jauh lebih banyak dibandingkan jika barang-barang tersebut harus dihasilkan sendiri.Dengan teori keuntungan berbanding itu, tidak diragukan lagi, Ricardo dianggap sebagai arsitek utama perdagangan bebas. Berkat pengaruh Ricardo, timbul gerakan anticorn law antara tahun 1820 hingga 1850, suatu gerakan yang menentang diaturnya tata niaga jagung di Inggris. Gerakan ini dipimpin oleh Cobden dan Bright serta didukung oleh Ricardo dari pihak akademis. Mengapa sampai ada gerakan yang menantang diaturnya tata niaga jagung tersebut? Hal ini didasarkan kepada kepercayaan pakar-pakar ekonomi klasik yang menyatakan bahwa pengaturan taat niaga ini akan lebih banyak mendatangkan kemelaratan daripada keuntungan. Pengaruh ajaran Ricardo sampai ke Jerman. Mereka yang percaya bahwa perdagangan harus dibebaskan tanpa campur tangan dari pihak manapun, baik dari pemerintah maupun swasta, mendirikan suatu aliran pandangan ekonomi tersendiri yang dikenal dengan aliran Manchester (Manchester School) karena pertama kali didirikan di kota Manchester. Jika dikaitkan dengan keadaan Indonesia, pernyataan Ricardo diatas benar adanya. Misalnya dalam tata niaga cengkeh dan jeruk. Aturan tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, tetapi para petani cengkeh dan jeruk sendiri justru mnjadi pihak yang tertekan. Sayangnya, berbagai pandangan dari pakar-pakar ekonomi bahwa tata niaga cengkeh dan jeruk ini tidak akan menguntungkan petani tidak pernah didengar. (Deliarnov 2007:54)

Ahli ekonomi mengingat Ricardo terutama karena teori keunggulan komparatifnya. Teori ini memberikan justifikasi yang benar-benar digunakan oleh setiap ekonom untuk mendukung perdangan bebas. Tetapi Ricardo juga memberikan sumbangan ilmu ekonomi yang abadi. Ia menjelaskan bagaimana pendapatan nasional didistribusikan diantara upah, laba, dan sewa. Bagaimana distribusi pendapatan berubah dari masa ke masa, dan apa konsekuensi dari perubahan distribusi pendapatan bagi Inggris. Ia juga mengembangkan teori nilai kerja. Dalam the Wealth of Nations, Adam Smith berpendapat bahwa suatu Negara akan mengeskpor barang ke Negara ini lebih efisien dalam memproduksi barang tersebut. Smith menyebutnya sebgai “keunggulan absolit”. Menurut pandangan ini, jika jepang memproduksi mobil, computer, maknan dan pakaian dengan lebih efisien draipada Amerika Serikat., maka Jepang akan mengekspor semua barang-barang tersebut ke Amerika. Amerika akan mengalami deficit perdagangan dengan Jepang karena memberikan uang kepada Jepang untuk membayra barang-barang Jepang tersebut.Menurut Ricardo, tidak ada masalah apabila suatu Negara kurang efisisen dalam memproduksi semua barang. Ia berpendapat perdagangan tergantung pada keunggulan komparatif, ataun efisiensi relatif, ketimbang pada keunggulan absolute. Ricardo kemudian menunjukkan bahwa Negara akan cenderung menjual barang-barang yang relative lebih efisien dalam produksinya, atau yang relative kurang inefisien dalam produksinya. Melalui spesialisasi, maka setiap Negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan luar negeri.Sebuah contoh yang sederhana akan membantu menjelaskan teori ini. Anggap saja Jepang dan Amerika Serikat masing-masing memproduksi dua barang mobil dan beras. Di Amerika, seorang pekerja dapat memproduksi sebuah mobil atau satu ton beras dalam satu tahun tertentu. Di Jepang, seorang petani bisa memproduksi dua ton beras setahun, dan seorang pekerja pabrik dapat memproduksi tiga mobil dalam satu tahun. Untuk kedua barang tersebut pekerja Jepang jelas lebih produktif dibandingkan pekerja Amerika. Namun, pekerja Jepang relative lebih efisien dalam produksi mobil dan pekerja Amerika kurang inefisien dalam produksi beras. Pekerja Jepang tiga kali lebih efisien dalam industri mobil sedangkan inefisiensi pekerja Amerika hanya setengah dari efisiensi pekerja Jepang dalam menghasilkan beras. Yang didemonstrasikan Ricardo adalah bahwa Jepang dan Amerka sama-sama akan mendapatkan untung dari spesialisasi  dalam apa yang relatif lebih baik dalam produksi dan kemudian mereka akan saling berdagang. Argumen selanjutnya adalah sebagai berikut. Anggap saja Amerika mempunyai 200 pekerja dan Jepang 100 perkerja dan para pekerja di kedua Negara itu dibagi dalam jumlah yang sama dimana sebagian memproduksi mobil sebagian lagi memproduksi beras. Dengan demikian Amerika akan menghasilkan 100 mobil dan 100 ton beras setahun, sedangkan Jepang menhasilkan 150 mobil dan 100 ton beras setahun. Kombinasi output dari kedua Negara adalah 250 buah mobil dan 200 ton beras.Sekarang perhatikan apa yang akan terjadi jika Jepang melakukan spesialisasi dalam produksi mobil sedangkan Amerika melakukan spesialisasi dalam produksi beras. Di Jepang 100 pkekerja akan menghasilkan 300 mobil, di Amerika 200 pekerja akan menghasilkan 200 ton beras. Dengan spesialisasi output mobil dunia naik 50 buah.Pertanyaan penting lainnya yang harus dijawab adalah siapa yang akan mendapatkan output ekstra ini. Ricardo mencatat bahwa hal ini tergantung pada nilai pertukaran antara dua barang tersebut. Jika Jepang menukar mobil 100 dengan 100 ton beras Amerika, Jepang kini mempunyai 200 mobil (angka produksi 300 dikurangi 100 yang diperdagangkan dengan Amerika) dan 100 ton beras (200 yang diproduksi didalam negeri dikurangi 100 yang ditukar dengan mobil). Disini semua keuntungan dari spesialisasi akan jatuh ke pihak Jepang. Di pihak yang lain, jika Jepang menukar 150 mobil dengan 100 ton beras Amerika, semua keuntungan dari spesialisasi  (50mobil) akan jatuh ke tangan Amerika.Didalam batas-batas ini (1 ton beras ditukar 1 mobil dan 1 ton beras ditukar dengan 1.5 mobil) kedua Negara akan mendapatkan keuntungan dari pertukaran ini. Lebih jauh lagi, karena kedua Negara dapat memperoleh keuntungan dari spesialisasi ekonomi dan perdagangan hanya terjadi jika nilai tukar berada dalam batas-batas ini, maka kedua Negara ini mempunyai dorongan yang kuat untuk menjaga agar nilai tukar antar mobil dan beras tetap berada didalam kisaran ini (atau nilai tukar antara dolar dan Amerika yen Jepang akan menempatkan perdagangan dalam batas-batas tersebut). Sayangnya Ricardo tidak menjelaskan dimanakah nilai tukar actual akan berada dalam batas-batas tersebut, atau bagaimana keuntungan dari perdaganagn ini secara actual akan terbagi untuk masing-masing Negara. Tugas ini belakangan ini akan diambil alih oleh John Stuart Mill. (Steven Presman 2002:52-54)

Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan lintas negara. Negara memproduksi sebagian kebutuhannya sendiri dan mengekspor kelebihannya, kemudian mengimpor apa yang tidak diproduksinya. Kita mungkin bertanya-tanya, kenapa negara melakukan perdagangan internasional, bukannya menikmati semua hasil produksinya sendiri? Jika negara yang memiliki sumber daya yang sangat lengkap, bukankah akan lebih baik ia memproduksi semuanya untuk digunakan sendiri, sehingga ia tidak perlu mengekspor dan mengimpor?

Alasan negara melakukan perdagangan internasional didasari oleh teori Keuntungan Komparatif (comparative advantage), yang akan dijelaskan leih lanjutr di bagian bawah. Namun secara sederhana, adanya perdagangan akan menciptakan spesialisasi, yaitu setiap negara dapat menspesialisasikan pada barang dan jasa tertentu. Spesialisasi akan meningkatkan produktivitas, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan standar hidup semua negara yang terlibat didalamnya. Perdagangan internasional merupakan jalan untuk menuju kemakmuran negara-negara.

Perdagangan Internasional Vs. Perdagangan Domestik

Ada tiga perbedaan utama antara perdagangan internasional dengan perdagangan domestik :

  1. Peluang/horizon perdagangan yang lebih luas. Negara-negara bisa menjual barang/jasanya ke negara lain dan bisa membeli barang/jasa dari negara lain. Bayangkan jika tidak ada perdagangan, orang Indonesia tidak akan memiliki mobil, orang Amerika tidak dapat makan pisang, seluruh dunia tidak dapat menikmati film hollywood, dls.
  2. Adanya kedaulatan bangsa. Pada perdagangan internasional, bangsa-bangsa dapat mengatur aliran barang/jasa, tenaga kerja, dan keuangan. Negara-negara menunjukkan kedaulatannya disini. Sementara di perdagangan domestik, aliran perdagangan bebas tanpa regulasi yang berarti dari negara.
  3. Penggunaan kurs tukar. Dalam melakukan perdagangan internasional, negara-negara menggunakan kurs tukar yang berbeda-beda. Pengekspor software dari Amerika ingin dibayar dalam USD, sedangkan pengekspor beras dari Thailand ingin dibayar dengan Bath Thailand. Pengimpor (pembeli) biasanya harus membayar barang impor dengan mata uang negara pengekspor (penjual). Ini berbeda dengan perdagangan domestik yang hanya menggunakan satu kurs tukar. Perdagangan internasional juga membutuhkan sistem keuangan internasional yang dapat memastikan kelancaran aliran mata uang ini.

Sumber-sumber Perdagangan Internasional

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional :

  1. Keragaman/diversitas sumber daya alam. Ini berhubungan erat dengan factor endowment, yaitu apa yang telah dimiliki secara alamiah oleh sebuah negara. Negara-negara misalnya dapat kaya akan minyak, hasil laut, memiliki hutan yang luas, dikelilingi oleh laut, dls. Ini merupakan contoh factor endowment yang dimiliki negara-negara. Negara kemudian memanfaatkan dengan menspesialisasikan pada factor endowment yang dimilikinya. Misalnya, negara yang kaya minyak dan bahan tambang lainnya dapat menspesialisasikan pada produksi minyak dan hasil tambang untuk kemudian di ekspor dan ditukar (mengimpor) dengan apa yang tidak diproduksinya, negara yang dikelilingi lautan dapat menjadikannya sebagai pusat pelabuhan dan transit bagi kapal-kapal perdagangan dunia, dls.
  2. Perbedaan selera (preferensi). Misalnya negara A mampu memproduksi daging sapi dalam nilai yang sama dengan negara B menghasilkan ikan, namun penduduk negara A lebih senang mengkonsumsi ikan dan penduduk negara B lebih senang mengkonsumsi daging sapi. Ini mendorong terjadinya perdagangan internasional antar kedua negara.
  3. Perbedaan biaya. Ini berkaitan erat dengan biaya produksi. Jika negara-negara melakukan spesialisasi, maka skala ekonomis akan tercapai dan biaya produksi per unit akan semakin murah. Produksi barang/jasa tertentu cenderung difokuskan pada negara tertentu, yang memiliki spesialisasi untuk barang/jasa tersebut. Misalnya saja, produksi software cenderung dilakukan di Amerika, produksi fashion kelas dunia di Perancis (kalau yang ini mungkin bukan karena biaya produksi, tapi keunggulan lokasi yang memberi “brand dan kualitas’ tertentu bagi hasil produksi), produksi sparepart mobil banyak dilakukan di Brazil, dan masih banyak contoh lainnya. Selain itu, perbedaan biaya tentunya juga ditentukan oleh harga bahan baku, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lainnya.

Teori Keuntungan Komparatif

Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.

Agar terlihat sederhana, diasumsikan ada dua negara (Amerika dan Eropa) dan dua output (pizza dan pakaian). Keduanya memiliki sumber daya masing-masing 120 jam tenaga kerja (TK) untuk memproduksi pizza dan pakaian. Namun Amerika mampu memproduksi i unit pizza dengan 1 jam TK dan 1 unit pakaian dengan 2 jam TK. Sedangkan Eropa membutuhkan 3 jam TK untuk memproduksi 1 unit pizza dan 4 jam TK untuk pakaian.

Sekedar keterangan, Amerika mampu memproduksi keduanya dengan jam TK (input) yang lebih sedikit daripada Eropa. Menurut Teori Keuntungan Absolut (Absolute Advantage), Amerika seharusnya memproduksi keduanya sendiri. Namun tidak demikian menurut teori keuntungan komparatif. Kita lihat perbandingannya dibawah dengan menggunakan teori keuntungan komparatif :

Sebelum melakukan perdagangan, produksi di kedua negara menghasilkan upah riil yang berbeda bagi TK. Upah riil bagi TK di Amerika adalah 1 pizza atau 1/2 pakaian. Sementara di Eropa, upah riil TK hanya 1/3 pizza atau 1/4 pakaian. Artinya upah di Eropa lebih rendah dibandingkan di Amerika dan TK di Eropa memiliki daya beli yang relatif lebih kecil. Ini tentunya juga menimbulkan perbedaan biaya produksi, dan jika pasar adalah persaingan sempurna, harga pizza dan pakaian akan berbeda di kedua negara.

Sementara itu, mari kita lihat berapa total output yang mampu diproduksi kedua negara tanpa melakukan perdagangan. Jika diasumsikan dari total 120 jam TK (input) yang tersedia di tiap negara separuhnya dialokasikan untuk produksi pizza dan separuhnya lagi dialokasikan untuk produksi pakaian, maka total produksi kedua negara adalah sebagai berikut :

Dengan input 120 jam TK yang dimiliki masing-masing negara, jika dialokasikan separuh-separuh, Amerika mampu memproduksi 60 pizza (60 jam TK / 1) dan 30 pakaian (60 jam TK / 2). Sedangkan Eropa mampu memproduksi 20 pizza (60 jam TK / 3) dan 15 pakaian (60 jam TK / 4). Dengan demikian, total produksi yang dihasilkan kedua negara adalah 125 unit, yang terdiri dari pizza dan pakaian.

Menurut teori keuntungan komparatif, Amerika seharusnya hanya memproduksi pizza dan Eropa memproduksi pakaian. Ini karena produksi pakaian relatif lebih mahal bagi Amerika, dengan rasio harga produksi 2 dibandingkan dengan 4/3 yang mampu diproduksi Eropa (lihat gambar 1). Sedangkan pizza relatif lebih mahal bagi Eropa karena rasio harga produksinya adalah 3/4 dibandingkan dengan 1/2 yang mampu diproduksi Amerika (lihat gambar 1). jadi, perbandingan dalam teori ini adalah berdasarkan harga relatif di kedua negara, bukan hanya di satu negara.

Sebenarnya, jika tidak ada regulasi larangan ekspor-impor, perdagangan antar ekduanya akan tercipta secara alamiah. Jika keduanya terus memproduksi pizza dan pakaian sendiri (tidak melakukan perdagangan), maka akan terjadi perbedaan harga yang akan mendorong arbitrasi. Dengan asumsi biaya transpotasi tidak ada atau relatif sangat kecil, Amerika kemudian akan mengekspor pizza ke Eropa dan Eropa akan mengekspor pakaian ke Amerika. Karena biaya produksi yang lebih murah, harga pizza Amerika yang diekspor juga akan lebih murah dan ini mendorong harga pizza di Eropa turun. JIka harga pizza di eropa terlalu rendah bagi produsen Eropa, mereka akan menutup produksinya karena tidak menguntungkan lagi. Akhirnya mereka akan beralih ke produksi yang lebih menguntungkan, yaitu pakaian. Sedangkan kebutuhan pizza di Eropa akan dipenuhi dengan impor. Hal yang sama juga terjadi terhadap pakaian di Amerika. Pada akhirnya, perbedaan harga akan membuat Amerika hanya memproduksi Pizza dan Eropa hanya memproduksi pakaian.

Setelah melakukan perdagangan, total output kedua negara adalah sebagai berikut :

Pada gambar diatas, Amerika menggunakan semua inputnya (120 jam TK) untuk memproduksi pizza saja, sehingga menghasilkan 120 pizza (120 jam TK / 1). Sedangkan Eropa menggunakan semua inputnya untuk memproduksi pakaian saja, sehingga menghasilkan 30 pakaian (120 jam TK / 4). Ternyata total output kedua negara meningkat dengan melakukan spesialisasi produksi ini, yaitu menjadi 150 unit.

Ilustrasi diatas menjelaskan mengapa negara-negara perlu melakukan perdagangan internasional dan bagaimana negara yang terlibat saling memperoleh keuntungan.

Pengaruh meningkatnya globalisasi dan perdagangan internasional merupakan subyek yang hingga kini selalu diwarnai perdebatan dalam ilmu ekonomi. Di satu sisi, terdapat madzhab klasik dengan teori Ricardian keunggulan komparatif – yang merupakan teori ekonomi paling dikenal luas dan salah satu building blocks ilmu ekonomi, yang memprediksikan perdagangan internasional akan memperbaiki kondisi ketimpangan. Di sisi lain, observasi langsung secara umum dan bukti-bukti empirik di beberapa negara justru menunjukan kondisisebaliknya.

Di Amerika Serikat, sebagai contoh, mayoritas pakar beranggapan bahwa perdagangan internasional bertanggung jawab terhadap 20 persen pengurangan pendapatan golongan berpenghasilan rendah – relatif terhadap golongan berpendapatan tinggi (Rodrik, 1997). Sementara dari sampel 125 negara, termasuk diantaranya negara maju dan berkembang, Lundberg dan Squire (1999) menemukan hubungan negatif perdagangan internasional dan pertumbuhan pendapatan dari 40% penduduk termiskin.
Begitu pula halnya dengan Indonesia. Terlepas dari meningkatnya volume ekspor Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Belum terdapat bukti-bukti kuat yang menunjukan bahwa perdagangan internasional mampu memperbaiki kondisi ketimpangan dalam distribusi pendapatan. Walau terdapat banyak indikasi adanya perbaikan kondisi ketimpangan dalam beberapa dekade terakhir. Seperti yang ditunjukan oleh perbaikan indeks Gini, dari 0.40 pada tahun 1971 menjadi 0.31 pada tahun 1999. Hal ini lebih disebabkan oleh transfer pendapatan dari Pemerintah, dalam bentuk Inpres dan Banpres, ketimbang peningkatan produktifitas dan efisiensi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah (Ikhsan-Modjo, 2000).

Tidak mengherankan bila banyak pihak, termasuk para ekonom, yang bersikap skeptis terhadap keabsahan teori kunggulan komparatif. Terutama dalam kegunaannya memprediksi dampak dari hubungan ekonomi antar negara terhadap distribusipendapatan.

Menyadari kelemahan ini, banyak ekonom yang kemudian muncul dengan gagasan baru untuk merevisi teori kunggulan komparatif, terutama dalam pengaplikasiannya kedalam analisis distribusi pendapatan. Salah satunya adalah Eric Maskin, guru besar Princeton University dan Michael Kremer, ekonom dari Harvard University.
Model dari Maskin, pada dasarnya, berangkat dari kerangka mazhab ekonomi klasik tentang persaingan sempurna sebagaimana halnya model keunggulan komparatif dari David Ricardo. Perbedaannya, bila dalam teori keunggulan komparatif konvensional hanya diandaikan terdapat dua tingkat ketrampilan pekerja dalam suatu negara: pekerja berketrampilan tinggi dan pekerja berketrampilan rendah. Maka dalam model yang dikembangkan Maskin, terdapat bermacam-macam, lebih dari dua, tingkat ketrampilan pekerja. Tentu saja asumsi ini lebih merefleksikan kondisi ekonomi riil di berbagai negara, yang semakin kompleks, dengan berbagai macam tingkat ketrampilan pekerja.
Hasil yang didapatkan dari model Maskin, perluasan perdagangan internasional menyebabkan peningkatan pendapatan pekerja berketrampilan di atas rata-rata dan memperburuk pendapatan pekerja bertrampilan di bawah rata-rata. Atau dengan kata lain, sebagaimana telah dikonfirmasi oleh banyak pengamatan empirik, perdagangan internasional memperburuk kondisi ketimpangan di suatu negara.
Kelemahan teori klasik Comparative Advantage (Hamdy Hady 2004:38) adalah sebagai berikut:

  1. Teori klasik Comparative Advantagemenjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena adanya perbedaan fungsi factor produksi (tenaga kerja). Perbedaan produktivitas ataupun perbedaan efisiensi harga barang yang sejenis diantara kedua Negara.
  2. Jika fungsi factor produksi (tenaga kerja) sama atau produktivitas dan efisiensi di dua Negara sama, maka tentu tidak akan terjadi perdaganagan internasional karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama di kedua Negara
  3. Pada kenyataanya, walaupun fungsi factor produksi (produktivitas dan efisiensi) sama diatara dua Negara, ternyata harga barang yang sejenis dapat berbeda, sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. Dalam hal ini teori klasik tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga untuk barang/produk sejenis walaupun fungsi factor produksi (produktivitas dan efisiensi) sama dikedua Negara.
  4. Untuk itu teori modern dari Heckscher-Ohlin atau teori H-O menjelaskan bahwa walaupun fungsi factor produksi (tenaga kerja) dikedua Negara sama, perdagangan internasional akan tetap dapat terjadi. Ini disebabkan karena adanya perbedaan jumlah/ proporsi factor produksi yang dimiliki oleh masing-masing Negara, sehingga terjadilah perbedaan harga barang yang akan dihasilkan. Teori modern H-O ini dikenal sebagai “The proportional factor theory”.
  1. 11.  DOKTRIN YANG RUMIT

DOKTRINNYA yang terkenal ini muncul setelah melalui diskusi panjang dengan kawannya sesama ekonom, James Mill, ayah dari John Stuart Mill dan Robert Torrens sebagai pencipta hukum ini (Rothbard 1995:96-98). (sejarahwan selalu mempelajari anteseden yang menemukan prinsip yang terkenal. Bagaimanapun juga mungkin tidak ada yang baru dimuka bumi ini. Meskipun demikian Ricardo-lah yang memopulerkan konsep ini).

  1. 12.  RICARDO MENGGUNAKAN CONTOH TERKENAL UNTUK MEMBUKTIKAN PENDAPATNYA

RICARDO mengilustrasikan hukum keuntungan komparatif dengan contoh terkenal produk pakaian Inggris dan anggur Portugal (Ricardo 1951:133-42). Sekali lagi untuk menunjukkan poin ini, dia menggunakan contoh yang sangat sederhana. Misalkan untuk memproduksi satu pakaian inggris memerlukan 50 pekerja sedangkan Portugal 25 pekerja. Dilain pihak, untuk produk anggur Portugal membutuhkan jumlah yang sama, yakni 25, sedangkan Inggris membutuhkan 200 (kita sedikit mengubah angka Ricardo untuk memudahkan pemahaman-lihat de vivo 1987:194).

Tabel berikut ini meringkaskan situasi dua Negara :

Jumlah pekerja per unit

Inggris Portugal
1 unit pakaian 50 25
1 unit anggur 200 25

            Seperti terlihat di tabel, Portugal memiliki keuntungan absolute dalam produksi kedua barang. Oleh karena itu, Portugal akan memproduksi pakaian dan anggur, dan mengekspornya ke inggris. Pengamat yang tidak teliti mungkin menyimpulkan bahwa, dalam kondisi seperti itu, tampaknya Portugal tidak akan mendapat keuntungan jika hanya berspesialisasi pada satu produk dan melakukan perdagangan dengan Inggris dan Portugal mempunyai keuntungan absolute pada produk pakaian dan anggur. Tetapi Ricardo dengan cerdas menunjukkan bahwa spesialisasi dan perdagangan adalah menguntungkan.

Begini argumennya : “misalkan Portugal mengambil 25 pekerja dari produksi pakaian dan mempekerjakannya pada produksi anggur. Hasilnya akan menaikkan satu unit anggur dan menurunkan satu unit pakaian di Portugal. Jika pada saat yang sama Inggris mengambil 100 pekerja dari industry anggur dan mempekerjakannya untuk membuat pakaian, maka Inggris akan menambah dua unit pakaian dan kehilangan setengah unit anggur”.

Jika kita menjumlahkan total output kedua negara setelah spesialisasi ini dilakukan, kita akan sampai pada kesimpulan yang mengherankan : akan ada tambahan satu unit pakaian dan satu setengah unit anggur yang diproduksi dalam agregat sebagai hasil dari perdagangan!

Ricardo membuat temuan yang luar biasa : perdagangan antar kedua Negara akan menaikkan output total, bahkan ketika satu Negara memiliki keuntungan alamiah diatas Negara lainnya.

Lebih jauh, hukum keuntungan komparatif Ricardo dapat diaplikasikan dalam satu negara, bukan hanya antarnegara. Seorang dokter mempunyai keuntungan absolute dalam hal pengobatan dan kerja secretariat, tetapi dokter harus melakukan spesialisasi dalam pengobatan dan menyewa sekretaris jika dia ingin memaksimalkan pendapatanya. Hukum keuntungan komparatif bekerja pada setiap perdagangan dan produksi.

Argument klasik untuk mendukung perdagangan bebas, yang dipimpin Adam Smith, David Ricardo, dan lainnya, telah dikemukakan sedemikian kuatnya sehingga hambatan perdagangan perlahan-lahan berkurang sejak 1830-an (lihat update 1). James Wilson, seorang pendukung perdagangan bebas, sangat terkesan dengan argument Smith dan Ricardo sehingga pada 1843 dia memublikasikan The Economist, sebuah majalah mingguan yang diabdikan untuk “perdagangan bebas dan pasar bebas”.Wilson bahkan mengatakan, “kami betul-betul percaya bahwa perdangan bebas, hubungan seksual bebas, akan lebih berguna ketimbang cara lainnya dalam mengembangkan peradaban dan moralitas diseluruh dunia-ya, untuk menghilangkan perbudakan itu sendiri” (Edwards 1993:21). Dengan bantuan menetunya, Walter Bagehot, dan penulis-penulis seperti Herbert Spencer, The Economist pelan-pelan menjadi majalah yang sangat berpengaruh didalam politik internasional serta ekonomi dan keuangan internasional. Sekarang pelanggannya telah mencapai lebih dari satu setengah juta orang.

Beberapa tahun kemudian- pada 1846-Corn Laws dicabut dan Inggris segara menjadi kekuatan industri baru dengan mengimpor bahan pangan dan mengekspor barang-barang manufaktur. Seluruh dunia kemudian ikut melakukan pengurangan hambatan perdagangan mereka.

  1. 13.  “BOOK OF HEADACHES”RICARDO

KEEMPAT,”model jagung” yang dangkal menimbulkan kemacetan dalam perekonomian.

Ricardo adalah sosok yang penuh paradox, seorang ekonom yang berpengaruh baik sekaligus buruk terhadap dunia : baik dalam topangan teoritisnya untuk uang yang sehat dan perdagangan bebas, dan buruk dalam model makro kepentingan kelas yang saling bertentangan.

Pendekatan Ricardo sangat berbeda dengan pendekatan Adam Smith. Wealth Of Nation Smith penuh dengan contoh yang hidup dan jelas, sedangkan Principles Ricardo bersifat abstrak dan membosankan, penuh deduksi ala Euclidian, tanpa studi kasus historis. Para mahasiswa kerap menyebutnya “Ricardo’s Book Of Headaches”(St.Clair 1965 :x xiii).

Smith mengembangkan ilmu ekonomi yang kuat dengan fokus pada “tangan gaib” yang menciptakan kemakmuran dan pada bagaimana modal kerja yang dipadukan dengan tenaga kerja dan tanah akan menciptakan lebih banyak kekayaan bagi keuntungan semua orang. Peran tuan tanah, buruh, dan kapitalis dalam menciptakan nilai hanya menempati tempat pinggiran dalam buku smith, tetapi ulasannya bersifat kritis. Tema utamanya adalah pertumbuhan, bukan distribusi pendapatan.

Dilain pihak, buku Ricardo lebih memfokuskan pada hal-hal yang bukan menjadi titik perhatian smith. Buku Ricardo menjadi sebuah buku “yang penuh antagonism dan pertentangan”(Chamberlain 1965:75).

  1. 14.  RICARDO BERFOKUS PADA DISTRIBUSI, BUKAN PERTUMBUHAN

DALAM, sebuah suratnya kepada Malthus, Ricardo menjelaskan,”ekonomi politik menurutmu adalah penelitian tentang sifat dan penyebab kekayaan [pandangan adam smith] ; tetapi kupikir sebaiknya ia dinamakan penelitian tentang hukum-hukum yang menentukan pembagian produk industry diantara kelas-kelas yang menyetujui dalam rumusannya” (Rothbard 1995 : 82).

  1. 15.  HUKUM UPAH BESI DAN PENURUNAN PROFIT MENURUT RICARDO (Teori upah alami)

Teori upah alami (natural Wages), Ricardo menjelaskan bahwa nilai tukar suatu barang ditentukan oleh ongkos yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut. Ongkos itu berupa biaya untuk bahan mentah dan upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk dapat bertahan hidup (subsisten) bagi buruh yang bersangkutan. Upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk sekedar dapat bertahan hidup ini disebut upah alami (natural wage). Menurut Ricardo, kalAu harga yang ditetapkan lebih besar dari biaya-biaya (termasuk upah alami), dalam jangka pendek perusahaan akan menikmati laba ekonomi. Adanya laba ini akan menarik perusahaan-perusahaan lainnya masuk pasar. Masuknya perusahaan-perusahaan baru berarti produksi akan meningkat, dan sebagai akibatnya akan terjadi kelebihan produksi (over supply) di pasar. Kelebihan penawaran barang akan mendorong harga-harga turun kembali pada keseimbangan semula. Karena biaya-biaya bahan mentah relative konstan, Ricardo menyimpulkan bahwa yang paling menentukan tingkat harga adalah tingkat upah alami, yang besarnya hanya cukup agar para buruh dapat bertahan hidup saja (hidup secara subsisten). Menurut Ricardo, besarnya tingkat upah alami ini ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan setempat (custom). Biasanya tingkat upah alami ini naik proporsional dengan standar hidup masyarakat. Akan tetapi, teori yang semula dimaksudkan untuk menjelaskan tentang nilai tukar suatu barang atau komoditas ini akan diterangkan kemudian oleh kaum sosialis dicap sebagai teori upah besi (iron law of wages). Teori ini akan mengikat kaum buruh pada suatu lingkaran setan yang tidak mungkin dilepaskan.(Deliarnov 2007:53)

SISTEM Ricardo berakibat tragis bagi semua orang kecuali pemilik tanah. Buruh dalam sistem Ricardo adalah unit-unit yang seperti mesin dan hanya mendapatkan upah subsisten dalam jangka panjang. Jika upah naik, pekerja akan punya lebih banyak anak, yang pada gilirannya akan menaikkan pasokan (supply) tenaga kerja, dan memaksa upah turun kembali. Jadi, “hukum besi upah” Ricardo menghadirkan gambaran tragis bagi pekerja atau buruh.

Pandangannya tentang profit juga tak lebih baik. Kapitalis tak dilihat sebagai pandangan hidup yang memiliki “ kecenderungan untuk berusaha, melakukan barter dan perdagangan” tetapi sebagai segerombolan orang yang menjemukan dan seragam yang secara mekanis menyimpan dan mengumpulkan capital. Profit hanya dapat meningkat dengan menurunkan upah, dan Vice Versa. Dalam sistem Ricardo, tidak ada ruang untuk upah tinggi dan profit tinggi pada saat bersamaan. Dalam Principles, Ricardo menyebut hubungan yang berkebalikan antara upah dan profit ini sebagai “teorema distribusi fundamental”. Dia berkali-kali mengatakan,”jika upah naik, maka profit akan turun” (Ricardo 1951 vol.1:111) dan “profit tergantung kepada upah’’(1951 vol.1:143 35).

Yang lebih buruk, dalam jangka panjang profit atau laba cenderung jatuh karena “hukum pendapatan yang menurun”. Dibawah pandangan Ricardo yang buram ini, upah yang tinggi akan memicu pertambahan penduduk, yang berarti lebih banyak mulut yang harus disuapi, dan itu penggunaan tanah bertambah karenanya produktivitasnya menurun. Harga gandum akan naik, pemilik tanah akan untung, tetapi profit pekerja menurun karena kapitalis harus membayar pekerja lebih tinggi agar mereka tidak kelaparan (karena naiknya harga makanan).

  1. 16.  SERANGAN MEMATIKAN RICARDO TERHADAP PEMILIK TANAH (Teori Sewa/Distribusi pendapatan)

SATU-satunya pihak yang untung dalam gambaran bauran Ricardo adalah pemilik tanah. Mereka mendapatkan rente lebih bersih saat harga benih naik. Petani penyewa tidak mendapat keuntungan dari harga yang tinggi itu karena mereka harus membayar sewa yang lebih tinggi. Ricardo merpetahankan kata-kata Adam Smith : “pemilik tanah senang memungut panen ditempat dimana mereka tak pernah menanam” (Smith 1965 [1776]:49).

Menurut sistem fatalistic Ricardo, upah cenderung menuju ke level subsisten, dalam jangka panjang profit menurun, dan pemilik tanah terus mengumpulkan pendapatan mereka yang diperoleh secara tidak adil. Seperti dinyatakan oleh Oswald St. Clair, pemilik tanah,”meski tidak menyumbangkan apapun dalam pekerjaan atau memberikan pengorbanan, bagaimanapun juga akan terus mendapatkan tambahan bagian kekayaan yang dihasilkan oleh komunitas”(St.Clair 1965:3)

Marx dan kaum sosialis mengambil pandangan Ricardo yang mengecam pemilik tanah yang ongkang-ongkang ini. Kritik Ricardo juga mendorong Henry George untuk melakukan nasionalisasi tanah dan menganjurkan gerakan pajak tunggal

Dalam teori tentang sewa tanah ia menjelaskan bahwa jenis tanah berbeda-beda. Ada yang subur, kurang subur hingga tidak subur sama sekali. Produktivitas tanah yang subur lebih tinggi. Dengan demikian, untuk menghasilkan satu-satuan unit produksi diperlukan biaya-biaya (biaya rata-rata dan biaya-biaya marginal) yang lebih rendah pula. Makin rendah tingkat kesuburan tanah, jelas makin tinggi pula biaya rata-rata dan baiya marjinal untuk mengolah tanah tersebut. Makin tinggi biaya-biaya, dengan sendirinya keuntungan perhektar tanah menjadi semakin kecil pula. Berdasarkan penjelasan diatas, layak jika untu sewa tanah yang lebih subur lebih tinggi dibandingkan dengan swea tanah yang kurang subur, apalagi yang tidak subur.Teori tentang sewa tanah sebetulnya pernah dibahas oleh kaum fisiokrat dan Adam Smith. Akan tetapi, menurut kaum fisiokrat dan Adam Smith tingkat sewa ditentukan oleh tanah yang paling subur. Hal ini sangat bertolak belakang denga teori Ricardo. Bagi Ricardoyang menentukan tingginya tingkat sewa bukanlah tanah yang paling subur, melainkan tanah marjinal (marjinal land), yaitu tanah yang paling tidak subur yang terakhir sekali masuk pasar. Perbedaan ininsangat prinsipil bagi Ricardo. Dalam studinya tentang factor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya sewa tanah Ricardo menggunakan analisis yang sama sekali baru dalam pembahasan ekonomi, yaitu pendekatan analisis marjinal (marginal analysis). Analisis marjinal ini dikemudian hari ternyata sangat penting dalam pengembangan teori-teori ekonomi, setelah dikembangkan oleh pakar-pakar neoklasik. (Deliarnov 2007:52-53)

Teori distribusi pendapatan yang pertama kali. Ricardo juga mengemukakan konsekuensi praktis dari teorinya ini.Teori distribusi Ricardo mengandung tiga elemen; teori sewa, sebuah teori untuk menjelaskan upah dan sebauh teori     Laba. Teorinya memperlihatkan bagaimana pendapatan nasional dibagi menjadi tiga kategori ini, dan apa yang terjadi pada sewa, upah dan laba ketika ekonomi tumbuh. Dalam menganalisa sewa Ricardo mengikuti Malthus (1970) sebelumnya, yaitu teori sewa diferensial. Menurut teori diferensial, sewa berasal dari perbedaan kesuburan dari berbagai bidang tanah. Apabila tersedia persediaan tanah yang kaya dan subur yang berlimpah, orang-orang tidak akan membayar untuk penggunaan tanah ini dan tidak akan ada biaya sewa tanah.Tetapi biasanya ada keterbatasan persediaan tanah yang baik. Ketika sebagian tanah yang paling subur habis dipakai, maka bidang tanah yang paling subur yang selanjutnya harus diolah juga. Keuntungan dari orang-orang yang mempunyai tanah yang paling subur akan segera bertambah. Jika tanah yang paling subur menghasilkan sepuluh karung jagung persetengah hektar dan tanah terbaik yang kedua menghasilkan delapan karung jagung per setengah hektar, maka beberapa petani seharusnya mau membayar sebanyak mendekati dua karung jagung untuk penggunaan tanah yang terbaik ketimbang tanah terbaik yang kedua.Ketika tanah yang dipakai semakain lama semakin memburuk kualitasnya, sewa diferensial akan naik. “Ketika tanah kualitas ketiga ditanami, sewa tanah yang kedua akan segera meningkat, dan diatur dengan perbedaan kemampuan produktif mereka. Pada saat yang sama sewa untuk kualitas pertama akan naik” (Ricardo 1951-5, vol.1, hlm 70). Jika tanah terbaik yang ketiga menghasilkan tujuh karung jagung per setengah hektar, sewa atas tanah terbaik pertama akan naik sekitar tiga karung per setengah hektar, sedangkan bidang tanah yang kedua kini meminta sewa sebesar satu karung per setengah hektar. Upah pekerja, menurut Ricardo, tergantung pada keperluan subsistensi yaitu kebutuhan minimum yang diperlukan pekerja agar dapat bertahan hidup. Berbeda dengan Smith, Ricardo menginterpretasikan kebutuhan minimum ini dalam arti yang konvensional ketimbang dalam arti fisik, kebutuhan minimum “tergantung kepada lingkungan dan adat istiadat orang”(Ricardo 1951-5, vol.1, hlm.97). Ketika standar umum kehidupan meningkat, upah minimum yang dapat dibayarkan kepada pekerja juga meningkat. Pendapatan minimum yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di Amerika Serikat akhir abad kedua puluh tidak sama dengan pendapatan minimum yang dibutuhkan pada abad kesembilan belas. Pipa ledeng dalam rumah dan kamar pribadi, yang tidak lazim di abad kesembilan belas, sangat penting pada akhir abad kedua puluh. Karena itu, tingkat upah di akhir abad kedua puluh harus mempertimbangkan standar hidup yang lebih tinggi yang telah menjadi hal yang biasa bagi orang-orang.Terakhir, Ricardo berpendapat bahwa keuntungan atau laba adalah residu, atau yang disimpan oleh kapitalis setelah membayar sewa kepada pemilik tanah. Ricardo juga berpendapat bahwa rata-rata keuntungan akan sama dalam setiap industri karena jika satu industri memperoleh keuntungan yang lebih tinggi, akan lebih banyak modal yang masuk ke industry ituyang kemudian akan menurunkan harga dan keuntungan. Demikian juga, modal akan meninggalkan industry yang memperoleh laba yang rendah. Hal ini akan cenderung menaikkan harga dan keuntungan.Teori sewa, upah dan laba ini membawa Ricardo sampai pada kesimpulan yang tidak menyenangkan. Selam beberapa waktu, ketika Negara tumbuh, populasinya juga akan naik. Lebih banyak orang berarti lebih banyak mulut yang harus diberi makan dan lebih banyak makanan yang harus diproduksi. Konsekuensinya tanah-tanah yang kurang subur juga harus digunakan. Ini akan menaikkan sewa atas semua lahan dan meningkatkan sewa yang harus dibayar kepada pemilik tanah yang berkecukupan. Ketika biaya produksi makanan meningkat (karena pembayaran sewa yang lebih tinggi) maka harga makanan juga harus naik. Teori subsistensi upah berpendapat bahwa harga makanan yang lebih tinggi akan mengakibatkan kenaikan upah, sebab hanay dengan kenaiakn upah itulah para pekerja bisa membeli makanan yang harganya lebih tinggi dan mereka dapat mempertahankan standar hidup mereka.Dengan naiknya upah dan sewa, keuntungan dari kapitalis pasti kurang. Pemilik tanah menerima sewa yang lebih tinggi, upah naik untuk mengimbangi naiknya biaya makanan, sehingga keuntungan pasti menyusut drastic. Lebih jauh, saat keuntungan merosot, motivasi untuk mengumpulkan modal lenyap. Pada titik ini kemajuan ekonomi akan berakhir dan ekonomi akan berhenti.Ricardo akan member beberapa saran untuk mengatasi krisis yang tampak ini. Pertama, ia mengusulkan untuk mencabut British Corn Laws. Undang-undang ini, yang disahkan pertamakalinya tahun 1660, tujuan awalnya adalah menjaga stabilitas harga dari benih jagung di Inggris. Bea impor yang tinggi dan bea ekspor yang rendah dikenakan jika persediaan dalam negeri sangat banyak. Ketika hasil panen buruk, bea impor dicabut, sehingga makin banyak benih yang masuk ke Inggris, dan bea ekspor dinaikkan. Pada awalnya hal ini membantu menekan harga benih agar turun pada masa kekurangan benih. Tetapi beberapa waktu kemudian undang-undang ini tidak berjalan sebagaimana yng diharapkan. Menjelang awal 1800-an, undang-undang ini tidak menstabilkan harga tetapi justru membuat harga tetap membumbung tinggi dan melindungi pendapatan pemilik tanah yang mendapat keuntungan dari tingginya harga jagung yang tumbuh dari tanah mereka. Ricardo memandang bahwa pencabutan Undang-undang jagung ini akan meningkatkan impor benih jagung luar negeri. Hal ini akan menimbulkan dua efek yang bermanfaat untuk laba. Dengan menjaga harga makanan tetap rendah, impor benih akan menurunkan upah dan menghentikan merosotnya keuntungan. Impor benih yang lebih besar juga berarti bahwa inggris tidak perlu banyak-banyak memproduksi benih. Ini akan mengurangi jumlah tanah yang dipakai untuk menghasilkan makanan. Karena tanah yang paling tidak subur tidak akan diolah, dank arena sewa adalah diferensial, maka sewa di Inggris akan turun dan mengurangi perampasan keuntungan.Kebijakan yang kedua yang didukung Ricardo adalah akumulasi modal yang lebih besar. Semakin banyak peralatan modal akan meningkatkan produktivitas tanah. Jika semua tanah sama-sama dikembangkan, tidak aka nada perubahan dalam sewa diferensial. Dan denga upah yang ditentukan oleh kebituhan minimum yang telah lazim, upahtidak akan dipengaruhi oleh produktivitas yang lebih besar. Dengan demikian, keuntungan dari akumulasi kapitalakan jatuh terutama ke laba usaha. Peningkatan dalam laba ini akan menghasilkan investasi yang lebih besar di masa depan, memperkerjakan lebih banyak orang dan bahkan memperbesar pertumbuhan ekonomi.(Steven Presman 2002:54-56)

  1. 17.  PENCARIAN RICARDO YANG SIA-SIA TERHADAP NILAI INSTRISIK (Teori nilai kerja)

TERAKHIR, Ricardo bertekad menemukan sebuah “ukuran nilai yang tetap”.dia tidak memfokuskan pada emas sebagai unit nilai terdasar, tetapi pada kuantitas unit kerja (bukan upah)sebagai numeraire. Dalam tradisi klasik, Ricardo menitikberatkan pada teori nilai ongkos produksi, yakni bahwa harga umumnya ditentukan oleh ongkos (supply) ketimbang utilitas (demand). Dia menyadari ada perkecualian dalam teori biayanya ini, seperti “lukisan dan patung antic, buku dan uang langka, anggur dengan kualitas istimewa”(Ricardo 1951 :12),dan adanya dampak dari mesin. Tetapi mesin dan capital tak lain dari “tenaga kerja yang diakumulasikan”(1951:410). Dia kemudian menulis,” pendapat saya bahwa, dengan sedikit perkecualian, kuantitas kerja yang dipergunakan pada komoditas-komoditas akan menentukan tingkat pertukarannya satu sama lain adalah tidak benar sepenuhnya, tetapi saya mengatakan bahwa ini adalah perkiraan yang paling dekat dengan kebenaran, sebagai pedoman untuk mengukur nilai relative”(De Vivo 1987:193).

Dia berjuang menyusun teori nilai kerja sampai akhir hayatnya. Sekitar sebulan sebelum kematiannya dia menulis surat kepada temannya sesama ekonom,”aku kesulitan memahami mengapa anggur yang disimpan di gudang selama 3 atau 4 hari, atau mengapa pohon oak yang nilainya tak lebih dari 2 sen sebelum, tetapi kemudian muncul menjadi senilai 100 pound” (De Vivo 1987 : 193).

Bahkan Robert Malthus tidak setuju dengan temannya ini dan dia menulis,” entah itu kerja atau komoditas tidak bisa menjadi ukuran nilai tukar yang akurat”(Ricardo 1951 : 416)

Ricardo pada akhirnya meragukan apakah akumulasi capital bisa meningkatkan standar hidup di Inggris. Edisi ketiga dari principles of political Economy (Ricard, 1951-5, vol.1) diberi bab tambahan dengan judul “On Machinery”. Bab ini membahas kemungkinan bahwa mesin-mesin baru akan mengancam pekerja karena akan menggantikan tenaga kerja. Sebelum Ricardo, sebenarnya semua ekonom sepakat dengan Smith bahwa mesin membantu pembagian kerja dank arena itu menyumbangkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, dengan mengikuti Smith, sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa pengenalan mesin tidak akan mengakibatkan perusahaan memberhentikan pekerja. Jadi semua masyarakat akan memperoleh manfaat.

Tetapi setelah membaca famflet karya John Barton (1817) yang berjudul Observations on the Condition of Labouring Clases, Ricardo berubah pikiran. Dengan bantuan contoh-contoh numerik, Barton menunjukkan bagaimana para kapitalis bisa mendapatkan lebih banyak uang dengan cara mengurangi pekerja dan memperbanyak mesin. Berdasarkan contoh-contoh tersebut, Ricardo berkesimpulan bahwa pekerja layak untuk khawatir dan menentang pengenalan mesin barudengan alas an bahwa mesin itu mungkin akan menimbulkan apa yang sekarang kita namakan “pengangguran teknologi”.

  1. 18.  RESPONS EKONOM TERHADAP MODEL RICARDO

SELAMA bertahun-tahun para ekonom mengalami kesulitan dalam memahami “model jagung” Ricardo dan buku Principles, khususnya tentang asumsi-asumsi yang dipakai untuk membuktikan teorinya. Ricardo sendiri pernah mengatakan bahwa hanya ada 25 orang diseluruh negri yang bisa memahami buku Principles (1951). Seabad kemudian, ekonomi Chicago Frank H. Knight mengatakan,”dalam buku ini ada banyak hal yang tak bisa [saya] ikuti” (1959:365). Schumpeter mengecam Ricardo karena membuat banyak pelaku ekonomi menjadi “beku dan pasrah”, hanya bersandar pada “satu asumsi yang terlalu menyederhanakan” dan mengembangkan teori yang “tidak pernah bisa dibuktikan dan tidak masuk akal” (Schumpeter 1954 : 472-73).

Mungkin Keynes memikirkan Ricardo ketika dia menulis,”sungguh mengherankan hal-hal bodoh yang dipercaya seseorang jika dia terlalu lama berfikir sendirian, terutama dalam ilmu ekonomi” (Keynes 1973 [1936]: kata pengantar).

  1. 19.  RINGKASAN DAMPAK PENGARUH RICARDO

TETAPI Ricardo mampu meyakinkan semua rekan sesamanya dalam soal teori nilai kerjanya dan doktrin laissez faire.”Ricardo menaklukkan inggris sepenuhnya seperti inkuisisi suci menaklukkan Spanyol,”kata Keynes (1973:32). Baru sekarang ini kita melihat cacat dari argumennya. Dalam bab selanjutnya kita akan melihat seberapa jauh pemikiran ricardian menyeret ilmu ekonomi ke jalan yang salah dan menjauhi prinsip-prinsip yang dikemukakan Adam Smith.

  1. 20.  APA YANG DIPELAJARI STE TOKOH DAVID RICARDO?
Nama teori Latar belakang teori Isi teori Yang diuntungkan dari teori Keabsahan teori Konsistensi teori masa kini
Teori Uang pada periode 1809-10, Inggris mengalami inflasi besar karena biaya perang dan bank of England mencabut standar emas. Ricardo menciptakan kontroversi dengan menulis studi ekonomi pertamanya, the High Price Of Bullion (1811), dimana dia mengatakan bahwa inflasi negerinya diakibatkan karena Bank Of England menerbitkan bank note berlebihan. Ricardo percaya pada teori kuantitas uang yang ketat, yang juga dianut oleh David Hume, yang menyatakan bahwa tingkat harga umum terkait erat dengan perubahan jumlah uang beredar dan kredit. Standar uang yang digunakan adalah menggunakan standar emas buakn uang kertas banker Pada 1844, dibawah pengaruh David Ricardo, parlemen mengesahkan Peel’s Bank Charter Act untuk memperkuat prinsip mata uang ini Teori uang Ricardo saat ini tidak sudah tidak relevan seperti yang sudah disebutkan tadi Peel’s Bank Charter Act mengalami kegagalan dan sekarang pada kenyataannya standar uang yang banyak digunakan oleh Negara-negara yang ada di dunia ini adalah standar uang dolar Amerika Serikat.
Teori/Hukum pertumbuhan ekonomi (Law of Diminishing of Return) Ricardo mengatakan bahwa akumulasi dan kemajuan teknologi cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Artinya  bisa mempelambat bekerjanya the law of diminishing  return sehingga memperlambat pula penurunan tingkat hidup kearah tingkat hidup minimal. apabila salah satu input tetap, sedang input-input lain ditambah penggunaanya (variable) maka tambahan out put yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variable tersebut mula-mula menarik, akan tetapi kemudian seterusnya menurun, apabila input variable tersebut terus ditambah pemerintah
Teori keuntungan komparatif Untuk menyempurnakan dan memperbaiaki teori keunggulan absolute dari adam Smith dan Ricardo mendukung perdagangan bebas semasa perdebatan corn law pada 1813-1815, tetapi kontribusinya yang terpenting untuk perdagangan bebas muncul beberapa tahun kemudian ketika dia mengembangkan hukum keuntungan komparatif di babVII dari Principles (1817). Perdagangan Bebas Akan Menguntungkan Kedua Belah Pihak, Dan Yang Paling Mengejutkan Adalah Perdagangan Bebas Akan Membuat Satu Negara Melakukan Spesialisasi Meskipun Suatu Negara Memiliki Keuntungan Absolute Dalam Produk Tertentu Negara yang melakukan spesialisasi Banyak pihak, termasuk para ekonom, yang bersikap skeptis terhadap keabsahan teori kunggulan komparatif. Terutama dalam kegunaannya memprediksi dampak dari hubungan ekonomi antar negara terhadap distribusipendapatan. Masih dilaksanakan tetapi sekarang perdagangannya sudah diatur melalui organissai perdagangan misal AFTA, MEE
Teori upah alami Buruh dalam sistem Ricardo adalah unit-unit yang seperti mesin dan hanya mendapatkan upah subsisten dalam jangka panjang. Jika upah naik, pekerja akan punya lebih banyak anak, yang pada gilirannya akan menaikkan pasokan (supply) tenaga kerja, dan memaksa upah turun kembali nilai tukar suatu barang ditentukan oleh ongkos yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut PEMILIK TANAH teori yang semula dimaksudkan untuk menjelaskan tentang nilai tukar suatu barang atau komoditas ini akan diterangkan kemudian oleh kaum sosialis dicap sebagai teori upah besi (iron law of wages). Teori ini akan mengikat kaum buruh pada suatu lingkaran setan yang tidak mungkin dilepaskan
Teori sewa/distribusi pendapatan Mereka mendapatkan rente lebih bersih saat harga benih naik. Petani penyewa tidak mendapat keuntungan dari harga yang tinggi itu karena mereka harus membayar sewa yang lebih tinggi. Ricardo merpetahankan kata-kata Adam Smith : “pemilik tanah senang memungut panen ditempat dimana mereka tak pernah menanam” .Teori distribusi Ricardo mengandung tiga elemen; teori sewa, sebuah teori untuk menjelaskan upah dan sebauh teori          Laba. Teorinya memperlihatkan bagaimana pendapatan nasional dibagi menjadi tiga kategori ini, dan apa yang terjadi pada sewa, upah dan laba ketika ekonomi tumbuh Pemilik tanah
Teori nilai kerja Menentukan ukuran nilai tetap tetapi tidak berdasarkan emas tetapi melainkan pada nilai kerja Ricardo menitikberatkan pada teori nilai ongkos produksi, yakni bahwa harga umumnya ditentukan oleh ongkos (supply) ketimbang utilitas (demand). Dia menyadari ada perkecualian dalam teori biayanya ini, seperti “lukisan dan patung antic, buku dan uang langka, anggur dengan kualitas istimewa”(Ricardo 1951 :12),dan adanya dampak dari mesin. Tetapi mesin dan capital tak lain dari “tenaga kerja yang diakumulasikan”(1951:410). Buruh/pekerja Dia berjuang menyusun teori nilai kerja sampai akhir hayatnya. Sekitar sebulan sebelum kematiannya dia menulis surat kepada temannya sesama ekonom,”aku kesulitan memahami mengapa anggur yang disimpan di gudang selama 3 atau 4 hari, atau mengapa pohon oak yang nilainya tak lebih dari 2 sen sebelum, tetapi kemudian muncul menjadi senilai 100 pound” (De Vivo 1987 : 193).

 

DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. BPFE. Yogyakarta

Deliarnov. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. PT. Raja Grafindo. Jakarta

Presman Steven. 2002. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. PT. Raja Grafindo. Jakarta

Skousen Mark. 2006. Sejarah Pemikiran Ekonomi Sang Maestro Teori-teori Modern. PT. Prenada Media. Jakarta

http://www.infogue.com/software/kaidah_kerjasama_perdagangan_bebas_dan_globalisasi/

http://mimodjo.blogspot.com/2003_09_01_archive.html

http://yasinta.net/perdagangan-internasional-dan-keuntungan-komparatif-international-trade-and-comparative-advantage/


PEMBAHASAN

Perhatian terhadap ekonomi sudah ada sejak beribu- ribu tahun yang lalu, tetapi kelahiran ekonomi sebagai ilmu sejak terbitnya buku Adam Smith tahun 1776 yang berjudul An Inquiry Into The nature And Causes of the Wealth on Nation, yang kemudian Adam Smith dinobatkan sebagai bapak ilmu ekonomi.

Sejarah ekonomi modern itu seperti kisah dengan plot yang cerdas, yang setara dengan plot kisah novel historis terbaik. Alur ceritanya adalah kisah tentang perjuangan manusia mencari kekayaan dan kemakmuran dan pencarian model ekonomi yang bisa memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya. Mempelajari sejarah pemikiran ekonomi beertujuan agar kita dapat mengetahui perkembangan pemikiran ekonomi dan teori ekonomi, member inspirasi, menanamkan sikap demokratik dan toleran.

Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai sejarah pemikiran ekonomi kaum klasik Laissez Faire dengan tokoh ekonomi Jean- Baptiste Say dan Frederic Bastiat.

Filsafat kaum klasik mengenai masyarakat, mendasarkan diri pada tindakan-tindakan rasional dan bertolak dari suatu metode alamiah. Klasik juga memandang ilmu ekonomi dalam arti luas, dengan perkataan lain secara normative. Politik ekonomi kaum klasik merupakan politik ekonomi  Laissez Faire.

Laissez Faire sebuah frase bahasa Prancis yang berarti “biarkan terjadi’ ( secara harfiah berarti biarkan berbuat). Istilah ini berasal dari diksi Prancis yang digunakan pertama kali oleh para psiokrat diabad ke-18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan. Laissez Faire menjadi sinonim untuk ekonomi pasar bebas yang ketat selama awal dan pertengahan abad ke-19. Secara umum istilah ini dimengerti sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan campur tangan pemerintah dalam perekonomian.

 Politik ini menunjukkan diri dalam tindakan – tindakan yang dilakukan mazhab klasik, dan dengan keseimbangan yang bersifat otomatis, dimana masyarakat senantiasa secara otomatis akan mencapai keseimbangan pada tingkat full employment. Asas pengaturan kehidupan perekonomian didasarkan pada mekanisme pasar.

Ruang lingkup pemikiran ekonomi klasik meliputi kemerdekaan alamiah, pemikiran pesimistik dan individu serta Negara. Landasan kepentingan pribadi dan kemerdekaan alamiah mengkritik pemikiran ekonomi sebelumnya, dan kebebasan individulah yang menjadi inti pengembangan kekayaan bangsa, dengan demikian politik ekonomi klasik pada prinsip Laissez Faire.

Koneksi Prancis : Laissez Faire Avance

Ekonom klasik Prancis Jean- Baptiste Say dan Frederic Bastiat mengembangkan model klasik Adam Smith dan mempromosikannya sebagai model kemakmuran universal. Say dan Bastiat mengemukakan banyak kemungkinan ekonomi industri yang bebas, yang dipimpin oleh para wiraswastawan. Hukum pasar Say menjadi prinsip dasar makro ekonomi klasik dan ketelitiannya sangat terkenal dalam ilmu ekonomi dan tetap tak tertandingi sampai munculnya revolusi Keynesian pada abad selanjutnya. Dan belum pernah ada eksponen perdagangan bebas yang paling terang- terangan ketimbang Frederic Bastiat.

Selain itu, para ekonom Prancis mengklarifikasi dan mendukung banyak konsep yang dijelaskan dalam The Wealth of Nations . Mereka juga menyusun prinsip- prinsip ekonomi yang kuat berdasarkan karya Cantillon, Montesquieu, Turgot, dan Condillac. Say dan Bastiat menolak gagasan teori nilai kerja dan eksploitas buruh didalam kapitalisme pasar bebas.

Ekonom Prancis sudah berkenalan dengan magnum opus Smith, sejak dia menghabiskan waktu di Prancis menyiapkan bukunya dan berdiskusi dengan Quesnay, Turgot, dan Voltair. Setelah The Wealth of Nations diterbitkan, orang- orang Prancis berhasil mempopulerkan model usaha bebas dan perdagangan bebas ala Smith keseluruh dunia Barat. Mereka menerjemahkan buku Smirth kedalam bahasa Prancis, mempublikasikan ensiklopedi ekonomi pertama dan sejarah pemikiran ekonomi pertama, dan menuis textbook pertama dalam ilmu ekonomi, A Treatise on Political Ekonomy  karya Say, yang menjadi buku ajar utama di Eropa dan Amerika selama paruh pertama abad 19. Banyak prinsip  Smithian diadopsi oleh Alexis de Tocqueville dalam karyanya yang berjudul Democracy in America. Sengkatnya, aliran laissez faire  Prancis mendominasi pemikiran ekonomi Barat selama hampir setengah abad, dan dalam kasus hukum Say, mendominasi sampai abad 20.

  1. 1.      Jean- Baptiste Say

Tokoh terpenting dalam drama Prancis adalah ekonom yang lahir Sembilan tahun sebelum The Wealth of Nations  dicetak. Menurut salah satu biografi (Palmer 1997, dalam buku Mark Skousen.2005:59), dalam usia 65 tahun Jean- Baptiste Say (1767-1832) dikenal sebagai “ekonom yang hidup dimasa masa sulit”. Dia menyaksikan Revolusi Amerika dan Prancis, kekuasaan politik Napoleon, dan hidup diawal Revolusi industri. Dia menciptakan istilah “entrepreneur” yang kini menjadi kata modern dalam ekonomi dan bisnis, dan Say sendiri juga seorang entrepreneur. Dia diangkat menjadi Profesor ekonomi politik di Prancis, menulis textbook  yang sangat popular, dan kini dia terkenal berkat “hukum pasar” nya sebuah teori ekonomi makro klasik yang menitikberatkan pada produksi, perdagangan dan tabungan sebagai kunci- kunci bagi pertumbuhan ekonomi dan konsumsi yang lebih tinggi.

Jean- Baptiste Say dilahirkan di Lyon Prancis. Dia berasal dari keluarga Protestan di Prancis Selatan, yang pindah ke Jenewa dan akhirnya menetap di Paris. Pada usia 15 tahun, pada masa puncak revolusi Prancis, dia sangat dipengaruhi oleh Autobiaography  Benjamin Franklin dan dia memuji Franklin sebagai model warga Negara dan memuji prinsip penghematan, pendidikan dan kehidupan moral yang diajarkannya.

Jean- Baptiste Say adalah pendukung utama Adam Smith tentang system persaingan ekonomi, kebebasan ilmiah, dan pembatasan campur tangan pemerintah. Dia juga pembela kapitalisme Laissez Faire yang gigih. Analisisnya bahkan lebih dalam ketimbang analisis Adam Smith dan David Ricardo dan ia membangun landasan baru dalam ekonomi klasik di empat bidang.

Empat kontribusi ini adalah :

  1. Menyusun pengujian teori dengan fakta dan observasi
  2. Menyusun teori utilitas subjektif sebagai pengganti teori nilai kerja
  3. Gagasan tentang peran vital entrepreneur
  4. Hukum pasar Say yang menjadi landasa model makro dalam fluktuasi bisnis dan pertumbuhan ekonomi.

Pembahasan setiap kontribusi Say :

Say Mengkritik Teorisasi Abstrak

Jean- Baptiste Say sangat prihatin dengan teorisasi ekonomi yang seperti berada di menara gading, jauh dari kenyataan. Model yang dibangun memang belum tentu keliru. Say mengatakan bahwa dia juga lebih memilih model yang tidak berbeda dengan geometri, dimulai dengan “deduksi yang ketat dan fakta umum yang tak terbantahkan…beberapa prinsip dasar, dan sejumlah akibat atau kesimpulan yang ditarik dari prinsip- prinsip tersebut” (Say 1971 [1880] : xx,xxvi, dalam Mark Skousen.2005 : 61). Tetapi menurutnya model ini harus selalu diuji dengan uji observasi untuk mengetahui apakah model itu realistic dan benar atau tidak. Menurut Say, semua teori dan model perlu terus menerus diuji dihadapan fakta dan observasi.

Dia sangat mencemaskan pengaruh dari sahabatnya, David Ricardo- salah satu tokoh utama ekonomi klasik karena dalam buku On The Principles of Political Economy and Taxation ( 1817 ). Tanpa menyebut- nyebut namanya, Say menuduh Ricardo telah menciptakan model yang penuh dengan “penilaian yang serampangan” dan menyusun “system sebelum fakta ditentukan” (halaman xvii). Akibatnya ilmu ekonomi terseret kejalan yang berbahaya, termasuk teori nilai kerja. ( Metodologi abstrak ini sering disebut “Kejahatan Ricaardian”)

Say mengatakan “ Tidak ada yang lebih sia sia ketimbang ketidaksesuaian antara teori dan praktek!”. Dalam tulisannya untuk Robert Malthus, Say mengatakan, “Lebih baik berpegang pada fakta dan konsekuensinya disbanding pada silogisme”. Dia memuji Adam Smith karena telah menyusun “prinsip ekonomi politik yang paling masuk akal, didukung dengan ilustrasi yang jelas” dan dia menambahkan bahwa ekonom seperti Ricardo yang tidak mendukung teorinya dengan fakta- fakta adalah “pemimpi belaka yang teorinya paling banter hanya memenuhi keingintahuan literer,dan tidak dapat diterapkan dalam praktek”

Dengan cara yang sama, Say mencemaskan ekonomi matematika dan statistika. Dia menyatakan kecemasannya bahwa “kita selalu disesatkan dalam ekonomi politik apabila kita memandang fenomena berdasarkan perhitungan matematika” (Sowell 1987:249, dalam Mark Skousen.2005 : 62)

Say menunjukkan sifat subjektif dari penawaran dan permintaan dan bagaimana harga dan elastisitas permintaan tidak pernah bisa diprediksi secara pasti. Dengan kata lain, ekonomi adalah ilmu kualitatif, bukan kuantitatif dan karenanya tidak tunduk pada kalkulasi matematika. Dia menggunakan contoh harga anggur untuk satu tahun kedepan, dimana penawaran dan permintaan bervariasi dari tahun ke tahun. Penawaran baru akan tergantung pada perubahan kekayaan, kualitasnya, kuantitas persediaan yang masih ada, pasar capital, tingkat bunga, pasar ekspor dan stabilitas hukum dan pemerintahan. Disisi permintaan , jumlah yang diminta akan tergantung kepada perubahan “selera dan gaya hidup konsumen”, kondisi ekonomi secara umum, minuman pengganti dan sebagainya. Ringkasnya, harga anggur tahun depan tidak akan pernah bisa dikalkulasikan secara tepat. ( Say: 1971:xxvi-xxvii, dalam Mark Skousen.2005 : 63)

Dia juga mencemaskan empirisme buta dan pengumpulan fakta statistic yang tidak dikaitkan denga teori: “Tetapi pengetahuan tentang fakta- fakta, tanpa mengetahui relasi mutualnya, tanpa menunjukkan mengapa yang satu adalah penyebab dan yang satunya lagi adalah akibat, jelas tidak lebih baik ketimbang informasi mentah dari seorang petugas klerek ” (Say 1971: xxi, dalam Mark Skousen.2005 : 63 )

Say memperkenalkan Teori Nilai Alternatif

Say berbeda pendapat dengan David Ricardo, salah seorang tokoh Inggris klasik, dalam soal besar lainnya yaitu Teori Nilai Kerja. Ricardo yang dipengaruhi oleh Adam Smith, mencari standard nilai yang tetap dan menemukannya dalam kerja.  Tetapi Say menuliskan dalam terjemahan Principles Ricardo “ ukuran nilai yang tetap adalah tak masuk akal” ( Rothbard 1995: 19, dalam Mark Skousen.2005: 63).

Sebaliknya, Say mengambil pendekatan yang lebih positif dengan mengemukakan teori nilai utilitas yang subjektif. Utilitas (utility), atau cara konsumen menilai suatu barang atau jasa, menentukan produksinya. Produsen membuat nilai atau utilitas dengan mengubah input menjadi output, yang cukup untuk menutup biaya. Ekonom Prancis ini tidak mengungkapkan teori utilitas marginal dan mengakui bahwa yang menentukan harga atau nilai barang atau jasa adalah utilitasnya bukan biayanya.

Peran Entrepreneur ( Pengusaha )

Say menciptakan istilah entrepreneur. Secara harfiah kata ini berarti “orang yang mengurus kuburan”. Tetapi karena mengandung makna ambivalen, entrepreneur diterjemahkan menjadi “petualang” yang menunjukkan citra petualang komersial atau petualang kapitalis, yakni orang yang mengkombinasikan input capital, pengetahuan, dan tenaga kerja untuk menghasilkan dan mengelola bisnis demi mendapatkan profit (laba). Adam Smith adalah pengajar dan tak pernah menjalankan bisnis. Karena tidak berpengalaman dalam bidang usaha, Smith meremehkan peran vital ini dalam Wealth of Nation. Tetapi Jean Baptise Say adalah seorang pengusaha atau entrepreneur, yang memiliki pabrik kapas, dan karenanya dia memasukkan konsep ini sebagai bagian penting dari model ekonominya.

Dalam Bab 7 buku II “tentang distribusi” Say memperkenalkan konsep entrepreneur, “master agen” atau “adventurer” sebagai agen ekonomi yang berbeda dengan tuan tanah, buruh dan bahkan kapitalis. Entrepreneur bukan berarti dia sudah kaya sebab dia mungkin bekerja dengan meminjam modal. Untuk sukses, kata Say, seorang entrepreneur harus mempunyai “penilaian, ketabahan dan pengetahuan tentang duania”. Dia harus melakukan  estimasi dengan akurasi yang bisa diterima, harus memahami arti penting dari produk spesifik, perkiraan jumlah permintaan dan alat- alat produksi, terkadang dia harus mem[pekerjakan banyak orang, terkadang dia harus membeli atau memesan bahan baku, mengumpulkan buruh, mencari konsumen, dan member perhatian penuh kepada pesanan dan koondisi perekonomian. Ringkasanya dia harus mempunyai ilmu seni mengawasi dan administrasi. Dia harus mau “mengambil resiko” dan harus sadar bahwa selalu ada “ kemungkinan gagal”. Tetapi jika sukses, “kelompok produsen macam ini… akan mengumpulkan kekayaan yang sangat banyak” ( Say 1971: 329-32, dalam Mark Skousen.2005 : 64 ).

Say mencatat bahwa entrepreneur “menggeser sumber daya ekonomi dari area produktivitas yang rendah menuju ke area produktivitas yang tinggi dan lebih besar hasilnya” ( Drucker 1985:21, dalam Mark Skousen : 64 ). Entrepreneur adalah pencari profit maksimal dengan mencari peluang yang besar.

Baru belakangan ini “entrepreneur” Say kembali bermunculan dalam textbooks. Selama bertahun tahun, konsep ini hampir lenyap dalam buku ajar ekonomi terutama dalam model “persaingan sempurna” yang mendominasi profesi ekonomi di abad 20 ( terutama dibawah pengaruh model keseimbangan umum dari ekonom Prancis Leon Waras ).

Didalam model keseimbangan umum, tidak ada perbedaan produk dan tidak ada variasi harga. Semua produk adalah generic. Ada banyak pembeli dan penjual sehingga tak satupun yang bisa mempengaruhi harga.

Jelas, dalam model keseimbangan umum semacam ini tidak banyak dibutuhkan entrepreneur  untuk menciptakan produk baru atau beriklan. Inovasi, fisik, kreativitas, dan pengambilan resiko tidak dibutuhkan. Menurut penulis Edwin Dolan dan David Lindsey, “ tidak ada cara untuk menggambarkan perilaku kewirausahaaan (entrepreneurship) secara persis dalam bentuk persamaan atau grafis, karena gagasan kewirausahaan itu sendiri adalah gagasan tentang perubahan, ketidakpastian dan inovasi” (1988:603). Dolan adalah salah salah seorang penulis textbooks  pertama yang berusaha memasukan peran entrepreneur dalam analisi ekonomi.

Sejarawan ekonomi Mark Blaug menulis, “ dewasa ini mahasiswa yang menghabiskan waktu beberapa tahun mempelajari ekonomi tapi tidak mengenal istilah entrepreneur adalah memalukan” (1986:229, dalam Mark Skousen.2005: 65).

Economics History  karya Mark Blaug diterbitkan pada 1986, dan sejak itu buku ajar ekonmi yang terbit banyak mengalami perubahan. Sekarang ini entrepreneurship dimasukkan sebagai salah astu faktor produksi disamping tanah, tenaga kerja, dan capital atau modal. Entrepreneur bertanggungjawab untuk memadukan jumlah tanah yang pas, tenaga kerja dan capital untuk mmembuat produk atau jasa yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.

Penyelamatan Aliran Austria

Konsep entrepreneur Say diselamatkan oleh aliran Austria dan karenanya kini banyak bermunculan dalam buku ajar ekonomi. Joseph Schumpeter, seorang Profesor Harvad kelahiran Austria terkenal karena membahas entrepreneur sebagai figure sentral dalam meningkatkan kekayaan bangsa dan menciptakan ketidakseimbangan (disequilibrium) dinamis dalm ekonmi global. Melalui proses “ destruksi kreatif”, entrepreneur terus menerus mengubah lanskap perekonomian menjadi lebih baik. Schumpeter menolak “abad emas persaingan sempurna imajiner” dan mengatakan bahwa persaingan sempurna adalah “mustahil dan buruk, dan tidak layak dijadikan sebagai model efisiensi yang ideal” ( Schumpeter 1950:106, dalam Mark Skousen.2005 : 65). Menghilangkan entrepreneur dalam proses kompetitif adalah samadengan menghilangkan tokoh pangeran Denmark dari kisah Hamlet karya Shakespeare (1950:86).

Israel kirzner, ekonom Austri kelahiran Amrika yang mengajar di New York University, telah menghabiskan sebagian besar kariernya untuk mempelajari entrepreneurship dan peran pentingnya dalam ekonomi. Seperti Schumpeter, Kirzner mengkritik teori perusahaan modern dengan mengatakan, “model persaingan sempurna gagal membantu kita memahami proses pasar” (Kirzner 1973:8). Scunpeter menekankan bagaimana entrepreneur bergerak menjauh dari equilibrium, sedangkan Kirzner memfokuskan pada “proses penemuan” yang denganya entrepreneur menemukan kesalahan dan peluang baru yang menguntungkan dank arena out menggerakan psaar menuju ke keseimbangan. (1973: 72-75)

Terakhir, Peter F Drucker,  guru manajemen kelahiran Austria, telah menulis banyak tentang entrepreneurship dalam dunia bisnis. Drucker memperluas pandanag Schumpeter tentang entrepreneur sebagai pengganggu dalam perusahaan dan ekonomi, orang yang mencoba produk baru dan proses baru membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan kesalahan. Seperti Say, Drucker melihat entrepreneur sebagai investor disekto ekonomi yang memperlihatkan potensi diatas rata-rata. Entrepreneur adalah “pencari peluang” ( Drucker 1985, dalam Mark Skousen.2005 : 66).

Tetapi, meskipun telah banyak yang membahas entrepreneurship, buku buku teks ekonomi masih menggunakan model kesseimbangan ekonomi, yang menganggap perusahaan inovatif yang  berusaha memonopoli pasar sebagai tidak efisien.

Hukum Pasar Say

Selain memperkenalkan entrepreneurship sebagai actor penting dari produksi, Say juga sangat terkenal karena mengembangkan model klasik ekonomi makro, yang dikenal sebagai hukum pasar Say.

Hukum Say sering dikutip sebagai “ Penawaran menciptakan permintaannya sendiri”, sebuah frase yang membuat banyak mahasiswa ekonomi  yang terpengaruh oleh pemikiran Keynes memandangnya bersifat paradox dan kontra-intuitif “ Apakah bukan sebaliknya?” Tanya mereka “ bukankah permintaanlah yang menciptakan penawaran?”

Sebenarnya bukan Say sendiri, tetapi John Maynard Keynes-lah yang mendefinisikan hukum Say sebagai “ Penawaran yang menciptakan permintaannya sendiri” dalam The General Theory (1973:18). Dewasa ini banyak ekonom setuju bahwa Keynes telah mendistorsi makna dan implikasi dari hukum Say. Seperti dikatakan oleh ekonom Austria Steven Kates yang telah menulis buku tentang soal ini, “Keynes… menyalahpahami dan menyalahartikan hukum Say… ini adalah warisan Keynes yang paling awet dan warisan ini telah merusak teori ekonomi sampai hari ini ”. ( Kates 1998: 1, dalam Mark Skousen.2005 : 66).  lebih lengkapnya lihat Bab 13 dalam buku Mark Skousen. Keynes bahkan tak pernah mengutip Say secara langsung, dan beberapa sejarawan menduga bahwa Keynes sebenarnya tak pernah membaca karya Say dan dia hanya mengandalkan pada komentar Ricardo dan Marshall terhadap hukum pasar Say.

Say Mengungkapkan Kesalahan dan Menemukan Hukum Baru

Hukum Say lebih mendalam ketimbang pernyataan “penawaran menciptakan permintaanya sendiri”.

Untuk memahami makna luas dari hukum Say, kita pertama- tama harus memeriksa asal usul dari prinsip ini. Salah sati isu utama diabad 18 (seperti dkhususkan dalam Bab 1) adalah doktrin merkantilis bahwa uang, terutama penemuan emas dan perak, serta keseimbangan perdagangan, menghasilkan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi. Selama system ekonomi periodic dan depresi, orang orang secara konstan mengeluhkan kurangnya uang. Solusi untuk mengatasi kesulitan ekonnomi itu tampaknya sederhana yaitu mencari lebih banyak uang dan membelanjakanya, dan ekonomi akan pulih kembali.

Dalam Bab 15 dari bukunya, Say menyerang doktrin kelangkaan uang ini dengan menunjukkan bahwa yang menciptakan permintaan bukan uang melainkan produk barang dan jasa. Uang hanyalah mekanisme pertukaran, dan penyebab ril dari depresi ekonomi bukanlah kekurangan uang, tetapi kurangnya penjualan oleh petani, pengusaha pabrik, dan produsen barang dan jasa lainnya. Seperti dikatakan oleh Say, “penjualan tidak bisa dikatakan sepi karena uang langka, tetapi karena produk lainnya menurun… atau, menggunakan kalimat yang lebih usang, orang lebih sedikit membeli karena mereka hanya mendpat keuntungan sedikit ” ( Say 1971: 134). Dalam edisi sebelumnya saya mengatakan bahwa “yang memfasilitasi penjualan bukanlah melimpahya uang, melainkan banyaknya produk lain pada umumnya… uang berperan tidak lebih dari saluran dalam pertukaran ganda ini. Ketika pertukaran selesai, yang terjadi adalah seseorang membayar suatu produk dengan produk” ( Kates 1998: 23, dalam buku Mark Skousen.2005 : 67).

Say menyangkal bahwa Say ada “kelebihan produksi” atau “kelebihan persediaan” dalam penurunan ekonomi, tetapi dia mengatakan bahwa (Dalam kondisi penurunan itu) produksi telah “salah diarahakn”. Ada terlalu banyak produk yang dihasilkan padahal permintaanya sedikit. Setelah harga dan ongkos menyesuaikan sendiri denga struktur permintaan baru, maka ekonomi akan mulai tumbuh lagi. Menurut Say, konsumen akan mulai membeli sampai buruh bekerja kembali dan produsen mulai menuai profit.

Analisis ini membuat Say berhasil membuat penemuan penting : produksi adalah penyebab konsumsi atau dengan kata lain, output yang meningkat akan memperbesar pengeluaran konsumen. Dalam kalimat asli Say, “ a product is no sooner created, thain it, from that instant, affords a market for other products to the full extent of its own value” (Say 1971:134). Ketika seorang penjual memproduksi dan menjual sebuah produk, penjual itu segera menjadi pembeli yang mempunyai pendapatan untuk dibalanjakkan. Untuk membeli, seseorang harus menjual dulu.

Ringkasnya hukum Say adalah sebagai berikut (Kusnendi .2002 : 45) :

  • Penawaran X menciptakan permintaan Y. Say mengilustrasikan hukum ini dengan kasus panen petani “ Semakin besat panennya, semakin besar jumlah pembelian yang dilakukan petani. Sebaliknya, panen yang buruk akan mengurangi penjualan komoditas pada umumnya” (1971: 135). Contoh lainnya: ketika muncul sebuah bisnis yang menguntungkan , maka bisnis yang menguntungkan, maka bisnis ini menciptakan pekerjaan dan permintaan barang dan jasa. Konsumsi yang meningkat pada akhirnya berasal dari penaawaran baru yakni usaha yang baru muncul tersebut.
  • Hukum Say memberikan landasan mengenai sisi penawaran agregat. Dikemukakan oleh Say : “Supply Creates its Own Demand”. Setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri, atau setiap barang yang diproduksi akan selalu ada yang membelinya.
  • Menurut hukum Say, setiap proses produksi akan menimbulkan dua akibat, yaitu menghasilkan output barang atau jasa ( Q ) dan juga pendapatan ( Y ) bagi para pemilik faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi tersebut. Jadi, Q = Y. Q akan dijual dipasar barang dan akan menimbulkan penawaran agregat

(Q =AS )

  • Dalam kerangka hukum Say, masyarakat membutuhkan uang bukan untuk dipegang sebagai bentuk kekayaan, tetapi masyarakat membutuhkan uang hanyalah sebagai alat untuk menentukanukuran nilai barang dan jasa ( unit of account) dan sebagai alat untuk mempermudah pertukaran ( medium of exchange). Karena itu, setiap Y yang diterima oleh para pemilik faktor produksi akan selalu dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa, jadi menimbulkan permintaan agregat ( Y = AD )
  • Jadi, menurut hukum Say : Q = AS = Y, dan Y = AD, maka karena itu AS =AD.
  • Penawaran menciptakan permintaannya sendiri yang berarti pula setiap output yang dihasilkan akan selalu habis terjual. Dengan kata lain, AS akan selalu sama dengan AD.
  • Implikasinya output potensial = output actual, senjang PDB = 0, pengangguran sumberdaya tidak akan pernah terjadi dan ini berarti perekonomian akan selalu berada dalam kondisi pengerjaan penuh ( Full Employment )

Say benar. Menurut statistic lingkaran hidup bisnis, ketika penurunan dimulai, yang pertamakali turun adalah produksi mendahului konsumsi. Dan ketika ekonomi mulai pulih, pemulihan itu adalah karena produksi mulai meningkat, dan kemudian diikuti peningkatan konsumsi. Pertumbuhan ekonomi dimulai dengan peningkatan produktivitas, dan peningkatan produk baru serta pasar baru. Oleh karena itu, pengeluaran produksi selalu diatas pengeluaran konsumsi dank arena itu ia menjadi indikator utama.

Say Memperluas Argumennya Ke Pertumbuhan Ekonomi

Say memperluas argumennya ke pertumbuhan ekonomi. Kunci untuk kinerja ekonomi yang baik adalah mendororng produk baru yang lebih baik bukan sekedar meningkatkan konsumsi.

Kita bisa melihat kebenaran pandangan ini berdasarkan kasus individual. Kunci untuk menuju standard hidup yang lebih tinggi pertama- tama adalah menaikkan pendapatan anda ( yakni produktivitas anda) dengan mencari tambahan, pindah kerja, kembali kesekolah atau mulai menjalankan usaha. Cara menaikkan standard hidup dengan membelanjakan uang untuk membeli rumah yang lebih besar atau mobil baru, entah itu dengan mengambil dari tabungan anda atau berhutang, sebelum pendapatan anda meningkat adalah cara yang sungguh bodoh.  Anda mungkin bisa menikmati standard hidup yang tinggi untuk sementara, tetapi pada akhirnya anda harus menanggung akibatnya.

Menurut Say prinsip yang sama berlaku pada suatu bangsa. Penciptaan produk baru yang yang lebih baik akan membuka pasar baru dan menaikkan konsumsi. Oleh karena itu “mendorong konsumsi belaka tidak bermanfaat bagi perdagangan, karena kesulitannya terletak didalam penyediaan sarana, bukan menstimulasi keinginan untuk mengonsumsi dan kita telah melihat bahwa produksi akan memperbaiki sarana itu”. Kemudian dia menambahkan, “jadi, pemerintah yang baik akan menstimulasi produksi, sedangkan pemerintah yang buruk akan menstimulasi konsumsi” (1971:139).

Menabung adalah berkah bukan kutukan

Akibat dari hukum Say bahwa tabungan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi. Dia menyangkal bahwa “ penghematan” bisa menurunkan pengeluaran dan output. Karena konsumsi berdasarkan definisinya adalah menggunakan utilitas, maka tabungan adalah cara pengeluaran yang lebih baik, karena ia dipakai dalam produksi barang capital dalam proses produksi selanjutnya. Jelas Say terpengaruh oleh gagasan pembelaan terhadap penghematan oleh Benjamin Franklin seperti yang tercermin dalam adagium semisal “satu penny yang ditabung sama dengan pendaptan satu penny”. Dan “uang melahirkan uang”.

Ekonomi yang berkembang selalu akan menghasilkan lebih banyak kekayaan ketimbang konsumsi. Sisanya adalah tabungan, yang akan dipakai untuk memproduksi barang investasi. Ingat, ada dua jenis produksi barang konsumen (konsumsi) dan produksi barang investasi (tabungan).

Ringkasan Hukum Say

Kates meringkaskan kesimpulan hukum pasar Say sebagai berikut (Kates 1998: 29) :

  1. Sebuah Negara tidak bisa punya terlalu banyak capital.
  2. Investasi adalah basis bagi pertumbuhan ekonomi.
  3. Konsumsi bukan hanya hanya tidak menambah kekayaan tetapi bahkan juga menghambat penambahan kekayaan
  4. Permintaan disebabkan oleh produksi
  5. Kekurangan permintaan (yakni over produksi) bukan penyebab gangguan perekonomian. Gangguan dalam perekonomian muncul hanya jika barang tidak diproduksi dalam proporsi yang tepat satu sama lain.

Kritik Terhadap Hukum Say

Pada tahun 1936 seorang ekonom dari inggris John Maynard Keynes mempublikasikan karya terbesarnya “ The General theory of employment, Interst and Money” yang berisi kritik umum terhadap CMT ( Classical macroeconomic Theory) yang diungkapkan diawal chapter 1 sebagai berikut :

I have called this book the General Theory….., placing the emphasis on the prefix general. The object of such a title is to contrast the character of my argument and conclusion with those of the classical theory…. i shall argue that the postulates of the classical theory are applicable to a special case only and not to general case…. Moreover, the characteristics of special case assumed by the classical theory happen not to be those of the economic society in which we actually live, with the result that its teaching is misleading and disastrous if we to apply it to the facts of experience                ( Keynes, dalam Kusnendi 2002: 57)

Jadi, menurut Keynes, CMT ( Classical macroeconomic Theory) dibangun atas dasar asumsi- asumsi yang keliru, dank arena itu CMT ( Classical macroeconomic Theory) dapat menyesatkan jika diaplikasikan untuk memahami dinamika kehidupan ekonomi secara empiric.

Kritik Keynes terhadap CMT ( Classical macroeconomic Theory) selanjutnya dipaparkan dalam bukunya “The general theory” khususnya chapter 2 dibawah judul  : “ The Postulates of the Classical Economy”.

Intisarinya dapat dirangkum menjadi empat kritik utama sebagai berikut :

  • Neutrality of money assumption tidak realistis. Menurut Keynes uang tidak bersifat netral tetapi uang memiliki peran penting dalam dinamika kehidupan ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa, fungsi uang tidak hanya terbatas sebagai unit of account dan medium of exchange, tetapi juga berfungsi sebagai store of value ( alat untuk menimbun kekayaan). Uang dalam fungsinya sebagai store of value memiliki pengaruh tersendiri terhadap proses kehidupan ekonomi
  • Hukum say yang diyakini para ekonom klasik selalu menjamin terciptanya kondisi Full Employment dan menampik terjadinya pengangguran terpaksa (involuntary unemployment) ternyata tidak didukung fakta. Pengangguran yang terjadi secara umum pada masa depresi besar adalah cermin dari kurangnya kesempatan kerja dan bukan secara sukarela mau menganggur karena tidak bersedia menerima tingkat upah yang berlaku. Karena itu menurut Keynes pengangguran yang terjadi secara umum pada episode depresi besar itu tidak dapat dipandang sebagai pengangguran sukarela ( voluntary unemployment) tetapi lebih bersifat sebagai pengangguran terpaksa yang timbul sebagai akibat kurangnya kesempatan kerja, dan kurangnya kesempatan kerja ini sebagai cermin dari rendahnya permintaan agregat.
  • Keyakinan para ekonom klasik terhadap pasar tenaga kerja dengan persaingan sempurna dengan menjamin selalu ada fleksibilitas tingkat upah ternyata tidak sesuai dengan fakta. Kenyataanya mengindikasikan, pasar tenaga kerja tidak dalam kondisi persaingan sempurna, tetapi cenderung berada dalam kondisi tidak sempurna. Ketidaksempurnaan persaingan dipasar tenaga kerja ini ditunjukkan oleh semakin kuatnya kehadiran serikat kerja (labor union), dan implikasi dari kehadiran serikat kerja ini menyebabkan tingkat upah menjadi kaku. Dengan demikian menurut Keynes, asumsi CMT ( Classical macroeconomic Theory) mengenai fleksibilitas tingkat upah menjadi tidak realistis dank arena itu solusi CMT ( Classical macroeconomic Theory) untuk mengatasi pengangguran missal yang terjadi pada episode depresi besar dengan jalan “turunkan upah” menjadi tidak signifikan.
  • Kebijakan ekonomi CMT ( Classical macroeconomic Theory) yang dilandasi prinsip Laissez faire tidak dapat dipertahankan lagi. Upaya untuk meningkatkan volume kesempatan dan tingkat pendapatan nasional tidak dapat sepenuhnya diserahkan pada the invisible hand tetapi diperlukan intervensi pemerintah dalam bentuk kebijakan ekonomi makro tertentu, yaitu fiskal maupun moneter.
  1. 2.      Frederic Bastiat, Pendukung Laissez Faire

Frederic Bastiat adalah pendukung kuat kebijakan perdagangan bebas dan laissez faire,  penentang sosilisme yang gigih, dan seorang ahli debat dan negarawan. Dia sering dibandingkan dengan Voltaire dan Franklin dalam hal integritas dan kejujurannya, dan dalam hal keanggunan pesan- pesannya.

Dengan menggunakan fabel yang menghibur, esais prancis ini menyerang segala macam bentuk statism- sosialisme, komunisme, utopianisme, dan merkantilisme. Dua esainya yang paling terkenal “ Petition of the Candle makers” dan “The Broken Window ”, masih dicetak ulang dan dijadikan acuan sampai saat ini. ( Bastiat 1995:1-50; Roche 19971: 51-53, dalam Mark Skousen. 2005: 73).

The New Palagrave menganggap Bastiat adalah “tak tertandingi dalam hal mengungkapkan kepalsuan” (Hebert 1987: 205, dalam Mark Skousen.2005 : 73).

Perjuangan demi kebebasan ekonomi dan politik masih menjadi perjuangan utama bagi Bastiat dan pengikut Say. Untuk menjaga warisan Say, Bastiat mulai menulis tentang perdagangan bebas. Pada 1846 dia pindah ke Paris dan mulai membentuk asosiasi perdagangan bebas di seluruh Negara, dengan meniru kaum reformis perdagangan di Inggris. Dia mempublikasikan libre echange, sebuah jurnal perdagangan bebas. Pada tahun yang sama dia menulis fabelnya yang paling terkenal “Petition of the Candle makers ” sebuah satire bagi kaum proteksionis

Revolusi 1848 dan Republik Prancis Kedua

Titik balik penting terjadi pada tahun 1848 ketika para petani Prancis memberontak melawan monarki Prancis, mengibarkan bendera merah tanda pembangkangan, dan melakukan pertempuran berdarah melawan Pasukan Pengawal Nasional. Massa menginginkan sosialisme, tetapi Bastiat menolak hal ini dan mengeluh : “ kita telah mencoba banyak hal; kapan kita mencoba hal yang paling sederhana: kebebasan?” ( Roche 1971:79, dalam Mark Skousen.2005 : 74).

Hasil dari revolusi 1848 adalah Republik Prancis kedua dan pemilihan umum yang demokratis. Bastiat terpilih menjadi anggota Majelis Nasional dan menjadi wakil Presiden komite keuangan majelis. Dia dikenang sebagai sosok kurus dan bungkuk yang duduk disebelah kiri, tempat kaum liberal dan radikal berada, sedangkan kaum konservatif berada disebelah kanan (inilah istilah khusus kiri dan kanan dalam politik ). Dia dengan penuh semangat menentang kebijakan sosialis dan komunis, dan dia merasa lebih nyaman duduk disebelah kiri. Dia membantah kaum sosialis yang tertutup, menentang pembubaran serikat perdagangan, atau deklarasi undang- undang darurat.

Salah satu kisah kiasan Bastiat adalah “ The Broken Window” yang dimuat dalam sebuah pamphlet yang berjudul “ what is Seen What is no Seen” yang ditulis pada 1850. Isinya tentang Jacques Bonhomme seorang warga yang gigih. Putranya yang kurang ajar memecahkan sebuah kaca jendela. Pada mulanya orang-orang yang menyaksikannya merasa simpati kepada Jacques yang harus membayar enam franc untuk mengganti kaca jendela itu.

Tetapi kemudian mereka mulai berpikir bahwa barangkali kaca jendela yang pecah adalah baik untuk bisnis. Bagaimanapun juga, “ apa jadinya nasib pembuat kaca jendela jika tak seorang pun memecahkan kaca jendela? ”. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah memecahkan kaca jendele itu “ akan melancarkan sirkulasi uang dan akibatnya mendorong produksi secara umum” ( Bastiat 1995: 2, dalam Mark Skousen.2005 : 76).

Bastiat menulis “ itulah yang terlihat”. Pengrusakkan itu mendorong peningkatan bisnis kaca jendela. Tetapi kemudian Bastiat bertanya, “ Apa yang tak terlihat?”. Dalam analisis tiga tingkat ini Bastiat menunjukkan bahwa Jacques Bonhomme tak lagi punya enam franc untuk membeli sepatu sendiri atau membeli buku untuk perpustakaannya.

Bastiat menyimpulkan “ mari kita pertimbangkan industry secara umum. Kaca jendela baru saja pecah, industry gelas mengalami peningkatan sebesar enam franc; itulah yang kelihatan. Jika jendela tidak pecah, industry sepatu atau industry lainnya akan mendapatkan peningkatan senilai enam franc, itulah yang tidak kelihatan”.

Pelajaran dari cerita ini adalah “ Pengrusakan tidaklah menguntungkan” (Bastiat 1995 : 2-3, dalam Mark Skousen.2005 : 76). Secara umum Bastiat membuat generalisasi tentang peran ekonomi dalam mengungkapkan kesalahan: “ hanya ada satu perbedaan antara seorang ekonom yang buruk dan ekonom yang baik: ekonom yang buruk hanya membatasi pada efek yang terlihat; ekonom yang baik mempertimbangkan baik itu efek yang terlihat maupun efek yang harus diperkirakan” ( Bastiat 1995: 1, dalam Mark Skousen.2005 : 76).

Bastiat Memperluas Perjuangan Menuju Kebebasan

Bastiat bukan sekedar jurnalis ekonomi. Dia juga seorang fisuf hukum yang banyak menulis tentang organisasi social yang paling sesuai untuk masyarakat dan pasar yang bebas. Karya utamanya adalah The Law, sebuah pamphlet yang terbit pada bulan Juni 1850 (1996). Pada masa akhir hidupnya dia sangat produktif dalam menulis karena tahu bahwa usianya tidak akan lama lagi.

Menurut Bastiat, hukum adalah pembelaan negative yang sah untuk “kehidupan, kebebasan dan properti”. Peran pemerintah yang tepat adalah membela “ hak asasi yang diberikan oleh tuhan” yakni hak untuk hidup, bebas dan memiliki kekayaan, dan mencegah “ketidakadilan kekuasaan” ( Bastiat 1996:2, dalam Mark Skousen.2005 : 78). Kebebasan manusia harus diperluas seluas mungkin. “ setiap manusia berhak untuk menggunakan seluruh kemampuannya sepanjang dia tidak membahayakan atau mengganggu orang lain pada saat menggunakan kemampuannya itu” (1996:51). Kebebasan mencakup kebebasan mendapatkan pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, berdagang, dan berserikat (Halaman 62).

Apabila hak- hak ini dibela dengan benar, maka tidak ada batas untuk kemajuan dan kebahagiaan masyarakat. “ Ini adalah prinsip keadilan, perdamaian keetertiban, stabilitas, harmoni, dan logika… Dan jika setiap orang menikmati kebebasan untuk memanfaatkan kemampuannya dan keinginannya untuk bekerja, maka kemajuan social akan terus terjadi tanpa henti, tanpa hambatan dan tanpa kemunduran” (halaman 20, halaman 5). Lebih jauh “ setiap orang akan memperoleh harkat dan martabatnya yang sejati”. Kata Bastiat ( halaman 73 ). Dia bertanya “ Negara manakah yang penduduknya paling damai, paling bermoral, dan paling bahagia?” Jawabannya adalah Negara yang paling sedikit mencampuri urusan pribadi warganya, yang meminimalkan pajak, tariff dan regulasi, dan tidak merintangi kebebasan berbicara, bepergian, dan berserikat. ( Halaman 74 ).

Bastiat Memperingatkan Bahaya Perampasan Yang Legal

Menurut Bastiat  bahwa hukum telah dirusak oleh dua sebab “  keserakahan bodoh ” dan “ kedermawanan palsu”. Keserakahan menyebabkan public merampas hasil orang lain : “ Hukum mengambil property dari satu orang dan memberikannya kepada orang lain : hukum mengambil kekayaan semua orang dan memberikannya kepada segelintir orang” ( Halaman 13 ). Ringkasnya , hukum bukannya melindungi property tetapi justru merampasnya. Bastiat secara spesifik menyebut perbudakan dan tariff di Amerika Serikat sebagai contoh dari perampasan legal. “ Hukum telah menjadi instrument ketidakadilan” ( Halaman 15)

Menurut Bastiat, perampasan legal , “ Daya tarik sosialisme yang memikat”, muncul dalam banyak bentuk : “ tariff, proteksi, kepentingan, subsidi, dorongan, pajak progresif, sekolah umum, jaminan kerja, jaminan prifit, upah minimum, hak untuk istirahat, hak untuk mendapatkan alat kerja, kredit dan sebagainya” ( Halaman 18)

Bastiat juga memperingatkan adanya “ kedermawanan palsu”, yakni “sumbangan yang tidak sukarela”. Dia menentang segala bentuk pemaksaan sumbangan, pemaksaan pendidikan dan pemaksaan agama. ”kami tak mengakui bentuk asosiasi yang dipaksakan kepada kami, karena itu bukan asosiasi bebas”. Bastiat membedakan antara “pemerintah” , system yang dipaksakan, dan “masyarakat” sebuah jaringan sukarela. Dalam nada polemic, Bastiat mengatakan : “ kami tidak menyetujui pendidikan Negara. Karena itu orang sosialis mengatakan bahwa kami menentang semua pendidikan. Kami menentang agama Negara. Dan karena itu kaum sosialis mengatakan bahwa kami tidak menginginkan agama. Kami juga keberatan dengan kesetaraan yang dipaksakan oleh Negara. Dan karenanya mereka mengatakan bahwa kami menentang kesetaraan… kaum sosialis itu sepertinya menuduh bahwa kami tidak ingin orang- orang bisa makan karena kami tidak ingin Negara menanam gandum” ( Halaman 29).

Bastiat keberatan terhadap arogansi “ orang yang selalu ingin memperbaiki” tatanan social dengan memaksa semua orang patuh pada aturan dan regulasi yang berjubel-jubel, dan melemahkan kebebasan individu. Karena takut warga Negara yang bebas akan melemahkan mereka., “maka para legislator itu harus memmbuat rencana untuk menyelamatkan mereka dari diri mereka sendiri” (Halaman 63). Bastiat menulis kepada legislator yang bernafsu untuk menguasai semua orang: “ Ingatlah bahwa terkadang tanah,pasir ini dan pupuk yang kalian atur sesuka hati adalah manusia! Mereka seperti kalian! Mereka adalah manusia yang berakal dan bebas seperti diri kalian juga! Mereka juga diberi kemampuan oleh tuhan  kemampuan untuk melihat, menyusun rencana kedepan, berpikir dan menilai diri mereka sendiri !” ( Halaman 48).

Bastiat mengakhiri pamphlet ini dengan seruan untuk memperjuangkan kebebasan: “ Semoga mereka menolak system dan memperjuangkan kebebasan; sebab kebebasan adalah sama dengan beriman kepada Tuhan dan Karya-Nya”

Ekonomi Mencapai Puncaknya, Lalu Turun Kembali

Visi Adam Smith tidak pernah dibela oleh tokoh- tokoh Prancis yang lebih cerdas ketimbang pengikutnya, Turgot, Condillac, Say, Bastiat dan de Tocqueville dan Montequieu sebelum Smith. Mereka membawa doktrin tangan tak terlihat dan harmoni natural system pasar ke titik puncaknya. Tetapi, kisah ilmu ekonomi adalah kisah tentang pergeseran yang tak terduga dari dunia Adam Smith menuju kejalan gelap yang panjang. Yang menakjubkan , perjalanan pergeseran menjauh dari visi Adam Smith diawali oleh tulisan dua muridnya sendiri dinegerinya sendiri.

KESIMPULAN

 

  • Ekonom klasik Prancis Jean- Baptiste Say dan Frederic Bastiat mengembangkan model klasik Adam Smith dan mempromosikannya sebagai model kemakmuran universal.
  • Say dan Bastiat mengemukakan banyak kemungkinan ekonomi industri yang bebas, yang dipimpin oleh para wiraswastawan.
  • Hukum pasar Say menjadi prinsip dasar makro ekonomi klasik dan ketelitiannya sangat terkenal dalam ilmu ekonomi dan tetap tak tertandingi sampai munculnya revolusi Keynesian pada abad selanjutnya.
  • Belum pernah ada eksponen perdagangan bebas yang paling terang- terangan ketimbang Frederic Bastiat.
  • Jean Baptiste Say seorang ahli ekonomi berkebangsaan prancis yang mengembangkan teori Adam Smith tentang pasar dalam bukunya yang berjudul “Traite d’economic politique
  • Say menyatakan bahwa selama setiap produk dapat ditukarkan dengan produk lain, maka setiap produk yang dipasarkan akan menciptakan penawarannya sendiri.
  • Pernyataan tentang adanya saling ketergantungan dalam sebuah perekonomian pertukaran sering juga disebut Hukum Say ( Say’s law). Prinsip tersebut telah digunakan untuk menyangkal kemungkinan krisis ekonomi sebagai akibat dari produksi yang berlebihan dari barang dan jasa secara umum, dan menyatakan bahwa perekonomian nasional secara otomatis akan mendekati posisi kesempatan kerja penuh.
  • Frederic Bastiat adalah pendukung kuat kebijakan perdagangan bebas dan laissez faire,  penentang sosilisme yang gigih, dan seorang ahli debat dan negarawan.

               

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumber Buku :

  • Skousen, Mark. 2005. Sang Maestro Teori- Teori Ekonomi Modern. Jakarta : Prenada.
  • Kusnendi, Drs., M. Si. 2002. Teori Makroekonomi I model fluktuasi jangka pendek. Bandung : Laboraturium UPI bandung
  • Pass, Christoper & Lowes, Bryan. 1994. Kamus Lengkap Ekonomi. Jakarta : Erlangga

Sumber internet :

  • www. wikipedia.com//laissez-faire.seri politik

EKONOMI SOSIALIS

  1. 1.      LATAR BELAKANG MUNCULNYA EKONOMI SOSIALIS
    1. Adanya paham-paham yang menentang teori klasik

Uraian tentang pemikiran Ekonomi klasik belum berakhir, karena pertama, terjadi perdebatan yang semakin kuat terhadap pemikiran ekonomi klasik; kedua, terjadi jarak yang agak lama antara karya-karya Ricardo dan J.S.Mill, sehingga peranan Mill bersifat menengah dan mencoba membela pemikiran ekonomi klasik; ketiga, pemikiran J.S.Mill terpengaruh juga oleh pemikiran-pemikiran ekonomi sosialis, sebagaimana nanti akan terlihat.

Dengan demikian, uraian mengenai ekonomi sosialis membicarakan lebih dulu beberapa kritik terhadap pemikiran ekonomi klasik, yang kemudian disusul dengan penyajian pemikiran-pemikiran Mill, dan terakhir pemikiran sosialis, baik yang bersifat utopis, maupun ilmiah.

Perbedaan pokok antara pemikiran ekonomi klasik dengan para pengkritiknya terletak pada peranan individu dan peranan Negara dalam kehidupan ekonomi. Ini berarti menyangkut aspek doktrin persaingan bebas dan campur tangan pemerintah. Dalam kondisi yang demikianlah pemikiran-pemikiran ekonomi sosialis muncul, karena berbagai hukum ekonomi yang pesimis itu kurang didukung kenyataan. Ekonomi sosialis lebih menekankan peranan Negara dalam menciptakan dan mengatur kekayaan Negara.

Hal yang menakjubkan adalah bahwa dasar pokok teori ekonomi sosialis ilmiah muncul dari teori nilai tenaga kerja Ricardo, yang ditafsirkan jauh lebih radikal untuk perjuangan politik. Nilai lebih diciptakan oleh tenaga kerja dan kaum pemilik capital melakukan pemerasan terhadap tenaga kerja. Tetapi, dari segi tujuan akhir adalah sama. Ramalan-ramalan Marx tentang tingkat upah, sewa lahan, dan tingkat laba sama dengan apa yang dikemukakan pemikiran klasik, hanya berbeda dalam menafsirkan dan implikasi politik.

  1. Tokoh-tokoh yang menentang teori klasik

Beberapa tokoh ekonomi yang melakukan kritik tidak hanya berasal dari Inggris, tetapi juga dari Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Dalam kesempatan ini, akan dibicarakan kritik Leuderdale dari Inggris, Sismondi dan Bastiat dari Perancis, Muller dan List dari Jerman. Selanjutnya, seorang pemikir dari Amerika Serikat yang bernama Carey membantah tentang berlakunya teori sewa lahan Ricardo. Kalau dikelompokkan, maka Bastiat dan Carey termasuk optimis, sedangkan Muller dan List mempunyai nasionalisme dan membela proteksi, sedangkan Sismondi cenderung berpaham sosialisme.

  • Lauderdale

Sampai dengan pemikiran Ricardo, pemikiran ekonomi klasik telah mencapai puncaknya, walaupun berkembang menjadi pemikiran yang dianggap pesimis. Hal ini telah diuraikan, misalnya pada teori kependudukan Malthus, dan sewa lahan dari Ricardo. Meskipun demikian, sistem ekonomi klasik yang mengutamakan peranan individu, sejak awal pemikiran klasik telah mendapat kritik. Para pengkritik ini, pembela proteksi, lebih optimistik, mengutamakan peranan Negara.

Lauderdale senegara dengan Adam smith. Lauderdale termasuk pengkritik awal terhadap pemikiran Smith. Dia tidak setuju dengan andaian persaingan bebas. Lauderdale lahir pada tahun 1759. Pemikiran-pemikirannya termuat pada buku karyanya yang berjudul An Inquiry into the Nature and Origin of Public wealth, and into the means and causes of its increase. Buku ini membicarakan kekayaan publik, bukan swasta, karena ekonomi publiklah yang diperlukan oleh setiap tahap kehidupan masyarakat. Dia membedakan kekayaan individu (riches), dan kekayaan publik (wealth).

Tentang pengertian nilai, Lauderdale menyatakan bahwa komoditi pertama-tama berguna dan disenangi, kedua, komoditi itu ada dalam kelangkaan. Jika permintaan tetap, tetapi kelangkaannya meningkat, maka nilai komoditi meningkat, dan sebaliknya jika komoditi dalam jumlah berlimpah. Dengan demikian, jika kekayaan individu meningkat dalam kelangkaan akan menyebabkan kekayaan public menurun. Seperti telah diuraikan, menurut pendapat Smith (dengan dasar kekayaan individu), kekayaan nasional sama dengan jumlah seluruh kekayaan individu. Dalam hal ini ditafsirkan oleh Lauderdale, kekayaan publik sangat tergantung kepada individu.

Apakah yang dimaksud dengan kekayaan publik ? Lauderdale menyatakan bahwa semua barang yang diinginkan orang karena berguna bagi mereka, sedangkan kekayaan individu pengertiannya adalah barang tersebut diinginkan dan berguna bagi setiap orang tetapi dalam derajat kelangkaan. Jadi, jika kelangkaan meningkat, maka kekayaan publik menurun.

Lauderdale mengemukakan 4 sebab perubahan nilai barang, yakni : Pertama, peningkatan jumlah barang; Kedua, meningkatnya permintaan; Ketiga, meningkatnya permintaan; Keempat, menurunnya permintaan. Dengan jelas, analisis Lauderdale menggunakan teori permintaan dan penawaaran. Hal ini berbeda dengan pemikiran ekonomi Klasik yang mengutamakan aspek penawaran. Dengan demikian, Lauderdale melanjutkan pembahasanya dengan menggunakan elastisitas permintaan dimana dengan menurunnya jumlah barang atau kelangkaan meningkat, maka persaingan akan meningkatkan nilai barang. Meskipun demikian, menurut Lauderdale, hal itu masih tergantung pada keinginan orang untuk melepaskan sebagian kebutuhannya terhadap barang tersebut, apakah dia tetap melanjutkan keinginan sebagaimana biasa atau menguranginya, karena adanya kebiasaan ataupun selera yang menjadi pertimbangan.

Dalam hal ini, Lauderdale membedakan pengaruh kelangkaan terhadap setiap barang. Terhadap barang-barang kebutuhan  pokok pengaruh itu relative kecil ( sekitar 1:50 ), dibanding terhadap barang-barang mewah (diperkirakannya dapat dua atau tiga kali lipat ). Kritik-kritik Lauderdale ini sangat menarik, jika dikaitkan nanti dengan perkembangan teori harga, baik dikemukakan oleh J.M. Mill maupun pendapat kaum Neo-Klasik.

Selanjutnya, Lauderdale membahas pula variabel laba. Menurut Smith, laba adalah bagian dari penghasilan (revenue) yang merupakan salah satu sumber modal. Lauderdale menyatakan bahwa modal bukanlah sumber nilai, karena laba merupakan bagian dari jerih payah tenaga kerja yang dipindahkan kepada pemilik modal. Modal yang termasuk dalam laba berfungsi menggantikan tenaga kerja. Dia memberi contoh, bagaimana seorang petani dapat membersihkan rumput dengan menggunakan tajak. Kalau tanpa tajak diperlukan lima puluh orang untuk menyiangi tanaman dengan luas tertentu. Jadi, penggunaan tajak menggantikan 49 orang pekerja. Diakuinya bahwa modal dapat membantu produksi, tetapi menggantikan pekerja. Smith berpendapat bahwa tenaga kerja dibatasi oleh jumlah modal dan dengan meningkatkan penggunaan modal dapat meningkatkan kekayaan. Sebaliknya, Lauderdale menyatakan bahwa suatu negeri tidak akan mempunyai manfaat dengan mempunyai modal lebih banyak, jika tidak memanfaatkan tenaga kerja. Dari sini pula Lauderdale sampai kepada paradox yang berlebihan (excess of paradox). Maksudnya, dengan semakin meningkatnya modal akan terjadi kelebihan penawaran. Tidak semua yang diproduksi dapat dijual. Ini erat sekali kaitannya dengan theory of glut dari Malthus. Dengan demikian, modal tidak lagi dapat bermanfaat, bahkan merupakan modal yang tenggelam. Dalam hal ini, aspek permintaan yang perlu dirangsang, bahkan Lauderdale sampai pada aspek kesenjangan kesempatan. Kesenjangan yang besar ini dapat merintangi peningkatan kekayaan publik. Diperlukan distribusi yang layak untuk meningkatkan permintaan.

Lauderdale telah melihat berbagai kelemahan teori yang disusun Smith. Tetapi satu hal perlu diingat bahwa andaian mereka berbeda. Smith dengan kemerdekaan individu, sedangkan Lauderdale menekankan aspek peranan Negara dalam mengatur ekonomi dalam usaha meningkatkan kekayaan bangsa. Bila dilihat pada zamannya, Lauderdale adalah pengeritik awal terhadap pemikiran Smith. Mereka sama-sama bertolak dari teori nilai, tetapi Lauderdale telah sampai kepada aspek kelangkaan dan teori permintaan. Dari segi perkembangan teori ekonomi, sumbangan ini sangat berarti.

  • Simonde De Sismondi

Sismondi yang lahir tahun 1773 di Genewa adalah seorang penulis ekonomi yang sulit mengelompokkannya. Pada masa mudanya, dia cenderung mengikuti pemikiran Smith, tetapi kemudian dia menyatakan bahwa gagasan Smith tidak ada yang baru. Hal ini disebabkan karena dia adalah seorang penulis sejarah. Dia lama tinggal di Italia dan menulis 16 jilid sejarah negeri itu. Selanjutnya menulis sejarah Perancis meliputi 29 jilid.

Sismondi pernah mengunjungi Inggris. Pandangan-pandangannya yang menyetujui pemikiran Smith dapat dilihat dalam bukunya De La Richesse Commerciale (kekayaan perdagangan) yang terbit tahun 1803. Tetapi kemudian, 16 tahun dia melakukan penelitian sejarah. Setelah itu kembali menulis tentang politik ekonomi dalam bukunya Nouveaux Principles d’economie politique yang terbit pada tahun 1819. Pandangan-pandangannya tidak lagi mengikuti pemikiran Smith, karena dia melihat suatu dunia sedang dalam kemarahan, kelaparan dan bahkan mengutuk pembagian kerja serta berbagai penemuan dalam bidang manufaktur. Dia bertanya : “ where are we going ?” dimana kebahagiaan manusia di dunia ini yang mengalami kemajuan, tetapi dimana-mana juga manusia menderita.

Sismondi melihat bahwa hal itu terjadi karena persaingan yang tidak dibatasi dan terjadinya kelebihan produksi yang tidak dapat diserap oleh permintaan. Kelebihan produksi ini bukan untuk barang-barang tertentu tetapi secara umum. Hal ini berakibat pada pembagian kerja dan skala industri yang meningkat menjadi besar. Jika seorang memproduksi untuk keperluannya sendiri, dia tahu kapan dia berhenti karena sudah cukup. Tetapi dalam masyarakat luas produsen tidak  pernah tahu kapan jumlah produknya cukup, sehingga terus berproduksi. Ini adalah kritiknya terhadap ekonomi hanya dari sisi penawaran dan mengabaikan sisi permintaan.

Dalam suatu masyarakat yang semakin rumit, sulit melihat kapan daya konsumsi sampai pada batasnya. Sebenarnya permintaan yang perlu diketahui lebih dulu. Tetapi semangat prodfusen yang berkembang hanya melihat tersedianya modal. Berkaitan dengan masalah kekuatan ini, Sismondi mengajukan teori distribusi. Menurut Sismondi,produksi dan konsumsi harus seimbang. Oleh karena itu, bukan masalah akumulasi modal dan kekayaan yang utama, tetapi pengendalian kekayaan dan pengarahan kekayaan untuk meningkatkan kesenangan. Oleh karena itu, Laissez faire tidak dapat dipercaya, dan intervensi pemerintah diperlukan untuk melindungi yang lemah terhadap yang kuat. Pemerintah sebagai pelindung bagi yang tidak mempunyai kekuatan. Dari pengalaman yang terjadi, kekuasaan itu diperlukan untuk melindungi manusia yang menjadi korban kemajuan, yang tidak mendapatkan keuntungan, Laissez faire telah memperburuk kesenjangan kekuatan (bargaining power). Konflik kepentingan akhirnya merugikan yang lemah yang menyebabkan ketidak-adilan.

Karena itu semakin jelas peranan pemerintah. Setiap individu mengejar kepentingannya yang mempercepat jalannya mesin dan tugas pemerintah adalah memperlambat dan mengatur gerak mesin itu dalam rangka mengejar kekayaan. Sismondi sependapat dengan Lauderdale bahwa penemuan dan mesin akan memyingkirkan tenaga kerja manusia dan akhirnya akan membawa Negara ke dalam kemiskinan, walaupun mungkin efek ini dapat diimbangi dengan keuntungan-keuntungan dari perdagangan internasional, dan terjadi konsentrasi kekayaan di suatu tempat, tetapi di tempat lain mengalami kehancuran. Inggris semakin kaya, tetapi beban itu dipikul oleh daratan Eropa. Kalau demikian, seluruh penemuan dikutuk, karena telah menimbulkan kelebihan produksi. Tetapi jika kebutuhan konsumen belum terpenuhi, maka penemuan itu sangat berguna bagi masyarakat. Pasarlah terlebih dahulu yang diperluas,bukan produksi.

Berkenaan dengan teori penduduk Malthus, terutama dengan jumlah penduduk yang dibatasi oleh tingkat hidup subsisten dan diperlukan kendali, Sismondi menyatakan bahwa pengendalian itu tidak mungkin, karena sangat tergantung pada kemauan manusia dan keterbatasan kesempatan bekerja. Hal yang penting adalah permintaan terhadap tenaga kerja. Pekerja tidak akan kawin sebelum dia mampu untuk kawin. Oleh karena itu diperlukan jaminan stabilitas bekerja. Tetapi mesin dapat mengalahkannya. Pekerja tidak pernah menghitung penghasilannya, tetapi diubah oleh pihak lain tanpa sepengetahuannya. Karena kelebihan penduduk terjadi, sedangkan penemuan-penemuan menyingkirkan tenaga kerja, maka terjadi kelebihan produksi. Oleh karena itu, Sismondi mengajukan saran yang mengejutkan. Pemerintah melarang orang-orang yang miskin untuk kawin dengan jaminan tertentu.

Suatu hal yang menjadi obsesi bagi Sismondi adalah masalah kelebihan produksi secara umum yang menimbulkan krisis perdagangan. Selanjutnya, kesempatan kerja yang terdesak oleh karena adanya invensi dalam industri. Oleh karena itu dia mengatakan bahwa kekayaan dibuat untuk manusia, dan bukan manusia untuk kekayaan. Dia melihat hari-hari yang gelap dalam masa revolusi industri, status pekerja yang tidak stabil. Dia tidak mencapai sosialisme, tetapi ternyata pandangan-pandangannya mempunyai pengaruh yang tidak dapat diabaikan kemudian terhadap para penulis sosialis.

  • Adam Muller

Adam Muller lahir di berlin pada tahun 1779. Dia sebenarnya bukan seorang ekonom, tetapi berbagai tulisannya berkaitan dengan ekonomi. Di Jerman Muller dapat dikelompokkan pada aliran Romantik Baru. Sebagai penulis politik, maka dalam karya-karyanya terlihat jalinan yang erat antara aspek ekonomi dan politik. Oleh karena itu, dia mempunyai keberatan tertentu terhadap pemikiran Smith.

Adam Smith adalah seorang atomistic, sedangkan Adam Muller lebih mengutamakan peranan Negara. Dua hal yang menjadi sumbangan Muller. Pertama, perjuangan politik dan ekonomi yang menjadi cirri kaum Romantik di Jerman. Pusat pandangannya bertolak dari setiap individu yang merupakan kehidupan yang berjalin dengan Negara, karena Negara bukanlah artifisial. Kehidupan Negara adalah jumlah kehidupan sipil. Negara dan individu menjadi hidup yang saling tergantung sepanjang waktu. Bagi Muller Negara merupakan bianatang besar (leviathan) yang memakan individu. Kedua, Muller membedakan tiga jenis hak milik, yakni milik pribadi murni, milik koperaftif dan milik Negara. Milik pribadi juga dapat diserahkan kepada Negara bilamana diperlukan.

Selanjutnya, berkenaan dengan kekayaan dan produksi sebagaimana dikemukakan Smith, Muller dengan sendirinya mempunyai pendapat yang berbeda. Dengan daras pemikiran tadi, maka Muller berhadapan dengan system Laissez faire, karena peranan negaralah yang dominan. Tanpa intervensi pemerintah, akan terjadi pensucian pemilikan kekayaan bagi Muller, Negara adalah segala-galanya, sehingga kekayaan, produksi dan konsumsi adalah urusan Negara. Untuk menjelaskan kekayaan, Muller bertolak dari pertanyaan: Bagaimana kekayaan itu diperoleh ?. dia menolak kaitan produksi dan penghematan (parsimony). Kekeuatan ekonomi masyarakat adalah suatu proses produksi dan konsumsi yang tidak berakhir. Kekayaan nasional tidak hanya dengan mengurangi produksi dengan konsumsi, konsumsi itu sendiri merupakan sumber kekayaan nasional yang dimiliki dan berguna.

Muller memperkenalkan istilah baru pada waktu itu, yakni modal (capital), bukan hanya fisik tetapi ada pula modal spiritual. Hal ini berkenaan dengan penghormatan masa lalu dan proses kesinambungan. Berkenaan dengan modal spiritual ini, Muller tidak menyebut trinitas faktor produksi dengan sebutan lahan, tenaga kerja, dan modal. Tetapi dengan istilah lain, yakni alam, manusia dan masa lalu (nature, man, and the past). Modal adalah sumbangan masa lalu kepada masa sekarang dan menantang alam, yang kemudian membuahkan hasil. Tetapi, warisan masa lalu tidak hanya bersifat material, tetapi termasuk yang bersifat spiritual. Kekayaan Negara yang meliputi keterampilan administrasi, undang-undang dasar, hukum dan peninggalan nasional. Kekayaan Inggris, misalnya, bukan hanya kerja, lahan dan modal, tetapi juga berbagai undang-undang, tradisi, dan prestasi-prestasi nasional masa lalu.

Selanjutnya, Muller membahas tentang pembagian kerja; Muller menyatakan bahwa pembagian kerja telah membawa pekerja ke derajad budak dan mesin. Di negeri Inggris, karena persatuan telah tertanam melalui tradisi dan hukum, maka penerapan pembagian kerja tidak mendatangkan keburukan. Tetapi, dalam hal ini peranan modal spiritual sangat kuat. Selanjutnya, Muller menjelaskan fungsi uang. Uang adalah alat pemersatu. Kebutuhan pokok dari manusia, bagaimana dia dapat bersatu dengan teman-temannya. Uang merupakan  pencerminan dari alat untuk itu. Uang dapat pula menggantikan fungsi Negara, yang menghubungkan manusia dengan barang-barang. Uang beredar dari tangan ke tangan yang menjadi milik pribadi, tetapi selebihnya tidak sebagai uang lagi. Uang milik pribadi bagi semua individu, dalam kehidupan masyarakat dan menjadi kebajikan yang dapat menghubungkan antar individu dengan yang lain.

Itulah pandangan Muller yang lebih mengutamakan peranan Negara, dan pandangan-pandangannya itu terutama ditemukan dalam karyanya yang terkebal Elemente der Staatkunst yang terbit pada tahun 1809. Muller meninggal dalam usia 50 tahun.

  • Friedrich List

List lahir di Reutlingan pada tahun 1786 dan menjadi Guru Besar ekonomi di Tubingen pada tahun 1817, tetapi mengundurkan diri dua tahun kemudian. Karena agitasinya tentang perubahan sosial menyebabkan dia diasingkan. Tujuh tahun di Amerika Serikat menjadi wartawan, kemudian kembali ke Jerman. Karena penyakit yang mengidap dalam dirinya, ditambah dengan krisis keuangan dia meninggal dengan tragis pada tahun 1846. Bukunya yang terkenal yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah The National System of political Economy. Disamping mengritik Smith, List mengajukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Beberapa kritik yang dikemukakannya adalah tentang teori nilai, modal dan perlunya proteksi.

List menyatakan bahwa teori nilai yang dianut Smith dalam sistem persaingan bebas tidak lebih daripada teori toko pengecer yang dibangun atas teori pertukaran. Berdasarkan teori nilai barang dari Smith, orang yang mempunyai kekayaan tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk menghasilkan, dapat menjadi miskin. Oleh karena itu, disamping kekayaan dan produksi ada kekuatan produktif. Jadi List mengemukakan teori kekuatan itu luas sekali, mulai dari agama, pelarangan perbudakan, penemuan percetakan, polisi, jam dan alat-alat transport, semua ini termasuk kekuatan produktif.

Kalau dari Sismondi ada modal spiritual, List menyebut modal mental manusia. Akumulatif dari semua penemuan, penyempurnaan dan perbaikan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya, itulah yang dimaksud oleh modal mental.

Tentang individu dan Negara, List menyatakan bahwa individu bukan semata-mata sebagai produsen dan konsumen, tetapi juga warga Negara dan anggota dari suatu bangsa. Kekuatan produktif dari individu ditentukan oleh masyarakat dan keadaan politik. Fungsi ekonomi politik adalah mencapai pembangunan ekonomi bangsa. Oleh karena itu, setiap usaha yang memisahkan ekonomi dan politik adalah keliru. Paham seperti Laissez faire adalah penipuan. Pada keadaan yang demikian seorang negarawan tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang negarawan harus tahu bagaimana seluruh kekuatan produktif nasional dapat digerakkan untuk meningkatkan perlindungannya. Mereka jangan dibiarkan tidur atau hancur.

Untuk mencapai pembangunan bangsa itu bukan dengan pembagian kerja sebagaimana Smith, tetapi dengan memajukan industri dan pertanian. Memang kedudukan pertanian relatif inferior terhadap industri, sebagaimana pada zaman Merkantilisme. Tetapi, List berpendapat bahwa dengan majunya industri manufaktur, maka perdagangan pelayaran di dalam dan ke luar negeri akan berkembang. Sector pertanian akan didorong untuk maju, jika sektor industri mencapai kemajuan yang tinggi. Katanya, jika memajukan sektor pertanian saja, seperti yang dialami masa psiokrat, maka akan menjadi negeri pertanian yang pincang. Dengan memajukan industri tadi, maka penemuan-penemuan, ilmu pengetahuan, seni dan modal mental akan maju. Industri manufaktur dapat meningkatkan nilai lahan menjadi sepuluh kali lipat, dan ekspor akan dapat dilakukan.

List menjelaskan pula bahwa industri pada tahap awal perlu mendapat perlindungannya. Hal ini bertentangan dengan pandangan Smith. List membela proteksi. Ada tahapnya untuk dapat melakukan perdagangan bebas. Dalam hal ini, List mengemukakan lima tahap pembangunan. Pertama, tahap primitive dan masih biadab (original barbarisme); Kedua, tahap peternakan; Ketiga, tahap kondisi pertanian yang telah menetap; Keempat, tahap industri pertanian, dan Kelima, tahap industri pertanian dengan tingkat perdagangan yang telah maju. Pada zamannya, Jerman masih berada pada tahap ketiga dan keempat. Oleh karena itu, diperlukan proteksi. Pada tahap terakhirlah bias melakukan perdagangan bebas. Misalnya, Portugal dan Spanyol dapat melakukan perdagangan bebas, tetapi Jerman dan Amerika masih memerlukan proteksi. Perancis dan inggris telah sampai pada tahap terakhir, sehingga mereka dapat melakukan perdagangan bebas.

Pemikiran List tentang tahap kemajuan ekonomi dan diperlukannya perlindungan, tampaknya relevan dengan Negara-negara yang sedang berkembang. Perdagangan bebas dilakukan negeri-negeri yang sama tingkatan pembangunannya. Tetapi untuk negeri-negeri yang kecil, tidak mungkin melengkapi seluruh produksinya. Malahan dalam keadaan ini proteksi dapat menjadi monopoli swasta. List memandang proteksi diperlukan sebagai kebijaksanaan transisi.

  • Henry Charles Carey

Ketika Carey terhadap pandangan kaum klasik adalah dari situasi pesimisme menjadi optimisme. Carey lahir di Philadelphia pada tahun 1793, lebih tua sekitar 5 tahun dari list. Carey mula-mula sukses sebagai penerbit, tetapi kemudian banyak menulis. Karyanya terbesar mencapai 13 jilid, disamping lebih dari 50 tulisan pamflet. Beberapa karyanya yang utama adalah Essay on The Rate of wages, Principles of political Economy, The Principle of Social Sciaence, The past, The present and The Future, Harmony of Interests. Buku kedua mencapai tiga jilid.

Pertama-tama, carey membahas teori nilai. Tenaga kerja, baginya merupakan sumber tunggal nilai barang, tetapi dengan beberapa variasi kesimpulan. Kondisi pertama, pada tahap ekonomi Robinson Crusoe dimana nilai diukur dengan tenaga kerja yang dikorbankan. Tetapi dengan datangnya modal, maka nilaii tukar beralih dengan ongkos reproduksi. Dengan kemajuan manusia, ongkos reproduksi ini mengalami penurunan, karena terjadi penurunan nilai modal yang tersedia. Kedudukan tenaga kerja senantiasa membaik dengan meningkatnya konpensasi dari pemilik modal, tetapi secara proporsional menurun dengan meningkatnya nilai barang. Bagi Carey, lahan adalah modal, yang jumlahnya tidak terbatas yang merupakan karunia alam. Carey membantah teori Ricardo, bahwa pembayaran sewa lahan karena lahan adalah “original and indestructible powers”. Carey juga menolak hukum lebih yang berkurang, dan hukum penduduk dari Malthus. Penolakan itu tidak didasarkan kepada pemikiran yang deduktif, tetapi atas pengalaman-pengalamannya yang induktif. Hal ini berkaitan dengan dunia baru yang ramai didatangi imigran dari Eropa, yakni benua Amerika. Disini, justru lahan-lahan yang kurang subur yang diolah terlebig dulu, bukan lahan yang subur. Dari lahan yang kurang subur ini, kemudian dilanjutkan ke lahan-lahan yang subur. Dari lereng-lereng bukit kemudian turun ke lahan di lembah-lembah. Hal ini terjadi bagi pendatang baru, karena itulah lahan yang pertama dijumpai yang diperlukan untuk menanam bahan pangan yang tidak banyak rintangan untuk mengelolanya. Mencari lahan-lahan subur sebagai pendatang baru mempunyai resiko.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Carey membuat kesimpulan lebih jauh bahwa kemajuan dimana-mana mulai dari yang paling buruk kemudian menuju pada yang terbaik. Contohnya pada teknologi alat-alat pertanian. Kapak batu, digantikan dengan kapak dari besi dan ini pun diganti lagi dengan kapak baja. Apakah Carey kurang mengerti teori sewa lahan Ricardo? Andaian yang digunakan Ricardo membandingkan tingkat kesuburan lahan pada suatu waktu. Pada masa tertentu terjadi peningkatan hasil (increasing returns), kemudian lahan yang subur pada suatu masa akan menjadi kurang subur. Tetapi bukan berarti pendapat Carey menjadi tak berguna sama sekali.

Selanjutnya, Carey melihat kelemahan teori kependudukan Malthus, karena ternyata lahan yang tersedia berlimpah, sedangkan modal cenderung meningkat lebih cepat daripada jumlah penduduk. Keadaan ini dilihat Carey di dunia baru pada permulaan abad ke 19. Namun demikian, Carey tidak menolak kenyataan semakin sempitnya ruang kehidupan dan semakin sulitnya usaha makhluk untuk hidup. Hal ini diuraikan dalam contoh terjadinya gangguan alam dan gangguan perbuatan manusia terhadap alam yang indah.

Carey termasuk pembela proteksi. Malahan merupakan saudara kembar Friederick List. Proteksi ala carey alasannya kurang ilmiah bila dibandingkan dengan argumentasi List. Baginya, proteksi adalah right or wrong, dan sebaliknya perdagangan bebas juga adalah right or wrong, sedangkan jalan tengah adalah selalu keliru. Carey mempunyai sumbangan tersendiri terhadap perkembangan teori ekonomi. Dia menentang pandangan pesimisme. Dia membantah kebenaran teori kependudukan Malthus dan hukum lebih yang berkurang dari Ricardo, walaupun kadang-kadang pandangannya kurang ilmiah. Hal ini karena lingkungannya yang terbatas.

  • Friedrick Bastiat

Bastiat bukanlah ahli ekonomi, tetapi seorang jurnalis. Karirnya sebagai penulis relative terlambat bila dibandingkan dengan usianya yang relative pendek. Banyak menulis sindiran yang menertawakan tentang kontroversi ekonomi. Bastaiat lahir di Mugron dekat bayonne di Perancis pada tahun 1801. Dalam masa usianya yang setengah abad, digunakan untuk menulis hanya sekitar enam tahun. Dia pernah menjadi anggota Dewan Konstituante pada tahun 1948, dan tahun berikutnya menjadi anggota Dewan Legislatif. Orang tuanya meninggal ketika dia masih kecil. Pernah mendapatkan pendidikan universitas, walaupun tidak selesai, kemudian menjadi pedagang tidak berhasil, dan kemudian menjadi petani, juga gagal. Pada tahun 1844 dia meninggalkan lading pertaniannya.

Setelah sebuah karangannya dimuat di salah satu harian di Paris, dia meninggalkan tempat kelahirannya. Setiap hari rajin mengikuti perbedaan kontroversi ekonomi di negerinya dengan membaca berbagai harian. Salah satu kontroversi waktu itu adalah persoalan proteksi. Ditulisnya sebuah lelucon tentang hal itu. Artikel itu merupakan petisi dari para produsen alat penerangan, seperti pengusaha lilin, lampu, sumbu lampu dan segala yang berhubungan dengan industri penerangan. Dalam petisi yang ditujukan kepada majelis rendah perancis itu, dimintakan agar dibuatkan undang-undang perlindungan dari cahaya matahari. Setiap rumah menutup semua lubang yang mungkin dapat dilalui cahaya matahari. Persaingan ini sangat berat, karena biaya cahaya matahari adalah nol, sehingga merugikan pengusaha industri penerangan di dalam negeri. Kenapa Perancis menolak masuknya besi, jagung dan tekstil yang harganya murah, sedangkan cahaya matahari diizinkan masuk dengan harganya nol.

Bukunya yang terkenal adalah The Economic Sophisme. Dalam bukunya dia menyerang faham proteksionisme dan sosialisme karena hal itu tidak sesuai dengan organisasi masyarakat ilmiah. Bastiat merupakan salah seorang pembela Laissez faire di Perancis, meskipun demikian tidak menerima semua hukum-hukum ekonomi Ricardo ataupun Malthus. Pembicaraannya tentang teori nilai agak kurang jelas, tetapi dia membedakan value dan utility (nilai dan kegunaan).

Kegunaan barang mempunyai dua makna, yakni pertama, karunia tanpa biaya, dan kedua, usaha dari manusia. Bastiat memberi contoh tentang jasa. Usaha untuk membuat jasa kemudian dipertukarkan, maka orang membalas jasa itu. Tetapi, jika pertukaran jasa itu sama, maka itulah pertukaran yang sesuai dengan nilai jasa. Penilaian jasa itu sama dengan penilaian komparatif terhadap jasa yang diminta timbal balik. Menurut Bastiat, karunia alam yang bebas tidak mempunyai nilai. Jasa inti dari nilai adalah manusia (human service). Jika tidak ada jasa manusia dikorbankan, maka tidak ada nilai. Itulah sebabnya, kegunaan barang menyangkut dua aspek tadi, yakni karunia alam dan usaha manusia (Nature and man’s efforts).

Bastiat berkesimpulan bahwa dengan penggunaan karunia alam yang semakin besar akan dapat mengurangi biaya. Modal memang cenderung menurun, tetapi keadaan pekerja lebih baik di masa datang, karena mereka tidak dihantui oleh hukum besi dari upah. Tentang sewa, Bastiat menyatakan bahwa sewa dibayar bukan karena alam menyediakan lahan, tetapi karena pemilik lahan mempunyai pengorbanan jasa terhadap lahannya, seperti pengairan, pagar yang diperlukan, sehingga memudahkan bagi pemakainya. Bastiat menulis dalam bukunya yang tidak selesai : “…everything in the economic garden will be increasingly more and more beautiful ”.

  1. 2.      JOHN STUART MILL YANG “ELEKTRIK”

Setelah buku Ricardo yang terbit pada tahun 1817, maka buku berikutnya yang mendominasi pengajaran ilmu ekonomi di Inggris dan negeri-negeri yang menggunakan bahasa inggris adalah buku yang ditulis John Stuart Mill yang terbit pada tahun 1848 dengan judul Principle of  Political Economy. Mill berusaha menyelamatkan ajaran-ajaran klasik dan mempelajari kritik yang diajukan terhadap berbagai pemikiran Ricardo.

Kritik-kritik itu menyangkut : pertama, pemikiran Ricardo yang tidak sesuai dengan bukti-bukti empirik yang terjadi di Inggris, antara lain teori kependudukan Malyhus yang juga digunakan Ricardo. Kedua, disiplin ilmu ekonomi telah semakin profesional dan dunia kritik semakin tajam. Berkenaan dengan ini, persoalan aspek permintaan kembali diperbincangkan , yang selama ini lebih membahas aspek penawaran. Ketiga, ahli-ahli humanis dan sosial mengabaikan aspek-aspek teknis pemikiran ekonomi dan melancarkan serangan terhadap dasar-dasar ekonomi kapitalis. Faktor-faktor ini pula yang membuka kemungkinan perkembangan teori ekonomi.

John Stuart Mill (1806-1873) mempunyai dasar yang kuat dalam filsafat sosial tetapi secara khusus dia seorang teoritisi ekonomi. Orang tuanya, James Mill telah mendorongnya belajar lebih dini, tidak seperti kebanyakan anak-anak. Umur 3 tahun Mill mempelajari bahasa Yunani dan pada usia delapan tahun bahasa latin, kemudian mempelajari fisika, kimia, matematika, dan logika. Pada umur tiga belas tahun mulai belajar ekonomi politik. Tidak dapat dibayangkan, setelah umur 15 tahun dia mampu melakukan kerja sebagai editor pemikiran Bentham yang meliputi 5 jilid. Tetapi perkembangan yang demikian besar mengandung beban psikologis, pada usia 20 tahun ia mengalami mental-breakdown. Namun keadaan itu dapat diatasi. Dia membaca bukan hanya buku-buku ekonomi tetapi juga filsafat sosial , politik. Pemikiran-pemikiran ekonomi yang berpengaruh dalam karyanya adalah dari Smith, Ricardo, Bentham dan ayahnya. Tulisan-tulisan kaum sosialis juga banyak mempengaruhi pikirannya, terutama yang berasal dari Saint Simon,Comte,dan istrinya sendiri, Harriet Taylor. Buku political economy yang disebutkan pada awal uraian ini ditulisnya selama dua tahun. Buku ini mempnyai 7 edisi. Sumbangannya terbesar adalah dalam membedakan teori produksi dan distribusi, teori ekonomi internasional, dan metodologi ekonomi.

Dalam menerima dan memperbaiki teori-teori Smith dan Ricardo, Mill dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran di luar ekonomi yang masih relevan dalam pembahasan ekonomi. Dalam perkembangan pemikiran, Ricardo tidak diterima begitu saja, justru sifatnya yang terbuka dalam menerima berbagai kritik membuat semua proses pengembangan teori semakun baik. Karena itu Mill bersifat elektrik. Meramu berbagai pemikiran yang terbaik untuk perkembangan teori pemikiran ekonomi selanjutnya. Karena pemikiran Bentham berpengaruh dalam karya-karyanya, maka uraian ini terlebih dahulu memperkenalkan pemikiran Bentham secara singkat.

Mill dalam karya-karyanya senantiasa ingin menyatukan pemikiran teoridan kebijaksanaan. Hal ini dipengaruhi oleh Bentham (1748-1832). Tulisan Bentham yang terkenal terbit pada tahun 1776 (bersamaan dengan Wealth of Nations) dengan judul Fragment on Government. Bentham menjadi pemimpin kelompok filsafat radikal (aliran utilitarians). Kelompok ini merupakan kelompok reformasi terhadap ekonomi dan politik. Benthamlah pengusul utama pengendalian kelahiran, perubahan perlakuan terhadap tahanan, kebebasan bicara dan pers, legalisasi kehadiran serikat buruh, dan hak memilih orang-orang dewasa dan wanita.

Bentham memulai pendapatnya dengan dasar bahwa perbuatan manusia didorong oleh dua keinginan yang kuat, yaitu pertama, berusaha mencapai kesenangan dan kedua, berusaha untuk menghindari kesengsaraan (to achieve pleasure and to avoid pain). Menurut Bentham, jika suatu masyarakat bisa mengukur kesenangan dan kesengsaraan maka dapat diciptakan hukum-hukum untuk memperoleh kesenangan yang sebesar-besarnya. Cara yang diukur untuk itu adalah dengan mengukurnya dengan sejumlah uang.

Tahun 1776, tahun lahirnya dua filsafat, yakni dari Fragment on Government dan dari Wealth of Nations. Buku pertama mengetengahkan filsafat kebahagiaan (happiness) dari buku kedua muncul filsafat kelebihan (abundance). Tetapi tahun itu juga lahirnya Declaration of  Independence, yang merupakan penggunaan filsafat kebahagiaan/kesenangan dalam pemerintahan.

Selanjutnya, empat tahun setelah buku pertamanya terbit, menyusulpula buku kedua yang berjudul  Moral and Legislation. Dalam buku ini tugas masing-masing disiplin mulai dibatasi. Bentham yang mula-mula memisahkan ilmu ekonomi dengan hukum, merupakan pendiri ekonomi abad ke-19. bentham mengajar James Mill  dan James Mill mengajar Ricardo. Bentham menulis Ricardo sebagai spiritual grandson.

Stuart Mill dalam melanjutkan pendidikannya di Perancis pernah tinggal bersama kakak Bentham. Mill telah melakukan penyuntingan tulisan-tulisan Bentham yang mencakup 5 jilid. Bentham berpendapat :

’Political economy is both science and an art. It is the science of pleasure and pain. It is the art of legistlation of employing the instrument of pleasure and pain for the sake of  “maximum of wealth and maximum of population”’

meskipun demikian Mill bukan termasuk aliran radikal, tetapi cenderung kepada aliran sosialis kanan (evolusioner bukan revolusioner). Mill lebih jauh memikirkan hubungan peranan pemerintah dalam ekonomi, politik dan kerangka sosial masyarakat. Hal ini ditulisnya dalam buku On Liberty yang terbit pada tahun 1859. Mill, menyatakan bahwa tidak adanya campur tangan pemerintah, tidaklah dengan sendirinya menghasilkan kemerdekaan maksimum, masih banyak rintangan yang hanya pemerintah yang dapat mengatasinya.

Dari uraian itu terlihat pengaruh Bentham terhadap Mill, tetapi juga memadukan pendapatnya dengan pemikiran Ricardo (yang juga dipengaruhi Bentham), dan penulis sosialis lainnya, seperti Saint Simon dan istrinya sendiri. Kalau Smith mempunyai dasar harmoni dalam persaingan pasar, Mill telah melihat adanya konflik antara petani dan tuan-lahan. Katanya, tuan-lahan telah panen tanpa menyebar bibit, mereka telah menjadi kaya-raya, sementara mereka tidur, tidak bekerja, dan tidak menanggung resiko. Apakah yang perlu dituntut terhadap mereka berdasarkan keadilan sosial? Mill mengajukan usul untuk menetapkan pajak lebih tinggi bagi tuan-lahan. Mill, sebagai anggota parlemen, sangat gigih memperjuangkan pendidikan, pembagian pendapatan, pajak warisan, pembentukan serikat buruh, memperpendek jam kerja dan hari kerja, dan pembatasan kelahiran penduduk.

Pendapatnya yang dipengaruhi aliran sosialis terlihat pada pemikiran bahwa hak-milik pribadi dapat dibatalkan oleh masyarakat, jika hal itu menimbulkan konflik dengan kepentingan umum. Di pihak lain Mill menolak pendapat kaum sosialis yang menyatakan bahwa milik pribadi mengakibatkan kerugian dalam masyarakat, dan bahwa persaingan menimbulkan kesulitan sosial. Pendapatnya itu, dijawab dengan pemikiran-pemikiran klasik. Monopilo akan menimbulkan alokasi sumber ekonomi yang tidak beres, sedangkan restriksi adalah suatu kejahatan yang merugikan masyarakat.

Mill menolak berlakunya teori  dana-upah, karena bertentangan dengan kepentingan serikat buruh. Penolakan ini mempunyai implikas yang besar terhadap tesis (teori) kependudukan dari Malthus. Selanjutnya, hukum lebih yang berkurang yang dipakai juga dalam analisis ekonomi Ricardo, tidak didukung oleh bukti-bukti empiris.

  1. Lingkupan Ilmu Ekonomi

Mill mengembangkan metodologi ekonomi lebih lanjut, karena banyak teori-teori yang disusun secara deduktif sebelumnya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, seperti hasil lebih yang semakin berkurang, teori kependudukan, dana-upah dan stationary-state. Mill memperkuat pendapat Nassau Senior yang menyatakan bahwa ilmu ekonomi ada yang positif dan normatif. Ilmu ekonomi positif mengkaji apa adanya (what is), sedangkan ilmu ekonomi normatif membahas apa yang seharusnya (what ought to be). Ilmu ekonomi positif, misalnya melakukan pembahasan tentang hukum-hukum produksi, sedangkan ilmu ekonomi normatif mengkaji hukum-hukum distribusi. Pemikiran ini yang mempengaruhi pemikiran distribusi Mill.

Mill menggunakan dua metode ekonomi, yakni deduktif yang dimulai dari kesimpulan-kesimpulan umum, kemudian menjurus pada kesimpulan khusus, sedangkan metode induktif adalah sebaliknya. Masih ada metode yang ketiga, yakni metode campuran, yang merupakan campuran dari metode deduktif dan induktif, sebagaimana yang dilakukan oleh Malthus. Metode pertama sering disebut posteriori, sedangkan yang kedua adalah apriori. Diakuinya ilmu ekonomi adalah ilmu yang abstrak, sedangkan untuk melakukan eksperimen tidak mungkin, maka dipakailah metode deduktif. Meskipun demikian dia sangat hati-hati melihat kenyataan , karena beberapa hukum-hukum ekonomi yang diungkapkan sebelumnya, pada waktu Mill tidak didukung oleh kenyataan.

Mill juga menghadapi persoalan pemisahan variabel ekonomi dan nonekonomi. Hal ini dipengaruhi oleh Comte, yang berkaitan dengan masalah prediksi ekonomi yang tidak tepat. Prediksi ekonomi memang perkiraan, tetapi perkiraan itu dapat meleset karena variabel nonekonomi. Selanjutnya, Mill telah menggunakan sisi penawaran dan permintaan dalam analisa ekonomi yang semakin teknis. Dengan demikian, teori nilai dari Mill telah mencakup kekuatan penawaran dan permintaan yang menentukan fungsi harga.

Berkenaan dengan teori nilai dan penentuan harga barang, Mill membagi barang atas tiga golongan yakni, pertama barang-barang yang penawarannya inelastis sempurna, seperti anggur, hasil kesenian, mata uang, dan letak lahan. Kelompok kedua adalah barang-barang manufaktur yang elastis sempurna (kurva penawaran horizontal). Dalam hal ini, ditentukan oleh ongkos produksi (ingat Smith). Kelompok ketiga, barang- barang hasil pertanian, dengan anggapan ongkos marjinal meningkat, bilamana produksi meningkat. Hanya saja, Mill belum begitu mendalami penggunaan peralatan matematika dalam analisisnya. Meskipun demikian, masuknya aspek permintaan ke dalam penentuan harga akan mempengaruhi teori distribusi fungsional.

  1. Teori Distribusi

Tadi sudah disinggung bahwa teori dana upah bagi Mill merupakan persoalan terhadap gerakan tenaga kerja. Hal ini ditolak oleh Mill (walaupun pada mulanya diterima). Karena itu, serikat pekerja dapat menuntut kenaikan upah melalui proses bargaining. Jadi disini ada kekuatan pekerja dan pengusaha dalam menentukan upah. Oleh karena itu pula Mill membedakan teori yang mengatur produksi dan yang mengatur distribusi.

Pada waktu itu pendapatan nasional di Inggris meningkat sebagai hasil hukum-hukum produksi yang diatur oleh hukum-hukum fisik. Walaupun demikian, pandapatan yang tiinggi dikhawatirkan Mill akan tidak bermanfaat jika penduduk bertambah dengan cepat. Berkaitan dengan ini, Mill kembali mempelajari perilaku lahan, pekerja dan modal untuk meningkatkan pendapatan.

Kekuatan-kekuatan fisik itu antara lain adalah : pertama, jumlah sumber daya alamiah (natural resources) yang tetap, sedangkan kualitasnya dapat ditingkatkan dengan teknologi (ini yang diabaikan Malthus dan Ricardo). Bagi tenaga kerja yang amat penting adalah ketrampilan, kerajinan dan energi, serta kualitas moral untuk meningkatkan produktivitas. Mill telah mulai secara khusus menyebut hal ini sebagai human capital investment. Ongkus pendidikan investasi dalam meningkatkan ketrampilan dan produktivitas pekerja. Kedua, untuk meningkatkan produktivitas diperlukan pembagian kerja yang  disebut oleh Mill sebagai kerjasama pekerja. Ketiga, modal yang berasal dari tabungan. Karena jumlahnya terbatas maka jumlah industri juga terbatas. Modaldalam pproses produksi habis terpakai. Produksi akan meningkat proporsional terhadap peningkatan investasi pekerja yang  produktif.

Dengan demikian, Mill menyadari bahwa pembentukan modal terbatas. Dengan ini juga dia mulai mempertanyakan hukum Say ( Say’s law) yang disokong juga oleh ricardo sebelumnya. Pendapat yang menentang hukum Say telah kita temukan pada Malthus yakni berkenaan dengan theoy of glut yang mengalami kontroversi. Menurut Ricardo, tabungan tidak akan mengurangi daya beli, sedangkan konsumsi yang tidak produktif tidak akan mengganggu pembentukan modal. Suatu saat memang terjadi overproduksi, tetapi keadaan akan kembali seimbang. Mill tidak menyalahkan akan terjadinya krisis ini, tetapi bagaimana jika terjadi kontraksi dalam perkreditan?

Keempat, sumber pembentukan modal sebagaimana diutarakan sebelumnya adalah laba. Untuk menjelaskan tingkat laba Mill meminjam teori abstinence dari Nassau Senior. Laba adalah kompensasi bagi pemilik modal, karena menunggu dan bahkan menunda proses konsumsi. Untuk pengorbanan itu, pemilik modal mendapat kompensasi. Jadi, terjadi pengorbanan sekarang untuk konsumsi mendatang.

Teori produksi dari Mill mempunyai akibat terhadap teori distribusi Ricardo. Oleh karena itu, Mill tidak percaya tentang terjadinya stationary state yang digambarkan oleh Smith. Memang keadaan laba menurun itu terjadi, tetapi bukan karena persaingan dan meningkatnya sewa, tetapi karena : pertama, terjadinya krisis perdagangan, sehingga terjadi modal yang mengurang ; kedua, larinya modal ke luar negeri untuk mencari laba yang lebih tinggi ; ketiga, dengan dihapuskannya Corn-Laws, maka harga pangan turun. Tetapi bukan berarti Stationary-state tidak ada, penyebab utamanya adalah pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

Selanjutnya, Mill berpendapat bahwa bagi negeri-negeri yang sudah mengalami pendapatan tinggi dan kelebihan modal, masalah pokok bukan lagi produksi untuk pertumbuhan tetapi distribusi. Teori produksi untuk mendukung pertumbuhan lebih utama bagi negeri-negeri yang masih terbelakang. Lagipula pengertian Mill tentang distribusi bukan fungsional tetapi personal.

Pada pernyataannya tentang distribusi ini terlihat Mill dipengaruhi aliran sosialis. Mill berpendapat bahwa kesenjangan yang terjadi pada distribusi pendapatan disebabkan karena kesenjangan hak milik. Jika dilakukan perubahan yang memadai dalam mekanisme persaingan, hak-milik dan tanggung-jawab individu, maka sistem tersebut akan lebih unggul daripada ekonomi sosialis. Masalahnya siapa yang akan melakukan perubahan-perubahan itu. Hal ini merupakan pengakuan Mill secara tidak langsung bahwa prinsip harmoni dengan persaingan bebas berlangsung kurang serasi.

Karena itu, Mill berpendapat bahwa hukum-hukum produksi diatur dengan hukum-hukum pisik, sedangkan pengaturan distribusi diatur dengan hukum-hukum yang dibuat manusia. Jadi, distribusi dapat diatur oleh manusia apakah menurut undang-undang, adat, dan kebiasaan. Mill mengajukan usul adanya pajak-warisan, pajak untuk tuan-lahan. Sewa yang tinggi pantas diterima tuan-lahan, kalau pemiliknya melakukan perbaikan kualitas lahan, tetapi mereka dikenakan pajak lahan. Selanjutnya Mill memperjuangkan kewajiban belajar, perlindungan kepada anak-anak, pengaturan jam kerja, pengaturan sumber daya dan penelitian ilmu pengetahuan. Dalam hal ini pemerintah sebagai sponsornya. Dengan demikian, mulai terlihat bahwa pengertian peranan minimum pemerintah dalam ekonomi agak meluas, karena banyak terjadi ekses persaingan bebas. Pekerja anak-anak, tingkat upah buruh, jam kerja yang panjang memerlukan reformasi. Liberalisme dengan reformasi sosial.

  1. Perdagangan Internasional

Analisis Mill tentang perdagangan internasional menekankan asek keuntungan yang diperoleh masing-masing negeri yang ikut berdagang yang belum dapat diselesaikan oleh Ricardo. Dasar pemikiran ini tetap dari pemikiran Smith, yang kemudian dilanjutkan oleh Ricardo. Dengan adanya keuntungan komparatif, maka perdagangan dunia akan meningkat. Dengan spesialisasi tersebut (lihat pada uraian pemikiran Ricardo), masing-masing negeri ingin memaksimalkan keuntungan. Portugal memperoleh hal itu dengan penjuaan anggur ke Inggris, sedangkan Inggris menjual pakaian (tekstil) ke portugal. Mill dalam hal ini, membahas bagaimana keuntungan terbagi antara negeri yang ikut dalam perdagangan itu. Sebenarnya, baik oleh Marshall maupun Edgeworth penjelasan itu dapat digambarkan melalui kurva pengorbanan.

Mill menyatakan bahwa nilai tukar (terms of trade) tergantung pada permintaan barang-barang impor oleh masing-masing negara. Kekuatan permintaan pun tergantung pada kecenderungan konsumen pada kedua negeri (model dua negara) dan tingkat harga. Mill melihat kecenderungan itu dari aspek elastisitas permintaan. Mill membagi keduanya menjadi : elastis, tidak elastis , dan elastis yang uniter. Teori ini terkenal dengan sebutan Permintaan timbal-balik (reciprocal-demand), sedangkan sumbangan Ricardo dengan sebutan Hukum perbandingan ongkos (Law of Comparative Cost). Kalau kita masih ingat, ada lagi Heckscher-Ohlin dengan faktor-faktor produksi yang berlebihan dimiliki suatu negara.

3. KEMUNCULAN EKONOMI SOSIALIS : UTOPIS DAN ILMIAH

Perkembangan pemikiran ekonomi dengan kerangka orde alamiah yang berlanjut dengan tema laissez-faire telah mendapat berbagai kritik. Kritik tersebut terutama datang dari pemikir sosialis. Para pemikir ini dapat dikelompokkan atas : pertama, yang bersifat utopia, kedua , pra ilmiah, dan ketiga, yang bersifat ilmiah. Pemikir yang bersifat Utopis antara lain yang terkenal adalah St. Simon (1760-1825), Robert Owen (1771-1858), Fourier (1772-1837) dan Louis Blanc (1813-1882).

Pemikir-pemikir pra sosialis ilmiahantara lain adalah Thomas Hodgskin (1787-1869), William Thomson (1783-1833), John Gray (1799-1833), dan Proudhon (1809-1868). Selanjutnya pemikir ekonomi sosialis ilmiah yang terkena adalah Karl Max(1818-1883).

Para penulis sosialis utopis dapat dikelompokkan pula atas penuls cerita roman yang penuh angan-angan, membentuk koloni, dan ahli ekonomi. Pada kelompok kedua tadi, yakni pra sosialis ilmiah termasuk juga sismondi yang pemikirannya telah disampaikan pada bagian pengeritik ekonomi klasik, yang menginginkan susunan masyarakat lan di luar sistem kapitalis. Lahirnya pemikiran sosialis yang lebih tajam dan terarah merupakan alternatif dari pemikiran yang berdasarkan Laissez-faire. Berbagai kelemahan yang ditemukan terhadap sistem ekonomi ini mendorong dan menyuburkan perkembangan pemikiran sosialis ilmiah.

  1. A.    Pemikiran Utopis

Kata utopia berasal dari sebuah karangan Thomas Moore yang terbit pada tahun 1516 di Inggris yang berjudul Utopia. Utopia sebagai nama sebuah pulau yang aman tentram; di pulau itu tidak ada lagi milik pribadi, kewajiban belajar dilakukan, kebebasan beragama, pria dan wanita harus bekerja, dan jam kerja yang relatif pendek. Utopia menginginkan yang jauh lebih baik dan penuh kesempurnaan. Di pulau tersebut tidak ada lagi eksploitasi tenaga manusia, karena milik pribadi telah dihapuskan. Pemikiran sosialis utopis ini bukanlah berdasarkan dari para pengarang roman, tetapi sebenarnya telah ada sejak plato. Aliran ini tidak banyak mendapat perhatian sampai selesainya revolusi Perancis. Keadaanlah yang mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran ini, karena kondisi tanaga kerja dan kejahatan persaingan bebas dan milik pribadi di eropa waktu itu. Keadaan yang buruk yang membawanasib manusia semakin parah, mengingatkan kembali kepada gerakan-gerakan yang berfaham Chiliasme, yakni perjuangan untuk melakukan perubahan badan-badan sosial dengan revolusi untuk sampai kepada keadaan yang lebih baik.

Para ahli dan penulis sosialis utopis ingin membangun masyarakat yang mereka angankan yang jauh lebih baik daripada realitas waktu itu. Dalam cerita-cerita roman dilukiskan keadaan itu. Tetapi hal itu hanya angan-angan semata. Pada tahun 1623 terbit pula sebuah buku yang berjudul Nova Atlantis. Dalam buku ini digambarkan bahwa manusia telah bebas dari segala kebodohan, bebas dari segala kejahatan, dan mereka telah menemukan kebenaran. Pada tahun yang sama terbit pula buku Civitas Sosialis (Negara Matahari). Dalam buku ini lebih mengutamakan peranan pendidikan yang diselenggarakan oleh negara. Budak dihapuskan, harta benda menjadi milik bersama, bekerja cukup empat jam.

Sekitar tahun 1651, buku Oceana yang ditulis oleh James Harrington terbit. Buku ini dianggap sebagai perintis faham materialisme historis. Dia membandingkan pemilikan lahan dengan sifat kerajaan, yakni monarki untuk pemilikan lahan satu orang, dan pemilikan lahan oleh beberapa orang disebut kerajaan aristokrasi; dalam pemerintahan demokrasi setiap orang memiliki lahan. Harrington memilih bentuk demokrasi, dimana keseimbangan antara lembaga-lembaga kemasyarakatan terjamin. Walaupun tulisan-tulisan  itu bersifat keinginan dan angan-angan namun bukan sekedar angan-angan saja. Di dalamnya terkandung bagaimana mencapai suatu tujuan, dalam hal ini tujuan ekonomi. Mereka mengimbau kepada kaum cerdik pandai, golongan menengah dan kaum bangsawan yang memiliki pkiran yang lebih bebas, bahwa perlu ada perubahan untuk kepentingan mereka juga. Halitu akan terlihat dalam karya-karya St. Simon dan Owen.

Pada 1820-an banyak kejadian yang menyedihkan di Inggris akibat tumbuhanya sistem pabrik, seperti pekerja anak-anak tanpa perlindungan, jam kerja yang panjang, tenaga kerja terdesak oleh penggunaan mesin, pemberontakan-pemberontakan kecil dan berbagai protes muncul dimana-mana. Ditengah-tengah keadaan yang demikian, di New Lanark terdapat sebuah koloni dengan pabrik yang teratur. Dalam pabrik tidak dipekerjakan anak-anak, mereka tidak pernah dihukum, jam kerja lebih pendek (masih 10-11 jam sehari, pintu ruang kerja pimpinan pabrik selalu terbuka dan setiap pekerja boleh mengajukan keberatan-keberatan peraturan kerja di pabrik. Perusahaan memperoleh  laba yang besar. Pemimpin pabrik itu adalah Robert Owen, seorang utopis yang dilahirkan di Wales dari keluarga miskin.

Ketika berumur 9 tahun Owen keluar dari sekolah dan menjadi magang kain.pada usia 18 tahun dia di Manchaster dan dengan uang 100 yang dipinjam dari saudaranya, Owen mulai menempuh karir baru, yakni mulai membuat mesin tenun. Pada usia 20 tahun dengan cara yang ajaib dia menjadi manajer sebuah pabrik dengan gaji yang tinggi, yang tidak pernah diperoleh orang pada waktu itu. Selagi ia menjadi manajer pabrik tersebut, di New Lanark ada pabrik akan dijual. Kebetulan pemiliknya adalah orang tua kekasihnya. Dalam pikiran owen waktu itu jangankan pabrik, anaknya pun tidak mungkin didapat, karena perbedaan gagasan-gagasan kemasyarakatan. Lalu uangnya dari mana? Owen mendatangi pemilik pabrik tempat ia bekerja, dan memperoleh pinjaman uang. Akhirnya dua-duanya diperoleh, pabrik dibeli dan sang kekasih juga didapat. Sepuluh tahun kemudian ia menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Owen telah mengubah situasi yang kumuh menjadi bersemangat dan bersih, karena Qwen mempunyai pandangan bahwa bila lingkungan manusia diubah, maka akan timbul surga di bumi.namun demikian, tahun-tahun 1816-1820 keadaan dunia perdagangan buruk sekali, banyak terjadi kelaparan, dan pada waktu itu dibentuk panitia untuk menyelidiki kesengsaraan itu di Inggris. Owen didatangi oleh panitia untuk mendapatkan pandangan-pandangannya. Dalam saran-saran yang diajukannya antara lain adalah perbaikan kondisi kerja dalam pabrik, jam kerja yang lebih pendek, penghapusan tenaga kerja anak-anak, dan orang-orang miskin diarahkan menjadi produktif.

Untuk sarannya yang terakhir, sebagai kerja yang operasional, Owen menganjurkan lagi desa gotong-royong (village of cooperation). Pada desa itu bermukim baik kaum petani maupun pekerja pabrik, yang tinggal di apartemen masing-masing, tetapi mempunyai ruang bersama untuk duduk-duduk, membaca dan dapur. Pada pemukiman itu terdapat sekolah, taman-taman yang dikelilingi ladang-ladang petani dan dibagian lain yang lebih jauh berdiri pabrik-pabrik.

Gagasan owen yang gila itu tentunya tidak masuk akal dalam suatu masyarakat dengan sistem Laissez-faire berlaku. Namun demikian, Owen sampai ke parlemen dalam memperjuangkan gagasannya. Ternyata Ricardo pun ikut membantu rencana ini di parlemen, dan dibentuklah panitia untuk mengumpulkan dana sekitar 96.000 pound, yang sedianya digunakan untuk membiayai sebuah desa gotong-royong. Rencana ini pun banyak mendapatkan kritik, tetaapi owen yakin bahwa orang-orang miskin dapat menciptakan kekayaan mengubah terlebih dahulu kebiasaan-kebiasaan sosial yang tidak patut. Ternyata uang itu tidak dapat terkumpul, dan owen melaksanakan sendiri rencananya itu. Dia menjual saham-sahamnya di New Lanark dan berangkat ke Amerika Serikat.

Dia membeli lahan sekitar 12.000 Ha, dan pada tahun 1826 diresmikannyalah koloni dengan ikrar Declaration of Mental Independent. Komune itu namanya New Harmony. Dia difitnah oleh salah seorang pemegang saham, di samping itu muncul pula berbagai komune yang bermotifkan keuntungan pribadi. Pada tahun 1828, Owen menjual lahannya, dan kembeli ke Inggris.

Pada waktu itu di Inggris mulai muncul gerakan-gerakan serikat pekerja (buruh). Owen tetap menyampaikan gagasannya. Ajaran owen diterima oleh serikat-serikat pekerja, maka bermunculanlah koperasi-koperasi produsen, konsumen, dan bursa-bursa tanpa uang. Tetapi usaha ini pun gagal juga. Dilihat dari sejarah pergerakan buruh di Inggris, karena beberapa orang pengikutnya mendirikan Rochdale Pioneers.

Perhatian Owen tidak lagi pada koperasi, tetapi pikirannya beralih ke serikat-pekerja. Ia mendirikan The Grand National Consolidated Trades Union uang disingkat dengan The Grand National pada tahun 1833. Tujuan organisasi ini tidak hanya untuk memperpendek jam kerja, tetapi lebih luas yakni memperbaiki kehidupan sosial dan mengubah masyarakat. Tetapi, organisasi ini kurang menguasai anggotanya, sehingga sering terjadi pemogokan, yang merugikan negara. Tetapi hanya dua tahun, gerakan itu dilumpuhkan karena kaum pengusaha menuduhnya sebagai pembunuh hak-pribadi dan mengusulkan kepada pemerintah untuk membubarkannya.

Owen masih  tetap menyebarkan gagasannya tentang koperasi, dan gelarnya yang terkenal adalah the grand old man of labor. Pada tahun 1839 ia sempat diterima oleh Ratu Victoria dan tahun 1858 ia meninggal. Owen telah meninggalkan filsafat harapan, bahwa dalam batas tertentu baik buruknya dunia merupakan perbuatan manusia, manusia terbentuk oleh keadaan. Dia telah memprotes kapitalisme. Dia bukanlah seorang ahli ekonomi, tetapi ia telah menemukan sesuatu yang baru yang menjadi pemikiran bagi ahli-ahli ekonomi. Lain owen, lain lagi kisah dan  pemikiran Saint Simon yang eksentrik.

Saint Simon adalah keluarga bangsawan. Nama lengkapnya lebih dari cukup : Caunt Claude Henri de Rovrou de Saint Simon. Naumn, ia tidak senang di istana. Pada tahun 1778 dalam umur 18 tahun ia pergi ke Amerika, dan ikut dalam perang kemerdekaan disana. Setelah perang selesai dia ke meksiko dan kemudian kembali ke perancis, saat bertepatan dengan akan pecahnya revolusi yang membawa dirinya dalam konflik sosial. Pernah diusulkan oleh penduduk untuk menjadi walikota di Peronne, tetapi ditolaknya, karena pemilihan anggota keluarga bangsawan akan menimbulkan anggapan yang tidak baik. Sewaktu ia menjadi anggota Dewan Nasional mengusulkan agar gelar-gelar kaum bangsawan dihapuskan. Ia pernah dimasukkan ke penjara karena salah paham, dan disini bermimpi dapat wahyu. Uangnya yang banyak sekarang digunakan mencari ilmu. Berbagai ahli ilmu di seluruh perancis didatangkannya. Tetapi ia pun pernah jatuh miskin, sehingga kehidupannya tergantung pada belas kasihan seorang pelayan. Pada thaun 1823, ia pernah mencoba bunuh diri, padahal dia menganut relegi yang berdasarkan gagasan yang belum kuat. Pengikut-pengikutnya mendirikan gereja Saint Simon.

Buku yang ditulis Simon berjudul Noveau Christianisme, terbit pada tahun 1825. dia menganjurkan, manusia harus kerja keras, hukum waris negara dibuat agar  tidak ada penghasilan tanpa kerja. Tempat setiap orang dalammasyarakat ditentukan oleh kesanggupannya, bukan menurut kebutuhannya ; hak milik pribadi dihapuskan. Pemerintahan bekerja atas dasar ekonomi, bukan politik, mengatur bukan pukan memerintah.

Pemikir sosialis utopis lainnya adaah Charles Fourier, lahir tahun 1722, juga seorang yang eksentrik. Pikiran-pikirannya penuh khayal. Bukunya terbit tahun 1825 dengan judul Nouveau Monde Industriel et Societire. Dia mengangankan seperti desa gotong-royongnya Owen. Dia merencanakan kumpulan orang dalam sebuah rumah besar yang merupakan Grand Hotel. Kelompok-kelompok terdiri dari ribuan orang yang disebut phalansteres. Gedung itu telah diatur ruangannya oleh Fourier, yang dikelilingi oleh ladang-ladang dan pabrik-pabrik. Dalam hotel orang hidup sesuai kemampuannya. Ada kelas-kelas di dalamnya. Setiap orang harus bekerja, walaupun hanya beberapa jam setiap hari. Dengan sentralisasi efisiensi dapat dicapai. Masak dengan dapur yang dipusatkan. Pekerjaan  yang kotor-kotor lazimnya dikerjakan oleh anak-anak. Anak-anak yang penjijik, disediakan tugas-tugas lain, seperti memelihara kembang; para petani mengadakan lomba. Bahkan dalam angan-angan Fourier di dunia ini perlu sekitar 3 juta phalansteres. Untuk diadakan perlombaan memilih juara pembuat telor dasar dan pembotolan anggur terbaik.

Pengaruh angan-angan Fourier ini ditemukan di Amerika Serikat, dan kalau dikumpulkan dengan desa Gotong Royongnya Owen terdapat ratusan Phalansteres. Namun demikian, kumpulan-kumpulan ini tidak dapat bertahan, tidak sesuai dengan realitas. Fourier membela hak-hak pekerja. Untuk mengatasi kebosanan kerja, maka dalam phalanstere itu disediakan pekerjaan yang berubah-ubah. Keuntungan tetap ada, tetapi bukan untuk pribadi, tetapi dibagi menurut : tenaga kerja, pemilik modal, dan pekerja yang cakap. Lima per duabelas bagi pekerja, empat per duabelas bagi pemilik modal, dan sisanya bagi pekerja yang mempunyai kecakapan. Dengan demikian setiap orang terdorong untuk tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga pemilik.

Para pemikir utopis ini, walaupun mendapat ejekan dimana-mana, tetapi jika ditinjau dari kondisi waktu itu, pandangan-pandangan mereka sungguh sangat berani. Pada waktu itu, aliran pemikiran yang kuat adalah ekonomi berdasarkan milik pribadi, persaingan bebas, sedangkan mereka mengatakan hak pribadi harus dihapuskan, kebebasan telah mendatangkan kerugian dan kesengsaraan pekerja. Bahkan Louis Blanc mengatakan bahwa sengketa yang timbul dalam masyarakat disebabkan karena persaingan.

Louis Blanc dalam bukunya yang terbit tahun 1839, berjudul Organisation du Travail membela pula hak-hak pekerja. Dialah yang menyusun kata slogan tentang upah pekerja bahwa bagi setiap orang sesuai dengan kebutuhannya, dan setiap orang memperoleh sesuai dengan kecakapannya. Louis Blanc juga terpengaruh dengan pikiran kumpulan pekerja, dalam hal ini pekerja-pekerja bekerja dalam pabrik yang dimiliki pemerintah, agar mendapat upah dan laba yang pantas. Pabrik-pabrik ini disebut ateliers sociaux. Perusahaan-perusahaan milik negara ini menurut Louis Blanc akan lebih maju dan mampu bersaing dengan pabrik-pabrik swasta. Dengan demikian, perusahaan swasta akan kalah dan hilang, bahkan dapat beralih menjadi atelier.

Dari seluruh gagasan itu, terlihat bahwa mereka menginginkan masyarakat yang lain dari yang diinginkan dan telah dicapai sistem ekonomi klasik. Beberapa hal yang menonjol adalah pertama, penghapusan milik pribadi; kedua, peranan negara dalam ekonomi dan mengatur distribusi kekayaan; ketiga, gagasan-gagasan itu ingin membentu bagian penduduk yang miskin, yang menjadi korban industrialialisasi. Meskipun demikian, banyak gagasan mereka gagal, karena rintangan kekuasaan dan kekurangan dana.

  1. B.     Sosialis Pra Ilmiah dan Ilmiah

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam kesempatan ini adalah Hodgskin, Thomson, Gray, dan Proudhon. Mereka lebih tajam dari pemikir sosialis utopis. Para pemikir ini pada umumnya mempelajari dan semua bertolak dari pemikiran Ricardo, tetapi berkembang ke arah gerakan moral yang lebih revolusioner. Mereka cenderung mendukung gerakan serikat pekerja, dan melihat perkembangan masyarakat. Ciri teori yang mereka pakai adalah dari teori nilai tenaga kerja Ricardo, tetapi mereka memandang bahwa upah pekerja senantiasa lebih kecil daripada yang dihasilkannya. Ciri lainnya adalah tafsiran yang revolusioner tentang utilitarianisme. Mereka menerima semboyan Bentham: the greatest happiness of the greatest number, tetapi tanpa eksploitasi. Dengan demikian mereka tidak setuju dengan pemikiran pribadi yang terjadi waktu itu.

Pada ahap awal, Thompson and Gray adalah penulis-penulis dekat dengan utilitarianisme, sedangkan Hodgskin sangat sosialis. Hodgskin menulis beberapa buku, antara lain Labour defend against the claims of capital yang terbit tanpa nama tahun 1825. buku ini mulai membahas sistem ekonomi yang mendukung kaum pekerja menghadapi kaum kapitalis. Pemilik kapital memperoleh laba yang tidak wajar, dengan demikian jika bertolak dari teori nilai dari Ricardo maka modal terbukti tidak produktif. Hodgskin membedakan pengertian kapital yang merupakan kandungan tenaga kerja dan kondisi produksi dimasa datang yang memberi hak kepada kapitalis untuk memperkerjakan tenaga kerja. Ini berarti modal mengandung hubungan sosial. Dia menyatakan bahwa modal adalah kekuatan untuk menciptakan nilai tukar.

Namun demikian, Hodgskin tidak membedakan dengan jelas makna nilai guna dan nilai pertukaran. Tetapi, dia dengan cara magis mengatakan bahwa kapital digunakan sebagai alat eksploitasi, yang kemudian dikembangkan oleh Marx. Selanjutnya, dia membedakan modal tetap dan modal sirkulasi. Modal sirkulasi ada bersamaan dengan pekerja. Akumulasi modal adalah merupakan himpunan tenaga kerja. Dengan demikian, semakin terampil pekerja makin penting dalam pembentukan modal. Modal tetap juga merupakan jumlah pengangguran pekerja yang langsung berguna/terpakai dalam produksi. Tanpa keterampilan dan kekuatan yang ada sekarang, maka kandungan tenaga kerja masa lalu dalam modal menjadi tidak berarti. Modal tetap membutuhkan kegunaan, bukan dari pekerja masa lalu, tetapi yang sekarang. Orde sosial yang alamiah, akan memisahkan tenaga kerja dari produksi. Hodgskin tidak banyak membicarakan kebijaksanaan, bahkan mendapat sebutan sebagai anarkis.

Selanjutnya pada tahun 1824, terbit buku An Inquiry into the Principles of the Distribution of  Wealth Most Conductive to Human Happiness, dan pada tahun 1827 Labour Rewarded, yang ditulis oleh Thomson. Pendapatnya tidak jauh berbeda dengan Hodgskin, yang mencoba menafsirkan teori nilai dari Ricardo dan Bentham. Tenaga kerja adalah sumber tunggal nilai barang dan pekerja pula satu-satunya yang berhak atas nilai tersebut. Dalam masyarakat kapitalis, peranan pekerja dikebiri sebagian, karena pemilik modal mempunyai kapital dan juga lahan. Dengan demikian, terjadi distribusi kekayaan yang tidak adil dan juga tidak alamiah. Dengan pernyataan ini pula, ditujukan kritik kepada Bentham : dengan demikian, tidak mungkin mencapai the greatest happiness of the greatest number. Hal ini menciptakan kontradiksi dalam sistem kapitalis, karena yang terjadi adalah plenty and poverty, yang menimbulkan kerugian sosial.

John Gray menulis buku A Lecture on Human  Happiness yang terbit pada tahun 1825, yang memuat kritik dan kutukan terhadap sistem kapitalis. Ia kembali kepada nilai tenaga kerja yang menerima produksi secara penuh, tetapi hanya sebagian, sedangkan kelompok yang tidak produktif menjadi parasit. Dia melihat, eksploitasi terjadi tidak hanya pada upah tetapi juga melalui sewa, suku bunga, dan laba, yang menyebabkan terjadinya penyakit sosial.

Para pemikir sosialis pra-ilmiah ini hampir senada, baik titik bertolaknya maupun aspek tafsirannya dan kemudian bermuara kedalam eksploitasi tenaga kerja. Inilah penyakit dan sekaligus kejahatan pemilik modal. Proudhon bahkan lebih kasar lagi menuduh, bahwa milik kapitalis adalah berasal dari curian (la propriete c’est le vol). Dia menyatakan bahwa sewa lahan , suku bunga, dan laba perlu dihapuskan. Walaupun demikian, Proudhon tidak anti terhadap milik pribadi dan bahkan menolak faham komunisme karena katanya komunisme salah analisis tentang hak-milik. Ada beberapa bukunya, terutama Contradictions Economiques, au Philosophie de la Miesere yang terbit pada tahun 1846, dan kemudian pada tahun 1886 terbit lagi Theorie de la Propriete. Dalam buku ini dikemukakannya aspek keseimbangan dapat dicapai dan eksploitasi dapat berakhir jika hak-milik dibagikan dan pertanian serta industri diselenggarakan oleh usaha-usaha produsen kecil. Walaupun industri besar tidak dapat dihapuskan, tetapi industri ini berintegrasi dengan para pengrajin dan masyarakat petani kecil.

Selanjutnya Proudhon mengemukakan pandangannya tentang uang. Uang hanyalah alat tukar dan barang-barang diperjualbelikan sama dengan ongkosnya, tidak ada bunga dan laba. Kredit tanpa bunga, walaupun pinjam meminjam tetap ada, karena bank tanpa modal dan tidak perlu bunga. Kenapa Proudhon demikian? Proudhon dipengaruhi oleh filsafat Hegel dan juga oleh ajaran Bibel (perjanjian lama), gagasannya menekan keadilan. Keadilan baginya adalah dasar utama kehidupan manusia. Namun demikian,dia bersikap anarkis dan dikatakannya anarki merupakan kehidupan ideal manusia. Pemerintah tidak perlu hadir (karena sudah adil). Pemerintah di depak dengan paksa dan digantikan oleh perhimpunan sukarela yang berfungsi administratif, bukan mengatur setiap orang. Proudhon tidak pernah secara tuntas menyelesaikan penjelasan teorinya.  Apakah dengan mendepak pemerintah dengan paksa tidak menimbulkan pemerintahan yang otoriter?

Itulah para pemikir ekonomi sosialis pra-ilmiah. Ciri ilmiah terlihat dari pembicaraan teori yang lalu (bertolak dari teori nilai Ricardo), tetapi dengan penafsiran lain dan membutuhkan penjelasan dan kerangka analisis baru. Tetapi ini belum tuntas. Ini pulalah tugas pemikir selanjutnya. Tugas itu berlanjut pada Karl Max, yang dapat dianggap mewakili pemikiran sosialis ilmiah.

Karl Max (1818-1883) nabi besar sosialisme modern ini telah mengkombinasi ide-ide pihak yang mendahuluinya, baik kaum sosialis maupun kaum kapitalis, dengan ide-idenya sendiri guna membentuk suatu sistem pemikiran baru, yang marupakan dasar bagi suatu pergerakan yang kuat. Teori ekonomi yang dikembangkan Marx dalam “Das Kapital” boleh dikatakan seluruhnya bersifat Klasik. Metode uraiannya adalah metode deduksi, berdasarkan sejumlah postulat yang relatif sederhana. Marx senantiasa menggunakan alat-alat analisis Ricardo.

Mengenai konsep nilai, Marx beranggapan bahwa nilai ekonomik barang-barang dicapai dari tenaga kerja yang dikorbankan untuk membuatnya. (hal tersebut pada pokoknya merupakan pandangan Ricardo) Marx hanya menambahkan bahwa untuk menghasilkan nilai, diperlukan tenaga kerja sosial; artinya produknya harus berguna bagi seseorang. Nilai tukar, sewaktu-waktu pasar berkembang, dapat diukur berupauang, akan tetapi bila semua ilusi uang diperhatikan secara lebih mendalam, maka konsumen yang ingin menggunakan suatu barang, hanya membayar untuk “socially necessary labor” yang tercakup didalamnya. Uang adalah intermediernya. Akan tetapi, pemilik modal bukanlah membeli barang tersebut untuk digunakan sendiri, melainkan untuk dijual lagi.

Pada dasarnya Marx ingin menunjukkan bahwa dalam organisasi kapitalistik produksi sudah biasa bahwa buruh yang  tidak dapat menawarkan sesuatu kecuali tenaga kerja mereka, menerima nilai tukar lengkap dari pengusaha untuk tenaga kerja mereka, sedangkan para pengusaha mengambil nilai pakai tenaga kerja tersebut.

BIOGRAFI FRANCIS YSIDRO EDGEWORTH


Francis Ysidro Edgeworth, adalah editor jurnal akademis terkemuka di bidang ekonomi dan tulisan-tulisannya sendiri dalam ekonomi sangat berpengaruh, serta membuat kontribusi yang signifikan terhadap metode statistik selama tahun 1880-an. Edgeworth mempelajari bagaimana ekonomi dapat mencapai distribusi terbaik atau optimal dari sumber-sumbernya. Kontribusi utamanya adalah menerapkan teknik matematika lanjut dalam usaha menjawab masalah ekonomi ini, Edgeworth mengembangkan alat –alat modern dari fungsi analisis kepuasan makroekonomi, kurva ideveren, kurva kontrak dan kotak Edgewort.

Dia lahir tanggal 8 Februari 1845 di Edgeworthstown, Longford County, Irlandia dan wafat pada tanggal 13 Februari 1926 di Oxford, Oxfordshire, Inggris. Ibunya bernama Rosa Florentina Eroles, Spanyol. Ayahnya bernama Francis Beaufort Edgeworth, yang berasal dari sebuah keluarga Irlandia yang kuat koneksi sastra. His grandfather was Richard Lovell Edgeworth, an author, inventor and educationalist who was married four times and had 22 children. Kakeknya adalah Richard Lovell Edgeworth, seorang penulis, penemu dan pendidik yang menikah empat kali dan memiliki 22 anak. Among these 22 children were Edgeworth’s father and also Maria Edgeworth who was well known as a writer of children’s stories and also for novels about life in Ireland. Di antara 22 anak-anaknya itu adalah ayah Edgeworth dan juga Maria Edgeworth yang dikenal sebagai penulis cerita anak-anak dan juga untuk novel tentang kehidupan di Irlandia. Richard Lovell Edgeworth had an estate at Edgeworthstown, northwest of Dublin, and it was on this estate that Edgeworth was born.(JJ O’Connor dan EF Rober)

Edgeworth tidak pernah masuk sekolah, ia hanya belajar dengan guru privatnya di Edgeworthstown estat sampai tahun 1862. Ia memasuki Trinity College, Dublin pada usia 17 dan belajar bahasa Perancis, Jerman, Spanyol dan Italia. After graduating, he was awarded a scholarship to study at Oxford and he entered Exeter College in January 1867. Dia tidak belajar matematika atau ekonomi sampai setelah ia selesai universitas. He was self-taught in those subjects.He was a lifelong voracious bookworm. Dia adalah seorang kutu buku rakus seumur hidup. He qualified as a barrister in London in 1877 but didn’t practice.ia mendapat beasiswa untuk belajar di Oxford dan Exeter College ia masuk pada Januari 1867. At Oxford he spent some time at Magdalen and at Balliol, graduating in 1869. Di Oxford ia menghabiskan beberapa waktu di Magdalen dan di Balliol, lulus pada tahun 1869.

Sekitar tahun 1870, Edgeworth pindah ke Hempstead, dalam lingkungan London. Very little is known about the next decade of his life. Sangat sedikit yang diketahui tentang dekade berikutnya dalam hidupnya. Edgeworth subsisted on private income. Edgeworth subsisted pada pendapatan pribadi. He must certainly have studied law, for in 1877, he was called to the bar by the Inner Temple. Dia  telah mempelajari hukum, pada tahun 1877.

Dalam buku pertamanya, Metode Lama dan Baru Etik (1877), Edgeworth mengkombinasikan kepentingannya, menerapkan matematika – terutama kalkulus variasi dan metode pengali Lagrangian – untuk masalah-masalah filsafat utilitarian. His main concern, following up on Sidgwick, was “exact utilitarianism”, defined loosely as the optimal allocation of resources that maximized happiness of a society. Perhatian utamanya, menindaklanjuti Sidgwick, adalah “tepat utilitarianisme”, yang didefinisikan secara longgar sebagai alokasi optimal sumber daya yang dimaksimalkan kebahagiaan dari suatu masyarakat. He argued that ultimately it falls upon the “capacity for pleasure” of people in a society. Dia berargumen bahwa pada akhirnya jatuh pada “kapasitas untuk kesenangan” orang dalam suatu masyarakat. He recognized that, under uncertainty, “equal capacity” ought to be assumed. Dia mengakui bahwa, di bawah ketidakpastian, “kapasitas yang sama” seharusnya diasumsikan. However, he then went on to argue that certain classes of people “obviously” have a greater capacity for pleasure than others (eg men more than women), and thus some amount of inequality is justifiable on utilitarian principles. Namun, ia kemudian berpendapat bahwa kelas-kelas tertentu orang “jelas” memiliki kapasitas untuk kesenangan yang lebih besar daripada yang lain (misalnya laki-laki lebih dari perempuan), dan dengan demikian beberapa ketidaksamaan jumlah dibenarkan pada prinsip-prinsip utilitarian. He struck a Darwinist note when, in an attempt to sound optimistic, he argued that “capacities” would evolve over time in a manner that the egalitarian solution would become justifiable in the future. Dia memukul seorang Darwinis catatan bila, dalam usaha untuk terdengar optimis, dia menegaskan bahwa “kapasitas” akan berkembang dari waktu ke waktu dengan cara yang solusi yang egaliter akan menjadi dibenarkan di masa depan. He resurrected his argument, and gave it a more frighteningly eugenicist tinge, in his 1879 paper.

Although qualified as a barrister, Edgeworth did not practice law but rather fell into the academic underground of Victorian Britain for the next decade.            Walaupun kualifikasi sebagai pengacara, Edgeworth tidak mempraktekkan hukum salam artian dia tidak memasuku dunia hukum, melainkan jatuh ke bawah tanah akademik dari Victoria Britania untuk dekade berikutnya. Edgeworth lectured on a wide variety of topics (Greek, English theatre, logic, moral sciences, etc.) in a wide variety of settings, from Bedford College for Women in London to Wren’s private training school for Indian civil servants. Edgeworth kuliah mengenai berbagai topik (Yunani, teater inggris, logika, ilmu-ilmu moral, dll). The pay was miserable and prestige non-existent.

Pada Tahun 1880 ia mengajar di logika di King’s College, London. In 1888 he was appointed Professor of Political Economics at King’s College, London and, two years later, he was appointed to the Tooke chair of Economic Science. Pada 1888 ia diangkat sebagai Guru Besar Ekonomi Politik di King’s College, London dan dua tahun kemudian, ia diangkat ke kursi Tooke Ilmu Ekonomi.

Berdasarkan publikasinya dalam ekonomi dan matematika statistik di tahun 1880-an, ia diangkat menduduki di King’s College London pada tahun 1888 di ekonomi, dan pada tahun 1891 diangkat di ekonomi di Universitas Oxford. Also in 1891 he was appointed the founding editor of The Economic Journal . Ia memperoleh beasiswa pada All Souls College dan ia memegang kedua kursi dan persekutuan sampai ia pensiun pada tahun 1922. Another event of significance in 1891 was that the Economic Journal began publication with Edgeworth as its first editor. Signifikansi peristiwa lain pada tahun 1891 adalah bahwa Economic Journal mulai publikasi dengan Edgeworth sebagai editor pertama. This journal was the publication of the Royal Economic Society which had been set up in 1890 with Edgeworth appointed as secretary to the Society. Jurnal ini adalah penerbitan Ekonomi Royal Society yang telah didirikan pada tahun 1890 dengan Edgeworth ditunjuk sebagai sekretaris Serikat. However [ 2 ]:-pada tahun 1891 ia diangkat sebagai editor pendiri dari The Economic Journal. He continued to be the editor or joint-editor until his death 35 years later. The Economic Journal remains one of the leading scholarly publications in economics today. Dia terus menjadi editor hingga kematiannya 35 tahun kemudian. The Economic Journal tetap menjadi salah satu publikasi ilmiah terkemuka dalam ilmu ekonomi saat ini.

The Royal Statistical Society memberi penghargaan  kepada Edgeworth berupa Medali Guy pada tahun 1907. Edgeworth served as the president of the Royal Statistical Society, 1912-14. Edgeworth menjabat sebagai presiden Royal Statistical Society, 1912-1914. In 1928 AL Bowley published a book entitled and devoted to FY Edgeworth’s Contributions to Mathematical Statistics . Pada tahun 1928 AL Bowley menerbitkan sebuah buku berjudul dan bertaqwa terhadap FY Edgeworth’s Kontribusi untuk Mathematical Statistics.

Namun, seperti abad ke-20 berlangsung, Edgeworth saham tumbuh sebagai Marshall memudar. In the 1930s, some of his contributions were picked up by Paretians such as Harold Hotelling , John Hicks and Abba Lerner . Pada tahun 1930-an, sebagian sumbangan diambil oleh Paretians seperti Harold hotelling, John Hicks dan Abba Lerner. The 1960s and 1970s were characterized by the flowering of an “Edgeworthian” school, led by Martin Shubik, Herbert Scarf, Gerard Debreu , Robert Aumann, Werner Hildenbrand and other mathematical economists. 1960-an dan 1970-an ditandai oleh berkembangnya sebuah “Edgeworthian” sekolah, yang dipimpin oleh Martin Shubik, Herbert Scarf, Gerard Debreu, Robert Aumann, Werner Hildenbrand dan ekonom matematika lainnya.

Edgeworth memberikan kontribusi ekonomi yang menakjubkan dalam orisinalitas dan kedalaman. But he was notoriously poor at expressing his ideas in a way that was understandable to most of his contemporaries. Tapi ia terkenal miskin dalam mengekspresikan ide-idenya dalam sebuah cara yang dapat dipahami oleh sebagian besar orang sezamannya. Trained in languages and the classics, he habitually wrote (and spoke) in long, intricate and erudite sentences, sprinkling them with numerous obscure classical and literary references. Karena terlatih dalam bahasa dan klasik, ia terbiasa menulis (dan berbicara) panjang, rumit (Mark Blaug : 1986) He was in the habit of inventing words (eg brachistopone = the ‘curve of minimal work’) without bothering to define them clearly for readers who could not spot the Greek roots.

  1. 2.     Kontribusi Terhadap Ekonmi

Dalam Matematika Psychics (1881), yang paling terkenal dan buku aslinya, ia mengkritik teori Jevons barter pertukaran, menunjukkan bahwa di bawah sistem “recontracting” akan ada, pada kenyataannya, banyak solusi, sebuah “ketidakpastian kontrak”. Edgeworth’s “range of final settlements” was later resurrected by Martin Shubik (1959) as the game-theoretic concept of “the core”. Edgeworth’s “kisaran permukiman akhir” ini kemudian dibangkitkan oleh Martin Shubik (1959) sebagai permainan-konsep teori “inti”.  ( http://cepa.newschool.edu/het/profiles/edgew.htm )

Edgeworth adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan ekonomi neo-klasik. He was the first to apply certain formal mathematical techniques to individual decision making in economics. Dia adalah orang pertama yang menerapkan teknik matematika formal tertentu untuk pengambilan keputusan individu dalam ilmu ekonomi. He developed utility theory, introducing the indifference curve and the famous Edgeworth box , which is now familiar to undergraduate students of microeconomics . Dia mengembangkan teori utilitas, memperkenalkan Indeverence curve dan yang terkenal Edgeworth Box, He is also known for the Edgeworth conjecture which states that the core of an economy shrinks to the set of competitive equilibria as the number of agents in the economy gets large.Ia juga dikenal karena Edgeworth konjektur yang menyatakan bahwa inti dari suatu ekonomi menyusut ke set dari kesetimbangan kompetitif karena jumlah agen dalam perekonomian semakin besar. In statistics Edgeworth is most prominently remembered by having his name on the Edgeworth series .

Pada tahun 1881 ia menerbitkan Mathematical Psychics: An Essay on Aplikasi Matematika untuk Ilmu Moral. Karya ini, benar-benar pada ekonomi, melihat Economical utilitarian Kalkulus dan Kalkulus. In fact most of his work could be said to be applications of mathematical psychics which Edgeworth saw as analogous to mathematical physics. Bahkan sebagian besar karyanya dapat dikatakan aplikasi matematika paranormal, Edgeworth dianalogikan dengan matematika fisika. They were applied to the measure of utility, the measure of ethical value, the measure of evidence, the measure of probability, the measure of economic value, and the determination of economic equilibria. Mereka diaplikasikan pada ukuran utilitas, ukuran nilai etis, ukuran bukti, ukuran probabilitas, ukuran nilai ekonomi, dan penentuan kesetimbangan ekonomi. He formulated mathematically a capacity for happiness and a capacity for work.Ia merumuskan secara matematis kapasitas untuk kebahagiaan dan kapasitas untuk bekerja. His conclusions that women have less capacity for pleasure and for work than do men would not be popular today.

Pada 1894, Edgeworth menerbitkan sebuah survei teori perdagangan internasional dalam serangkaian artikel di Journal Ekonomi. In it, he pioneered the use of offer curves and community indifference curves to illustrate its main propositions, including the “optimum tariff”. Di dalamnya, ia mempelopori penggunaan kurva penawaran dan kurva indiferen masyarakat untuk mengilustrasikan proposisi utama, termasuk “tarif optimal”. In that same year, he engaged Eugen von Böhm-Bawerk in a brief controversy over the opportunity cost doctrine. Pada tahun yang sama, ia terlibat Eugen von Böhm-Bawerk dalam kontroversi singkat atas doktrin biaya kesempatan.

  • Gagasan kepuasan yang semakin bertambah

Edgeworth dan Pareto

Memiliki gagasan tentang kepuasan yang semakin bertambah. Utilitarian awal bergantung pada gagasan kepuasan pokok (cardinal) yang mensyaratkan bahwa konsumen mengetahui berapa banyak kepuasan yang mereka peroleh dari barang A daripada dari barang B. Edgeworth memindahkan fokus perhatian ahli ekonomi dari kepuasan pokok menuju e kepuasan ordinal, yang menyangkut urutan preferensi konsumen berdasarkan kepuasan yang diperoleh dari masing-masing barang.

Edgeworth kemudian menggunakan pandangan kepuasan ordinal untuk mengembangkan gagasan kurva indefference. Gagasan ini sangat mudah dipahami jika kita mempertimbangkan kasus sederhana dengan hanya dua barang , misalnya roti dan bir. Jka saya mempunyai lebih banyak bir atau lebiiih banyak roti , kepuasan saya seharusnya bertambah karena saya mempunya lebih banyak barang. Agar kepuasan saya tetap pada tingkat yang sama, apabila saya mempunyai lebih banyak lagi bir maka saya harus memiliki lebih sedikit roti.

4

3

2

1

1     2     3

Edgeworth kemudian mengaplikasikan alat kurva indeferent ini untuk menganalisa pertukaran. Pertukaran dapat terjadi antara dua orang, penjelasan inni yang nantinya digunakan oleh para ahli ekonomi dan disebut sebagai kotak Edgeworth

  • Edgeworth’s conjecture Edgeworth’s dugaan (Kurva Kontrak)

As the number of agents in an economy increases, the degree of indeterminacy is reduced.Sebagai jumlah agen dalam perekonomian meningkat, tingkat ketidakpastian akan berkurang. In the limit case of an infinite number of agents (perfect competition), contract becomes fully determinate and identical to the ‘equilibrium’ of economists. Dalam kasus batas jumlah tak terbatas agen (persaingan sempurna), kontrak determinate dan sepenuhnya menjadi identik dengan ‘ekuilibrium’ para ekonom. The only way of resolving this indeterminacy of contract would be to appeal to the utilitarian principle of maximizing the sum of the utilities of traders over the range of final settlements. Satu-satunya cara menyelesaikan ketidakpastian kontrak ini akan mengajukan banding kepada prinsip utilitarian memaksimalkan jumlah utilitas dari pedagang selama rentang permukiman akhir. Incidentally, it was in this 1881 book that Edgeworth introduced into economics the generalized utility function, U (x, y, z, …), and drew the first ‘indifference curve’. Kebetulan, itu dalam buku yang Edgeworth 1881 diperkenalkan ke dalam ekonomi fungsi utilitas yang umum, U (x, y, z, …), dan menarik pertama ‘kurva indiferen’. ( http://cepa.newschool.edu/het/profiles/edgew.htm )

  • International trade Perdagangan internasional

He was the first one to use offer curves and community indifference curves to illustrate its main propositions, including the “optimum tariff”.Dia adalah yang pertama untuk menggunakan kurva penawaran dan kurva indiferen masyarakat untuk mengilustrasikan proposisi utama, termasuk “tarif optimal”.

Teori pertukaran merupakan kontribusi yang sangat penting dari Edgeworth dalam perdagangan internasional. Teori ini menunjukkan dengan diagram, bagaimana pertukaran dapat menguntungkan kedua belah pihak, dan juga menunjukkan bagaimana kemungkinan hasil akhir dari pertukaran itu akan tidak terbatas.

Misalkan dua negara (Jerman dan Belgia), masing-masing memproduksi dua barang (roti dan bir),. Tiap-tiap negara mempunyai kurva indeferent, dan masing-masing ingin mecncapai kurva indeferent tertinggi untuk memaksimalkan kepuasannya.

Edgeworth Box adalah suatu diagram untuk mempelajari ekuilibrium ekonomi produksi (2 barang dan 2 faktor produksi), dilakukan dengan cara mengangkat secara bersama 2 diagram isoquant untuk 2 barang dalam satu diagram. Sisi-sisi Edgeworth box menunjukkan jumlah dari faktor produksi yang ada (Hendra Halwani : 2005 : 23). Sedangkan dalam buku Hamdi Hadi, Ekonomi Internasional buku 1, menuliskan bahwa analisis manfaat perdagangan internasional (gain from trade) menurut Edgeworth Bowley Box diagram divisualisasikan dengan menggunakan Indeference cuurve (Hamdi Hady : 2004 : 51)

Edgeworth menunjukkan bahwa, baik itu Belgia maupun jerman dapat meningkatkan kekayaan mereka dengan bergerak dari titik A ke sembarang titik di dalam bidang elips atau lensa mata yang dibentuk oleh titik potong dari dua kurva indeferent masing-masing negara. Dia menamakan rangkaian titik dimana kurva indeferent dari Jerman dan Belgia dapat menyinggung satu sama lain (titik-titik antara D dan E ) sebagai kurva kontrak. Titik-titik ini merepresentasikan kemungkinan peradagangan yang terbaik untuk kedua negara.

Selanjutnya Edgeworth berusaha mencari apakah untuk konflik yang digambarkan oleh kurva indeferen. Ia menemukan bahwa tidak mungkin hanya ada satu titik keseimbangan perdagangan. Titik pada kurva kontrak yang akhirnya dietapkan oleh keduan negara akan melibatkan tawar-menawar antara Belgia dan Jerman menyangkut keuntungan perdagangan.

Kemudian Edgeworth menunjukkan bahwa tingkat Indeterminasi dalam hasil akhir adalah fungsi dari jumlah perdagangan pada masing-masing pihak. Jika banyak negara memproduksi roti untuk ekspor dan hanya sedikit negara yang memproduksi bir, Jerman tidak akan mampu memperoleh tawar-menawar yang bagus melawan Belgia. Semua negara penghasil roti akan bersaing satu sama lain dengan menawarkan banyak rotti untuk ditukar dengan bir yang diterima dari Belgia. Demikian juga negara penghasil bir yang banyak dan tidak ada produsen roti lainnya, keuntungan perdagangan akan jatuh ke Jerman. Semua orang menginginkan roti Jerman, tetapi Jerman dapat perggi ke tempat yang berbeda-beda untuk mendapatkan bir. Edgeworth menunjukkan hanya di bawah kondisi pasar sempurna, dimana banyak negara menjual roti dan bir sekaligus, ada kemungkinan muncul satu hasil tunggal. Semua pihak akan menjadi price taker dan masing-masing pihak memiliki kekuatan tawar menawar yang mereka miliki di atas pihak lain (Stevan Pressman : 2007 : 104)

 

  • TaxationPerpajakan paradoks

Taxation of a good may actually result in a decrease in price.Perpajakan yang baik sebenarnya dapat mengakibatkan penurunan harga.

He set the utilitarian foundations for highly progressive taxation, arguing that the optimal distribution of taxes should be such that ‘the marginal disutility incurred by each taxpayer should be the same’ (Edgeworth, 1897).Utilitarian ia meletakkan dasar bagi perpajakan yang sangat progresif, dengan mengatakan bahwa distribusi optimal pajak harus sedemikian rupa sehingga (Edgeworth, 1897) ‘disutility marjinal yang dikeluarkan oleh masing-masing wajib pajak harus sama’ (Jimmy Wales : Wikipedia)

  • Monopoly pricing Monopoli harga

In 1897, in an article on monopoly pricing, Edgeworth criticized Cournot’s exact solution to the duopoly problem with quantity adjustments as well as Bertrand’s “instantly competitive” result in a duopoly model with price adjustment.Pada tahun 1897, dalam sebuah artikel pada harga monopoli, Edgeworth Cournot persis mengkritik solusi untuk masalah duopoli dengan penyesuaian kuantitas maupun Bertrand’s “langsung kompetitif” berakibat pada model duopoli dengan penyesuaian harga. At the same time, Edgeworth showed how price competition between two firms with capacity constraints and/or rising marginal cost curves resulted in indeterminacy. Pada saat yang sama, Edgeworth menunjukkan bagaimana persaingan harga antara dua perusahaan dengan kapasitas kendala dan / atau naik kurva biaya marjinal mengakibatkan ketidaktentuan. For a modern statement of the “Bertrand-Edgeworth” duopoly model , see Levitan and Shubik (1972).Untuk pernyataan modern dari “Bertrand-Edgeworth” model duopoli, lihat Levitan dan Shubik (1972). (Jimmy Wales : Wikipedia)

  • Teori produktivitas marginal

Edgeworth criticized the marginal productivity theory in several articles (1904, 1911), and tried to refine the neo-classical theory of distribution on a more solid basis.Edgeworth mengkritik teori produktivitas marjinal di beberapa artikel (1904, 1911), dan mencoba untuk memperbaiki neo-klasik teori distribusi pada dasar yang lebih solid. Although his work in questions of war finance during the World War I was original, they were a bit too theoretical and did not achieve the practical influence he had hoped. Meskipun karyanya dalam pertanyaan-pertanyaan dari membiayai perang selama Perang Dunia I adalah asli, mereka agak terlalu teoritis dan tidak mencapai pengaruh praktis ia harapkan. (Jimmy Wales : Wikipedia)

  • Edgeworth’s limit theorem Edgeworth’s teorema limit

Edgeworth’s limit theorem relates to equilibrium of supply and demand in a free market.Teorema limit Edgeworth yang berkaitan dengan keseimbangan penawaran dan permintaan di pasar bebas. See Edgeworth’s limit theorem .

Though Edgeworth’s economic ideas were original and in depth, his contemporaries frequently complained of his manner of expression for lack of plain-spokenness and clarity.Meskipun ide-ide ekonomi Edgeworth yang asli dan secara mendalam, orang-orang sezamannya sering mengeluhkan sikapnya berekspresi karena kurangnya polos-spokenness dan kejelasan. (Jimmy Wales : Wikipedia)

  • Konsep Rasionalitas Edgeworth

Menurut Edgeworth prinsip pertama dalam ilmu ekonomi adalah setiap pelaku ekonomi hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi (self interest) seorang individu. Namun salah satu hal yang ingin dicapai oleh teori kepuasan modern saat ini adalah upaya pembebasan ilmu ekonomi dari prinsip pertama yang sangat meragukan dan tidak jelas ini. (Muhammad Zainudin : 2009)

  • Sumbangan Pemikiran terhadap Analisis Statistik

Edgeworth (1976), memberikan beberapa sumbangan untuk analisis statistik, termasuk karya tentang penjelasan kesimpulan statistika dan pengembangan koefesien korelasi. Angka ini yang bervariasi mulai dari nol sampai satu, menunjukkan asosiasi antara dua variabel ekonomi,secara khusus angka ini menunjukkan seberapa dekat antara dua variabeltidak berhubungan sama sekali dan tidak bergerak bersama-sama. Menurut Stevan Prisman niai satu menunjukkan varibel bergerak dalam satu kesatuan, apabila suatu variabel berubah kita dapat memperkirakan dengan kepastian 100 persen bagaimana variabel yang ain akan berubah (Stevan Presman : 104 : 2007).

  • Aplikasi Praktis dalam Penentuan Probabilitas suatu Bank

Edgeworth (1886,1888), menunjukkan bagaimana sejarah masa lau dari permintaan untuk penarikan akan mengakibatkan bank bisa memperkirakan probabilitas tingkat uang tunai yang mencukupi untuk memenuhi permintan penarikan uang uang sehari-hari di masa yang akan datang. Perhitungan ini membuat bank dapat menentukan berapa banyak uang yang tetap disimpan sebagai dana kontingensi bagi para deposan yang datang ke bank untuk menarik uang mereka (Stevan Presman : 104 : 2007).

  1. 3.     Kritikan Ekonomi Islam terhadap Teori Edgeworth
  • Analisis Kotak Edgeworth

Pada analisis contract curve dalam kotak Edgeworth, dijelaskan bahwa sepanjang contract curve alokasi sumber daya akan selalu efisien. Ini suatu pernyataan yang sangat tidak adil karena dengan begitu kita bisa saja mengambil titik pada contract curve yang memberikan alokasi terbesar hanya kepada satu pihak yang diinginkan dengan begitu pihak lain akan mendapatkan alokasi sumber daya yang sangat kecil. Namun menurut konsep pareto optimum kondisi seperti itu sudah terbaik dalam perekonomian karena sudah mencapai titik alokasi sumber daya yang terbaik. Pihak yang mendapatkan alokasi terkecil pun dianggap sudah mencapai alokasi sumber daya terbaiknya dan tidak dapat menaikkan utilitasnya, yang sangat kecil itu, karena jika dinaikkan akan membuat pihak lain, yang utilitasnya sangat besar, menjadi worse-off dan berakibat pada terganggunya efisiensi perekonomian konvensional. Hal ini jelas menunjukkan ketidakadilan terhadap masyarakat kecil.

Kesalahan dari pareto optimum yaitu masalah endowment dari masing-masing phak. Dalam literatur mikroekonomi konvensional seringkali diperlihatkan endowment yang sama dan seimbang antara kedua pihak yang terlibat dalam ekonomi pertukaran. Lalu ekonomi pertukaran sama-sama memberikan hasil yang lebih baik bagi kedua pihak tersebut (alokasi efisisen antara kedua individu seimbang di tengah-tengah kotak Edgeworth). Padahal dalam kenyataannya ekonomi pertukaran justru seringkali terjadi antara masyarakat dengan modal besar dan masyarakat modal kecil. Dengan perbedaan endowment, yang sangat mungkin mencolok, itu ekonomi pertukaran akan memberikan manfaat lebih besar kepada pihak dengan modal awal yang lebih besar (orang kaya) dan tidak akan memberikan manfaat yang berarti bagi masyarakat dengan endowment yang lebih kecil, kalau tidak boleh dibilang merugikan masyarakat kecil. Akhirnya kesejahteraan kepada seluruh masyarakat tidak akan terjadi karena yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin (memperlebar jurang kesenjangan sosial). (Irfan Sugiyana : 2008).

  • Konsep Rasionalitas Edgeworth

Menurut Edgeworth prinsip pertama dalam ilmu ekonomi adalah setiap pelaku ekonomi hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi (self interest) seorang individu.

Kepentingan pribadi disini tidak harus selalu diartikan dengan penumpukan kekayaan dan harta oleh seseorang. Dimana kepentingan pribadi yang diasumsikan disini adalah setiap individu akan selalu mengejar berbagai tujuan dalam hidup ini, dan tidak hanya memperbanyak kekayaan secara moneter saja. Tujuan-tujuan tersebut bisa saja dalam bentuk prestise, cinta, aktualisasi diri, dan lainnya. Serta dapat pula dipertimbangkan disini adalah pencapaian individu untuk menjadi lebih baik dengan membuat lingkungan sekelilingnya menjadi lebih baik pula pada saat yang sama.

Rasionalitas dalam prilaku pembelian oleh konsumen muslim haruslah berdasarkan aturan Islam, sebagai berikut:

1)      Konsumen dinyatakan rasional jika pembelanjaaan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hal ini sesuai dengan QS Al-Israa: 29
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kami menjadi tercela dan menyesal” (QS Al-Israa: 29)

2) Seorang konsumen dapat dibilang rasional jika ia membelanjakan tidak hanya untuk barang-barang yang bersifat duniawi semata, melainkan turut pula untuk keperluan di jalan Allah SWT. Hal ini sesuai dalam QS Al-Israa: 26 :
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS Al-Israa: 26).

3) Seorang konsumen rasional mempunyai tingkat konsumsi yang lebih kecil daripada konsumen non-muslim dikarenakan konsumsi hanya diperbolehkan untuk barang-barang yang halal dan thoyib saja.
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Baqarah: 173)

4) Konsumen rasional hanya jika ia tidak menimbun kekayaan melalui tabungan saja, tetapi harus melakukan investasi yang dapat mengembangkan sirkulasi uang dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi. Karena tabungan yang tidak diinvestasikan akan terkena zakat.

  1. 4.     Penerbitan Francis Ysidro Edgeworth

[ edit ] Collections/SelectiKoleksi / Seleksi

  • FY Edgeworth (1925) Papers relating to political economy 3 vols. FY Edgeworth (1925) Papers yang berkaitan dengan ekonomi politik 3 jilid. Available online at Gallica Tersedia online di Gallica
  • Philip Mirowski (ed.)(1994). Edgeworth’s Writings on Chance, Economic Hazard, and Statistics , Rowman & Littlefield. Philip Mirowski (ed.) (1994). Edgeworth’s Writings on Chance, Bahaya Ekonomi, dan Statistik, Rowman & Littlefield.
  • Charles R. McCann Jr. (ed.)(1966) FY Edgeworth: Writings in Probability, Statistics and Economics, 3 vols. Charles R. McCann Jr (ed.) (1966) FY Edgeworth: Writings di Probabilitas, Statistik dan Ekonomi, 3 jilid. Cheltenham, Glos.: Elgar. Cheltenham, Glos.: Elgar.
  • Peter Newman (ed.) (2003) FY Edgeworth : Mathematical psychics, and further papers on political economy Oxford University Press. Peter Newman (ed.) (2003) FY Edgeworth: Mathematical peramal, dan kertas lebih lanjut tentang ekonomi politik Oxford University Press

Individu bekerja

  • “Mr. Mathew Arnold on Bishop Butler’s Doctrine of Self-Love”, 1876, Mind “Mr Mathew Arnold pada Uskup Doktrin Butler Self-Love”, 1876, Mind
  • New and Old Methods of Ethics , 1877. Metode Lama dan Baru Etik, 1877.
  • “The Hedonical Calculus”, 1879, Mind “The Hedonical Calculus”, 1879, Mind
  • Mathematical Psychics: An essay on the application of mathematics to the moral sciences  Matematika Psychics: Sebuah esai tentang penerapan matematika untuk ilmu-ilmu moral, 1881.
  • “Mr. Leslie Stephen on Utilitarianism”, 1882, Mind “Mr Leslie Stephen pada Utilitarianisme”, 1882, Mind
  • “The Law of Error”, 1883, Phil Mag “Hukum Error”, 1883, Phil Mag
  • “The Method of Least Squares”, 1883, Phil Mag “Metode Kuadrat Terkecil”, 1883, Phil Mag
  • “The Physical Basis of Probability”, 1883, Phil Mag “Fisik Dasar Probabilitas”, 1883, Phil Mag
  • “On the Method of Ascertaining a Change in the Value of Gold”, 1883, JRSS “Pada Metode untuk memastikan sebuah Perubahan Nilai Emas”, 1883, JRSS
  • “Review of Jevons’s Investigations “, 1884, Academy “Review of Jevons’s Investigations”, 1884, Akademi
  • “The Rationale of Exchange”, 1884, JRSS “Para Dasar Pemikiran Exchange”, 1884, JRSS
  • “The Philosophy of Chance”, 1884, Mind “The Philosophy of Chance”, 1884, Mind
  • “On the Reduction of Observations”, 1884, Phil Mag “Di Pengurangan Pengamatan”, 1884, Phil Mag
  • “A Priori Probabilities”, 1884, Phil Mag “A priori Probabilitas”, 1884, Phil Mag
  • “Chance and Law”, 1884, Hermathena “Peluang dan Hukum”, 1884, Hermathena
  • “Methods of Statistics”, 1885, Jubilee Volume of RSS . “Metode Statistik”, 1885, Jubilee Volume RSS.
  • “The Calculus of Probabilities Applied to Psychic Research, I & II”, 1885, 1886, Proceedings of Society for Psychic Research “Calculus Probabilitas Terapan untuk Psikis Riset, I & II”, 1885, 1886, Proceedings of Society for Psikis Penelitian
  • “On Methods of Ascertaining Variations in the Rate of Births, Deaths and Marriages”, 1885, JRSS “Pada memastikan Variasi Metode dalam Tingkat Kelahiran, Kematian dan Perkawinan”, 1885, JRSS
  • “Progressive Means”, 1886, JRSS “Progresif Means”, 1886, JRSS
  • “The Law of Error and the Elimination of Chance”, 1886 Phil Mag “Hukum Kesalahan dan Penghapusan Chance”, 1886 Phil Mag
  • “On the Determination of the Modulus of Errors”, 1886, Phil Mag “Pada Penentuan Modulus Kesalahan”, 1886, Phil Mag
  • “Problems in Probabilities”, 1886, Phil Mag “Permasalahan dalam Probabilitas”, 1886, Phil Mag
  • “Review of Sidgwick’s Scope and Method”, 1886, Academy “Review of Sidgwick’s Cakupan dan Metode”, 1886, Akademi
  • “Review of Jevons’s Journals”, 1886, Academy “Review of Jevons’s Journals”, 1886, Akademi
  • “Four Reports by the committee investigating best method of ascertaining and measuring variations in the monetary standard”, 1887, Reports of the BAAS (Parts I & 3; Part 2) “Empat Laporan oleh komite menyelidiki metode terbaik untuk memastikan dan mengukur variasi dalam standar moneter”, 1887, Laporan dari Baas (Bagian I & 3; Part 2)
  • “Observations and Statistics: An essay on the theory of errors of observation and the first principles of statistics”, 1887, Transactions of Cambridge Society . “Pengamatan dan Statistik: Sebuah esai tentang teori kesalahan pengamatan dan prinsip-prinsip pertama statistik”, 1887, Transaksi of Cambridge Society.
  • Metretike, or the method of measuring probability and utility , 1887. Metretike, atau metode mengukur probabilitas dan utilitas, 1887.
  • “On Observations Relating to Several Quantities”, 1887, Hermathena “Pada Beberapa Pengamatan Berkaitan dengan Kuantitas”, 1887, Hermathena
  • “The Law of Error”, 1887, Nature “Hukum Error”, 1887, Alam
  • “The Choice of Means”, 1887, Phil Mag “The Choice of Means”, 1887, Phil Mag
  • “On Discordant Observations”, 1887, Phil Mag “Pada sumbang Pengamatan”, 1887, Phil Mag
  • “The Empirical Proof of the Law of Error”, 1887, Phil Mag “The empiris Bukti Hukum Error”, 1887, Phil Mag
  • “On a New Method of Reducing Observations Relating to Several Quantities”, 1888, Phil Mag “Pada Metode Baru Mengurangi Pengamatan Berkaitan dengan Beberapa Kuantitas”, 1888, Phil Mag
  • “New Methods of Measuring Variation in General Prices, 1888, JRSS “Metode Baru Pengukuran Variasi dalam Harga Umum, 1888, JRSS
  • “The Statistics of Examinations”, 1888, JRSS “Para Statistik Ujian”, 1888, JRSS
  • “The Value of Authority Tested by Experiment”, 1888, Mind “The Value of Authority Diuji oleh Experiment”, 1888, Mind
  • “Mathematical Theory of Banking”, 1888, JRSS “Mathematical Theory of Banking”, 1888, JRSS
  • “On the Application of Mathematics to Political Economy: Address of the President of Section F of the British Association for the Advancement of Science”, 1889, JRSS “Di Matematika Penerapan untuk Ekonomi Politik: Alamat Presiden Bagian F dari Asosiasi Inggris untuk Advancement of Science”, 1889, JRSS
  • “The Mathematical Theory of Political Economy: Review of Walras’s Elements”, 1889, Nature “The Mathematical Theory of Political Economy: Review of Walras’s Elements”, 1889, Alam
  • “Review of Wicksteed’s Alphabet “, 1889, Academy “Review of Wicksteed’s Alphabet”, 1889, Akademi
  • “Review of Bohm-Bawerk’s Kapital und Kapitalismus “, 1889, Academy “Review of Bohm-Bawerk’s Kapital und Kapitalismus”, 1889, Akademi
  • “Review of Bertrand’s Calcul des Probabilites”, 1889, J of Education “Review of Bertrand’s Calcul des Probabilites”, 1889, J Pendidikan
  • “Points at which Mathematical Reasoning is Applicable to Political Economy”, 1889, Nature “Points di mana Penalaran matematika adalah Berlaku untuk Political Economy”, 1889, Alam
  • “Appreciation of Gold”, 1889, QJE “Penghargaan Emas”, 1889, QJE
  • “The Element of Chance in Competitive Examinations”, 1890, JRSS “Para Unsur Kompetitif Peluang dalam Ujian”, 1890, JRSS
  • “Economic Science and Statistics”, 1889, Nature “Ilmu Ekonomi dan Statistik”, 1889, Alam
  • “Review of Marshall’s Principles”, 1890, Nature “Review of Marshall’s Principles”, 1890, Alam
  • “Review of Jevons’s Pure Logic”, 1890, Academy “Review of Jevons’s Pure Logic”, 1890, Akademi
  • “Review of Walras’s Elements”, 1890, Academy “Review of Walras’s Elements”, 1890, Akademi
  • “Review of Bohm-Bawerk’s Capital and Interest”, 1890, Academy “Review of Bohm-Bawerk Modal dan Kepentingan”, 1890, Akademi
  • “La Théorie mathématique de l’offre et de la demande et le côut de production”, 1891, Revue d’Economie Politique “La Theorie mathématique de l’offre et de la demande et le côut de produksi”, 1891, Revue d’Economie Politique
  • “Osservazioni sulla teoria matematica dell’ economica politica”, 1891, GdE (trans. “On the Determinateness of Economic Equilibrium”) “Osservazioni Matematica Sulla teoria dell ‘Economica politica”, 1891, Gde (terj. “Di Ekonomi Determinateness Equilibrium”)
  • “Ancora a proposito della teoria del baratto”, 1891, GdE “Ancora a proposito della teoria del baratto”, 1891, Gde
  • “Review of Ricardo’s Principles”, 1891, J of Education “Review of Ricardo’s Principles”, 1891, J Pendidikan
  • “Review of Keynes’s Scope and Method”, 1891, EJ “Review of Keynes Ruang Lingkup dan Metode”, 1891, EJ
  • “An Introductory Lecture on Political Economy”, 1891, EJ “Sebuah Kuliah Pengantar Ekonomi Politik”, 1891, EJ
  • “Review of Sidgwick’s Elements of Politics”, 1891, EJ “Review of Sidgwick’s Elements of Politics”, 1891, EJ
  • “Review of Second Edition of Marshall’s Principles”, 1891, EJ “Review of Second Edition Marshall’s Principles”, 1891, EJ
  • “Mathematical Investigations in the Theory of Value and Prices,” Connecticut Academy, 1892. “Mathematical Penyelidikan di Teori Nilai dan Harga,” Connecticut Akademi, 1892.
  • “Correlated Averages”, 1892 , Philos Magazine “Rata-rata yang berkorelasi”, 1892, Philos Majalah
  • “The Law of Error and Correlated Averages”, 1892, Philos Magazine . “Hukum yang berkorelasi Kesalahan dan Rata-rata”, 1892, Philos Magazine.
  • “Recent Attempts to Evaluate the Amount of Coin Circulating in a Country”, 1892, EJ “Upaya terakhir untuk Evaluasi Jumlah Coin Beredar di suatu Negara”, 1892, EJ
  • “Review of Marshall’s Economics of Industry”, 1892, Nature “Review of Marshall Ekonomi Industri”, 1892, Alam
  • “Review of Cantillon’s Essai”, 1892, EJ “Review of Cantillon’s Essai”, 1892, EJ
  • “Review of Palgrave’s Dictionary”, 1892, EJ “Review of Palgrave’s Dictionary”, 1892, EJ
  • “Review of Bohm-Bawerk’s Positive Theory of Capital”, 1892, EJ “Review of Bohm-Bawerk’s Positif Theory of Capital”, 1892, EJ
  • “Review of Smart’s Introduction to the Theory of Value”, 1892, EJ “Review of Smart’s Pengantar Teori Nilai”, 1892, EJ
  • “Review of Dusing’s Das Geschlechtverhaltniss”, 1892, EJ “Review of Dusing’s Das Geschlechtverhaltniss”, 1892, EJ
  • “Review of Benson’s Capital, Labor and Trade”, 1892, EJ “Review of Benson Modal, Tenaga Kerja dan Perdagangan”, 1892, EJ
  • “Review of Smart’s Women’s Wages”, 1893 “Review of Smart’s Women’s Upah”, 1893
  • “Review of Bonar’s Philosophy”, 1893, Mind “Review of Bonar’s Philosophy”, 1893, Mind
  • “Review of Walsh’s Bimetallism”, 1893, EJ “Review of Walsh’s bimetalisme”, 1893, EJ
  • “Review of Fisher’s Mathematical Investigations”, 1893, EJ “Review of Fisher’s Mathematical Investigations”, 1893, EJ
  • “Professor Böhm-Bawerk on the Ultimate Standard of Value”, 1894, EJ “Profesor Böhm-Bawerk pada Ultimate Standar Nilai”, 1894, EJ
  • “One More Word on the Ultimate Standard of Value”, 1894, EJ “One More Word pada Ultimate Standar Nilai”, 1894, EJ
  • “Review of Wiser’s Natural Value”, 1894, EJ “Review of lebih bijaksana Alam Nilai”, 1894, EJ
  • “Theory of International Values: Parts I, II and III”, 1894, EJ “Theory of International Nilai: Parts I, II dan III”, 1894, EJ
  • “Recent Writings on Index Numbers”, 1894, EJ “Recent Writings pada Indeks Numbers”, 1894, EJ
  • “The Measurement of Utility by Money”, 1894, EJ “The Measurement of Utility dengan Uang”, 1894, EJ
  • “Asymmetric Correlation between Social Phenomenon”, 1894, JRSS “Asymmetric Korelasi antara Fenomena Sosial”, 1894, JRSS
  • Entries: “Average”, “Census”, “Cournot”, “Curves”, “Demand Curves”, Difficulty of Attainment”, “Distance in Time”, “Error”, 1894, in Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. 1 . Masukan: “Rata-rata”, “sensus”, “Cournot”, “Curves”, “Permintaan Curves”, Kesulitan Pencapaian “,” Jarak dalam Time “,” Error “, 1894, dalam Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. 1.
  • “Review of the Webbs’ History of Trade Unionism”, 1894, EJ “Review dari Webbs ‘Sejarah serikat buruh”, 1894, EJ
  • “Review of Third Edition of Marshall’s Principles”, 1895, EJ “Review Edisi Ketiga Prinsip Marshall”, 1895, EJ
  • “Mr. Pierson on the Scarcity of Gold”, 1895, EJ “Mr Pierson di Kelangkaan Emas”, 1895, EJ
  • “Thoughts on Monetary Reform”, 1895, EJ “Thoughts on Moneter Reformasi”, 1895, EJ
  • “The Stationary State in Japan”, 1895, EJ “The Stationary Negara di Jepang”, 1895, EJ
  • “A Defense of Index-Numbers”, 1896, EJ “A Defense of Index-Numbers”, 1896, EJ
  • “Statistics on Unprogressive Communities”, 1896, JRSS “Statistik di Unprogressive Masyarakat”, 1896, JRSS
  • “The Asymmetrical Probability Curve (Abstract)”, 1894, Proceedings of Royal Society “The Asymmetrical Probabilitas Curve (Abstrak)”, 1894, Proceedings of Royal Society
  • “The Asymmetrical Probability Curve”, 1896, Phil Mag “The Asymmetrical Probabilitas Curve”, 1896, Phil Mag
  • “The Compound law of Error”, 1896, Phil Mag “Yang hukum Compound Error”, 1896, Phil Mag
  • Entries: “Gossen”, “Index Numbers”, “Intrinsic Value”, “Jenkin”, “Jennings”, “Least Squares” and “Mathematical Method”, 1896, in Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. Masukan: “Gossen”, “Index Bilangan”, “Nilai intrinsik”, “Jenkin”, “Jennings”, “Kuadrat Terkecil” dan “Metode Matematis”, 1896, di Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. 2 . 2.
  • “Review of Price’s Money”, 1896, EJ “Review of Price Uang”, 1896, EJ
  • “Review of Nicholson’s Strikes and Social Problems”, 1896, EJ “Review of Nicholson Dahsyat dan Masalah Sosial”, 1896, EJ
  • “Review of Pierson’s Leerboek, Vol. 1″, 1896, EJ “Review of Pierson’s Leerboek, Vol. 1″, 1896, EJ
  • “Review of Pierson’s Leerkook, Vol. 2″, 1897, EJ “Review of Pierson’s Leerkook, Vol. 2″, 1897, EJ
  • “Review of Bastable, Theory of International Trade”, 1897, EJ “Review of Bastable, Theory of International Trade”, 1897, EJ
  • “Review of Grazani’s Istituzioni”, 1897, EJ “Review of Grazani’s Istituzioni”, 1897, EJ
  • “La teoria pura del monopolio”, 1897, GdE, (trans.”The Pure Theory of Monopoly”) “La teoria del pura monopolio”, 1897, Gde, (terj. “The Pure Theory of Monopoli”)
  • “The Pure Theory of Taxation: Parts I, II and III”, 1897, EJ “The Pure Theory of Taxation: Parts I, II dan III”, 1897, EJ
  • “Miscellaneous Applications of the Calculus of Probabilities”, Parts 1, 2, 3, 1897, 1898, JRSS “Lain-lain Aplikasi dari Kalkulus Probabilitas”, Parts 1, 2, 3, 1897, 1898, JRSS
  • “Review of Cournot’s Recherches”, 1898, EJ “Review of Cournot’s Recherches”, 1898, EJ
  • “Professor Graziani on the Mathematical Theory of Monopoly”, 1898, EJ “Profesor Graziani pada Mathematical Theory of Monopoli”, 1898, EJ
  • “Review of Darwin’s Bimetallism”, 1898, EJ “Review of Darwin’s bimetalisme”, 1898, EJ
  • “On the Representation of Statistics by Mathematical Formulae”, Part 1 (1898), Parts 2, 3, 4 (1899) “Di Keterwakilan Statistik berdasarkan rumus matematika”, Bagian 1 (1898), Bagian 2, 3, 4 (1899)
  • “On a Point in the Theory of International Trade”, 1899, EJ “Pada Point di Teori Perdagangan Internasional”, 1899, EJ
  • “Review of Davidson, Bargain Theory of Wages”, 1899, EJ “Review of Davidson, Bargain Teori Upah”, 1899, EJ
  • “Professor Seligman on the Mathematical Method in Political Economy”, 1899, EJ “Profesor Seligman pada Metode Matematika dalam Political Economy”, 1899, EJ
  • Entries: “Pareto”, “Pareto’s Law”, “Probability”, Supply Curve” and “Utility”, 1899, in Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. 3 Masukan: “Pareto”, “Pareto’s Law”, “Probabilitas”, Kurva Penawaran “dan” Utility “, 1899, dalam Palgrave, editor, Dictionary of Political Economy, Vol. 3
  • “Answers to Questions by Local Taxation Commission”, 1899, Reprint of Royal Commission for Local Taxation “Jawaban untuk Pertanyaan oleh Komisi Perpajakan Lokal”, 1899, Reprint Royal Komisi untuk Lokal Perpajakan
  • “The Incidence of Urban Rates, Parts I, II and III” 1900, EJ “Insiden Urban Rates, Parts I, II dan III” 1900, EJ
  • “Defence of Mr. Harrison’s Calculation of the Rupee Circulation”, 1900, EJ “Pertahanan Mr Harrison Perhitungan Sirkulasi Rupee”, 1900, EJ
  • “Review of JB Clark’s Theory of Distribution”, 1900, EJ “Review of JB Clark’s Theory of Distribution”, 1900, EJ
  • “Review of Smart’s Taxation of Land-Values”, 1900, EJ “Review of Smart’s Perpajakan Lahan-Nilai-nilai”, 1900, EJ
  • “Review of Bastable, Theory of International Trade (3rd edition)”, 1897, EJ “Review of Bastable, Teori Perdagangan Internasional (3rd edition)”, 1897, EJ
  • “Review of Bonar and Hollander, Letters of Ricardo”, 1900, EJ “Review of Bonar dan Hollander, Letters Ricardo”, 1900, EJ
  • “Mr. Walsh on the Measurement of General Exchange Value”, 1901, EJ “Mr Walsh pada Pengukuran Exchange Jenderal Nilai”, 1901, EJ
  • “Disputed Points in the Theory of International Trade”, 1901, EJ “Dipertentangkan Poin dalam Teori Perdagangan Internasional”, 1901, EJ
  • “Review of Gide’s Cooperation”, 1902, EJ “Review of Gide’s Kerjasama”, 1902, EJ
  • “Review of Wells’s Anticipations”, 1902, EJ “Review of Wells Antisipasi”, 1902, EJ
  • “Methods of Representing Statistics of Wages and Other Groups Not *”Fulfilling the Normal Law of Error”, with AL Bowley, 1902, JRSS “Metode Mewakili Statistik Upah dan Lainnya Grup Tidak *” Memenuhi Hukum Normal Error “, dengan AL Bowley, 1902, JRSS
  • “The Law of Error”, 1902, Encycl Britannica “Hukum Error”, 1902, Encycl Britannica
  • “Review of Cannan’s History of Theories of Production”, 1903, EJ “Review of Cannan Sejarah Teori-Teori Produksi”, 1903, EJ
  • “Review of Bortkiewicz’s Anwendungen and Pareto’s Anwendungen”, 1903, EJ “Review of Bortkiewicz’s Lain dan Pareto Lain”, 1903, EJ
  • “Review of Bastable’s Public Finance”, 1903, EJ “Review of Bastable Keuangan Publik”, 1903, EJ
  • “Review of Bastable’s Cartels et Trusts”, 1903, EJ “Review of Bastable’s Kartel et Trust”, 1903, EJ
  • “Review of Pigou’s Riddle of the Tarriff”, 1904, EJ “Review of Pigou’s Riddle dari tarif”, 1904, EJ
  • “Review of Nicholson’s Elements”, 1904, EJ “Review of Nicholson’s Elements”, 1904, EJ
  • “Review of Bowley’s National Progress”, 1904, EJ “Review of Bowley Kemajuan Nasional”, 1904, EJ
  • “Review of Plunkett’s Ireland”, 1904, EJ “Review of Plunkett’s Irlandia”, 1904, EJ
  • “Review of Northon’s Loan Credit”, 1904, EJ “Review of Northon’s Pinjaman Kredit”, 1904, EJ
  • “Review of Graziani’s Istituzione”, 1904, EJ “Review of Graziani’s Istituzione”, 1904, EJ
  • “Review of Dietzel’s Vergeltungzolle”, 1904, EJ “Review of Dietzel’s Vergeltungzolle”, 1904, EJ
  • “Preface”, 1904, in JR MacDonald, editor, Women in the Printing Trades . “Kata Pengantar”, 1904, di MacDonald JR, editor, Perempuan di Percetakan Trades.
  • “The Theory of Distribution”, 1904, QJE “The Theory of Distribution”, 1904, QJE
  • “The Law of Error”, 1905, Transactions of Cambridge Society “Hukum Error”, 1905, Transaksi of Cambridge Masyarakat
  • “Review of Nicholson’s History of English Corn Laws”, 1905, EJ “Tinjauan Sejarah Nicholson inggris Jagung Hukum”, 1905, EJ
  • “Review of Cunynghame’s Geometrical Political Economy”, 1905, EJ “Review of Cunynghame’s geometris Political Economy”, 1905, EJ
  • “Review of Carver’s Theory of Distribution”, 1905, EJ “Review of Carver’s Theory of Distribution”, 1905, EJ
  • “Review of Taussig’s Present Position”, 1905, EJ “Review of Taussig’s Present Position”, 1905, EJ
  • “Review of Henry Sidgwick: A memoir”, 1906, EJ “Review of Henry Sidgwick: A memoir”, 1906, EJ
  • “The Generalised Law of Error, or Law of Great Numbers”, 1906, JRSS “Hukum yang Generalised Error, atau Hukum Bilangan Besar”, 1906, JRSS
  • “Recent Schemes for Rating Urban Land Values”, 1906, EJ “Recent Skema untuk Rating Nilai Tanah Perkotaan”, 1906, EJ
  • “On the Representation of Statistical Frequency by a Series”, 1907, JRSS “Pada Frekuensi Statistik Keterwakilan oleh Series”, 1907, JRSS
  • “Statistical Observations on Wasps and Bees”, 1907, Biometrika “Statistik Pengamatan pada Tawon dan Lebah”, 1907, Biometrika
  • “Review of de Foville’s Monnaie and Guyot’s Science economique”, 1907, EJ “Review of de Foville’s Monnaie dan Guyot Sains economique”, 1907, EJ
  • “Appreciations of Mathematical Theories”, Parts I & II (1907), Parts III & IV (1908), EJ “Apresiasi of Mathematical Teori”, Parts I & II (1907), Bagian III & IV (1908), EJ
  • “On the Probable Errors of Frequency Constants”, I, II & III (1908), Add. “Di Kekeliruan Kemungkinan Frekuensi Constants”, I, II & III (1908), Tambah. (1909), JRSS (1909), JRSS
  • “Review of Andreades’s Lecture on the Census”, 1908, EJ “Review of Andreades’s Kuliah di Sensus”, 1908, EJ
  • “Review of Rea’s Free Trade”, 1908, EJ “Review of Rea’s Free Trade”, 1908, EJ
  • “Review of Withers’s Meaning of Money”, 1909, EJ “Review of Withers’s Meaning of Money”, 1909, EJ
  • “Review of Mitchell’s Gold Prices”, 1909, EJ “Review of Mitchell’s Gold Harga”, 1909, EJ
  • “Review of Jevons’s Investigations”, 1909, EJ “Review of Jevons’s Investigations”, 1909, EJ
  • “Application du calcul des probabilités à la Statistique”, 1909, Bulletin de l’Institut international de statistique “Aplikasi du calcul des probabilités à la Statistique”, 1909, Bulletin de l’Institut de Statistique internasional
  • “On the Use of the Differential Calculus in Economics to Determine Conditions of Maximum Advantage”, 1909, Scientia “Pada Penggunaan kalkulus Diferensial dalam Ekonomi untuk Menentukan Maksimum Syarat Advantage”, 1909, Scientia
  • “Applications of Probabilities to Economics, Parts I & II”, 1910, EJ . “Aplikasi Probabilitas untuk Ekonomi, Parts I & II”, 1910, EJ.
  • “The Subjective Element in the First Principles of Taxation”, 1910, QJE “The Subjektif Elemen dalam Prinsip Pertama Pajak”, 1910, QJE
  • “Review of John Stuart Mill’s Principles”, 1910, EJ “Review of John Stuart Mill’s Principles”, 1910, EJ
  • “Review of Colson’s Cours”, 1910, EJ “Review of Colson’s Cours”, 1910, EJ
  • “Review of J. Maurice Clark’s Local Freight Discriminations”, 1910, EJ “Review of J. Maurice Clark’s Lokal Freight diskriminasi”, 1910, EJ
  • “Review of Hammond’s Railway Rate Theories”, 1911, EJ “Review of Hammond’s Kereta Api Rate Teori”, 1911, EJ
  • “Probability and Expectation”, 1911, Encycl Britannica “Probabilitas dan Harapan”, 1911, Encycl Britannica
  • “Monopoly and Differential Prices”, 1911, EJ “Monopoli dan Differential Harga”, 1911, EJ
  • “Contributions to the Theory of Railway Rates”, Part I & II (1911), Part III (1912), Part IV (1913), EJ “Kontribusi dalam Teori Tarif Kereta Api”, Bagian I & II (1911), Bagian III (1912), Bagian IV (1913), EJ
  • “Review of Moore’s Laws of Wages”, 1912, EJ “Tinjauan Hukum Moore Upah”, 1912, EJ
  • “Review of Pigou’s Wealth and Welfare”, 1913, EJ “Review of Pigou’s Kekayaan dan Kesejahteraan”, 1913, EJ
  • “On the Use of the Theory of Probabilities in Statistics Relating to Society”, 1913, J of RSS “Pada Penggunaan Teori Probabilitas dalam Statistik Berkaitan dengan Masyarakat”, 1913, J RSS
  • “A Variant Proof of the Distribution of Velocities in a Molecular Chaos”, 1913, PhilMag “Sebuah Pembuktian Variant Distribusi kecepatan dalam Molecular Chaos”, 1913, PhilMag
  • “On the Use of Analytical Geometry to Represent Certain Kinds of Statistics”, Parts IV, 1914, J of RSS “Pada Penggunaan Analytical Geometry untuk Mewakili Jenis tertentu Statistik”, Bagian IV, 1914, J RSS
  • “Recent Contributions to Mathematical Economics, I & II”, 1915, EJ “Kontribusi terakhir Mathematical Economics, I & II”, 1915, EJ
  • On the Relations of Political Economy to War , 1915. Pada Hubungan Ekonomi Politik untuk Perang, 1915.
  • The Cost of War and ways of reducing it suggested by economic theory , 1915. Biaya Perang dan cara-cara mengurangi itu disarankan oleh teori ekonomi, 1915.
  • “Economists on War: Review of Sombart, etc.”, 1915, EJ “Para ekonom pada Perang: Review of Sombart, dll”, 1915, EJ
  • “Review of Pigou’s Economy and Finance of War”, 1916, EJ “Review of Pigou’s Ekonomi dan Keuangan of War”, 1916, EJ
  • “Review of Preziosi’s La Germania alla Conquista dell’ Italia”, 1916, EJ “Review of Preziosi’s La Germania alla Conquista dell ‘Italia”, 1916, EJ
  • “British Incomes and Property”, 1916, EJ “British Pendapatan dan Properti”, 1916, EJ
  • “On the Mathematical Representation of Statistical Data”, Part I (1916), Parts II-IV (1917), J of RSS “Pada Keterwakilan Mathematical Data Statistik”, Bagian I (1916), Bagian II-IV (1917), J RSS
  • “Review of Gill’s National Power and Prosperity”, 1917, EJ “Review of Gill’s National Power dan Kesejahteraan”, 1917, EJ
  • “Review of Lehfeldt’s Economics in Light of War”, 1917, EJ “Review of Lehfeldt’s Ekonomi dalam Terang Perang”, 1917, EJ
  • “Some German Economic Writings about the War”, 1917, EJ “Beberapa Ekonomi Jerman Writings tentang Perang”, 1917, EJ
  • “After-War Problems: Review of Dawson at al.”, 1917, EJ “Setelah Perang Masalah: Review of Dawson di al.”, 1917, EJ
  • “Review of Westergaard’s Scope and Methods of Statistics”, 1917, JRSS “Review of Westergaard’s Cakupan dan Metode Statistik”, 1917, JRSS
  • “Review of Anderson’s Value of Money”, 1918, EJ “Review of Anderson’s Value of Money”, 1918, EJ
  • “Review of Moulton and Phillips on Money and Banking”, 1918, EJ “Review of Moulton dan Phillips pada Uang dan Perbankan”, 1918, EJ
  • “Review of Loria’s Economic Causes of War”, 1918, EJ “Review of Loria’s Economic Causes of War”, 1918, EJ
  • “Review of Arias’s Principii”, 1918, EJ “Review of Arias’s Principii”, 1918, EJ
  • “Review of Smith-Gordon, Rural Reconstruction of Ireland and Russell’s National Being”, 1918, EJ “Review of Smith-Gordon, Pedesaan Rekonstruksi Irlandia dan Russell Menjadi Nasional”, 1918, EJ
  • “On the Value of a Mean as Calculated from a Sample”, 1918, EJ “Di sebuah Mean Nilai sebagai Diolah dari sebuah Sampel”, 1918, EJ
  • “An Astronomer on the Law of Error”, 1918, PhilMag “Seorang Astronom tentang Hukum Error”, 1918, PhilMag
  • Currency and Finance in Time of War , 1918. Mata Uang dan Keuangan di Masa Perang, 1918.
  • “The Doctrine of Index-Numbers According to Prof. Wesley Mitchell”, 1918, EJ “Doktrin Index-Bilangan Menurut Prof Wesley Mitchell”, 1918, EJ
  • “Psychical Research and Statistical Method”, 1919, JRSS “Physical Metode Penelitian dan Statistik”, 1919, JRSS
  • “Methods of Graduating Taxes on Income and Capital”, 1919, EJ “Metode Lulus Pajak Penghasilan dan Modal”, 1919, EJ
  • “Review of Cannan’s Money”, 1919, EJ “Review of Cannan’s Money”, 1919, EJ
  • “Review of Andreades’s Historia”, 1919, EJ “Review of Andreades’s Historia”, 1919, EJ
  • “Review of Lehfeldt’s Gold Prices”, 1919, EJ “Review of Lehfeldt’s Gold Harga”, 1919, EJ
  • A Levy on Capital for the Discharge of the Debt , 1919. Sebuah Retribusi Modal untuk Pemberhentian Utang, 1919.
  • “Mathematical Formulae and the National Commission on Income Tax”, 1920, EJ “Rumus matematika dan Komisi Nasional Pajak Penghasilan”, 1920, EJ
  • “On the Application of Probabilities to the Movement of Gas Molecules”, Part I (1920), Part II (1922), Phil Mag “Di Penerapan Probabilitas ke Gas Gerakan Molekul”, Bagian I (1920), Bagian II (1922), Phil Mag
  • “Entomological Statistics”, 1920, Metron “Berhubung dgn serangga Statistik”, 1920, Metron
  • “Review of Gustav Cassel’s Theory of Social Economy”, 1920, EJ “Review of Gustav Cassel’s Theory of Sosial Ekonomi”, 1920, EJ
  • “Review of Bowley’s Change in Distribution of National Income”, 1920, JRSS “Review of Bowley’s Perubahan Distribusi Pendapatan Nasional”, 1920, JRSS
  • “Review of the Webbs’ History of Trade Unionism”, 1920, EJ “Review dari Webbs ‘Sejarah serikat buruh”, 1920, EJ
  • “Molecular Statistics”, Part I (1921), Part II (1922), JRSS “Molecular Statistik”, Bagian I (1921), Bagian II (1922), JRSS
  • “On the Genesis of the Law of Eror”, 1921, PhilMag “Di Kejadian dari Hukum eror”, 1921, PhilMag
  • “The Philosophy of Chance”, 1922, Mind “The Philosophy of Chance”, 1922, Mind
  • “The Mathematical Economics of Professor Amoroso”, 1922, EJ “The Mathematical Economics of Profesor Amoroso”, 1922, EJ
  • “Equal Pay to Men and Women for Equal Work”, 1922, EJ “Sama Bayar untuk Laki-laki dan Perempuan for Equal Work”, 1922, EJ
  • “Review of Keynes’s Treatise on Probability”, 1922, JRSS “Review of Keynes’s Treatise on Probability”, 1922, JRSS
  • “Review of Pigou’s Political Economy of War”, 1922, EJ “Review of Pigou’s Political Economy of War”, 1922, EJ
  • “Statistics of Examinations”, 1923, JRSS “Statistik Ujian”, 1923, JRSS
  • “On the Use of Medians for Reducing Observations Relating to Several Quantities”, 1923, Phil Mag “Pada Penggunaan median untuk Pengurangan Pengamatan Berkaitan dengan Beberapa Kuantitas”, 1923, Phil Mag
  • “Mr. Correa Walsh on the Calculation of Index Numbers”, 1923, JRSS “Mr Correa Walsh pada Indeks Perhitungan Bilangan”, 1923, JRSS
  • “Index Numbers According to Mr. Walsh”, 1923, EJ “Indeks Angka Menurut Mr Walsh”, 1923, EJ
  • Women’s Wages in Relation to Economic Welfare, 1923, EJ Upah perempuan dalam Kaitannya dengan Kesejahteraan Ekonomi, 1923, EJ
  • “Review of Marshall’s Money, Credit and Commerce”, 1923, EJ “Review of Marshall’s Money, Kredit dan Perdagangan”, 1923, EJ
  • “Review of The Labour Party’s Aim”, 1923, EJ “Review dari Partai Buruh Aim”, 1923, EJ
  • “Review of Bowley’s Mathematical Groundwork”, 1924, EJ “Review of Bowley’s Mathematical dasar”, 1924, EJ
  • “Review of Fisher’s Economic Position of the Married Woman”, 1924, EJ “Review of Fisher’s Ekonomi Kedudukan Perempuan Married”, 1924, EJ
  • “Untried Methods of Representing Frequency”, 1924, JRSS “Metode belum dicoba Mewakili Frekuensi”, 1924, JRSS
  • Papers Relating to Political Economy , 3 volumes, 1925. Makalah Berkaitan dengan Political Economy, 3 jilid, 1925.
  • “The Plurality of Index-Numbers”, 1925, EJ “The Pluralitas dari Index-Numbers”, 1925, EJ
  • “The Element of Probability in Index-Numbers”, 1925, JRSS “Para Elemen Probabilitas dalam Index-Numbers”, 1925, JRSS
  • “The Revised Doctrine of Marginal Social Product”, 1925, EJ “The Revised Doktrin Sosial Marjinal Produk”, 1925, EJ
  • “Review of JM Clark’s Overhead Costs”, 1925, EJ . “Review of JM Clark Biaya Overhead”, 1925, EJ.
  • “mathematical method in political economy,” 1926, Palgrave’s Dictionary of Political Economy, reprinted in 1987, The New Palgrave: A Dictionary of Economics , v. 3. “metode matematika dalam ekonomi politik,” 1926, Palgrave’s Dictionary of Political Economy, dicetak ulang pada tahun 1987, The New Palgrave: A Dictionary of Economics, v. 3.
  • “Mr Rhode’s Curve and the Method of Adjustment”, 1926, JRSS “Mr Rhode’s Kurva dan Metode Penyesuaian”, 1926, JRSS

DAFTAR PUSTAKA

Skousen, Mark.2006.Sejarah Pemikiran Ekonomi sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern.Jakarta: PT. Prenada Media.

Pressman, Stevan.2007.Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia.Jakarta: DPT. Reja Grafindo Persada.

Halwani, Hendra Prof.Dr.MA.2005.Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi.Bogor: Ghalia Indonesia.

Hady, Hamdy Dr.2004.Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan Internasional.Jakarta: Ghalia Indonesia.

JJ O’Connor dan EF Rober.         .Francis Ysdidro Edgeworth.Sekolah Matematika dan StastistikUniversity of St Andrews, Scotland . Skotlandia: University of St Andrews.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.gapsysem.org/~history/Mathematicians/Edgeworth.html&ei=5RnASsS4OMGIAXVj4gw&sa=X&oi=translate&resnum=3&ct=result&prev=/search%3F3Dbiografi%2BFrancis%2Bedgeworth%26hl%3Did%26sa%3DX.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.economyprofessor.com/theorists/francisedgeworth.php&ei=5RnASsS4OMGIkAXVj4gw&sa=X&oi=translate&resnum=10&ct=result&prev=/search%3Fq%3Dbiografi%2BFrancis%2Bedgeworth%26hl%3Did%26sa%3DX

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&u=http://202.38.126.65/navigate/math/history/Mathematicians/Edgeworth.html&prev=/translate_s%3Fhl%3Did%26q%3Dbiografi%2BFrancis%2Bedgeworth%26tq%3Dbiography%2Bof%2BFrancis%2BEdgeworth%26sl%3Did%26tl%3Den&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhhZSICI4Ck4666HgI5KeweL8CgJyg

Wales, Jimmy dan Snow Michel._______.Francis Ysdidro Edgeworth.Wikipedia: Ensiklopedia Bebas.                                         

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://74.125.153.113/search%3Fq%3Dcache:lj8yzBQ55EAJ:en.wikipedia.org/wiki/Francis_Ysidro_Edgeworth%26hl%3Did%26ct%3Dclnk%26cd%3D4&prev=/translate_s%3Fhl%3Did%26q%3Dbiografi%2BFrancis%2Bedgeworth%26tq%3Dbiography%2Bof%2BFrancis%2BEdgeworth%26sl%3Did%26tl%3Den

Blaug, Mark.1986.Great ekonom Sebelum Keynes: Sebuah Pengantar Hidup dan Karya Besar Satu Hundread ekonom of the Past. Brighton: Wheatsheaf, Queen’s University Of Kingston.

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&u=http://qed.econ.queensu.ca/walras/bios/edgeworth.html&prev=/translate_s%3Fhl%3Did%26q%3Dbiografi%2BFrancis%2Bedgeworth%26tq%3Dbiography%2Bof%2BFrancis%2BEdgeworth%26sl%3Did%26tl%3Den&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhjO9TqwS0BQJVqW-YG4Ffd17W0P0AIn Stauffer Library: HB76 .B62 1986t

Sugiyana, Irfan.2008.Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Pareto Optimum.____.

http://ekisonline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=167&Itemid=29

Zainudin, Muhammad.2009.Rasionalitas Ekonomi.Blogspot.

http://muhamadzainudin-dzay.blogspot.com/2009/05/rasionalitas-ekonomi.html

Milton Friedman disebut-sebut sebagai salah satu nabinya kaum neoliberal. Nabi lainnya adalah Friedrich August Von Hayek. Sebagai ekonom, Friedman dikenal sebagai seorang Monetarist dan membangun jaringan antara inflasi (inflation) dan penawaran uang (money supply).

Kepakaran Friedman dalam bidang ekonomi tak ada yang meragukan. Ia disebut-sebut sebagai orang kedua yang paling berpengaruh sepanjang sejarah ekonomi setelah Adam Smith. Yang lain mengatakan, setelah John Maynard Keynes, tak ada lagi ekonom yang sanggup mengubah cara berpikir dan bagaimana menggunakan perangkat ilmu ekonomi selain Friedman. Puncaknya, pada 1976, ia dianugerahi hadiah nobel ekonomi dari pemerintah Swedia. Dalam pernyataan ketika mengantar kemenangan Friedman, panitia Nobel mengatakan, Friedman adalah  “salah satu ekonom, komentator politik, dan esais yang paling berpengaruh pada abad ini. Milton mungkin adalah ekonom yang diketahui hidup dengan makmur.”

Milton Friedman merupakan tokoh ekonomi yang sangat terkesan dengan teori ekonomi yang sehat dan Logis serta Koheren dan Keseluruhan. Harapan panjang Friedman adalah mengintegrasikan ilmu ekonomi keda;am satu prinsip yang universal, logis dan koheren. Milton sangat membenci terhadap fragmentasi dan pertikaian antaraliran ekonomi, yang terjadi sejak Marx memisahkan diri dari aliran “Klasik” Smith dan Ricardo.

Pada Tahun 1974, Milton mengadakan konferensi untuk menmbicarakan tentang aliran Austri. Dia menentang bahwa “Tidak ada ekonomi Austri”, tetapi hanya ada ilmu ekonomi yang baik dan yang buruk. Maksudnya adalah bahwa setiap konsep berguna yang berasal dari ekonomi Austria. Harus dimasukan kedalam teori ekonomi arus utama. Pada 1982, dia mengatakan hal yang sama dalam konferensi ekonomi sisi penawaran. “Sya bukan ekonomi sisi penawaran, saya bukan ekonom monetaris, saya adlah Ekonom “ (Milton Friedman).

Menjelang akhir kariernya Friedman mulai melihat berkembangnya konsensus didalam ilmu ekonomi yang dia sendiri ikut merumuskannya. Tetapi masih ada perseteruan diantara teori-teori.

  • Model Neoklasik Didirikan Kembali

Pertama dan terutama, semakin banyak ekonom yang mengakui bahwa model neoklasik adalah batu pijakan analisis ekonomi. Dalam mikro ekonomi, ini berarti memadukan prinsip penawaran dan permintaan, dan profit dan rugi, yang dalam kompetisi berbasis luas, akan menghasilkan alokasi sumber daya secara efisien dan menciptakan ekonomi yang dapat mengatur diri sendiri. Di bawah kompetisi kecenderungan manusia untuk menegaskan kepentingan diri akan menciptakan kesejahteraan sosial. Dikataka bahwa perilaku “manusia ekonomi” adalah rasional dan karenanya mampu melakukan analisis statistik dan bahkan peramalan ilmiah di dalam batas tertentu.

Dalam makroekonomi ini berarti mengajarkan model penghematan klasik, kebijakan moneter yang stabil, tanggung jawab fiskal, perdagangan bebas, penyebaran kebebasan ekonomi dan politik, dan aturan hukum yang konsisten untuk sistem keadilan.

  • Kontrarevolusi di Harvard

Pergeseran kembali ke prinsip pasar dan model klasik ini dapat dilihat dalam karya Gregory Mankiw dari Harvard. Dalam buku teksnya, Macro-economics, yang ditulis pada awal 1990-an, Mankiw mengejutkan kalangan ekonomi dengan mengawali bukunya dengan moswel klasik dan mengakhirinya dengan model keynesian jangka pendek, yang merupaka model kebalikan dari pedagogi standar samuelson. Ini adalah langkah brilian dan revolusioner atau kontrarevolusioner sebuah refleksi dari perubahan filsafat fundamental. Dalam kata pengantarnya, Mankiw menjustifikasi pendekatan barunya, dengan mengatakan bahwa “Setelah revolusi keynesian, terlalu banyak ekonom melupakan bahwa ekonomi klasik telah menyediakan jawaban yang benar untuk banyak pertanyaan fundamental”. Pernyataan ini mengejutkan mengingat Mankiw manganggap dirinya penganut neo-keynesian dan dia menamai anjingnya dengan keynes.

Dengan menyebut model klasik sebagai “ekonomi riil dalam jangka panjang” Mankiw menunjukan efek dari peningkatan pengeluaran pemerintah bahwa efeknya tidak berupa multiplier , tetapi “mendesak keluar” modal swasta. “peningkatan pembelian pemerintah pasti menghasilkan penurunan investasi (swasta) pinjaman pemerintah mengurangi tabungan nasiona”  (Mankiw 1994: 62).

Dalam buku ajar sebelumnya, samuelson dan rekannya menekankan sifat siklis dari kapitalisme dan bagaimana ekonomi dapat distabilkan. Sebaliknya dalam Macroeconomics , Mankiw mendiskusikan pertumbuhan ekonomi dari depan. Dengan menggunakan pertumbuhan ekonomi Solow, Mankiw menggunakan pendekatan protabungan, dengan demikian “tingkat tabungan adalah determinan kunci dari stok kapital yang stabil dan output yang tinggi. Jika tabungan rendah, ekonomi akan memiliki stok kapital rendah dan tingkat output yang rendah”. Apa efek dari tabungan yang tinggi? “peningkatan tingkat tabungan menaikan pertumbuhan sampai ekonomi mencapai keadaan stabil. ” meskipun hukum pendapatan yang menurun mengatakan bahwa “ia tidak akan mempertahankan tingkat pertumbuhan tinggi selamanya . Mankiw tidak menerima paradoks penghematan, tetapi dia mendukung negara-negara dengan tingkat tabungan dan investasi yang tinggi dan bahkan memasukkan studi kasus keajaiban pertumbuhan jepang dan jerman pasca perang (contoh yang diabaikan oleh samuelson). Karena itu Mankiw mendukung kebijakan yang ditujukan untuk menaikkan tingkat tabungan dan pembentukan modal di Amerika Serikat, termasuk kemungkinan mengubah sistem keamanan sosial dari sistem menbayar sesuai selesai kerja menjadi rencana pendaan yang lengkap, meskipun dia tidak mendiskusikan privatisasi.

Pengangguran adalah isu lain yang didekati mankiw dengan cara non-keynesian. Apa yang menyebabkan pengangguran? Berdasarkan hipotesis tingkat pengangguran “natural”, Mankiw menyatakan bahwa asuransi pengangguran dan aturan tenaga kerja yang serupa mengurangi insentif bagi para penganggur untuk mencari kerja. Dia menyediakna bukti bahwa menyatukan tenaga kerja dan mengadopsi undang-undang upah minimum akan menaikkan tingkat pengangguran. Akhirnya dia menawarka studi kasus upah $5 per hari di perusahaan Henry Ford sebagai contoh produktifitas tinggi dan upah yang meningkat.

Dia menyetujui teori Milton: “Inflasi selalu dan dimana saja merupakan fenomena moneter.” Mankiw menggunakan banyak contoh, antara lain hiperinflasi di jerman di antara dua perang, untuk mengonfirmasikan ongkos sosial dari inflasi.

  • Dampak Ekspektasi Rasional Dan Ekonomi Sisi Penawaran

Mankiw dan penulis textbook lainnya sangat dipengaruhi oleh aliran “ekspektasi rasional” dari John Muth, Thomas Sargent dan Robert Lucas, Jr. (pemenang nobel pada 1995). Kebanyakan ekonom kini mengakui bahwa kebijakan fiskal dan moneter federal sering diantisipasi dalam perekonomian, dan karena itu membuat kebijakan tersebut kurang efektif, atau bahkan merugikan. Misalnya di masa lalu, pengeluaran defisit atau kebijakan “uang longgar” mungkin menstimulasi aktivitas ekonomi, tetapi ketika individu mengantisipasi kebijakan ini, ekonomi akan goyah saat investasi mengalir keluar atau suku bunga melonjak. Teori ekspektasi rasional telah diaplkasika ke dal;am banyak area, termasuk kebijakan pemerintah dan pasar finansial.

Dalam bagian kedua bukunya, Mankiw memperkenalkan alat standar makroekonomi keynesian sebagai ekonomi dalam “jangka  pendek” penawaran dan permintaan agregat, multiplier dan akselerator, dan model pedapatan – pengeluaran. Tetapi semuanya tampaknya hanya sekunder, tidak relevan dengan dinamika ekonomi full employment dewasa ini.

Jika ada aspek negatif dari buku Mankiw maka itu adalah analisisnya terhadap efek pemotongan pajak terhadap ekonomi. Dalam model Mankiw pemotongan pajak mempunyai efek yang sama dengan efek pengeluaran dengan menaikan konsumsi, pemotongan pajak akan “menyesakka investasi dan menaikkan suku bunga”. Dia melaporkan bahwa pemotongan pajak pada masa Reagan memperbesar defisit, dan karena itu menaikkan suku bunga dan menurunkan tabungan nasional. Tetapi dia mengabaikan fakta bahwa pendapatan pajak naik selama setahun pemerintahan Reagan, seperti diprediksikan oleh penganut ekonomi sisi penawaran (Supply side). Aliran ekonomi sisi penawaran, yang dipimpin oleh Robert Mundell, PaulCraig Roberts, Martin Anderson dan ArthurB. Laffer, sangat kritis terhadap kebijakan sisi permintaan Keynesian. Aliran ini meraih popularitasnya pada era 1980-an selama administrasi Reagan karena mendukung pemotongan pajak, deregulasi, dan perdaganga bebas. Mereka tidak mendukung pengeluaran defisit atau kebijakan uang longgar. Menurut penganut aliran sisi penawaran, pemerintah harus mendorong produksi dan penawaran daripada konsumsi dan permintaan.

Lebih jauh mereka tidak setuju dengan ekonom keynesian yang mengklaim bahwa pengeluaran pemerintah akan menstimulasi perekonomian secara lebih efektif ketimbang pemotongan pajak. Menurut mereka, pajak yang sangat progresif akan sangat mengurangi insentif (disincentive) untuk kerja, untuk berinvestasi, untuk menabung. Seperti dikatakan oleh Paul Craig Roberts:

Ekonomi sisi penawaran membawa perspektif baru untuk kebijakan fiskal. Ketimbang menekankan pada efek pengeluaran, sisi penawaran menunjukan bahwa tingkat pajak secara langsung mempengaruhi penawaran barang dan jasa. Tingkat pajak rendah berarti insentif yang lebih baik untuk bekerja, untuk menabung, mengambil resiko, dan berinvestasi. Saat orang merespons pendapatan setelah pajak yang tinggi, atau mendapatkan keuntungan yang lebih besar, pendapatan akan naik dan basis pajak akan tumbuh, dan menyediakan lebih banyak dana untuk pinjaman pemerintah dan swasta.

Studi Kasus (N. Gregory Mankiw, Teori Makroekonomi : 121)


Neraca perdagangan Amerika Serikat

presentase GDP

surplus

2   -

1   -

0   -

-1  -

defisit

-2  -                           neraca perdagangan

-3  -

-4  -

-5  -                                                                                                tahun

        1960        1965    1970    1975    1980    1985    1990    1995    2000

Selama tahun 1980-an dan 1990-an AS mengalami defisit perdagangan yang besar. Sebenarnya dari defisit perdagangan berflukyuasi sepanjang waktu tetapi dalam 2 dekade tersebut defisit itu terlihat besar. Pada tahun 2000, defisit perdagangan sebesar $371 juta atau 3,7 % dari GDP. Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan, defisit perdagangan ini harus dibiayai dari pijaman luar negari  (atau dengan menjual aset AS ke luar negeri) selama periode ini, AS berubah dari kreditor terbesar di dunia menjadi debitor terbesar di dunia.

Awal mula defisit perdagangan secara kebetulan bersamaan waktunya dengan turunnya tabungan nasional. Perkembangnan ini dapat dijelaskan oleh kebijakan fiskal ekspansioner pada tahun 1980. Dengan dukungan presiden Ronald Reagan, kongres AS mengeluarkan peraturan pada tahun 1981 yang secara substansial memotong pajak pendapatan perseorangan selama tiga tahun ke depan. Karena pemotongan pajak ini tidak sama denga pemotongan pengeluaran pemerintah, maka aggaran negara mengalami defisit. Defisit anggaran ini adalah salahsatu defisit terbesar yang pernah dialami dalam zaman keemasan ini, dan terus berlajut bahkan walaupun Reagan telah meninggalkan kursi kpresidenannya. Kebijakan itu seharusnya mengurangi tabungan nasional, sehingga menyebabkan defisit perdagangan. Dan ternyata hal itulah yang terjadi. Karena anggaran pemeritah dan neraca perdangan mengalami defisit pada saat yang hampir bersamaan.

Keadaan mulai berubah pada tahun 1990-an ketika pemerintah federal AS mengubah kebijakan fiskalnya. Presiden Bushdan presiden Clinton menyetujui kebijakan kenaikkan pajak sementara kongres tetap menutup pengeluaran. Selain kebijakan itu pertumbuhan produktivitas yang cepat pada tahun 1990-an juga meningkatkan pendapatan yang juga berarti, meningkatkan jumlah pajak pendapatan. Perubahan ini mengubah anggaran federal AS dari defisit ke surplus yang akhirnya menyebabkan peningkatan tabungan nasional.

  • Tingkat Pajak dan Kurva Laffer

Penganut sisi penawaran merujuk pada kurva laffer untuk mendukung pendapat mereka bahwa pemotongan pajak marginal dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pendapatan pajak secara aktual.

Tax Rate 1oo%

X

r a

r b

0%

 t a

 tb

revenues

Kurva Laffer

“Pemotongan pajak dapat menaikkan pendapatan pajak”

Kurva di atas menunjukan hubugan teoritis antara level pajak dengan pendapatan pajak. Kurva ini dibuat oleh Arthur B. Laffer, mantan professor ekonomi di University of chicago dan university of Southern California, yang konon menggambar kurva ini di sehelai serbet sebuah restoran di washington DC pada akhir 1970-an untuk menunjukan bahwa pemotongan pajak, di bawah kondisi tertentu akan menaikkan pendapatan pajak.

Menurut kurva laffer, kenaikan pajak akan menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi pemerintah selama tingkat kenaikkannya tidak terlalu tinggi. Tetapi begitu pajak melebihi X, kenaikkan pajak selanjutnya akan menurunkan semangat kerja, dan mendorong orang menghindari pajak, dan bahkan melakukan penghindaran secara ilegal. Pada gambar kurva di atas jika tingkat pajak mencapai daerah terlarang, pemotongan pajak (ta sampai tb) dapat menaikkan pendapatan pajak ( dari ra ke rb). Penganut sisi penawaran merujuk pada pemotongan pajak pendapatan modal pada 1978 dan 1996 di Amerika, dimana pemotongan pajak menaikkan pendapatan Departemen Keuangan dari pendapatan modal.

Sebagian besar buku ajar Keynesian menentang argumen sisi penawaran, tetapi mungkin pemberian hadiah Nobel untuk professor Robert Mundell dari Columbia (Seorang penganut ekonomi sisi terkenal) pada 1999 akan membantu membalikan diskriminasi terhadap ekonomi sisi penawaran dan kurva Laffer dalam buku-buku teks.

  • Teori “Umum” Keynes Menjadi Kasus “Khusus”

Teks makro Mankiw sangat sukses sehingga pada 1992 dia diberi $1,1 juta untuk menulis “next Samuelson” buku ajar pengantar. Buku ini yang terbit pada 1997, menimbulkan kegemparan. Seperti teks sebelumnya, principles of economics karya Mankiw dicurahkan sepenuhnya untuk ekonomi klasik, menurunkan derajat model Keynesian yang dimasukkan dalam bab terakhir. Yang mengejutkan, buku Mankiw ini tidak menyebut-nyebut analisis Keynes standar: tidak ada fungsi konsumsi, tidak ada persilangan Keynes, tidak ada kecenderungan untuk menabung, tidak ada paradoks untuk penghematan, dan hanya ada ulasan singkat tentang multiplier. Secara mendasar di bawah Mankiw model klasik menjadi teori “umum” dan model Keynesian menjadi kasus “khusus” ini sangat bertentangan dengan tesis Keynes.

Jadi kita melihat perubahan besar dalam ilmu ekonomi. Dari manakah itu? Dari Cambridge, Massachusetts, tempat asala revolusi Keynesian di Amerika.

  • Samuelson: Kebijakan Fiskal Turun Tahta.

Samuelson mungkin juga mengubah pikirannya karena bertambahnya bukti bahwa full employment adalah norma, bukan perkecualian, sehingga bahkan dibawah model Keynesian sekalipun, model ekonomi klasik akan tetap menonjol.

Misalnya dia mengganti “Paradoks penghematan” yang antitabungan  yang mengeluhkan rendahnya tingkat tabungan di Amerika Serikat, dan menimpakan sebagian kesalahannya pada kebijakan Keamanan Sosial dan pajak tinggi (1998:442:24). Pengeluaran defisit, rekomendasi kebijakan kini menjadi anathema. Menurut samuelson, “Utang Publik yang besar kemungkinan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang”. Tetapi kejutan terbesarnya adalah pengabaian kebijakan fiskal sebagai stabilisator makroekonomi.”Kebijakan Fiskal tak lagi merupakan alat kebijakan stabilisasi di Amerika Serikat. Di masa depan, kebijakan stabilisasi akan dilakukan dengan kebijakan moneter dari Federal Reserve”.

Ringkasnya, Milton Friedman, Friedrich hayek, dan pendukung pasar bebas yang dulu kalah kini tampaknya memenangkan peperangan. Samuelson menyimpulkan, “Menguatnya orientasi kepasar telah diiringi dengan menyebarnya keinginnan untuk mengurangi peran pemerintah, regulasi, dan penurunan pajak.”(1998:735). Samuelson mengekspresikan kemuraman pada hasilnya, dan mengakhiri karyanya dengan menyebut ekonomi global “kasar” dan dicirikan oleh “bertambahnya” kesenjangan dan lingkungan kompetitif yang makin “keras”. Tetapi kemenangan pasar dan ekonomi klasik tampaknya tidak bisa dibalikan. Friedman dan Hayek, yang mewakili dua aliran ekonomi pasar bebas (Chicago dan Vienna), telah memadukan dua kekuatan yang membalikan gelombang ide-ide (Yergin dan Stanislaw 1998:98).

  • Menjamurnya Textbook Berorientasi Pasar

Dengan semakin berkurangnya buku mengenai Keynesian, buku-buku dengan bias pasar bebas semakin bertambah. Textbook populer yang berorientasi pasar semakin banyak, antara lain economic way of thinking (9th ed), oleh Paul heyne, yang bahkan tidak memuat diagram permintaan dan penawaran agregar (AS/AD).

Sedangkan buku Principles of economics (1997) oleh Roy J.Ruffin dan Paul N.Gregory menawarkan pendekatan yang sama sekali baru. Pengarang memfokuskan pada empat peristiwa sejarah besar (“Defining Moments in Economics”) diseluruh isi teks. Pertama, Revolusi industri dan Adam Smith, Kedua naik turunya Sosialisme, dengan diskusi tentang Karl Marx, Ludwig Von Mises, Friedrich Hayek, ketiga yaitu Defresi besar, dengan kontribusi oleh Keynes dan Friedman, dan Keempat globalisasi dan david Ricardo. Mereka juga memberi ruang untuk membahas privatisasi, pilihan publik, standar emas, dan kisah keberhasilan ekonomi di Eropa dan Asia.

  • Menggantikan Model AS / AD Keynesian

Banyak kemajuan dalam mengajarkan ilmu ekonomi, tetapi masih ada satu isu yang tersisa, apa yang dapat mengganti model “Permintaan dan penawaran agregat” Keynesian yang keliru it? Banyak ekonom yang tidak mementingkan diagram AS/AD, dan mendiskusikannya hanya sebagai penjelasan “Pendek” tentang lingkaran bisnis. Bahkan banyak ekonom mengakui kekurangan model ini. David colander, yang menganggap dirinya neo-Keynesian, baru-baru ini mengatakan, “Model AS/AD cacat serius, sebuah model yang sangat buruk, model yang tidak menjelaskan tetapi malah mengaburkan “

Price level

AS

AD

AS                                 AD

Qѳ            Qf               Real Output

Satu cacat dalam diagram AS/AD adalah bahwa diagram itu menjustifikasi tesis keynesian bahwa pasar bebas tidak dapat menjamin full employmen, bahwa ekonomi dapat berada diekuilibrium yang tidak mencapai full employment. Tetapi bagaimana ekonomi bisa mencapai ekuilibrium umum ketika pasar kerja berada dalam keadaan ekuilibrium? Jelas, model AS/AD bertentangan dalam dirinya sendiri, yang kini diakui oleh kaum keynesian.

Kedua, diagram tersebut mendukung rumusan kebijakan Keynesian yang mengatakan bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah dapat menstimulasi aktivitas ekonomi dan mendorong kurva AD kedepan sampai full employment tercapai, dimana kurva AS menjadi vertical. Model AS/AD juga berusaha menerangkan resesi inflasioner yang disebabkan oleh “guncangan Penawaran” yang menyebabkan harga naik dan pengangguran secara bersamaan.

Tetapi model itu tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam ekonomi didalam keadaan full employment (dimana kurva AS vertikal). Model itu menunjukan bahwa pengeluaran defisit lebih lanjut atau menaikan persediaan uang akan menaikkan harga tanpa mempengaruhi output riil, tetapi banyak studi terhadap negara yang mengalami inflasi menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya menaikkan harga, tetapi juga menyebabkan distorsi ekonomi dan penurunan dalam output riil.

  • Model “Suku Bunga Natural” Wicksell

Model ini merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk mengganti model AD/AS. Model Wicksell ini memfokuskan pada peran waktu dan suku bunga dalam ekonomi, sebuah topik yang menjadi perhatian utama dalam ekonomi global dewasa ini. Alfred Marshall benar ketika dia menulis, “Elemen waktu adalah pusat dari kesulitan utama dalam hampir setiap problem ekonomi” (Marshall 1920:vii)

Model Wicksell mengilustrasikan ekuilibrium umum dipasar kredit dimana persedian tabungan sama dengan permintaan kredit berdasarkan preferensi waktu publik terhadap uang pada suku bunga alamiah. Model ini menjelaskan dengan baik disekuilibrium makro dan bagaimana lingkaran bisnis terjadi ketika kebijakan moneter dan fiskal pemerintah menggeser kurva penawaran (SS) atau permintaan (DD) menjauhi suku bunga alamiah (natural). Misalnya, model Wicksell bersama dengan model intertemporal ekonomi Austria (Mises-Hayek), menunjukan efek dari kebijakan “Uang Longgar” (easy Money). Seperti ditunjukan garis E, kebijakan uang longgar mengurangi suku bunga pasar dibawah suku bunga secara temporer, sehingga kredit pemerintah (Qe-Qs) dinaikkan untuk menutupi kekurangan dalam tabungan swasta (Qs). Hasilnya adalah boom artifisial dalam industri aset modal.

interest

rate                             D

S

 It

 Ie

 In

T

E         D

S                                                               loanabel funds

Qs     Qe

Model Wicksell-Mises juga mengilustrasikan kondisi “Uang ketat” (tight money), garis T, dimana suku bunga pasar naik diatas suku bunga natural. Disini kita melihat bagaimana tabungan melebihi investasi, suatu kondisi tipe Keynesian yang melahirkan resesi atau depresi.

Model moneter Wicksell-Mises adalah alternatif yang lebih baik untuk model fluktuasi “jangka pendek” AS/AD keynesian yang cacat. Seperti dikatak Roger Garrison, “kesulitan yang menjadi ciri ekonomi padat modal modern, terutama pada periode lonjakan dan penurunan, dapat dianalisa dengan baik dengan bantuan makroekonomi berbasis modal, “Jenis yang termasuk dalam model disekuilibrium Wicksell-Mises(Garrison 2001:8).

  • Dari Ilmu Muram ke Sains Imperial : Mekarnya Ribuan Bunga

Dengan bangkitnya kembali ekonomi pasar bebas dalam perkuliah dan meja pemerintahan telah menghasilkan banyak aplikasi untuk persoalan ekonomi dan sosial. Ilmu ekonomi tak lagi menjadi semacam filsafat menara gading. Dalam bidang makro, para ekonom telah memberikan isyarat yang jelas kepada pemerintah bahwa inflasi dan pengeluaran defisit mengandung efek buruk bagi ekonomi, pajak tinggi dan regulasi yang berlebihan akan menurunkan etika usaha, dan proteksionisme akan merugikan konsumen. Prinsip pasar juga menunjukkan bahwa pemerintah mempunyai peran positif meskipun terbatas, menyediakan sistem peradilan, memperkuat hak-hak proverti, membangun infrastruktur jalan, jembatan, sistem air dan saluran air, dan pembangkit listrik. Pemerintahan terbatas yang sehat dapat mendorong iklim bisnis yang sehat.

  • Gary Becker : Memperluas Ilmu Ekonomi Ke Luar Lingkup Tradisionalnya.

Gary Becker merupakan tokoh penting penerapan prinsip penawaran dan permintaan untuk ilmu perilaku manusia, seperti diskriminasi ras, kejahatan, dan perkawinan.Banyak dari studi khususnya menggunakan aplikasi prinsip pasar yang masuk akal, seperti “ respons perilaku terhadap insentif”. Misalnya, Becker telah mengaplikasikan prinsip insentif untuk menunjukan bahwa menaikan biaya kejahatan melalui hukuman penjara, pengadilan yang cepat, dan tingkat hukuman yang tinggi dapat secara efektif mengurangi jumlah penjahar yang merampok, mencuri atau memperkosa.”Menurut pendekatan ekonomi, penjahat, seperti orang lain , merespon insentif” (1997:143). Becker lebih banyak menggunakan kurva permintaan ketimbang para ekonom.

  • Akademia menuju Wall Street

Salah satu area yang paling membuahkan hasil dimana ilmu ekonomi menara gading itu menjadi ilmu terapan adalah Bidang keuangan, khususnya teori indeks saham da portofolio modern di Wall Street.Harry markowitz kelak menjadi protege Milton friedman, menulis sebuah artikel tentang teori portofolio untuk The Journal of Finance 1952.Markowitz dan profesor keuangan lainnya mengembangkan cara matematis yang canggih untuk mengukur risiko, termasuk dengan konsep standar deviasi dan koefisien beta.

Dari teori portofolio modern ini muncul beberapa rekomendasi :

1)      Investor dapat menambah pendapat dan mengurangi risiko dengan mendiversifikasi portofolio mereka

2)      Pendapatan yang tinggi diasosiasikan dengan risiko tinggi, sehingga mereka yang berinvestasi disaham yang sedang tumbuh pasti mengharapkan volatilitas yang tinggi pula.

3)      Menaklukan pasar sangat sulit dan karenanya investor sebaiknya berinvestasi didana indeks saham berbasis luas.

Konsep ketiga dikenal sebagai teori “efficien market” atau random walk” yang menimbulkan kehebohan saat pertama kali diajukan pada akhir tahun 1950-an. Burton Malkiel menjelaskan doktrin baru yang aneh ini dalam bukunya, A Random Walk Down Wall Street: “Ini berarti bahwa perubahan jangka pendek dalam harga saham tidak dapat diprediksi. Jasa penasihat investasi, prediksi pendapatan, dan pola grafik yang rumit tidak berguna. Secara ektrem dapat dikatakan bahwa ini berarti bahwa kera yang ditutup matanya sekalipun dapat memilih portofolio yang sebaik pilihan yang dilakukan dengan hati-hati oleh para ahli”(1990:24)

  • Buku Kontroversial Tentang Perbudakan Amerika

Ekonom Chicago lainnya, Robert W Fogel, bergabung dengan Stanley Engerman untuk menerapkan analisis statistik untuk isu perbudakan Amerika. Time on the Cross (`1974) menentang pandangan bahwa perbudakan adalah mode produksi yang tidak efisien dan tidak menguntungkan dan akan hilang dengan sendirinya tanpa adanya Perang Sipil. Dengan riset yang sungguh-sungguh, Fogel dan Engerman menegaskan bahwa perbudakan itu sangat efisien sehingga hanya peranglah yang dapat menghilangkannya.

  • Sejarawan Ekonomi Memecahkan Misteri Depresi Besar

Contoh lain dari sejarah revisionis adalah interpretasi baru terhadap Depresi besar oleh sejarawan Robert higgs dari Seatle university.

Higgs memberikan jawaban mengenai apa yang menyebabkan stagnasi dunia ekonomi yang pada gilirannya mengubah paradigma dari ekonomi klasik ke Keynesianisme. Dalam studi mendalam terhadap era 1930-an, higgs memfokuskan pada kurangnya investasi swasta pada periode ini. Kebanyakan para ekonom mengakui bahwa investasi adalah kunci pemulihan. Higgs menunjukan bagaimana inisiatif program New deal merintangi investasi swasta berkali-kali, dan merusak kepercayaan investor dan bisnis.

Dalam analisisnya, higgs menyerang pandangan ortodoks bahwa Perang Dunia II menyelamatkan kita dari depresi dan memulihkan ekonomi menuju full employment. Perang hanya memberi kesan pemulihan saja karena setiap orang bekerja. Tetapi dalam kenyataannya, konsumsi privat dan investasi menurun saat Amerika berperang mempertahankan negaranya. Kembalinya kemakmuran yang sejati,Great escape sesungguhnya tidak terjadi sampai perang berakhir, ketika hampir semua kontrol pada masa perang dihapuskan dan sebagian besar sumber daya yang dipakai dalam militer dikembalikan kepada produksi sipil. Setelah perang barulah investasi, kepercayaan bisnis dan pengeluaran konsumen kembali puli seperti semula (Higgs 1992:41-60)

Dengan mengabaikan pemerintah (G) dalam angka GDP akan menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang terjadi selama Perang Dunia II. Konsumsi (C) dan Investasi (I) melambat dan bahkan menurun tajam selama 1940-45, kemudian naik tajam setelah perang pada 1946-48.

  • “Ekonomi Eksperimental” dan Kekuasaan Monopoli

Salah satu perkembangan paling menarik adalah dibidang “ekonomi eksperimental”. Vernon L.Smith adalah pelopor diarena ini. Dalam eksperimen tersebut masing masing menawar suatu produk untuk menentukan harga, dan masing-masing pun mempunyai tawaran yang minimum. Dalam proses penawaran itu, terciptalah kurva penawaran dan permintaan yang sama dengan model kompetisi standar. Hasilnya adalah aplikasi untuk model “persaingan tak sempurna” Chamberlin-Robinson. Model persaingan tak sempurna memberi dukungan untuk tindakan antitrust pemerintah untuk memecah mecah usaha raksasa dan menciptakan lebih banyak persaingan didalam industri.

Tetapi, Smith melakukan observasi menarik, ketika dia mengurangi jumlah pembeli dan penjual dalam eksperimennya, hasilnya adalah sama, harga akhir mendekati harga kompetitif yang sama dengan harga dalam situasi dimana pembeli dan penjualnya lebih banyak. Implikasinya, kompetisi didalam industri tidak selalu berkurang ketika dibatasi hanya pada segelintir perusahaan besar (Smith 1987:241-46).

  • Pembiayaan Publik dan Pilihan Publik :D ari “Kegagalan Pasar “ ke “Kegagalan Pemerintah”

Sepanjang 1950an dan 1960an, public Finance in Theory dan Practice (1958) karya profesor Richard Musgrave adalah buku yang sangat populer dan tak tertandingi. Musgrave melihat perlunya tiga kebijakan pemerintah .(1) Alokasi menyediakan barang publik yang tidak bisa disediakan oleh sektor swasta, (2) distribusi, meredistribusikan kekayaan dan melembagakan keadilan sosial, (3) stabilisasi, menstabilkan ekonomi kapitalistik yang ada pada dasarnya rawan.

Musgrave berdebat dengan James Buchanan, profesor di George Mason University dan salah seorang pendiri aliran pilihan publik. Buchanan menyalahkan politik demokrasi atas munculnya sektor publik yang “membengkak” dimana “Pemerintah menghadapi klaim hak yang terbuka” dan menyebabkan “kemorosotan moral” (Buchanan dan Musgrave 1999:222), Dia mendukung pembatasan pemerintah dengan aturan konstitusional. Dia mendekripsikan secara singkat perbedaan antara keduanya : Musgrave percaya pada politisi, kami tak percaya pada politisi.”(1999;88).

Buchanan dan Tullock berpendapat bahwa politisi, seperti pengusaha, dimotivasi oleh kepentingan diri. Misalnya mereka membuat kebijakan agar dipilih kembali. Tetapi insentif dan disiplin yang ada dipasar sering kali tidak dijumpai dalam pemerintahan. Para pemilih tidak punya banyak insentif untuk mengontrol akses legislator, yang pada gilirannya lebih responsif terhadap kelompok kepentingan yang kuat. Sebagai akibatnya, pemerintah mensubsidi kepentingan pribadi dari perdagangan dan kelompok lain sambil menerapkan regulasi yang sia-sia dan mahal dan pajak pada publik umum.

Buchanan dan teoritisi pilihan publik lainnya merekomendasikan serangkaian aturan konstitusional untuk mengubah sektor publik agar lebih bertanggung jawab. Rekomendasi itu antara lain : (1) membatasi kemampuan legislator untuk menaikkan pajak, seperti syarat mayoritas, (2) Melindungi hak-hak minoritas, seperti hak asasi konstitusi AS dan referendum voting, (3) mengembalikan kekuasaan legislatif ke Pemerintah lokal, untuk menaikkan persaingan antara unt-unit pemerintah.

  • Urusan Yang Belum Rampun : Sosialisme merayap atau Ambruk?

Aplikasi prinsip pasar bebas telah berkembang pesat, tetapi kemenngan pasar bebas masih belum lengkap. Banyak kemenangan diatas kertas, tetapi tidak terjadi didalam kebijakan. Meskipun Bill Clinton mengatakan “Era pemerintah besar telah Usai”, namun ukuran pemerintah dalam negara-negara industri telah mencapai proporsi yang sangat besar. Seperti dikatan Milton Friedman  “ Kita telah menang pada Level retrorika, tetapi kalah pada level praktis” (Friedman 1998:583).

Disisi positifnya, tampak bahwaukuran pemerintah telah mencapai batas atas. Dihampir semua negara, sektor swasta kini tumbuh lebih cepat ketimbang sektor publik, sehingga presentase besarnya negara menurun. Tetapi tren baru ini mungkin tidak bertahan lama jika kondisi ekonomi berbalik arah dan dunia mengalami krisis.

Meski ada privatisasi, deregulasi, dan pemotongan pajak sisi penawaran, pemerintah masih intrusif, haus pendapatan, dan sangat birokratis. Ekonom pasar bebas telah banyak menawarkan kepada legislator untuk membantu menaikkan standar hidup penduduk dengan membatasi pemerintah pada tujuan esensialnya saja.

  • Ilmu Ekonomi dan Perawatan Kesehatan Nasional

Krisis perawatan kesehatan nasional terjadi dihampir semua negara,Misalya dalam pengobatan yang dinasionalisasikan, prinsip pasar seringkali diabaikan, dan mengakibatkan pelayanan yang kurang dan buruk. Perawatan kesehatan dan rencana kesehatan nasional lainnya biasanya melanggar sistem pasar dan prinsip akuntabilitas. Dalam banyak kasus, hanya ada sedikit insentif untuk berinovasi atau menjaga agay biaya tetap rendah didalam rencana kesehatan nasional, sebab kebanyakan pengguna perawatan kesehatan tidak membayar langsung untuk pelayanan kesehatan yang mereka terima.

  • Serangan Terhadap Kapitalisme “Yang Lepas Kendali”

Dalam era globalisasi dan revolusi teknologi, kapitalisme laissez faire terus menerus diserang.Buku-Buku yang bukan dikarang oleh ekonom yang profesional, mereka mengekspresikan kecemasan terhadap ketidakpastian perdagangan bebas, teknologi, perusahaan multinasional, dan ekonomi dunia baru, dan menuntut negara bertindak untuk membetulkan ketidakseimbangan lingkungan global ini.

Dilain pihak, para ekonom pasar, cenderung tidak terlalu cemas dan lebih berharap pada dinamika globalisasi. Mereka percaya bahwa gangguan jangka pendek dalam lapangan kerja dan bisnis yang terjadi selama proses globalisasi akan menciptakan pekerjaan yang lebih baik dan bisnis yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang, dan standar yang lebih tinggi bagi semua orang.

  • Para ekonom memperdebatkan isu lingkungan

Ekonom pasar bebas mengambil sikap yang sama terhadap isu lingkungan; environmentalis, seperti malthusian, sangat pesimis terhadap masa depan planet ini. Ketika Gary Becker ditanya tentang krisis global ini, dia menjawab “ya semua ini problem nyata. Tetapi itu jelas dilebih-lebihkan.” Milton friedman menambahkan “industri swasta cenderung mengurangi polusi. Tetapi tanpa teknologi modern, polusi akan semakin buruk. Polusi dari kuda akan jauh lebih buruk ketimbang polusi dari mobil anda. Udara Amerika Serikat sekarang ini lebih bersih.” Dan albert O. Hirscman mengatakan, “ada kecenderungan untuk menyalahkan kapitalisme atas kerusakan lingkungan, tetapi kini kita tahu bahwa di blok sosialis situasinya jauh lebih buruk” (Ravaioli 1995: 9-12,32.

Environmentalisme menjadi subjek populer di kampu-kampus dan menjadi isu utama di kongres. Bagaimana negara dapat tumbuh dan menaikkan standar hidup penduduknya tanpa menghancurkan udara, menimbulkan polusi air dan merusak lingkungan? Debat ini sudah ada sejak sejak masa Robert Malthus dan dikaitkan dengan perhatian historis dan masa kini terhadap pertumbuhan tak terbatas dan sumber daya yang terbatas. Dalam debat ekologis ini, para ekonom yang tidak terlalu cemas memberikan banyak kontribusi untuk meminimalkan polusi dan persoalan lingkungan lainnya. Ekonom pasar bebas telah menekankan perlunya membangun hak-hak sumber daya air, perikanan, dan hutan, sehingga pemiliknya dapat memanfaatkan sumber daya ini secara seimbang. Dalam kasus polusi udara, para ekonom juga merekomendasikan biaya polusi dan izin untuk mengeluarkan polusi yang marketable. Biaya polusi adalah pajak atas pembikin polusi yang dikenakan pada mereka sebanding dengan jumlah polusi yang mereka keluarkan, yang telah menjadi praktik umum di Eropa. Izin yang dapat dipasarkan membuat para pembikin polusi dapat menjual izin mereka kepada perusahaan lainnya dan ini berhasil mengurangi tingkat polusi di Amerika (Anderson dan Leal 1991).

  • Sistem moneter Global: adakah solusinya?

Mungkin ancaman terbesar terhadapa pertumbuhan ekonomi yang sehat adalah sistem moneter dunia yang tidak stabil. Sistem yang sekarang ini adalah jaringan sistem finansial yang muncul dari kesepakatan Bretton Woods pada 1944, yang ikut diciptakan oleh J. M Keynes. Setiap negara memiliki sistem perbankan tersendiri yang menerapkan beragam tingkat suku bunga, mata uang, persediaan uang, dan regulasi perbankan sendiri-sendiri. Karena mereka meninggalkan standar emas pada 1971, bank –bank sentral lebih bebas dalam mengambil keputusan moneter, tetapi tatanan finansial masih berdasarkan pada sistem cadangan perbankan yag rapuh yang tergantung pada kapercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah untuk menjaga ketertiban moneter. Dalam sistem finansial laissez faire global, satu krisis dapat menimbulkan krisis lain dengan cepat. Sejauh ini banyak bank sentral mampu mengkoordinasi upaya penyelamatan. Tetapi apa yang terjadi jika situasinya tak terkedali? Ini bisa meruntuhkan seluruh sistem.pada 1954 Milton Friedman menulis esai proetik, “ Why the American Economy is Depression-proof”, berdasarkan kuliah yang disampaikannya di Swedia. Dia berpendapat bahwa kebijakan moneter yang baik dan jaminan deposit federal akan melindungi kejatuhan deflasioner seperti 1929-32 (1968:72-96). Sejauh ini dia terbukti benar. Tetapi bagaimana dengan nanti? Dunia mungkin mengalami krisis global lainnya seperti pada depresi 1930an, tetapi kita pernah mengalami krisi moneter dan finansial yang parah di Eropa, Asia, dan Amerika, yang membuat bank-bank sentralharus campur tangan. Bencana moneter seperti itu menciptakan banyak kesulitan ekonomi dan memunculkan kritik hebat terhadap sistem kapitalisme, meskipun yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah pemerintah.

Untuk mengurangi risiko ketidakstabilan Friedman sendiri mendukung 100 persen cadangan pada deposit, yang akan mengeliminasi keruntuhan bank saat krisis moneter terjadi. Tetapi kita tidak punya sesuatu yang mendekati 100 persen.

Salah satu solusi diajukan oleh aliran “perbankan bebas” yang dipimpin oleh Lawrence White dan George Selgin di University of Georgia. Dalam buku-buku dan artikel-artikel, mereka mengatakan bahwa deregulasi sistem perbankan, termasuk cabang luar negerinya, akan menjamin kerangka moneter yang stabil. Meskipun emas lebih disukai sebagai cadangan bank dalam program mereka, namun itu tidak esensial. Pendekatan laissez faire mereka untuk perbankan agak mengancam “tidak ada kontrol pemerintah atas kuantitas media pertukaran. Tidak ada bank sentral yang disponsori pemerintah. Tidak ada hambatan legal untuk masuk, membuka cabang tau keluar dari area perbankan komersial,  tdak ada persyaratan cadangan, tidak ada jaminan deposit pemerintah” (Selgin dan White 1994: 1718-19). Tampaknya kita tidak akan menyaksikan sistem seperti itu dalam waktu dekat.

Tentu saja nilai tukar yang fleksibel, mata uang yang kompetitif dan cabang luar negeri, seperti didukung oleh Fridman dan Hayek, akan mengurangi kemungkinan terjadi krisis moneter dunia, dan pasar finansial akan mengurangi kesalahan manajemen fiskal dan moneter pemerintah. Tetapi muncul perhatian bahwa sistem moneter yang stabil adalah ilusif dan krisis moneter yang besar dapat menghancurkan pertumbuhan ekonomi dewasa ini. Emas bukan lagi patokan moneter seperti ketika masa standar emas klasik, tetapi akankah kepanikan fianansial global mendorong negara-negara kembali ke “relik barbar?”


  • Kembalinya visi Adam Smith

Kiat telah berjalan jauh sejak Adam Smith mengatakan bahwa kunci untuk pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran adalah memberikan kebebasan semaksimal mungkin kepada warga negaranya untuk mengejar kepentingan pribadi dan publik di bawah sistem keadilan yang dapat ditoleransi. Tetapi sistem kebebasan alamiah Adam Smith pernah ditantang di setiap generasi sejak terbitnya The Wealth of nations pada 1776. Seperti dikatakan oleh Milton Friedman, “kebebasan adalah tanaman yang langka dan sulit” (1998:605). Sekarang juga masih demikian.

Visi kebebasan ekonomi Adam Smith berkembang keluar Inggris melalui J.B Say, Frederic Bastiat, dan para filsuf Prancis, tetapi kemudian mendapat serangan dari dalam , dari aliran inggris sendiri. Robert Malthus dan David Ricardo mengubah dunia optimis Adam Smith menjadi jurang hukum besi upah subsisten. John Stuart Mill bergabun dengan pembaru sosial untuk mencari alternatif utopia untuk ilmu muram ini, dan ketiak cara-cara sukarela tidak muncul-muncul, maka datanglah Karl Marx yang menjuruskan ekonomi ke abad kegelapan alienasi dan perjuangan kelas.

Saat tokoh kita seperti hampir mati, datang tiga orang baik yang membangkitkan kembali Adam Smith Stanley Jevons, Carl Menger dan Leon Walras. Revolusi marginalis memulihkan jiwa Smithian, dan dengan bantuan antara lain Alfred Marshall di Inggris dan J.B. Clark di Amerika, ia membangun kembali Smith dan mengubahnya menjadi manusia klasik. Meskipun ada upaya menghadang kapitalisme oleh Thorstein Veblen dan institusional lainnya, kritik itu berhasil dihadapi secar efektif, khususnya oleh Max Weber. Model neoklasik masik tegak berdiri, siap memberi kontribusi pada abad ilmiah baru.

Abad emas ekonomi neoklasik masih menghadapi tantangan ketika Irving Fisher, Knut Wicksell, dan Ludwig von Mises mencari standar moneter ideal untuk melengkapi rumah Adam Smith. Tetapi konsensus tidak tercapai sampai 1929 ketika crash di pasar saham membawa depresi besar. Sekali lagi rumah Smith menghadapi keruntuhan. Marxis sedang menunggu untuk mengambil alih, tetapi datang dokter baru, John Maynard Keynes yang membawa obat baru untuk menyelamatkan Adam Smith. Dan memulihkannya sebagai bapak Kapitalisme. Tetapi ternyata Keynes tidak menjadi penyelamat, tetapi dokter yang terburu-buru memberi obat kepada pasiennya secara keliru. Perlu kreasi Milton Friedman, intelektual dari rumah Adam Smith, untuk membetulkan dan menganalisa kekurangan ini dan memperbaiki model kapitalisme kompetitif.

  • Apa yang Dapat diraih?

Jelas tantangan kuat dari Marx, Veblen, Keynes, dan kritikus kapitalisme lainnnya mendukung efek positif, mereka menyebabkan para ekonom pasar merespon dan memperbaiki mosel klasik yang dibangun Adam Smith. Apa-apa yang tidak membunuh justru akan memperkuat pasien. Sekarang kerangka pasar bebas klasik lebih kuat ketimbang sebelumnya, dan aplikasinya ada dimana-mana.

Tetapi orang masih bertanya-tanya berapa besar kemajuan ekonomi yang dapat dicapai dalam kondisi seperti berikut ini:

  • Jika Marxisme-Leninisme tidak memperbudak dan memiskinkan sepertiga penduduk dunia
  • Jika Keynesian mengakui lebih cepat bahwa menyebabkan Depresi Besar adalah kesalahan pemerintah, bukan usaha Swasta.
  • Jika penulis-penuls textbook seperti Paul Samuelson cepat-cepat mendukung prinsip ekonomi klasik (aturan hukum, penghematan, anggaran berimbang, pemerintah terbatas uang yang sehat, dan perdagangan bebas).
  • Jika ekonom pembanguan menolak kebodohan nasionalisasi, substitusi impor, bantuan asing dari pemerintah ke pemerintah dan perencanaan sentral.
  • Jika pembaru sosial menerapakn prinsip ekonomi yang sehat untuk keamanan sosial, perawatan kesehatan dan sistem kesejahteraan.
  • Impian Adam Smith: Memecahkan Probem Ekonomi

Seseorang pasti akan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika para pemimpin pemerintah secara konsisten menerapkan sistem kebebasan Adam Smith. Jelas kita akan terhindari dari Depresi Besar yang merupakan bencana ekonomi terburuk di abad 20 dan kia mungkin bisa menghindari dua perang dunia. Pertumbuhan ekonomi mungkin dapat tinggi, bahkan 10 persen setahun? Dan jutaan orang akan terhindari dari kelaparan dan kemiskinan di Dunia ketiga dan komunis. Mungkin kita tidak pernah berbicara tentang “dunia ketiga” karena area yang terserang kemiskinan parah sudah hilang satu deade lalu. Penduduk di kawasan yang kita namakandunia ketiga akan menikmati kekayaan lebih banyak; akan mengerjakan pekerjaan yang lebih bermakna dan akan mempunyai waktu luang dimana mereka bisa mengejar tujuan nonmaterial.

Pada 1930 J. M Keynes menulis esai optimistik : “economic Possibilities for Our Grandchildren”. Setelah mengecam murid-muridnya yang mempresiksi depresi tanpa akhir dan stagnasi permanen, Keynes meramalkan masa depaqn yang cerah. Melalui kemajuan teknologi dan formasi kapital, manusia dapat memecahkan permasalahannya dalam waktu seratus tahun lagi, katanya. Barang dan jasa akan melimpah dan murah sehingga lebih banyak waktu luang. Apa hal produktif yang dapat dilakukan dalam waktu luang? Menurut Keynes modal dapat menjadi murah dan suku bunga mungkin mendekati nol. Suku bunga tidak akan jatuh ke nol, tetapi standar hidup kita akan meningkat pesat, setidaknya di sebagian besar kawasan dunia. Keynes menyimpulkan, “bukan hal yang bodoh untuk merenungkan kemungkinan kemajuan yang lebih besar nanti”(Keynes 1963(1930) :365)

  • Masa depan yang tiada batas

Kekuatan pasar sedang melaju. Jatuhnya paradigma Keynesian dan komunisme komunisme Soviet telah membalikkan “sosialisme yang merayap” menjadi “sosialisme yang tumbang”. Tidak ada yang tahu berapa tinggi standar hidup yang dapat dicapai dunia melalui perdagangan, tarif rendah, deregulasi, sistem pajak sederhana, pilihan sekolah, privatisasi keamanan sosial, sistem keadilan yang baik, dan sistem moneter yang stabil.  Seperti ditulis Adam Smith “tak banyak lagi yang dibutuhkan untuk membawa negara menuju ke keadaan kemakmuran tertinggi dari barbisme rendah kecuali pajak yang ringan, perdamaian, dan administrasi keadilan yang dapat ditolerasi” (Danhert 1974: 218).

Tetapi kebijakan yang buruk, pemikiran sosialis dan kebencian belum mati sama sekali. Kecuali ekonom pasar bebas bersikap waspada, kebebasan alamiah dan kemakmuran akan kalah lagi.

Semangat Adam Smith dengan doktrin tangan gaib dan kebebasan alamiah telah hidup melalui beragam abad kemajuan dan kemiskinan. Doktrin ini dianggap mati beberapa kali, tetapi selalu bangkit kembali. Rumah yang dibangun Adam Smith hampir elesai. Meskipun arsitekturnya kadang-kadang buruk dan ada serangan menjengkelkan dari luar, strukturnya masih kuat dan menjanjikan.

KESIMPULAN

 

Kemenangan ilmu ekonomi pasar, diawali dengan banyaknya pro dan kontra mengenai pemikiran-pemikiran dari ekonom lain seperti dari klasik, neoklasik dan Keynes. Salah satu tokoh aliran neo klasik yaitu Milton Friedman yang merupakan tokoh yang mempunyai pengaruh besar dalam perekonomian, beliau mengatakan bahwa tidak ada ekonomi Austria, tetapi yang ada hanyalah ekonomi yang baik, dan buruk.

Seperti halnya bahwa aliran austria lebih menkankan kompetisi sebagai proses yang dilalui oleh perekonomian yang memanfaatkan kapital, marxisme menekankan pada peran tenaga kerja dalam struktur sosial kapitalisme, ekonomi sisi penawaran berfokus pada pajak dan intensif, dan monetarisme pada peran uang dalam masyarakat. Dengan mempersempit fokus, aliran-aliran pemikiran itu telah memberi kontribusi pada seluruh batang tubuh ilmu ekonomi yang sehat.

Melihat konsensus perekonomian yang semakin berkembang, menjelang akhir karir Friedman, terdapat perumusan-perumusan ekonomi yang di dalamnya masih terdapat perseturuan di antara teori-teori ekonomi.

Beberapa perumusan ekonomi yang dihasilkan dari berbagai aliran dan tokoh ekonomi

  1. Didirikannya kembali model neoklasik, secara mikroekonomi berarti memadukan prinsip penawaran dan permintaan dan profit serta rugi, sedangkan makroekonomi mengajarkan mosel penghematan klasik, kebijakan moneter yang stabil, tanggung jawab fiskal, perdagangan bebas
  2. Pergeseran kembali ke prinsip pasar dan model klasik ini dapat dilihat dalam karya Gregory Mankiw dari Harvard. Dalam buku teksnya, Macro-economics, yang ditulis pada awal 1990-an, Mankiw mengejutkan kalangan ekonomi dengan mengawali bukunya dengan moswel klasik dan mengakhirinya dengan model keynesian jangka pendek, yang merupaka model kebalikan dari pedagogi standar samuelson
  3. Dalam model Mankiw pemotongan pajak mempunyai efek yang sama dengan efek pengeluaran dengan menaikan konsumsi, pemotongan pajak akan “menyesakka investasi dan menaikkan suku bunga”. Dia melaporkan bahwa pemotongan pajak pada masa Reagan memperbesar defisit, dan karena itu menaikkan suku bunga dan menurunkan tabungan nasional. Tetapi dia mengabaikan fakta bahwa pendapatan pajak naik selama setahun pemerintahan Reagan, seperti diprediksikan oleh penganut ekonomi sisi penawaran (Supply side).
  4. Milton Friedman, Friedrich hayek, dan pendukung pasar bebas yang dulu kalah kini tampaknya memenangkan peperangan. Samuelson menyimpulkan, “Menguatnya orientasi kepasar telah diiringi dengan menyebarnya keinginnan untuk mengurangi peran pemerintah, regulasi, dan penurunan pajak.”(1998:735).
  5. Adam Smith mengatakan bahwa kunci untuk pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran adalah memberikan kebebasan semaksimal mungkin kepada warga negaranya untuk mengejar kepentingan pribadi dan publik di bawah sistem keadilan yang dapat ditoleransi. Tetapi sistem kebebasan alamiah Adam Smith pernah ditantang di setiap generasi sejak terbitnya The Wealth of nations pada 1776. Seperti dikatakan oleh Milton Friedman, “kebebasan adalah tanaman yang langka dan sulit” (1998:605). Visi kebebasan ekonomi Adam Smith berkembang keluar Inggris melalui J.B Say, Frederic Bastiat, dan para filsuf Prancis, tetapi kemudian mendapat serangan dari dalam , dari aliran inggris sendiri. Robert Malthus dan David Ricardo
  6. Keynes meramalkan masa depan yang cerah. Melalui kemajuan teknologi dan formasi kapital, manusia dapat memecahkan permasalahannya dalam waktu seratus tahun lagi, katanya. Barang dan jasa akan melimpah dan murah sehingga lebih banyak waktu luang. Apa hal produktif yang dapat dilakukan dalam waktu luang? Menurut Keynes modal dapat menjadi murah dan suku bunga mungkin mendekati nol.
  7. Kekuatan pasar sedang melaju. Jatuhnya paradigma Keynesian dan komunisme komunisme Soviet telah membalikkan “sosialisme yang merayap” menjadi “sosialisme yang tumbang”. Tidak ada yang tahu berapa tinggi standar hidup yang dapat dicapai dunia melalui perdagangan, tarif rendah, deregulasi, sistem pajak sederhana, pilihan sekolah, privatisasi keamanan sosial, sistem keadilan yang baik, dan sistem moneter yang stabil.  Seperti ditulis Adam Smith “tak banyak lagi yang dibutuhkan untuk membawa negara menuju ke keadaan kemakmuran tertinggi dari barbisme rendah kecuali pajak yang ringan, perdamaian, dan administrasi keadilan yang dapat ditolerasi” (Danhert 1974: 218).

DAFTAR PUSTAKA

ADAM SMITH

PENDAHULUAN

Pemikiran-pemikiran tentang ekonomi sudah sangat bekembang pada abad ke-XV, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa. Akan tetapi, pengakuan terhadap ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru diberikan pada abad ke-XVIII, setelah tokoh Adam Smith muncul dalam percaturan ekonomi. Adam Smith (1729-1790), tidak disangsikan lagi, merupakan tokoh utama dari aliran ekonomi yang kemudian dikenal sebagai aliran klasik.

Aliran atau mazhab yang dikembangkan oleh Adam Smith disebut mazhab klasik sebab gagasan-gagasan yang ia tulis sebetulnya sudah banyak dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Misalnya, soal paham individualisme tidak banyak berbeda dengan paham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicrus pada masa Yunani kuno. Begitu juga pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin dalam perekonomian sudah dibicarakan oleh Prancia Quesnay sebelumnya. Karena gagasan Smith banyak yang sudah klasik, oleh “musuh bebuyutannya” kaarl Marx, aliran yang dikembangkann kembbali oleh Smith ini disebut sebagai mazhab klasik.

Pada pembahasan terdahulu sudah diungkapkan bahwa tulisan-tulisan dan pikiran-pikiran ekonomi mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam jumlah maupun mutu pada masa merkantilis dan fisiokrat. Tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh merkantilis dan fisiokrat dari berbagai topik tersebut disintesiskannya kedalam the wealth of nations. Para pakar umumnya percaya bahwa belum ada pemikir-pemikir ekonomi yang mampu mengintegrasikan begitu banyak topik menjadi satu volume yang mencakup pandangan menyeluruh. Pandangan yang menyeluruh itu berua faktor-faktor yang menentukan kemakmuran bangsa-bangsa dan sekaligus memberikan rekomendasi kebijaksanaan yang ditempuh untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

TEORI KLASIK ADAM SMITH

  1. 1.      Sebelum 1776

Selama berabad-abad dan milenia, dari zaman Romawi sampai abad kegelapan dan Renaisans, umat manusia berjuang untuk bertahan hidup dengan memeras keringat, dan sering kali terpaksa membawa pulang hasil yang hanya cukup untuk hidup sehari. Manusia terus-menerus berjuang mempertahankan diiri melawan kematian prematur, penyakit, kelaparan, perang, dan kemiskinan. Hanya segelintir manusia yang bias menjalani kehidupan yang menyenangkan. Bagi rakyat awam, tak ada perubahan yang berarti selama berabad-abad. Upah riil per kapita selalu sama dari tahun ke tahun. Pada abad 18 ketika rata-rata usia harapan hidup hanya 40 tahun, penulis Inggris Thomas Hobes menyatakan bahwa kehidupan manusia itu adalah kehidupan “yang sepi, miskin, kacau, kejam dan singkat” (1996 [1651]:84).

  1. 2.      Tahun 1776 Sebagai Periode Pencerahan

Saat itu dikenal sebagai sebagai periode pencerahan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kaum buruh mencari standar minimum untuk makan, tempat tinggal dan pakaian.

Pada masa ini pun terjadi tiitk balik dalam sejarah manusia. Pada tahun prohetik inilah diproklamasikan dua kebebasan vital, yakni kebebasan politik dan kebebasan berusaha. Dan keduanya berpadu untuk menggerakan revolusi industri.

Tahun 1776 juga penting karena alas an lainnya. Misalnya, 1776 adalah tahun terbitnya volume pertama karya klasik Edward Gibbon, History of the Decline and Fall of the Roman Empire (1776-88).

Pada 9 Maret 1776 penerbit dari London William Strahan dan Thomas Cadell meluncurkan dua jilid buku berjudul An inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, pengarangnya adalah Dr. Adam Smith, seorang professor pendiam dan linglung yang mengajar “filsafat moral” di Universitas Glasgow.

The wealth of nations menjadi karya intelektual yang terkenal diseluruh dunia. Adam smith, anak yang lahir dari era Pencerahan skotlandia, telah menulis formula universal untuk meraih kemandirian financial dan kemakmuran yang sepanjang abad sesudahnya akan merevolusionerkan cara pandang dan praktik warga dan pemimpin Negara dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Publikasi karya ini menjajikan suatu dunia baru –dunia yang penuh kemakmuran, bukan sekedar pengumpulan emas dan perak. Adam Smith menjanjikan dunia baru bagi semua orang- bukan hanya untuk orang kaya dan penguasa tetapi juga untuk rakyat kebanyakan. The Wealt of Nations menawarkan resep untuk membebaskan kelas pekerja dari dunia Hobbesian yang membosankan. Ringkasannya, The Weoalt of Nations adalah semacam deklarasi kebebasan ekonomi.

Selama berabad-abad, upah riil dan standar hidup mengalami stagnasi, pada awal 1800-an hanya beberapa tahun sesudah revolusi amerika dan publikasi the Wealth of Nations, dunia barat mulai berkembang pesat. Mesin pemintal, perkakas tenun, mesin uap adalahbeberapa temuan penting yang menghemat waktu dan uang untuk para pengusaha dan warga Negara.

Adam Smith menulis sebuah buku untuk membantu kesejahteraan kaum pekerja biasa. Buku itu tidak ditujukan kepada aristocrat dan raja. Adam Smith memang tidak terlalu menghormati orang-orang kalangan atas dan yang berkuasa dalam dunia perdagangan.. dia lebih bersimpati pada rakyat biasa yang ditindas dan dieksploitasi selama berabad-abad.

  1. 3.      Pengakuan Smith Terhadap Aliran Fisiokrat

Dalam banyak hal, pemikiran Smith sejalan dengan paham kaum fisiokrat yang menganggap produksi barang-barang dan jasa sebagai sumber utama kemakmuran suatu negara. Hal ini bukanlah melalui perdagangan luar negeri sebagaimana yang dipercaya kaum merkantilis.

Perbedaan antara pandangna Smith dengan pandangan aliran fisiokrat hanyalah pada penekanan faktor yang paling dominan dalam menentukan kemakmuran negara. Kaum fisiokrat menganggap alam lah yang paling menentukan kemakmuran bangsa-bangsa. Sebaliknya, Smith menganggap manusia sebagai faktor produksi utama. Alasnnya, alam tidak ada artinya kalau tidak ada sumber daya manusia yang pandai mengolahnya sehingga bermanfaat bagi kehidupan.

  1. 4.      Pertentangan Antara Smith dan Sistem Merkantilis

Tantangan yang dihadapinya adalah meyakinkan orang lain untuk menyetujui sistem ciptaannya, terutama pada legislator. Tujuan menulis the Wealth of Nations bukan sekedar untuk mendidik, tetapi juga untuk membujuk. Saat itu di Inggris dan Eropa pada umumnya tidak banyak terjadi kemajuan karena adanya sistem yang kuat yang dinamakan merkantilisme. Salah satu tujuan utama Adam Smith menulis The Walth of Nations adalah untuk mendobrak perdagangan konvensional yang dianut oleh kaum merkantilis, yang menguasai perdagangan dan kekuasaan politik pada masa itu. Ia ingin mengganti sistem itu dengan sistem yang menghasilkan kekayaan dan pertumbuhan yang nyata, dan arena itu dapat membawa Inggris dan seluruh dunia menuju ke upaya “perbaikan” terhadap nasib orang-orang awam.

Merkantilis percaya bahwa ekonomi dunia adalah stagnan dan kekayaannya tetap, sehingga satu bangsa hanya bisa berkembang dengan mengorbankan negara lain. Konsekuensinya, mereka menciptakan monopoli yang disahkan oleh pemerintah di dalam negeri dan mendukung kebijakan kolonialisme, mengirimkan agen-agen dan pasukan ke negeri-negeri lain yang miskin dan mengeruk emas dan komoditas berharga lainnya.

Menurut Smith, kebijakan merkantilis hanya menghasilkan kemakmuran dan keuntungan bagi produsen dan pemegang monopoli saja. Karena merkantilisme tidak menguntungkan konsumen, maka merkantilisme bersifat anti pertumbuhan dan dangkal.. “dalam merkantilisme kepentingan konsumen selalu dikorbankan demi kepentingan produsen”.

Menurut sistem merkantilis yang mapan, kekayaan hanya terdiri dari uang, yang waktu itu berarti emas dan perak. Tujuan utama dari setiap bangsa adalah mengumpulkan emas dan perak secara agresif dan menghalalkan segala cara untuk menghalalkannya.

Akumulasi emas dan perak mungkin merupakan sumber kekayaan bagi orang-orang kaya yang berkuasa, lantas apa sumber kekayaan bagi orang biasa dan bagi seluruh bangsa? Itulah pertanyaaa yang diajukan Adam Smith. The Wealth of Nations bukan hanya sebuah risalah tentang perdagangan bebas, tetapi juga gagasan tentang kemakmuran.

Sang professor Skotlandia ini mengajukan argument yang kuat, yakni produksi dan perdagangan adalah kunci untuk membuka “kemakmuran Negara”. Dengan kata lain sumber kemakmuran bukan pengumpulan emas dan perak dengan mengorbankan Negara lain. Dia mengatakan, “kemakmuran sebuah bangsa bukan hanya berasal dari emas dan peraknya, tetapi juga dari tanahnya, gedung-gedungnya dan segala macam barang yang dapat dikonnsumsi”.pada tahun 1763 dia mengatakan”kemakmuran sebuah Negara terjadi jika semua kebutuhan dan fasilitas untuk hidup tersedia dengan harga murah” (1982[1763]:83).

Kaum  merkantilis pun melakukan perdagangan yang dapat merugikan bangsa lain. Hal ini dilakukan utuk menambah cadangan emas dan perak dengan mengorbankan Negara lain. Dengan cara memperbesar ekspor dan mengurangi impor adalah dua cara merkantil untuk memperkaya Negara.

Sang filsuf ini menyerang sistem merkantilisme dengan menentang pengenaan tariff tinggi dan pembatasa perdaganagan. Usaha untuk menyeimbangkan perdagangan adalah “absurd”, dia berbicara “keuntungan natural” suatu Negara di atas Negara lain dalam hal produksi barang.

Smith mengatakan bahwa hambatan perdagangan akan menggurangi kemampuan kedua Negara untuk berproduksi dan karenanya hambatan itu harus dihilangkan. Dengan memperluas perdagangan antara Inggris dan Prancis misalnya, maka kedua Negara itu akan mendapatkan keunntungan.

Ia juga menyatakn bahwa peningkatan terbesar dalam kekuatan produktif para buruh adalah dengan teknik manajemen yang baik, yakni “pembagian kerja”. Dengan memperluas pasar melalui perdagangan dunia maka spesialisai dan pembagian kerja juga bisa berkembang. Melalui peningkatan produktivitas, penghematan dan kerja keras, output dunia akan bisa ditingkatkan. Oleh karena itu, kemakmuran bukan kuantitas tetap, dan semua Negara bisa bertambah kaya tanpa mengorbankan Negara lain.

  1. 5.      Mekanisme Pasar Bebas

Adam Smith mendukung “kebabasan alamiah”, kebabasan orang untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan Negara. Ini berarti kebebasan aliran perpindahan tenaga kerja, modal, uang dan barang. Kehidupan ekonomi bukan hanya akan menghasilkan kehidupan material yang lebih baik, tetapi juga merupakan hak asasi manusia.

Menurut Smith, kebebasan alamiah terdiri dari hak untuk membeli barang dari mana saja termasuk produk asing, tanpa pembatasan tariff atau kuota impor. Di dalamnya juga terdapat hak orang untuk mencari pekerjaan dimanapun ia kehendaki.

Kebebasan alamiah juga mencakup hak untuk mendapatkan upah sesuai dengan kemampuan pasar. Smith menentang usaha Negara untuk mengatur dan menaikan upah secara artificial. Seperti para buruh pada umumnya, Smith menginginkan kenaikan upah buruh, tetapi ia berpendapat bahwa upah harus naik melalui proses alamiah di pasar tenaga kerja, bukan lewat ketentuan pemerintah.

Kebebasan alamiah pun mencakup hak untuk menabung, berinvestasi, dan mengumpulkan modal tanpa pembatasan pemerintah –ini adalah kunci penting bagi pertuumbbuhan ekonomi.

Smith memulai buku besarnya dengan sebuah diskusi tentang bagaimana kekayaan dan kemakmuran diciptakan melalui kapitalisme pasar bebas. Dia menggarisbawahi tiga karakteristik dari sistem atau model klasik ini.

  1. Kebebasan (freedom): hak untuk memproduksi dan menukar (memperdagangkan) produk, tenaga kerja dan capital
  2. Kepentingan diri (self-interest): hak seseorang untuk melakukan usaha sendiri dan membantu kepentingan diri orang lain.
  3. Persaingan (competition): hak untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan barang dan jasa.

Model Smith merefleksikan atribut esensial ini: “Setiap orang, sepanjang dia tidak melanggar hukum keadilan, diperbolehkan secara bebas mengejar kepentinngannya sendiri dengan caranya sendiri, dan diperbolehkan bersaing dengan orang lain di bidang usaha dan pengumppulan modal” (1965:651).

Smith sangat mendukung motto Laissez faire-laissez passer yang menghendaki campur tangan pemerintah seminimal mungkin dalam perekonomian. Paham ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, berawal dari pendapat Francis Quesnay. Smith menghendaki agar pemerintah sedapat mungkin tidak terlalu banyak campur tangan mengatur perekonomian. Biarkanlah saja perekonomian berjalan dengan wajar tanpa campur tangan pemerintah. Nanti akan ada suatu tangan tak kentara yang akan membawa perekonomian tersebut ke arah keseimbangan. Jika banyak campur tangan pemerintah, menuurut Smith, pasar akan justru akan mengalami distorsi yang akan membawa perekonomian pada ketidakefisienan dan ketidakseimbangan.

Sekarang, bagaimana pasar bebas yang didasarkan pada keinginan-keinginan pribadi tersebut bisa membawa perekonomian pada suatu keseimbangan yang efisien? Dalam menjawab pertanyaan tentang bekerjanya mekannisme pasar yang sangat sederhana, tetapi sangat ampuh tersebut.

Secara singkat, apa yang dikatakan Smith mengenai hal di atas ialah: walaupun tiaporang mengerjakan sesuatu didasarkan kepada kepentingan pribadi, tetapi hasilnya bisa selaras dengan tujuan masyarakat. Dampak aktivitas setiap individu dalam mengejar kepentingan masing-masing terhadap kemajuan masyarakat, justru lebih dibandingkan dengan tiap orang berusaha memajukan masyarakat.

Pandangan-pandangan Smith kemudian telah menandai suatu perubahan yang sangat revousioner dalam pemikiran ekkonomi. Di masa sebelumnya, yaitu masa merkantilis, negara ditempatkan di atas individu-individu. Sebalimnya, menurut ajaran klasik dan fisiokrat ini kepentingan individulah yang mesti diutamakan. Bahkan, tugas negaralah untuk menjamin terciptanya kondisi bagi setiap orang untuk bebas bertindakk melakukan yang terbaik bagi diri mereka masing-masing. Bagi penyokong pasar bebas, tidak ada jasa yang bisa diperbuat oleh seorang umat manusia,, kecuali yang dapat membuat dirinya lebih maju.

  1. 6.      Smith Mendukung Harga Pasar

Smith mengatakan bahwa persaingan sangat penting untuk mengubah kepentingan diri menjadi tindakan kedermawanan di dalam masyarakat. Dia lebih menyukai “harga natural atau harga persaingan bebas” yang lebih murah ketimbang harga kekuatan monopoli yang tinggi dan menolak pemberian “privilese eksklusif” bagi perusahaan dagang tertentu. Smith sangat menentang “semangat monopoli yang jahat”(1965:428) yang biasa dilakukan pengusaha yang memperoleh keistimewaan. Persaingan berarti pula harga rendah dan lebih banyak uang untuk membeli barang-barang lain, yang pada gilirannya berarti pula lebih banyak pekerjaan dan standar hidup  yang lebih tinggi.

Menurut Smith, kekuatan monopoli menciptakan suatu masyarakat politik, yang penuh tingkah laku menjilat, memperbudak, dan menipu (Muller 1993:135). Monopoli menciptakan laba secara mudah dan cepat dan konsumsi yang sia-sia (Smith 1965:578).

Menurut Smith, harga alamiah (natural price) dalam keseimbangan jangka penjang ditentukan oleh ongkos produksi. Dua sektor pembahasannya adlah sektor industri manufaktur dan sektor pertanian. Dalam jangka pendek, baik dalam manufaktur maupun dalam pertanian, kurva permintaan menurun (kiri ats ke kanan bawah), sedangkan kurva penawaran naik (dari kiri baawah ke kanan atas). Di sini terlihat lagi bahwa Smith juga menggunakan sisi permintaan. Tetapi pada jangka panjang, sektor pertanian mempunyai kurva penawaran dan juga menarik karena proses ongkos produksi yang meningkat. Selanjutnya, pada sektor manufaktur kurva penawaran jangka panjang horisontal, karena mencapai ongkos tetap (constant cost), sedangkan pada bagian lain adalah kurva penawaran yang menurun, karena ongkos yang menurun. Jadi ada dua jenis kurva penawaran pada sektor manufaktur yakni, dalam jangka panjang kurva tersebut elastis sempurna di man aharga relatif hanya tergantung pada ongkos produksi, selanjutnya kurva tersebut menurun karena harga alamiah ditentuka oleh permintaan dan penawaran.

Terjadi ketidaktaatan tas uraian Smith. Ada pendapat yang menyatakan hal ini karena penulisan the wealth of nations yang menggunakan waktu lama. Tetapi hal itu tidak begitu penting dan ternyata Smith mngemukakan asumsinya. Para ahli sependapat, pandangan Smith yang dominan adalah melihat harga alamiah ditentukan oleh ongkos produksi dalam jangka panjang. Jadi bersifat ekonomi penawaran (suply side economy).

  1. 7.      Teori Pembagian Kerja

Dalam tulisan-tulisannya, Smith cukup banyak memberikan perhatian pada produktivitas tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya yang cukup mendalam, Smith mengambil kesimpulan bahwa produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan melalui pembagian kerja (division of labor). Pembagian kerja akan mendorong spesialisasi; orang akan memilih mengerjakan yang terbaik sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.

Adanya spesialisasi berarti setiap orang tidak perlu menghasilkan setiap barang yang dibutuhkan secara sendiri-sendiri. Akan tetapi, hanya menghasilkan satu jenis barang saja. Kelebihan barang atas kebutuhan sendiri itu dipertukarkan di pasar.

Smith mengatakan bahwa ada kaitan antara pasar produktivitas, sedangkan perdagangan harus berlangsung dengan bebas untuk mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif. Kekuatan-kekuatan produktif inilah yang menghasilkan kekayaan bangsa. Smith mempunai andaian bahwa keadaan ekonomi senantiasa dalam keadaan full-employment.

 

  1. 8.      Adam Smith Mendukung Pemerintahan Yang Bersih Namun Terbatas

Sebagai salah satu proponen pencerahan Skotlandia dan pendukung kebebasan alamiah, Adam Smith sangat percaya kepada pemerintahan yang hemat tetapi kuat. Dia menulis tentang tiga tujuan pemerintahan : “Tujuannya adalah mengangkat negara dari barbarisme rendah menuju tingkat kemakmuran tertinggi tetapi dengan cara damai, pajak ringan dan dengan administrasi yang adil dan toleran “ (Danhert 1974:218).

Secara spesifik Smith mendukung :

  1. Perlunya pendanaan yang besar untuk milisi yang bertugas membela negara
  2. Sistem hukum yang bisa melindungi kebebasan, hak milik, dan untuk menjamin perjanjian dan pembayaran utang
  3. Kerja publik, jalan, kanal, jembatan pelabuhan dan proyek infrastruktur lainya
  4. Pendidikan umum menyeluruh untuk mengimbangi efek alienasi dan penurunan mental akibat spesialisasi (pembagian kerja) sistem kapitalisme (Smith 1965:743-35)

Secara umum, sang profesor Skotlandia ini mendukung tingkat kebebasan maksimum di masyarakat, termsuk diversitas hiburan sepanjang tidak “menimbulkan skandal dan ketidaksenonohan”. Smith bukan Libertarian murni.

  1. 9.      Smith Mendukung Mata Uang Yang Kuat Dan Standar Emas

Simth juag mencemaskan adanya manipulasi terhadap sistem moneter yang dilakukan oleh pemerintah. Walau menolak ide bahwa satu-satunya sumber kekayaan adalah emas dan perak, dia mendukung sistem moneter yang stabil berdasarkan emas dan perak dan mendukung doktrin perbankan yang bebas. Dia juga menentang “teori kuantitas uang” (lihat diskusi tentang Irving Fisher di Bab 11), yang berpendapat bahwa tingkat harga akan naik atau turun sebanding dengan perubahan dalam persedian uang. Dalam esainya yang berjudul “Digression on Silver” Smith menunjukan bahwa harga sangat bervariasi ketika persediaan perak (uang) meningkat.

  1. 10.  Tabungan : Unsur Kunci Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Adam Smith mengusulkan penghematan dan investasi modal sebagai unsur penting dalam pandangan makroekonominya. Dalam bab tentang akumulasi kapital (Bab 3, Buku II) di Wealth of Nations, dia mendasarkan bahwa kunci penting bagi pertumbuhan ekonomi bukan hanya kebijakan pemerintah, lingkungan usaha yang kompetitif dan manajemen bisnis yang yang sehat, tetapi juga tabungan dan penghematan. Smith menekankan perlunya investasi modal dan mesin penghemat tenaga kerja sebgai elemen vital dalam menaikan standar hidup bagi orang kebanyakan.

  1. 11.  Esensi Model Ekonomi Klasik

Ringkasnya, model ekonomi klasik yang dikembangkan oleh Smith, dan didukung oleh murid-muridnya dari generasi ke generasi , terdiri dari prinsip umum :

  1. Penghematan, kerja keras, kepentingan diri yang baik, dan kedermawanan yang terhadap orang lain adalah kebijkan dan karena itu harus didukung
  2. Pemerintah harus membatasi kegiatan pada pengaturan keadilan, memperkuat hal  privat, dan mempertahankan negara dari serangan asing
  3. Di bidang ekonomi, negara harus mengadopsi kebijakan Laissez faire non intervensi (perdagangan bebas, pajak rendah, birokrasi minimal, dsb)
  4. Standar klasik emas/perak akan mencegah negara mendepresiasi mata uang dan akan mengahasilkan lingkungan moneter yang stabil dimana ekonomi bisa berkembang.

Seperti ayang akan kita lihat , model Smoith ini akan berulang kali diserang selama 200 tahun sesudahnya oleh para kawan dan lawanya sekaligus.

ADAM SMITH DAN ABAD PARA EKONOM

Di bab selanjutnya kita akan membahas dan mengubah teori nilai kerjanya yang kasar, karena Smith bukanlah manusia sempurna. Kritiknya terhadap pemilik tanah, perbedaan aneh yang dibuatnya antara tenaga kerja “produktif”dan “tak produktif” dan kegagalanya untuk mengenali prisif pundamental utilitas marginal sebjektif dalam teori harga. Tetapi ini hanya nerupakan sedikit penyimpangan dari sumbangan positif terhadap ilmu ekonomi.

Adam Smith dihormati karena membela perdagangan bebas dan pasar bebas, karena pandangan “kebebasan alamiahnya” dan pendapatnya tentang sistem usaha bebas yang kompetitif yang mengatur diri sendiri dan pemerintaha yang terbatas. Paparanya yang meyakinkan tentang kebebasan ekonomi membantu membebaskan dunia dari merkantilisme dan intervensinegara yang berlebihan. Tanpa rintisanya, revolusi industri mungkin macet delama sebad atau lebih. Meskipun kini Adam Smith telah meninggal, model ekonomi klasiknya tetap menyebar ke seluruh Eropa dan dunia.

APENDIKS

PRE-ADAMITES

ADAM SMITH tidak menciptakan ekonomi modern dari keadaan vakum, tidak seperti Zeus yang menciptakan Athena yang besar.

PLATO DAN ARISTOTELES

Sebagian anak dari pencerahan Skotlandia, Smith tidak tertarik membaca Republik karya Plato, yang mendukung negara kota ideal yang dikuasai oleh kumpulan raja yang filsuf. Dia menganggap Ariostoteles lebih baik, karena membela kepemilikan pribadi dan mengkritik komunisme Plato. Hak milik pribadi menurut Ariostoteles akan memberi peluang kepada orang lain untuk melakukan kebijakan memberi derma dan cinta baik “jalan emas” dan “kehidupan yang baik” ala Ariostoteles. Tetapi Smith tidak menyukai ejekan Ariostoteles terhadap usaha mencari uang pandanga nya yang meremehkan perdaganagan moneter dan retail sebagai hal yang bermoral dan “tidak alamiah”. Ini adalah filsafat yang kelak dipuji oleh banyak penulis Kristen di abad pertengahan.

PROTESTAN, KATOLIK, DAN SKOLASTIK SPANYOL

Adam Smith juga banyak dipengaruhi oleh doktrin Katolik yang menganjurkan penghematan dan kerja keras, mengecam kemewahan, riba dan kerja “tidak produktif”. Penganut protesan dan katolik terlibat dalam perdebatan tentang apa itu yang disebut “harga yang adil” di dalam ekonomi pasar. Kaum skolastik Spanyol di abad 16 mengatakan bahwa “harga yang adil” tak lain adalah harga pasar umum, dan mereka umumnya mendukung filsafat Laissez faire (Rothbard 1995:97-133). Seperti yang kelak oleh Montesquieu “persaingan yang menentukan harga barang dan menciptakan hubungan yang benar di antara mereka” (Montesquieu1989 [1748] :344)

Dalam banyak hal Adam Smith bermaksud mengganti doktrin antimaterialis Graeco-Kristen di Eropa Barat, yang merupakan penghambat kebebasan dan pertumbuhan ekonomi, dengan sistem yang memadukan kehidupan moral dan pencarian material secara rasional (Fitzgbbons 199:v, 16)

BERNARD MANDEVILLE DAN THE FABLE OF THE BEES

Beberapa pihak berpendapat bahwa Adam Smith mengembangkan kosep “tangan tak kelihatan” dari karya mengundang skandal, The The Fable Of The Bees (1997[1714]), karya Bernard Mandeville (1670-1733) seorang ahli jiwa asal Belanda dala versi pertmanya, Bernard Mandeville mengisahkan “lebah yang mendengung dalam sarang” yang kaya menjadi “jujur” dan kemudian   jatuh miskin setelah berubah menjadi komunitas yang bermoral. Dalam edisi kedua yang populer Bernard Mandeville mendeskripsikan sebuah masyarakat yang makmur dimana semua warga negaranya memutuskan untuk meninggalkan kemewahan, pengeuaran dan menaggalkan senjata. Hasilnya adalah depresi dan ambruknya perdagangan dan rusaknya perumahan.

Kesimpulanya: keserakahan, kemewahan dan ketamakan akan membawa publik ke arah kemakmuran, “dan jika Moment Kejahatan itu hilang, Masyarakat pasti rusak, atau bahkan bisa jadi lenyap sepenuhnya”. Jelas, dalam paradoks Bernard Mandeville ini, kepenntingan diri akan menciptakan kebaikan sosial.

Friedrich Hayek dan John Maynard Keynes menyetujui dongeng Mandaville. Menurut Hayek, dari Mandaville inilah Adam Smith mendapatkan pandangan tentang pembagian kerja. Kepentingan diri, kebebasan ekonomi dan ide konsekuensi yang tak diharapkan (Hayek 1984: 184-85). Keynes menyetujui sentimen anti penghematan Mandaville dan tekanan statis untuk memastikan terciptanya lapangan kerja dalam masyarakat (Keynes 1973: 358-61).

Tetapi, jelas bahwa dalam The Theory of Moral Sentiments Adam Smith tidak menyetujui pandangan Mandaville. Adam Smith menyebut buku Mandaville sebagai buku yang “sepenuhnya merusak” dan tesisnya keliru. Smith tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan bahwa kemajuan ekonomi bisa dicapai melalui keserakahan, ketamakan dan cinta diri tanpa kendali, dan dia mengecam Mandaville karena tampaknya ia tidak bisa membedakan baik dan jahat (Smith 1976(1759);308-10).

MONTESQIUIEU DAN DOUX COMMERCE

Sikap Smith tehadap kepentingan diri dipengaruhi oleh filsuf besar Prancis, Charles de Secondat Montesquieu (1689-1755). Bukunya yang berjudul The Spirit of Law,  pertama kali terbit pada 1748, membuat James Madison dan Alexander Hamilton berjuang untuk memisahkan kekuasaan, sebuah konsep yang didukung oleh Adam Smith. Montesquieu, yang menulis sebelum masa revolusi indrustri, melihat ada banyak manfaat dalam doux commerce (perdagangan yang baik). Dia mengemukakan pandangan baru bahwa mengejar keuntungan dan kepentingan dagang akan berfungsi sebgai pengimbang nafsu perang dan kesewenang-wenangan kekuasaan politik. “perdagangan akan menyembuhkan prasangka destruktif,” kata Montesquieu “karena perdagangan akan menghaluskan dan melunkan kebisasaan barbar… efek alamiah dari perdagangan adalah menciptakan perdamaian” (1989:338). Menurut Montesquieu, Sir James Steuart dan para Filsuf lainya pada era tersebut, citra pedagang dan pencari uang sebagai orang yang damai dan tak bersalah (innocent) sangat berbeda dengan “tentara dan bajak laut pembunuh era itu” (Hirschman 1997:63). Perdagangan memperkuat keterlibatan politik: “semangat perdagangan menghasilkan kesederhanaan, ekonomi modernisasi, kerja, kebijaksaan, dan ketenangan” (Hirschman1997:71). Seperti yang telah kita tunjukan di atas, smith mendukung pandangan tentang masyarakat komersial yang progresif ini.

DR. FRANCOIS QUESNAY DAN TABLEAU EKONOMIQUE

Tokoh fisiokrat ternama yang ditemui Adam Smith si Prancis adalah dokterdan ahli bedah Dr. Francois Quesnay (1694-1774), yang juga merupakan dokter pribadi istri kesayangan Raja Lois XV. Diagram ciptaanya yang terkenal, tableau economique, oleh kawan-kawannya sianggap sebgai salah satu temuan ekonomi terbesar, setelah tulisan dan uang (Smith 1965:643)

Diagram zig-zag Quesnay ini, yang pertama kali terbit pada 1758, menarik minat banyak orang dan menimbulkan kontroversi selama beberapa tahun. Diagram ini dipuji sebagai rintisan paling awal bagi pengembangan banyak tabel dalam ekonomi modern: ekonometrik =, multiplier Keynes, analisis input-output, diagram aliran sirkular dan model pemgembangan umum Walras. Diagram ini jelas merupakan pandangan “makro” tentang ekonomi,  tanpa mengacu pada harga. Meskipun demikian tak seorang pun yang tahu pasti arti tabel tersebut. Sebagai juru bicara utama kaum fisiokrat, Quesnay menentang merkantilisme Prancis, proteksionisme dan kebijakan intervensionis negara. Tetapi, The Wealth of Nation menentang premis dasar fisiokrat yang menyatakan bahwa yang menjadi sumber kekayaan adalah pertanian, bukan industri dan perdagangan.

RICHARD CANTILLON

Tokoh lain yang mempengaruhi ekonomi Sktlandia ini adalah Richard Cantillon

, Jacques Turgot dan Etienne Bonot de Condillac. Richard Cantillon (1680-1734) oleh Murray Rothbard dan sejarawan ekonomi lainya dianggap sebgai “bapak ekonomi modern”yang sesunggungnya.

Cantillon adalah bankir Irlandia dan petualang yang beremigrasi ke Paris. Dia terlibat dengan kasus penggelembungan Mississippi John Law pada 1717-20, namun kemudian dia dengan cerdik menjual semua sahamnya sebelum guncangan finansial meleda. Statusnya yang independen membuatnya bisa menulis buku tentang ekonomi yang berjudul Essay on the Nature of Commerce in General (terbit setelah dia wafat, yakni pada 1755). Dia meninggal secara misterius di London pada 1734, mungkin dibunuhng oleh pembantunya yang kemudian membakar habis rumahnya untuk menutupi jejak kejahatanya.

Essay Cantillon sangat mengesankan dan jelas mempengaruhi Adam Smith. Essai ini menitikberatkan pada mekanisme otomatis dalam pasar, yakni dalam The (Wealth of Nations) dan anlisis inflasi bukan hanya menaikan harga tetapi juga mengubah pola pengeluaran.

JACQUES TURGOT

Jacques Turgot (1727-81) adalah fisokrat Prancis ternama yang mempengaruhi Adam Smith melalui karyanya yang berjudul Reflections on the Formation and Distribution of Wealth (1766). Turgot adalah pendukung perdagangan bebas dan Laisseiz fair,  pernah menjadi menteri keuangan dalam pemerintahn Louis XVI. Di juga membubarkan Serikat Kerja (guild) abad pertengahan, menghapus semua larangan perdagangan gandum dan mempertahankan anggaran berimbang. Dia begitu terkenal sehingga dekat dengan raja, tetapi kemudian dipecat pada 1776.

Sebagai fisiokrat, Turgot membela pertanian sebagai sektor paling produktif dalam ekonomi, tetapi Reflections menunjukan pemahaman yang mendalam tentang perekonomian, bahkan melebihi Smith dalam banyak hal. karya ekonominya yang terang ini memberikan pemahaman yang baik tentang preferensi waktu, kapital dan suku bunga, dan peran entrepreneur kapitalis dalam ekonomi kompetitif. Dia bahkan mendeskripsikan tentang hukum pendapatan yang berkurang, yang kelak dipopulerkan oleh Malthus dan Ricardo

CONDILLAC

Ekonom dan filsuf Prancis lainya yang mempengaruhi Smith adalah Etienne Bonnot de Condillac (1741-80). Dia hidup di lingkungan intelektual Paris pada pertengahan 1770-an dia membela Turgot pada masa-masa sulit tahun 1775, ketika dia menghadapi kerusuhan pangan saat menjabat sebagai menteri keuangan. Seperti Turgot dan Montesquieu, Condillac mendukung perdagangan bebas. Karya pentingnya, Commerce and Government, terbit sebulan sebelum The Wealth of Nations pada 1776. Gagasan ekonomi Condillac sangat maju. Dia mengakui manufaktur sebagai sektor produktif, perdagangan sebagai representasi nilai yang tak seimbang dimana kedua belah pihak bisa mendapatkan keuntungan, dan mengakui bahwa harga ditentukan oleh nilai guna, bukan nilai kerja (Macleod 1896).

KESIMPULAN

Dari bebrapa teori Smith yang telah ditulis di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Sistem ekonomi yang mengoperasionalkan dasr-dasar itu adalah ekonommi dengan persaingan bebas, yang diatur oleh tangan yang tak kentara. Pemerintah bertugas dalam bidang keamanan yang melindungi rakyatnya, menegakkan keadilan, dan menyiapkan prasarana dan kelembagaan umum. Proteksi dalam berbagai kegiatan ekonomi ditiadakan, monopoli dihapuskan, dan setiap orang tahu apa yang terbaik untuk dirinya dan apa yang sebaiknya dipertukarkan bagi orang lain, sehingga kekayaan bangsa dapat meningkat.
  2. Teori nilai yang digunakan Smith adalah teori ongkos produksi, walaupun semula dia menggunakan teori nilai tenaga kerja. Barang mempunyai nilai guna dan nilai tukar. Ongkos produksi menentukan harga relatif barang, sehingga terciptanya dua macam harga, yakni harga alamiah dan harga pasar. Dalam jangka panjang harga pasar akan cenderung menyamai harga alamiah.
  3. Adam Smith telah merintis teori produksi dan distribusi fungsional. Sumber kekayaan bangsa adalah lahan, tenaga kerja yang keterampilannya berbeda-beda dan modal. Dengan demikian, timbul persoalan pembagian pendapatan yakni upah untuk pekerja, laba bagi pemilik modal dan sewa untuk lahan-lahan.
  4. Smith berpendapat bahwa pembagian kerja sangat bergna dalam usaha meningkatkan produktivitas. Pembagian kerja akan mengembangkan spesialisasi. Pertambahan penduduk berarti meningkatkan tenaga kerja, dan hal ini akan meningkatkan peningkatan dan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pembagian kerja juga mempunyai kerugian sosial oleh karena suasana kerja yang monoton.

DAFTAR PUSTAKA

Deliarnov, dr. 2007.  Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hasibuan, Nurimansyah. Modul UT

Skousen, Mark. 2006. Sang Maestro Teori-teori Ekonomi Modern. Jakarta: PRENADA MEDIA

MAHZAB HISTORIS

1.      Pengertian Mahzab Historis

Mahzab Historis Jerman lahir dalam tahun 1840 an melalui publikasi karya-karya ilmiah yang ditulis oleh friederich List(1789-1846), Nationales System der politichen Oekonomie (1840), dan Wilhelm Roscher (1817-1894), Grundriss zu Vorlesungen ueber die Staatswissenschaft nach geschichtilicher Methode (1843), mahzab ini berakhir dalam tahun 1915 ketika Gustav Friederich von Shmoller ( 1838-1917) menjelang kematiannya, dalam tahun 1883 pengikut mahzab historis jerman yang terakhir ini menulis buku, Zur Methodologie der Staats-und Sozialwissenschaften yang berpengaruh.

Mahzab historis adalah sebutan untuk suatu aliran pemikiran ekonomi dalam sejarah yang berkembang dinegara Jerman pada abad 19, kaum historis, seperti Wilhem Rosches, Bruno Hildebrand (1812-1878), Karl Knies (1821-1898), dan Gustav Schmoller, dari jerman, dalam abad yang sama, menyerang ajaran-ajaran fundamental mahzab klasik dari inggris. Bahkan Gustav Schmoller berkata agar satirik (Eduarrd Hereman, Sedjarah Doktrin-doktrin ekonomi, Penerbit: Dana Guru, Djakarta, 1955, h.120): ‘sejak Adam Smith, Aliran tersebut menderita kekurangan darah’. Mereka mengemukakan bahwa konsep-konsep ekonomi sesunggujnya merupakan produk perkembangan menurut sejarah kehidupan ekonomi yang khusus tumbuh di suatu negara. Karena itu hukum-hukum  ekonomi itu tidaklah mutlak, melainkan hanya secara nisbi berhubungan dengan perkembangan sosial menurut dimensi waktu.

Kendatipun ahli sejarah pemikiran ekonomi dari Amerika, Eduar Heimann, mengkritik mahzab Historis dengan mengatakan dalam bukunya, History of Economic Doctrines (Oxford University Press, London, 1953, h.177), bahwa Mahjab Historis tidak pernah mencapai formulasi doktrinnya dengan sangat jelas, namun ia pun mengatakan , bahwa anggota-anggota Mahzab Historis itu mengkritik teoritikus-teoritikus klasik karena pendekatan mereka yang sempit terhadap kehidupan ekonomi, yang didasarkan pada psikologi hedonistik yang mentah, dan secara khusus karena pendiri an mereka bahwa pendekatan ini menuju pada hukum-hukum yang sempurna.

Umumnya mahzab Historis cenderung bersandar pada nasionalisme, evolusi, dan perbaikan hidup, suatu  paradigma yang berlawanan secara diametrik dengan doktrin-doktrin mahzab klasik. Mahzab ini dengan sadar, seperti juga mahzab institusionalis dari amerika Serikat yang akan dianalisis dalam buku inin juga, memberikan perhatian yang kuat pada faktor-faktor institusional dalam kehidupan sosial.

2. Latar-belakang Sejarah Mahzab Historis

Dilaporkan oleh Jacob Oser dan Stanley L. Brue (the Evolution of Economic Thought, Harcout Brace Jovanovich, Publishers, Sandiego, 1988, h.194), bahwa karena institusi-institusi ekonomi utama abad 19 di negara jerman secara substansial berbeda dengan institusi-institusi ekonomi utama di inggris, tidaklah mengagetkan jika ideologi ekonomi yang berbeda timbul. Jangan dilupakan bahwa peraturan-peraturan merkantilis bertahan di jerman yang masih agraris itu sedikitnya sampai pembentukan kekaisaran dalam taun 1871, lama sesudah mereka menghilang dari negara inggris.

Peraigan dan kebebasan berusaha (liberalisme) yang dibenarkan oleh kaum kelasik, pada kenyataanya sangat terbatas dinegara Jerman. Karena faktor lingkungan termasuk perekonomian dan politik, maka yang yang mengatur kehidupan ekonomi bukan pasar tetapi perangkat birokrasi. Dan, mungkin ini sangat menarik , karena birokrasi yang mengatur kehidupan ekonomi, maka ilmu administrasi negaralah yang sangat berkembang di Jerman. Oleh sebab itu pula, teori-teori Klasik yang didasarkan pada paradigma persaingan bebas dan laisses-faire tidak dapat diterapkan di negara Jerman.

Dengan latarbelakang sejarah seperti itu dapatlah difahami jika mahzab historis mempertahankan dan merasionalisasikan falsafah hidup Jerman dengan mempertanyakan relevansi historis dari doktrin ekonomi klasik Inggris. Pertanyaan fundamentalnya bagi mahzab historis adalah selalu di sekitar universalisme dan kosmopolitanisme hukum-hukum dan teori-teori klasik.

Perlu ditambahkan pula bahwa Jerman pada waktu itu merupakan negara terpecah, berantakan, lemah, dan masij agraris (yang berbeda dengan inggris yang sedang mengalami revolusi industri yang intensif) yang sangat memertlukan intervensi negara. Paternalisme, nasionalisme, patriotisme, militerisme ( yang mengabdi pada tugas dan kerja keras), dan intervensi pemerintah yang masif semuanyabersatu untuk merubah pola dan mendorong pertumbuhan industri awal. Lebih jauh disebabkan kenyataaan bahwa Jerman pada pertengahan abad 19 itu sangat ketinggalan jauh dari inggris dalam pembangunan industri, maka para ekonomnya membenarkan saran bahwa bantuan pemerintah dibutuhkan untuk mengejar serba ketertinggalan tersebut.

  1. 3.      Pokok-Pokok Ajaran Mahzab Historis

Apabila dapat diarikan, maka akaran mahzab historis itu dapat dijelaskan dalam empat buah pokok ajaran saling mengukuhkan (Jacob Oser dan Stanley L. Brue, op.cit., hh.194-95);

  1. Pendekatan Evolusioner terhadap ilmu ekonomi. Mahzab Historis memusatkan perhatianya pada pembangunan dan pertumbuhan kumulatif. Suatu analogi kadang-kadang mereka tarik kepada evolusionisme biologiDarwin: organisme sosial lahir, kemudian berkembang, dan akhirnya runtuh dan mati. Mahzab ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang secara tetap berubah. Yang tetap dalam kehidupan masyarakat adalah perubahan. Oleh karena itusuatu doktrin ekonomi yang relevan bagi suatu negara pada waktu tertentu tidak layak bagi negara lain atau waktu lain. Pendapat demikian menyebabkan kaum historis menghabiskan waktunya untuk membuat skema-skema agar dapat menyimpulkan perkembangan  ekonomi selama abad-abad yang telah lalu. Untuk membuktikanya mereka memperkenalkan ‘teori terapan’ (stufentheorien). Friedrich List misalnya, membedakan tahapan-tahapan (setelah keadaan masyarakat awal yang tidak beradab) berurutan meliputi: masyarakat gembala, lalu masyarakat petani kemudian masyarakat yang mengenal pertanian dan perindustrian yang berdampingan, dan akhirnya, masyarakat pertanian, indutri, dan perdagangan yang berkembang dengan pesat. Teori tahapan List ini terbentuk berdasarkan perubahan kehidupan berdasarkan perubahan ekonomi di Amerika. Ia percaya bahwa tahapan kehidupan ekonomi yang tinggi itu baru akan tercapai sesuai terbentuknya antara sektor  pertanian dengan sektor-sektor perindustrian dan perdagangan. Bruno Hildebran menyesuaikan teori tahapannya itu kepada permintaan khusus di Jerman pada waktu itu. Ia membagi evolusi sosial ekonomis dalam: ‘rumah-tangga alamiah’ (Naturalwirtschaft), berkembang kerumah tangga uang’ (Geldwirtschaft) dan akhirnya berkembang menjadi menjadi ‘rumahtangga kredit’ (Kreditwirtschaft). Hildebrand berkeyakinan, bahwa Jerman sampai dalam suatu tahapan ekonomi yang memerlukan pertumbuhan lalulintas kredit yang merupakan objek bisnis bagi perbankan. Ketika ia mengumumkan teori tahapannya itu, khususnya setelah berdirinya persatuan Jerman pada tahun 1870, dalam apa yang disebut Gruenderperiode, banyak sekali bank yang didirikan.
  1. Pendekatan relativistis. Pendekatan relativistis ( yang merupakan konsekuensi dari pendekatan evolusioner diatas) terutama berguna untuk menyerang absolutisme klasik. Bertentangan dengan absolutisme dari mahzab klasik yang mengatakan bahwa hukum ekonomi itu bersifat universal dan kosmopolitan, mahzab historis megemukakan relativisme, yaitu suatu pendapat, bahwa hukum –hukum ekonomi itu bersifat relatif dan terbatas. Mahzab ini beranggapan bahwa dalam kenyataanya setiap usaha disesuaikan dengan tempat dan waktu. Terutama Knies (die politische Oekonomie vom Standpunkt der geschichtlichen Methode, 1853) mendiskusikan masalah ini dengan panjang lebar meskipun agar samar-samar. Ia menyimpulkan bahwa hukum-hukum ekonomi itu hanya berlaku untuk sementara dan dengan syarat-syarat tertentu. Oleh karena pada umumnya dapat kalahkan dengan kenyataan maka teori-teori itu mesti diubah. Karena itu dengan jelas menunjukan pada kita bahwa teori-teori tersebut hanya bersifat temporer, tidak lestari.
  1. Pendekatan Induktif. Dalam abad 19 ini Eropa terjadi perjuangan yang panjang untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan, apakah ilmu-ilmu sosial pada umunya, dan ilmu ekonomi pada khususnya, harus menempuh metode deduktif atau metode induktif? Mahzab klasik yang menggunakan metode deduktif, menjabarkan sesuatu yang khusus dari sesuatu yang umum, sedangkan metode induktif ( yaitu , metode berfikir dari sesuatu yang khusus ke sesuatu yan umum), yang di Jerman digunakan diantaranya oleh schmoller, melakukan hal yang sebaliknya, mahzab historis mengecam metodologi yang abstrak, deduktif, statis, tidak realistis, kualitas metodologi klaiskal dan marjinalis yang tidak historis. Mahzab ini melakukan kajian induktif secara besar-besaran, menggunakan bahan sumber-sumber primer secara empiris, dan mengkaji pranata sosial yang berubah-ubah. Kajian yang luas ini, seperti pernah dikemukakan, menghasilkan ‘teori tahapan’. Bagi mahzab yang mengadakan kajian induktif ini, pola perkembangan dapat terlihat dalam sejarah dan dapat digeneralisasi kedalam apa yang disebutnya ‘hukum perkembangan’ (laws of develovment). Lebih dari itu mahzab historispun berpendapat bahwa gejala ekonomi dan sosial lainya bersifat interdependent; suatu pendekatan yang saat ini dikenal sebagai ‘pendekatan sistem’ (systems approach). Masih berkaitan dengan pendapatnya ini (yang berlawanan dengan mahzab klasik yang melihat peri kehidupan manusia dari sudut mekanis, yaitu memulai penglihatannya dari luar), mahzab Historis melihatnya justru dari sudut organis, yaitu suatu penglihatan dari dalam.
  1. Peranan pemerintah yang positif. Mahzab historis adalah nasiomalistik, sementara klasisisme adalah individualistik, universalistik dan kosmopolitan. Mahzabhistoris mengangap bahwa mahzab klasik, dlihat dari sudut psikologis, sangat banyak mengandung kelemahan. Menurut mahzab historis, mahzab klasik hanya mengakui bahwa setiap manusia hanya digerakan oleh kepentingan diri sendiri, suatu tinjauan yang tidak utuh terhadap manusia. Karena itu, dorongan-dorongan lainya, seperti hasrat bertanggungjawab, kebutuhan akan cinta sesama, adat kebiasaan dan keinginan untuk mendapatkan penghargaan, yang menggerakan manusia, luput dari penglihatannya. Manusia hidup dalam organisme sosial, bukan individu yang hidup terlepas daripadanya. Karena itu, bilamana organisme sosial itu merupakan kekuatan gerakan dinamis, maka masyarakat dan negara (jadi, bukan individu) menempati titik sentral.
  1. Anjuran reformasi konservatif. Bagi mahzab historis,’ekonomi politik’ (politischen Oekonomie) mempunyai tugas etis. Ekonomi politik, tegas mereka, jangan hanya menganalisis motif-motif yang mendorong kegiatan ekonomi tetapi juga ‘kepantasan moral’ (moral merit) dari tindakan-tindakan dan akibatnya. Ekonomi politik, berdasarkan etika, harus menentukan standar produksi dan distribusi kesejahteraan ‘orang kebanyakan’ (common man) yang layak sehingga tuntunan moralitas dan keadilan terpenuhi. Kebijaksanaan ini, katanya, akan memperkokoh loyalitas kepada negara yang sekaligus dapat menjaga kesehatan, kesejahteraan, dan efisiensi para pekerja pabrik. Mereka mengharapkan agar reformasi pun mampu megalihkan kelas buruh dari ideologi sosialistik. Pembelaan atas perubahan sosial yangmoderat menyebabkan mahzab ini dijuluki ‘sosialis kursi jabatan’ yang mengacu kepada kedudukan akademik yang mereka jabat.
  1. 4.      Siapakah Yang Diuntungkan OLeh Mahzab Historis?

Banyak kepentingan yang diuntungkan oleh lahir dan berkembangnya mahzab Historis (Jacob Oser dan Stanley L. Brue, op.cit.,h.196):

  1. Para anggota mahzab historis Jerman ternyata menguntungkan diri mereka sendiri. Mereka menikmati hubungan yang dekat dan akrab dengan para pejabat pemerintah dan menaikan mereka keposisi yang dominan dalam kehidupan akademis. Dalam kenyataanya, pemerintah Jeman pada waktu itu mengendalikan kebanyakan universitas dinegara itu. Dan schmoller pun, yang disindir dengan sebutan ‘Si pembuat profesor’ mengendalikan mayoritas pengangkatan akademis melaliu pengaruhnya atas mentri pendidikan Prusia. Para mahasiswa dan pengikutnya ditempatkan di Pos0pos akademik. Sementara itu para pengikut Jerman dari mahzab Marjinalis Austria dikucilkan dari kedudukan-kedudukan universitas. 
  1. Mahzab Historispun (yang jika mahzab ini hadir di abad ini mungkin disebut ‘kaum selebritis’) memberikan keuntungan kepada pemerintahan keajaan jerman dengan menpertahankan peranannya dalam negara nasionalistik.
  1. Para ekonom Historis ‘melayani’ Kelompok-kelompok bisnis , keungan, dan tuan tanah yang berkuasa dengan mendorong reformasi moderat yang serta merta mengganjel geakan demokratisasi masyarakat yang lebih radikal. Apakah itu yang dimaksud mahzab Historis dengan ‘relativisme ilmu pengetahuan’?

 

  1. 5.         Tokoh-tokoh Aliran Sejarah
  1. 1.   Friedrich List (1789-1846)

Friedrich List lahir dan memperoleh pendidikan di Jerman. Ia pernah mengajar di negara tersebut, tetapi ide-idenya kemudian memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Di Amerika Serikat ia menjadi editor salah satu surat kabar yang terbit di Pennsilvania dan aktif dalam gerakan-gerakan proteksionis.

Salah satu buku List yang cukup terkenal adalah : das Nationale system de Politishen Oekonomia, Der Internationale Handel, die Handels Politik und der Deutche ollverein, atau dalam bahasa Inggrisnya: the National System of Political economy, International Trade, trade Policy and German Customs union (1841). Dalam buku tersebut List menyerang pakar-pakar klasik yang disebutnya “cosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah.

Menurut List, sistem perdagangan bebas sebagaimana dianjurkan kaum klasik hanya cocok bagi negara-negara yang sudah berada pada tahap kelima (waktu itu misalnya Inggris). Akan tetapi, sistem perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan Jerman pada waktu itu, yang keadaan industrialisasinya agak tertinggal dari keadaan industri-industrialisasi di Inggris.

Untuk memajukan ekonomi  Jerman, List menyarankan agar pemerintah menyusun berbagai kegiatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan produktif dan kemampuan nasional. Dua sektor utama yang sangat menetukan perekonomian nasional adalah sektor pertanian dan industri. Sektor pertanian diperlukan untuk penyediaan bahan pangan masyarakat, tetapi sektor ini tidak bisa diharapkan membawa perekonomian  pada tingkat yang lebih maju. Lebih tegas, List berpendapat bahwa negara yang hanya bertumpu pada kekuatan pertanian tidak akan pernah maju. Yang mampu membawa perekonomian pada tingkat yang lebih tinggi adalah sektor industri. Selain itu, industrialisasi adalah langkah awal untuk membawa perekonomian kearah yang lebih maju. Industrialisasi tidak hanya memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh juga mampu membawa perbaikan pada sektor pertanian serta perkembangan dan kemajuan bidang-bidang lainnya, termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas.

Agar bisa bersaing dengan negara-negara lain, Jerman perlu memajukan industrialisasinya terlebih dahulu. Untuk mengembangkan industrialisasi domestik, List menganjurkan adanya suatu lembaga negara yang akan melindungi industri dalam negeri melalui pajak impor. Dalam hal ini pemerintah secara aktif melakukan intervensi untuk menyeimbangkan pertanian, industri, dan perdagangan. List menekankan bahwa perlindungan hanya bersifat sementara, bukan terus-menerus. Setelah jangka waktu tertentu, saat industri sudah mapan, perlindungan tersebut perlu dicabut. Kalau tidak, ini hanya akan menjadi sumber pemborosan uang negara.

Dari uaraian di atas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan perhatian pada masalah kebijsanaan ekonomi, terutama bagaimana melindungi industrialisasi  Jerman yang waktu itu tertinggal dari industri-industrialisasi Inggris. Ia sangat menonjolkan unsur nasionalisme. Hal ini diakuinya, sebab bagi List kebijaksanaan ekonomi yang benar adalah kebijaksanaan yang memungkinkan majunya kondisi-kondisi ekonomi negara sendiri. Bukan sebaliknya memajukan negara dan bangsa lain.

Intervensi pemerintah tidak terbatas hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga diperlukan di bidang-bidang lain seperti bidang sosial, politik, dan hukum. Tanpa campur tangan yang efektif di bidang-bidang lain tersebut, friedrich List mengkhawatirkan bahwa pembangunan ekonomi di Jerman tidak akan berjalan mulus sesuai dengan yang diinginkan.

  1. 2.   Bruno Hildebrand (1812-1878)

Hildebrand aktif dalam berbagai penelitian dan penulisan karya-karya ilmiah. Dalam melakukan penelaahan dan penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya memepelajari sejarah. Artinya, penelitian-penelitian ekonomi harus didukung data statistik empiris yang dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi.

Hildebrand juga sering menekankan perlunya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari tiap cara kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan-tingkatan sebagai berikut: (1) tukat- menukar secara in-natura atau barter; (2) tukar-menukar dengan perantaraan uang; (3) tukar-menukar dengan menggunakan kredit; (Pada masa ini negara-negara maju orang melakukan tukar-menukar dengan menggunakan cek dan membeli barang melalui katalog atau telepon).

Penelitian Hildebrand di atas dianggap cukup baik untuk bidang sosiologi, tetapi kurang bermakna ditinjau dari pengembangan ilmu ekonomi. Salah satu karya-karya penelitian sejarah Hildebrand ialah bahwa berbagai penelitian yang dilakukannya hanya berupa monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah ekonomi. Namun, karya-karya tersebut tidak disusunnya ke dalam suatu kerangka acuan terpadu. Oleh karena itu, karya-karya sejarah penelitian Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam pengembangan ilmu ekonomi.

  1. 3.   Gustav von Shmoler (1839-1917)

Schmoler menjadi terkenal karena ia terlibat dalam perdebatan yang sengit dengan pakar-pakar klasik, terutama dengan Carl Menger. Perdebatan itu berkaitan dengan metodologi dalam pengembangan ilmu ekonomi. Ia dianggap sebagai pemikir aliran sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasik ditukar dengan metode induktif-empiris. Seperti pakar aliran sejarah lainnya, Schmoler juga menekankan perlunya kelenturan dalam perekonomian dan memberikan ruang pada pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Sehubungan dengan ini, ia mempelajari dokumen-dokumen negara untuk mendemonstrasikan kemurahan hati birokrasi, yang mampu membimbing dan menyatukan kekeuatan –kekuatan masyarakat dan menjamin diberlakukannya keadilan. Hal ini diyakini tidak akan pernah terwujud dalam sistem perekonomian yang mengandalkan sistem pasar. Kalau diperhatikan, pandangan schmoler di atas agak berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh aliran sejarah lainnya. Jika tokoh-tokoh lain menghendaki adanya berbagai kebijaksanaan  di bidang ekonomi, Scmoler menghendaki agar kebijaksanaan juga menyangkut politik sosial. Lebih lanjut dari itu, juga kebijaksanaan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh, Schmoler menganjurkan didirrikan dan dibinanya organisasi-organisasi dan serikat kerja.

Untuk mencapai tujuannya, schmoler beserta rekan-rekan mendirikan sebuah forum untuk menghimpun pemikiran-pemikiran untuk menghadapai beragai masalah ekonomi dan social. Hasil pertemuan dan kesimpulan dalam forum disampaikan pada pemerintah sebagai bahan masukan. Salah satu keberhasilan pertemuan-pertemuan untuk menghimpun bahan masukan bagi pemerintah ini adalah diberlakukannya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jamianan sosila yang diberikan pada kaum buruh sesuai undang-undang tersebut dianggap sangat maju untuk zamannya. Hal itu karena di Negara-negara Eropa pada umumnya belum memiliki undang-undang perlindungan kaum buruh seperti yang dibuat di Jerman tersebut.

  1. 4.   Werner Sombart (1863-1941)

Salah satu penelitian Sombart yang cukup sering dikutip orang adalah penelitiannya tentang tahap-tahap perkembangan kapitalisme. Dari hasil penmelitiannya Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis sangay erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya: Der Moderne Kapitalismus (1902), waner sOmbart lebih lanjut mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis dapat dibedakan atas beberpa tingkatan:  (1) tingkat pra-kapitalisme; (2) tingkat kapitalisme menegah; (3) tingkat kapitalisme tinggi; dan (4)tingkat kapitalisme akhir.

Pada tingkat pra-kapitalisme kehidupan ekonomi masih bersifat komunal; struktur social masih nberat ke pertanian; kebutuhan manusia masih kurang atau rendah; uang belum dikenal; motif laba maksimum belum Nampak; dan produksi hampir seluruhnya ditujukan untuk diri sendiri. Dalam tingkat kedua (kapitalisme menegah) kehidupan ekonomi, walaupun masih bersifat komunal, telah muali memeperlihatkan ciri-ciri individualistis; struktur pertanian-industri mulai berimbang; masyarakat sudah mengenal uang; motif laba maksimum mulai Nampak; dan produksi juga tidak hanya ditukan untuk diri sendiri tapi juga ditujukan untuk pasar. Dalam tingkatan ketiga yang disebutnya sebagai tingkat kapitalisme tinggi,ciri masyarakat komunal sudah mulai hilang; paham individualistis muali menonjol; struktur ekonomi semakin berat ke industry dan perkotaan; peran uang semakin menonjol; motif laba maksimum makin kelihatan; dan sebagian besar dari industry dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tingkatan terakhir, (kapitalisme tahap akhir), ditunjukkan oleh ciri-ciri dari sikap individualosme yang sangat tinggi, tetapi kepentingan masyarakat tidak diabaikan; industry meluas ke padat modal; di samping uang kartal juga mulai dikenal uang giral; motif laba maksimum sangat tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.

  1. 5.   Max Weber (1864-1920)

Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas, di mana ilmu ekonomi dan sejarah ekonomi oleh weber juga dimasukkan sebagai bagaian dari ilmu sosiologi. Walaupun ia ahli sosiologi, tekanan utama dalam pembahasannya adalah ekonomi. Ia juga intens dalam melihat pengaruh ajaran-ajaran agama tertentu, yaitu protestan, terhadap kemajuan ekonomi. Dalam bukunya yang sangat terkenal: The Protenstan Ethic and the spirit Capitalism (1958) ia menjelaskan bahwa ada pengaruh  nyata  ajaran agama protestan terhadap perilaku dan kemajuan ekonomi.

Weber bertolak dari suatu asumsi dasar bahwa rasionalitas adalah unsur pokok peradaban barat yang mempunyai nilai dan pengaruh universal. Dalam kegiatan ekonomi, dapat dilihat bahwa banyak peradaban dalam sejarah yang mengenal mencari laba. Akan tetapi, hanya di Baratlah aktivitas mencari laba tersebut diselenggarakan secara lebih terorganisasi secara rasional. Selanjutnya, inilah akar utama system perekonomian kapitalisme yang mewujudkan diri dalam perilaku ekonomi tertentu. Perilaku ekonomi kapitalis, menurut Weber, bertolak dari harapan dan keuntungan yang diperoleh dengan mempergunakan kesempatan bagi tukar-menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan untung secara damai.

Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan penganut agama protestan, terutama Calvinis, menduduki tempat teratas. Sebagian besar dari pemimpin-pemimpin perusahaan, pemilik modal, pimpinan teknis, dan komersial yang diamatinya (di Jerman) adalah orang-orang protestan, bukan orang katolik. Ajaran Calvin tentang takdir dan nasib manusia, menurut Weber, adalah kunci utama dalam menentukan sikap hidup para penganutnya. Bagi penganut Calvinis kerja adalh “beruf”, “panggilan” atau “tugas suci”. Menurut ajaran calvin keselamatan hanya diberikankepada orang-orang terpilih. Ini yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi orang yang terpillih tersebut. Dalam kerangka pemikiran teologis inilah semangat kapitalisme, yang bersandar pada ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan,dan sanggup menahan diri, menemukan pasangannya.

Tentu tidak semua orang menerima tesis Weber yang diuraikan di atas. Beberapa pakar mempertanyakan bahkan menentangnya, pakar-pakar yang menetang antara lain Bryan S Turner, R.H. tawny, Kurt Samuelson, Robert N Bellah, Andrew Greeley, dan tentu saja dari pakar-pakar lain yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat Islam dan penganut-penganut agama tokugawa di Jepang. Kritikan-kritikan tersebut antara lain dapat dibaca dalam buku yang diedit Taufik Abdullah: agama, etos kerja dan Perkembangan Ekonomi (1979).

  1. 6.   Henry Charles Carey (1793-1879)

Henry Carey adalah seorang pimpinan gerakan proteksionis dari Amerika Serikat. Ia tertarik denagan aliran sejarah sebab ayahnya adalah teman dekat Friedrich List sewaktu List berdiam di Amerika Serikat.dalam salah satu karyanya: Principle of Social Science, Carey menekankan perlunya diversifikasi industry untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas. Suatu Negara yang hanya mengandalkan pembangunan pada ekspor produk-produk pertanian dinilainya sebagai tindakan yang bodoh dan merugikan. Bagi Carey, hanya bangsa petani yang bodoh saja yang secara berkelanjutan mengekspor bahan-bahan mentah, dan menerima imbal-tukarproduk-produk lain dalam jumlah sedikit. Tindakan seperti ini hanya akan menyebabkan semakin berkurangnya kesuburan tanah dan semakin lemahnya posisi Negara dibanding Negara-negara lain yang maju pesat. Negara-negara maju mengembangkan produk-produk industry yang lebih tinggi nilai tambahnya.

Sehubungan dengan peringatan Carey di atas, tindakan bijaksana bagi pemerintah Indonesia adalah melarang ekspor kayu gelondongan dan rotan beberapa tahun silam, sebab nilainya sangat kecil. Nilai tambah yang lebih besar dapat diperoleh kalau bahan-bahan mentah seperti kayu gelondongan dan rotan tersebut dibuat produk jadi kemudian diekspor. Begitu juga langkah yang arif dan bijaksana bagi Pemerintah Indonesia untuk lebih mengembangkan agribisnis dan agro-industri.

  1. 6.      Keabsahan Teori yang Diungkapkan Para Kaum Mazhab Historis

Teori mazhab Historis yang lebih menekankan perlindungan industri dalam negeri dan bertentangan dengan pandangan klasik maupun neo klasik yang mempercayai adalanya invisible hand, sebenarnya pada saat ini masih berlaku terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia sendiri pandangan para tokoh aliran historis yang menghendaki adanya pembatasan dan hambatan masuk dalam perdagangan, seperti tariff, quota dan lain sebagainya masih diterapkan dengan tujuan untuk melindungi produksi dalam negeri. Namun demikian, teori-teori mazhab historis tidak sepenuhnya diterapkan diIndonesia, sebagai contoh pemberian subsidi kepada beberapa perusahaan dometik. Menurut Friedrich List, subsidi diberikan kepada perusahaan domestik pada tahap-tahap awal saja kemudian selanjutnya subsidi tersebut dihentikan atau dicabut dengan tujuan agar membuat perusahaan tersebut bisa mandiri sehingga tercipta sebuah efisiensi dalam berproduksi. Namun dalam kenyataannya diIndonesia, subsidi tersebut diberikan secara terus-menerus kepada beberapa perusahaan sehingga kinerja dari perusahaan tersebut tidak efisien dan cenderung manja serta tidak berkembang sebagaimana yang mestinya. Mungkin inilah salah satu faktor yang membuat perekonomian kita tidak bisa berkembang pesat, perusahaan-perusahaan BUMN yang diharapkan menjadi tulang punggung negara dalam memperoleh penerimaan untuk kas negara sekaligus menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan domestik swasta dalam dunia usaha ternyata jauh dari harapan. Justru perusahaan-prusahaan swasta asinglah yang kini menguasai perekonomianIndonesia. Ironis memang namun inilah kenyataannya, akibat kebijakan yang salah,  kiniIndonesiahanya bisa menyaksikan perusahaan-perusahaan asing berkembang dengan pesat dan menguasai pasaran domestik kita.

Begitupun dengan kebijakan tarif dan quota.Tarif dan quota yang semestinya melindungi produksi dalam negeri dan menyaring produk-produk asing untuk masuk ke pasaran dalam negeri ternyata tidak bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Produk-produk asing terutama produk China membanjiri dan menguasai pasaran domestik kita, dengan keunggulan teknologi serta modal yang besar yang mereka miliki produk-produk asing bisa dengan mudahnya mengacak-acak produk kita dan membuat produksi dalam negeri tidak bisa berkembang, hanya beberapa perusahaan swasta lokal saja yang dapat bertahan itu pun masih jauh tertinggal dari perusahaan asing.

Tidak sulit rasanya untuk menemukan produk-produk asing di pasar-pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern, produk asing baik dalam bentuk makanan, peralatan rumah tangga,berbagai macam mainan anak, peralatan elektronik hampir semua merupakan hasil produksi asing, terutama bermerkan “Made in China”. Yang sekarang menjadi pertanyaaan adalah dimanakah produk-produk hasil anak negeri?Adabeberapa faktor yang membuat produk-produk lokal tidak bisa bersaing dengan produk-produk asing, salah satunya adalah kualitas. Kualitas produk-produk lokal rata-rata jauh dari standar, belum lagi rasa cinta masyarakat kita akan produk-produk dalam negeri yang sangat minim. Namun kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada masyarakat kita jika melihat mereka sebagai konsumen tentunya wajar jika mereka menginginkan kualitas produk yang baik serta harga yang murah dan semua itu hanya tersedia/ dimiliki produk-produk asing.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah kebijakan-kebijakan pemerintah yang diterapkan saat ini salah ataukah pelaksaanannya yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan? Entahlah, namun dalam kenyataannya saat ini kebijakan yang diterapkan pemerintah tidak bisa melindungi produksi dalam negeri kita.

 

  1. 7.      Konsistensi teori mazhab Historis Pada Masa Kini

Pandangan mazhab historis yang menekankan perlunya campur tangan pemerintah dalam perekonomian dengan cara penerapan sistem tarif dan pemberian subsidi pada masa kini ternyata masih berlaku. Tidak hanya di negara-negara berkembang saja di negara-negara maju pun pandangan dan pemahamannya masih diberlakukan, bahkan negara sekelas Amerika Serikat pun kini masih memberikan subsidi pada produk-produk pangan mereka.

Ironis memang, negara yang selama ini getol menggembar-gemborkan free trade atau perdagangan bebas dengan meniadakan segala macam hambatan dalam perdagangan melalui lembaga perdagangan dunia WHO, ternyata dalam kenyataanya menggunakan prinsip ganda.

Di Indonesia sendiri sistem tarif dan pemberian subsidi sampai saat ini masih diberlakukan, itu semua dilakukan dengan tujuan tiada lain untuk melindungi produksi dalam negeri dari serbuan produk-produk asing. Akan tetapi dalam kenyatanya pasaran lokal kita sekarang ini dikuasai oleh produk-produk asing. Namun pada intinya sampai saat ini teori-teori yang diungkapkan kaum historis terutama tentang adanya pembebanan tarif dan pemberian subsidi masih berlaku di sebagian negara di dunia ini.

ANALISIS

Jika diperhatikan, dapat dikatakan bahwa doktrin aliran sejarah kurang jelas. Lebih tegas, mereka tidak mengembangkan sebuah system. Akan tetapi, lebih merupakan reaksi terhadap pemikiran-pemikiran klasik dan neo klasik yang menghendaki tidak adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Pemikir  sejarah hanya mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak melihat kelemahan dari metode induksi-empiris mereka sendiri.

Kalau diperhatikan secara mendalam, ternyata pemikiran dari tokoh-tokoh aliran sejarah sangat bersifat nasionalistik. Hal ini paling jelas dalam pemikiran-pemikiran List dan Schmoler. Pemikir-pemikir ekonomi Jerman waktu itu melihat bahwa kalu perekonomian diserahkan pada mekanisme pasar bebas sebagaimana yang digagas kaum klasik, negara mereka akan kalah bersaing. Keadaan mereka pada waktu itu masih tertinggal dibanding Inggris yang lebih maju industrialisasinya. Kalau bersaing secara bebas, perekonomian Jerman bisa hancur. Untuk itu, mereka mendesak agar pemerintah melakukan intervensi dalam perekonomian, misalnya melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk-produk luar negeri.

Bagaimana implikasi ajaran pemeir-pemikir sejarah bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia? Perekonomian kebanyakan di negara-negara berkembang di dominasi oleh sector pertanian. Perekonomian yang didominasi sector pertanian sulit maju. Jika ingin maju, maka langkah awal yang perlu dilakukan ialah memacu industrialisasi. Pada tahap awal, sebagaimana dianjurkan oleh List, Negara-negara berkembang boleh melakukan kebijaksanaan proteksi untuk melindungi industri dalam negeri. Tindakan proteksi dimaksudkan uagar setelah melalui beberapa tahapan waktu industri dalam negeri menjadi lebih mapan sehingga lebih kompetitif dalam bersaing. Pengembangan industri ini  lebih lanjut  diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat lebih luas ke berbagai bidang.

Namun sayang, di sebagian negara berkembang proteksi diberikan secara tidak bijaksana. Kalau List mengannjurkan proteksi hanya diberikan pada tahap-tahap awal, di beberapa negara berkembang, terutama dalam Negara yang kuat persekongkolan antara pengusaha dan penguasanya, proteksi diberikan secara terus-menerus, sedang industrinya keropos dan tidak efisien. Hasil produksi mereka tidak bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri. Jauh dari yang diharapkan, yang terjadi adalah meluasnya distorsi dan perekonomian beroperasi dengan biaya- biaya tinggi (high cost economy). Padahal, List telah memperingatkan bahwa proteksi yang tidak bijaksana seperti ini hanya akan menjadi sumber pemborosan keuangan negara. Yang lebih parah lagi, di beberapa negara berkembang “kebijaksanaan” proteksi hanya dinikmati oleh segelintir pengusaha yang berkolaborasi dengan penguasa. Kondisi seperti ini pada akhirnya hanya menjadi pemicu kecemburuan social. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana diuraikan di atas, bagi negara-negara berkembang yang ingin memberikan proteksi harus diiringi dengan suatu mekanisme. Mekanisme dilakukan agar mereka dapat mengatur agar proteksi secara taha demi tahap dapat dikurangi, dan sesudah sekian waktu, apapun yang terjadi nanti proteksi tersebut harus dihentikan. Kalau tidak, industri yang dilindungi tersebut cenderung manja dan tidak efisien.

BIOGRAFI JHON MAYNARD KEYNES

Biografi John Maynard Keynes

John Maynard Keynes atau lebih kita kenal dengan nama Keynes lahir di Cambridge, Inggris, pada tahun 1883. Ayahnya adalah panitera di Universitas Cambridge dan seorang ahli ekonomi dan ahli filsafat terkemuka di universitas tersebut. Ibunya adalah seorang pegawai di Cambridge selama beberapa waktu.

Keynes dididik di sekolah terbaik di Inggris- Eton and king’s College. Di Cambridge ia belajar sastra klasik, dan filsafat kepada G.E. moore, ilmu matematika kepada Alfred North Whitehead dan ilmu ekonomi kepada Alfred marshall. Keynes juga menjadi anggota kelompok eksklusif intelektual Cambridge, yang kemudian menjadi kelompok Bloomsbury. Termasuk dalam kelompok ini adalah tokoh-tokoh sastra dan seniman,seperti Virginia wool, E.M. Forster, dan Lytton Strachey.

Setelah lulus Keynes mengikuti ujian British Civil Service dan mendapatkan skor tertinggi kedua dalam semua ujian. Hal ini membuat Keynes mendapatkan pilihan kedua diantara semua posisi pelayanan sipil yang tersedia.

Setelah menepati jabatan dikantor India, Keynes membantu mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kepentingan Inggris yang melibatkan India. Dua tahun kemudian, pada tahun 1908, ia kembali ke Cambridge untuk mengajar ekonomi. Tiga tahun setelah itu ia menjabat sebagai redaktur Economic Journal , yang pada waktu itu merupakan jurnal yang paling prestisius diseluruh dunia.

  1. Latar  belakang sejarah Mazhab Keynesian

Mazhab Keynesian yang kemudian sangat terkenal itu diawali dengan publikasi seorang ekonom bangsa Inggris yang berpengaruh karena penyempurnaannya tentang teori moneter dan politik konjungtur, dan pengaruhnya atas kebijaksanaan kredit di Inggris dan Amerika Serikat, John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Intersest and Money yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1936, ketika New Deal dipraktekkan dengan sungguh-sungguh di Amerika Serikat. John Maynard Keynes, yang lahir dalam tahun yang sama dengan meningalnya Karl Marx, adalah anak lelaki dari seorang ahli logika dan ekonomi politik pengikut mazhab klasik, John Neville Keynes, yang kurang begitu terkenal. Ia mempunyai pengaruh yang kuat atas terbentuknya perjanjian versailes, yang kemudian mengajukan kritik-kritik yang gencar melalui bukunya, The Economic Consequences of the Peace (1919).

Mazhab Keynesian sebenarnya muncul dari mazhab Neo-Klasik. Perlu dicatat bahwa Keynes sendiri lahir dalam tradisi Marshall yang pernah mengajarnya di Cambridge. Sekalipun Keynes dengan tajam mengritik beberapa pokok pikiran Neo-klasik, yang ia ‘kompetkan’ (gumpalkan) bersama dengan pikiran Ricardo di bawah nama ‘ilmu ekonomi klasik’ namun ia tidak dapat terhindar dari pengaruh mereka dengan sepenuhnya. Ia memanfaatkan banyak postulat dan metode Neo-Klasik itu. Sistem dan falsafahnya nyata-nyata berdasarkan pendekatan psikologis subyektif, dan ia pun dengan sadar menyerap konsep-konsep marginalis, bahkan juga konsep keseimbangan statisnya. Kendatipun berhasil ‘menciptakan’ sejarah melalui pikiran-pikiran yang original ia, yang berada dalam garis sejarah, mendisosialisasikan dirinya dari serangan atas teori nilai dan distribusi Neo-Klasik. Bukankah teori-teori Keynes dengan konsisten berkiblat pada permintaan?

Satu hal lagi yang perlu dicatat dalam sejarah pemikiran ekonomi. Gagasan Keynes itu tumbuh oleh Depresi Besar 1930-an, masa kehidupan ekonomi barat, Eropa Barat dan Amerika serikat, yang terburuk dan menekan. Sungguhpun demikian, akar gagasan ini dapat ditelusur hingga sebelum tahun 1929. karya banyak ekonom, termasuk Mitchell dan rekan-rekannya di National Bureau of Economic Research, berada dalam rangka-rangka dasar ilmu ekonomi besaran (aggregate economic, atau ‘makroekonomi’ (sebutan yang semakin popular), bukan dalam garis ilmu ekonomi mikro dari mazhab Neo-klasik. Keynes pun menyerap pendekatan makroekonomi itu. Keadaan pun menuntut makroekonomi yang baru tersebut. Perang Dunia I dan pengendalian ekonomi mendorong kebutuhan tinjauan perekonomian yang menyeluruh. Di samping itu, pertumbuhan produksi industri dan perdagangan yang berskala besar menyebabkan perekonomian lebih rentan terhadap tindakan dan pengendalian statistik. Oleh sebab itulah, keadaan ini menyebabkan pendekatan induktif dan agregatif lebih layak daripada pendekatan sebelumnya. Lebih dari itu, pendekatan ini semakin dianggap perlu ketika masyarakat semakin menghendaki pemerintah agar terlibat dengan aktif dalam memecahkan pengangguran, sebagai akibat Depresi Besar 1930-an itu.

  1. Siapa yang Akan Menyelamatklan Kapitaisme?

Dalam buku revolusinya pada tahun 1936, The General Theory of employment, Interest and Money, Keyenes mengajarkan bahwa kapitalisme pada dasarnya tidak stabil dan tidak berkecenderungan ke arah full employment. Tetapi pada saat yang sama, dia menolak ide tentang perlunya nasionalisasi perekonomian, penetapan kontrol upah harga, dan intervensi dalam penawaran dan permintaan. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengendalikan kendaraan kapitalis dan menuju ke jalan kemakmuran dengan cara menjalankan kebijakan defisit dan melakukan pengeluaran untuk kerja publik yang akan menaikkan permintaan dan memulihkan kepercayaan. Setelah ekonomi kembali ke jalurnya yang benar dan mencapai full employment, pemerintah tiak perlu lagi menjalankan defisit, dan model klasik akan berfungsi kembali dengan benar.

Anjuran Keynes agar Pemerintah menaikkan atau mengurangi permintaan agregat tampaknya dapat mengeliminasi gejolak yang ada di dalam kapitalisme tanpa mengelominasi kapitalisme itu sendiri. Sementara itu, kebijakan ekonomi laissez faire dapat diterapkan pada level mikroekonomi. Ringkasnya, kebijakan jalan tengah Keynes dianggap bukan ancaman bagi kebebasan berusaha, tetapi sebagai penyelamat. Dalam kenyataannya, pandangan Keynes membuat rival utamanya, yakni Marxisme, ditinggalkan di negara-negara maju.

  1. Keynes tidak bersimpati kepada adam smith

Perlu dicatat bahwa meskipun Keynes dipuji sebagai penyelamat kapitalisme, model dan rekomendasi kebijakan yang dikemukakannya sebenarnya merupakan serangan langsung kepada sistem  laissez faire Adam Smith. Keynes mengakui hal ini ketika dia mengatakan, “Tidak benar bahwa individu mempunyai “kebebasan alamiah” dalam aktivitas ekonominya…Juga tak benar bahwa kepentingan diri umumnya adalah baik…Pengalaman tidak menunjukkan bahwa individu, ketika mereka berada dalam unit sosial, selalu lebih berpandangan jernih dibandingkan ketika mereka bertindak sendirian” (Keynes 1963 [1931]: 312). Pidato ini, yang diberi judul “The End of Laissez Faire”, disampaikan pada tahun 1926, satu dekade sebelum The General Theory ditulis. Ini jelas serangan kepada sistem kebebasan alamiah Adam Smith.

Pada awal 1930-an, Keynes semakin kecewa dengan kapitalisme, baik secara moral maupun estetika. Ide-ide Sigmund Freud saat itu sedang digemari, dan Keynes mengadopsi tesis Freudian bahwa mencari uang adalah sebuah tindakan neurosis, “semacam kegilaan yang menjijikkan, semi kriminal, suatu kecenderungan patologis yang mestinya diserahkan kepada spesialis penyakit gangguan mental” (1963: 369). Kelak, pada 1933, dia menuduh sistem kapitalis: “Kapitalisme Internasional yang memburuk dan individualistik, yang sekarang ada di era pascaperang sekarang ini, telah gagal. Sistem ini tidak cerdas, tidak indah, tidak baik dan tidak memberi manfat. Ringkasnya, kita tidak menyukainya dan mulai meninggalkannya. Tetpai ketika kita ingin menggantikannya, kita kebingungan” (Hession 1984: 258). Ini jauh berbeda dengan pandangan Adam Smith.

  1. Teori-teori yang dimunculkan Keynes

Menurut Dudley dillard(1958), teori ekonomi Keynes sebagai mana yang dituangkan dalam the general theory pada dasarnya dapat disimpulkan kedalam lima ide fundamental sebagai berikut:

  1. Sifat umum teori Keynes(the general Nature of Keynes theory )

Keynes, sebagaiman judul bukunya, menyatakan teorinya sebagai suatu general teori. Maksudnya adalah:

  1. Teorinya berhubungan dengan semua tingkat kesempatan kerja yang mungkin (full muapun under employment) hal ini yanata berbeda dengan Classic macroeconomic theory(CMT) yang berangkat dari setu tingkat keempatan kerja, yaitu full employment. Jadi, CMT dapat dipandang sebagai sepecial teori. Sebagai mana dikemukakan Keynes(1936:3)
  2. Teorinya tidak mempersoalkan perilaku sector rumah tangga maupun perilakuk sector bisnis secara individual, melainkan berhubungan dengan masalah kehidupan ekonomi secara keseluruhan. Variabal-variebel yang dipersoalkan adalah variable-variabel ekonomi agregatif, seperti : permintaan dan penawaran agregat, pengeluaran konsumsi agregat,  pengeluaran investasi agregat maupun tabungan agregat.
  3. Teorinya menjelaskan bahwa masalah-maslah ekonomi seperti pengangguran maupun inflasi sebagai akibat dari satu hal yang sema, yaitu masalah effectif demand atau permintaan agregat. Tinginya tingkat pengangguran adalh cermin dari rendahnya permintaan agregat, dan tingginya inflasi cermin dari tingginya permintaan agregat. Jadi, teori Keynes menitik beratkan pada demand side sebagai unsure aktif yang menggerakan perekonomian. Ini berlawanan dengan CMT yang menitik beratkan pada suplay side.
  4. Peranan uang (The Role of Money)

Sebagaimana telah diketahui, CMT melihat peran uang sebagai unit of account dan medium of exchange karena itu CMT memandang uang bersifat netral, berbeda dalam teory Keynes peran uang tidak sebatas hal itu. Tetapi juga berperan sebagai store of value (alat untuk menimbun kekayaan). Berdasarkan fungsi uang ketiga ini, Keynes memperkenalkan konsep hoarding, yaitu keinginan masyarakat untuk mneimbun kekayaan dalam bentuk uang tunai (idle money). Menurut Keynes, konsep hoarding tidak emmberikan hasil apa-apa, tetapi dengan melakukan hoarding berarti orang telah menyimpan kekayaannya dalam bnetuk asset yang paling liquid. Dari konsep ini selanjutnya Keynes memperkenalkan Liquidity Preference.

  1. Hubungan uang dan Bunga (The Relation of Interest and Money)

Menurut Keynes orang mau berpisah dengan uang tunainya hanya apabila atas tindakannya itu diperoleh sejumlah balas jasa atau premi tertentu, yaitu berupa bunga. Semakin tinggi tingkat bunga semakin rendah keinginan masyarakat untuk melakukan hoarding dan sebaliknya. Jadi dalam konsepsi Keynes (1936: 174), “interest is a reward for not hoarding”-bunga adalah balas jasa atau premi karena orang tidak mau menimbun kekayaan dalam bentuk uang tunai, atau karena mau mengorbankan likuiditas. Pandangan Keynes ini sangat berbeda dengan konsep klasik yang menaganggap bunga sebagai hadiah karena orang mau menunda konsumsinya.

  1. Peran Investasi (The Role of Investment)

Pengeluaran konsumsi dan investasi meru[pakan dua komponen utama permintaan agregat. Keynes menganggap pengeluaran konsumsi lebih stabil, karena propencity to consume masyrakat adalah lebih stabil. Berbeda dengan pengeluaran investasi, dalam konsepsi Keynes dipandang sebagai komponen yang sangat tidak stabil dan karena itu sifatnya sangat tidak fluktuatif. Dan karena itu, Keynes menempatkan investasi sebagai determinan terpenting untuk kesempatan kerja dan tingkat pendapatan nasional. Dengan dmeikian dalam teori Keynes dirumuskan secara sederhana bahwa; tinggi rendahnya volume kesempatan kerja dan tingkat pendapatan nasional disebabkan oleh tinggi rendahnya volume investasi.”

  1. Ketidakpastian Masa yang Akan datang ( Uncertainity About The Future)

Keputusan untuk melakukan investasi berhubungan dengan perkiraan atau pengharapan (expectation) mengenai hasil atau keuntungan yang dapat diperoleh di masa datang. Karena kepastian di masa datang adalah ketidakpastian maka menurut Keynes keputusan untuk melakukan investasi didasarkan pada harapan-harapan yang dilandasi convensional judgment. Artinya hanya mengikuti pendapat dan kepercayaan umum tentang masa yang  akan datang. Jika di lingkungan bisnis terdapat optimis terhadap kehidupan ekonomi masa depan maka volume investasi cenderung akan meningkat, dan sebaliknya. Hal inilah yang menyebabkan investasi menjadi sangat tidak stabil dan selanjutnya Keynes mengemukakan konsep marginal efisiensi of capital (MEC) sebagai determinan pengeluaran investasi

  • Keynes, Sang Pembawa Bid’ah, Menjungkirbalikkan Ilmu Ekonomi Klasik

The General Theory tidak bertujuan untuk membangun kembali model klasik;  premis dasar model klasik Adam Smith adalah kebaikan penghematan, anggaran berimbang, perdagangan bebas, pajak rendah, standar emas dan hukum Say. Tetapi Keynes menjungkirbalikkan model klasik itu. keynes menganggap model klasik hanya sebagai “kasus khusus” yang hanya dapat diaplikasikan pada masa full employment. Menurut teorinya tentang “permintaan efektif agregat” dapat diterapkan pada masa kelangkaan lapangan kerja dan sumber daya, yang Keynesianisme, bisa berlangsung tanpa batas. Di dalam keadaan seperti itu, Keynes menawarkan prinsip-prinsip sebagai berikut ini:

  1. Kenaikan tabungan dapat menyusutkan pendapatan dan mengurangi pertumbuhan ekonomi. Konsumsi lebih penting ketimbang produksi untuk mendorong investasi, dan karenanya ini berkebalikan dengan hukum Say: “Permintaan menciptakan penawarannya sendiri” (1973a: 18-21,111)
  2. Anggaran Pemerintah federal harus dijaga dalam keadaan tidak seimbang pada masa resesi. Kebijakan fiskal dan moneter harus ekspansif sampai kemakmuran pulih kembali, dan suku bunga harus dibuat tetap rendah (1973a: 128-31, 322)
  3. Pemerintah harus meninggalkan kebijakan laissez faire dan mesti campur tangan di pasar jika diperlukan. Menurut Keyenes, pada masa susah akan diperlukan kebijakan merkantilis, termasuk tindakan proteksionis (1973a: 333-71)
  4. Standar emas adalah cacat karena inelastisitasnya menjadikannya tidak mampu merespons kebutuhan bisnis yang semakin meningkat. Lebih baik menggunakan kebijakan pengendalian uang (fiat money) (1973a: 235-56; 1971: 140). Keynes tidak menyukai standar emas dan dia berhasil menggantikan emas sebagai standar emas moneter internasional.

Keynes percaya bahwa problem kelangkaan ekonomi universal  akhirnya dapat diatasi dengan dengan memperbesar kredit secara progresif untuk meningkatkan full employment. Suku bunga akan turun ke titik nol dan manusia akan memasuki kembali Taman Sorga. Dalam pikiran Keynes, standar emas membatasi ekspansi kredit dan mempertahankan kelangkaan. Jadi, inelastisitas emas yang dianggap bagus oleh ekonom klasik, menghalangi jalan menuju sorga Keynes dan harus ditinggalkan dan digantikan dengan inflasi uang (1963: 360-73). Kesepakatan Bretton Woods adalah langkah pertama untuk menyingkirkan emas dari sistem moneter dunia. Jelas Keynes akan senang jika melihat peran emas telah hamper mati di dalam sistem moneter internasional abad 21.

  • Siapa Mesti Disalahkan? Investor yang Tidak Rasional!

Keynes menyalahkan penyebab ketidakstabilan kapitalisme pada perilaku investor yang buruk. The General Theory menciptakan model makroekonomi berdasarkan hipotesis ketidakstabilan finansial. Seperti dikatakan ekonom Keynesian, Hyman P. Minsky, “Aspek esensial dari General Theory Keynes adalah analisis mendalam terhadap cara kekuatan finansial yang bisa kita karakteristikkan sebagai Wall Street; berinteraksi dengan produksi dan konsumsi untuk menentukan output, besarnya lapangan kerja, dan harga” (1986: 100). Allan H. Meltzer di Carnegie Mellon University menawarkan interpretasi yang sama, bahwa teori lapangan kerja dan output Keynes tidak berkaitan secara erat dengan tingkat upah yang kaku (rigid) sebagaimana dengan ekspektasi dan ketidakpastian dalam investasi dan pasar modal (Meltzer 1988 [1968]

Banyak bagian dalam The General Theory mendukung pandangan ini. Keynes mengeluhkan “semangat kebinatangan” yang dangkal dan irasional dari spekulator yang membuang saham untuk mendapatkan likuiditas pada masa krisis. “Gelombang psikologi yang irasional” itu membahayakan ekspektasi jangka panjang. Menurutnya, “Dari prinsip keuangan ortodoks, tak ada yang lebih bersifat anti-sosial ketimbang pemujaan pada likuiditas, doktrin, bahwa mengonsentrasikan sumber daya pada penyimpanan sekuritas yang “likuid” adalah hal yang positif bagi institusi investasi” (1973a: 55). Menurut Keynes pasar saham bukan sekedar cara efisien untuk menaikkan kapital dan standar hidup, tetapi juga mirip dengan kasino atau permainan peluang.

Keynes berbicara berdasarkan pengalaman. Dia beralasan bahwa krisis 1929-1932 telah menghancurkan portofolionya tanpa sebab ekonomi yang rasional, kepanikan itu berhubungan dengan permintaan irasional akan uang tunai di Wall Street, yang disebutnya sebagai “preferensi likuiditas” dan “pemujaan likuiditas” (1973a: 155)

  • Biang Keroknya Adalah Tabungan yang Tidak Diinvestasikan

Dalam model Keynes, faktor kunci yang menyebabkan keruntuhan ekonomi itu adalah pemisahan tabungan dengan investasi. Jka tabungan tidak diinvestasikan, pengeluaran total dalam ekonomi akan turun di bawah full employment. Jika tabungan ditumpuk-tumpuk atau dibiarkan dalam bentuk simpanan yang berlebihan di bank, seperti kasus 1930-an, maka pemujaan terhadap likuiditas ini akan menyebabkan investasi dan output nasional melorot tajam.

Dalam The General Theory, Keynes berpendapat bahwa saat pendapatan dan kekayaan terkumpul di bawah kapitalisme, muncul ancaman yakni tabungan tidak akan diinvestasikan. Keynes memperkenalkan “hukum psikologis” yakni “kecenderungan marginal untuk menyimpann” akan naik bersama naiknya pendapatan (1973a: 31, 97). Yakni, saat individu mendapat lebih banyak pendapatan dan semakin kaya, mereka cenderung menyimpan dalam persentase yang lebih besar. Jadi, ada kecenderungan kuat untuk menabung yang kenaikannya tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan nasional. Tetapi bukankah ekonomi kapitalis yang sedang tumbuh selalu berada dibawah tekanan untuk menginvestasikan simpanan yang meningkat itu? Keyenes menjawab, “Mungkin iya, mungkin tidak.” Jika tabungan tidak diinvestasikan, perekonomian akan merosot.

Sesungguhnya kritik terhadap tabungan yang tidak diinvestasikan ini sudah lama dipikirkan Keynes. Dia mengakui perlunya penghematan dan pengendalian diri di abad 19 dalam salah satu bagian dari karyanya yang berjudul The Economic Consequance of the Peace (1920: 18-22) dengan menyatakan bahwa penghematan “memungkinkan akumulasi kekayaan dan peningkatan modal yang membdakan abad itu dari abad yang lain” (1920: 19). Tetapi dalam A Treatise on Money (1930), Keynes mengemukakan adanya kemungkinan bahwa tabungan dan investasi dapat berkembang secara terpisah, menciptakan lingkaran bisnis. Dalam masyarakat modern menabung dan berinvestasi dilakukan oleh dua kelompok yang berbeda. Menabung adalah “tindakan negatif untuk mengendalikan pengeluaran”, sedangkan investasi adalah “tindakan positif untuk memulai atau mempertahankan beberapa proses produksi” (1930: 155). Suku bunga bukan “mekanisme otomatis” yang menyatukan keduanya (tabungan dan investasi) keduanya dapat keluar dari jalur” (1963: 393) dan tabungan bersifat “abortif”. Jika investasi melebihi tabungan, akan terjadi ledakan perekonomian, jika tabungan melebihi investasi, yang terjadi adalah penurunan.

Sepanjang masa depresi 1930-an, Keynes mengecam para penabung dan penimbun yang terlampau hemat. Kebijaksanaan konvensional di masa-masa buruk adalah mnegurangi biaya, menghindari utang, menjaga uang tunai yang kuat, dan mneunggu sampai terjadi pemulihan. Keynes menentang pendekatan “usang” ini, dan dia bergabung dengan ekonom lainnya, termasuk Ralph Hawtrey, pejabat di departemen Keuangan Inggris, dan profesor dari Harvard frank Taussig, untuk mendorong agar konsumen membelanjakan pendapatannya.

Pertentangan Keynes terhadap penghematan mencapai puncaknya dalam The General Theory dimana di menyebut pandangan tradisional tentang tabungan sebagai “absurd”. Dia dengan tegas menulis, “Semakin hemat diri kita, semakin kita tergantung kepada tabungan, semakin ortodoks cara pembiayaan pribadi dan bangsa kita, akan semakin turun pendapatn kita” (1973a: 111, 211) Keynes menguji gagasan heterodoks dari tokoh-tokoh underground dan orang-orang aneh di bidang moneter, seperti Bernard de Mandeville, J.A. Hobson, dan Silvio Gessel, yang menganut pandangan underconsumptionist (1973a: 333-71). Dia jelas terpengaruh oelh popularitas Major Douglas dari gerakan kredit sosial dan tokoh underconsumptionist Foster dan Catchings selama era 1920-an.

  • Keynes Memfokuskan pada Pengeluaran sebagai Unsur Utama

Menurut Keynes, tabungan adalah bentuk pengeluaran yang tak dapat diandalkan . ia hanya “efektif” jika tabungan diinvestasikan oleh dunia usaha. Jadi, tabungan yang ditimbun, disimpan di bank, adalah buruk bagi perekonomian.

Yang penting adalah “permintaan efektif”, istilah baru yang diperkenalkan dalam Bab 3 The General Theory. Apa-apa yang dikeluarkan oleh konsumen dan bisnis akan menentukan output nasional. Keynes mendefinisikan permintaan efektif sebagai output agregat (Y), yang merupakan penjumlahan dari konsumsi © dan investasi (I) dirumuskan : Y = C + I

Sekarang kita menyebutnya Y, atau “permintaan efektif” agregat sebagai produk domestic kotor (GDP). GDP didefinisikan sebagai nilai dari output final dari output final dari barang dan jasa selama setahun.

  • Permintaan Menciptakan Penawaran!

Solusi Keyenes untuk resesi adalah menaikkan permintaan efektif . dengan menstimulasi permintaan melalui penegleuaran tambahan, lebih banyak barang akan diproduksi dan ekonomi akan pulih. Dalam pengertian ini, Keyens membalikkan hukum Say. Permintaan menciptakan penawaran bukan sebaliknya.

Pada masa resesi, tidak hanya banyak pilihan untuk menaikkan Y (Output nasional;). Pada masa penurunan, komunitas bisnis mungkin takut membahayakan kapital pada I (investasi). Demikian pula konsumen mungkin tidak mau menaikkan C (konsumsi) karena pendapatan mereka tidak menentu.  Baik investor maupun konsumen lebih senang menunda aktivitas mereka.

  • Menambahkan G pada persamaan

Menurut Keynes, pemerintah harus melakukan pengeluaran. Oleh karena itu Dia menambahkan G (Government) pada persamaan pendapatan nasional sehingga    (Y = C + I + G) . Keynes memandang G (Pemerintah) sebagai agen independent yang mampu menstimulasi perekonomian melalui kerja publik dan percetakan. Kebijakan pemerintah yang ekspansioner dapat menaikkan “permintaan efektif” jika sumber daya dipakai tanpa merugikan konsumsi atau investasi. Dalam kenyataannya, selama resesi, kenaikan dalam G akan mendorong C dan I dan karenanya menaikkan Y.

  • Menelisik Lebih Dalam: Keynes Mendukung Kebijakan Fiskal Aktif

Keynes menghindari solusi ekonomi klasik untuk mengatasi kemerosotan, yang menganjurkan “pengencangan ikat pinggang” dengan cara memotong harga, upah dan mengurangi pengeluaran sia-sia sambil menunggu ekonomi pulih kembali. Sebaliknya, dia menganjurkan agar selama resesi dilakukan pengeluaran defisit oleh Pemerintah federal untuk menggerakkan ekonomi. Dia bahkan mendukung pendekatan yang lebih radikal pada masa depresi yang parah seperti era 1930-an; pemerintah boleh melakukan pengeluaran yang sia-sia tetapi bisa membantu pemulihan.

 

  • Keynes mendukung Kerja Publik Ketimbang Inflasi Moneter

Keyenes menganggap bahwa bermain-main dengan kebijakan fiskal (mengubah pengeluaran dan pajak) lebih efektif ketimbang kebijakan moneter (mengubah persediaan uang dan bunga). Keynes tidak percaya lagi pada kebijakan moneter dan Federal reserve pada 1930an, ketika suku bunga sangat rendah sehingga menurunkannya juga tidak ada gunanya. Meminta federal Reserve untuk memperbanyak persediaan uang juga tidak efektif karena bank tidak mau meminjamkan secara berlebihan. Keynes menyebutkan hal ini sebagai “perangkap likuiditas”. Uang baru akan menumpuk tak terpakai dan tak diinvestasikan karena adanya “preferensi likuiditas”, keinginan untuk memegang uang selama depresi berat (1973a: 207)

 

  • Bagaimana Multiplier Menghasilkan Full Employment

Multiplier, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Rihard Kahn adalah alat baru yang berguna dalam kotak peralatan Keynesian. Konsep ini menunjukkan bahwa “kenaikan sedikit saja dalam investasi akan menaikkan full employment” (J.M Keynes 1973a: 118). Pada akhirnya, investasi publik memiliki efek multiplier yang menciptakan tahap-tahap penurunan pengeluaran secara perlahan. Pada saat pengeluaran baru berjalan, pengeluaran agregat telah naik sepuluh kali lipat. Rumus Keynes untuk multiplier k adalah:K =      1___

1 – MPC

Dimana MPC = marginal propensity to consume (kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi)

  • Keynes Menawarkan Tindakan drastic untuk mensatabilkan Kapitalisme

Keynes tidak puas dengan tindakan temporer seperti kerja publik dan pengeluaran defisit untuk menciptakan lapangan kerja penuh ( full employment). Setelah output maksimu tercapai, menurutnya tidak ada alasan untuk percaya kondisi itu akan tetap selamanya. Menurut Keynes investasi adalah kegiatan yang tidak bisa diprediksi dan hanya berlangsung sementara. Ekspektasi jangka penjang, iklim bisnis yang stabil, dan tabungan yang sama dengan investasi tidak bisa dijamin bertahan selama “semangat binatang” yang irasional masih beroperasi di dalam pasar finansial laissez faire. Solusi Keynes adalah mendukung “solusi investasi” bertahan tetapi komprehensif sebagai “satu-satunya cara menjamin keadaan yang mendekati full employment” (1973a: 378). Ini bukan berarti “sosialisme Negara” tetapi berarti bahwa pemerintah memiliki seluruh pasar modal. Keynes juga menyetujui “pajak transfer” kecil untuk semua penjualan sekuritas sebagai cara untuk mengurangi spekulatif.

  1. 6.      Siapakah Yang Diuntungkan oleh Mazhab Keynesian?

Keberhasilan ilmu ekonomi Keynes yang terbilang besar untuk sebagian disebabkan oleh keberhasilannya dalam melenyapkan masalah pada saat itu, yakni, depresi dan pengangguran. Mereka yang memperoleh keuntungan dari teorinya itu, diantaranya meliputi (Jacob Oser dan Stanley L. Brue, The Evolution of Economic Thought, Harcourt Brace Jovanovich, Publisher, sa Diego, 1988, h. 414):

  1. Keseluruhan masyarakat memperoleh manfaat dari teori Keynes karena perekonomian mencapai kesempatan kerja penuh atau lebih penuh, dan individu-individu dan kelompok-kelompok yang menderita kerugian karenanya (misalnya, para administrator program kompensasi pengangguran) dapat dengan mudah diabaikan.
  2. Kendatipun buruh terkadang berkeberatan terhadap usulan-usulan Keynesian tertentu, mereka dengan kuat menyetjui tujuan-tujuan Keynes yang lebih besar. Keanaikan permintaan keseluruhan menuju pasar buruh yang ketat dan memperkenankan serikat buruh untuk bernegoisasi untuk memperoleh upah dan kondisi kerja yang lebih baik dengan ketakutan akan kehilangan kerja yang lebih sedikit merupakn salah satu keuntukngan daripadanya.
  3. Kepentingan bisnis dapat dipennuhi oleh perjanjian-perjanjian dan dorongan pemerintah untuk dapat melepaskan diri dari resesi atau depresi. Ketika para banker memiliki cadangan yang berlebihan dalam tahun 1930-an, mereka menemukan daerah luas dan menguntungkan untuk melakukan investasi dalam obligasi pemerintah, dan pengawasan pemerintah memberi sistem perbankan likuiditas, keamanan, dan stabilitas.
  4. Para petani telah lama menikmati kebijaksanaan moneter yang mudah dan suku bunga yang rendah. Mereka pun sangat menggantungkan diri pada program-program pemerintah yang sangat besar untuk sektor pertanian
  5. Dalam tahun 1960-an dan 1970-an konsumen umumnya menganggap beruntung karena pemotongan pajak dan mendukung politisi yang mendorong dan menyuarakan kepentingan mereka. Pemotongan itu yang tidak dibarengi oleh penurunan belanja pemerintah keseluruhan, disahkan oleh asas Keynesian bahwa mereka perlu mendorong permintaan dan pertumbuhan ekonomi. Dalam tahun 1980-an alasan untuk pemotong pajak dilakukan atas orientasi ‘sisi penawaran’ meskipun mungkin dianggap bertentangan dengan orientasi permintaannya, namun akhirnya konsisten dengan asas-asas Keynesian.
  6. Para reformmis dan intelektual bergembira karena terjadi kenaikan kesempatan kerja dalam birokrasi pemerintah

 

  1. Keabsahan Teori Keynes

Pada tahun 1920an inflasi menyusut dan Inggris menjadi sebuah negara yang mengalami fluktuasiekonomi dan priode pengangguran yang berkepanjangan. Melalui karyanya, ATreatise on Money (Keynes, 1971-89,vol. 5 dan 6) Keynes meneliti secara rinci hubungan antara uang, harga dan pengangguran. Keynes menunjuk hubungan antara investasi dan tabungan adalah factor utama penyebab terjadinya fluktuasiekonomi. Menurut Keynes, ketika orang menabung lebih banyak dibandingkan peruashaan yang berinvestasi, maka perusahaan akan mengalami kelebihan kapasitas produksi, sedangkan konsumennya barkurang, disislain apabila investasi melebihi yabungan, maka pengeluaran dalam perekonomian akan semakin banyak. Semua pengeluaran ini akan menyebabkan naiknya upah dan biaya produksi dan juga naiknya harga barang-arang yang dikonsumsi masyarakat, sehingga akan terjadi inflasi.

Antara investasi dan tabungan merupakan dua kegiatan yang dilakukan oleh rumah pelaku ekonomi yang berbeda yajni rumah tangga konsumen dan erusahaan,sehingga untuk mencapai keputusan yang seimbang antara investasidan tabungan sukit dicapai. Keynes kemudian berpendapat bahwa bank sentral lah  yang bartugas untuk menyeimbangkan dua variable ini. Jika tabungan melebihi investasi, bank sentral harus menurunkan suku bunga. Sehingga tabungan akan berkurang dan memicu peminjaman. Sebaliknya, apa bila investasi melebihi taungan, bank sentral harus menaikan suku bunga sehinggaa menaikan tabungan dan mengurangi pinjaman.                                                                                                          Keynes kemudian menjelaskan tentang apa yang menentukan tingkat suku bunga. Menurut Keynes, suku bunga ditentukan oleh pasar uang tempat orang dan perusahaan menginginkan uang peran bank sentral disini sebagai pengendali peredaran uang. Permintaan uang berasal dari keputusan portofolio yang dibuat oleh orang-orang dan perusahaan. Mereka bisa tetap menyimpan uang atau menyimpannya dalam bentuk saham, obligasi dan asset-aset lainnya. Ketika bank sentral menaikan penawaran uang mereka akan membeli obligasi pemerintah, akan tetapi keputusan ini mengandung  konsekuensi. Konsekuensinya bahwa harga obligasi berhubungan secara terbalik dengan tingkat suku bunga jika obligasi naik, maka suku bunga akan mengalami penurunan, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu ketika bank sentral membeli obligasi, hal ini menaikan harga obligasi dan menurunkan tingkat pengembalian aset. Dipihak lain, apabila bank sentral ingin mengurangi peredaran uang maka pemerintah harus menjual obligasi. Agar masyarakat mau membeli obligasi ini maka harus ditawarkan dengan harga yang rendah, dan mereka akan memperoleh tingkat pengembalian uang yang tinggi,atu tingkat suku bunga akan naik.Keynes m endukung penciptaan uang(kebijakan moneter) serta pengeluaran pemerintah dan pemotongan pajak(kebijakan piskal). Dalam beberapa bagian Keynes (1971-1989, vol.7, hlm. 378) menyerukan “sosialisasi investasi yang menyeluruh.”  Yang dimaksud Keynes disini adalah Keynes mendukung kebijakan pengeluaran pemerintah untuk menstabilkan tingkat investasi  agregat dalam perekonomian nasional. Keynes percaya bahwa pengeluaran konsumen relative stabil, dan hany berubah sedikit dari tahun ke tahun. Tetapi investasi bisnis dikendalikan oleh” semangat kebinatangan” yang berubah-ubah. Perubahan dalam kepercayaan bisnis atau ekspetasi tentang masa depan akan mengubah tingkat investasi dan memiliki dempak basar terhadap ekonomi. Ketika perusahaan yakin tentang perekonomian, mereka akan lebih banyak melakukan investasi dan perekonomian akan berkembang pesat. Perkembangan ini akan memperkuat tentang ekspektasi keuntungan, dan mengakibatkan bertambahnya optimism dan investasi. Dilain pihak yang lain apabila perkiraan kinerja ekonomi yang buruk akan menurunkan investasi, memperlambat perekonomian dan memperkuat pesimisme perusahaan akan keuntungan di masa depan. Dan akibat dari hail tersebut ketika muncul optimism perekonomian akan berkembang pesat, namun sebaliknya ketika terjadi pesimisme perekonomian akn mengalami penurunan investasi yang dramatis dan terjadi pengangguran besar-besaran.

Solusi yang ditawarkan Keynes atas  permasalahan tersebut adalah pemerintah harus menstabilkan tingkat investasi. Ketika tingkat investasi swasta rendah, seharusnya meminjam uang(yaitu menjalankan deficit anggaran) dan berperan serta dalam investasi public seperti pembuatan jalan raya dan jembatan baru dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk sekolah dan pendidikan  yang lebih baik. Sebaliknya apabila investasi bisnis tinggi pemerintah  harus menghentikan peminjaman dan mengurangi investasi public.

Pada tahun 1940 keynes kembali bekerja di pemerintahan Inggris, pada saat perng dunia II ia mengembangkan usulan untuk membantu keuangan Inggris, Keynes mengusulkan sebuah sebuah rencana tabungan wajib atau pembayaran yang ditunda(deferred pay). Idenya adalah semua warga Negara dengan pendapatan yang lebih besar dibandingkan pendapatan minimal akan diambil sebagian uang upahnya dan dimasukkan dalam rekening khusus. Rekening ini akan memperoleh bunga selama perang berlangsung dan  tidak bisa diambil kecuali dalam keadaan darurat.

Setelah perang dunia II berahkir, Keynes bekerja untuk aransemen moneter internasional yang dikembangkan oleh pemerintah-pemerintah Negara pemenang perang. Ia meyakini bahwa penyebab utama dari depresi duni pada tahun 1930-an adalah karena setiap Negara berusaha untuk mengekspor pengangguran ke mitra dagangnya. Dengan menciptakan surplus perdagangan setiap Negara akan memproduksi banyak barang dan menbuka banyak lapangan kerja, sedangkan kondisi Negara mitranya akan mengimpor barang-barang tersebut. Akibatnya, semakin sedikit pekerja yang dibutuhkan dan pengagguran akan tinggi atau meningkat. Sebagian besar Megara menciptakan surflus perdagangannya dengan mendevaluasi mata uangnya. Dengan nilai mata uang asing yang lebih tinggi dan harga barang-barang luar nergi lebih mahal, Negara berharap masyarakat lebih banyak membeli produksi dalam negri. Masalahnya adalah ketika suatu Negara mendevaluasi mata uangnya dalam rangka menciptakan ekspor dan lapangan kerja untuk warga negaranya, Negara lainpun akan melakukannya. Hasilnya adalah serangkaian devaluasi di semua Negara yang tidak berarti.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut, Keynes mengusulkan system nilai tukar relatif tetap.  System ini kemudian dikenal dengan nama system Bretton Wood. System ini mensyaratkan setiap Negara menetapkan mata uang asingnya pada satu ons emas dan mempertahankannya pada tingkat itu. Karena setiap mata uang terikat dengan emas, maka setiap mata uang akan terikat dengan mata uang Negara lainnya.

Bretton Wood dijalankan selama 25 tahun. Sepanjang periode ini pertumbuhan ekonomi dunia berada pada tingkat yang belum pernah tercapai sebelumnya dan tingkat pengangguran di Negara-negara maju mencapai titik terendah. Akan tetapi system ini berakhir pada agustus 1971 karena pemerintahan Amerikaserikat khawatir ketika terjadi kesepakatan nilai tukar ttetap dicapai, emas akan cepat mengalir keluar ke Negara lain. Oleh sebab itu lahirlah system nilai tukar variable dan fleksibel yang digunakan sampai sekarang.

Cara kedua yang diajukan oleh Keynes untuk menangani dampak devaluasi yaitu dengan menetapkan mekanisme internasional untuk membantu menghilangkan ketidak seimbangan. Keynes ingin membangun system yang akan meminjamkan uang kepada Negara yang menjalankan deficit anggaran dan menghukum Negara-negara yang terus- menerus menjalankan surplus perdagangan. Sebgaimana kebijakan piskal dan moneter yang terkandung dalam The General Theory. Hal ini akan mendorong Negara mengeluarkan uang untuk barang luar negri dank arena itu menahan setiap kecenderungan menuju depresi lain.

  1. Konsistensi teori keynes di masa sekarang
  • teori-teori Keynes mendapatkan kritikan, paling tidak dari tiga jurusan yakni dua mewakili penafsiran minorotas Keynes dan ketiga merupakan suatu serangan langsung (James W Dean 1987), hal ini ditandai dengan lahirnya aliran “pasca Keynes” yang dimotori oleh Nicolas Kaldor dan Joan Robinson kemudian dilanjutkan dengan serangan oleh kelompok evolusioner dengan menyatakan bahwa teori makro neo-keynesian tidak konsisten dengan aksioma kramat neoklasik mengenai maksimasi universal secara konvensional diasosikan dengan keseimbangan untuk seluruh pasar, teori neo Keynesian juga melanggar aksioma lainnya yakni “hukum Walras” yang membenarkan kesimbangan umum.  Dilain pihak Robert Clower pada tahun 1965 menulis “hukum Walras” yang tidak sesuai dengan ekonomi Keynes, atau Keynes yang tidak mempunyai sesuatu yang pada dasarnya baru untuk ditambahkan pada teori ekonomi ortodoks, perhatian Clower ini berangkat dari pengelihatannya, bahwa kunci hubungan prilaku makro Keynes, yakni “fungsi konsumsi” tidak konsisten dengan maksimasi tingkat mikro.
  • Penerapan Keynesian berhasil mengatasi resesi dunia 1930 dan melahirkan Bretton Woods. Amerika Serikat di bawah Presiden John F. Kennedy dan Richard Nixon menerapkan Keynesian untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi Keynesian tak dapat mengimbangi dinamika pergerakan sektor moneter. Lalu dipelopori oleh Prof Samuelson dengan teori Neo Classic Monetarism, Presiden Ronald Reagan dan PM Inggris Margarett Tacher menerapkan Classical Economics. Ajaran ini ternyata mengakibatkan fluktuasi investasi dan kesempatan kerja dan pada 1982 tidak dipakai lagi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Skousen, Mark. 2006. Sang Mestro”Teori-teori Ekonomi Modern”: Sejarah Pemikiran Ekonomi.  Jakarta: Perdana Media.
  2. Pressman, Steven. 2001. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: PT. Grapindo persada
  3. Kusnendi. 2002. Teori Makro Ekonomi. Bandung: Prodi Ekonomi dan Koperasi UPI
  4. Sastradipura, komarudin. 2001. “Sejarah Pemikiran Ekonomi”:Suatu Teori dan Kebijaksanaan.Bandung: Kappa-Sigma
Powered by Blog.com