1.1  Latar Belakang Thomas Robert Malthus

Thomas Robert Malthus adalah salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah ilmu ekonomi. Ia terkenal terutama karena doktrin populasinya yang kini nama doktrin itu dihubungkan dengan nama Malthus. Ia lahir pada tahun 1776 di kota Wotton, Surrey. Ayahnya adalah tentara pengawal di pedesaan yang kaya. Ia berusaha keras agar Malthus memperoleh pendidikan yang baik. Pertama-tama Malthus diberi pelajaran oleh ayahnya dan pengajar privat di rumah. Kemudian ia dikirim ke sekolah swasta yang sangat baik. Pada usia 18 tahun ia masuk ke Jesus College d Cambridge dimana ia belajar matematika dan filsafat alam. Meskipn ayahnya menginginkan agar ia menjadi pengawas pertanahan, Malthus memutuskan untuk masuk ke gereja. Ia dinobatkan pada tahun 1788 dan menjadi pendeta Malthus. Pada tahun 1793 ia menjadi pengikut Jesus College dan asisten pendeta gereja Okewood sebuah biara atau kapel di Wotton. Saat ia bekerja di Wotton Malthus terlibat perdebatan sengit dengan ayahnya tentang kemampuan meningkatkan kekayaan ekonomi oleh orang-orang sudah lanjut. Ayahnya berpendapat bahwa hal itu mungkin namun Malthus tetap skeptis. Perselisihan ini mendorong Malthus untuk membaca dan kemudian membuat beberapa tulisan tentang topik tersebut. Hasilnya adalah Essay on Population yang pertama kali diterbitkan tahun 1798.

Esai tentang populasi yang dibuat Malthus ini tak lama kemudian menjadi terkenal, dan pada tahun 1805 ia mendapatkan pekerjaan sebagai Profesor Sejarah, Politik, Perdagangan dan Keuangan di New East India College dekat kota London. Perguruan tinggi ini terutama melatih para pengusaha dari Perusahaan Hindia Timur yang akan menduduki jabatan administratif di India. Posisi Malthus membuat dirinya sebagai salah seorang ahli ekonomi akademik yang pertama. Dan, sebagaimana berlaku dalam banyak pekerjaan mengajar lainnya, tugas ini tidak banyak membutuhkan tenaga dan waktu. Hal ini menyebabkan  Malthus memiliki banyak waktu luang untuk bersosialisasi dan berkorespondensi dengan kawan-kawannya (khususnya David Ricardo), dan memulai kontroversi berkaitan dengan prinsip-prinsip dan kebijakan ekonomi. Selain konroversi yang meliputi prinsipnya tentang populasi, Malthus terlibat perdebatan dengan Ricardo tentang Undang-undang Kemiskinan Inggris dan Undang-undang Jagung di Inggris, manfaat dari perdagangan bebas, dan kemungkinan adanya kelebihan dan kekurangan permintaan akan barang.

Pada petengahan abad kedelapan belas, revolusi industri di Inggris sedang berada dalam puncaknya. Tetapi para buruh hidup dalam tingkat yang dekat dengan subsistensi fisik, dan kondisi mereka semakin memburuk pada pertengan akhir abad kedelapan belas. Monotoni dan repetisi menjadi karakteristik dari kerja di pabrik, tirani jam kerja pabrik dan kegiatan perakitan berada di luar kontrol semua buruh. Pembagian kerja yang dipuji-puji oleh Adam Smith dalam The Wealth of  Nations sebagai cara untuk meningkatkan produktifitas dan standar hidup membuat pekerjaan menjadi sangat rutin sehingga wanita dan anak-anak dapat melakukan pekerjaan dengan mudahnya dengan pria. Pemilik usaha secara logis lebih suka mempekerjakan buruh wanita dan anak-anak karena pekerja ini dapat dibayar dengan lebih murah. Publikasi The Wealth of Nations karya Adam Smith pada 1776 diiringi dengan era baru optimisme di Eropa. Para pembaru sosial berharap bisa mengikuti jejak Revolusi Amerika yang menjanjikan “ kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan”, dan Revolusi Prancis menjanjikan “liberté, egalité, fraternité. William Wordsworth mendeskripsikan idealisme awal Revolusi Prancis ini dalam salah satu bagian di dalam The Prelude (1986 {1850} Buku 11, bait 108-109)

Sesudah Adam Smith, Thomas Malthus dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Malthus menimba pendidikan di St. John’sCollege, Cambridge, Inggris dan kemudian melanjutkan ke EastIndiaCollege. Sewaktu ia diangkat sebagai dosen pada EastIndiaCollege, untuk pertama kalinya ekonomi politik (political economy) diakui sebagai disiplin ilmu tersendiri. Pemikiran-pemikiriannya tentang ekonomi politik dapat diikuti dari: Principles of Political Economy (1820) dan Definitions of Political Economy (1827). Selain itu, buku-buku lain yang ditulis Malthus cukup banyak, antara lain: Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society (1798); dan An Inquiry into the Nature and Progress of Rent (1815).

Sejak Sir Thomas More menulis Utopia, para filsuf memimipikan dunia kebahagiaan universal tanpa perang, tanpa kejahatan, dan tanpa kemiskinan. Si jenius Adam Smith, dan rekan-rekannya seperti Montesquieu, Say, Bastiat dan de Tocquevillle, mengembangkan sistem ekonomi “kebebasan alamiah” yang dapat menciptakan perdamaian, keseteraan, dan kekayaan universal. Model itu mendapat tantangan berat, dan ironisnya tantangan ini dilancarkan oleh salah satu murid Smith. Thomas Robert Malthus dan David Ricardo. Malthus mengajukan isu yang terkenal hingga sekarang: Dapatkah  planet yang penuh sesak dengan manusia, dengan sumber daya yang diperas habis-habisan, akan menghancurkan visi kemakmuran demokratis Adam Smith?

Di antara buku-buku yang disebutkan di atas, agaknya buku Principle of Population adalah yang dikenal paling luas. Dari buku tersebut akan terlihat bahwa Malthus termasuk salah seorang pengikut Adam Smith walaupun tidak semua pemikirannya sejalan dengan pemikiran Smith. Di satu pihak Smith optimis bahwa kesejahteraan umat manusia akan selalu meningkat sebagai dampak positif dari pembagian kerja dan spesialisasi. Sebaliknya, Malthus justru pesimis tentang masa depan umat manusia. Sumber pesimisme Malthus tidak lain dari kenyataan bahwa tanah sebagai salah satu faktor produksi utama jumlahnya tetap (waktu itu belum ada misi penerbangan ke bulan atau planet-planet lain). Kendati pemakaian tanah untuk produksi pertanian bisa ditingkatkan, peningkatannya tidak akan seberapa. Dalam banyak hal, justru jumlah tanah untuk pertanian berkurang. Hal ini karena sebagian digunakan untuk membangun perumahan, pabrik-pabrik, dan bangunan lain serta untuk pembuatan jalan.

Malthus mengamati manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil-hasul petanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia bekembang sesuai dengan deret ukur (geometric progression, dari 2 ke 4, 8, 16, 32, dan seterusnya). Sementara itu, pertumbuhan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung (arithmetic progression, dari 2 ke 4, 6, 8, dan seterusnya). Karena perkembangan jumlah manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi hasil-hasil pertanian, Malthus meramal bahwa suatu ketika akan terjadi malapetaka (disaster) yang akan menimpa umat manusia.

Berbagai masalah dalam masyarakat akan timbul sebagai akibat adanya tekanan penduduk tersebut. Pada gilirannya, hal itu dapat menyebabkan tekanan yang berkelanjutan terhadap standar hidup manusia, baik dalam artian ruang maupun output. Anehnya, dalam menghadapi masalah, orang selalu menyalahkan keadaan dan lingkungan. Akan tetapi, tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Apa yang bisa dilakukan manusia agar terhindar dari beragai persoalan ekonomi dan masyarakat? Dalam Essay on the Principles of Population (1796) Malthus menguraikan bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari malapetaka tersebut adalah dengan melakukan kontrol atau pengawasan atas pertumbuhan penduduk atau keluarga berencana (KB) menurut istilah saat ini. Beberapa jalan keluar yang ia tawarkan adalah menunda usia perkawinan dan mengurangi jumlah anak. Pembatasan seperti ini disebut Malthus sebagai pembatasan moral. Kalau hal ini tidak dilakukan, demikian Malthus menguraikan, persoalan ini akan diselesaikan secara alamiah, antara lain akan timbul perang (kehidupan yang semakin keras disebabkan terlalu banyak manusia), epidemic, kekurangan pangan, dan sebagainya.

Pandangan Malthus di atas oleh sebagian pakar dipandang terlalu pesimis. Dalam kenyataan, produktivitas tenaga kerja meningkat dari tahun ke tahun, dimulai dengan “Revolusi Industri” pada abad ke-18 dan terakhir “Revolusi Hijau” (penemuan bibit-bibit baru yang lebih unggul) serta “Revolusi Biru” (penyediaan sarana irigasi untuk back-up revolusi hijau tersebut). Kenyataannya berbagai konflik yang terjadi di atanah air seperti di Ambon, Papua, Aceh, atau yang sekarang lebih popular dengan Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan daerah-daerah lain di Indonesia, konflik antaragama, antarras atau antarsuku dan antarkampung, sebetulnya adalah manifestasi dari terlalu banyaknya manusia di suatu wilayah. Jumlah manusia yang tak terkendalikan, menimbulkan perang, konflik, terorisme, kerusakan, perampokan dan berbagai penyakit sosial lainnya. Di Indonesia korban yang jauh sudah ratusan ribu. Tidak terhitung di dalamnya rumah penduduk, toko, kantor, dan fasilitas lainnya yang rusak. Daftar kerusakan dan kesusahan semakin bertambah. Korban banjir dan tanah longsor yang sering melanda tanah air kita akhir-akhir ini. Dikaitkan dengan teori Malthus di atas, mungkin saja semua ini merupakan “cara alam” untuk mengatasi masalah, karena kita tak mampu mengendalikan jumlah kelahiran.

Sebagai catatan, perlu dikemukakan jika orang berbicara tentang Malthus maka ingatan orang akan lari pada teori populasi yang telah dijelaskan di atas. Sebetulnya selain tentang penduduk, karyanya di bidang-bidang lain juga ada. Misalnya, Malthus bersama-sama dengan Ricardo secara cukup sengit pernah membantah teori Say yang mengatakan bahwa penawaran akan selalu menciptakan penawarannya sendiri, dan karenanya dalam perekonomian tidak akan pernah terjadi kelebihan produksi. Akan tetapi pandangan Malthus dan Ricardo ini tidak mendapat tanggapan yang wajar di zamannya, dan baru diterima orang setelah dikembangkan lebih lanjut oleh J.M. Keynes kira-kira satu abad kemudian.

Berlawanan dengan pandangan abad ke kedelapan belas yang menyatakan bahwa ada kemungkinan untuk meningkatkan standar hidup, Malthus justru berpendapat bahwa perkembangan semacam itu akan menyebabkan populasi bertambah dan arena itu akan menurunkan keuntungan. Malthus juga memunculkan kontroversi dengan rekan-rekan sezamannya tentang masalah  metodologi (dengan mengatakan bahwa ilmu ekonomi seharusnya ilmu yang empiris ketimbang ilmu deduktif), tentang teori (dengan mengatakan bahwa ekonomi dapat mengalami kesulitan dengan adanya tingkat pengangguran yang tinggi dalam waktu yang lama), dan tentang masalah kebijakan (dengan menentang perdagangan bebas dan bantuan pemerintah kepada pihak yang miskin).

Beberapa tahun kemudian, dalam sebuah pamplet yang berjudul An Investigation of the Cause of the Present High Price of Provisions (dalam Malthus, 1970), Malthus melanjutkan penolakannya terhadap bantuan kepada yang miskin. Karya ini berpendapat bahwa bantuan kemiskinan juga akan menaikkan harga jagung di Inggris. Karenanya, bantuan untuk yang miskin tidak hanya akan merugikan orang miskin itu sendiri, tetapi dengan meningkatnya harga barang pokok, bantuan kemiskinan juga akan merugikan seluruh warga negara. Meskipun terkenal karena doktrin populasinya ini, Malthus juga memberikan beberapa sumbangan teori dan kebijakan untuk ilmu ekonomi.

Pada level teoretis, Malthus memberikan justifikasi untuk laba. Seperti yang telah kita lihat di muka, Adam Smith benar-benar tidak punya teori keuntungan atau laba, dan tidak dapat menjelaskan apa yang menentukan tingkat keuntungan laba. Malthus mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Smith ini. Menurut Malthus, keuntungan adalah pengembalian kepada kapitalis karena usahanya memproduksi barang. Buruh yang memiliki alat-alat dan mesin akan lebih produkstif ketimbang buruh yang kekurangan alat modal ini. Dengan mengizinkan modal tersebut digunakan dalam proses produksi, kapitalis telah menyumbang untuk produksi dan arena itu ia layak dibayar berdasarkan atas sumbangannya ini.

Essay on Rent juga mengembangkan teori sewa diferensial. Menurut doktrin ini, biaya sewa eksis karena perbedaan dalam kesuburan tanah dan  karena pemilik tanah membuat perbaikan atas tanah mereka. Kemajuan ekonomi berarti permintaan atas barang-barang pertanian akan meningkat dan tanah-tanah yang kurang subur terpaksa digunakan untuk memberi makan penduduk. Karena itu, perbedaan dalam kesuburan tanah akan meningkat dan demikian juga dengan sewa. Berlawanan dengan Ricardo, bagi Malthus sewa yang tinggi adalah hasil dari kemakmuran ekonomi dan ukuran dari kemakmuran.

Pada level kebijakan, Malthus (1820) berusaha menjelaskan mengapa ekonomi dikuasai oleh depresi periodik atau kelebihan persediaan-masa dimana pengusaha tidak bisa menjual barang atau tingkat pengangguran tetap tinggi. Jawaban yang diberikan Malthus adalah situasi tersebut berkaitan dengan yang sedikit atau terlalu sedikit pengeluaran. Sebaliknya, penjelasan Malthus mengapa harga-harga naik adalah karena terlalu banyak pengeluaran yang terjadi dalam ekonomi. Karena alasan inilah Keynes (1964, hal. 362) menyebut Malthus sebagai pendahulu penting dari teorinya tentangan lingkaran bisnis.

Ketika Malthus (1820) menulis karyanya, Principles of Political Economy, Inggris Raya sedang mengalami depresi berat. Penyebab masalah ini menurut Malthus adalah karena kapitalisme yang berkembang di sana cenderung membuat kaum kapitalis menerima terlalu banyak pendapatan. Malthus berpendapat dalam kenyataan pendapatan kapitalis ternyata lebih besar dari investasi. Ada dua alasan untuk ini. Pertama, mesin-mesin baru membutuhkan pekerja yang baru. Untuk membuat mesin diperlukan waktu yang lebih singkat, sedangkan pendapatan lebih banyak pekerjanya diperlukan waktu lebih dari 15 tahun. Pada jangka waktu tersebut akan terjadi kekurangan tenaga kerja, upah akan naik, keuntungan akan turun drastis, dan kapitalis akan suka untuk menyimpan uang mereka ketimbang menginvestasikannya. Kedua, Malthus berpendapat bahwa mesin-mesin baru akan meningkatkan produktivitas dan mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja. Karena kapitalis menerima lebih banyak pendapatan mereka ketimbang investasinya, akhirnya mereka dapat menabung lebih banyak. Karena itu keuntungan pribadi menjadi kerugian publik-terlalu sedikit pengeluaran menghasilkan surplus barang dan mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja. Solusi yang diusulkan Malthus untuk masalah tersebut berasal dari analisis ini, ia menginginkan negara mengubah distribusi pendapatan sehingga kaum kapitalis menerima pendapatan yang lebih kecil dan pemilik tanah menerima lebih banyak pendapatan. Malthus bahwa pemilik tanaah akan membelanjakan hampir semua pendapatannya jika mereka menerima lebih banyak pendapatan mereka akan mengkonsumsinya dengan mempekerjakan lebih banyak pembantu dan mengkonsumsi barang-barang mewah. Karena alasan ini Malthus mendukung British Corn Laws (yang disahkan tahun 1846). Undang-undang ini melarang impor benih jagung masuk ke Inggris sampai tingkat harga yang pasti telah tercapai. Malthus beralasan dengan semakin sedikit impor benih jagung, akan makin banyak tanah yang akan dipakai untuk menghasilkan makanan. Hal ini akan meningkatkan sewa (diferensial) karena diminishing return dalam pertanian dan memberikan lebih banyak uang kepada pemilik tanah. Selain itu, Malthus percaya bahwa upah akan naik sebanding dengan kenaikan harga yang disebabkan pembatasan perdagangan. Yang rugi adalah kelompok pemilik modal (kapitalis), yang simpanannya akan berkurang karena pendapatan mereka menurun.

Meskipun ia banyak memberi sumbangan teori dan menjadi pedahulu penting dari ilmu ekonomi Keynesian, Malthus tetap merupakan tokoh penting ilmu ekonomi terutama karena doktrin populasinya. Istilah “Malthusian” selalu berkonotasi dengan pesimisme tentang kemampuan umat manusia untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

1.2 Visi Utopian Dari Condorcet Dan Godwin    

Teori populasi malthus disusun sebagai reaksi terhadap ide dari fulsuf popular dari masa pencerahan abad 18: filsuf prancis Marquis de Condorcet (1743-94) dan menteri Inggris yang radikal, William Godwin (1756-1836). Condorcet (1795) berpendapat bahwa kesetaraan ekonomi yang yang lebih besar dan keadaan yang lebih aman bagi buruh dapat meningkatkan kekayaan materi mereka. Untuk mencapai tujuan ini ia mendukung dua reformasi, sistem kesejahteraan untuk memberikan keamanan bagi pekerja miskin, dan peraturan pemerintah untuk menjaga agar suku bunga tetap rendah sehingga keluarga yang membutuhkan dapat meminjam uang dengan biaya yang lebih rendah. Owen berusaha untuk mengembangkan masyarakat utopian di dalam kota-kota industri yang akan meningkatkan baik itu kondisi ekonomi maupun kondisi sosial keluarga kelas buruh. Godwin (1793) bahkan lebih radikal dalam analisis dan usulan kebijakannya. Ia menyalahkan system kapitalis karena menyebabkan kemiskinan pra buruh. Kemudian ia menunut agar kekayaan diambil dari pemilikn ya dan diberikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya. Hal ini, kata Godwin akan mengakhiri kemiskinan, ketidakadilan dan pederitaan manusia di seluruh dunia.

Essay on Population (Malthus 1798) mengambil inspirasi dari orang-orang tersebut; tetapi karya ini ditulis untuk menolak argument mereka tentang kemungkinan meningkatkan kondisi ekonomi. Malthus berpendapat bahwa kemajuan manusia adalah tidak mungkin karena kemiskinan dan penderitaan merupakan hal yang tak terelakkan dalam mayoritas dari setiap masyarakat. Lebih jauh ia berpendapat bahwa semua usaha untuk mengurangi kemiskinan dan penderitaan, entah itu dengan maksud yang baik atau telah dipikirkan dengan baik, hanya akan memperburuk keadaan. Pendirian inilah yang membuat Thomas Carlisle menamakannya sebagai “ilmu yang suram,” julukan yang terus dipakai selama lebih dari dua abad.

Malthus berkeyakinan bahwa keadaan manusia tidak bisa ditingkatkan karena dua alasan. Pertama, ia yakin bahwa orang-orang dikendalikan oleh hasrat kesenangan seksual yang tak pernah puas. Hal ini akan menyebabkan populasi bertambah yang jika tidak dikendalikan akan tumbuh menurut deret geometris (ukur) 1, 2, 4, 8, 16, dan seterusnya. Kedua, Malthus percaya bahwa diminishing return (pengembalian yang semakin menurun) berlaku dalam sektor pertanian; yaitu, semakin banyak tanah yang ditanamai, maka setiap penanaman lahan yang baru akan menghasilkan makanan yang lebih sedikit ketimbang penanaman lahan yang sebelumnya. Karena alasan ini produksi makanan hanya meningkat menurut deret aritmatika (angka) 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya. Karena penduduk bertambah lebih cepat dari pada persediaan makanan, pada titik tertentu jumlah populasi akan melebihi jumlah persediaan makanan yang dihasilkan untuk memberi makanan penduduk.

Dalam edisi pertama Essay on Population Malthus hanya menyebutkan “pengendalian positif” pada pertumbuhan penduduk. Pengendalian ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan jumlah kematian, kelaparan, bencana alam, wabah penyakit dan perang. Tetapi dalam edisi Essay yang kedua dan selanjutnya, Malthus menambahkan seperangkat “pengendalian preventif” pantangan seksual, pengendalian kelahiran, dan menunda perkawinan. Ini semua berakibat menurunkan  tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk. Penggunaan pengendalian preventif terhadap pertumbuhan penduduk juga mengurangi suara-suara yang pesimis tentang sifat dari ramalan ekonomi. Tetapi Malthus masih berkeyakinan bahwa karena adanya hasrat seksual yang kuat maka pertumbuhan penduduk tidak banyak berkurang dengan pengendalian preventif; karena itu kesimpulannya masih sama, yaitu tidak mungkin meningkatkan keejahteraan ekonomi secara keseluruhan.

Dari analisis ini maka muncul pandangan yang menentang pendapat Condorcet, Owen dan Godwin. Jika kekayaan dan pendapatan didistribusikan lebih merata, seperti yang didukung oleh Godwin, atau jika keadaan orang miskin dibuat lebih baik melalui berbagai reformasi sosial, seperti yang diusulkan oleh Owen dan Condercet, maka keluarga buruh akan merespon dengan mempunyai anak yang banyak sehingga mereka segera mendapati diri mereka menjadi miskin kembali. Karena alasan inilah Malthus menentang setiap usaha untuk mensahkan bantuan bagi orang miskin. Menurutnya hal ini hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi orang-orang yang miskin. Beberapa pengikut Malthus kontemporer (misalnya Murray, 1984) membuat argument yang serupa dengan mempertahankan pendapat bahwa bantuan pemerintah hanya akan menyebabkan penerima yang makmur akan lebih banyak punya anak, karena itu akan lebih memperburuk keadaan ekonomi mereka.

Pencerahan abad 18 dipimpin oleh sekelompok ilmuwan, filsuf dan penulis yang lebih memilih ilmu pengetahuan ketimbang takhayul lebih memilih akal ketimbang iman, toleransi ketimbang fanatisme, individualisme ketimbang kolektivisme, dan materialisme ketimbang pengiritan. Orang-orang pencerahan ini Locke, Voltaire, Montesquieu, Jefferson, Paine, Franklin sangat percaya pada kemajuan ekonomi dan egalitarianisme kebanyakan dari mereka setuju bahwa pertumbuhan populasi akan bermanfaat dan menjadi sumber kekuatan dan inovasi di bidang ekonomi dan politik.

Salah satu tokoh optimis di abad pencerahan ini adalah Marie Jean- Antoine- Nicholas de caritate (1743-94), yang lebihg dikenal sebagai Marquis de Condorcet. Condorcet adalah seorang ahli matematika dan libertian yang memiliki kemampuan membuat perkiraan secara menajubkan. Condorcet meramalkan bahwa dalam jangka waktu 200 tahun ke depan akan terjadi peningkatan produktivitas dalam bidang manufaktur dan agrikultur, perumahan dan makanan, dan peningkatan subtansial dalam jumlah penduduk dan harapan hidup, serta kemajuan pesat di bidang teknologi pengobatan dan penghilangan penyakit (Kramnick 1995:26-38). Dia menulis karya terakhir ini dengan judul “The Future Progress Of The Human Mind”, saat dia bersembunyi karena diancam hukuman mati.

William Godwin juga orang yang optimis, tetapi agak esentrik. Menteri Inggris ini adalah seorang anarcho- communitarian yang idealistik, yang diilhami oleh Revolusi Prancis. Dia menolak visi Hobbesian tentang kehidupan yang “kacau, kasar dan singkat”. Dia sepaham dengan Adam Smith yang membayangkan munculnya dunia baru yang makmur. Dia percaya bahwa kejahatan akan lenyap, relasi manusia akan harmonis secara sempurna danm mauuisa bisa abadi, hanya jika hukum dan property dihilangkan. Godwin menyuarakan optimismenya dalam karyanya yang berjudul political justice (1793), yang berisi tentang era baru yang dicirikan oleh manusia yang sehat, panjang umur, dan baik. Dia meramalkan , “tidak akan ada penyakit, atau kemarahan, atau kesedihan atau kekecewaan”, dan pemerintah tidak akan lagi dibutuhkan karena “ setiap orang akan berbuat demi kebaikan semuanya”.

1.3 Malthus Menentang Kaum Yang Optimis

Tetapi tantangan terbesar terhadap era filsafat baru ini berasal dari tokoh muda yang kurang ajar, Robert Thomas Malthus (1766-1834). Pada 1798 saat berusia 32 tahun, Malthus mempublikasikan karya tanpa mencantumkan namanya, yang berjudul Essay On Population yang pada intinya mengatakan bahwa sumber daya bumi tidak bisa mengimbangi kebutuhan populasi yang terus bertambah. Pemikirannya yang muram ini mengubah lanskap ekonomi dan politik, dan dengan cepat melenyapkan pandangan positif Adam Smith, Condercet, Godwin, dan pendukung pencerahan lainnya. Malthus bersama kawan karibnya, David Ricardo menegaskan bahwa tekanan terhadap sumber daya terbatas akan selalu membuat manusia mendekati garis kemiskinan. Dengan demikian Malthus dan Ricardo membalikkan ekonomi Smithian yang cerah, meskipun mereka berdua juga pendukung kebijakan laissez faire Smith.

1.4 Pengaruh Malthus Yang Luar Biasa

Malthus sangat mempengaruhi pemikiran modern:

  1. Dia dianggap sebagai pendiri studi demografi dan populasi. (Inggris melakukan sensus pertamanya pada 1801, akibat dari pengaruh studi Malthus.
  2. Dia dianggap sebagai guru perekayasa social yang mendukung control populasi dan batas pertumbuhan ekonomi
  3. Esainya tentang populasi memperkuat pandangan muram dan fataklsitik dari banyak ilmuwan dan pembaru social, yang meramalkan akan muncul kemiskinan, kematian, penderitaan, peran dan kerusakan lingkungan sebagai akibat pengambilan sumber daya oleh populasi
  4. Dia mengilhami teori evolusi Darwin.
  5. Karya utamanya sagat mempengaruhi teori ekonomi makro John Maynard Keynes yang didasarkann pada gagasan bahwa daur hidup bisnis disebabkan oleh perubahan dalam “permintaan efektif” total oleh konsumen dan investor.
  6. Pesimisme Malthus dan Ricardo membuat ilmu ekonomi dicap sebagai “ilmu yang muram”.

Selama Bertahun-Tahun Tesis Malthus Tentang Meledaknya Populasi Diterima Oleh Banyak Ekonom Terkemuka, Termasuk David Ricardo, John Stuart Mill, Knut Wicksell, dan William Stanley Jevons. Sejumlah kritikus sosial dan pemerhati ekologi modern juga mendukung pandangan Malthus dan menuduh bahwa sejumlah penduduk yang terlalu telah menimbulkan kelaparan, kekurangan, kekurangan, perang dan populasi. Bahkan beberapa tokoh konservatif seperti Russell Kirk juga membela Malthus. (Nickerson 1975:3-7).

Akan tetapi, tidak semua orang mengakui argument Malthus yang pesimis. Marxis menolak teori populasi  Malthus yang suram, yang oleh Friedrich Engels disebut “teori paling keji dan barbar” yang bisa dibayangkan (Malthus 1985:51-52). Dan kebanyakan ekonom sejak 1900-an juga meninggalkan tesisi malthus karena dalam kenytaan terjadi peningkatan besar di dalam produksi pangan dan output ekonomi. Meskipun demikian, selama abad 19, pandangan Malthus tentang kelebihan populasi dan sumber daya yang terbatas menghantui dunia modern.

1.5 Malthus Menulis Risalah Yang Kontroversial

Malthus menulis karya klasiknya setelah berdebat dengan seorang kawannya” tentang teori utopia William Godwin. Kawannya itu ternyata adalah ayahnya, Daniel Malthus, murid filsuf prancis yang penuh skandal, Jean Jacque Rousseau. Kalimat  Rousseau, “Manusia dilahirkan bebas namun terbelenggu dimana-mana” merefleksikan konflik antar idealisme dan realitas pada zamannya (1968-49). Perdebatan tentang pandangan Godwin sangat keras sehingga Malthus muda menulis sebuah karya yang kuat untuk menentangnya. Mengikuti tradisi pada masa itu, karya Malthus menggunakan judul yang panjang, an essay on the principle of populations as it affects the future improvement of society, with remarks on the speculation of Mr. Godwin, M Condorcet, and other writers (1798).

1.6 Malthus Menentang Program Pengentasan Kemiskinana, Pengendalian Kelahiran, dan Bahkan Vaksin?

Wiliiam Cobbett menulis kritik berikut ini: “ Bagaimana Malthus dan murid-muridnya yang nakal dan memalukan dan orang-orang yang ingin menghilangkan kemiskinan bisa mencengah orang miskin untuk menikah; bagaimana golongan yang bodoh sekaligus penipu ini nanti bisa memandang wajah orang yang berjuang mengangkat senjata mempertaruhkan nyawanya demi membela tanah airnya” (Down 1983:249-50)

1.7 Dua Hukum Alam Malthus Yang Terkenal

Essay on population berisi dua ‘hukum alam” yang dianggap sebagai “kebenaran yang tidak terbantahkan”.

Akibatnya adalah terjadi krisis” penderitaan dan kejahatan” yang takterelakkan dimana sumber alam bumi tidak bisa memenuhi kebutuhan penduduk yang terus bertambah (Malthus 1985:67-80). Tesis Malthus dapat diilustrasikan seperti gambar 3.1. dalam gambar ini, kita melihat bahwa persediaan sumber daya alam bertambah dalam kondisi yang terus menurun, sedangkan permintaan dari penduduk yang terus bertambah meningkat lebih cepat pada tingkat geometris. Titik C merepresentasikan level subsisten, dimana mayoritas manusia hidup pas-pasan (level subsistensi). Jika penduduk dunia melampui titik C, penduduk dunia akan kembali ke titik C melalui terjadi kelaparan, kematian, dan kejahatan. Karenanya, menurut Malthus, dunia Malthus dunia dikutuk untuk menjalani hidup “penuh kesulitan yang tak bisa diatasi” termasuk penderitaan, kelaparan, dan kejahatan (malthus 1985:69,250)

Isu 1:  PERTAMBAHAN PENDUDUK

Apakah “hukum alam” pertama Malthus benar, yakni bahwa populasi bertambah menurut deret ukur? Gambar 3.2 cenderung membenarkan proposisi pertama Malthus. Populasi dunia memang bertambah secara geometris, bahkan sampai sekarang. Pada masa Malthus, penduduk dunia kurang dari 1 miliar. Kini jumlahnya sekitar 6 miliar.

Akan tetapi, dengan melihat lebih dalam pada peningkatan tajam penduduk dunia sejak 1800, kita melihat bahwa penyebabnya tidak bersifat Malthusian. Kenaikan populasi berkaitan dengan dua factor yang tak dilihat oleh Malthus.

  1. terjadi penurunan tajam dalam tingkat kematian bayi karena berkurangnya penyakit mematikan berkat kemajuan ilmu kedokteran.
  2. ada peningkatan usia harapan hidup berkat meningkatnya standar hidup; terobosan di bidang pengobatan; peningkatan sanitasi, perawatan kesehatan dan gizi; dan penurunan tingkat kecelakaan. Akibatnya, makin banyak orang yang bisa hidup sampai usia dewasa, dan bahkan sampai usia lanjut.

Kedua faktor itu bertentangan dengan ramalan Malthusian tentang penderitaan dan kematian.

Isu 2: PENURUNAN KELAHIRAN

Cacat lain di dalam visi muram Malthus dan pengikutnya adalah penurunan angka kelahiran di paruh kedua abad 20 baik di Negara industri maju maupun berkembang. Selamalimapuluh tahun terakhir, angka rata-rata kelahiran di Negara maju telah menurun dari 2,8 menjadi 1,9 dan di Negara berkembang turun dari 6,2 ke 3,9. tren ini sangat jelas: perempuan melahirkan anak lebih sedikit dan di Negara yang lebih maju angka kelahirannya jaug berkurang. Ringkasnya,tingkat geometris pertambahan penduduk mungkin menurun sampai deret hitung.

Penurunan jangka panjang dalam angka kehamilan disebabkan oleh dua faktor:

  1. terobosan pengobatan dan
  2. naiknya pendapatan

karena teknologi medis yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, maka pasangan suami istri merasa bahwa mereka tidak perlu melahirkan lebih banyak anak untuk mengganti anak-anak yang meninggal.

Malthus berpendapat bahwa tingkat pendapatan yang tinggi hanya akan mendorong lebih banyak anak. Menurutnya, ketika pendapatan per kapita meningkat, populasi akan meningkat lebih cepat, yang pada gilirannya mengurangi pendapatan perkapita sampai ke tingkat subsistensi.

Akan tetapi, bukti historis belakangan ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Orang yang lebih kaya cenderung memiliki anak lebih sedikit. Lihat gambar 3.4. ada beberapa alasan mengapa keluarga kaya umumnya punya sedikit anak. Di banyak kultur, memiliki anak sebanyak mungkin akan memperbesar kemungkinan bahwa orang tuanya akan mendapat perawatan yang cukup di usai lanjut. Jadi, anak-anak dianggap sebagai aset keuangan yang berharga yang dapat memberikan pendapatan dimasa depan. Dengan bertambahnya pendapatan sekarang ini maka tidak lagi dibutuhkan lebih banyak anak, dan membesarkan anak-anak kini bahkan dianggap membutuhkan biaya mahal. Lebih jauh, peningkatan pendapatan biasanya berarti tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan pemahaman yang lebih baik tentang metode pengendalian kelahiran.

Dampak dari pendapatan tinggi terhadap angka kelahiran memberi pesan yang jelas kepada bangsa berkembang yang peduli terhadap kontrol kelahiran: metode pengurangan kehamilan yang lebih baik adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan “kekayaan universal”, sebagaimana dikatakan Adam Smith. Standar hidup yang lebih tinggi jauh lebih baik ketimbang campur tangan pemerintah terhadap kehidupan pribadi keluarga.

Dalam edisi kedua dan selanjutnya, Malthus merevisi teorinya yang terlalu sederhana dan mengatakan bahwa manusia tidak selalu berperilaku seperti lalat, tetapi manusia lebih besar kemungkinannya untuk mengubah perilakunya ketimbang hewan atau tanaman. Malthus menyebut kemampuan ini sebagai “preventive check” terhadap pertambahan penduduk. Dalam edisi pertama dia mengidentifikasi beberapa perintang pertambahan penduduk, antara lain kelangkaan makanan, penyakit, wabah, kelapran dan kejahatan, tetapi dia menyimpulkan bahwa erintang ini pada akhirnya akan gagal melemahkan keuatan reproduksi seksual. Dalam edisi kedua Malthus merasa bahwa perintag preventif, seperti menunda pernikahan dan mengurangi hubungan seksual dalam keluarga, dapat mengurangi tingkat pertambahan penduduk. Tetapi, malthus mulai ragu dan kembali ke keyakinan 1985:24,238). Jelas, bahwa malthus meremehkan kemampuan manusai untuk mnegubah sikap mereka terhadap kelahiran anak.

1.8 Menguji Hukum Kedua Malthus

“Hukum alam” kedua Malthus adalah “ subsistensi meningkat hanya dalam rasio aritmatika” (Malthus 1985:71). Pendapat ini tampak meragukan, atau bahkan mungkin keliru. Baik tanaman maupun hewanjauh lebih subur ketimbang manusia.

KEKURANGAN SUMBER DAYA

Tetapi Malthus tidak memberikan alasan untuk pendapatnya bahwa kehidupan tanaman dan hewan tidak seproduktif populasi manusia. Dia hanya mengatakan bahwa “alam menyebarkan benih kehidupan seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya, “tetapi” alam tidak cukup ruang dan gizi untuk membesarkan benih itu” (1985:71-72, 224-25). Dengan kata lain, tanah subur tidak mnecukupi, dan tidak cukup sumber daya alam untuk mempertahankan kehidupan.

HUKUM PENDAPATAN YANG MENURUN       

Malthus mengembangkan konsep kelangkaan ini pada buku edisi berikutnya. Sarana-sarana untuk mendukung kehidupan manusia “dibatasi oleh kelangkaan tanah- oleh besarnya tanah yang gersang di muka bumi- dan oleh menurunnya proporsi produk yang harus selalu dihasilkan dari penambahan capital terus-menerus terhadap tanah yang sudah ditanami” (1985:225). Sumber daya alam cenderung “terus menerus berkurang ‘ ini sekakarang dikenal sebagai hukum pendapatan yang menurun. Malthus dianggap ekonom pertama yang mengembangkan konsep penting dalam ilmu ekonomi ini. Dia mengacu pada fakta bahwa saat seseorang menambakan lebih banyak capital atau tenaga kerja pada suatu tanah dengan luas tertentu, maka penambahan produksi atau outputnya akan semakin melambat.itulah mengapa fungsi produksi di gambar 3.1 sedikit menurun.

Malthus memperingatkan bahwa sebagian besar tanah yang subur dan sumber daya alam akan berkurang dan kita akan mengalami penurunan kualitas tanah dan sumber daya seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi hukum pendapatan yang menurun hanay bekerja jika kita mengasumsikan “ semua hal lainnya tidak berubah”, misalnya teknologi dan kuantitas sumber daya lainnya adalah tetap.tetapi dalam jangka panjang tak ada input yang bersifat tetap entah itu tanah, tenaga kerja, atau ,modal. Arti penting tanah dari segi ekonomi sesungguhnya mulai berkurang di dunia modern, sebab teknik pertanian telab berkembang. Sayangnya malthus dan murid-muridnya mengabaikan fakta penting itu.

MALTHUS MENGABAIKAN SEBUAH UNSUR VITAL

Yang diabaikan oleh Malthus adalah kemajuan teknologi pertanian, penemuan mineral baru dan sumber daya alam baru lainnya serta peran harga dalam menentukan seberapa cepat atau lambat sember daya akan habis. Ringkasnya dia mengabaikan kecerdikan manusia.

            Pandangan Malthus tentang produksi makanan terbukti keliru besar. Sejak adanya mesin panen McCormick, traktor, pupuk buatan, perkembangan irigasi dan terobosan manajemen dan teknologi lainnya, jumlah tanah yang ditanami dan produksi makanan meningkat secara dramatis. Gambar 3.5 mengilustrasikan produktivitas pertanian amerika serikat di sektor pertanian jagung, gandum, dan katun (kapas).

Kenaikan produksi makanan menopang populasi yang lebih besar dan mengurangi kelapran di seluruh dunia. Lagi pula, sebgian besar kasus kelaparan diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang buruk yang membeuat petani tidak bisa menuai panen, membatasi impor,, dan tiak mendorong penggunaan proses peroduksi pertanian yang baru (Simon 1996:92).

Meskipun prediksi ekstrem para pakar lingkungan belum terbukti, ini bukan berarti bahwa pemanfaataan sumber daya alam secara berlebihan tidak menimbulkan persoalan. Dunia menghadapi ancaman serius akibat populasi air dan udara, penggundulan hutan, menurunnya hasil ikan, erosi tanah, punahnya dan hampir punahnya beberap satwa, serta kemungkinan rusaknya atmosfer bumi.

Dalam sebuah artikel di science pada 1968, professor ekologi manusia di Universitas California Santa Barbara, Garrett Hardin, menulis essai seml tentang lingkungan. Esai ini berjudul “the tragedy of the commons”. (essai ini dimuat di lebih dari 100 antologi). Hardin mencatat bahwa ada kecenderungan sumber daya alam dipakai secara berlebihan saat ia dimiliki oleh publik. Dia menggunakan contoh tanah penggembalaan publik. Karena tak seorangpun yang memiliki tanah itu, setiap pengembala terdorong untuk menambah ternak lain untuk digembalakaan disana. Akibatnya ternak yang digembalakkan di tanah tersebut menjadi berlebihan, atau dengan meminjam kalimat hardin, “kebebasan dalam kebersamaan dakan menghancurkan semuanya” (Hardin dan Baden 1977:20)

Kurangnya hak property dan harga barang dan harga pasar menciptakan “tragedy kebersamaan” menyebabkan populasi yang tak diharapkan, punahnya hewan, destruksi hutran, dan kerusakan lingkungan. Banyak pakar lingkungan mendesak agara pemerintah membuat peraturan untuk menangani persoalan ini sedangkan para ekonom lebih memilih privatisasi area umum tersebut, jika dimungkinkan, dan menetapkan harga sumber daya alam sebagai cara terbaik untuk memperbaiki kembali pengelolaan sumber daya yang semakin langka ini.

1.9 Malthus Meninggalkan Visi Smith

Kisah Robert Malthus berguna untuk mengembangkan dan memahami dinamika pertumbuhan ekonomi dan kenaikan populasi. Malthus mengakui bahwa intervensi pemerintah adalah kontraproduktif dalam mengentaskan kemisknan dan mengontrol pertambahan penduduk, dan karenaya dia stuju dengan Adam Smith untuk mengadopsi filsafat laissez faire. Namun pada akhirnya dia berpisah dengan Adam Smith dengan menginkari kepercayaan kepada kemampuan Ibu Bumi dan pasar bebas untuk menyediakan sumber daya yang bisa memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah. Pada dasarnya dia gagal memahami peran harga dan hak property sebagai insentif bagi pengendali pemanfaatan sumber alam yang makin langka dan peran harga sebagai mekanisme pemecahan. Lebih jauh ia memahami dinamika perkembangan ekonomi entrepreneurial- bagaimana populasiyang besar dapat menciptakan benih kekayaannnya sendiri melulai penciptaan ide dan teknologi baru.

Kendati Adam Smith mengangkat isu upah subsisten, dia percaya bahwa pendapatan bisa naik diatas upah minimum denagan cara mengadopsi mesin, alat, dan perlengkapan baru. Kapitalisme pasar bebas adalah jalan keluar dari kemiskinan. Malthus, di piak lain, berpandangan muram dan bahkan fatalistik terhadap kemampuan manusia untuk melepaskan diri dari penderitaan dan kejahatan. Manusia ditakdirkan terbelenggu oleh hukum besi upah. David Ricardo, sahabat baik Malthus masuk ke dalam perangkap yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Skousen, Mark. 2005. Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern.Jakarta: Predana.
  2. Steven, Pressman. 2000. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  3. Deliarnov. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

« »