Secara singkat, pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Dalam pengertian itu terdapat tiga aspek yang perlu digarisbawahi, yaitu proses, output per kapita, dan jangka panjang. Pertumbuhan sebagai proses, berarti bahwa pertumbuhan ekonomi bukan gambaran perekonomian ada suatu saat. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan output per kapita, berarti harus memperhatikan dua hal, yaitu output total (GDP) dan jumlah penduduk, karena output per kapita adalah output total dibagi dengan jumlah penduduk. Aspek jangka panjang, mengandung arti bahwa kenaikan output per kapita harus dilihat dalam kurun waktu yang cukup lama (10, 20, atau 50 tahun, bahkan bisa lebih lama lagi) (Sahibul Munir: 2008).

Pertumbuhan ekonomi yang pesat merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad belakangan ini. Dalam periode tersebut dunia telah mengalami perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sampai abad ke 18 kebanyakan masyarakat di berbagai negara masih hidup pada tahap subsitensi dan mata pencarian utamanya adalah dari melakukan kegiatan di sektor pertanian, perikanan, dan berburu.

Masalah pertumbuhan sudah menarik minat para ahli ekonomi sejak masa Adam Smith sampai dengan banyak para ahli ekonomi dewasa ini yang pada waktu-waktu yang lalu perhatian para ahli-ahli ekonomi itu terutama hanya tertuju pada masalah pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, dewasa ini perhatian sebagian dari mereka telah pula diarahkan pada masalah pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang yang kemudian menjadi cabang ilmu ekonomi tersendiri, yaitu ilmu ekonomi pembangunan.

Pertumbuhan ekonomi dalam suatu periode tertentu dapat dinyatakan secara matematik sebagai dy/dt (y=output nasional total, t=waktu, periode tertentu yang digunakan), jadi bertambahnya output total selama periode tertentu untuk memenuhi keperluan hidup yang juga semakin berkembang. Dalam jangka pendek output total akan dipengaruhi hanya oleh input yang bersifat mudah berubah, input variabel (Sahibul Munir: 2008). Dinyatakan dalam rumus matematik hubungan output dan input membentuk  sebagai fungsi produksi.

Y= f (TK, K, T)

TK  =  tenaga kerja yang merupakan input variabel

K    =  barang modal yang merupakan input tetap

T  = teknologi yang digunakan, yang dianggap atau tidak berubah dalam jangka pendek ( Sahibul Munir : 2008).

Pertumbuhan ekonomi tentu saja menyangkut periode waktu, karena itu hanya dapat terjadi dalam jangka panjang. Artinya bagaimana output total dapat ditingkatkan dalam jangka panjang dengan pengertian bahwa semua input adalah input variabel. Kendala yang membatasi hanyalah ketersediaan input itu yang akan mempengaruhi kapasitas produksi negara/masyarakat itu. Dalam ekonomi yang tumbuh tentu saja batas kapasitas produksi juga akan berubah. Peningkatan batas kapasitas produksi dapat terjadi karena bermacam-macam faktor. Dari ketiga variabel yang mempengaruhi besarnya total output di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan output total dapat terjadi karena pengaruh perubahan salah satu atau kombinasi perubahan ketiga faktor tersebut, yaitu :

a) Tenaga Kerja

-    peningkatan jumlah tenaga kerja yang pada umumnya berasal dari peningkatan jumlah penduduk.

-    peningkatan produktivitas tenaga kerja yang disebabkan oleh meningkatnya kualitas tenaga kerja itu, baik fisik (perbaikan gizi, kesehatan, lingkungan, dan lain sebagainya) maupun mental (pendidikan, agama, sikap dan sebagainya).

b) Modal (termasuk sumberdaya alam maupun tanah)

-    penambahan yang berasal dari keputusan produksi dalam negeri yang lebih mengutamakan produksi barang modal daripada barang konsumsi.

-    penambahan yang berasal dari luar negeri.

c) Teknologi

-    perubahan sistem dan proses produksi dengan menggunakan teknologi yang lebih canggih (Sahibul Munir : 2008).

TEORI-TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

 

1. Werner Sombart (1863-1947) (Aliran Historis)

Menurut Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:

a) Masa perekonomian tertutup

Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri:

• Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri

• Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen

• Belum ada pertukaran barang dan jasa

b) Masa kerajinan dan pertukangan

Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

• Meningkatnya kebutuhan manusia

• Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian

• Timbulnya pertukaran barang dan jasa

• Pertukaran belum didasari profit motive

c) Masa kapitalis

Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa sebagai berikut:

• Tingkat prakapitalis

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Kehidupan masyarakat masih statis

(2). Bersifat kekeluargaan

(3). Bertumpu pada sektor pertanian

(4). Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri

(5). Hidup secara berkelompok

• Tingkat kapitalis

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Kehidupan masyarakat sudah dinamis

(2). Bersifat individual

(3). Adanya pembagian pekerjaan

(4). Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan

• Tingkat kapitalisme raya

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:

(1). Usahanya semata-mata mencari keuntungan

(2). Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi

(3). Produksi dilakukan secara masal dengan alat modern

(4). Perdagangan mengarah kepada ke persaingan monopoli

(5). Dalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu majikan dan buruh

• Tingkat kapitalisme akhir

Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu :

(1). Munculnya aliran sosialisme

(2). Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi

(3). Mengutamakan kepentingan bersama

(Herlan Firmansyah: 2009)

2. Friederich List (1789-1846) (Aliran Historis)

Friederich List seorang ekonom Jerman membagi tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang dialami suatu Negara berdasarkan teknik produksi dan cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Lebih lanjut, List mengatakan bahwa kita bisa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari data sejarah (Deliarnov, 2003:129).

Menurut Friederich List, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:

a. Masa berburu dan pengembaraan

Pada tahap ini manusia dalam memenuhi kebuhan hidupnya sangat tergantung pada pemberian alam yang hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.jika makanan dan binatang disekitarnya telah habis, mereka akan pindah ke tempat lain yang baru.

b. Masa beternak dan bertani

Pada masa ini masyarakat sudah menetap. Kebutuhan akan makanan dan daging sudah dilaksanakan melalui beternak dan bertani

c. Masa bertani dan kerajinan

pada masa ini masyarakat selain bertani juga membuat kerajinan-kerajinan terutama yang berhubungan dengan kerajinan, seperti pandai besi dan kerajinan lainnya.

d. Masa kerajinan, industri, perdagangan

pada masa ini masyarakat memandang bahwa kerajinan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan mengisi waktu luang melainkan juga untuk di jual sehinnga muncullah industry besar. Pada masa inilah muncul kota-kota sebagai pusat pusat industry, perdagangan pun meningkat bukan hanya di dalam negeri tetapi juga dengan luar negeri.

(Nurjaka, 2002 :331)

3. Karl Bucher (1847-1930)

Menurut Karl Bucher, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibedakan menjadi empat

tingkatan sebagai berikut:

a. Masa rumah tangga tertutup

pada tahap ini kebutuhan masyarakat masih sangat sederhana dan tertutup. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil buatan kelompoknya sendiri. Pada masa ini pertukaran belum terjadi.

b. Rumah tangga kota

Pada masa ini mereka mulai merasakan bahwa kebutuhannya terpenuhi dengan produksinya. Namun harus diperoleh dari masyarakat lain. Oleh karena itu, pada masa ini dikenal istilah pertukaran.

c. Rumah tangga bangsa

Kebutuhan akan hasil produksi orang lain semakin disadarinya pertukaran yang pada awalnya dilakukan antara kelompok kecil lama kelamaaan dilaksanakan dengan ruang lingkup yang lebih luas, satu Negara. Oleh karena itu pada masa ini disebut rumah tangga bangsa.

d. Rumah tangga dunia

kebutuhan akan produksi bangsa lain ditambah dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi, maka pertukaran antara bangsa (Negara) sudah tidak bisa dielakkan, maka kegiatan ekspor impor akan terjadi (Nurjaka, 2002 :332).

4. Walt Whiteman Rostow (1916-1979)

W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya yang bejudul The Stages of Economic Growth bahwa pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:

• Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

Rostow mengartikan tahap masyarakat tradisional sebagai masyarakat yang strukturnya berkembang di dalam funsi produksi yang terbatas, yang didasarkan kepada teknologi, ilmu pengetahuan dan dan sikap masyarkat yang seperti di sebelum masa Newton, yang dimasksudkan oleh Rostow dengan masyarakat sebelum masa Newton adalah suatu masyarakat yang masih menggunakan cara-cara memproduksi yang relative primitf dan cara hidup masyarakat yang yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh cara pemikiran yang bukan rasionil, tetapi oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun. Menurut Rostow dalam suatu masyarakat tradisionil tingkat produksi perkapita dan tingkat produktivitas pekerja masih sangat terbatas, oleh sebab itu sebagian besar dari sumber-sumber daya masyarakat digunakan dalam sektor pertanian (Sadono Soekirno, 1985:103).  Jadi,menurut Rostow masyarakat tradisional memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

1.    Merupakan masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas.

2.    Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern

3.    Terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai

• Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the preconditions for take off)

Corak dari tahap prasyarat untuk lepas landas dibedakan oleh Rostow menjadi dua jenis. Yang pertama adalah tahap prasyarat untuk lepas landas yang dicapai oleh Negara-negara  Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika;yang dilakukan dengan merombak masyarakat tradisionil yang sudah lama ada. Bentuk yang kedua adalah yang dicapai oleh Negara-negara yang dinamakan oleh Rostow Born free yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru yang dapat mencapai tahap prasyarat untuk lepas landas tanpa harus merombak sistem masyarakat yang tradisionil karena masyarakat Negara-negara itu terdiri dari imigran yang telah mempunyai sifat-sifat yang diperlukan oleh sesuatu masyarakat untuk mencapai tahap prasyarat untuk lepas landas (Sadono Soekirno, 1985:103).

Tahap pra lepas landas itu memiliki cirri sebagai berikut:

1.    Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi.

2.    Sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang pertanian maupun di bidang industri.

• Periode Lepas Landas (The take off)

Dalam tahap lepas landas pertumbuhan meupakan peristiwa yang selalu berlaku. Permulaan dari lepas landas adalah berupa berlakunya perubahan yang sangat drastic dalam masyarakat, seperi revolusi politik, terciptanya kemajuan pesat dalam inovasi atau berupa terbukanya pasaran-pasaran baru.jadi faktor penyebab dimulainya masa lepas landas berbeda-beda.Yang penting sebagai akibat dari perubaha-perubahan ini secara teratur akan tercipta pembaharuan-pembaharuan (innovation)dan peningkatan penanaman modal. Dan penanaman modal yang makin bertambah tinggi tingkatnya ini mengakibatkan tingkat pertambahan pendapatan nasional menjadi bertambah laju dan akan melebihi tingkat pertambahan penduduk. Dengan demikian tingkat pendapatan perkapita makin lama akan menjadi makin bertambah besar (Sadono Soekirno, 1985:103). Ciri-ciri masyarakat periode lepas landas:

1.    Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari produk nasional netto (Net National Product atau NNP)

2.    Adanya atau segera terciptanya suatu ranka dasar politik, social dan institusional yang akan menciptakan menjadi kenyataan (i) segala gelonjak-gelonjak untuk membuat perluasan di sektor modern, dan (ii) potensi ekonomi ekstern (external economic)yang ditimbulkan oleh kegiatan lepas landas sehingga menyebabkan pertumbuhan akan terus menerus berlaku.

3.    Kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di perluas

4.    Tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat

5.   Investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan nasional.

6.    Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi dengan cepat.

• Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity)

Adalah suatu masa dimana suatu masyarakat secara efektif menggunakan teknologi modern pada sebagian besar faktor –faktor produksi dan kekayaan alam (Suryana:64).

Ciri penting pada tahap ini adalah:

  1. Teknologi menyebar pada sektor perekonomia
  2. Adanya perluasan produksi

Selanjutnya Rostow menyinggung cirri yang bersifat non ekonomi dan hamper memasuki tahap berikutnya, yaitu:

  1. Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan, sektor industri tambah penting peranannya, sedangkan sektor pertanian bertambah menurun
  2. Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan. Peranan manajer perusahaan professional menjadi bertambah penting.
  3. Masyarakat menjadi bertambah bosan dengan kewajiban yang diciptakan oleh individu.

Menurut Herlan Firmansyah,2009 ciri-ciri tahap ini adalah:

1.    Merupakan perkembangan terus menerus dimana perekonoian tumbuh secara teratur serta lapangan usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern.

2.    Investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan investasi ini berlangsung secara cepat.

3.    Output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk

4.    Barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri.

5.    Tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pada masa take off dengan penerapan teknologi modern

• Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption)

Tahap terakhir dari teori pertumbuhan Rostow adalah tahap konsumsi tinggi, yaitu masa dimana perhatian masyarakat telah lebih menekankan kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat, dan bukan lagi ke dalam masalah produksi.dalam tahap ini terdapat tiga macam tujuan masyarakat yang saling bersainan untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang tersedia dan sokongan politik, yaitu:

  1. Memperbesarkan kekuasaan dan pengaruh Negara tersebut ke luar negeri dan kecenderungan ini dapat berakhir kepada penaklukan atas Negara-negara lain.
  2. Menciptakan suatu welfare state yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada penduduknya dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem perpajakan yang lebih progresif. Dalam sistem perpajakan yang seperti ini, makin tinggi pendapatan, makin besar pula tingkat pajak ata pendapatan itu.
  3. Mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat di atas konsumsi keperluan utama yang sederhana atas makanan, pakaian dan perumahan menjadi meliputi pula barang-barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah (Sadono Soekirno, 1985:103).

Sedangkan cirri-ciri dari tahap ini adalah:

1.    Sektor-sektor industri merupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa.

2.    Pendapatn riil per kapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan.

3.    Kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi.

4.         Pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi (Herlan Firmansyah: 2009).

 

5. Adam Smith (Klasik)

Teori pertumbuhan ekonomi sudah ada sejak buku Adam Smith muncul pada awal timbulnya disiplin ilmu ekonomi. Sejak saat muncul buku itu, “The Wealth of Nations”, bermacam-macam teori pertumbuhan ekonomi muncul untuk kemudian tenggelam atau disempurnakan oleh generasi-generasi ekonomi berikutnya, sehingga sampai saat ini dikenal berbagai teori pertumbuhan ekonomi yang berlain-lainan dengan aspek khususnya masing-masing (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan Klasik bersumber terutama pada gagasan Adam Smith dan David Ricardo. Buku monumental Adam Smith yang menandai lahirnya cabang ilmu yang baru, yaitu ilmu ekonomi, terbit pada tahun 1776 dan berjudul “An Iquiry Into the Nature and Causes of the Waelth of Nations”. Walaupun buku itu berisi bermacam-macam aspek ilmu ekonomi, tetapi tema pokoknya adalah menunjukkan bagaimana kemakmuran suatu bangsa/masyarakat dapat dicapai. Artinya buku itu menitikberatkan pada pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi.

Smith adalah pendekar kebebasan individu yang bersumber pada doktrin Hukum Alam. Kepercayaannya pada mekanisme harga, yang disebutnya sebagai tangan gaib, untuk mengatur seluruh kegiatan ekonomi mencerminkan keinginannya agar pemerintah lepas tangan dari seluruh kegiatan ekonomi, kecuali dalam bidang-bidang yang dipandangnya sangat esensial saja. Dengan lepasnya campur tangan pemerintah pertukaran barang dan jasa dalam masyarakat akan menghasilkan terjadinya pembagian kerja dan spesialisasi. Melalui pembagian kerja dan spesialisasi produktivitas para pekerja akan meningkat, sehingga gagasan inilah yang menjadi titik awal pandangan Smith tentang  teori pertumbuhan ekonominya (Sahibul Munir : 2008).

Pembagian kerja dan spesialisasi berkembang karena adanya perdagangan atau luasnya pasar. Walaupun perdagangan adalah unsur esensial adalah ekonomi, tetapi Smith menekankan bahwa kemakmuran ekonomi hanya dapat dicapai melalui peningkatan output masyarakatnya. Peningkatan output dimungkinkan oleh tersedianya sumberdaya atau faktor-faktor produksi, yaitu sumber daya alam, sumberdaya manusia dan stok modal yang ada. Bagi Smith sumberdaya alam yang tersedia merupakan batas kapasitas produksi maksimal yang dapat dicapai masyarakat itu. Karena itu dalam pertumbuhan ekonomi adalah pemanfaatan sumberdaya alam seoptimal mungkin dan bersama dengan sumberdaya manusia mencapai kondisi idiil, yaitu kondisi kesempatan kerja penuh. Melalui ketersediaan sumberdaya itu masyarakat harus berusaha terus-menerus meningkatkan outputnya demi tercapainya kemakmuran. Untuk mencapai tujuan itu Smith menekankan pentingnya peranan stok modal yang tersedia dan penambahan stok itu secara terus menerus. Pembagian kerja dan spesialisasi hanya mungkin dilakukan apabila akumulasi stok modal terjadi. Semakin banyak stok modal dimiliki oleh masyarakat semakin baik pembagian kerja dapat dilakukan dan dengan demikian meningkat pula produktivitas para pekerja, sehingga output akan meningkat lebih cepat pula.

Stok modal terus meningkat karena para investor mengharapkan diperolehnya laba yang cukup tinggi. Tetapi laba ini cenderung akan menurun bersamaan dengan semakin majunya ekonomi masyarakat itu. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya persaingan yang akan mendorong meningkatnya upah dan dengan demikian menurunkan laba. Bersamaan dengan semakin luasnya pasar peningkatan akumulasi stok modal akan terus menerus mendorong ekonomi tumbuh sampai seluruh sumberdaya yang tersedia sudah dimanfaatkan sepenuhnya. Dalam kondisi itu persaingan untuk memperoleh lapangan kerja akan cenderung menyebabkan turunnya upah sampai ke tingkat upah subsistensi, yaitu aras upah yang hanya cukup untuk mempertahankan hidup supaya tidak mati kelaparan. Laba akan turun dan sekali turun laba terus menerus turun, demikian pula dengan investasi. Akhirnya pada aras upah subsistem pertumbuhan ekonomi terhenti dan posisi stasioner tercapai. Dalam kondisi itu akumulasi modal juga terhenti, penduduk juga terhenti, penduduk juga mencapai keadaan stasioner, laba merupakan laba maksimum, upah adalah upah subsistem dan ekonomi menjadi stagnan, sehingga output tidak lagi meningkat (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith masih sangat sederhana walaupun ia mampun menunjukkan faktor-faktor yang dipandangnya menduduki peranan penting, tetapi kelemahan teorinya juga banyak. Kelemahan teori Adam Smith terlihat antara lain pada diabaikannya peranan pengusaha yang jelas sangat vital dalam menentukan investasi dan dengan demikian dalam akumulasi modal. Kelemahan lain terlihat pada asumsinya tentang posisi stationer. Pertumbuhan ekonomi dilihatnya sebagai gerakan yang mulus baik ke atas maupun ke bawah sampai kondisi stationer tercapai. Dalam gerakan itu tak terdapat gelombang-gelombang yang seperti anda lihat selalu dihadapi oleh setiap ekonomi nasional. Karena itu gambaran pertumbuhan ekonomi Smith adalah tidak realistik. (Sahibul Munir : 2008)

 6. David Ricardo (Klasik)

Pandangan Ricardo mengenai pertumbuhan ekonomi terlihat pada bukunya “The Principles of Political Economy and Taxation” yang terbit pada tahun 1917. Ricardo sendiri sebenarnya tidak menekankan pertumbuhan ekonomi pada bukunya itu. Ia lebih banyak mendiskusikan teori distribusi, karena itu analisis pertumbuhan ekonominya harus dicari dari uraiannya mengenai teori distribusi (Sahibul Munir : 2008).

Teori pertumbuhan ekonomi Ricardo lebih merupakan penyempurnaan teori pertumbuhan Smith dari pada teori yang berdiri sendiri. Walaupun demikian Ricardo mempertajam model Smith dengan asumsi-asumsi yang lebih jelas dan tegas. Asumsi-asumsi model Ricardo adalah sebagai berikut :

1. semua tanah yang tersedia dan jumlahnya tetap digunakan dalam menghasilkan output (jagung), karena itu sektor pertanian adalah sektor dominan;

2. pada tanah itu berlaku hukum hasil balik yang semakin menurun (law of dimishing returns);

3. input lain, yaitu modal dan tenaga kerja tersedia sedang teknologi dianggap diketahui dan dari waktu ke waktu terjadi kemajuan;

4. permintaan tenaga kerja tergantung pada akumulasi modal sedang akumulasi modal timbul karena adanya laba;

5. ada persaingan sempurna.

Dari asumsi itu terlihat bahwa model Ricardo didasarkan pada interaksi tiga kelompok peserta kegiatan ekonomi, yaitu pemilik tanah, pemilik tanah, dan pekerja. Merekalah yang menerima seluruh hasil tanah yang dioperasikan. Jadi output total didistribusikan kepada tiga kelompok itu masing-masing sebagai sewa tanah, laba dan upah. Dari tiga kelompok itu pemilik tanah berhak memperoleh bagian (sewa) yang pertama dari output total yang dihasilkan. Sisanya baru dibagi pada pemilik modal (laba) dan pekerja (upah), jadi sesuai dengan peranan sektor pertanian yang dominan. Betapa besar yang akan diterima oleh pemilik modal dan para pekerja  tergantung pada kondisi pasar. Jikalau harga barang-barang yang pada akhirnya membentuk upah subsistem naik, upah itu juga ikut naik. Peningkatan upah diatas aras tertentu (subsistem) yang oleh Ricardo disebut sebagai tingkat upah alami (nature wage), akan mendorong meningkatnya jumlah penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong naik permintaan pangan maupun komoditi-komoditi lain yang pada umumnya merupakan produk-produk sektor pertanian. Akibatnya tanah-tanah yang kurang suburpun terpaksa ikut ditanami dan tambahan tenaga kerjapun diperlukan lebih banyak karena produktivitas tanah yang rendah (Sahibul Munir : 2008).

Permintaan tenaga kerja meningkat bersamaan dengan meningkatnya upah, sehingga laba akan menurun, apalagi sewa tanah juga ikut meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan menurunnya akumulasi modal. Jadi anda dapat melihat disini bahwa akumulasi modal berasal dari laba, laba bergantung pada upah, upah ditentukan oleh harga komoditi, dan harga komoditi mengikuti tingkat kesuburan tanah marginal yang diusahakan itu. Apabila ada perbaikan dalam pengusahaan pertanian produktivitas tanah meningkat. Perbaikan itu terjadi melalui penggunaan teknologi yang lebih maju. Dengan meningkatnya produktivitas tanah harga produk pertanian turun, sehingga aras upah alami juga turun. Akibatnya laba meningkat dan akumulasi modal naik. Meningkatnya upah akan mendorong naiknya jumlah penduduk dan permintaan akan hasil produksi pertanian. Jumlah maupun harga produk-produk itu akan meningkat dan keadaan ini akan mendorong turunnya laba. Jadi jika upah meningkat laba akan turun dan vice-versa. Bila laba turun, kapasita menabung masyarakat akan turun, sehingga akumulasi modal juga cenderung turun. Turunya laba para petani juga akan mempengaruhi laba industri-industri yang lain, artinya laba disektor pertanian turun, laba disektor industri pengolahan juga akan turun (Sahibul Munir : 2008).

Ricardo berpendapat bahwa turunnya tingkat laba dalam suatu ekonomi nasional merupakan suatu kecenderungan yang bersifat alami. Pertumbuhan ekonomi yang bagaimanapun pada akhirnya akan berhenti karena proses bekerjanya mekanisme  ekonomi selalu akan mendorong ke arah meningkatnya sewa dan menurunya laba. Proses meningkatnya sewa dan menurunya laba akan berjalan terus, sehingga tanah yang dioperasikan makin lama akan makin jelak karena yang lebih subur sudah digunakan. Output tidak lagi dapat bertambah jikalau hasil balik dari tanah marginal terakhir besarnya sama dengan ongkos produksinya, artinya laba = nol.

Keadaan ini disebut oleh Ricardo sebagai keadaan stasioner. Dalam posisi ini akumulasi modal berhenti, pertumbuhan penduduk tidak terjadi, tingkat upah merupakan upah natural, sewa tanah sangat tinggi, laba murni tidak ada dan dengan demikian terjadilah stagnasi ekonomi.

Berlakunya hukum hasil balik yang semakin menurun sehingga terjadi keadaan stationer dapat dihambat oleh  penggunaan teknologi yang lebih maju. Tetapi dalam perlombaan antara berlangsungnya hukum itu dan penemuan teknologi baru, menurut Ricardo selalu dimenangkan oleh berlangsungnya hukum hasil balik yang semakin menurun.

Teori pertumbuhan Ricardo walaupun jelas lebih tajam dari teori Smith tetapi kesimpulannya tetap tidak berbeda jauh dari teori Smith. Posisi stasioner adalah posisi yang pada akhirnya pasti akan terjadi walaupun pada saat hidupnya Smith dan Ricardo kondisi ekonomi masih jauh dari mencapai posisi itu. Tetapi pendapat mereka itu sampai sekarang belum terjadi. Artinya posisi stationer yang mereka gambarkan ternyata tidak sesuai dengan realitas. Hal ini terjadi karena ternyata perkembangan teknologi (mesin, listrik, elektronika, dan komunikasi) mampu mendorong meningkatnya produktivitas jauh dari apa yang dapat mereka bayangkan. Ketergantungan manusia pada sumberdaya alam semakin berkurang karena teknologi mampu menciptakan atau merehabilitasi sumber daya alam (reboisasi, reklamasi, pengunaan sumberdaya alam yang berasal dari laut dan ruang angkasa) sedangkan pertambahan penduduk juga tidak berkembang seperti apa yang digambarkan oleh Malthus. Walaupun demikian teori Ricardo penint diperhatikan oleh negara-negara yang sedang berkembang. Masalah perlobaan antara berlangsungnya hukum hasil balik yang semakin menurun dan pertambahan penduduk dengan kemampuan menggunakan teknologi yang lebih maju tetap merupakan masalah yang mendesak. Ricardo telah menunjukkan bahwa akumulasi modal melalui pengembangan  sektor pertanian  adalah penting (bandingkan dengan Repelita kita) sebab pertumbuhan ekonomi hanya dapat terjadi dengan lancar apabila akumulasi modal, jadi investasi, juga dapat terus menerus ditingkatkan (Sahibul Munir : 2008).

7. Schumpeter

            Perhatian terhadap teori pertumbuhan ekonomi seara lebih serius mulai  muncul pada tahun 30-an ketika terjadinya depresi. Pendekatan pemikir-pemikir terdahulu terhadap teori pertumbuhan, terlalu fragmatis dan nasionalistik. Yang diinginkan hanya pertumbuhan ekonomi Negara sendiri. selain itu tidak ada kepedulian terhadap pertumbuhan ekonomi Negara-negara lain dan juga pertumbuhan ekonomi Negara lain dan dunia secara keseluruhan (Deliarnov, 2003: 184).

Pakar pertama yang lebih serius mengembangkan teori pertumbuhan adalah Schumpeter dalam usia kurang dari 30 tahun. Joseph Schumpeter hidup di zaman modern (1883-1950). Dari segi teori Schumpeter bisa digolongkan dalam kelompok teori pertumbuhan Klasik. Namun dari segi kesimpulannya khususnya mengenai prospek perbaikan hidup masyarakat banyak dalam perekonomian kapitalis. Berbeda dengan ekonom-ekonom Klasik sebelumnya, ia optimis bahwa dalam jangka panjang tingkat hidup orang banyak bisa ditingkatkan terus sesuai dengan kemajuan teknologi yang bisa dicapai masyarakat tersebut. Sejalan juga dengan para ekonomi modern, Schumpeter tidak terlalu menekankan pada aspek pertumbuhan penduduk maupun aspek keterbatasan sumber daya alam dalam pertumbuhan ekonomi. Bagi Scumpeter, masalah penduduk tidak dianggap sebai aspek sentral dari proses pertumbuhan ekonomi ((Musleh Jawas : 2008).

Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi akan berkembang pesat dalam lingkungan masyarakat yang menghargai dan merangsang orang untuk menggali penemuan-penemuan baru.yang paling cocok untuk itu ialah lingkungan masyarakat yang menganut laissez faire, bukan dalam masyarakat sosialis atau komunis yang cenderung mematikan kreativitas orang. Dalam masyarakat yang menganut mekanisme pasar, insentif bagi peneuan beru lebih tinggi dari insentif yang akan diterima oleh masyarakat sosialis (Deliarnov, 2003:184)

Gambaran umum dari proses kemajuan ekonomi menurut Schumpeter adalah membedakan antara pengertian pertumbuhan ekonomi dan pengertian perkembangan ekonomi. Keduanya adalah sumber dari peningkatan output masyarakat, tetapi masing-masing mempunyai sifat yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi di artikan sebagi peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan cara-cara atau teknologi produksi itu sendiri. Pertumbuhan

ekonomi adalah satu sumber kenaikan output, sedangkan perkembangan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh para wiraswasta. Inovasi berarti perbaikan teknologi dalam arti luas mencakup penemuan produk baru, pembukaan pasar baru dan sebaginya. Tetapi yang penting adalah bahwa inovasi menyangkut perbaikan kwalitatif dari sistem ekonomi itu sendiri, yang bersumber dari kreativitas para wiraswastanya oleh investasi (akumulasi kapital) oleh para imitator tersebut. Proses imitasi ini mempunyai Perkembangan ekonomi berawal pada suatu lingkungan sosial, politik dan teknologi yang menunjang kreativitas para wiraswasta (Musleh Jawas : 2008).

Dengan adanya lingkungan yang menunjang kreativitas, maka akan timbul beberapa wiraswasta yang menjadi pioner dalam mencoba menerapkan ide-ide baru dalam kehidupan ekonomi (cara berproduksi baru, produk baru, bahan mentah dan sebagainya). Mungkin tidak semua pioner usaha akan berhasil tetapi mereka yang berhasil dikatakan telah melakukan inovasi (Musleh Jawas : 2008).

Inovasi mempunyai tiga pengaruh. Yang pertama adalah diperkenalkannya teknologi baru, yang kedua adalah inovasi menimbulkan keuntungan lebih (keuntungan monopolistis) yang merupakan sumber dana penting bagi akumulasi kapital. Yang ketiga adalah inovasi pada tahap-tahap selanjutnya akan diikuti oleh timbulnya proses imitasi yaitu adanya pengusaha baru yang meniru teknologi baru tersebut. Proses imitasi ini akan diikuti pengaruh berupa :

a.   Menurunnya keuntungan monopolistis yang dinikmati oleh para inovator.

b. Penyebaran teknologi baru didalam masyarakat (teknologi tersebut tidak lagi menjadi monopoli para inovatornya).

Semua proses ini meningkatkan output masyarakat dan secara total merupakan proses perkembangan ekonomi. Keuntungan yang diperoleh dari adanya inovasi akan turun dan hilang akibat disaingi oleh para penirunya. Jadi inovasi dan keuntungan yang diperoleh darinya merupakan motor penggerak dinamika dalam masyarakat kapitalis atau perekonomian pasar (Musleh Jawas : 2008).

8. Pendekatan Kaldor (Neo Klasik)

Nicholas Kaldor (1908-1986)

Pandangan Kaldor tentang Pertumbuhan dalam Jangka Panjang

Dalam perkembangan pemikiran Kaldor mengenai masalah pertumbuhan, perhatiannya semakin ditujukan pada masalah-masalah konkret yang berjalan pada masa yang panjang, sekitar lima puluh tahun atau lebih. Dalam hubungan ini, Kaldor semakin meninggalkan pola pendekatan yang mengandalkan metodologi berdasarkan model-model ekonomi makro. (Soemitro, :49)

Pandangan Kaldor tentang proses pertumbuhan jangka panjang diarahkan pada pertumbuhan sektoral yang mencakup sektor produksi komoditi primer dan sector sekunder (industri dan konstruksi). Sedangkan kegiatan di sektor tersier (jasa-jasa) oleh Kaldor dianggap sebagai fungsi dari perkembangan industri. Pengalaman Kaldor juga dilengkapi dengan telaahan dan kajian mengenai pertumbuhan ekonomi dari sudut haluan spasial/regional.

Kaldor mengadakan perbedaan yang tajam antara pertumbuhan di sektor produksi primer dan pertumbuhan di sektor industri. Sesuai dengan pemikiran Alfred Marshall dan Karl Marx, Kaldor mengamati bahwa ciri pokok dalam industri manufaktur ialah produksi nya yang berlangsung dengan increasing return: penerimaan imbalan per satuan produksi meningkat secara nisbi terhadap biaya per satuan produksi. Negara-negara industri sudah mempunyai landasan prasarana beserta perangkat kelembagaannya yang cukup memadai. Dalam masyarakat Negara-negara itu, asas increasing return berlaku baik di bidang makro (masyarakat secara menyeluruh) maupun di bidang mikro (dalam lingkungan usaha). (Soemitro, :50)

Increasing returns dan kemajuan teknologi adalah keterkaitan satu dengan yang lainnya. Konstruksi dan pengendalian operasional mengenai satuan-satuan modern, pembinaan keterampilan yang bersifat khas, segala sesuatu itu memerlukan penelitian ilmiah disertai oleh pengembangan dan penerapan hasil penelitian tersebut. Dengan begitu, increasing returns tidak saja merupakan funsi dari skala produksi , melainkan juga dari produksi kumulatif dalam perkembangan waktu.

Hal yang sama menurut Kaldor berlaku mengenai akumulasi modal fisik. Peningkatan produktifitas secara kontinu memerlukan investasi yang berkenaan dengan mekanisasi teknik produksi. Hal itu berarti bertambahnya modal per tenaga kerja. Petumbuhan industri dalam jangka panjang ditandai oleh meningkatnya hasil produksi per tenaga kerja (labour productivity) maupun meningkatnya modal per tenaga kerja (capital labour ratio). Akan tetapi, perubahan pada capital output ratio (nisbah terhadap hasil produksi) tidak begitu menonjol. Dalam hubungan ini, oleh Kaldor di tekankan lagi: investasi pada dirinya bukan menjadi sebab bagi pertumbuhan produksi, melainkan sebaliknya pertumbuhanlah yang memungkinkan pengerahan investasi (Soemitro, : 50)

Berbeda sekali sifat produksi di sektor komoditi primer: pertanian (dalam arti luas) dan pertambangan. Di sektor primer produksi berlangsung dengan decreasing returns: penerimaan imbalan per satuan produksi menurun secara nisbi terhadap biaya per satuan produksi. Tahap mulai berlakunya decreasing returns bias ditangguhkan dengan pemanfaatan dan penerapan teknologi. Namun Kaldor berpendapat bahwa kemajuan teknologi di bidang produksi primer lebih bersifat eksogen. Artinya tidak begitu responsif terhadap kebutuhan yang timbul dari sektor primer sendiri, kalau dibandingkan dengan sektor industri. Dalam pengamatan Kaldor ada batas maksimal yang agak kaku (inflexible) terhadap laju pertumbuhan di bidang produksi primer.

Dalam suatu sistem ekonomi tertutup (closed economy) dalam jangka panjang batas maksimal terhadap laju pertumbuhan sektor primer juga menjadi kendala utama bagi laju pertumbuhan industri. Dengan begitu, batas maksimal terhadap laju pertumbuhan sektor primer juga menjadi kendala bagi pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Sebab, pertumbuhan produksi dan pendapatan di sektor primer merupakan sumber utama dari permintaan efektif terhadap hasil produksi sektor industri. Kaldor menekankan bahwa dalam suatu closed economy pertumbuhan permintaan dari pihak sektor primer dalam jangka panjang menjadi faktor penentu bagi laju pertumbuhan produksi industri. Di pihak lain, perkembangan industri saling berkaitan dengan pertimbangan mengenai besar-kecilnya skala produksi. Oleh sebab itu, senantiasa ada kecenderungan kuat dari pihak industri untuk mencari permintaan sumber-sumber lain, yaitu dari luar perbatasan ekonomi tertutup itu. Dengan proses industrialisasi, akan ada dorongan kuat untuk transformasi ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka. Dengan kata lain, hal itu mendorong ke arah pengembangan perdagangan luar negeri dalam lalu lintas ekonomi internasional. Perhatian Kaldor juga ditujukan kepada pola pertumbuhan industri ditinjau dari sudut lokasi spasial/regional. Pola produksi sektor primer oleh Kaldor dianggap terkait dengan sumber alam. (Soemitro, : 51)

Perihal pola pertumbuhan industri, Kaldor menunjuk pada timbulnya perbedaan pada pola dan laju pertumbuhan yang terjadi diantara berbagai kawasan dalam batas wilayah satu Negara maupun secara regional dan internasional di antara berbagai belahan dunia. Perbedaan yang dimaksud tidak semakin berkurang, melainkan cenderung semakin besar sehingga menimbulkan ketimpangan kumulatif pada pertumbuhan ekonomi di antara berbagai pusat kegiatan, baik hal tiu sebagai fenomena antar daerah dalam wilayah Negara kebangsaan maupun sebagai ketimpangan yang bersifat regional maupun internasional. Hal itu menurut Kaldor bersangkut paut dengan apa yang disebut dengan cumulative causation: sebab-musabab yang cenderung mengandung dampak kumulatif. Kecenderungan ini mengandung ramifikasi luas bagi pola pertumbuhan ekonomi di antara kawasan-kawasan  kegiatan dalam satu Negara maupun di antara kelompok-kelompok Negara.

Sumber utama bagi cumulative causation yang dimaksud berkaitan dengan berlakunya increasing returns dalam produksi industri.tiap lokasi atau kawasan yang menjadi pusat kegiatan industri yang penting dapat mencapai produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaannya di pusat-pusat industri lain yang kurang berarti. Meningkatnya produktivitas tenaga kerja berarti biaya tenaga kerja menjadi berkurang per satuan produk. Hal ini memperkuat daya saing perusahaan-perusahaan dari kawasan industri yang maju, skala produksi mereka dapat diperluas sehingga produktivitas kerja lebih meningkat lagi; hal itu biasanya disertai oleh perbaikan pada mutu hasil produksi.

Hal itu satu sama lain semakin memperbaiki keunggulan komparatif kawasan yang maju, dibandingkan dengan kawasan-kawasan yang lainnya. Kaitan antara pertumbuhan produksi dan peningkatan produktivitas kerja itu menyebabkan bahwa ketimpangan pada laju pertumbuhan industri antardaerah atau antarkawasan akan berlangsung secara kumulatif. Hal itu masih dipertajam dengan pengembangan ekspor hasil industri dari pusat-pusat kegiatan yang sudah maju. Pesatnya pertumbuhan industri dan meningkatnya produktivitas kerja disertai pengembangan ekspor hasil produksinya, satu sama lain merupakan semacam lingkaran kegiatan yang bermanfaat (virtuous cycle) bagi daerah atau kawasan maju. Sebaliknya hal itu berarti lingkaran setan (vicious cycle) bagi daerah atau kawasan yang ketinggalan. Dampak ketimpangan tersebut dapat diredakan jika dalam proses perkembangan industri dapat dicapai suatu keadaan dimana kawasan yang maju merupakan pasar yang berarti bagi hasil produksi yang berasal dari kawasan-kawasan yang lainnya.

Perkembangan pemikiran Kaldor sebagaimana disimak diatas secara pokok sebenarnya sudah melintasi perbatasan antara bidang ekonomi pertumbuhan dan bidang ekonomi pembangunan. Pembahasannya mengenai pertumbuhan (antar) sektoral dan pertumbuhan spasial (antar) kawasan sudah menyangkut beberapa masalah penting dalam masalah pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang. Memang beberapa ciri pokok dalam pendekatan Kaldor bersama dengan hasil karya Simon Kuznets sangat memeprngaruhi pola pendekatan dan metodologi yang dewasa ini sering digunakan dalam pengamatan dan kajian tentang permasalahan-permasalahan yang menyangkut pembangunan ekonomi.

9. Joan Robinson

Ny. Joan Robinson di dalam bukunya The Accumulation of Capital membangun model pertumbuhan ekonomi yang sederhana berdasarkan “aturan main kapasitas”. Model ini “tidak begitu banyak berkaitan dengan pergerseran ekuilibrium dalam perekonomian kapitalis, tetapi di tambah dengan pengkajian sifat-sifat pertumbuhan ekuilibrium.” Model Ny. Joan Robinson didasarkan pada asumsi berikut :

  1.         a.            Perekonomian liberal yang tertutup.
  2.         b.            Dalam perekonomian itu hanya ada buruh dan modal sebagai faktor produksi.
  3.         c.            Untuk memproduksi suatu output tertentu, modal dan buruh dipergunakan dengan proporsi tetap.
  4.        d.            Kemajuan teknik yang netral
  5.         e.            Tidak ada kelangkaan buruh dan pengusaha dapat mempekerjaan buruh sebanyak yang mereka sukai.
  6.          f.            Hanya ada dua kelas pekerja dan pengusaha yang menjadi penerima pendapatan nasional
  7.         g.            Para pekerja sama sekali tidak menabung dan membelanjakan seluruh upahnya untuk konsumsi.
  8.         h.            Para pengusaha sama sekali tidak mengkonsumsi tetapi menabung dan menanamkan keseluruhan pendapatan                           mereka (yang didapat dari laba) untuk pembentukan modal.” Jika mereka tidak memperoleh laba para                pengusaha itu tak dapat menumpuk modal, dan kalau tidak menumpuk modal mereka tidak memperoleh laba “.
  9.           i.            Tidak ada perubahan dalam tingkat harga.

Pendapatan nasional netto di dalam model Robinson adalah jumlah rekening upah total plus keuntungan total, yang dapat dinyatakan sebagai :

Y = w N + p K

Dimana Y adalah pendapatan nasional netto, w tingkat upah nyata, N jumlah buruh yang dipekerjakan, p tingkat keuntungan dan k jumlah modal (M.L Jhinghan, 1993 : 318-319).

Untuk menggambarakan pertumbuhan yang mantap, mulus, dengan pekerjaan penuh Joan Robinson menyebutnya sebagai “zaman keemasan”. Apabila kemajuan teknik bersifat netral dan berlanjut mantap tanpa perubahan apapun dalam pola waktu produksi, mekanisme persaingan bekerja dengan bebas penduduk berkembang pada laju mantap dan akumulasi berjalan cukup cepat untuk memasok kapasitas produksi semua buruh yang tersedia, maka laju keuntungan cenderung konstan dan tingkat upah nyata naik bersamaan dengan output per orang. Tidak ada kontradiksi internal di dalam sistem ini. Output total tahunan dan stok modal kemudian tumbuh bersama-sama dalam laju yang secara proporsional tetap yang melipatgandakan laju kenaikan tenaga buruh dan laju kenaikan output per orang. Keadaan ini dapat dilukiskan sebagai zaman keemasan. (M.L Jhinghan, 1993 : 320)

Joan Robinson didalam karangannya Essays in the Theory of Economic Growth menulis gagasan masa keemasan tersebut lebih lanjut.Dia membeda-bedakan penentu pertumbuhan ekuilibrium tersebut dan menggolongkannya ke dalam tujuh kelas : (i) kondisi teknikal (ii) kebijakan investasi, (iii)kondisi penghematan (iv) kondisi persaingan(v) kesepakatan upah (vi) kondisi keuangan (finansial), (vii) stok barang modal dan besarnya harapan yang didasarkan pada pengalaman masa lalu. Ketujuh faktor penentu ini satu sama lain bersifat independent.

Laju pertumbuhan yang dicita-citakan adalah laju akumulasi dimana perusahaan puas dengan situasi yang diketemukan sendiri. laju pertumbuhan ini ditentukan oleh tingkat upah yang disebabkan oleh laju akumulasi tersebut, dan laju akumulasi dirangsang oleh laju keuntungan (M.L Jhinghan, 1993 : 324)..

Pada waktu laju pertumbuhan yang dicita-citakan sama dengan laju pertumbuhan yang bisa terjadi pada keadaan yang mendekati pekerjaan penuh, perekonomian berada dalam masa keemasan. Upah nyata meningkat bersama meningkatnya output per kepala sebagai akibat kemajuan teknikal. Tetapi tingkat keuntungan pada modal tetap konstan. Dan teknik produksi yang ocok untuk tingkat keuntungan tersebut diketemukan. Inilah abad keemasan yang di peragakan oleh Ny. Joan Robinson.

Pada masa emas dan platina sesuai dengan ungkapan Prof  Joan Robinson, “ Didalam masa emas, kondisi awalnya cocok untuk pertumbuhan mantap. Dalam masa emas asli dan masa emas timpang laju pertumbuhan yang terealisasi secara nyata hanya dibatasi oleh laju pertumbuhan yang mungkin terjadi. Dalam masa emas yang dikendalikan, laju pertumbuhan yang bisa terjadi tertahan oleh laju yang terealisir. Dalam masa emas palsu laju yang bisa terjadi itu dibatasi oleh hal lain yaitu oleh upah nyata yang cukup minimum. Baik di dalam masa emas timpang maupun di masa emas palsu stok modal yang ada di setiap saat kurang cukup untuk memberikan pekerjaan kepada semua buruh. Di dalam masa emas timpang stok peralatan tidak berkembang lebih cepat lantaran tiadanya ‘semangat kehewanan’ (animal spirits). Dalam masa palsu stok peralatan tidak berkembang lebih cepat karena terhalang oleh rintangan inflasi. Dalam masa platina kondisi awalnya tidak memungkinkan bagi pertumbuhan mantap dan laju akumulasi melaju atau mengendor sebagaimana biasa (M.L Jhinghan, 1993 : 329).

Bagi Negara terbelakang, model Robinson mempunyai manfaat yaitu dalam teori Robinson mengkaji masalah penduduk dan dampaknya pada laju akumulasi modal. Ada “masa keemasan” yang dapat dicapai setiap Negara melalui pembangunan ekonomi berencana. Perekonomian Negara terbelakang menghadapi masalah laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat daripada laju pertumbuhan modal. Ini menunjukkan adanya kecenderungan pengangguran secara progresif dalam perekonomian tersebut (M.L Jhinghan, 1993 : 330).

Rasio pertumbuhan potensial adalah paling penting dalam teori pertumbuhan ekonomi Joan Robinson. Masa keemasan tergantung pada rasio pertumbuhan. Tugas perencanaan menjadi lebih mudah jika rasio pertumbuhan potensial suatu perekonomian itu dihitung untuk periode perencanaan atas dasar laju pertumbuhan tenaga kerja dan laju pertumbuhan output per kepala (M.L Jhinghan, 1993 : 331).      Maka tidaklah mungkin untuk mempergunakan konsep ”masa keemasan” di dalam memecahkan masalah perencanaan pembangunan, karena kesinambungan yang tanpa perubahan seperti diminta untuk masa keemasan tidak pernah ada dalam perekonomian terbelakang (M.L Jhinghan, 1993:332).

10.Meade (Neo Klasik)

Profesor J. E. Meade dari Universitas Cambridge membangun suatu model pertumbuhan ekonomi Neo Klasik yang dirancang untuk menjelaskan bagaimana bentuk paling sederhana dari sistem ekonomi klasik akan berperilaku selama proses pertumbuhan ekuilibrium (M.L Jhinghan, 1993 : 333).

Asumsi Profesor J. E. Meade:

  1. Ada suatu perekonomian tertutup dengan sistem pasar bebas yang di dalamnya terdapat persaingan sempurna.
  2. “Returns to scale” konstan
  3. Di dalam perekonomian tersebut diproduksi dua jenis barang yaitu barang konsumsi dan barang modal.
  4. Mesin merupakan satu-satunya bentuk modal.
  5. Semua mesin diasumsikan serupa.
  6. Harga barang konsumsi dalam uang diasumsikan konstan
  7. Tanah dan buruh dipergunakan secara penuh.
  8. Rasio buruh terhadap mesin dapat diubah, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
  9. Barang modal dan barang konsumsi sama sekali dapat dipertukarkan di dalam produksi
  10. Ada penyusutan karena aus, yaitu setiap tahun sekian persen dari mesin-mesin dihapuskan dan memerlukan penggantian.

Di dalam perekonomian seperti yang digambarkan dalam asumsi di atas, output bersih diproduksi tergantung pada empat faktor :

  1.           i.            Stok modal nettoyang tersedia dalam bentuk mesin;
  2.         ii.            Jumlah tenaga buruh yang tersedia;
  3.       iii.            Tanah dan sumber alam yang tersedia;dan
  4.       iv.            Keadaan pengetahuan teknik yang terus membaik sepanjang waktu.

Hubungan ini dinyatakan dalam bentuk fungsi produksi :

Y = F (K, L, N, t)

Dimana

Y adalah output netto atau pendapatan nasional netto, K stok modal (mesin) yang ada,

L,tenaga kerja, N tanah dan sumer alam, dan t adalah waktu yang menandakan kemajuan teknik (M.L Jhinghan, 1993 : 334).

Kelebihan model Meade dalam menunjukkan pengaruh pertumbuhan penduduk, akumulasi modal dan kemajuan teknik pada laju pertumbuhan pendapatan nasional dan pendapatan nasional per kepala sepanjang waktu. Keadaan “pertumbuhan mantap” memang sama dengan abad emas nya Ny.Robinson, namun model Meade dijelaskan dengan cara yang lebih realistic dengan mengkaji perilaku variable yang ia asumsikan sebagai konstan (M.L Jhinghan, 1993 : 342).

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI NEO KEYNESIAN

11. Roy F. Harrod (1900-1978) dan Evsey D. Domar (1914-…)

Teori pertumbuhan yang dikembangkan sejak perang dunia II bersumber pada kerangka analisis Keynes. Hal ini dirintis oleh Roy F. Harrod, seorang pakar ekonomi Inggris yang terkenal selama dasawarsa-dasawarsa lima puluhan dan enam puluhan. Kelangsungan pemikiran Keynes ditandai oleh unsur-unsur dinamika dalam sistem analisis tentang proses ekonomi dalam perkembangannya.

Pola pendekatan Harrod terhadap proses pertumbuhan jelas menunjukkan cirri-ciri pokok pada kerangka analisis Keynes, baik dalam konseptualisaasinya maupun dalam perincian modelnya. Perhatian Keynes berkisar pada tingkat pendapatan yang stabil, berdasarkan kesempatan kerja secara penuh, termasuk penggunaan kapasitas produksi yang terpasang. Kini oleh Harrod dipersoalkan : Dalam kondisi yang bagaimana dapat dicapai kestabilan pada pendapatan dan kesempatan kerja secara penuh dan dapat dipertahankan   seterusnya dalam dinamika perkembangan ekonomi(perekonomian dalam perkembangan yang dinamis). Dengan kata lain, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan persyaratan apa terdapat suatu proses pertumbuhan yang berlangsung dalam ekuilibrium yang stabil (equilibrium of a steady advance). Perhatian Harrod dipusatkan pada persyaratan yang harus dipenuhi untuk memelihara ekuilibrium antara tabungan-invetasi-pendapatan dalam dinamika pendapatan pertumbuhan ekonomi. Analisis Harrod dalam bentuk formalnya disusun dalam suatu kerangka agregatif. Dalam teori dinamikanya, dipaparkan asas fundamental yang menyangkut faktor dinamika (fundamental dynamic principle).

Harrod menyatakan bahwa dalam proses pertumbuhan melekat suatu faktor ketidakstabilan yang menjadi gangguan terhadap kondisi ekulibrium. Hal itu lazim disebut instability theorem sebagai ciri pokok gagasan Harrod. Konsekuensi dari instability theorem ini adalah bahwa diperlukan langkah-langkah kebijaksanaan tertentu untuk menganggulangi ketidakstabilan guna menjaga pertumbuhan yang berdasarkan ekuilibrium yang stabil.

Dalam banyak ulasan perihal teori pertumbuhan telah menjadi lazim untuk menganggap teori  Harrod dan gagasan yang dibeberkan oleh Evsey Domar sebagai suatu kelomok analisis;bahkan ada kecenderungan untuk mengadakan perpaduan diantara dua model yang bersangkutan sebagai model Harrod-Domar . Memang pola pendekatan yang ditempuh oleh kedua pakar tersebut mengandung cirri-ciri yang sama. Begitu pula keduanya sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang serupa.Waalaupun begitu, pangkal tolak bagi pendekatan dan pengembangan pemikiran masing-masing maupun mata pembahasannya sebenarnya berbeda satu dari yang lainnya.

 Teori Harrod

Roy F. Harrod,

Pokok perhatian Harrod berkisar pada pertumbuhan ekonomi yang dapat berlangsung secara terus-menerus dalam pola keadaan ekuilibrium yang stabil. Dalam konstelasi ekonomi yang mana dapat dicapai dan dipertahankan ekuilibrium serupa itu dalam proses pertumbuhan? Persyaratan apayang harus dipenuhi ataupun diciptakan agar konstelasi ekonomi yang dimaksud itu dapat berkembang?Dalam hubungan ini oleh Harrod dipaparkan dua konsep perihal laju pertumbuhan yang menjadi kunci dalam gagasannya, yaitu 1).Laju pertumbuhan produksi dan pendapatan pada tingkat yang dianggap memadai pada sudut  pandangan ara pengusaha/calon investor. Hal ini disebut oleh Harrod sebagai The warranted rate of growth. Pada laju yang dianggap memadai itu,para pengusaha akan meneruskan usahanya dengan melakukan investasi secara kontinu. Selain itu, oleh Harrod juga ditunjukkan adanya 2)The natural rate growth,yang sifatnya brbeda dari warranted rate yang dimaksuk diatas  tadi.Dengan natural rate(of growth) dimaksud laju pertumbuhan produksi dan pendapatan sebagaimana itu ditentukan oleh kondisi dasar (fundamental conditions) yang menyangkut (a) bertambahnya angkaan kerja karena penduduk bertambah, dan (b) meningkatnya produktivitas kerja karena teknologi . Kondisi dasar itu yang berkisar pada pertambahan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas kerja,sekaligus menjadi batas maksimal bagilaju pertumbuhan produksi (dan pendapatan riel).

Saran pendapat Harrod yaitu pertumbuhan yang kontinu dalam ekulibrium (dengan kestabilan pendapatan dan kesempatan kerja penuh)hanya bisa dicapai jika dipenuhi kedua syarat yang dimaksud diatas, yaitu berlangsungnya aju pertumbuhan yang warranted maupun laju pertumbuhan yang natural. Dengan kata lain, dalam suatu konstelasi ekonomi dimana warranted rate of growth adalah identik dengan natural rate of growth. Akan tetapi,faktor-faktor yang menentukan warranted growth rate berlainan dan terlepas (independent) dari faktor-faktor yang menentukan natural growth rate. Oleh sebab itu, jarangsekali terjadi dan mungkin hanya secara kebetulan bahwa warranted gowth rate (laju pertumbuhan yang dianggap memadai darisudut investor) adalah sama dengan natural growth rate (laju pertumbuhan yang ditentuka oleh kondisi dasar berkenaan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas).kenyataan tersebut menjadi pertimbangan dasar bagi Harrod untuk mengungkapkan kesimpulan pokok yang bersifat instability theorem.proses pertumbuhan mengandung di dalam dirinya secara inheren unsure ketidakstabilan yang sewaktu-waktu dapat mengganggu keadaan ekulibrium. Tidak ada alasan untuk menganggap atau mengharapkan bahwa secara otomatis akan timbul kekuatan-kekuatan yang dapat membawa penyimpangan-penyimpangan kembali ke dalam jalur ekulibrium. Impliksi dan konsekuensi dari instability theorem ialah keharusan adanya langkah-langkah kebijaksanaan tertentu untuk menanggulangi gangguan-gangguan terhadap kestabila dalam ekulibrium pertumbuhan.

Gagasan Harod yang berpokok pada instability theorem menjadi pertimbangan dasar bagi kesimpulannya berupa saran pendapat: jika dikehendaki adanya ekulibrium dalam proses pertumbuhan,maka diperlukan intervensi kebijaksanaan untuk menanggulangi gangguan ketidakstabilan dan penyimpangan yang merupakan cirri pokok pada pertumbuhan itu sendiri.

Teori Domar

Evsey D. Domar

Gagasan Domar mengenai pertumbuhan ekonomi diterbitkan (1946) tujuh tahun setelah teori HArrod disajikan sebagai makalah dalam majalah Economic Journal (1939). Namun,teori Domar dikembangkannya terlepas sama sekali (independent) dari karya Harrod. Walaupun Domar sampai pada kesimpulan yang sama berdasarkan model yang kerangka susunannya mirip pada model Harrod, pangkal tolak bagi pendekatannya berbeda. Dewasa ini memang seakan–akan sudah lazim untuk mengelompokkan gagasan Domar dan gagasan Harrod sebagai satu model (model Harrod –Domar). Dengan menyimak teori Domar secara tersendiri akan menjadi lebih jelas tentang adanya persamaan (dalam substansi permasalahan maupun perbedaan (dalam polapendekatan)diantara dua mdel pertumbuhan yang bersangkutan. Kedua model bersumber pada kerangka analisis yang telah dirintis sebelumnya oleh Keynes. Pemikiran Keynes ini dikembangkan lebih lanjut dengan memasukkan kedalam kerangka susunannya serangkaiain faktor kunci (dinamika) yang mempengaruhi perkembangan ekonomi dalam perjalanan waktu. Khusunya, hal itu dilihat dari sudut kestabilan pendapatan dengan kesempatan kerja penuh dalam proses pertumbuhan.

Gagasan Domar berpangkal tolak pada berlakunya asas investment multiplier. Laju pertumbuhan pada permintaan efektif langsung dihadapkan kepada pertumbuhan pada kapasitas produksi. Dalam model diungkapkan bahwa pertumbuhan pada permintaan adalah sama dengan pertambahan investasi (I) dikalikanoleh multiplier (I/s). Sedangkan pertumbuhan pada kapasitas produksi adalah sama dengan investasi(I) dibagi oleh capital-output rasio(k). Alhasilpertumbuhan pada permintaan adalah sama dengan pertumbhan pada kapasitas produksi:∆I/I=s/k

Laju pertumbuhan yang tercermin pada persamaan diatas oleh Domar dianggap sebagai laju pertumbuhan yang kritis (critical rate of growth) yang analog dengan warranted rate of growth dalam model Harrod. Di dalam hal investasi melebihi laju pertumbuhannya yang dimaksud diatas tadi, maka penyimpangan tersebut menyebabkan bahwa ∆I/I (yang sama dengan pertumbuhan permintaan)akan lebih meningkat secara nisbi bila dibandingkan dengan s/k (pertumbuhan pada kapasitas produksi): I/I>s/k. Keadaan demikian akan membawa investasi dalam jumlah yang semakin besar.

Sama dan selaras dengan garis pemikiran dengan gagasan Harrod, jika karena sebab apapun laju pertumbuhan investasi menyimpang dari laju kritis s/k,laju pertumbuhan pada kapasitas produksi, maka penyimpangan itu cenderung untuk berlangsung terus dalam jurusan yang sama.Implikasi saran pendapat ini ialah diperlukannya intervensi kebijaksanaan jikalau kecenderungan penyimpangan hendak dikembalikan pada jalur ekuilibrium.

Pola pendekatan yang ditempuh oleh Harrod dan Domardianggap terlalu sederhana dan simplistic alam hal penggunaan serangkaian pangkalan dalil maupun dalam penyusunan model. Pada hakikatnya kritik serupa itu kurang beralasan. Sebab sejak dari mulanya Harrod maupun Domar ditekankan,apa yang hendak dikaji ialah hubungan perimbangan antara variable-variabel yang merupakan dinamika dalam perkembangan ekonomi. Hal itu satu sama lain hendak disajikan dalam kerangka susunan dan bentuk yang paling sederhana. Oleh sebab itu, serangkaian pangkal dalil yang menmenjadi pangkal tolak bagi kajian dan pengembangan pemikiran Harrod dan Domar harus dianggap sebagai pendekatan pertama, yaitu semata-mata untuk menjaga konsistensi internal pada logika dalam kerangka model masing-masing. Kita dapat mengamati bahwa kemudian oleh berbagai pihak lain disusun model-model yang amat kompleks, akan tetapi yang didasarkan atas sejumlah postulat yang justru tidak realistis.

Capital-output ratio sebagai besaran yang konstan dianggap sebagai saran pendapat yang kurang tepat untuk model yang hendak menelaah proses pertumbuhan dalam jangkapanjang. Capital-output rasio yang konstan mengandung implikasi tidak adanya kemungkinan sama sekali untuk substitusi antara modal dan tenaga kerja.

Saran pendapat dalam hal ini merupakan dalil yang memang kaku dan tidak realistis sebagai dasar penilaian tentang perubahan-perubahan pada perkembangan keadaan dalam perjalanan waktu.sehubungan dengan itu dalam pengembangan model-model pertumbuhan selanjutnya disajikan kerangka analisis yang mengandung fleksibilitas perihal peranan capital-output rasio.

Dalam mata pandangan sejumlah ahli ekonomi yang terkenal , diantaranya Milton Friedman, James Mead dan Robert Sollow. Faktor ketidastabilan dan instability theorem dalam model Harrod terlalu dibesar-besarkan. Menurut hemat penulis ini, justru instability theorem itu masuk akal dan mempunyai dasar empiris yang kuat dan realistis. Pangkal tolaknya adalah hasil analisis Keynes tentang penyimpangan investasi ex-post dari investasi ex-ante. Pendapat ini memang sesuai dengan dan dibenarkan oleh reslitas dalamkegiatan ekonomi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa investasi dalam masyarakat modern pada umumnya dilakukan oleh pihak lain dari golongan yang menabung. Investasi didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang dianut oleh pihak penabung. Poko pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Harrod dan ditempatkan sebagai faktor yang memegangperanan strategis dalam teorinya mengenai dinamika ekonomi. Menurut penulis ini sumbangan pikiran yang paling berharga dalam karya Harrod justru yang berkaitan dengan instability theorem. Harrod menekankan pada peranan strategis dari perkiraan/ekspektasi pada pihak entrepreneur investor tentang laju pertumbuhan pendapatan di masa datang, yang mempengaruhi investasi mereka di masa kini. Kenyataan menandakan bahwa perkiraan dan ekspektasi yang dimaksud itu sering meleset dan kurang tepat, apa pun yang kelak di kemudian hari dikumandangkan oleh aliran Ekspektasi “rasional”. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa gagasan Harrod mengandung arti dan relevansi bukan hanya sebagai teori pertumbuhan, melainkan juga sebagai teori siklus ekonomi.

Dengan tidak menutup mata atas kelemahan dan kekurangan yang melekat pada analisis Harrod dan Domar, kini oleh umum diakui bahwa kedua pemikir tersebut telah member sumbangan yang sangat berarti terhadap perkembangan teori ekonomi. Mereka berhasil untuk menonjolkan lagi arti dan relevansi proses pertumbuhan sebagaimana hal itu tercermin pada peningkatan produksi dan pendapatan. Lagipula pertumbuhan ekonomi diteropong dalam konsep ekuilibrium. Sehubungan dengan itu dikembalikan arti dan peranan tabungan sebagai sumber akumulasi modal dan investasi sebagai salah satu determinan penting bagi pendapatan nasional melalui asas multiplier. Selanjutnya pertumbuhan pendapatan dan lajunya mempengaruhi tingkat investasi melalui asas akselerasi sehingga segala sesuatu dapat diamati sebagai proses interaksi dinamika ekonomi dalam perkembangan waktu (Soemitro  Djojohadikusumo, 1994 : 43).

12. Solow – Swan

Pendekatan Neo-Klasik

Dalam model yang dikembangkan oleh Sollow terdapat adanya kemungkinan perubahan pada tingkat bunga maupun pada tingkat upah. Proses pertumbuhan dilihat sebagai suatu proses yang berlangsung dengan pertimbangan-pertimbangan yang variable diantara faktor-faktor produksi. Harga-harga faktor produksi adalah fleksibel sehingga ada kemungkinan substitusi diantara faktor-faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi. Dalam keadaan dimana jumlah tenaga kerja melebihi pasok modal, harga tenaga kerja (tingkat upah) akan menurun secara nisbi terhadap harga modal (tingkat bunga). Sebaliknya jika pertambahan modal melampaui jumlah tenaga kerja maka tingkat upah akan meningkat. Dengan adanya perubahan pada harga faktor-faktor produksi dan melalui substitusi satu jenis faktor produksi oleh jenis faktor produksi lainnya, hal itu satu sama lain dapat membatasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dari ekuilibrium pertumbuhan. Oleh sebab itu tidak benar bila dikatakan bahwa seakan-akan di dalam proses pertumbuhan secara inheren terkandung unsure ketidakstabilan sebagaimana ditonjolkan dalam instability theorem Harrod. Itulah yang secara sederhana menjadi intipati gagasan Sollow (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 44-45).

Robert Solow dan Trevor Swan secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang sekarang sering disebut dengan nama model pertumbuhan Neo Klasik. Model Solow dan Swan memusatkan perhatianya pada pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi dan output saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi..

Kerangka umum dari model Solow-Swan mirip dengan model Harrod-Domar, tetapi model Solow-Swan lebih luwes karena,

a.  Menghindari masalah ketidakstabilan yang merupakan ciri warranted rata of growth dalam model Harrood-Domar.

b.  Bisa lebih luwes digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah distribusi pendapatan.

Keluwesan ini terutama disebabkan oleh karena Solow dan Swan menggunakan bentuk fungsi produksi yang lebih mudah dimanipulasikan secara aljabar. Ada empat anggapan yang melandasi model Neo Klasik (Musleh Jawas : 2008) :

a.    Tenaga kerja (penduduk), tumbuh dengan laju tertentu.

b.    Adanya fungsi produksi yang berlaku bagi setiap periode.

c.    Adanya kecenderungan untuk menabung propersity to save oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi tertentu dari output.

d.    Semua tabungan masyarakat di investasikan.

Untuk keseimbangan jangka panjang Solow mengatakan bahwa posisi long run equilibrium akan tercapai apabila kapital per kapita, mencapai suatu tingkat yang stabil, artinya tidak lagi berubah nilainya. Apabila kapital konstan, maka long run equilibrium tercapai. Hai ini merupakan ciri posisi keseimbangan yang pertama (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang kedua adalah mengenai laju pertumbuhan output, kapital dan tenaga kerja. Pada posisi long run equilibrium laju pertumbuhan

output bisa disimpulkan dari ciri bahwa output per kapita adalah konstan dan penduduk tumbuh sesuai dengan asumsi. Difinisi output per kapita adalah output total tumbuh dengan laju jumlah penduduk per tahun (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang ketiga adalah mengenai stabilitas dari posisi keseimbangan tersebut. Posisi keseimbangan model Solow-Swan bersifat stabil, dalam arti bahwa apabila kebetulan perekonomian tidak pada posisi keseimbangan, maka akan ada kekuatan-kekuatan yang cenderung membawa kembali perekonomian tersebut pada posisi keseimbangan jangka panjang (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang keempat menyangkut tingkat konsumsi dan tingkat tabungan (investasi). Tingkat tabungan (investasi) per kapita pada posisi keseimbangan adalah konstan. Apa yang tidak ditabung dikonsumsikan, sehingga konsumsi per kapita juga konstan pada posisi equilibrium (Musleh Jawas : 2008).

Ciri yang kelima berkaitan dengan imbalan yang diterima oleh masing-masing faktor produksi atau aspek distribusi pendapatan. Karena hanya ada dua macam faktor produksi (kapital dan tenaga kerja), maka output total akan habis terbagi antara para pemilik kapital dan pemilik faktor produksi tenaga kerja (Musleh Jawas : 2008).

13. Pendekatan Kuznets

Simon Kuznets (1901-1985)

Simon Kuznets lahir di Rusia dan pada awal rezim Uni Soviet ia menjadi kepala biro statistik di Ukraina.

Profesor Kuznet, orang yang menerima hadiah nobel dalam “ilmu ekonomi”tahun 1871 mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai “kemampuan jangka panjang untuk menyediakan berbagai jenis barang ekonomi yang terus meningkat kepada masyarakat. Kemampuan ini tumbuh atas dasar kemajuan teknologi institusional dan ideologis yang diperlukannya”.(Kuznet, 1871). Kuznets menyebutkan tiga komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi (Suryana:64) yaitu :

  1. Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari menibgkatnya secara terus menerus persediaan barang. Peningkatan output yang terus-menerus dan terpelihara merupakan investasi pertumbuhan ekonomi. Kemampuan untuk menyediakan berbagai macam barang adalah tanda kematangan ekonomi
  2. Teknologi maju merupakan faktor dalam menyediakan aneka macam barang kepada penduduk. Kemajuan ekonomi memberikan dasar pra-kondisi untuk pertumbuhan ekonomi selanjutnya. Meang sesuatu yang diperlukan, tetapi kondisinya belum cukup untuk merealisir pertumbuhan potensial yang terdapat dalam teknologi baru.
  3. Penggunaan teknologi pengunaan teknologi secara luasdan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan ideology sehinga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahua dapat dimanfaatkan secara tepat. Pembaharuan teknologi haruslah dibarengi dengan pembaharuan sosial.

Dalam analisisnya yang lengkap, professor Kuznet mengemukakan enam cirri pertumbuhan ekonomi modern yang dimanifestasikan dalam proses pertumbuhan oleh semua Negara yang sekarang telah maju (Suryana:64-65). Keenam karakteristik itu adalah:

  • Dua variable ekonomi yang bersamaan(aggregate) meliputi:
  1. Tingginya tingkat produk perkapita dan laju pertumbuhan penduduk
  2. Tingginya peningkatan produktivitas terutama produktivitas tenaga kerja.
  • Dua structural variable transformasi:
  1. Tingginya tingkat transformasistruktur ekonomi
  2. Tingginya struktur social dan ideology
  • Dua variable penyebaran internasional, meliputi:
  1. Kecenderungan Negara-negara yang ekonominya sudah maju untuk pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mendapatkan pasaran dan bahan baku
  2. Arus barang, modal , dan orang anatar bangsa yang meningkat.

Pandangan Kuznets mengenai kegiatan ekonomi masyarakat berpangkal pada kerangka perhitungan nasional dengan penjabarannya tentang unsur-unsur komponen dalampendapatan nasional. Kuznets berhasil memberi substansi secara empiris-kuantitatif terhadap pengertian-pengertian pokok dalam kerangka analisis Keynes seperti mengenai hubungan antara konsumsi-tabungan-investasi-pendapatan dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Satu sama lain dikaji menurut tahap-tahap perkembangan yang susul-menyusul, hal yang dikenal sebagai time series analysis. Dengan begitu, pemikiran teoritis dibidang ekonomi dijelmakan dari ilmu deduktif menjadi ilmu kuantitatif. Hal ini menjadi landasan bagi penelitian Kuznets mengenai masalah pertumbuhan ekonomi. Penelitiannya dibidang ini berkisar pada perkembangan histories mengenai produksi nasional dan pendapatan nasional. Pemantauannya melibatkan time series yang bersifat ekonomis maupun time series yang bersifat demografis (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 53 ).

Karya ilmiah Kuznets mengenai masalah pertumbuhan menyangkut perkembangan ekonomi dalam jangka panjang dan didasarkan atas studi komparatif (studi perbandingan) tentang pengalaman histories-empiris yang mencakup sejumlah Negara industri. Pemikirannya dalam rangka ekonomi pertumbuhan merupakan kelangsungan dari hasil karya sebelumnya mengenai perhitungan nasional.kerangka acuan dan pola pendekatannya dalam studi komparatif yang dimaksud berpokok pada konsep pendapatan nasional beserta unsur-unsur komponennya. Perhatiannya ditujukan kepada perubahan-perubahan pada struktur (kerangka susunan) dan komposisi pendapatan nasional dalam perkembangan waktu.

Pola pendekatan Kuznets terhadap masalah-masalah ekonomi dapat dipahami dengan latar belakang pengalamannya di Ukraina dan perkembangannya kemudian sebagai pemikir ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh Wesley Mitchel. Dari mulanya Kuznets mengemukakan kuantifikasi berdasarkan fakta empiris untuk menguji pemikiran teoritis. Hal itu ditopang oleh pengetahuannya yang mendalam di bidang sejarah perekonomian (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 54).

Kuznets menunjukkan sikap was was terhadap penggunaan model makro ekonometris dalam bentuk struktur formal. Dalam banyak hal, Kuznets sebenarnya merasa dekat dengan alampikiran Historismus (Gustav von Schmoller,dkk) dan institusionalisme (Thorstein Veblen). Dalam pandangannya teori ekonomi mengandung cirri relativitas histories, artinya banyak pemikiran teoritis di bidang ekonomi tidak dapat dianggap terlepas dari faktor waktu (perjalanann sejarah) dan keadaan ruang di sekitar fenomena ekonomi. Kuznets juga merasa bahwa focus banyak perhatian para ahli ekonomi terlalu sempit dalam wawasannya maupun dalam pola pendekatannya. Hal itu ditujukan kepada para tokoh ekonomi aliran monetaris dan ekspektasi rasional di Amerika Serikat dengan segala rupa peramalannya berdasarkan model-model makro ekonometris yang amat canggih. Mereka ini dalam dasawarsa tujuh puluhan dan delapan puluhan sedang berjaya (ataupun merasa dirinya berjaya). Akan tetapi pencakupan penelitiannya maupun metodologinya dianggap oleh Kuznets terlapau terbatas dalam rangka hubungan realitas ekonomi masyarakat.

Yang disebutkan diatas ini satu sama lain tidak selamanya berarti bahwa Kuznets menolak teori di bidang ekonomi. Bahkan sebaliknya Kuznets menekankan bahwa penggunaan metode kuantitatif tidak dapat ditempuh terlepas dari teori dan harus selalu diarahkan dan dikendalikan oleh teori dan harus diarahkan dan dikendalikan oleh teori. Memang dua ciri yang menonjol dalam pandangan Kuznets ialah pentingnya arti fakta dan data empirs serta pengetahuan ekonomi berdasarkan pengujian kuantitatif. Namun penafsiran dan penjelasan  tentang fakta-fakta dan pendekatan kuantitatif nya harus berlandaskan teori ekonomi, tidak dapat tidak. Dari segi ini kita melihat adanya perbedaan yang mendasar antara pangkal haluan Kuznets dengan alam pemikiran mazhab historimus dan institusionalisme. Dalam pada itu, Simon Kuznets selalu berusaha untuk ikut memperhatikan dan memanfaatkan pemikiran-pemikiran dari bidang-bidang lain, terutama ilmu sosiologi, ilmu  sejarah dan ilmu politik. Banyak karya ilmiah Kuznets mengenai masalah-masalah ekonomi, khususnya mengenai pertumbuhan ekonomi, telah dilaksanakan secara interdisipliner dengan mengikutsertakan ahli-ahli sosiologi, sejarah dan ilmu politik.

Selain sumbangan Kuznets mengenai konsep pengertian tentang perhitungan nasional dan komposisi pendapatan nasional, ia sangat berjasa di bidang penelitian perbandingan yang berkisar pada pertumbuhan ekonomi. penelitian itu mencakup penelitian terhadap sejumlah Negara dalam perjalanan sejarahnya ke arah modernisasi. Oleh Kuznets diadakan identifikasi, pemantauan, dan pengkajian mengenai fenomena pertumbuhan ekonomi, mulai dengan pertumbuhan Negara-negara di Eropa Barat sejak akhir abad XVII. Perkembangan ekonomi sejak itu dan selama abad XIX sampai saat ini oleh Kuznets dianggap sebagai era pertumbuhan ekonomi. Proses tersebut berawal di Eropa Barat yang kemudian secara bertahap membawa dampak yang meluas ke Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, sampai Jepang sejak awal abad XX ini (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55).

Pertumbuhan ekonomi yang dimaksud ditandai oleh tiga ciri pokok:

(1)   laju pertumbuhan pendapatan perkapita dalam arti nyata (riel);

(2)   persebaran (distribusi) angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya; dan

(3)   pola persebaran penduduk.

Selama satu abad lebih pertumbuhan ekonomi di Negara-negara yang dimaksud menunjukkan laju pertumbuhan pendapatan perkapita berkisar pada 15 persen rata-rata untuk tiap dasawarsa. Peningkatan pada pendapatan per kapita serupa itu belum pernah terjadi di abad-abad sebelumnya.

Sebelum era pertumbuhan kegiatan ekonomi para penduduk terpusat di sektor primer yang bersifat ekstraktif: pertanian, perikanan dan disana sini pertambangan (emas dan perak). Proses pertumbuhan ekonomi sejak itu ditandai oleh diversifikasi kegiatan sektoral dengan tumbuhnya berbagai jenis industri.

Dewasa ini di Negara-negara maju hanya sekitar 5 persen dari angkatan kerja yang berkecimpung secara produktif di sektor primer (pertanian,perikanan, kehutanan, dan pertambangan), sedangkan 35 persen bekerja di sektor sekunder (industri manufaktur dan konstruksi). Sisanya sekitar 60 persen mendapat sumber nafkahnya di sektor tersier (jasa-jasa). Sebagian besar (25-30 persen) angkatan kerja disektor tersier terlibat dalam transportasi dan distribusi barang dan sisanya bekerja di bidang pemerintahan, perbankan, asuransi, dan sebagainya. Sejalan dengan jumlah angkatan kerja yang berpindah dari sektor produksi primer ke sektor-sektor lainnya, juga terjadi transformasi pada lokasi pemukiman penduduk. Sebagai akibat gerak arus penduduk dari pedesaan menuju ke pusat-pusat kegiatan modern (rural-urban migration) juga timbul konsentrasi spasial (aglomerasi penduduk) di lingkungan kota dan sekitarnya. Fenomena urbanisasi ini merupakan suatu ciri penting yang melekat pada proses pertumbuhan (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55-56).

Meningkatnya laju pendapatan per kapita, diversifikasi sektor kegiatan ekonomi dan realokasi sumber daya dan dana dalam proses diversifikasi itu, aglomerasi penduduk di lingkungan kota dan sekitarnya, segala sesuatunya berkaitan dengan revolusi teknologi. Sejak awal era pertumbuhan, perkembangannya ditandai oleh banyaknya penemuan-penemuan baru serta inovasi-inovasi yang diterapkan dalan kegiatan ekonomi. Tenaga manusia dan hewan sebagai unsure ketenagaan dalam proses ekonomi diganti oleh tenaga uap dan listrik dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Kemudian hal itu disusul oleh peranan minyak bumi dan gas alam. Bahan mineral semakin berarti sebagai bahan baku dalam produksi berbagai jenis barang. Mekanisasi membawa perluasan skala produksi dan perubahan pada organisasi usaha. Semuanya itu disertai oleh pengembangan teknik yang baru di bidang transportasi dan komunikasi (Soemitro Djojohadikusumo, 1994 : 55).

Dalam pandangan Kuznets era pertumbuhan tidak hanya ditandai oleh peran industri manufaktur dan konstruksi. Hal yang tidak kurang penting artinya ialah modernisasi teknologis di bidang pertanian dan bidang produksi primer pada umumnya. Selain itu, kini semakin menonjol arti dan peranan pemasaran dan teknologi komunikasi. Perkembangan tersebut menyebabkan bahwa pola kegiatan ekonomi modern melintasi batas-batas antarnegara. Sebagai konsekuensi logis dari proses pertumbuhan yang dimaksud, perekonomian dunia dewasa ini berada dalam tahap interdependensi dan globalisasi yang masih terus berlangsung.

14.  Arthur Lewis

 Salah satu perumusan yang terkenal dari teori Klasik dalam konteks permasalahan pembangunan ekonomi negara-negara berkembang diungkapkan oleh ekonom zaman modern Arthur Lewis. Model pertumbuhan dengan suplay tenaga kerja yang tak terbatas merupakan model pertumbuhan Arthur Lewis. (Musleh Jawas : 2008) Pokok permasalahan yang dikaji oleh Lewis adalah bagaimana proses pertumbuhan terjadi dalam perekonomian dua sektor :

a. Sektor tradisional, dengan produktivitas rendah dan sumber tenaga kerja yang melimpah

b. Sektor modern, dengan produktivitas tinggi dan sebagai sumber akumulasi kapital

Proses pertumbuhan ekonomi terjadi apabila tenaga kerja bisa dipertemukan dengan kapital. Lewis memberikan teori mengenai proses pertemuan kedua faktor produksi ini dan proses pertumbuhan ekonomi yang ditimbulkan.

Pada saat sektor modern mempunyai sejumlah stok barang kapital tertentu. Sektor ini menggunakan tenaga kerja yang akan diberi upah sesuai dengan marginal produknya. Dengan stok kapital tertentu tersebut, maka bisa digambarkan marginal product bagi tenaga kerja yang dipekerjakan pada sektor ini (Musleh Jawas : 2008).

Ciri-ciri utama dari sektor tradisional yaitu produktivitas yang rendah dan tenaga kerja yang berlimpah. Ini berarti bahwa tingkat upah di sektor ini berada pada tingkat subsistensi (ini sejalan dengan teori-teori Klasik Smith, Malthus dan Ricardo), dan pada tingkat upah ini suplai tenaga kerja yang bersedia untuk bekerja berlimpah (artinya, apabila ada seorang pengusaha yang bersedia mempekerjakan buruh dengan tingkat upah subsistensi ini, maka bisa memperoleh jumlah buruh berapapun yang diperlukan) (Musleh Jawas : 2008).

15.  Fel’dman

G.A. Fel’dman adalah seorang ahli ekonomi Rusia yang menulis artikel “On the Theory of National Income Growth” yang diterbitkan di dalam The Planned Economy, jurnal Komisi Perencanaan Negara Soviet (GOSPLAN) pada 1928. Artikelnya merupakan suatu model teoritis yang berkenaan dengan perencanaan jangka panjang (M.L Jhinghan, 1993 : 385).

Fel’dman mendasarkan modelnya tentang pembagian keseluruhan output suatu perekonomian (W) menjadi kategori 1 dan kategori 2 pada teori marxis. Kategori 1 berkaitan dengan barang modal, baik dalam arti barang produksi maupun barang konsumsi, sedangkan kategori 2 berkaitan dengan semua barang konsumsi termasuk bahan mentah. Pembagian perekonomian menjadi dua kategori itu adalah tuntas , dalam arti tidak ada modal yang dapat di transfer dari yang satu ke yang lainnya. Jadi laju investasi ditentukan secara ketat oleh koefisien modal dan stok modal dalam kategori 1. Begitu juga output barang konsumsi ditentukan oleh stok modal dan koefisien modal di dalam kategori 2.akan tetapi pembagian investasi total (yaitu pembagian output dari kategori 1) antara kedua kategori itu sangat fleksibel. Bahkan bagian investasi total yang dialokasikan kepada kategori 1 merupakan variable kunci bagi model ini (M.L Jhinghan, 1993 : 386).

Menurut Fel’dman, unsur-unsur yang menentukan pendapatan nasional (atau output) dan laju pertumbuhan dari perekonomian adalah laju netto tahunan output keseluruhan perekonomian atau pendapatan nasional, laju tahanan investasi netto dan laju tahanan output barang-barang konsumen (M.L Jhinghan, 1993 : 387).

Model Fel’dman itu tidak menentukan berapa besaran koefisien modalnya karena di dalam model ini tidak diperlukan adanya pengkaitan antara besaan tersebut dengan variable-variabel lainnya seperti keinginan dari asset, panjangnya periode konstruksi, penawaran buruh dari faktor-faktor lain seperti besaran, susunan dan laju pertumbuhan investasi dan struktur industri.

Lagi pula, pembedaan secara tegas antara industri barang modal dan barang konsumsi tidak mudah dilakukan apabila sebagian besar industri yang ada bersifat industri barang penolong (intermediate). Logam, batu bara, transportasi, kimia, minyak, tenaga dan sebagainya. Contoh beberapa industri penolong yang barang jasanya dipergunakan di kedua kategori Fel’dman. Fel’dman barangkali dapat mengaku bahwa di Rusia pada waktu itu secara praktis logam hanya dipergunakan di dalam kategori satu saja. Pernyataan Fel’dman tersebut tidak menunjang pembagian suatu industri (seperti batubara atau transportasi) menjadi dua kategori, karena proporsi dalam masing-masing kategori akan selalu berubah-ubah sesuai dengan sifat kategori itu sendiri. setiap pembagian perekonomian berdasarkan jenis-jenis industri atau pembagian output antara konsumsi dan investasi tentu akan sulit dan bersifat subjektif (arbitrer), tetapi jelas bahwa metode Fel’dman itu menciptakan kesulitan tersendiri sehingga tidak relevan untuk digunakan pada masa kini (M.L Jhinghan, 1993 : 390).

16. Model Pertumbuhan Ekonomi Mahalanobis

Pada 1953 Mahalanobis mengembangkan model dua sektor dimana keselururuhan output netto perekonomian dianggap diproduksi hanya oleh dua sektor: sektor barang modal dan sektor barang konsumsi. Kemudian pada 1955 ia mengembangkan model empat sector (M.L Jhinghan, 1993 : 391).

  1. Model dua sektor

Mahalanobis membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu proporsi investasi netto yang dipergunakan didalam sektor barang modal dan proporsi investasi netto yang dipergunakan dalam sektor barang konsumen.

  1. Model empat sektor

Model Mahalanobis bukanlah suatu model pertumbuhan dalam arti sebenarnya. Lebih baik disebut sebagai suatu model alokasi. Karena keanggotaannya di dalam Badan Perencanaan, Mahalanobis tahu bahwa dana maksimum yang tersedia bagi investasi netto selama Pelita II diperkirakan sebesar Rs 5600 dan tujuannya ialah untuk menyediakan kesempatan kerja tambahan kepada 10-12 juta penduduk. Terhadap jumlah ini ia menambahkan kenaikan pendapatan nasional sebesar 5% per tahun selama periode pelita tersebut. Ia selanjutnya memperkirakan sepertiga dari investasi total itu ditanam di bidang industri barang industri, dan dua pertiganya untuk investasi pada ketiga sektor perekonomian sisanya. Ia menuangkan kesemua data ini kedalam satu sistem persamaan dan mendapatkan kesimpulan yang akhirnya menjadi dasar Pelita II India.

Model Mahalanobis menganggap ekonomi empat sektor terdiri dari:

  1.                   a.          sektor barang investasi (k)
  2.                   b.          sektor pabrik yang memproduksi barang konsumsi (C1)
  3.                   c.          sektor rumah tangga atau usaha kecil yang memproduksi barang konsumsi (termasuk produk pertanian) (C2) dan
  4.                  d.          sektor penghasil jasa (kesehatan, pendidikan, dan sebagainya) (C3)

(M.L Jhinghan, 1993 : 395-396).

Dalam model Mahalanobis pada jangka waktu tertentu dalam usaha mencapai suatu laju pertumbuhan ekonomi tertentu jumlah keseluruhan yang dapat diinvestasikan dibagi-bagi sedemikian rupa sehingga pembagian itu dapat menuju kearah laju pertumbuhan yang diinginkan. Tetapi karena laju pertumbuhan yang dicita-citakan itu harus cukup tinggi maka laju itu dapat dicapai dengan memperluas sektor k dan dengan ini menghasilkan jumlah barang investasi yang lebih besar. Tetapi investasi dalam sektor k dirancang untuk mendorong kenaikan daya beli dan menciptakan permintaan barang konsumsi yang agak memerlukan sedikit saja modal tetapi banyak buruh (M.L Jhinghan, 1993 : 399-400).

Model Mahalanobis bersifat membantu (instrumental) dalam menempatkan perekonomian pada lintasan yang benar di dalam perencanaan pembangunan India pada Repelita kedua dan melicinkan jalan bagi rencana lebih berani berikutnya (M.L Jhinghan, 1993 : 402).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Deliarnov. 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo       Persada

M.L Jhinghan. 1993. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan . Jakarta : Raja Grafindo Persada

Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan. Bandung:Salemba Empat

Soemitro  Djojohadikusumo. 1994. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Sadono Sukirno. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan. Jakarta: FE-UI

Nurjaka & Asep Oman. 2002. Intisari ekonomi SMU.Bandung: CV.Pustaka Setia.

http://erlan-abuhanifa.blogspot.com/2009/04/bahan-kuliah-pertumbuhan-ekonomi.html

http://www.pdf-search-engine.com/teori-pertumbuhan-ekonomi-pdf.html

http://athidanalyst.blogspot.com/2008/12/teori-pertumbuhan-pembangunan-ekonomi.html

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=pertumbuhan+ekonomi+modul+14+Ir.+Sahibul+Munir%2C+SE.MEc&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq=pertumbuhan+ekonomi+modul+14+Ir.+Sahibul+Munir%2C+SE.MEc&fp=7de3bde004b2b038

http://www.google.co.id/#hl=id&q=pengaruh+penanaman+modal+asing+dan+ekspor+terhadap+pertumbuhan+ekonomi+di+negara-negara+muslim+Musleh+Jawas&meta=&fp=7de3bde004b2b038

« »